HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Aspek Fisik dan Biofisik
Analisis fisik merupakan pertimbangan utama dalam perencanaan berdasarkan keadaan internal tapak. Russ (2009) mengatakan bahwa faktor yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan antara lain tanah, vegetasi, hidrologi, iklim, topografi, estetika, ciri historis dan tantangan fisiografi. Secara umum, analisis yang dilakukan PTTI cukup baik, namun pertimbangan terhadap keadaan tanah, vegetasi dan kondisi iklim masih perlu diperhatikan agar pengembangan lebih maksimal. Tanah merupakan aspek penting yang perlu dipertimbangan karena mempengaruhi pemilihan jenis vegetasi dan kesesuaian tapak dalam menunjang bangunan. Iklim juga menjadi pertimbangan dalam penentuan arah dan letak bangunan, pemilihan dan penempatan vegetasi sesuai fungsi, pengaturan arah angin, serta penentuan aktivitas dan fasilitas untuk kenyamanan pengguna. Analisis spasial terhadap pemandangan dan bunyi juga perlu ditambahkan dalam pengembangan analisis kawasan. Pemandangan dan bunyi dapat meningkatkan kualitas fisik dan keharmonisan penggunaan area dalam tapak (Simonds 2006).
29 Berikut merupakan data dan analisis yang telah dilakukan berdasarkan aspek fisik dan biofisik pada kawasan perencanaan.
a. Aksesibilitas dan infrastuktur kawasan
Aksesibilitas kawasan merupakan faktor pendukung dalam mencapai kenyamanan dan keinginan masyarakat dalam memilih hunian wisata. Umumnya masyarakat memilih resor yang berada pada wilayah strategis, serta dekat dengan potensi alam. Lokasi merupakan salah satu karakteristik yang menjadi keunggulan dalam pemasaran sebuah hotel resor.
Lokasi proyek perencanaan hotel resor berada 12 km dari Kota Mataram, 20 km dari Bandara Internasional Praya. Lokasi tersebut berada pada akses jalan utama Senggigi dan dekat dari pusat kota. Jalur ini dillintasi wisatawan menuju arah utara Lombok. Kemudahan pencapaian tapak merupakan potensi untuk menarik pengunjung. Kemudahan ini didukung oleh infrastruktur yang ada, yakni jalan beraspal sampai ke tapak dengan lebar jalan 10m. Jalan di sekitar tapak masih berupa jalan tanah yang dapat dilalui kendaraan, dan akses langsung menuju tepi pantai (Gambar 17).
Gambar 17 Aksesibilitas kawasan (a) jalur masuk kawasan utama, (b) Jalan Raya Senggigi, dan (c) jalur kawasan
(Sumber: PTTI 2012)
b. Vegetasi dan habitat satwa
Vegetasi merupakan komponen yang mempunyai berbagai fungsi yang bermanfaat bagi suatu tapak. Selain untuk keindahan visual, vegetasi dapat mengendalikan iklim mikro yaitu pemecah angin, tempat habitat satwa, dan peneduh. Kawasan perencanaan merupakan lahan bebas yang belum terbangun dengan tanah yang berpasir dan rumput yang pendek. Gambar 18 merupakan peta sebaran vegetasi yang terdapat pada kawasan perencanaan.
Vegetasi di dominasi oleh pohon kelapa, serta beberapa pohon kanopi di tepian sungai dan lahan miring. Pohon kanopi diantaranya pohon ketapang, waru laut, dan mahoni. Sebagian pohon tersebut merupakan rumah bagi beberapa spesies burung liar lokal dan burung cicadas. Lebih dekat ke mulut muara adalah habitat alami hutan bakau, ditutupi oleh semak dan vegetasi bakau (Gambar 19). Berdasarkan hasil pengukuran dan pengamatan tapak, jumlah pohon kelapa adalah 656 pohon, sedangkan pohon kanopi berjumlah 36 pohon. Kondisi tersebut menjadi keunggulan dalam mempertahankan kawasan ekologi pantai dengan
a
b
30
banyaknya pohon kelapa pada tapak. Untuk itu, analisis yang dilakukan dalam perencanaan terhadap vegetasi dan habitat lokal antara lain:
1. memanfaatkan sebagian vegetasi eksisting tapak untuk konsep rencana vegetasi,
2. menjadikan vegetasi kelapa sebagai bagian dari prinsip pelestarian lingkungan, 3. melestarian hutan bakau pada habitat mangrove sebagai potensi alam yang
menarik, serta berfungsi menahan air dan abrasi pantai, dan
4. merencanakan konsep kawasan dengan memperhatikan tata letak vegetasi dan penambahan vegetasi yang berfungsi untuk kenyamanan wisata.
