D. Perkembangan Anak
3. Aspek Perkembangan Anak
Perkembangan pada anak terdiri atas beberapa aspek, diantaranya perkembangan fisik, perkembangan intelektual/kognitif, perkembangan emosi, hingga perkembangan psikososial. Aspek tersebut merupakan yang paling penting terhadap pertumbuhan anak.
Karena aspek tersebut saling berkaitan satu sama lain sehingga aspek perkembangan tersebut harus memiliki perhatian yang sama. Berikut adalah penjelasan mengenai aspek yang dilalui pada anak:
1. Perkembangan fisik
Perkembangan fisik adalah perubahan struktur tubuh manusia yang terjadi sejak individu berada dalm kandungan hingga ia dewasa. Perkembangan fisik merupakan hal yang mendasar bagi kemajuan perkembangan aspek lainnya, jika fisik berkembang dengan baik maka anak akan lebih bisa mengembangkan keterampilan fisiknya, mengeksplor lingkungannya tanpa bantuan orang lain. Perkembangan fisik anak ditandai dengan berkembangnya kemampuan motorik 18 halus maupun kemampuan motorik kasar, makan yang bergizi akan sangat mempengaruhi perkembangan fisik anak dengan terpenuhinya gizi maka perkembangan fisik tidak akan terganggu dan dapat berjalan sesuai dengan umurnya (Susanto, 2011).
2. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kignitif menggambarkan perubahan dalam pikiran, intelegensi, dan bahasa seseorang.
Piaget dalam (Santrock 2007) menyatakan bahwa anak secara aktif membangun dunia dan melalui empat tahap perkembangan kognitif. Dua proses yang mendasari perkembangan tersebut adalah organisasi dan adaptasi. Untuk memahami dunia, kita perlu mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kita. Perkembangan kognitif merupakan kemampuan individu untuk berpikir lebih matang yang meliputi kemampuan berpikir (thinking), memecahkan masalah (problem solving), mengambil keputusan (decision making), kecerdasan (intellegence), bakat (aptittude).
Perkembangan kognitif yang optimal sangat dipengaruhi oleh kematangan fisiologis sehingga dapat berjalan dengan baik dan koordinatif (Dariyo, 2007).
3. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial merupakan pencapaian suatu kemampuan untuk berperilaku dan bersikap sesuai dengan yang berlaku di lingkungannya. Seorang individu dikatakan sesuai dengan harapan di lingkungan sosialnya apabila mencakup tiga komponen yaitu belajar berperilaku dengan cara yang disepakati oleh sosial, bersikap dalam peran
yang disetujui oleh sosial, dan pengembangan sikap sosial. Hurlock dalam (Hartinah, 2010) menyatakan indikator dari perilaku sosial yang sukses adalah adanya kerjasama, persaingan yang sehat, kemauan berbagi, minat untuk diterima, simpati, empati, ketergantungan, persahabatan, keinginan, pemanfaat, imitasi, dan perilaku lekat.
4. Perkembangan Emosi
Perkembangan emosi melibatkan perubahan dalam hubungan sesorang dengan orang lain, Perubahan emosi dan perubahan dalam kepribadian. Proses tersebut berhubungan secara erat dan rumit dengan proses biologis dan kognitif. Emosi merupakan perubahan perasan yang ditandai dengan perubahan fisik sebagai respon dari suatu hal yan terjadi.
Seperti marah ditunjukan dengan suara keras, atau gembira ditunjukan dengan tertawa dan melompat kegirangan. Kemampuan reaksi emosional sudah dimiliki oleh bayi sejak lahir, namun perkembangan emosional berikutnya tidak berjalan sendiri akan tetapi sangat diperngaruhi oleh peran pematangan dan peran proses belajar (Poerwanti, 2002).
4. Faktor yang Memperngaruhi Perkembangan Anak Terdapat dua faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, yaitu faktor eksternal dan internal (Rosyada 2017). Secara rinci akan dijabarkan sebagai berikut ini:
1) Faktor Internal (Alami)
1. Faktor Hereditas (Keturunan/Pembawaan) Pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh faktor genetik atau keturunan yang didapat dari orang tuanya. Faktor genetik lebih menekankan pada fisiologis dan psikologis yang dibawa melalui aliran darah dalam kromosom sehingga faktor ini bersifat statis, sebagai contoh bentuk fisik, kesehatan, sifat, minat, bakat, dan kecerdasan (Rosyada 2017).
