BAB IV HASIL PENELITIAN
4.2 Penyajian Data
4.2.1 Analisis Lingkungan Internal
4.2.1.4 Aspek produksi
Kegiatan produksi yang dilakukan adalah budidaya ayam kampung secara intensif dengan prinsip organik melalui pendekatan bioteknologi dengan pemanfaatan mikroorganisme. Keberhasilan budidaya ditentukan oleh standard kandang dengan fasilitas fermentasi yang dimiliki, kualitas kandungan nutrisi pakan hasil fermentasi dan manajemen pemeliharaan yang tepat. Adapun kelemahan yang dimiliki lembaga dan anggota adalah volume
produksi yang masih rendah. perubahan iklim dan wabah penyakit hewan ternak merupakan faktor terbesar yang mengakibatkan pro duksi menurun.
Kegiatan pembudidayaan ayam kampung organik yang dilakukan meliputi:
a. Persiapan Kandang Fermentasi
Hal pertama yang dilakukan dalam proses budidaya adalah dengan mendirikan bangunan kandang dengan luas 6m2. Kandang dibuat setinggi 3m agar sirkulasi udara terjaga. Jenis kandang yang digunakan adalah jenis postal yaitu berlantai tanah.
Penerapan prinsip organik pada proses budidaya dimulai dari pembuatan lantai kandang dengan lapisan bahan -bahan organik yang difermentasi dengan memanfaatkan bakteri positif sebagai mikroorganisme pengurai. Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam membuat lapisan fermentasi lantai kandang yaitu:
1. Fermented juice yang berasal dari potongan buah pepaya, nenas, pisang dan buah-buahan lain yang tidak layak dikomsumsi manusia. 2. Jerami kering.
3. Serbuk gergaji/sekam 4. Sekam padi
5. Arang padi dan arang kayu 6. Bakteri Positif
Pembuatan lapisan fermentasi kandang yang terdiri dari lapisan potongan buah-buahan dan sayuran yang tidak layak konsumsi, disebarkan
secara rata pada seluruh lantai kemudian lapisan tersebut disemprot dengan cairan yang didalamnya terdapat unsur bakteri positif/EM4. Lapisan selanjutnya adalah pemberian arang kayu dan arang padi dengan tujuan menjaga kelembaban kandang, pemberian micro -organisme dilakukan kembali. Lapisan ketiga adalah jerami kering dan serbuk kayu yang berfungsi menahan feses ayam. Seluruh proses fermentasi ditentukan oleh kualitas mikroorganisme.
Hasil dari fermentasi kandang tersebut akan memicu pertumbuhan jamur yang dapat dikonsumsi oleh ternak dan menimbulkan bakteri baik di dalam kandang guna menjaga ekosistem kandang terjaga dari serangan penyakit yang dapat menular pada ayam. Fermentasi kandang ini juga berfungsi menjaga biologi tanah agar tidak tercemar begitu juga dengan udara, sehingga udara tidak berbau kotoran ayam yang berasal dari dalam kandang. Waktu yang dibutuhkan untuk proses fermentasi sekitar 2 minggu sebelum kandang dapat digunakan.
b. Fermentasi Pakan
Pakan yang dibutuhkan oleh ayam dibedakan menjadi 3 bagian yang disesuaikan dengan kebutuhan ayam pada setiap masa pertumbuhan berdasarkan umur. Proses pembuatan pakan yaitu keseluruhan campuran difermentasi memanfaatkan bakteri positif Lactobacillus untuk mendapatkan gizi dan nutrisi pakan yang dibutuhkan oleh ayam. Bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat pakan dengan kualitas organik antara lain:
