• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Analisis Linier Berganda

Dalam dokumen ADDINI HIDAYATI HASIBUAN (Halaman 56-0)

BAB III METODE PENELITIAN

3.7. Metode Analisis Data

3.7.3. Uji Analisis Linier Berganda

Analisis regresi berganda dipilih untuk digunakan pada penelitian ini untuk menentukan hubungan linear antar beberapa variabel bebas yang dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan, laba rugi perusahaan, opini audit dan solvabilitas, dengan Audit Delay sebagai variabel terikatnya. Persamaan analisis linier berganda dirumuskan sebagai berikut :

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + e Keterangan:

Y = Audit Delay

a = konstanta

β 1 = koefisien variabel Ukuran Perusahaan β 2 = koefisien variabel Laba Rugi Perusahaan β 3 = koefisien variabel Opini Audit

β 4 = koefisien variabel Solvabilitas X1 = Ukuran Perusahaan

X2 = Laba Rugi Perusahaan X3 = Opini Audit

X4 = Solvabilitas e = Standar error 3.7.4. Uji Hipotesis

3.7.4.1. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Menurut Ghozali (2016 : 95), “Koefisien Determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen”. Dimana R2 adalah kemampuan masing – masing variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen.

Nilai R2 koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2sama dengan nol menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Bila R2semakin mendekati 1 menunjukkan semakin kuat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dan bila R2 semakin kecil mendekati 0 menunjukkan semakin kecil pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.

3.7.4.2. Uji Signifikan Parsial (Uji-t)

Uji statikstik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Uji parsial digunakan untuk mengetahui pengaruh masing – masing variabel bebas yaitu ukuran perusahaan, laba rugi perusahaan, opini audit dan solvabilitas seberapa pengaruhnya terhadap variabel terikat yaitu Audit Delay.

Variabel independen dikatakan memiliki pengaruh terhadap variabel dependen apabila variabel tersebut memiliki nilai signifikan (sig) dibawah 0,05.

3.7.4.3. Uji Signifikan Simultan (Uji-F)

Uji F digunakan untuk menguji apakah semua variabel independen yaitu ukuran perusahaan, laba rugi perusahaan, opini audit dan solvabilitas yang di masukkan dalam model ini mempunyai pengaruh secara simultan atau bersama - sama terhadap variabel dependen yaitu Audit Delay. Variabel – variabel tersebut dikatakan mempunyai pengaruh secara simultan dan signifikan terhadap variabel independen apabila memiliki nilai signifikan (sig) dibawah 0,05.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.5. Deskriptif Penelitian

Analisis dimulai dengan mengolah data dengan menggunakan Microsoft Excel 2007, selanjutnya dilakukan analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, regresi linear berganda dan pengujian hipotesis dengan menggunakan software SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 21. Objek penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2017. Hasil pengolahan data berupa informasi melihat dan menganalisa hubungan dan pengaruh antara ukuran perusahaan, laba rugi perusahaan, opini audit dan solvabilitas terhadap Audit delay.

Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan untuk pengambilan sampel, maka diperoleh 40 perusahaan perbankan yang memenuhi kriteria sampel dengan periode pengamatan selama 2 tahun. Sehingga data yang digunakan dalam proses analisis berjumlah 80 amatan.

1.6. Hasil Penelitian

4.2.1. Analisis Statistik Deskriptif

Pengujian statistik deskriptif adalah pengujian yang pertama sekali dilakukan dalam penelitian ini. Pengujian statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran umum data dari masing – masing variabel.

Variabel dalam penelitian ini adalah Ukuran Perusahaan (X1), Laba Rugi Perusahaan (X2), Opini Audit (X3), dan Solvabilitas (X4) yang di proksikan ke

dalam Debt to Assets Ratio ( DAR). Hasil pengujian statistik deskriptif dapat dilihat dari tabel berikut ini :

Tabel 4.1 Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

AuditDelayY 80 7 143 57.41 25.088

UkuranPerusahaanX1 80 28.35 34.66 31.0720 1.80916

LabaRugiPerusahaanX2 80 0 1 .86 .347

OpiniAuditX3 80 0 1 .65 .480

SolvabilitasX4 80 .08 .94 .8136 .12524

Valid N (listwise) 80

Sumber : Ouput SPSS, data diolah oleh penulis, 2018

Berdasarkan hasil pengujian statistik deskriptif yang tersaji dari tabel 4.1 dapat dijelaskan :

1. Analisis statistik deskriptif pada tabel 4.1 menunjukkan jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 80 observasi, lamanya audit yang terjadi pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia rata – rata adalah 57 hari, dengan standar deviasi dari Audit delay adalah 25.0880. Audit delay yang terjadi dengan nilai terendah sebesar 7, sedangkan nilai tertinggi sebesar 143.

