• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V TEMUAN DAN INTERPRETASI DATA

5.2 Coping Strategi

5.2.1 Asset Tenaga Kerja ( Labour Asset )

Dalam memenuhi kebutuhan hidup perekonomian keluarga, tidak hanya kepala keluarga yang dituntut untuk bekerja, namun istri dan anak juga ikut membantu perekonomian keluarga agar segala kebutuhan hidup dapat terpenuhi yaitu dengan istri yang ikut bekerja dalam proses produksi batu bata, ataupun anak yang bekerja di luar kota serta anak yang bekerja di desa dengan bekerja sebagai pengrajin batu bata.

5.2.1.1 Istri yang Ikut Membantu Bekerja

Salah satu pengolaan asset tenaga kerja ( labour asset ) pengrajin batu bata yaitu dengan istri yang juga ikut bekerja sebagai pengrajin batu bata. Tujuannya adalah untuk menambah atau meningkatkan pendapatan keluarga. Hal ini merupakan salah satu cara strategi bertahan hidup yang mereka lakukan. Dalam proses produksi batu bata, pekerjaan yang biasa dilakukan adalah sebagai pencetak batu bata yang pada umumnya dikerjakan para kaum wanita.

Berikut adalah salah satu penuturan informan yang istrinya juga ikut berpartisipasi dalan pengatur perekonomian kelurga

“ Cuma istri aja yang ikut partisipasi, yaitu nyeta batu. Kadang kalau ada tetangga nyarik tukang cetak ya ikut kerja juga sama tetangga, tapi kalau anak si gak ikut bantu karena masi sekolah”. (Bapak Wagiman ).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Wagiman, bahwa istri Bapak Wagiman juga mencari nafkah dengan bekerja sebagai pencetak batu bata. Dari upah yang diterima dari hasil bekerja istrinya tersebut dapat sedikit membantu perekonomian keluarga, seperti untuk biaya uang sekolah anak ataupun untuk membayar rekening listrik.

Sama halnya dengan penuturan informan berikut ini.

“ Kalok istri ikut kerja, biasanya ikut nyeta atau nyiger batu, tapi kalok anak gak lah, karena masi kecil – kecil. Yang paling besar aja baru kelas 1 SD. ( Bapak Marjuki )

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Marjuki, bahwa selain Bapak marjuki bekerja dalam proses produksi batu bata, istri Bapak marjuki juga bekerja sebagai pencetak batu bata. Hal ini disebabkan jika semua bergantung pada pendapatan atau upah Bapak Marjuki tidak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok, sehingga dengan istri yang juga ikut bekerja dapat menambah pendapatan keluarga mereka.

“ kalau wak wedok ( uwak perempuan ) terkadang ikut kerja juga nyetak batu bata. jadi entar kalau ada orang yang nyuruh ya ikut kerja. Kan lumayan buat belanja cabe, daripada gak kerja di rumah nganggur”. ( Bapak Lambang .

Berdasarkan keterangan informan di atas dapat digambarkan, selain kapala keluarga yang bekerja untuk mencari nafkah, istri mereka juga ikut perpartisipasi dalam pemenuhan perekonomian keluarga. Ini merupakan salah satu strategi bertahan hidup pengrajin batu bata dengan pemanfaatan atau pengolahan asset tenaga kerja ( labour asset ). Dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian dari kemiskina yang dialami pengrajin batu bata.

5.2.1.2 Anak yang Bekerja Sebagai Pengrajin Batu Bata.

Berdasarkan hasil wawancara informan dilapangan, strategi bertahan hidup pengrajin batu salah satu diantaranya yaitu dengan anak yang juga ikut berpartisipasi dalam pemenuhan perekonomian keluarga dengan cara bekerja di desa menjadi pengrajin batu bata. Bagi anak yang bekerja di dalam desa ini merupakan anak yang sudah tidak melanjutkan sekolah, sehingga mereka memilih untuk bekerja sebagai pengrajin batu bata. dari hasil kerja yang diperoleh, mereka akan menyisihkan sedikit upah mereka untuk diberikan kepada orang tua. Dengan sedikit upah yang diberikan dapat digunakan untuk membeli kebutuhan pokok keluarga. Misanya untuk membeli beras dan sebagainya.

Seperti yang disampaikan oleh Ibu Tukini yang anaknya juga bekerja sebagai pengrajin batu bata.

“ Anak – anak sedikit – sedikit bantu lah, tapi bantunya ya gak bisa ditentukan. Lha,,,paling kalau dapet hasil banyak baru mamaknya dikasi, kadang kalu gak dapet ya gak dikasi”. ( Ibu Tukini ).

