BAB III ASAS IKTIKAD BAIK DALAM KUHPERDATA DAN HUKUM
B. Asas Iktikad Baik dalam KUHPerdata
Pentingnya iktikad baik dalam suatu perjanjian khususnya perjanjian kredit dikarenakan akan terbentuknya suatu kepercayaan, sehingga pelaksanaan perjanjian tersebut dapat berjalan dan pada akhirnya masing-masing pihak akan mendapatkan keuntungan.61 Iktikad baik merupakan salah satu unsur yang penting dalam perjanjian atau kontrak yang melibatkan dua pihak atau lebih. Perjanjian atau kontrak merupakan bagian dari hukum perdata yang telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Berkaitan dengan iktikad baik dalam perjanjian telah diatur dalam KUHPerdata Pasal 1338 ayat 1,2, dan 3.62
Pasal 1338 ayat (1)
Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
Pasal 1338 ayat (2)
Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.
Pasal 1338 ayat (3)
Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik.
60 Antari Innaka, Saida Rusdiana dan Sularto, Penerapan Asas Iktikad Baik Tahap Pra
kontraktual Pada Perjanjian Jual Beli Perumahaan, Yogyakarta: UII Press, 2011, h. 248
61 Ade Arthesa, dan Edia Handiman, Bank & Lembaga Keuangan Bukan Bank, Bandung: Indeks Kelompok Gramedia, 2006, hal. 178
34
Dalam Pasal 1338 Ayat (3) KUHPerdata menyatakan bahwa kontrak harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Maksudnya, perjanjian tersebut dilaksanakan menurut kepatutan dan keadilan. Putusan Hoge Raad tanggal 9 Februari 1923 memberikan rumusan bahwa perjanjian harus dilaksanakan “volgens de eisen van redelijkheid en bilijkheid”, artinya iktikad baik harus dilaksanakan menurut kepatutan dan kepantasan. P.L. Werry menerjemahkan “redelijkheid en bilijkheid” dengan istilah “budi dan kepatutan”, sedangkan beberapa terjemahan lain menggunakan “kewajaran dan keadilan” atau “kepatutan dan keadilan”. Redelijkheid artinya rasional, dapat diterima oleh nalar dan akal sehat (reasonable;raisonnable), sedangkan bilijkheid artinya patut dan adil.63 Putusan Hoge Raad menyatakan bahwa para pihak yang bernegosiasi masing-masing memiliki kewajiban iktikad baik. Yakni
kewajiban untuk meneliti (onderzoeplicht) dan kewajiban untuk
memberitahukan atau menjelaskan (mededelingsplicht).64
Kemudian menurut Munir Fuady, rumusan dari Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata tersebut mengidentifikasikan bahwa sebenarnya iktikad baik bukan merupakan syarat sahnya suatu perjanjian sebagaimana syarat yang terdapat dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Unsur iktikad baik hanya diisyaratkan dalam hal “pelaksanaan” dari suatu perjanjian, bukan pada “pembuatan” suatu perjanjian. Sebab unsur “iktikad baik” dalam hal pembuatan suatu perjanjian sudah dapat dicakup oleh unsur “kausa yang legal” dari Pasal 1320 tersebut.65
Berkaitan dengan hal tersebut, Pasal 1339 KUHPerdata menyebutkan bahwa suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang.66
63 Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian Asas proporsionalitas dalam Kontrak Komersial, h.135
64 Ridwan Khairandy, Iktikad Baik Dalam Kebebasan Berkontrak, Jakarta: Pascasarjana UI, 2004, h. 252.
65 Munir Fuady, 2001, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, h. 81.
Iktikad baik dalam kontrak dibedakan antara iktikad baik pra kontrak (precontractual good faith) dan iktikad baik pelaksanaan kontrak (good faith
on contract performance). Kedua macam iktikad baik tersebut memiliki makna
yang berbeda. Iktikad baik pra kontrak adalah iktikad yang harus ada pada saat para pihak melakukan negosiasi. Iktikad baik pra kontrak ini bermakna kejujuran (honesty). Iktikad baik ini disebut iktikad baik yang bersifat subjektif karena didasarkan pada kejujuran para pihak yang melakukan negosiasi.67 Dalam hukum benda, iktikad baik diartikan sebagai kejujuran. Pembeli yang beriktikad baik adalah orang yang jujur dan tidak mengetahui adanya cacat yang melekat pada barang yang dibelinya. Iktikad baik subjektif ini berkaitan dengan sikap batin atau kejiwaan, yakni apakah yang bersangkutan menyadari atau mengetahui bahwa tindakannya bertentangan atau tidak dengan iktikad baik.
Iktikad baik pelaksanaan kontrak mengacu pada iktikad baik yang objektif. Isi perjanjian harus rasional dan patut. Iktikad baik pelaksanaan kontrak juga dapat bermakna melaksanakan kontrak secara rasional dan patut. Perilaku para pihak dalam kontrak harus diuji atas dasar norma-norma objektif tidak tertulis yang berkembang dalam masyarakat. Asas ini ditempatkan sebagai asas yang paling penting dalam kontrak. Ia menjadi suatu ketentuan fundamental dalam hukum kontrak dan mengikat para pihak dalam kontrak.68
Wirjono Prodjodikoro membagi iktikad baik menjadi dua macam, yaitu:
1. Iktikad baik pada waktu mulai berlakunya suatu hubungan hukum. Iktikad baik di sini biasanya berupa perkiraan atau anggapan seseorang bahwa syarat-syarat yang diperlukan bagi dimulai hubungan hukum telah terpenuhi. Dalam konteks ini hukum memberikan perlindungan kepada
67 Ridwan Khairandy, Hukum Kontrak Indonesia dalam Perspektif Perbandingan Bagian
Pertama, Yogyakarta: FH UII Press, 2014, h.92
68 Rendy Saputra, Kedudukan Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik Van Omstandigheden)
36
pihak yang beriktikad baik, sedangkan bagi pihak yang beriktikad tidak baik harus bertanggung jawab dan menanggung risiko.