2. Analisis statistik deskriptif pada tabel 4.1 menunjukkan besarnya nilai ukuran perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia memiliki rata-rata sebesar 31.0720, dan nilai minimum sebesar 28,35 sedangkan nilai maksimum sebesar 34.66.

Tabel 4.2

Statistik Deskriptif Laba Rugi Perusahaan

LabaRugiPerusahaanX2

Sumber : Ouput SPSS, data diolah oleh penulis, 2018

3. Analisis statistik deskriptif pada tabel 4.2 menunjukkan 13,8% perusahaan mengalami kerugian, sedangkan 86,3% Perusahaan mendapatkan laba.

Tabel 4.3

Statistik Deskriptif Opini Audit

OpiniAuditX3

Frequency Percent

Valid

Selain WTP 28 35.0

WTP 52 65.0

Total 80 100.0

Sumber : Ouput SPSS, data diolah oleh penulis, 2018

4. Analisis statistik deskriptif pada tabel 4.3 menunjukkan 35% perusahaan mendapatkan opini selain wajar tanpa pengecualian, sedangkan 65%

mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian.

5. Analisis statistik deskriptif pada tabel 4.1 menunjukkan variabel Solvabilitas yang diukur dengan menyatakan perbandingan antara total utang dengan total asset menunjukkan nilai minimum sebesar 7.58%, sedangkan nilai maksimum sebesar 93.65%

4.2.2. Uji Asumsi Klasik

Adapun uji asumsi klasik yang dilakukan meliputi : Uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi.

4.2.2.1. Uji Normalitas

Menurut Ghozali (2016 : 154), “Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal”. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang digunakan memiliki distribusi normal atau mendekati normal dengan menggunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov. Apabila nilai signifikansinya

lebih besar dari 0,05 maka data yang ada terdistribusi normal, sebaliknya apabila data yang ada lebih kecil dari 0,05 maka data yang ada tidak terdistribusi normal.

Tabel 4.4

Hasil Normalitas Kolmogrov-Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 80

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation 22.03753373 Most Extreme Differences

Absolute .085

Positive .069

Negative -.085

Kolmogorov-Smirnov Z .762

Asymp. Sig. (2-tailed) .608

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Sumber : Ouput SPSS, data diolah oleh penulis, 2018

Model regresi dikatakan normal apabila nilai signifikansi di atas 0,05.

Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa nilai signifikansi sebesar 0,608. Nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Ini menunjukkan bahwa data yang ada berdistribusi normal. Maka dapat disimpulkan bahwa data yang ada terdistribusi normal dan memenuhi asumsi normalitas dan dapat di gunakan untuk pengujian berikutnya.

4.2.2.2. Uji Multikolinearitas

Menurut Ghozali (2016 : 103), “Uji Multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regesi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen)”. Variabel bebas yaitu Ukuran Perusahaan (X1), Laba Rugi Perusahaan (X2), Opini Audit (X3), dan Solvabilitas (X4). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen atau tidak adanya gejala korelasi yang kuat antara variabel bebasnya. Pada uji

multikolinearitas ini dapat dilihat melalui nilai inflation factor (VIF) dan Tolerance.

Tabel 4.5

Hasil Uji Multikolineritas

Coefficientsa

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1

(Constant)

UkuranPerusahaanX1 .926 1.080 LabaRugiPerusahaanX2 .935 1.069

OpiniAuditX3 .949 1.054

SolvabilitasX4 .942 1.062

a. Dependent Variabel: AuditDelayY

Sumber : Ouput SPSS, data diolah oleh penulis, 2018

Model regresi dikatakan mengalami multikolinearitas apabila nilai VIF nya >10 dan nilai tolerance < 0,1, sebaliknya jika nilai Tolerance Value > 0,1 atau VIF < 10 maka tidak terjadi multikolinearitas. Tabel 4.5 menunjukkan bahwa tidak satupun variabel independen yang memiliki nilai tolerance yang kurang dari 0.1 dan VIF yang lebih dari 10. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolineritas antar variabel independen dalam model regresi.

