HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Aspek Pendapatan Masyarakat
Luasnya areal gambut yang rusak atau terancam rusak kurang lebih 2.5 juta hektar dan telah menjadi prioritas restorasi hingga tahun 2020. Pelaksanaan restorasi dilakukan melalui beberapa cara, meliputi penataan fungsi, pembasahan kembali, penanaman kembali lahan gambut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa-desa gambut (BRG, 2016). Pendekatan restorasi gambut berbasis sosial tidak dapat dipisahkan kejadian kebakaran lahan dan hutan gambut yang penyebabnya salah satunya dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat dalam membuka lahan pertanian/perkebunan dengan cara membakar lahan. Oleh karena itu, dalam restorasi gambut diperlukan pemetaan kondisi awal ekosistem gambut tersebut baik
0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 0-30 30-100 100-200 200-300 % Tut u p an Ketinggian (meter dpl) Bekas kebakaran Hutan sekunder Hutan primer
aspek fisik lahan gambut maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Salah satu komponen penting dalam pemetaan kondisi sosial masyarakat adalah tingkat ketergantungan masyarakat terhadap ekosistem gambut terutama yang terkait dengan sumber dan besaran pendapatan masyarakat.
Kawasan Hidrologi Gambut Siak meliputi Kawasan Taman Nasional Zamrud dan kawasan di sekitarnya. Secara administratif, Kawasan Taman Nasional Zamrud termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Siak Desa Dayun, Kecamatan Dayun, sedangkan batas TN sebelah utara dan barat berbatasan dengan Desa Sungai Rawa dan Desa Rawa Mekar Jaya di Kecamatan Sungai Apit. Masyarakat yang dijadikan responden dalam penelitian ini berjumlah 120 orang yang terdiri dari 84 orang dari Desa Dayun, 20 orang dari Desa Sungai Rawa, 14 orang dari Desa Rawa Mekar Jaya dan 2 orang dari desa responden dari Desa Sungai Kayuara dan Lalang. Berdasarkan etnik yang menghuni ketiga desa tersebut, Desa Dayun, selain sebagai ibukota, pusat perekonomian dan pemerintahan Kecamatan Dayun, juga dihuni oleh masyarakat dari beragam sukunya, hal ini menunjukkan bahwa desa tersebut lebih terbuka dan maju dibandingkan wilayah pesisir timur Kabupaten Siak; Desa Sungai Rawa dan Desa Rawa Mekar Jaya yang berjarak 1 jam perjalanan dari ibukota Kecamatan Sungai Apit, Desa Sungai Apit dan terpencil sebelumnya, karena akses jalan darat baru terhubung dengan Simpang Buton, Desa Mengkapan tahun 2010. Kondisi tersebut juga didukung oleh mata pencaharian masyarakat Desa Dayun dibidang jasa cukup besar (56%). Besarnya serapan tenaga kerja formal dan dagang erat kaitannya dengan posisi Desa Dayun sebagai lokasi pertambangan migas, perbankan,perkebunan dan pemerintahan.
Tabel10.Profil responden berdasarkan daerah asal
Suku Jumlah Desa
Dayun Desa Sungai Rawa Desa Rawa Mekar Jaya Desa lainnya Melayu 85 53 17 13 2 Jawa 24 21 2 1 0 Minang 5 5 0 0 0 Batak 4 4 0 0 0 Sumbawa 1 0 1 0 0 Sunda 1 1 0 0 0 120 84 20 14 2
Tabel11. Distribusi pekerjaan masyarakat di Kawasan Hidrologi Gambut Zamrud
Desa Nelayan Petani Kerja Formal Kerja Lain Madu Dagang
Dayun 26 60 33 30 12 14
Rawa Mekar Jaya 6 8 2 5 3 4
S. Rawa 14 12 1 9 2 5
Lainnya 2 1 0 1 2 0
48 81 36 45 19 23
Sumber: pengolahan data primer (2018)
Mata pencaharian masyarakat ditiga desa tersebut meliputi pekerjaan sebagai nelayan (danau, sungai, laut, kanal), petani (sawit, karet, kelapa, holtikultura), kerja formal (karyawan, pegawai), kerja lain (buruh), pengambil madu, dagang dan ternak. Hasil analisis klaster mengelompokkan 6 klas masyarakat berdasarkan pekerjaan yang digeluti tertera pada tabel berikut.
