B. Penilaian Hasil Belajar Dalam Kurikulum 2013 1.Pengertian Penilaian Hasil Belajar 1.Pengertian Penilaian Hasil Belajar
1) Aspek-aspek perilaku pada kompetensi keterampilan
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 2014 tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah dijelaskan bahwa aspek perilaku pada kompetensi keterampilan yang dapat dimiliki peserta didik terdiri atas: (1) keterampilan abstrak, merupakan kemampuan belajar yang meliputi: mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan; (2) keterampilan konkret, merupakan kemampuan belajar yang mencakup aktivitas meniru, mencipta, memodifikasi, merangkai, melakukan, dan menguraikan. Mengembangakan kemampuan abstrak dan
40
kemampuan konkret peserta didik disesuaikan dengan karakteristik muatan pembelajaran. Beberapa deskripsi yang termasuk pada aspek perilaku kemampuan belajar peserta didik dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.10 Aspek Kemampuan Belajar Aspek Kemampuan
Belajar
Deskripsi
Mengamati Peserta didik mengamati objek, membaca tulisan, mendengarkan penjelasan, membuat catatan yang tentang yang diamati, kesabaran, waktu (on task) yang digunakan untuk mengamati
Menanya Jenis, kualitas, dan jumlah pertanyaan yang diajukan peserta didik dapat berupa faktual, konseptual, prosedural, dan hipotetik
Mencoba Peserta didik mengumpulkan informasi dan mencoba sesuai dengan jumlah dan kualitas sumber yang digunakan, kelengkapan informasi, validitas informasi, dan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data.
Menalar Peserta didik mampu mengembangkan interpretasi, mensintesis, argumentasi, dan kesimpulan keterkaitan antara berbagai jenis fakta/ konsep/teori dari dua sumber atau lebih yang tidak bertentangan. Mengomunikasikan Menyajikan hasil dari mengamati sampai menalar
dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik, dan multi media.
41
Aspek perilaku keterampilan konkret kompetensi keterampilan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.11 Aspek Perilaku Keterampilan Konkret Aspek Keterampilan
kongkret
Deskripsi
Persepsi (perception) Menunjukan perhatian untuk mengenali objek melalui pengamatan dan mengolah hasil pengamatan dalam pikiran
Kesiapan (set) Menunjukan kesiapan mental, fisik, dan emosi untuk berinteraksi
Meniru (guided response)
Melakukan peniruan dan pengembangan respon baru melalui trial and error
Membiasakan
gerakan (mechanism)
Munculnya respon-respon baru dan performance skill dalam berbagai bentuk
Mahir (complex or overt response)
Melakukan gerakan kompleks dan termodifikasi Menjadi gerakan
alami (adaptation)
Pengembangan keterampilan diciptakan sendiri berdasarkan perilaku yang sudah dikuasai
Menjadi tindakan orisinal (origination)
Mampu mengembangkan kreativitas gerakan baru yang alami dan sulit ditiru sehingga menjadi ciri khasnya
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 58 Tahun 2014 tentang kurikulum sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah dijelaskan bahwa aspek perilaku pada kompetensi keterampilan yang harus dimiliki oleh peserta didik mengacu pada KI IV: mencoba, mengolah, dan menyajikan dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam teori.
Cara menilai aspek perilaku pada kompetensi keterampilan berdasarkan indikator pencapaian kompetensi menggunakan rubrik
42
penskoran. Nilai akhir diperoleh dari rerata capaian optimum (nilai tertinggi) berdasarkan kegiatan yang dilakukan peserta didik seperti praktik/unjuk kerja, pembuatan proyek, pembuatan produk, pengumpulan portofolio secara terpisah. Hasil akhir dilengkapi dengan deskripsi kemampua peserta didik.. 2) Teknik dan instrumen menilai kompetensi keterampilan
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 2014 tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah dijelaskan bahwa kompetensi keterampilan terdiri atas keterampilan abstrak dan keterampilan konkret. Kompetensi tersebut dapat dinilai menggunakan: (1) penilaian unjuk kerja/praktek, (2) projek, (3) Produk, (4) Portofolio, (5) Tertulis. Berikut akan dijelaskan lebih rinci tentang teknik dan instrumen yang dapat digunakan untuk menilai kompetensi
a) Penilaian unjuk kerja/praktek
Penilaian yang digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu atau suatu aktivitas dalam proses pembelajaran. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan penilaian unjuk kerja, yaitu:
(1) Langkah-langkah kinerja yang perlu dilakukan peserta didik untuk menunjukan kemampuannya.
(2) Kelengkapan aspek yang akan dinilai dalam kinerja.
(3) Kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. (4) Kemampuan yang dinilai tidak terlalu banyak sehingga dapat diamati.
43
(5) Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan langkah pekerjaan yang akan diamati.