2. Faktor Hormon
Pengaruh hormon pada individu sudah terjadi pada saat dalam janin, saat itu terjadi pertumbuhan yang sangat cepat. Hormon yang berpengaruh terhadap pertumbuhan anak adalah hormon somatotropin, sedangkan hormon esterogen dan progesteron merupakan hormon seksual yang berguna pada saat memasuki usia remaja yang menandakan sebagai salah satu kematangan individu.
2) Faktor Eksternal (Lingkungan) 1. Keluarga
Keluarga merupakan bagian pertama yang dikenal oleh anak, keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan anak, oleh karena itu pola pendidikan dan bimbingan dalam keluarga harus tepat dan maksimal agar anak bisa mencontoh orang tuanya kelak.
2. Teman sebaya
Anak saat memasuki usia sekolah akan banyak bergaul dan bermain dengan teman sebayanya, mereka akan banyak mempelajari apa saja yang tidak didapat dalam keluarga seperti, perbedaan, kerjasama, persaingan, dan hal lain yang berguna bagi proses perkembangan.
3. Pengalaman hidup
Pengalaman hidup mengajarkan anak dalam mengembangkan dirinya dengan cara mengaplikasikan setiap pelajaran yang didapat dalam kehi dupan. Semakin banyak pengalaman hidup semakin mudah seorang anak untuk menyelesaikan masalahnya.
4. Tingkat kesehatan lingkungan
Kesehatan lingkungan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Lingkungan yang tidak sehat membuat pertumbuhan anak menjadi terganggu, sakit
atau cedera bisa menyebabkan ketidakmampuan anak untuk menyelesaikan kebutuhan dan tugasnya pada tahap perkembangan.
E. Teori Kelekatan
a. Pengertian Teori Kelekatan
Teori ini membuktikan jika pengalaman kelekatan masa kecil mempengaruhi tingkat keamanan dan kenyamanan seseorang. Pengalaman tersebut menjadikan dasar bagi anak untuk mengembangkan kapasitas dan keahlian sosial di masa yang akan datang.
Beberapa hubungan dan pengalaman di masa kecil sangatlah formatif, yang berarti sangat sensitif untuk menciptakan hubungan yang baik sehingga memberikan pelajaran di kemudian hari.
Menurut Papalia, 2009 dalam (Riana Christin, 2016) kelekatan adalah suatu emosional abadi atau saling berbasalasan antara anak dan pengasuhnya yang saling memberikan manfaat terhadap kualitas hubungan antara pengasuh dan anak. Bowlby juga berpendapat bahwa kelekatan merupakan ikatan emosional yang dibentuk oleh anak dengan ibu atau pengasuh.
Anak-anak menyadari kemampuannya sebelum mereka memahami orang lain dengan cara membandingkannya dengan perasaan mereka. Mereka
mengembangkan pengalamannya dengan cara membagikannya dengan orang lain melalui hubungan yang lekat, mereka mempelajari bahwa beda orang akan berbeda pula keadaan mentalnya dalam berhubungan.
Pemahaman paling utama bagi mereka adalah berasal dari pembicaraan dengan kedua orang tua tentang perasaan mereka. Setelahnya mereka mempelajari untuk kemudian menuangkannya dalam hubungan sosial sehingga mereka akan cocok dengan budaya dan lingkungan sosial. kondisi ini berkembang sejalan dengan pertumbuhan mereka selama masa ananka-anak.
Bowlby (1980) mengembangkan teori tentang mencari kelekatan kepada orang lain, sebagai acuan jika anak-anak sedang stress maka mereka akan mencari kelekatan kepada orang lain melalui tiga cara berikut ini:
1. Proximity seeking, dimana anak akan berusaha untuk lebih dekat dengan orang tua atau orang yang dapat memberikan rasa nayaman
2. Secure base, anak berani mengambil risiko karena adanya kehadiran orang yang dapat memberikan rasa aman (contoh; orang tua)
3. Separation protest, dimana anak akan berusaha unutk menghalangi adanya perpisahan dari seseorang yang memberikan rasa nyaman.
b. Figur Lekat
Bowlby menjelaskan ada dua macam figur lekat:
1. Figur lekat paling utama adalah individu yang responsif dan memberikan perawatan fisik pada anaknya
2. Figur lekat pengganti yaitu orang yang selalu siap sedia memberikan respon ketika anak mengalami kesedihan tetapi tidak memberikan perawatan fisik.
c. Tahap-Tahap Pembentukan Kelekatan
Bowlby menjelaskan tahapan mengenai kelekatan yang berkembang dengan bertahap, yaitu:
1. Tahap 1, mulai dari anak lahir hingga 2 bulan. Anak secara naluri menunjukkan kelekatan dengan semua orang, mulai dari orang asing, orang tua, dan orang lain yang memiliki kesempatan yang sama untuk membuat bayi berekspresi dengan menangis atau tersenyum.