Tabel12. Klaster Sumber Pendapatan Masyarakat di KHG Siak
Klaster Rumah Org Nelayan Income
(Rp) PETANI Income (Rp) KERJA FORMAL Income (Rp) KERJA LAIN Income (Rp) DAGANG Income (Rp) KERJA MADU Income (Rp) TERNAK Income (Rp) est Income (Rp) 1 32 136 100,0% 2.400.539 44,0% 299.844 9,0% 268.750,0 31,0% 202.179 47,0% 534.656 6,0% 66.937 3,0% 36.458 3.809.365 2 24 94 25,0% 322.133 96,0% 2.144.629 29,0% 642.500 17,0% 155.833 17,0% 152.083 29,0% 574.087 21,0% 97.222 4.088.488 3 14 59 21,0% 320.542 100,0% 1.620.000 93,0% 2.821.429 14,0% 115.714 0,0% 0 7,0% 60.000 7,0% 83.333 5.021.019 4 14 59 21,0% 91.200 100,0% 2.365.714 0,0% 0 43,0% 729.2857 0,0% 0 14,0% 130.000 0,0% 0 3.316.200 5 16 61 19,0% 219.100 100,0% 1.265.625 31,0% 805.625 44,0% 663.125 0,0% 0 6,0% 131.250 0,0% 0 3.084.725 6 20 61 0,1% 22.400 0,0% 0 40,0% 831.500 80,0% 1.240.750 20,0% 94.750 30,0% 476.700 0,0% 0 2.666.100 Rata-rata income 3.664.316
Berdasarkan tabel di atas, Masyarakat yang masuk klaster 3 merupakan golongan yang memiliki pendapatan paling tinggi yang umumnya memiliki mata pencaharian sebagai petani (umumnya sawit) dan kerja formal ((karyawan dan pegawai dalam pertambangan migas, perbankan, pelabuhan, perkebunan dan pegawai pemerintahan). Sementara golongan masyarakat yang memiliki pendapatan paling rendah berada di klaster 6 yang sumber pendapatannya sebagai buruh, meskipun demikian jumlah tersebut masih di atas Upah Minimum Kabupaten Siak 2018 (Rp. 2.600.614). Jumlah masyarakat yang sumber pendapatannya berasal dari kawasan konservasi /taman nasional Zamrud sebesar 57% berupa pekerjaan nelayan dan mencari madu. Besarnya pendapatan masyarakat yang berasal dari dalam kawasan konservasi /taman nasional sebesar 17% dari pendapatan masyarakat totalnya.
Tabel 13. Pendapatan masyarakat dalam TN dan luar TN tiap klaster
Klaster Income Di TN Jml Orang Income Luar TN Jml Orang Income Total
1 2.030.882 24 1.778.483 29 3.809.365 2 488.717 6 3.599.772 24 4.088.489 3 380.543 4 4.640.476 14 5.021.019 4 221.200 5 3.095.000 14 3.316.200 5 350.350 3 2.734.375 15 3.084.725 6 172.200 3 2.493.900 20 2.666.100 Jml 45 116 Rata2 607.315 3.057.001 3.664.316 % 17% 83%
Sumber: pengolahan data primer (2018)
Secara umum jumlah masyarakat yang pendapatannya bersumber dari pekerjaan berbasis lahan sebesar 59.85% dan berumur rata-rata 55 tahun, sementara dan jumlah masyarakat yang pekerjaannya berbasis jasa sebesar 40,15% dan rata-rata berumur 45 tahun. Ketergantungan masyarakat terhadap pekerjaan formal mencapai puncaknya pada periode 1975-1999 dimana industri migas dan kayu mengalami puncak kejayaan. Serapan tenaga kerja cukup besar.untuk kebutuhan survei, pembukaan lahan, pengeboran minyak, penyambungan pipa, pembangunan infrastruktur jalan, penebangan kayu dan industry kayu Periode tersebut menyebabkan akses jalan ke dalam kawasan hutan terbuka, berkembang pemukiman, mulai berkembang sektor jasa dagang kebutuhan masyarakat pekerja migas & kehutanan. Setelah periode kejayaan tersebut, industri kehutanan dan perusahaan HPH sudah berakhir dan produksi migas BOB terus mengalami penurunan. Apabila produksi pertambangan terus
menurun, dikhawatirkan berdampak pada pengurangan tenaga kerja dan meningkatkan aktivitas masyarakat dalam ekosistem gambut terutama bagi kawasan konservasi Taman Nasional Zamrud. Hal ini tidak sulit dilakukan oleh pekerja formal karena sebagian besar (81%), dari mereka juga memiliki sumber pendapatan dari aktivitas berbasis lahan dan didukung oleh jaringan akses yang mudah masuk kawasan.