Instrumen untuk mengamati unjuk kerja/praktek peserta didik dapat berupa daftar cek dan skala penilaian (rating scale). Daftar cek digunakan untuk memberikan penilaian pada penguasaan kompetensi tertentu yang dapat diamati pada diri peserta didik, sedangkan skala penilaian digunakan untuk memberikan nilai secara kontinum terhadap penguasaan kompetensi peserta didik. Rentang angka dari angka tidak sempurna sampai sempurna menjadi skala penilaian. Misalnya 4 = Sangat Baik, 3 = Baik, 2 = Cukup, 1 = Kurang.
b) Penilaian projek
Projek adalah penilaian terhadap tugas-tugas belajar (learning tasks) yang diberikan kepada peserta didik mulai dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu. Penilaian projek digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasi, kemampuan menyelidiki, dan kemampuan menginformasikan peristiwa, fenomena, atau kegiatan secara jelas.
Menurut Sunarti dan Selly Rahmawati (2014: 63) menjelaskan ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan oleh pendidik dalam melakukan penilaian projek yaitu: (1) kemampuan pengelolaan: kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan; (2) relevansi atau kesesuaian dengan mata pelajaran dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan,
44
pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran; (3) keaslian: proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karya sendiri, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek tersebut.
Instrumen penilaian proyek menggunakan penskoran hasil kinerja yang meliputi skor penilaian dan lembar penilaian proyek berupa kriteria penilaian atau rubrik. Rubrik penskoran dinyatakan menggunakan skala penilaian menggunakan tingkat skala atau kriteria sebagai berikut:
(4) Tingkat skala dinyatakan dalam 4 tingkat, 5 tingkat dan 6 tingkat. Misalnya 4 tingkat, skala 1 untuk tingkat kinerja terendah dan skala 4 untuk tingkat kinerja tertinggi.
(5) Respon menggunakan skala tingkat Kurang (D), Cukup (C), Baik (B), Sangat Baik (A) atau Tidak Pernah (TP), Kadang-kadang (KD), Sering (SR), Selalu (SL).
c) Produk
Penilaian produk adalah penilaian yang dilakukan untuk menilai kemampuan peserta didik dalam membuat produk-produk, teknologi, dan seni, seperti: makanan, pakaian, sarana kebersihan, alat-alat teknologi, hasil karya seni, dan barang-barang terbuat dari kain, kayu, keramik, plastik, atau logam.
Pelaksanaan penilaian pada pembuatan produk meliputi 3 (tiga) tahapan yang perlu dinilai yaitu: (1) tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan
45
mengembangkan gagasan, dan mendesain produk; (2) tahap proses pembuatan produk, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik; (3) tahap hasil, meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan.
Cara untuk menilai produk dapat menggunakan, yaitu: (1) cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan baik persiapan, proses, dan hasilnya; (2) cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, dilakukan hanya pada hasil atau tahap penilaian produk.
Instrumen yang digunakan untuk menilai produk menggunakan skala penilaian yang berisi aspek dan skala penilaian. Aspek yang dinilai disesuaikan dengan jenis produk yang akan dinilai. Skala penilaian menggunakan skala tingkat 1-4. Rentang angka dari angka tidak sempurna sampai sempurna menjadi skala penilaian. Misalnya 4 = Sangat Baik, 3 = Baik, 2 = Cukup, 1 = Kurang.
d) Portofolio
Portofolio merupakan penilaian seluruh karya atau dokumen peserta didik secara individu pada satu periode untuk satu mata pelajaran. Informasi perkembangan kemampuan peserta didik tersebut dilakukan terus-menerus dan bersifat reflektif untuk melakukan perbaikan. Portofolio
46
dilakukan untuk melihat dinamika perkembangan kemampuan belajar peserta didik melalui karya-karya.
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam merencanakan penilaian portofolio: (1) menentukan kompetensi dasar (KD) yang akan dinilai dan diinformasikan kepada peserta didik pada awal semester; (2) merumuskan tujuan pembelajaran; (3) menjelaskan tentang tujuan penggunaan, macam dan bentuk serta kriteria penilaian dari kinerja dan atau hasil karya peserta didik; (4) menentukan kriteria penilaian; (5) menentukan format pendokumentasian hasil penilaian portofolio yang meliputi memuat topik kegiatan tugas portofolio, tanggal penilaian, dan catatan pencapaian; (6) menyiapkan map yang diberi identitas: nama peserta didik, kelas/semester, nama sekolah, nama mata pelajaran, dan tahun ajaran sebagai wadah pendokumentasian portofolio peserta didik.
Instrumen portofolio menggunakan instrumen daftar cek yang berisi kompetensi dasar, tanggal pembuatan, aspek yang diamati, dan komentar dari guru.
e) Tes tulis
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 2014 tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah dijelaskan bahwa tes tulis dapat digunakan untuk menilai kompetensi keterampilan selain untuk menilai kompetensi pengetahuan. Kompetensi keterampilan
47
yang dapat dinilai menggunakan tes tulis seperti menulis karangan, menulis laporan, dan menulis surat.
Instrumen tes tulis yang digunakan tidak jauh beda dengan tes tulis pada penilaian komoetensi pengetahuan, yaitu berbentuk soal. Bentuk soal tertulis dapat berupa memilih jawaban (pilihan ganda, dua pilihan: benar-salah; ya-tidak, menjodohkan, dan sebab-akibat) dan menyuplai jawaban (isian atau melengkapi, jawaban singkat, dan uraian).