Dari hasil wawancara dengan Ibu Tukini, bahwa anak laki – laki Ibu Tukini juga ikut berpartisipasi dalam perekonomian keluarga dengan bekerja sebagai pengrajin batu bata. Meskipun terkadang uang yang diberi tidak setiap saat dan tidak menentu jumlahnya, akan tetapi pemberian tersebut dapat sedikit membantu untuk pemenuhan kebutuhan pokok ataupun untuk menambahi uang sekolah adiknya.

Sama halnya dengan penuturan informan berikut.

“ ya kalau abang nanti uangnya dikasi mamak lah sedikit, ya buat bantu – bantu karna kasiankan orang tua abang uda tua dan gak bisa lagi kerja, ya udala jadi abang yang kerja”. ( Abang Ipan ) Berdasarkan hasil wawancara dengan Abang Ipan, bahwa dengan bekerja sebagai pengrajin batu bata, Abang Ipan dapat sedikit membantu orang tuanya, meskipun uang yang diberi tidak begitu besar.

Begitu juga dengan pernyataan informan berikut.

“ Abang kerjanya ya buat batu la, karena uda gak ada kerjaan lain. Orang mamak abang juga kerja buat batu. Abang kerjaya kadang nyiger, trus nyusunatau langsir batu di tempat bakaran, ya gitu lah kerjanya. Entar kalau ada rejeki sedikit kasi mamaklah walaupun gak banyak, ya bantu – bantulah buat beli beras. ( Abang Indra )

Berdasarkan pernyataan beberapa informan di atas, dapat digambarkan bahwa anak mereka yang bekerja sebagai pengrajin batu bata juga membantu kondisi orang tua mereka yakni dengan memberikan sedikit menyisihkan upah kepada orang tua mereka. Meskipun penghasilan yang mereka beri tidak cukup besar namun dapat sedikit membantu perekonomian keluarga

5.2.1.3 Anak Yang Bekerja di Luar Kota

Berdasarkan beberapa pernyataan di atas, selain anak dan istri yang bekerja sebagai pengrajin batu bata, salah satu diantara pengadaan asset tenaga kerja ( asset labour) yakni dengan anak yang bekerja di luar daerah. Maksud dari luar daerah dalam penelitian ini

sebagai pembantu rumah tangga.

Seperti penuturan Ibu Sumarni berikut ini yang anaknya bekerja di luar daerah. “ kadang anak ibu yang kerja di Medan bantu ngasih uang kiriman, tapi gak tiap bulan, gak nentu juga, kadang 3 bulan sekali. Ngirimnya tiga ratus ribu sampe empat ratus ribu. Ya dari uang itu lah lumayan buat tambahan uang makan ma berobat”. ( Ibu Sumarni ).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Sumarni, Ibu Sumarni merupakan seorang janda dan untuk memenuhi segala keperluan dan kebutuhan hidup harus bekerja sendiri. Dengan sedikit bantuan anak Ibu Sumarni yang bekerja di Kota Medan, beberapa bulan sekali anak Ibu Sumarni mengirimkan uang sebesar Rp. 300.000 – Rp.400.000. Dari uang tersebut dapat sedikit membantu kebutuhan pokok dan untuk berobat Ibu Sumarni, meskipun uang yang diberi tidak setiap bulan dan tidak menentu jumlahnya.

Sama halnya dengan pernyataan informan berikut ini.

“ Ya gak tiap bulan ci ngirim uang, tapi beberapa bulan sekali ja, paling kalau ngirim tergantung lah, kadang dua ratus sampe tiga ratus ribu. Ya itulah uangnya buat tambahan makan”.( Ibu Warsih ) Dari hasil wawancara dengan Ibu Warsih, tidak setiap bulan anaknya yang bekerja di luar kota ( Medan ) mengirim uang dan setiap pengiriman jumlahnya tidak dapat ditentukan. Dari uang kiriman tersebut dapat sedikit membantu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari keluarga Ibu Warsih.

Berdasarkan beberapa keterangan informan di atas dapat dijelaskan bahwa meskipun anak mereka bekerja di luar kota ( Medan ) namun mereka juga dapat membantu perekonomian keluarga mereka di desa, yaitu dengan cara setiap beberapa bulan sekali mengirimkan uang kepada keluarga mereka yang ada di desa. Meskipun uang yang diberikan tidak menetu jumlahnya namun sangat membantu orang tua mereka dalam pemenuhan kebutuhan sehari – hari.

Dokumen terkait