4.2.2.3. Uji Heterokedastisitas

Menurut Ghozali (2016 : 134), “Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain”. Jika variance residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskesdatisitas dan jika berbeda disebut heteroskesdatisitas. Model regresi yang baik adalah homoskesdatisitas atau tidak terjadi heteroskesdatisitas.

Tabel 4.6 LabaRugiPerusahaanX2 4.059 4.729 .099 .858 .393

OpiniAuditX3 .987 3.391 .034 .291 .772

SolvabilitasX4 14.771 13.042 .131 1.133 .261

a. Dependent Variabel: abs_res

Sumber : Ouput SPSS, data diolah oleh penulis, 2018

Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat nilai signifikansi masing-masing variabel, dimana nilai signifikansi ukuran perusahaan (X1) adalah 0,087, nilai signifikansi laba rugi perusahaan (X2) adalah 0,393, nilai signifikansi opini audit (X3) adalah 0,772, dan nilai signifikansi solvabilitas (X4) adalah 0,261. Hasil uji heterokedastisitas dengan uji glejser menunjukkan bahwa semua variabel memiliki nilai signifikansi >0,05 yang berarti bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada variabel bebas.

4.2.2.4. Uji Autokorelasi

Menurut Ghozali (2016 : 107), “Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan penggangu pada periode t-1”. Model regresi yang baik adalah regresi yang tidak terdeteksi adanya autokorelasi. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi, dapat dilakukan dengan melihat nilai Durbin-Watson.

Tabel 4.7 Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson

1 .478a .228 .187 22.618 2.128

a. Predictors: (Constant), SolvabilitasX4, LabaRugiPerusahaanX2, OpiniAuditX3, UkuranPerusahaanX1 b. Dependent Variabel: AuditDelayY

Sumber : Ouput SPSS, data diolah oleh penulis, 2018

Berdasarkan pengujian Durbin-Watson pada tabel 4.7 diperoleh nilai DW sebesar 2,128. Dengan sig. 5%, jumlah sampel 80 (n), dan variabel independen 4 (k=4), maka didapatkan nilai tabel Durbin Watson batas atas (du) sebesar 1,7430.

Dari hasil di atas, maka dapat dilihat bahwa du < DW < 4 - du (1,7430< 2,128

<2,257). Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi dalam model regresi.

4.2.3. Uji Analisis Linear Berganda

Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen yaitu Ukuran Perusahaan (X1), Laba Rugi Perusahaan (X2), Opini Audit (X3), dan Solvabilitas (X4) dengan variabel dependen yaitu audit delay (Y).

Tabel 4.8

Hasil Uji Analisis Linier Berganda

Coefficientsa

UkuranPerusahaanX1 -6.809 1.462 -.491 -4.658 .000

LabaRugiPerusahaanX2 4.187 7.593 .058 .551 .583

OpiniAuditX3 -6.347 5.443 -.121 -1.166 .247

SolvabilitasX4 16.180 20.939 .081 .773 .442

a. Dependent Variabel: AuditDelayY

Sumber : Ouput SPSS, data diolah oleh penulis, 2018

Berdasarkan tabel 4.8, maka model regresi yang digunakan adalah : Y = 256,317 - 6,809 1+ 4,187 2- 6,347 3+ 16,180 4

Dari persamaan regresi tersebut, maka dapat diambil kesimpulkan yaitu :

1. Nilai Konstanta sebesar 256,317 menunjukkan bahwa, jika tidak ada variebel independen, yaitu ukuran perusahaan , laba rugi perusahaan, opini audit dan solvabilitas, maka nilai Audit delay adalah 256,317.

2. Koefisien regresi ukuran perusahaan memiliki hubungan negatif sebesar -6,809 terhadap Audit delay, dengan asumsi apabila variabel ukuran perusahaan naik 1%, maka akan menyebabkan penurunan pada Audit delay sebanyak 6,809, dan sebaliknya apabila ukuran perusahaan turun 1%, maka akan menyebabkan peningkatan pada Audit delay sebanyak 6,809.

