• Tidak ada hasil yang ditemukan

J

IKA tidak ada aral melintang, Muktamar ke-47 Muhammadiyah akan dibuka Presiden RI Joko Widodo pada 3 Agustus 2015 di Lapangan Karebosi, Makassar. Selanjutnya, acara penutupan pada 7 Agustus 2015 akan dihadiri Wakil Presiden M Jusuf Kalla di Kampus Unismuh Makassar.

Diperkirakan akan ada sekitar 200 ribu penggembira datang dari berbagai pelosok Nusantara yang akan meramaikan hajatan Muktamar Muhammadiyah ini. Selain itu, terdapat sekitar 6 ribu orang berstatus peserta yang nantinya akan aktif menghadiri setiap sidang, baik di komisi maupun di paripurna.

Mereka yang berstatus peserta itu, tentu merupakan manusia pilihan yang diamanahi membawa misi, pemikiran berupa konsep, ide dan gagasan dan aneka problematika Muhammadiyah beserta tawaran solusinya. Hal ini demi memajukan persyarikatan Muhammadiyah pada masa depan.

Jika membayangkan jumlah sekitar 200 ribu lebih manusia dari luar Makassar yang akan terfokus beraktivitas di lokasi Muktamar, maka sungguh luar bisa dampak yang bisa ditimbulkan. Dampak itu, bisa positif, tetapi tidak mustahil juga bisa negatif.

Antara keduanya, akan sangat tergantung bagaimana mengelolanya secara massif, terstruktur dan sistematis dengan cara efektif dan efisien,

terkoordinasi dengan dukungan semua elemen masyarakat. Dalam pada itu, maka faktor kepemimpinan dan manajerial Wali Kota Makassar dan Ketua Panitia Muktamar menjadi penting.

5 Aspek

Selama Muktamar berlangsung, dipastikan akan memunculkan lima aspek penting yang terkait secara langsung dengan keberadaan para muktamirin. Kelima aspek terpenting itu adalah pertama, faktor keamanan yang meliputi keamanan lalu lintas, harta benda dari incaran para pencopet dan penjambret yang dikenal dengan curas (pencurian dengan cara kekerasan-perampasan) yang akhir-akhir ini ramai terjadi pada siang bolong. Bahkan di tengah keramaian sekalipun.

Jumlah para pencopet dan penjambret tersebut, makin marak dan tersebar di berbagai tempat. Seolah kapasitas dan antisipasi aparat keamanan sudah tidak memadai dan tidak efektif. Ulah dan tingkah mereka semakin menjadi-jadi. Karenanya, harus ada antisipasi yang serius dan khusus dari aparat keamanan untuk mengamankan keberadaan dan aktifitas segenap muktamirin.

Kedua, faktor kebersihan. Dengan keberadaan 200 ribu lebih manusia baru yang hadir di Makassar yang sangat boleh jadi belum tahu sama sekali Program MTR (Makassar tidak Rantasa) dan LISA (Lihat Sampah Ambil) tentu sangat rentan menebar sampah jika tidak diantisipasi sedini dan seefektif mungkin.

Bayangkanlah jumlah 200 ribu dengan sampahnya masing-masing. Jika tidak diantisipasi secara benar dan tepat, dipastikan selama Muktamar berlangsung, Makassar akan jadi kota sampah. Di sinilah peranan panitia Muktamar berkoordinasi dengan pihak Pemkot Makassar menjadi urgen (penting dan mendesak).

Muktamirin tentu orang yang faham agama dan mengetahui per- ingatan hadits bahwa: “Kebersihan adalah bagian dari Iman. Namun pengetahuan mereka itu belum tentu disertai dengan kesadaran. Karena misalnya, ketersediaan tempat pembuangan sampah dan informasi tentang

MTR dan LISA tidak disosialisasikan serta secara kilat kepada segenap muktamirin, baik sebelum tiba di Makassar maupun setelah berdomisili di Makassar.

