BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Aspek Guru
Pada tahun ajaran 2016/2017 program studi keahlian Teknik Audio Video di SMK Negeri 1 Magelang sudah menerapkan pembelajaran berbasis teaching factory. Kesiapan elemen penting pembelajaran berbasis teaching factory pada program studi ini penting untuk mencapai tujuan teaching factory. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan pelaksanaan pembelajaran berbasis teaching factory pada program studi keahlian teknik audio video di SMK Negeri 1 Magelang yang ditinjau dari aspek guru, aspek kerjasama dengan industri, dan aspek sarana dan prasarana masuk dalam kategori “siap”.
Guru adalah salah satu elemen penting dalam pelaksanaan pembelajaran teaching factory. Guru dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis teaching factory harus memiliki kualifikasi akademis dan pengalaman di industri. Sebagai pengajar, guru harus memiliki perencanaan (planning) pengajaran yang cukup matang. Perencanaan pengajaran tersebut erat kaitannya dengan berbagai unsur seperti tujuan pengajaran, bahan pengajaran, kegiatan belajar, metode mengajar, dan evaluasi.
Kesiapan guru dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis teaching factory pada penelitian ini ditinjau dari 3 indikator. Tiga indikator tersebut adalah perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran. Sebelum meneliti indikator tersebut setiap guru program studi Teknik Audio Video di SMK Negeri 1 Magelang memberikan data mengenai pengalaman kerja di industri, workshop teaching factory yang pernah diikuti, dan training dan coaching program teaching factory. Dari data yang diperoleh
83
menunjukkan bahwa pengalaman guru pada program studi TAV di industri hanya sebatas praktik di industri, untuk workshop teaching factory semua guru sudah mengikuti dan ada beberapa yang belum mengikuti training dan coaching teaching factory.
Kesiapan aspek guru ditinjau dari perencanaan pembelajaran berbasis teaching factory menunjukkan bahwa guru program studi keahlian TAV sudah sangat siap dalam hal administrasi keguruan seperti silabus pembelajaran yang mengarah pada industri, program tahunan dan program semester setiap mata pelajaran yang diampu, dan pembuatan RPP. Namun guru masih belum membuat RPP sesuai dengan pembelajaran teaching factory. Guru dalam pembelajaran berbasis teaching factory pada tahun ajaran 2016/2017 masih menggunakan model RPP pembelajaran dengan menggunakan K13 dan belum mengacu pada modul penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) metode pembelajaran teaching factory.
Beberapa hal yang dapat membantu meningkatkan kesiapan guru dalam perencanaan pembelajaran adalah dengan memberikan atau mencetak modul penyusunan RPP dengan metode pembelajaran teaching factory dan setiap guru wajib memilikinya. Selain itu, diadakan pelatihan pembuatan RPP untuk semua guru agar RPP yang dibuat sesuai dengan metode yang digunakan dan semua guru mempunyai rencana yang matang dalam pembelajaran. RPP dalam pembelajaran teaching factory dikembangkan menjadi tujuh level jobsheet dan hal ini merupakan kekhasan pada pembuatan instrumen penilaian keterampilan pada model teaching factory. Jobsheet yang dibuat terintegrasi dengan tuntutan kompetensi dasar, produk dan ketersediaan waktu belajar
84
peserta didik. Jobsheet terdiri dari soal praktik, prosedur pengerjaan, rubrik penilaian, dan format penilaian.
Jadwal blok, RPP dan jobsheet untuk pembelajaran praktik menjadi perangkat yang sangat penting dalam pengembangan metode pembelajaran teaching factory di sekolah. RPP berfokus pada pemanfaatan bahan ajar menjadi sesuatu yang berguna untuk melakukan proses pembelajaran yang efektif. Oleh sebab itu dapat disarankan untuk sekolah harus ada pemantauan mengenai pembuatan RPP yang sudah dikembangkan menjadi tujuh level jobsheet. Jika guru masih menggunakan RPP yang lama maka tidak ada bedanya antara pembelajaran berbasis teaching factory dan pembelajaran biasa.