3. Koefisien regresi laba rugi perusahaan memiliki hubungan positif sebesar 4,187 terhadap Audit delay, dengan asumsi apabila variabel laba rugi perusahaan naik 1%, maka akan menyebabkan peningkatan Audit delay sebanyak 4,187, dan sebaliknya apabila laba rugi perusahaan turun 1%, maka akan menyebabkan penurunan pada Audit delay sebanyak 4,187

4. Koefisien regresi opini audit memiliki hubungan negatif sebesar -6,347 terhadap Audit delay, dengan asumsi apabila variabel opini audit naik 1%, maka akan menyebabkan penurunan pada Audit delay sebanyak -6,347, dan sebaliknya apabila opini audit turun 1%, maka akan menyebabkan peningkatan pada Audit delay sebanyak -6,347

5. Koefisien regresi solvabilitas memiliki hubungan hubungan positif sebesar 16,180 terhadap Audit delay, dengan asumsi apabila variabel solvabilitas perusahaan naik 1%, maka akan menyebabkan peningkatan Audit delay sebanyak 16,180, dan sebaliknya apabila solvabilitas turun 1%, maka akan menyebabkan penurunan pada Audit delay sebanyak 16,180.

4.2.4. Uji Hipotesis

4.2.4.1. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Menurut Ghozali (2016 : 95), “Koefisien Determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen”. Dimana R2 adalah kemampuan masing – masing variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Variabel independen yang diukur yaitu Ukuran Perusahaan (X1), Laba Rugi Perusahaan (X2), Opini Audit (X3), dan Solvabilitas (X4) dalam menjelaskan variabel dependen yaitu audit delay (Y).

Nilai koefisien determinasi adalah antara satu dan nol. Nilai koefisien determinasi yang mendekati satu berarti bahwa variabel – variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.

Tabel 4.9

Hasil Uji Koefisien Determinasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

1 .478a .228 .187 22.618

a. Predictors: (Constant), SolvabilitasX4, LabaRugiPerusahaanX2, OpiniAuditX3, UkuranPerusahaanX1

b. Dependent Variabel: AuditDelayY

Sumber : Ouput SPSS, data diolah oleh penulis, 2018

Berdasarkan tabel 4.9 dapat dilihat hasil dari analisis regresi keseluruhan.

Nilai Adjusted R Square adalah sebesar 0,187 atau 18,7%, angka ini mengidentifikasikan bahwa Audit delay (Y) dapat dijelaskan oleh keempat variabel independen yaitu ukuran perusahaan (X1), laba rugi perusahaan (X2), opini audit (X3) dan solvabilitas (X4) sebesar 18,7%, sedangkan sisanya yaitu 81,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti oleh penelitian ini.

4.2.4.2. Uji Signifikan Parsial (Uji-t)

Uji parsial digunakan untuk melihat pengaruh variabel dependen terhadap independen secara individu atau sendiri-sendiri . Untuk menguji pengaruh parsial tersebut dapat dilakukan dengan cara berdasarkan nilai signifikansi. Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05 atau 5% maka hipotesis yang diajukan diterima atau dikatakan signifikan namun apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0.05 atau 5% maka hipotesis ditolak atau dikatakan tidak

UkuranPerusahaanX1 -6.809 1.462 -.491 -4.658 .000 LabaRugiPerusahaanX2 4.187 7.593 .058 .551 .583

OpiniAuditX3 -6.347 5.443 -.121 -1.166 .247

SolvabilitasX4 16.180 20.939 .081 .773 .442

a. Dependent Variabel: AuditDelayY

Sumber : Ouput SPSS, data diolah oleh penulis, 2018

Berdasarkan hasil uji parsial yang tersaji dari tabel 4.10 dapat dijelaskan bahwa :

1. Hasil Uji Secara Parsial Ukuran Perusahaan (X1) terhadap Audit delay (Y) Nilai signifikansi Ukuran Perusahaan sebesar 0.000 lebih kecil dari 0.05 dan nilai thitung untuk variabel ukuran perusahaan adalah -4,658 dan ttabel untuk df=n-k (80-5=75) dan α=5% didf=n-ketahui sebesar 1,99210 madf=n-ka thitung > ttabel (4,568 >

1,99210) yang berarti terdapat pengaruh negatif dan signifikan variabel Ukuran Perusahaan terhadap Audit delay.