Namun demikian, jika panitia Muktamar dan Pemkot Makassar berhasil menciptakan lingkungan yang bersih selama Muktamar berlangsung, maka itu akan menjadi preseden baik bagi Sulsel di mata masyarakat nasional. Sudah tentu, kesan positif tentang MTR di mata Muktamirin menjadi promosi efektif di kancah nasional. Jadi ini menjadi pertaruhan MTR di mata nasional.

Ketiga, faktor kenyamanan. Penunjang utama kenyamanan adalah keamanan dan kebersihan. Jika hal itu sudah terdapat, maka pintu kenyamanan akan terbuka bagi masyarakat. Tetapi itu belum cukup. Karena masih harus ditunjang fasilitas umum seperti ketersediaan air bersih, listrik yang tidak padam, akses informasi yang tersedia dan lancar, sarana transformasi feasible dan aksesibel, petugas pelayanan publik yang ramah dan profesional, serta penerimaan masyarakat yang terbuka dan bersahabat.

Salah satu modal penting Kota Makassar yang bisa membuat muktamirin merasa nyaman adalah mewujudkan sikap dan sifat warga Makassar yang sombere. Sombere menurut Wali Kota Makassar Muh. Ramdhan (Dany) Pomanto adalah sebuah sikap perilaku yang memuat nilai-nilai hospitality (keramahan), humble (rendah hati/tidak sombong), dan brotherhod (persaudaraan).

Jika boleh saya tambah, maka sombere memuat dua nilai lagi yaitu

share and care (peduli dan senang berbagi). Jika sikap dan perilaku sombere

ini kita tunjukkan sebagai warga Makassar ke segenap muktamirin, maka saya optimistis mereka akan jatuh cinta pada Makassar.

Karenanya, kampanye dan sosialisasi sikap dan perilaku som bere harus kencang, masif dan tidak boleh terhenti, hingga membudaya dan menjadi

local wisdom identity. Ke empat, media informasi. Tidak bisa disangkal bahwa sebuah perhelatan nasional semacam Muktamar Muhammadiyah di sebuah kota yang berstandar internasional tanpa dukungan komunikasi

dan informasi dari media dengan segala variannya adalah laksana ke- ramaian atau keriuhan yang diteriakkan oleh katak dalam tempurung.

Karenanya, informasi dari Muktamar untuk Muktamar haruslah gencar secara masif menyentuh semua aspek lini pemangku kepentingan. Muktamirin harus dimudahkan mengakses informasi terkait hal ihwal Muktamar dan Kota Makassar.

Apa yang sedang dan akan terjadi di forum Muktamar dan apa saja yang terdapat di Kota Makassar, seperti kuliner khas, wisata kota, dan suvenir atau cindera mata yang merupakan produk khas dan istimewa Makassar dan Sulsel. Di mana mencarinya dan bagaimana mendapatkannya secara aman dan nyaman, tanpa merasa dirugikan (kasarnya, tertipu).

Peta situasi dan tata cara akses hal ihwal khazanah Kota Makassar penting tersedia setiap saat dan di mana saja. Informasi dan komunikasi menjadi tulang punggung jembatan kepentingan para pihak. Karenanya, segenap pekerja media dan penggiat informasi baik yang konvensional (cetak elektronik) maupun yang mainstream (sosial media) penting menyatukan potensi dan kepentingan dan rela mengalah dan menunda kepentingan yang kontraproduktif lainnya, demi suksesnya Makassar sebagai tuan rumah yang baik bagi muktamirin.

Kelima, proses dan hasil Muktamar. Sebuah Muktamar haruslah menghasilkan setidaknya dua hal penting yaitu: siapa pemimpin baru yang terpilih dan apa program yang dihasilkan/disepakati. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana proses menghasilkan kedua hal penting itu.

Kedewasaan/kematangan dan kecemerlangan serta kearifan sebagai peserta Muktamar, menjadi prasyarat dasar lahirnya keputusan yang tepat dan benar. Betapa tidak, karena keputusan Muktamar akan sangat ikut memengaruhi atau bahkan menentukan nasib umat Islam Indonesia ke depan, setidaknya, bagi segenap warga perserikatan Muhammadiyah yang konon kini mencapai 134 juta anggota. Wallahua’lam bishawwabe. (*)