2. Tahap 2, 2 bulan hingga 7 bulan. Kelekatan mulai terfokus, anak mulai bisa membedakan orang yang dikenal dengan yang tidak dikenal.
3. Tahap 3, usia 7 hingga 24 bulan keatas. Anak mulai berkembang dan mulai sering berpindah-pindah tempat, dalam hal ini anak menjadi aktif dalam melakukan hubungan dengan pengasuh tetap seperti ayah atau ibu bahkan pengasuh pengganti lainnya.
4. Tahap 4, usia 24 bulan keatas. Kelekatan terjadi saat anak merasa lebih aman dengan pengasuh pertama, anak tidak merasa sedih selama berpisah dengan ibunya atau pengasuh pertamanya dalam jangka waktu yang lama.
d. Perilaku Kelekatan
Menurut Bowlby (1980) perilaku kelekatan adalah sebagai berikut:
a. Kelekatan emosional yang aman:
Suatu jenis perlakuan yang menempatkan pengasuh sebagai dasar yang aman untuk mengeksplorasi lingkungan. Figur kelekatan menjadi tempat anak untuk selalu dekat dengan orang-orang yang memiliki kedekatan dengannya.
Berikut ini merupakan ciri perilaku anak yang merasa dalam kelekatan aman menurut Gunarsa (1981):
1. Anak merasa aman, nyaman, dan tersenyum saat bersama pengasuhnya
2. Anak dapat mengeksplor lingkungan dengan nyaman dan aman dengan mendengarkan dan melihat wajah pengasuhnya
3. Anak akan menangis, berteriak, protes dan aktif mencari kembali pengasuhnya dan mencoba berinteraksi kembali ketika pengasuhnya kembali.
e. Kegunaan Teori Kelekatan
Payne (2005) dalam (Siti Napsiyah Ariefuzzaman 2011) menyebutkan beberapa teori kelekatan untuk menilai atau melihat, sebagai berikut:
• Hubungan saat ini: kualitas dan muatan klien, fungsi dan struktur
• Sejarah hubungan: bagaimana klien memperlihatkan berbagai tipe perilaku kelekatan
• Kontek: tekanan-tekanan khusus terhadap lingkungan bagi hubungan saat ini
Bowlby juga menjelaskan 5 mandat trapeutik diantaranya:
1. Menyediakan landasan rasa aman untuk peristiwa yang tidak menyenangkan
2. Mendampingi klien dalam proses eksplorasi tersebut
3. Mengakui bagaimana perilaku kelekatan diimpor ke dalam hubungan saat ini (perkembangan ide tradisi psikodinamika ketika proses penempatan)
4. Membantu klien untuk memahami bagaimana proses kelekatan di masa lalu yang berhubungan dengan kesulitas saat ini
F. Human Service Organization (HSO)
1. Penegrtian Human Service Organization (HSO) Organisasi pelayanan manusia atau HSO berbeda dengan oraganisasi lainnya, Edi Suharto berpendapat bahwa HSO merupakan proses dan strategi dalam mengelola lembaga/organisasi pelayanan sosial yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dan kepuasan penerima pelayanan.
Marriane Woodside juga menjelaskan Human Service Organization merupakan sekumpulan individu yang tergabung dalam suatu organisasi yang berfungsi melindungi, melayani, dan memelihara, serta meningkatkan kesejahteraan pribadi individu-individu dengan cara menentukan atau menetapkan, mengubah juga membentuk ciri-ciri pribadi mereka.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Human Service Organization merupakan pelayanan kemanusiaan yang memberikan pertolongan individu maupun kelompok dengan tujuan layanan kepada setiap individu dan kelompok untuk mengadvokasi permasahan individu dan kelompok.