2. Hasil Uji Secara Parsial Laba Rugi Perusahaan (X2) terhadap Audit delay (Y)

Nilai signifikansi laba rugi perusahaan sebesar 0.583 lebih besar dari 0.05 dan nilai thitung untuk variabel laba rugi perusahaan adalah 0,551 dan ttabel untuk df=n-k (80-5=75) dan α=5% diketahui sebesar 1,99210 maka thitung < ttabel

(0,551 < 1,99210) yang berarti variabel laba rugi perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit delay.

3. Hasil Uji Secara Parsial Opini Audit (X3) terhadap Audit delay (Y)

Nilai signifikansi Opini Audit sebesar 0.247 lebih besar dari 0.05 dan nilai thitung untuk variabel Opini Audit adalah -1,166 dan ttabel untuk df=n-k (80-5=75) dan α=5% diketahui sebesar 1,99210 maka thitung < ttabel (1,166

<1,99210) yang berarti variabel Opini Audit tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit delay.

4. Hasil Uji Secara Parsial Solvabilitas (X4) terhadap Audit delay (Y)

Nilai signifikansi solvabilitas sebesar 0.448 lebih besar dari 0.05 dan nilai thitung

untuk variabel solvabilitas adalah 0,773 dan ttabel untuk df=n-k (80-5=75) dan α=5% diketahui sebesar 1,99210 maka thitung < ttabel (0,773 <1,99210) yang berarti variabel solvabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit delay.

4.2.4.3. Uji Signifikan Simultan (Uji-F)

Uji F digunakan untuk menguji apakah semua variabel independen yaitu Ukuran Perusahaan (X1), Laba Rugi Perusahaan (X2), Opini Audit (X3), dan Solvabilitas (X4) mempunyai pengaruh secara simultan atau bersama - sama terhadap variabel dependen yaitu audit delay (Y). Variabel – variabel tersebut dikatakan mempunyai pengaruh secara simultan dan signifikan terhadap variabel independen apabila memiliki nilai signifikan (sig) dibawah 0,05.

Tabel 4.11

Hasil Uji Signifikan Simultan

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 11356.809 4 2839.202 5.550 .001b

Residual 38366.579 75 511.554

Total 49723.388 79

a. Dependent Variabel: AuditDelayY

b. Predictors: (Constant), SolvabilitasX4, LabaRugiPerusahaanX2, OpiniAuditX3, UkuranPerusahaanX1

Sumber : Ouput SPSS, data diolah oleh penulis, 2018

Berdasarkan tabel 4.11 dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen mempunyai pengaruh secara simultan atau bersama - sama terhadap variabel dependen.Hal ini dibuktikan dengan nilai F sebesar 5,550, dengan signifikansi sebesar 0,001.

4.3. Pembahasan Hasil Penelitian

4.3.1. Pengaruh Ukuran Perusahaan (X1) Terhadap Audit delay (Y)

Koefisien regresi ukuran perusahaan memiliki hubungan negatif sebesar -6,809 terhadap Audit delay, dengan asumsi apabila variabel ukuran perusahaan naik 1%, maka akan menyebabkan penurunan pada Audit delay sebanyak 6,809, dan sebaliknya apabila ukuran perusahaan turun 1%, maka akan menyebabkan peningkatan pada Audit delay sebanyak 6,809. Berdasarkan hasil uji t, Koefisien variabel Ukuran Perusahaan adalah sebesar -4.658 dan nilai signifikansi sebesar 0.000 lebih kecil dari 0.05 yang berarti terdapat pengaruh negatif dan signifikan variabel Ukuran Perusahaan terhadap Audit delay. Kekayaan yang dimiliki perusahaan mempunyai pengaruh negatif terhadap Audit delay, dimana pengaruh ini ditunjukkan dengan semakin besar nilai aset suatu perusahaan maka semakin pendek Audit delay dan sebaliknya. Hal ini dikarenakan semakin besar perusahaan maka perusahaan itu memiliki sistem pengendalian internal yang baik sehingga

dapat mengurangi tingkat kesalahan laporan keuangan sehingga pengauditan atas laporan keuangan dapat dilakukan dengan lebih cepat. Selain itu, perusahaan besar diawasi oleh investor dan pengawas permodalan pemerintah, memiliki sumber daya yang lebih banyak dan dapat membayar audit fee yang lebih tinggi kepada auditor agar laporan audit dapat diselesaikan lebih cepat.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Puspitasari dan Latrini (2014) yang mengatakan Variabel ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikansi terhadap Audit delay. Berbeda dengan penelitian Badriyah dkk (2014) yang menyimpulkan bahwa variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap Audit delay.

