• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

5.2.1. Aspek Lingkungan Pariwisata Berkelanjutan

Berdasarkan hasil penilaian aspek lingkungan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan, nilai dari pulau Sintok yaitu 23 dengan rerata 3 (Tabel 5.9). Total nilai untuk pulau Cilik yaitu 23, dengan rerata 3 (Tabel 5.22). Dengan hasil ini, nilai aspek ini untuk kedua pulau tersebut masuk dalam kategori agak sesuai dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Hal yang perlu ditingkatkan untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan pulau Sintok yaitu tentang cara pengelola menghadapi lonjakan jumlah wisatawan saat hari libur panjang atau akhir pekan karena nilainya 1. Kemudian, hal yang perlu ditingkatkan adalah tentang penggunaan material hasil produksi lokal karena nilainya 1.

Indikator lingkungan berkaitan dengan komitmen pengelola untuk menjaga kelestarian, merencakan pengembangan destinasi, dan cara menghadapi lonjakan wisatawan. Nilai rerata indikator perlindungan untuk pulau Sintok dan pulau Cilik adalah 3 dan masuk dalam kategori agak sesuai. Nilai terendah penilaian pulau Sintok, terdapat pada variabel cara pengelola menghadapi lonjakan wisatawan saat hari libur panjang atau akhir pekan yaitu 1. Artinya, pengelola tidak tahu cara menghadapi lonjakan wisatawan. Menurut hasil

wawancara, pada dasarnya belum banyak tamu yang datang ke pulau Sintok. Meskipun begitu, apabila tidak ada antisipasi terhadap lonjakan wisatawan akan dapat berakibat kepada perubahan ekologi terumbu karang.

Ekosistem terumbu karang sangat rentan terhadap gangguan manusia dan lingkungan sehingga mengalami kerusakan (Munasik, 2009). Kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas wisata di karimunjawa, rata-rata 10% terumbu karang mengalami kerusakan berupa patah dan beberapa bagian lain meningkatkan pertumbuhan alga. Kemudian, bisa mengakibatkan hilangnya jaringan pada karang (Kartawijaya et al, 2011 dalam Farid et al, 2018).

Indikator konsumsi energi dan air yaitu membahas tentang konsumsi air disuatu destinasi. penggunaan air di Sintok memiliki nilai 2 (kurang sesuai), artinya bahwa pengelola belum melakukan penghematan dalam menggunakan energi dan air. Kemudian, untuk pulau Cilik nilainya 3 (agak sesuai). Artinya, pengelola mulai menggunakan energi dan air secara hemat, namun kadang-kadang masih boros. Air sudah tersedia dikedua pulau tersebut yang bersumber langsung. Air yang tersedia sedikit payau. Untuk keperluan minum, kadang masih membawa tambahan dari Karimunjawa.

Pembatasan konsumsi energi dan air perlu dibatasi untuk menjaga ketersediaannya. Wisatawan mengkonsumsi energi dan air nyaris dua kali lipat lebih banyak daripada konsumsi di rumah sendiri. Pembatasan ini termasuk salah satu sasaran dalam rencana strategis pariwisata berkelanjutan dan pekerjaan ramah lingkungan di Indonesia. Pentingnya bisnis pariwisata dan kelembagaan publik yang bertanggung jawab untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya

(lahan, energi, air), menanggulangi tantangan perubahan iklim, meminimalisir emisi gas rumah kaca dan produksi sampah, serta melindungi keanekaragaman hayati (Indonesia Labour Organization, 2012).

Perlu penyusunan rencana dan pembentukan tim khusus yang menangani tentang konsumsi energi yang bertujuan untuk menjaga sumber daya air. Sinulingga et al (2015), sudah menyusun strtategi tentang pengelolaan sumber daya air di pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta. Strategi tersebut yaitu: (1) Membuat kebijakan pembatasan pengunjung agar kelestarian pulau dan sumber daya air tetap terjaga. (2) Menyusun kebijakan dan membuat kelembagaan yang terintergrasi dengan lembaga yang sudah ada untuk menangani pengelolaan sumber daya air. (3) Mengembangkan paket wisata yang berbasis ekowisata dengan melibatkan unsur penduduk, instansi, universitas, dan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM).

Nilai rerata pengelolaan limbah untuk kedua pulau ini adalah 3 (agak sesuai). Dari hasil wawancara, pengelolaan sampah tidak dipilah sesuai jenis kemudian langsung dibakar. Pengelola pulau Sintok masih sedikit menggunakan bahan daur hasil daur ulang. Mereka hanya menggunakan kayu bekas kiriman paket untuk membuat kursi santai. Sedangkan pengelola pulau Cilik lebih banyak memanfaatkan limbah sampah botol plastik untuk dipakai menjadi pelampung untuk budidaya rumput laut.