2. Tujuan Human Service Organization (HSO)
Dalam kaitannya dengan motivasi dari suatu organisasi pelayanan masyarakat mengadakan usaha kesejahteraan sosial (uks). Usaha kesejahteraan sosial itu sendiri, pada dasarnya program atau kegiatan yang
di desain secara kongkrit untuk menjawab segala kebutuhan masyarakat. Schneiderman (1967) dikutip oleh Mendoza (1981) menyatakan tiga tujuan dari HSO, yaitu:
a. Tujuan kemanusiaan dan keadilan sosial
Tujuan ini berasal dari keyakinan bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk mengembangkan potensi diri yang mereka miliki.
b. Tujuan pengendalian sosial
Tujuan ini berdasarkan pemahaman bahwa yang tidak diuntungkan, kekurangan, atau tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya akan dapat melakukan serangan atau menjadi ancaman bagi kelompok yang sudah mapan.
c. Tujuan pembangunan ekonomi
Tujuan ini memprioritaskan pada program-program yang dirancang untuk meningkatkan produksi barang dan jasa, serta berbagai sumber daya yang dapat menunjang serta memberikan pada pembangunan ekonomi (Ambarwati, TT)
G. Landasan Hukum
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2019 Tentang Pekerja Sosial
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Kesetaraan Gender
4. Permendikbud Nomor 84 Tahun 2014 Pasal 1 Ayat 1 Tentang Pendirian Satuan Pendidikan Anak Usia Dini 5. Permendikbud Nomor 84 Tahun 2014 Pasal 19 Ayat 1
Tentang Pendirian Satuan Pendidikan Anak Usia Dini 6. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1974 tentang
Kesejahteraan Anak.
7. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
8. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
9. Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2013 tentang Perkembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif 10. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16
Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru
11. Peraturan Meneteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 84 Tahun 2014 tentang Pendirian Satuan Pendidikan Anak Usia Dini
12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini
13. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini.
H. Kerangka Berpikir Day Care UIN Jakarta
Program penggantian pola asuh pada Day Care UIN Jakarta
Kesesuaian
77 BAB III
PROFIL LEMBAGA
A. Visi, Misi, dan Tujuan Lembaga Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1. Visi
Menjadi pusat kajian dan penelitian yang unggul dalam upaya mewujudkan kesejahteraan dan keadilan gender, pemberdayaan perempuan, serta perlindungan anak dengan mengintegrasikan keilmuan, keislaman dan ke Indonesiaan.
2. Misi
a. Melakukan penelitian tentang isu gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dengan mengintegrasikan keilmuan, keislaman dan keindonesiaan.
b. Melakukan kajian dan publikasi ilmiah tentang isu gender, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak dengan mengintegrasikan keilmuan, keislaman dan keindonesiaan.
c. Melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai upaya mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
d. Menyelenggarakan dan mengembangkan pendidikan serta pelatihan yang berperspektif gender dan perlindungan anak.
e. Membangun kerjasama kemitraan dengan lembaga dalam negri dan luar negeri.
3. Tujuan
a. Menjadi Vocal Poin Gender di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta baik untuk mengemban fungsi internal maupun eksternal
b. Menyasar seluruh civitas akademika dengan program-program melalui kegiatan tridarma perguruan tinggi, yaitu kegiatan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.
c. Penguatan gender perspective dikalangan mahasiswa, dosen, pegawai, maupun pengambilan kebijakan.
B. Latar Belakang Lembaga
Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) merupakan salah satu pusat yang ada di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta didirikan pada 15 Maret 2013 berdasarkan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Lembaga ini didirikan atas dasar kesadaran dan respon terhadap pentingnya keterpaduan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat guna mendukung pencapaian target Rencana Strategis (Renstra) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
menembus peringkat 500 besar universitas kelas dunia (world class university) pada 2036. LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang secara fungsional berada di bawah koordinasi Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pengembangan Kelembagaan, membawahi lima pusat, yaitu: Pusat Penelitian dan Penerbitan (Puslitpen), Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Pusat Layanan Hubungan Masyarakat dan Bantuan Hukum (PLHMBH), dan Pusat Layanan Kerjasama Internasional (PLKI).
Nama Lembaga : Pusat Studi Gender Dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Alamat : Gedung Rektorat Lt. 1, Jl. Ir. H.