4.3.2. Pengaruh Laba Rugi Perusahaan (X2) Terhadap Audit delay(Y)

Koefisien regresi laba rugi perusahaan memiliki hubungan positif sebesar 4,187 terhadap Audit delay, dengan asumsi apabila variabel laba rugi perusahaan naik 1%, maka akan menyebabkan peningkatan Audit delay sebanyak 4,187 dan sebaliknya apabila laba rugi perusahaan turun 1%, maka akan menyebabkan penurunan pada Audit delay sebanyak 4,187. Koefisien variabel laba rugi perusahaan adalah sebesar 0.551 dan signifikansi sebesar 0.583 lebih besar dari 0.05 yang berarti variabel laba rugi perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit delay. Laba rugi perusahaan tidak menjadi faktor yang sangat mempengaruhi terhadap Audit delay. Hal tersebut diduga akibat adanya prosedur audit yang harus dijalankan oleh auditor yang tidak membedakan laba rugi perusahaan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Kartika (2011) yang berhasil membuktikan bahwa bahwa laba/ rugi operasi secara signifikan tidak berpengaruh terhadap Audit delay, berbeda dengan penelitian Badriyah dkk(2014) yang menyimpulkan laba/rugi perusahaan mempunyai pengaruh negatif terhadap Audit delay.

4.3.3. Pengaruh Opini Audit (X3) Terhadap Audit delay (Y)

Koefisien regresi opini audit memiliki hubungan negatif sebesar -6,347 terhadap Audit delay, dengan asumsi apabila variabel opini audit naik 1%, maka akan menyebabkan penurunan pada Audit delay sebanyak -6,347, dan sebaliknya apabila opini audit turun 1%, maka akan menyebabkan peningkatan pada Audit delay sebanyak -6,347. Koefisien variabel Opini Audit adalah sebesar -1.166 dan signifikansi sebesar 0.247 lebih besar dari 0.05 yang berarti variabel Opini Audit tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit delay. Perusahaan akan tetap menyampaikan laporan keuangannya secara tepat waktu, tanpa melihat apakah laporan keuangan yang diaudit mendapat opini unqualified atau yang lainnya.

Mereka tetap melakukan kewajibannya untuk menyampaikan laporan keuangan secara tepat waktu.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sebayang dan Laksito (2014) yang mengemukakan bahwa opini audit tidak berpengaruh terhadap Audit delay.

Berbeda denga Hasil dari penelitian Kartika (2009) yang menyimpulkan bahwa opini auditor independen mempunyai pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap Audit delay perusahaan.

4.3.4. Pengaruh Solvabilitas (X4) Terhadap Audit delay (Y)

Koefisien regresi solvabilitas memiliki hubungan hubungan positif sebesar 16,180 terhadap Audit delay, dengan asumsi apabila variabel solvabilitas perusahaan naik 1%, maka akan menyebabkan peningkatan Audit delay sebanyak 16,180, dan sebaliknya apabila solvabilitas turun 1%, maka akan menyebabkan penurunan pada Audit delay sebanyak 16,180. Koefisien variabel solvabilitas adalah sebesar 0.773 dan signifikansi sebesar 0.442 lebih besar dari 0.05 yang berarti variabel solvabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit delay.