Sumber : pengolahan data sekunder (2018)
Gambar 31. Trend laju produksi minyak di CPP
Ketergantungan masyarakat terhadap taman nasional perlu mendapat perhatian dalam restorasi gambut agar tetap sejalan dengan prinsip restorasi gambut BRG, yang tidak boleh menghilangkan hak, mengurangi akses ataupun merugikan masyarakat yang ada di sekitar kegiatan restorasi (BRG, 2016). Kawasan konservasi taman nasional Zamrud memegang peranan penting bagi kehidupan masyarakat sebagai sumber mata pencaharian nelayan dan mencari madu yang sudah lama digeluti. Perhatian terhadap pengelolaan kedua sumber pendapatan masyarakat tersebut perlu perhatian khusus mengingat keberadaannya dipengaruhi oleh adanya kecenderungan perubahan iklim yang berpotensi menimbulkan kekeringan, kebakaran lahan. Di sisi lain adanya aktivitas yang berpengaruh terhadap sedimentasi dan pendangkalan danau, dan aktivitas perambahan hutan turut mempengaruhi
eksistensi kedua sumber pendapatan tersebut. Dari sisi pemasaran, sumber pendapatan tersebut sudah terbentuk pasarnya baik pasar local maupun pasar internasional khusus penjualan madu yang sudah sampai ke Malaysia. Upaya mendorong konservasi gambut berbasis pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan pada dua hal, yaitu pemberian akses kelola dan peningkatan kapasitas. Prinsip pemberdayaan tersebut ditegaskan oleh Soetomo (2015) bahwa pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui pemberian kewenangan dan peningkatan kapasitas masyarakat. Pemberian akses kepada kelompok masyarakat yang menekuni kedua mata pencaharian tersebut perlu dilakukan melalui pemberian izin dari pemangku kawasan Taman Nasional Zamrud baik melalui pengalokasian wilayah dalam zona tradisional maupun izin pemanfaatan. Proses pendampingan terhadap masyarakat dalam rangka peningkatan kapasitas dan kualitas produk serta pemasarannya dapat dilakukan melalui integrasi program antara BKSDA Riau, Pemerintah Kabupaten Siak (Dinas Lingkungan Hidup,
Dinas Pemberdayaan Masyarakat), Kemendes Bidang Pemberdayaan Masyarakat,
Pemerintahan Desa yang memiliki program pemberdayaan dari Dana Desa dan pendamping dari LSM dan Perguruan Tinggi. Di samping kedua program tersebut, konservasi hutan dan vegetasi tempat sarang madu (pohon sialang) dan pohon sumber nectar (sari bunga) madu, perlu dilakukan dan dikembangkan.
BAB V
KESIMPULAN
1. Hasil interpretasi tutupan lahan menunjukkan bahwa 83,7% kawasan TN Zamrud didominasi oleh kelas tutupan hutan primer, tutupan hutan sekunder (8,6%) dan tubuh air (7,4%), sisanya adalah lahan terbuka dengan luasan dibawah 1%. Hasil analisis vegetasi, tutupan hutan primer terutama didominasi oleh jenis-jenis vegetasi dari family Dipterocarpaceae, Myrtaceae, dan tumbuhan paku-pakuan, sedangkan pada tutupan lahan hutan sekunder, vegetasi yang mendominasi adalah Kelat putih (Eugenia nigricans) dan Kelakap (Gluta velutina). Dengan masih tingginya tutupan hutan baik hutan primer maupun sekunder (> 90%), bisa disimpulkan bahwa kondisi tutupan hutan di TN Zamrud masih cukup baik.Aliran air di kawasan TN Zamrud bermula dari bagian hulu Danau Pulau Besar yang kemudian mengalir melalui alur-alur sungai kecil masuk ke dalam perairan danau Pulau Besar. Aliran air dari Danau Pulau Besar kemudian keluar melalui outlet sungai Rasau yang bergerak masuk ke inlet Danau Bawah. Air yang berkumpul di Danau Bawah kemudian mengalir melalui outlet Sungai Rawa dan berakhir di laut (Selat Panjang). Dengan menggunakan pemodelan topografi, mikro DAS di sekitar TN Zamrud terbagi menjadi 8 sub-DAS mikro dengan berbagai variasi kondisi topografi.