Dampak yang ditimbulkan dari kegiatan pariwisata yaitu limbah, baik limbah padat maupun limbah cair. Limbah cair yang tidak diolah sampai memenenuhi baku mutu yang aman, dapat menimbulkan eutrofikasi yang

berdampak pada pertumbuhan terumbu karang. Selain itu, juga akan menurunkan kualitas estetis terumbu karang karena proses blooming fitoplankton (Fandeli dan Muhammad, 2009). Namun, apabila sampah atau limbah dapat diminimalisir dampaknya dengan pengelolaan yang tepat. Tahapan pengelolaan sampah yaitu pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan. Pengelolaan sampah yang tepat dapat menjadi keuntungan untuk kita dan lingkungan (Vitasurya, 2014).

Frleta dan Zupan (2020), mengatakan bahwa para responden penelitiannya mendukung konsep zero waste dan bisnis wisata yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pariwisata dan perhotelan menghadapi tantangan besar dalam hal mengurangi biaya kebutuhan, memastikan energi keamanan energi, memenuhi harapan pasar dan wisatawan, meningkatkan daya saing, mematuhi perubahan peraturan dan perundang-undangan, mengurangi dampak negatif lingkungan, serta memenuhi kriteria pariwisata berkelanjutan. Konsep zero waste serta penerapan ekonomi sirkular terlah terbukti sebagai salah satu cara yang baik utuk mengurangi dampak negatif lingkungan. Serta, dapat mencapai manfaat secara ekonomi dan sosial dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Indikator selanjutnya yaitu tentang perubahan lahan dan perhatian terhadap siklus hidup. Indikator ini berkaitan tentang pengaturan zonasi yang ada di kawasan wisata dan penyeediaan dan pengaturan untuk parkir wisatawan. Kedua pulau tersebut hasil penilaian indikator ini yaitu dengan rerata 4 (sesuai). Artinya, pengelola sudah memperhatikan dan menerapkan indikator ini dengan baik. Di pulau Sintok sudah ada zonasi untuk aktifitas wisata dan penangkaran telur penyu. Sedangkan di pulau Cilik hanya ada zonasi untuk wisata saja.

Zonasi wilayah sangat penting untuk kegiatan wisata karena wisatawan dapat melakukan aktifitas di lahan yang sesuai dengan peruntukannya. Selain itu, zonasi juga penting untuk keberlangsungan dan keberlanjutan hidup ekosistem. Birawa dan Sukarna (2016) mejelaskan bahwa proporsi zonasi kegiatan pariwisata di wilayah pesisir harus serasi dan selaras dengan upaya pelestarian dan menjaga fungsi lindungnya dalam rangka pelestarian lingkungan hidup. Penetapan zona ekowisata di daerah ini harus mampu melindungi habitat-habitat kritis, mempertahankan keanekaragaman hayati, mengkonservasi sumberdaya alam, melindungi garis pantai, melindungi lokasi-lokasi yang bernilai sejarah dan budaya, dan mempromosikan pembangunan pesisir dan kelautan yang berkelanjutan.

Indikator penilaian aspek lingkungan selanjutnya yaitu pembelian. Indikator ini berkaitan dengan penggunaan material yang memanfaatkan hasil produksi lokal. Untuk Pulau Sintok nilai indikator ini adalah 2 (agak sesuai) karena ada sedikit penggunaan hasil produksi lokal berupa kayu bulat. Sedangkan untuk Pulau Cilik, nilainya adalah 1 (tidak sesuai) karena tidak ada penggunaan material yang memanfaatkan hasil produksi lokal. Material yang digunakan berasal dari Jepara dan dikirim ke Karimunjawa.

Penilaian tertinggi untuk pulau Sintok dan Cilik, terdapat pada indikator kontaminasi dengan variabel polusi udara, suara, dan air yaitu 5. Kedua pulau tersebut cukup jauh dari pulau Karimunjawa, sehingga kecil kemungkinan tercemar dari polusi yang dihasilkan dari Karimunjawa. Pencemaran laut akibat limbah wisata relatif sangat kecil. Sampah yang terbawa oleh arus air laut, juga

tidak berpengaruh terhadap kualitas air karena sampah tidak menumpuk di sekitaran perairan pulau.