Rasio solvabilitas yang tinggi ataupun rendah tidak secara signifikan mempengaruhi Audit delay. Hal tersebut disebabkan karena standar pekerjaan auditor yang lebih diatur dalam SPAP menyatakan bahwa pelaksanaan prosedur audit perusahaan baik yang memiliki total utang besar dengan jumlah debtholder yang banyak atau perusahaan dengan utang yang kecil dan jumlah debtholder sedikit tidak akan mempegaruhi proses penyelesaian audit laporan keuangan, karena auditor yang ditunjuk pasti telah menyediakan waktu sesuai dengan kebutuhan untuk menyelesaikan proses audit utang (Barjono dan Hakim, 2018).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rachmawati (2008) yang menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara solvabilitas terhadap Audit delay. Berbeda dengan hasil penelitian Kartika (2011) yang menyimpulkan bahwa solvabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Audit delay.

4.3.5. Pengaruh Ukuran Perusahaan (X1), Laba Rugi Perusahaan (X2), Opini Audit (X3), dan Solvabilitas (X4) terhadap Audit delay (Y) Nilai Adjusted R Square berdasarkan 4.8 adalah sebesar 0,187 atau 18,7%, angka ini mengidentifikasikan bahwa Audit delay dapat dijelaskan oleh keempat variabel independen yaitu ukuran perusahaan, laba rugi perusahaan, opini audit dan solvabilitas sebesar 18,7%, dan sisanya yaitu 81,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti oleh penelitian ini. Sedangkan berdasarkan tabel 4.10 dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen mempunyai pengaruh secara simultan atau bersama - sama terhadap variabel dependen. Hal ini dibuktikan dengan nilai F sebesar 5,550, dengan signifikansi sebesar 0,001.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil uji pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya diperoleh kesimpulan sebagai berikut ini :

1. Hasil uji secara parsial yaitu ukuran perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Audit delay, sedangkan laba rugi perusahaan, opini audit dan solvabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit delay.

2. Hasil uji secara Simultan yaitu ukuran perusahaan, laba rugi perusahaan, opini audit, dan solvabilitas berpengaruh secara simultan terhadap Audit delay.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberi oleh peneliti yaitu:

5. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebaiknya menambahkan variabel – variabel lain yang mungkin mempengaruhi Audit delay seperti: Ukuran Kantor Akuntan Publik, kompleksitas, komite audit dan sebagainya dalam penelitian sejenis.

6. Bagi Perusahaan/ Manajemen

Sebaiknya manajemen perusahaan – perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan audit, menyampaikan laporan keuangan dengan tepat waktu sehingga tidak terjadi Audit delay pada perusahaan perbankan.

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. 2017. Auditing (Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan Oleh Akuntan Publik). Edisi 4, Buku 1. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Apriyana, N., & Rahmawati, D. (2017). “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Solvabilitas, Profitabilitas dan Komite Audit Terhadap Audit Delay (Pada Perusahaan Properti dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Tahun 2012-2015)”. Jurnal Akutansi Dan Keuangan, 1(2), 1–15. https://doi.org/ISSN : 2549-791X

Arens, Alvin A., Rendal J.Elder dan Mark S.Beasley, (2015), Jasa Audit dan Assurance: Pendekatan Terpadu (Adaptasi Indonesia), Buku 1, Alih Bahasa : Amir Abadi Jusuf, Salemba Empat, Jakarta.

Ashton, R., Wilingham, J., & Elliot, R. (1987). “An Empirical Analysis of Audit Delay”. Journal of Accounting Research, Vol. 25, No. 2, 275-292

Badriyah, S., Raharjo, K., & Andini, R. (2013). “Pengaruh size, solvabilitas, kualitas audit, laba rugi, opini audit dan kepemilikan publik terhadap audit delay pada perusahaan automotif di bursa efek jakarta tahun 2008-2013”.

Jurnal Akuntansi, 1(01), 17.

Barjono & Hakim, Z. M (2018). “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Solvabilitas, Opini Auditor, dan Kualitas Auditor Terhadap Audit Delay Pada Perusahaan Tambang Batubara Yang Terdaftar Di BEI Periode 2012-2016”, ISSN : 977 25993430 04

Dyer, J. C. I. V., dan A. J. McHugh. 1975. “The Timeliness of The Australian Annual Report”. Journal of Accounting Research. Autumn. Vol. 13. No.2.

Hal: 204- 219

Erlina, 2008. Metodologi Penelitian, USU Press, Medan.

Erlina, 2008. Metodologi Penelitian, USU Press, Medan.

Dalam dokumen ADDINI HIDAYATI HASIBUAN (Halaman 56-0)

Dokumen terkait