• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. Perindustrian dan Perdagangan

2.1.4. Aspek Daya Saing Daerah

6,35 % 6,22 % 6,20 % 6,05 % 2 Kontribusi industri

rumah tangga terhadap PDRB sektor industri 0,95 % 0,85 % 1,00 % 0,97 % 1,00 % 3 Pertumbuhan industri 8,26 % 7,45 % 18,94 % 5,08 % 3,79 % 4 Cakupan bina kelompok

pengrajin 11,55 % 11,68 % 12,59 % 13,70 % 13,70 % Sumber : Dinas Koperindag dan UMKM Kab. Solok

Berdasarkan data sebagaimana tertuang Tabel 2.44 di atas dapat dilihat bahwa kinerja sektor perdagangan mengalami penurunan walaupun penurunan tersebut tidak terlalu signifikan. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi perdagangan terhadap PDRB Kabupaten Solok yang hanya sebesar 13,31% pada Tahun 2013. Disisi lain kinerja sektor perdagangan dapat dilihat dari meningkatnya cakupan bina kelompok pedagang atau usaha informal yang mendapat binaan dari Pemerintah Kabupaten Solok dari 27,56% pada Tahun 2012, menjadi 28,58% pada Tahun 2013. Kondisi ini akan terus ditingkatkan untuk Tahun berikutnya melalui pelatihan, memfasilitasi dengan BUMN dan sebagainya.

Sementara kontribusi sektor perindustrian terhadap PDRB Kabupaten Solok terus mengalami penurunan yaitu 6,20% pada Tahun 2012 menjadi 6,05% pada Tahun 2013. Penurunan kinerja sektor industri dan perdagangan ini perlu menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Solok di Tahun 2015 nantinya.

2.1.4. Aspek Daya Saing Daerah

Daya saing daerah pada dasarnya adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan domestik dan internasional. Indikator utama yang dapat digunakan untuk menentukan peringkat daya saing daerah tersebut adalah kemampuan ekonomi daerah, ketersediaan fasilitas wilayah dan infrastruktur, iklim berinvestasi dan kualitas sumber daya manusia.

2.1.4.1. Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah

Pada fokus ini menunjukkan kinerja atas aspek kemampuan ekonomi daerah Kabupaten Solok dengan menggunakan indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita, pengeluaran konsumsi non pangan perkapita dan produktifitas total daerah.

Tabel 2.45

Perkembangan Indikator Fokus Kemampuan Ekomomi Daerah Kabupaten Solok Tahun 2009-2013

No Indikator Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 1 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Perkapita 5.584.176 5.718.144 6.416.364 7.077.249 8.528.448 2 Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Perkapita 2.247.630,84 1.995.632,26 2.460.033,96 3.032.483,86 3.213.492

Sumber : BPS Kab. Solok

Berdasarkan data tersebut di atas dapat dilihat bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita dari Tahun 2009 sampai dengan 2013 terus

mengalami peningkatan dan mendominasi pengeluaran konsumsi rumah tangga jika dibandingkan dengan pengeluaran konsumsi Non Pangan Perkapita. Perkembangan pengeluaran konsumsi Non Pangan Perkapita mengalami penurunan dari Tahun 2009 ke Tahun 2010, namun dari Tahun 2011 sampai dengan 2013 mengalami peningkatan.

Secara umum meningkatnya proporsi pengeluaran konsumsi Non Pangan Perkapita telah memperlihatkan adanya pengurangan keadaan miskin di tengah penduduk. Menurut ukuran kemiskinan yang diyakini benar selama ini adalah bahwa rumah tangga miskin adalah rumah tangga yang proporsi pendapatan digunakan untuk konsumsi pangan lebih besar.

Kemampuaan ekonomi daerah juga dapat dilihat dari indikator produktifitas total daerah. Produktifitas total daerah dapat diketahui dengan menghitung produktifitas daerah per sektor (9 sektor) yang merupakan jumlah PDRB dari setiap sektor dibagi dengan jumlah angkatan kerja dalam sektor yang

Produktifitas daerah dihitung untuk mengetahui tingkat produktifitas tiap sektor per angkatan kerja yang menunjukkan seberapa produktif tiap angkatan kerja dalam mendorong ekonomi daerah per sektor.