2. Iktikad baik pada waktu pelaksanaan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang termaktub dalam hubungan hukum itu. Pengertian iktikad baik semacam ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 (3) KUHPerdata adalah bersifat objektif dan dinamis mengikuti situasi sekitar perbuatan hukumnya. Titik berat iktikad baik di sini terletak pada tindakan yang akan dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu tindakan sebagai pelaksanaan sesuatu hal.69
Dalam Simposium Hukum Perdata Nasional yang diselenggarakan Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), iktikad baik hendaknya diartikan sebagai:70
1. Kejujuran pada waktu membuat kontrak.
2. Pada tahap pembuatan ditekankan, apabila kontrak dibuat di hadapan pejabat, para pihak dianggap beriktikad baik.
3. Sebagai kepatutan dalam tahap pelaksanaan, yaitu terkait suatu penilaian baik terhadap perilaku para pihak dalam melaksanakan apa yang telah disepakati dalam kontrak, semata-mata bertujuan untuk mencegah perilaku yang tidak patut dalam pelaksanaan kontrak tersebut.
Menurut Riduan Syahrani dalam KUHPerdata tidak ada dijelaskan apa yang dimaksud iktikad baik ini, terkecuali dalam Pasal 1338 KUHPerdata hanya disebutkan bahwa perjanjian-perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Iktikad baik yang disebutkan dalam bahasa Belanda dengan te
goeder trouw (yang sering diterjemahkan dengan kejujuran) dapat dibedakan
atas 2 macam yaitu:71
69 Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Perdata, (Bandung: Sumur, 1992), h.56-52
70 Anita D.A. Kalopaking, Asas Iktikad Baik dalam Penyelesaian Sengketa Kontrak melalui
Arbitrase, (Bandung: PT. Alumni, 2013), h.107-108
71 Riduan Syahrani, Seluk-Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, (Bandung: PT. Alumni, 2013), h. 248
1. Iktikad baik pada waktu akan melaksanakan perjanjian.
Perkiraan dalam hati sanubari yang bersangkutan bahwa syarat-syarat yang diperlukan dalam mengadakan perjanjian secara sah menurut hukum sudah terpenuhi semuanya.
Pada tahap ini para pihak yang akan mengikatkan diri dalam kontrak pada umumnya melakukan proses tawar menawar (bargaining process). Salah satu pihak memberikan penawaran (offer) sedang pihak yang lain akan memberikan akseptasi manakala ia menerima syarat-syarat yang diajukan oleh pihak pertama. Lazim juga proses ini disebut sebagai proses negosiasi untuk menuju terciptanya kata sepakat (mutual consent). Syarat ini merupakan yang terutama dalam hukum kontrak. Penawaran mengandung makna usulan untuk membuat kontrak.72
2. Iktikad baik pada waktu melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang timbul dari perjanjian tersebut.
Terletak pada hati sanubari manusia, yang selalu ingat, bahwa dalam melaksanakan perjanjian harus mengindahkan norma-norma kepatutan dan keadilan, dengan menjauhkan diri dari perbuatan yang mungkin menimbulkan kerugian terhadap pihak lain.
Oleh karena itu, harus dipahami bahwa substansi iktikad baik dalam Pasal 1338 Ayat (3) KUHPerdata tidak harus diinterpretasikan secara gramatikal, bahwa iktikad baik hanya muncul sebatas pada tahap pelaksanaan kontrak. Iktikad baik harus dimaknai dalam keseluruhan proses kontraktual, artinya iktikad baik harus melandasi hubungan para pihak pada tahap pra kontraktual, kontraktual, dan pelaksanaan kontraktual. Dengan demikian, fungsi iktikad baik dalam Pasal 1338 Ayat (3) KUHPerdata mempunyai sifat dinamis melingkupi keseluruhan proses kontrak tersebut.73
72 J.H. Niewenhuis, Poofdstukken Verbintenissenrecht, (Pokok-Pokok Hukum Perikatan) terjemahan D. Saragih, (Surabayat: Universitas Airlangga,1985),.h.2.
73 Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian Asas proporsionalitas dalam Kontrak Komersial, h.139
38
Standar yang digunakan dalam iktikad baik objektif adalah standar yang objektif yang mengacu kepada suatu norma yang objektif. Perilaku para pihak dalam perjanjian harus diuji atas dasar norma-norma objektif yang tidak tertulis yang berkembang di dalam masyarakat. Norma tersebut dikatakan objektif karena tingkah laku didasarkan pada anggapan para pihak sendiri, tetapi tingkah laku tersebut harus sesuai dengan anggapan umum tentang iktikad baik tersebut.74
Secara implisit Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disebut UUPK) sudah mengakui bahwa iktikad baik sudah harus ada sebelum ditandatangani perjanjian, sehingga janji-janji pra kontrak dapat diminta pertanggungjawaban berupa ganti rugi, apabila janji tersebut diingkari. Sifat dari iktikad baik dapat berupa subjektif, dikarenakan terhadap perbuatan ketika akan mengadakan hubungan hukum maupun akan melaksanakan perjanjian adalah sikap mental dari seseorang.75