Gambar 18 Peta sebaran vegetasi eksisting tapak
(Sumber: PTTI 2013)
Gambar 19 Vegetasi eksisting tapak (a) pohon kanopi (terminallia cattapa), (b) habitat mangrove dan (c) pohon kelapa
(Sumber: PTTI 2012)
c. Hidrologi
Sumber air pada tapak berasal dari sumur air bersih yang berada pada di dalam kawasan perencanaan, serta kondisi hidrologi yang baik dengan adanya Sungai Kerandangan (Gambar 20). Berkembangnya kawasan ini menjadi kawasan wisata menyebabkan kebutuhan air bersih semakin meningkat dan memungkinkan
Legenda
31 berkurangnya sumber air bersih. Oleh karena itu, diperlukan adanya usaha pelestarian dengan menjaga kualitas sumber air dan merencanakan water treatment.
Gambar 20 Peta hidrologi kawasan perencanaan
(sumber : PTTI)
Gelombang ombak dan pasang surut air laut di daerah pesisir pantai relatif rendah dan jarang sekali air pasang. Pada saat air pasang, air laut hanya mencapai pada 0–30 m dari garis pantai. Tinggi rata-rata gelombang mencapai nilai maksimum 0.5–1 m dengan kedalaman laut di sebelah utara mencapai 5 m pada jarak 200–400 m, serta di sebelah selatan dengan kedalaman 1–1.5 m pada jarak 100 m (SPKL 2012). Dengan demikian, pantai dinyatakan baik untuk kawasan wisata dan kegiatan rekreasi pantai.
Sungai Kerandangan pada tapak berfungsi sebagai cadangan air dan memiliki fitur alam yang menarik. Sumber air Sungai Kerandangan merupakan aliran air yang berasal dari mata air di perbukitan Batu Layar. Saat laut pasang, maka air laut dapat masuk ke dalam laguna Kerandangan yang terletak di muara Sungai Kerandangan (Gambar 21). Laguna mempunyai luas ±1000m² dan kedalaman berkisar antara 20-40 m. Khas laguna pada pesisir mempunyai bukaan yang menyempit ke laut. Sungai Krandangan memiliki muara aktif di hilir sungai, sehingga air sungai tetap ada pada musim kemarau (SPKL 2012). Namun, berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sekitar dan pengamatan lapang oleh PTTI, keadaan air Sungai Kerandangan pada musim kemarau mengalami kekeringan pada bagian dekat pintu masuk sungai di area kawasan. Kondisi tersebut disebabkan oleh keadaan alami bentuk aliran sungai yang berlekuk pada dataran yang lebih tinggi, sehingga arus aliran air terhambat. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan pola aliran air dan membuat bendungan kecil untuk menyimpan air.
32
Gambar 21 Keadaan Sungai Kerandangan (a) keadaan S. Kerandangan (b) laguna S. Kerandangan, dan (c) pintu masuk S. Kerandangan
(Sumber: Dokumentasi survei PTTI 2012)
d. Topografi
Keadaaan topografi pada tapak sedikit landai pada bagian dekat laut, namun semakin bertingkat ke arah timur laut (Gambar 22). Di beberapa titik membentuk penurunan sedikit demi sedikit ke arah lahan basah dan ke arah sungai. Dalam merencanakan sebuah lahan, survei terhadap topografi sangat diperlukan (Simonds 2006). Kombinasi antara kemiringan, bentukan lahan, dan beda ketinggian merupakan sumber estetika dan visual.
Gambar 22 Peta topografi kawasan
(Sumber: PTTI 2013)
Analisis topografi mempengaruhi rencana bentukan desain dan penggunaan tapak pada perencanaan yang akan dilakukan. Hasil analisis adalah sebagai berikut.
1. topografi yang semakin menurun menjadikan sistem aliran air menjadi alami, sehingga memudahkan dalam merencanakan sistem sirkulasi air,
2. pemanfaatan tanah berkontur dapat dijadikan sebagai tatanan lanskap maupun split level pada bangunan, serta memberikan kesan natural bagi pengembangan resor bernuansa alam,
Legenda
33 3. kontur yang relatif datar dapat dijadikan area rekreasi aktif yang tidak memerlukan perbedaan ketinggian, sehingga meminimalisir biaya cut and fill, dan
4. pemanfaatan eksisting kontur sebagai acuan dalam rencana pengembangan konsep
area dan sirkulasi.
5. Topografi pada setiap zona memiliki karakteristik alami yang dapat dimanfaatkan sebagai area wisata yang berbeda.