Tabel 2.46

Perkembangan Produktifitas Total Daerah Kabupaten Solok Tahun 2012-2013

No Lapangan Usaha Tahun 2012 2013 2012 2013 2012 2013 Nilai Tambah (Milyar Rupiah) Jumlah Angkatan Kerja (Orang)

Produktifitas Total Daerah (Rupiah) 1. Pertanian 1.028,84 1.089,05 73.637 61.145 13.971.780,49 17.811.022,32 2. Industri Pengolahan 175,96 185,70 5.879 5.171 29.930.260,25 35.911.200,92 3. Perdagangan, Hotel dan Restoran 362,65 388,58 21.960 24.160 16.514.116,57 16.083.647,35 4. Jasa-Jasa 331,06 349,16 19.601 21.634 16.889.954,59 16.139.507,71 5. Lain-Lainnya (Pertambangan dan Penggalian, Listrik dan Air Bersih, Bangunan, Pengangkutan dan Komunikasi, Keuangan, Jasa Bangunan dan Jasa Perusahaan)

549,61 589,57 20.466 23.989 26.854.783,54 24.576.680,97

Jumlah 2.448,12 2.602,06 141.543 136.099 17.295.945,40 19.118.876,7

Sumber : BPS Kab. Solok

Berdasarkan data sebagaimana tertuang pada Tabel 2.46 dapat dilihat bahwa pada Tahun 2012 produktifitas daerah Kabupaten Solok adalah sebesar Rp. 17.295.945,40 adapun produktifitas sektor yang tertinggi adalah pada sektor industri pengolahan dengan angka sebesar Rp. 29.930.260,25. Kemudian pada Tahun 2013 produktifitas daerah meningkat menjadi sebesar Rp. 19.118.876,7 atau meningkat sebesar 10,54 %, dengan produktifitas sektor Industri pengolahan masih merupakan yang tertinggi.

Pada Tahun 2013 sektor yang mempunyai produktifitas tertinggi masih tetap sektor industri pengolahan dengan angka yang cukup signifikan yaitu Rp. 35.911.200,92 sedangkan sektor-sektor lain seperti perdagangan, hotel dan restoran serta jasa-jasa semakin menunjukkan penurunan produktifitasnya.

Analisis kinerja atas fasilitas wilayah / infrastruktur dilakukan terhadap indikator-indikator seperti rasio panjang jalan per jumlah kendaraan, jumlah orang atau barang yang terangkut angkutan umum, jumlah orang atau barang melalui dermaga, bandara atau terminal per tahun. Perkembangan indikator tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.47.

Tabel 2.47

Perkembangan Fasilitas Perhubungan di Kabupaten Solok Tahun 2009-2013

No Indikator Tahun

2009 2010 2011 2012 2013

1 Rasio Panjang Jalan Per

Jumlah Kendaraan O,038 0,058 0,039 0,046 0,053 2 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum 90.246 91.694 682.843 691.751 743.400 3 Jumlah Orang/Barang Melalui Demaga/Bandara/Termi nal per Tahun

97.172 97.200 101.088 109.374 110.374

Sumber : Dinas Perhubungan Kab. Solok

Dari Tabel 2.47 dapat dilihat bahwa dari Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2011 rasio jalan panjang mengalami fluktuasi namun dari Tahun 2011 sampai Tahun 2013 rasio tersebut meningkat menjadi 0,053. Ini menunjukkan bahwa perkembangan jumlah kendaraan yang ada di Kabupaten Solok lebih lambat dibanding perkembangan panjang jalan. Kemudian untuk indikator jumlah orang atau barang yang terangkut angkutan umum terus mengalami peningkatan sehingga menjadi sebanyak 743.400 orang Pada Tahun 2013. Kenaikan ini menunjukkan bahwa angkutan umum masih sangat dibutuhkan di Kabupaten Solok begitu juga halnya dengan indikator jumlah orang atau barang melalui dermaga, bandara atau terminal per tahun dimana indikator ini mengalami peningkatan dari Tahun 2009 sehingga pada Tahun 2013 menjadi sebesar 110.374. Angka ini menunjukkan bahwa arus transportasi di Kabupaten Solok menunjukkan peningkatan.