1. Bungkil kedelai. 2. Bungkil kelapa. 3. Tepung ikan. 4. Tepung tulang. 5. Jagung. 6. Azolla.
7. Buah-buahan dan sayuran tidak layak konsumsi. 8. Dedak/bekatul.
Bibit ayam dengan umur 1-14 hari (brooding) dalam pertumbuhannya membutuhkan nutrisi dengan kandungan protein 25 % dan energi 3.050 kkal/ kg. Pakan tersebut dapat diperoleh dari olahan azolla kering, jagung giling dan bungkil kedelai. Sedangkan pakan untuk ayam berumur 2 -4 minggu (starter) akan diberikan pakan olahan buah-buahan dan sayuran fermentasi dan dicampur dengan jagung giling, bungkil kelapa, tepung tulang dan dedak untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat 3.100kkal/kg, protein dan zat besi. Setelah ayam memasuki umur 4-7 minggu (fase finisher), konsentrasi pemberian pakan sudah stabil dengan kandungan nutrisi 19 % dan energi 3.000 kkal/kg sampai pada proses panen dilaksanakan.
c. Manajemen Pemeliharaan
Sebelum anak ayam/DOC akan dimasukkan dalam kandang fermentasi fase starter, ayam pada fase brooding diberi induk buatan menggunakan panas buatan dari lampu yang telah disediakan dan ditempatkan dalam kandang berbentuk kotak yang bertujuan untuk memberikan kehangatan dan
kenyamanan yang optimal dengan prinsip mengkondisikan anak ayam merasa berada dalam induk alami. Proses ini dilakukan sampai anak ayam berumur 1-2 minggu. Selanjutnya ayam akan dipindahkan ke dalam kandang pembesaran dan indukan buatan masih dilakukan dengan menyesuaikan kondisi cuaca pada saat itu. Manajemen kandang harus dengan prinsip all in all out yaitu pemeliharaan berdasarkan usia sama.
Proses selanjutnya adalah fase starter, setelah anak ayam berumur 2 minggu, ayam dimasukkan dalam kandang pembesaran lengkap dengan fasilitas fermentasi. Ayam akan dipelihara dalam kandang ini sampai ayam berumur 4 minggu. Setelah usia ayam mencapai 4 minggu ayam akan dipindah ke kandang pembesaran lainnya dengan memisahkan antara ayam betina dan ayam jantan, hal ini dilakukan untuk mencegah perlambatan pertumbuhan dan kanibalisme. Fase finisher/ 4-7 minggu ayam sudah memasuki fase pertumbuhan optimal, pada minggu ke-7 ayam memasuki usia panen, diharapkan bobot ayam sudah mencapai 800 -900gr agar ayam siap di panen
Dalam proses budidaya, perlu dilaksanakan manajemen pemeliharaan yaitu dengan memperhatikan proses pertumbuhan setiap harinya dengan mencatat (recording) setiap kegiatan yang dilaksanakan dan kondisi aktual peliharaan. Hal ini dapat membantu dalam menentukan standar produksi yang sesuai dengan prnsip peternakan organik. Standar produksi itu sendiri mengacu pada pertambahan bobot badan, konsumsi pakan, konversi pakan (Feed Convention Ratio/FCR), dan deplesi (mortalitas dengan apkir).
Penetapan standar produksi didasari oleh perlakuan terhadap ayam dengan pertimbangan beberapa aspek, diantaranya:
1) Bobot Badan dan Keseragaman
Bobot badan merupakan berat ternak pada waktu tertentu. Bobot ayam dapat diketahui melalui penimbangan sampel (5 -10%), rata-rata bobot ayam akan menentukan keseragaman bobot secara menyeluruh,semakin tinggi keseragaman bobot ayam mengindikasikan kesehatan dan keberhasilan pemeliharaan.
2) Konsumsi pakan dan Feed Covertion Ratio (FCR)
Konsumsi pakan setiap ekor ayam per hari dihitung untuk mengetahui total jumlah pakan yang dibutuhkan selama proses budidaya. Perhitungan ini tentu mengarah pada pengalokasian dana untuk memenuhi kebutuhan pakan setiap periodenya. Sedangkan FCR menunjukkan efisiensi pakan yang dikonversi menjadi bobot badan. Semakin rendah nilai FCR semakin baik.
3) Deplesi
Merupakan gabungan dari mortalitas (kematian) dan ayam yang apkir saat pemeliharaan. Faktor ini menentukan banyaknya ayam saat panen. Semakin rendah deplesi, semakin besar keuntungan yang akan diperoleh peternak.