• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEMESTER I TAHUN ANGGARAN 2020 1. PENDAHULUAN

B. ASET DALAM SENGKETA

1) Bangunan Gedung Komunikasi Radio Milik Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Kementerian dan Perwakilan (Pustik-KP), Kementerian Luar Negeri Dibangun di atas Tanah yang Belum Jelas Statusnya.

Bangunan gedung peralatan komunikasi radio milik Pustik-KP Kementerian Luar Negeri seluas 324 m2 dibangun di atas lahan tanah yang awalnya seluas ± 19 Ha berlokasi di Cijantung. Tanah di Cijantung ini awalnya merupakan aset yang dikelola oleh Komando Tertinggi (KOTI).

Menyusul pembubaran KOTI, pada tahun 1973 lahan di Cijantung diserahkan kepada Kementerian Luar Negeri untuk pembangunan jaringan sistem komunikasi terpadu stasiun pemancar/penerima luar negeri.

Sementara itu, lahan di Cibubur diserahkan kepada Kementerian Pertahanan untuk stasiun pemancar/penerima dalam negeri. Namun pembagian tersebut tanpa dilakukan dengan dokumen hukum sehingga kemudian menciptakan ketidak-jelasan status.

Status kepemilikan tanah di Cijantung dan Cibubur mulai mengemuka sejak tahun 1992 ketika Kementerian Luar Negeri mengajukan sertifikasi ke BPN pada tahun 1991 dan BPN juga mendapat permohonan sertifikasi atas tanah yang sama dari Kemenhan pada Maret 1992. Menanggapi adanya 2 (dua) pengajuan sertifikasi tanah tersebut, BPN merekomendasi agar Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan mengupayakan penyelesaiannya.

Sejak diketahui adanya upaya sertifikasi oleh Kementerian Pertahanan tersebut pada 1992, Kementerian Luar Negeri telah melakukan upaya-upaya perundingan dengan Kementerian Pertahanan untuk mencari solusi atas status tanah Cijantung dan Cibubur tersebut, antara lain:

a) Pada tahun 1992 Kementerian Luar Negeri menyurati Sekjen Kementerian Pertahanan untuk memintakan bantuan kelancaran pelaksanaan sesuai prosedur. Sejak itu dilakukan komunikasi, baik melalui pertemuan di tingkat teknis dan pejabat Eselon 1 mau pun melalui surat-menyurat dengan pihak Kementerian Pertahanan (Sekjen dan Dirjen Strahan) dan dengan TNI AD.

b) Pada tanggal 23 April 2012, Sekjen Kementerian Luar Negeri bertemu dengan Dirjen Strahan Kementerian Pertahanan namun tidak juga membuahkan kesepakatan. Pada Agustus 2013, Sekjen Kementerian

_______________________________________________________________________________________

Catatan atas Laporan Barang Milik Negara 23

Catatan atas Laporan Barang Pengguna Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Semester I Tahun Anggaran 2020

Luar Negeri kembali bersurat kepada Kementerian Pertahanan menyampaikan keinginan Kementerian Luar Negeri untuk segera menuntaskan permasalahan secara musyawarah mufakat dalam rangka tertib administrasi BMN.

c) Pada tanggal 14 November 2014 Kepala Biro Perlengkapan bertemu dengan Direktur Fasilitas dan Jasa, Ditjen Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan berharap adanya win-win solution.

Sementara menunggu keputusan penyelesaian akhir, Kementerian Luar Negeri melalui Pustik-KP tidak terputus memanfaatkan lahan tersebut sebagai stasiun penguat pemancar dan juga menempatkan personilnya di Cijantung. Selain itu, pembangunan berbagai fasilitas komunikasi dan pemancar luar negeri oleh Kementerian Luar Negeri dilakukan mengingat kebutuhan Kementerian Luar Negeri untuk meningkatkan sarana komunikasi. Pada tahun 2015 juga telah dibangun Pusat Server Informasi Data. Kementerian Luar Negeri juga mencatat berlanjutnya pendudukan Kementerian Pertahanan pada beberapa bagian lahan di Cijantung ini, sehingga secara efektif tanah yang saat ini dikuasai Kementerian Luar Negeri hanya 97.474m2.

Kemenlu akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan guna mendorong penyelesaian status hukum lahan tanah di Cibubur dan Cijantung ini dan memperhatikan bahwa upaya penyelesaian pada tingkat teknis sudah exhaustive, akan didorong pembahasannya pada tingkat yang tertinggi.

Menteri Luar Negeri telah mengirimkan surat kepada Menteri Pertahanan Nomor 323/PL/05/20/2016/02/01 tanggal 24 Mei 2016 tentang Permohonan Penyelesaian Status Aset Tanah di Cijantung, dengan tembusan ke Presiden RI dan Menteri Keuangan untuk mulai membahas status tanah Cijantung dan Cibubur.

Kepala Biro Tata Usaha Kementerian Pertahanan RI mengirimkan surat balasan Nomor B/683/XI/2016 tanggal 8 November 2016 perihal Permohonan Pengiriman Nama-Nama Pejabat sebagai anggota Tim.