Indikator lain yang menunjukkan perkembangan fasilitas wilayah atau infrastruktur adalah indikator di bidang Penataan Ruangan yaitu ketaatan

kebanjiran dan kekeringan. Luas wilayah produktif di Kabupaten Solok adalah 116.798 km2, luas wilayah yang mengalami kebanjiran adalah sebesar 15,11% dan luas wilayah kekeringan telah mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya sehingga menjadi 1.425 Ha. Sedangkan ketaatan terhadap RT/RW adalah sebesar 98%.

Pada sektor lain perkembangan fasilitas wilayah / infrastruktur dapat dilihat dari ketersediaan fasilitas seperti berikut :

- Jumlah Bank Pemerintah : 3 Unit

- BPR : 6 Unit

- Restoran Tipe A : 1 Unit - Restoran Tipe B : 3 Unit - Restoran Tipe C : 47 Unit - Penginapan Tipe Melati : 5 Unit - Hotel Tipe Melati : 1 Unit

Pada sektor lingkungan hidup, komunikasi dan informatika rumah tangga yang menggunakan air bersih terus meningkat sehingga pada Tahun 2013 rumah tangga yang menggunakan air bersih sudah mencapai 66,95%. Indikator persentase penduduk yang berakses air minum juga terus meningkat dari tahun-tahun sebelumnya sehingga pada Tahun 2013 persentase penduduk yang berakses air minum mencapai angka 48,50% selanjutnya persentase rumah tangga yang menggunakan listrik juga meningkat sehingga pada Tahun 2013 telah mencapai angka 98%.

2.1.4.3. Fokus Iklim Berinvestasi

Investasi memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembangunan, karena menentukan dinamika pembangunan yang secara langsung atau tidak langsung dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Jika proses investasi berlangsung baik, maka perekonomian akan tumbuh dengan baik selama proses investasi tersebut menghasilkan output yang efisien. Dalam rangka

mengembangkan dan mengelola sumber daya alam Kabupaten Solok yang sangat kaya maka berbagai usaha diupayakan untuk meningkatkan iklim investasi antara lain memberikan kemudahan dalam proses perizinan sehingga makin cepat dan efektif, promosi dalam luar negeri.

Adapun peluang investasi di Kabupaten Solok adalah sebagai berikut : 1. Sektor industri seperti pengembangan pabrik gula tebu, teh organik, bahan

olahan karet, kakao, pengolahan ikan bilih menjadi ikan kaleng dan kerupuk, industri makanan ringan dan olahan tepung berbasis umbi-umbian dan beras, industri tekstil khas minang, industri kerajinan sulaman benang emas, industri pengolahan bawang goreng dan kripik kentang, industri pengolahan ubi ungu, industri rendang, industri kerajinan perak dan batu akik, industri kerajinan pandan dan kulit.

2. Sektor Pariwisata seperti pengembangan kawasan Danau Kembar, Danau Singkarak, kawasan mesjid Tuo Kayu Jao, kawasan Nagari Tradisional Koto Hilalang, kawasan makam Syech Muchsin.

3. Sektor Perikanan seperti pengembangan budidaya ikan kolam, ikan sawah, ikan danau atau perairan dan ikan sungai atau karamba.

4. Sektor perkebunan seperti mengembangan kopi arabica, teh organik, karet, tebu dan kakao.

5. Sektor Pertambangan dan Energi seperti pembangunan SPAM Regional dengan memanfaatkan potensi air Danau Dibawah, potensi pembangkit Panas Bumi (Geothermal) Blok Gunung Talang dan Koto Sani.

6. Sektor Pertanian seperti pengembangan budidaya padi sawah, ubi jalar, bawang merah, markisah, karisan, cabe, kentang, jeruk, kacang, ubi kayu dan jagung.

7. Sektor Peternakan seperti pengembangan budidaya peternakan sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, unggas, pengembangan pasar ternak modern.

2.2. Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan Sampai Tahun Berjalan dan

Dokumen terkait