Artinya, kedua pulau tersebut di atas belum ada polusi yang dapat mengancam kelestarian alamnya. Hal tersebut dapat menjadi daya tarik sebuah destinasi. Kebersihan merupakan faktor yang penting apabila dihubungkan dengan kesehatan wisatawan. Kebersihan sangat membantu terpeliharanya kondisi kesehatan masyarakat, penerima wisatawan, terjaganya keindahan dan kelestarian suatu destinasi wisata (Gromang, 2005 dalam Buana dan Sunarta, 2015).

Indikator terakhir penilaian aspek lingkungan yaitu tentang informasi lingkungan. Indikator ini berkaitan dengan edukasi kepada wisatawan tentang kelestarian lingkungan dan pelatihan atau sosialisai untuk pengelola destinasi wisata. Pengelola wisata di Karimunjawa sering mendapat pelatihan dari pihak Balai Taman Nasional (BTN) Karimunjawa. Nilai rerata indikator untuk kedua pulau ini adalah 4 (sesuai). Artinya, pelatihan tentang pengelolaan lingkungan yang pengelola dapat, sudah disalurkan ke wisatawan dengan cukup baik.

Pengembangan pariwisata berkelanjutan perlu kerja sama antar pemangku kepentingan di dunia pariwisata. Lima komponen yang harus diperhatikan, antara lain : (1) Upaya pelestarian guna melindungi lingkungan, (2) Peran serta masyarakat, (3) Penggunaan budaya lokal untuk pendidikan dan hiburan, (4) bantuan positif kepada pemerintah setempat, dan (5) Pengendalian yang ketat untuk menghindarkan dampak negatif (Isdarmanto, 2017).

Aspek lingkungan merupakan salah satu dari tiga aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Dua aspek yang lain

yaitu aspek ekonomi dan sosial budaya. Goeldner dan Ritchie (2009) menyatakan bahwa, salah satu komponen penawaran pariwisata adalah sumber daya alam dan lingkungan. Komponen tersebut merupakan penawaran yang paling mendasar. Sumber daya alam yang tersedia dapat digunakan dengan baik oleh wisatawan, sehingga akan menimbulkan kepuasan bagi mereka. Elemen dasar dalam komponen sumber daya dan lingkungan, meliputi: udara dan iklim, fisiografi wilayah, bentuk wilayah, dataran, hewan, tumbuhan, perairan, pantai, keindahan alam, pasokan air untuk minum, dan sanitasi.

Sunarta dan Arida (2017), mengatakan bahwa pembangunan pariwisata berkelanjutan dapat didukung secara ekologis sekaligus layak secara ekonomi, juga adil secara etika sosial terhadap masyarakat. Artinya, pembangunannya mengandung upaya terpadu dan teroganisir untuk mengembangkan kualitas hidup dengan cara mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan, dan pemeliharan.

Secara keseluruhan nilai aspek lingkungan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di kedua pulau ini mendapat nilai rerata 3 dan masuk dalam kategori agak sesuai. Namun, Qodriyatun (2018) menyatakan bahwa pengembangan pariwisata di Karimunjawa belum dapat dikatan berkelanjutan. Meskipun secara ekonomi, masyarakat di sana mendapatkan dampak positif dengan terbukanya lapangan pekerjaan sehingga pendapatan mereka juga ikut meningkat. Permasalahan sampah, air bersih, kerusakan terumbu karang dan perubahan sosial budaya masyarakat muncul sebagai dampak dari pengembangan pariwisata di Karimunjawa.

Pengembangan pariwisata berkelanjutan di Karimunjawa didasarkan pada arah pembangunan kepariwisataan. Sebagaimana yang tertuang dalam RPJPN 2005-2025 bahwa melakukan pengembangan pariwisata dengan memanfaatkan keragaman pesona keindahan alam dan potensi nasional sebagai wilayah wisata bahari secara berkelanjutan. Hal tersebut guna mendorong kegiatan ekonomi yang terkait pengembangan budaya bangsa. Arah pengembangan tersebut diterjemahkan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam bentuk peraturan di masing-masing sektor.

Kebijakan sektor dilakukan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten. Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah telah menyusun masterplan Karimunjawa. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah menyusun rencana zonasi sesuai amanat UU No. 27 Tahun 2007. Dilanjutkan dengan penyusunan zonasi dan rencana kelola Taman Nasional Karimunjawa oleh Balai Taman Nasional Karimunjawa. Disporapar Jawa Tengah dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara telah melakukan promosi dan pengembangan SDM pelaku wisata Karimunjawa (Qodriyatun, 2018)

Dokumen terkait