Juanda No. 95 Ciputat 15412 Indonesia
Telepon : (62-21) 7401925 Faksimile : (62-21) 7402982 Email : [email protected] Website : www.psga.uinjkt.ac.id
Kepala PSGA : Prof. Dr. Ulfah Fajarini, M.Si (081316029182)
Koordinator Anak : Dr. Iin Kandedes, M.Si Koordinator Gender : Dr. Fidrayani, M.Pd, M.Si
C. Legalitas
Tahun Pendirian : 2013
Akte Pendirian : Peraturan Menteri Agama
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
D. Program Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) 1. Kelas gender dan anak bagi dosen dan mahasiswa.
2. Pelatihan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG).
3. Kegiatan Kajian/FGD tematik terkait isu gender dan perlindungan anak.
4. Program Day Care dan Ruang Laktasi 5. Publikasi Jurnal Harkat
E. Struktur Organisasi
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Kepala Pusat Studi Gender dan Anak
Prof. Dr. Ulfah Fajarini, M.Si
Staf Dr. Iin Kandedes, M.Pd
Divisi Bidang Anak Dr. Fidrayani, M.Pd, M.Si
Staff Administrasi Mulyani Hasni, S.Ag Miftachur Rosyida, M.Pd.I
Faisal
F. Program yang sudah dan sedang berjalan
Jakarta dan
FGD
Kelas Gender Mahasiswa dan dosen
Fakultas
dan pegawai
- PTKAI
Penganggara
FGD
ullah
Pulih dan Komisi Perlindungan Anak
Indonesia Kunjungan Kerja
KerjaPSGA Syarif Hidayatullah Jakarta ke Sekolah Alam Cikeas dan School of Universe
Staf PSGA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Bogor, Jawa Barat
Sekolah Alam Cikeas dan School of Universe
G. Kegiatan Pusat Studi Gender dan Anak
Gambar 3.1
PSGA UIN Jakarta mengadakan Kajian Kelas Gender dan Anak pada 9 Oktober 2015
Sumber: www.uinjkt.ac.id
Kegiatan ini bertujuan agar perempuan harus meningkatkan kemampuan diri untuk turut serta dalam aktifitas sosial ekonomi dan politik diluar tugas-tugas domestik dalam rumah tangga. Karena perempuan memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan laki-laki.
esadaran gender yang memungkinkan perempuan mendapat peluang setara juga harus menjadi kesadaran seluruh masyarakat, termasuk kaum pria. Salah satunya dengan kesadaran masyarakat laki-laki untuk ikut serta dalam memahami isu-isu gender
Gambar 3.2
PSGA menggelar kuliah perdana kelas Gender dan Anak angkatan ke-4 sekaligus bedah buku AL Quran dan
Perempuan pada 18 Mei 2017
Sumber: www.uinjkt.ac.id
Kegiatan ini mempunyai tujuan sebagai pengkajian isu gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Kegiatan ini dilaksanakan di ruangan diorama.
Kegiatan ini telah dilaksanakan sejak tahun 2014 dan mendapatkan respon positif dari mahasiswa, maka PSGA kembali menyelenggarakan kegiatan ini, dan ini merupakan angkatan yang ke-4
Gambar 3.3
PSGA UIN Jakarta menyelenggarakan SeminarKesehatan Reproduksi dan Deteksi Dini Kanker Serviks pada 25
April 2018
Sumber: www.uinjkt.ac.id
Seminar Kesehatan Reproduksi dan Deteksi Dini Kanker Serviks merupakan tahun ke-4 yang diselenggarakan PSGA sebagai bentuk kepedulian UIN Jakarta terhadap kualitas hidup perempuan, khususnya di lingkungan UIN Jakarta. Dihari yang sama, PSGA juga membuka Pap Smear gratis bagi karyawati yang sudah pernah melahirkan.
Gambar 3.4
PSGA UIN Jakarta membuka kelas Gender dan Anak angkatan ke-5 dengan tema Tradisi Khatam Alquran Berbasis Kearifan Lokal dalam Rangka Penguatan
Karakter pada 7 Agustus 2018
Sumber: www.uinjkt.ac.id
Pembelajaran kelas gender ini diharapkan bisa menjadi model pembelajaran di wilayah lokal dan wilayah Indonesia. Tradisi khatam Al-Quran merupakan model pembelajaran yang dikaitkan dengan kearifan lokal dengan pemahaman terhadap budaya dan keadaan masyarakat di suatu tempat.