2. Berdasarkan data iklim periode 1979 – 2013, diperoleh informasi bahwa rata-rata curah hujan tahunan di sekitar wilayah TN Zamrud adalah 3.159 mm, dengan rata-rata bulanan 263 mm. Dengan menggunakan analisis statistic Mann-Kendall dan Sen‟s slope estimator, selama periode 1979-2013 telah terjadi trend perubahan iklim dimanacurah hujan cenderung menurun, sementara rata-rata suhu udara maksimum dan minimum mengalami peningkatan. Hasil simulasi hidrologi dengan model SWAT menunjukkan bahwa selama periode 1979 – 2013 sebagian besar air hujan yang diterima digunakan untuk proses evapotranspirasi oleh vegetasi dengan besaran rata-rata sebesar 1.327 mm/tahun. Selain digunakan untuk evapotranspirasi, air dialirkan menuju hilir dengan rasio sebanyak 358 mm/tahun melalui aliran permukaan dan 1.108 mm/tahun melalui aliran bawah tanah (air tanah), sedangkan sebagian kecil melalui aliran lateral. Besaran kehilangan air yang masuk kedalam aquifer dalam relative kecil, hanya sebanyak 59
mm/tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi tanah dan vegetasi di kawasan TN Zamrud masih cukup terjaga untuk mengontrol proses hidrologi berjalan dengan baik, dimana air yang masuk kedalam tanah (infiltrasi) masih cukup besar, yaitu 1.192 mm/tahun atau 38,2% dari jumlah air hujan yang diterima. Sementara besaran sedimentasi rata-rata tahunan di kawasan TN Zamrud adalah sebesar 1,7 ton/ha/tahun, dengan 25% sedimentasi tersebut tertinggal di dasar sungai dan danau.
3. Pada masa mendatang, dengan proyeksi perubahan iklim yang terjadi pada tahun 2045 – 2070, baik dibawah skenario RCP 4.5. dan RCP 8.5., apabila tutupan lahan di TN Zamrud dibiarkan seperti kondisi saat ini yang masih alami, kelestarian Sumber Daya Air di kawasan sekitar TN Zamrud akan mampu terjaga dengan baik, dimana rata-rata koefisien limpasan hanya meningkat 1%, sementara koefisien aliran air tanah masih tetap terjaga (stabil). Namun demikian, sedimentasi diprediksi akan meningkat cukup signifikan, dimana rata-rata sedimentasi akan meningkat menjadi 5,5 ton/ha/tahun. Namun apabila tutupan lahan di kawasan TN Zamrud berubah menjadi kebun monokultur (misalnya) sawit, sebagaimana yang ada di sekitar kawasan saat ini, diprediksikan akan terjadi peningkatan koefisien limpasan sebesar 5% yang dikompensasi oleh penurunan koefisien aliran air tanah. Selain itu, diprediksikan terjadi peningkatan laju sedimentasi yang sangat tinggi hingga 2 kali lipat.
4. Dari hasil kajian vegetasi dapat simpulkan bahwa ketiga tipe penutupan vegetasi memiliki kondisi struktur vegetasi yang berbeda dan mencerminkan kondisi suksesi vegetasi di TN Zamrud. Tipe vegetasi bekas kebakaran memiliki penutupan vegetasi yang tinggi dari jenis paku-pakuan yang berpotensi untuk menghambat proses regenerasi alami di TN Zamrud, sehingga untuk membantu proses regenerasi alami di lokasi tersebut maka dibutuhkan bantuan pembebasan tanaman secara mekanis di sekitar semai-semai jenis alami yang ditemukan di lokasi.
5. Hasil survey analisis sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan TN Zamrud menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap berbasis sektor lahan cukup tinggi (59.85%) dan diproyeksikan akan terus meningkat seiring penurunan peran sektor migas dan sektor kehutanan. Jumlah masyarakat yang sumber pendapatannya berasal dari kawasan konservasi/taman nasional Zamrud sebesar 57% berupa pekerjaan nelayan dan mencari madu dengan sumbangan pendapatan masyarakat sebesar 17%. Keberlanjutan ke dua sumber income tersebut sangat tergantung pada kesehatan ekosistem danau dan hutan. Penurunan jumlah jenis ikan yang bernilai tinggi dan tingginya sedimentasi danau sangat memengaruhi pendapatan nelayan, begitu juga
kebakaran dan kerusakan hutan akan sangat berpengaruh pada pendapatan dari Madu. Oleh karena itu, upaya konservasi ekosistem danau dan hutan adalah mutlak untuk kelangsungan perekonomian masayarakat. Besarnya ketergantungan masyarakat terhadap ke dua ekosistem tersebut dapat dijadikan jalan untuk melakukan kolaborasi dengan masyarakat untuk menjaga ekosistem danau dan hutan.