Pada tanggal 28 Februari 2017, bertempat di kantor Kementerian Pertahanan telah dilaksanakan rapat penyelesaian status tanah Cibubur dan Cijantung. Rapat dipimpin oleh Kepala Badan Instalasi Strategis Nasional (Kabainstranas) Kemenhan dan dihadiri diantaranya oleh Inspektur Jenderal Kementerian Luar Negeri, Kazidam Jaya yang mewakili Aslog Kasad Mabes TNI, Kepala BHAKP Kemenlu, Plt. Kepala Biro Umum dan perwakilan dari Kantor Pertanahan Nasional (BPN) Pusat serta Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan. Tujuan rapat adalah untuk memperoleh kesepakatan antara Kemenlu dan Kemenhan terkait pembagian dan penetapan status tanah Cibubur dan Cijantung.

Pokok-pokok pembahasan dalam rapat adalah sebagai berikut:

Posisi Kemenhan

a) Kemenhan telah melaksanakan sertifikasi tanah Cibubur seluas 97.867m2 SHP No: 00886 a.n. Kemenhan c.q. TNI AD tahun 2016 dari total luas tanah 138.926m2.

_______________________________________________________________________________________

Catatan atas Laporan Barang Milik Negara 24

Catatan atas Laporan Barang Pengguna Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Semester I Tahun Anggaran 2020

b) Kemenhan berencana untuk melaksanakan sertifikasi tanah Cijantung dan menyampaikan keterangan bahwa penguasaan fisik tanah dimaksud berada di bawah Kodam Jaya dan Dit. Hubad TNI AD.

c) Kemenhan berencana untuk mendirikan lembaga Dislaiknas TNI AD di atas tanah Cijantung.

d) Kepentingan Kemenlu untuk menggunakan fasilitas di atas tanah Cibubur dan Cijantung akan diakomodasi oleh Kemenhan melalui MoU pinjam pakai tanah hanya bagi bidang luas tanah yang dibutuhkan saja.

Posisi Kemenlu

a) Agar penetapan status tanah Cibubur dan Cijantung mengedepankan pertimbangan kepentingan nasional. Dalam kaitan ini, Kemenlu tidak memiliki kepentingan di atas tanah Cibubur. Namun terdapat 8 unit rumah yang ditempati oleh staf Pustik-KP. Kepentingan Kemenlu hanya di atas tanah Cijantung.

b) Kemenlu masih memiliki stasiun pemancar komunikasi yang dikelola oleh Pustik-KP di atas tanah Cijantung. Stasiun tersebut merupakan komponen vital untuk menjaga keamanan/kerahasiaan komunikasi kantor Pusat kepada Perwakilan RI di luar negeri. Dari total seluas 435.000m2 yang diklaim dikuasai Kemenhan, Kemenlu memiliki kepentingan seluas 105.960m2 sebagai lokasi beroperasinya stasiun pemancar tersebut.

c) Kemenlu menginginkan agar dapat menindaklanjuti sertifikasi hak di atas tanah Cijantung seluas 105.960 m2.

Pandangan BPN Pusat

a) Menurut catatan BPN, yang berkuasa/hadir di atas tanah Cijantung seluas 21 hektar adalah Kemenlu karena terdapat bangunan fasilitas radio pemancar yang masih berfungsi.

b) Seiring waktu dari total 21 hektar, sebesar 33.517m2 diambil alih Kemenhan menjadi perkantoran dan rumah dinas Dithubad.

c) Sebagai jalan tengah dan mempertimbangkan kepentingan Kemenlu atas tanah tersebut, BPN berpendapat agar tanah 21 hektar tersebut dapat dibagi dua dimana lokasi berdirinya stasiun pemancar seluas 105.960m2 menjadi hak Kemenlu dan selebihnya menjadi hak Kemenhan.

d) Terkait MoU pinjam pakai tanah yang diusulkan oleh Kemenhan, hal tersebut tidak lazim dilakukan.

Pandangan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara

Walaupun Kemenlu sudah tidak memiliki kepentingan di atas tanah Cibubur, tercatat masih ada 8 (delapan) Kepala Keluarga bertempat tinggal di rumah dinas Kemenlu disana. Terhadap keputusan status tanah yang akan disepakati harus dicarikan solusi bagi penghuni rumah-rumah dinas dimaksud.

Diskusi Dalam Rapat

a) Menanggapi pandangan yang mengemuka di dalam rapat, Kemenhan dapat memahami kebutuhan Kemenlu atas tanah Cijantung seluas 105.960m2, namun tidak mengijinkan Kemenlu untuk mensertifikasi hak di atas tanah tersebut.

b) Kemenhan mengusulkan agar tanah Cijantung secara keseluruhan disertifikasi atas nama Kemenhan, untuk kemudian Kemenlu dapat mengajukan permohonan alih status hak pakai tanah (MoU pinjam

_______________________________________________________________________________________

Catatan atas Laporan Barang Milik Negara 25

Catatan atas Laporan Barang Pengguna Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Semester I Tahun Anggaran 2020

pakai tidak lazim) kepada Kemenhan bagi bidang tanah yang diperlukan. Proses sertifikasi harus segera dilaksanakan guna menghindari “penyerobotan” tanah oleh pihak lain di luar Kemenlu dan Kemenhan.

c) Kemenlu tidak sepakat dengan usulan tersebut di atas. Sertifikasi tanah Cijantung dan Cibubur harus didasari kesepakatan Bersama antara Kemenlu dan Kemenhan terhadap pembagian luas tanah (tidak menempatkan Kemenlu sebagai “pemohon” ijin).

Dokumen terkait