Kesiapan aspek guru ditinjau dari pelaksanaan pembelajaran berbasis teaching factory menunjukkan bahwa guru program studi keahlian TAV masuk dalam kategori siap. Pada pelaksanaan pembelajaran di kelas teori maupun praktik di bengkel sudah memenuhi beban jam yang telah ditentukan. Pada saat penelitian guru prodi TAV tidak mengalami jadwal pembelajaran yang bermasalah. Namun masih ada beberapa guru yang belum menerapkan pembelajaran dengan rasio 1 guru : 8 -10 siswa di bengkel saat praktik dan menerapkan rasio 1 guru : 12 -16 siswa untuk alat kerja manual.
Selain itu guru belum benar-benar siap dalam menetukan produk dalam yang dikerjakan siswa diakhir pembelajaran tiap semester. Selain itu guru dalam membekali siswa tentang bekerja menurut standar obyektif kualitas sesuai standar industri (sense of quality), membekali siswa tentang kemampuan untuk bekerja secara efisien sebagaimana praktik yang umum dilakukan oleh industri (sense of efficiency), dan membekali siswa untuk bekerja secara kreatif dan
85
inovatif, serta kemampuan untuk melihat peluang-peluang baru di industri seperti produk, (sense of creativity dan innovation) masih tergolong belum sepenuhnya melaksanakan hal tersebut.
Pada pembelajaran berbasis teaching factory siswa harus memiliki keterampilan dasar berkaitan dengan standar obyektif kualitas, kemampuan bekerja secara efisien, dan bekerja secara kreatif dan inovatif. Selain itu siswa juga harus menerapkan tiga disiplin industri meliputi disiplin waktu, disiplin mutu, dan disiplin prosedur. Oleh karena itu, guru seharusnya dapat memulai menerapkan rasio pembelajaran yang sesuai dengan ketentuan pembelajaran berbasis teaching factory agar menciptakan budaya industri di sekolah. Selain itu setiap pembelajaran praktik harus selalu menerapkan dispilin industri dengan cara melaksanakan setiap kegiatan praktik seperti di industri nyata.
Kesiapan aspek guru ditinjau dari penilaian pembelajaran berbasis teaching factory menunjukkan bahwa guru program studi keahlian TAV masuk dalam kategori siap namun pada persentase bawah. Guru prodi TAV sudah menerapkan proses penilaian sesuai Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) pada setiap mata pelajaran yang diampu. Namun masih belum selalu merujuk pada level jobsheet dari level 1 sampai dengan level 3 dan masih melakukan penilaian hanya mengacu berdasarkan bahan ajar dan bahan praktik.
Pada implementasi pembelajaran berbasis teaching factory level pembelajaran yang wajib ada di dalam RPP program kompetensi, diantaranya jobsheet level 1 dan level 3. Kedua level ini merupakan standar kompetensi yang harus dicapai secara kurikuler, yakni pembelajaran di kelas dan pembelajaran di bengkel. Oleh karena itu penilaian pembelajaran harus mengacu pada level jobsheet yang ada pada RPP sehingga guru seharusnya membuat dan
86
menentukan aspek penilaian pada jobsheet yang mengandung tiga unsur yaitu aspek kualitas (penilaian secara teknis, cara pengerjaan dan hasilnya), aspek fungsi (pembobotan penilaian yang mengacu pada fungsi), dan aspek waktu pengerjaan (berkaitan pada pengerjaan suatu produk). Sistem penilaian tersebut telah diatur dalam modul Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) metode teaching factory.
Dengan demikian pelaksanaan pembelajaran berbasis teaching factory yang ditinjau dari aspek guru dapat dikatakan sangat siap jika dalam proses perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran sudah sesuai dengan ketentuan metode teaching factory yang disosialisasikan oleh KEMENDIKBUD yang bekerjasama dengan ATMI-BizDec dan GIZ (kerjasama dengan Negara Jerman).