Gambar 3.5
PSGA UIN Jakarta mengadakan Sosialisasi Dan Pelatihan Penyususnan Perencanaan Dan Penganggaran
Responsif Gender (PPRG) pada 14 September 2018
Sumber: www.uinjkt.ac.id
Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) menginginkan agar kegiatan-kegiatan di UIN Jakarta lebih berorientasi pada responsif gender. Hal tersebut bertujuan agar program gender mainstreaming dapat tercapai. Acara tersebut diikuti oleh sejumlah staf perwakilan dari 12 fakultas di UIN Jakarta.
Gambar 3.6
PSGA UIN Jakarta kembali menggelar deteksi dini kanker serviks pada 16 Juli 2019
Sumber: www.uinjkt.ac.id
PSGA UIN Jakarta kembali menggelar bakti sosial berupa Seminar Kesehatan dan periksa kesehatan Reproduksi serta Deteksi Dini Kanker Serviks, bertempat di Aula Madya untuk pemeriksaa kesehatan, sedang seminar dilaksanakan di ruang teater FITK kampus I UIN Jakarta. Pemeriksaan kesehatan yang diselenggarakan hasil kerja sama antara PSGA, Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Fakultas Kedokteran (FK), serta Rumah Sakit UIN Jakarta tersebut, melibatkan 27 orang Dokter dan dua orang tenaga medis. Dari ke 27 dokter tersebut, 26 di antaranya diterjunkan dari FK UIN Jakarta dan RS Syarif Hidayatullah, satu orang dokter dan dua orang tenaga medis lainya dari pihak YKI.
Gambar 3.7
PSGA UIN Jakarta menggelar ramah tamah di kantor walikota Tangerang Selatan pada 17 Oktober 2019
Sumber: www.uinjkt.ac.id
PSGA UIN Jakarta mengikuti konferensi pertama internasional gender dan gerakan sosial serta gala dinner juga ramah tamah di rung pertemuan kantor Wali Kota Tangerang Selatan. Acara tersebut diikuti oleh 58 Perguruan Tinggi Negeri Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se Indonesia, dihadiri oleh wakil walikota Tangerang Selatan Benyamin Davnie yang mana mewakili walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diani yang berhalangan hadir.
99 BAB IV
DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
Sesuai dengan Pernyataan yang dikemukakan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada Januari 2015 lalu yang mengusulkan agar di setiap Instansi Pemerintahan maupun Swasta harus menyediakan Tempat Penitipan Anak (Day Care), Usulan tersebut juga didukung oleh Peratutan Menteri Sosial Nomor: 02/HUK/2008 tentang Tata Cara dan Syarat Pendirian Taman Penitipan Anak dan Kelompok Bermain (Permensos 2/2008) serta Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 84 Tahun 2014 tentang Pendirian Satuan Pendidikan Anak Usia Dini (Permendikbud 84/2014). Usulan tersebut sangatlah penting mengingat jumlah pekerja perempuan dalam usia produktif sangat banyak, BPS 2018 menyebutkan bahwa ada 43,7 juta pekerja perempuan dalam usia produktif (BPS 2018), yang artinya ada 43,7 juta calon dan atau ibu yang harus di fasilitasi untuk memberikan ASI dan merawat anak-anak nya di tempat mereka bekerja yang tentunya dengan tidak meninggalkan kewajiban mereka sebagai pekerja.
Hasil dari data serta temuan di temuan di lapangan yang dilakukan oleh peneliti melalui teknik wawancara dan dokumentasi, maka diperoleh beberapa informasi mengenai Implementasi Program Day Care Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) dalam Menggantikan Pola Asuh Orang Tua Bekerja di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pada bab IV ini peneliti akan memaparkan hasil dan data temuan penelitian terkait Implementasi program Day Care yang dilakukan oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) dalam Menggantikan Pola Asuh Orang Tua Bekerja di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
A. Implementasi Program Day Care Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Implementasi program pada dasarnya adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh instansi pemerintah maupun swasta dalam mewujudkan tujuan yang sesuai dengan visi dan misi instansi tersebut, dalam hal ini peneliti menggunakan konsep teori Implementasi Program menurut David C. Korten untuk mengukur kesesuaian program Day Care Pusat Studi
Implementasi program pada dasarnya adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh instansi pemerintah maupun swasta dalam mewujudkan tujuan yang sesuai dengan visi dan misi instansi tersebut, dalam hal ini peneliti menggunakan konsep teori Implementasi Program menurut David C. Korten untuk mengukur kesesuaian program Day Care Pusat Studi