Di bawah ini akan dikemukakan beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis fad̩ā’il al-a'māl tentang kalimat thayyibah lā ilāha illā Allāh Muhammad Rasūl Allāh. JT selalu membacakannya dalam setiap dakwah, baik untuk kalangan mereka sendiri maupun untuk masyarakat Islam secara umum. Bagi JT, keutamaan atau faḍīlah dari suatu amal dimaksudkan untuk pembentukan karakter pribadi setiap muslim, yaitu seperti yang dimiliki para sahabat Nabi Saw., Perubahan karakter dicapai setelah dilakukan proses transformasi menjadi kepercayaan. Dalam pengertian lain dapat dikatakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an atau pun hadis Nabi Saw. yang menjelaskan tentang keutamaan lā ilāha illa Allāh Muhammad Rasūl Allāh, diupayakan terinternalisasi ke dalam diri sehingga menjadi karakter seseorang. JT. memang mengidolakan para sahabat Nabi Saw., terlepas dari adanya kekurangan juga dalam diri mereka. Bagi JT, mereka adalah model sempurna untuk ditiru, selamanya. JT sering berkata, “Kalau dalam urusan dunia, jangan tengok ke belakang. Itu kemunduran namanya. Tengoknya harus ke depan, supaya maju. Tapi, kalau dalam urusan agama, tengoknya harus ke belakang, ke kehidupan para sahabat r.a.hum. Itu baru namanya kemajuan. Karena kita semua yang datang belakang ini belum dijamin berhasil seperti mana para sahabat. Sementara, mereka para sahabat sudah diakui secara langsung oleh Allah dan Rasul-Nya.” Jadi masa lalu yang gemilang di letakkan kembali di depan sebagi model yang harus diteladani.
1. Ayat Al-Qur’an dan Hadis fad̩ā’il al-a'māl tentang lā ilāha illā Allāh
Dalam pelaksanaan dakwah ayat dan hadis disampaikan dengan cara dibaca, tidak ditafsirkan atau dimaknai secara kontekstual. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga keobyektifitasnya.34 Di bawah ini akan disebutkan beberapa ayat dan hadis, sebagai berikut: Allah berfirman:
ِنوُدُﺑْﻋﺎَﻓ ﺎَﻧَأ ﱠﻻِإ َ َﻟِإ َﻻ ُ ﱠﻧَأ ِ ْ َﻟِإ ﻲ ِﺣوُﻧ ﱠﻻِإ ٍلوُﺳ َر ْن ِﻣ َكِﻠْﺑَﻗ ْن ِﻣ ﺎَﻧْﻠَﺳ ْرَأ ﺎَﻣ َو
Artinya:“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu (wahai Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada yang berhak disembah selain Aku, maka menyembahlah kalian kepada-Ku.” QS. Al-Anbiya (21): 25.35
Allah berfirman:
34Seluruh ayat dan hadis terangkum dalam sebuah kitab, yang oleh pengarangnya, Maulana Muhammad Zakariya al-Kandhahlawi, diberi judul “fad̩ā’il al-a'māl” (Bandung, Pustaka Ramadhan, tth).
ْﺖَ ِﻠُﺗ اَذِإ َو ْﻢُ ُﺑﻮُﻠُﻗ ْﺖَﻠ ِﺟ َو ُ ﱠﻠﻟا َﺮِﻛُذ اَذِإ َﻦ ِﺬﱠﻟا َنﻮُﻨِﻣ ْﺆُﻤْﻟا ﺎَﻤﱠﻧِإ
َﻤ ِإ ْﻢُ ْﺗَدا َز ُ ُﺗﺎَ آ ْﻢِ ْ َﻠَﻋ
ﺎًﻧﺎ
ْﻢِ ِّﺑ َر ﻰَﻠَﻋ َو
نﻮُﻠﱠﻛ َﻮَﺘَ
Artinya:“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hatinya, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” QS. Al-Anfal (8): 2.36
Allah berfirman:
ْﺿَﻓ َو ُ ْﻧِﻣ ٍﺔَﻣْﺣ َر ﻲِﻓ ْمُ ُﻠ ِﺧْدُ َﺳَﻓ ِ ِﺑ اوُﻣَﺻَﺗْﻋا َو ِ ﱠﻠﻟﺎِﺑ اوُﻧَﻣآ َن ِذﱠﻟا ﺎﱠﻣَﺄَﻓ
ٍل
َو
ْمِ ِدْ َ
ﺎ ًﻣ ِﻘَﺗْﺳُﻣ ﺎًطا َر ِﺻ ِ ْ َﻟِإ
Artinya:“Adapun orang-orang yang beriman dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya dan limpahan karunia-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus untuk sampai kepada-Nya.” (QS. Al-Nisa’ [4]: 175)37
Hadis Nabi Muhammad Saw.:
Dari Abu Hurairah r.a., berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Iman itu mempunyai 70 cabang lebih, yang tertinggi darinya ialah kalimat la ilaha illa Allah dan yang paling rendah adalah mebuang duri dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.”38
Dari Abu Dzar r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, tidaklah seorang hamba Allah yang mengucapkan lā ilāha illa Allāh kemudian mati dengan kalimat itu melainkan ia pasti akan memasuki surga.” Saya bertanya, “Walaupun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab, “Walaupun ia berzina dan mencuri.” Saya bertanya lagi, “Walaupun ia berzina dan mencuri.?” Beliau menegaskan, “ Walaupun ia berzina dan mencuri, walaupun Abu Dzar tidak menghendaki (tetap hal itu akan terjadi).”39
Dari Anas r.a., berkata (dalam hadis yang panjang), bahwa Nabi Saw. bersabda, “Akan keluar dari neraka orang yang pernah mengucapkan kalimat lā ilāha illa Allāh, dan dalam hatinya ada kebaikan (iman) walaupun sebesar biji jawawut. Kemudian akan keluar dari neraka orang yang pernah mengucapkan kalimat lā ilāha illa Allāh, dan dalam hatinya terdapat kebaikan (iman) sebejar biji gandum. Kemudian akan keluar dari neraka orang yang pernah mengucapkan kalimat lā ilāha illa Allāh dan dalam hatinya terdapat kebaikan (iman) walaupun hanya seberat zarrah (debu).”40
Dari Abbas bin Abdul Muthalib r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Akan merasakan kelezatan iman siapa yang ridha
36Kementerian Agama RI, Al-Qur’anul Karim Dan Terjemahnya, 2010, 177. 37Kementerian Agama RI, Al-Qur’anul Karim Dan Terjemahnya, 2010, 105. 38HR. Muslim, bab penjelasan jumlah cabang-cabang iman… nomor 153. 39HR. Bukhari, Bab Pakaian Putih, hadis nomor 5827.
Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Saw. sebagai utusan Allah.”41
2. Cara menginternalisasikan Sifat Lā ilāha illa Allāh di dalam Diri.
Seluruh penjelasan di atas, mulai dari kekuasaan Allah, status alam, kebesaran Allah, serta ayat Al-Qur’an maupun hadis mengenai fad̩īlah-al-‘amal dari lā ilāha illa Allāh harus menjadi kepercayaan, yaitu dengan cara diinternalisasikan ke dalam hati. Menurut JT penghalang terbesar untuk terjadinya proses internalisasi itu adalah karena adanya penghalang di hati yang disebut dengan kebesaran makhluk. Maka, kebesaran makhluk itu harus dikeluarkan, yang oleh JT diproses melalui tiga tahapan. Pertama, membentuk majelis muzakarah ‒tak jadi soal berapa banyak orang‒ yang di dalamnya dimuzakarahkan hal-hal yang berkaitan dengan kebesaran Allah. Muzakarah dipimpin oleh seorang senior dan tidak harus seorang yang ‘ālim dalam masalah agama. Karena yang dimuzakarahkan juga bukan masalah-masalah fiqh (masā’il fiqhiyah). Muzakarah dilakukan berulang-ulang sampai dirasa peserta majelis sudah hafal dan paham. Kedua, selesai dari muzakarah, dibentuklah rombongan kecil, terdiri dari tiga atau sampai dengan delapan orang. Tugas rombongan itu adalah untuk mendakwahkan apa yang dimuzakarahkan tadi. Setiap anggota didoktrin untuk melakukannya dengan tidak perlu memandang siapa orangnya. Juga tidak perlu memandang siapa yang akan dijumpai untuk didakwahi. Boleh dibilang, inilah tahap yang paling berat bila dibandingkan dengan tahap yang lain. Orang yang baru ikut biasanya kurang percaya diri. Melihat hal itu, seorang yang sudah berpengalaman dengan sangat bijaksana langsung memberi semangat lagi, dengan kata-kata, “Allah Kuasa, makhluk tak kuasa.”
Masalah kurang percaya diri itu muncul karena adanya kebesaran makhluk di hati. Kebesaran makhluk itulah yang hendak dikeluarkan. Seringkali terjadi orang yang berdakwah adalah awam dalam masalah agama atau hanya orang biasa di mata masyarakat. Sementara yang akan dijumpai adalah orang yang mempunyai kedudukan terhormat di masyarakat (ulama, pejabat, orang kaya, dan sebagainya). Tetapi, terkesan dengan kebesaran dunia yang dimiliki oleh orang-orang terhormat itu merupakan kebesaran makhluk bagi si awam atau si orang biasa. Ada juga, orang yang berdakwah adalah seorang yang terpandang di masyarakat karena status sosial tinggi yang dimilikinya. Terkesan dengan kebesaran yang dimilikinya merupakan kebesaran makhluk bagi dia. Seluruh kebesaran makhluk itu akan dikeluarkan dengan cara menjumpai orang-orang untuk berdakwah kepada mereka.
Pokok-pokok pembicaraan yang disampaikan dalam limit waktu yang sangat singkat itu ‒berkisar antara 2 sampai 3 menit‒ meliputi empat hal yaitu, yakin akan kalimat lā ilāha illā Allāh Muhammad Rasūl Allāh, kuatkan persaudaraan sesama muslim, laksanakan amal-amal shaleh untuk persiapan kehidupan akhirat dan ajak untuk segera mengamalkannya.
Dakwah dengan cara begini, ternyata efektif untuk melakukan proses transformasi, sebagaimana yang dimaksud. Setelah daripada itu mereka merasakan
41HR. Muslim, Bab Dalil yang Menyatakan Bahwa Orang yang Ridha Allah sebagai Rabbnya…., hadis nomor 151.
adanya perubahan pandangan hidup, keyakinan, sikap dan perilaku dan terjadi peningkatan iman dan amal-amal ibadah.
Ketiga, senantiasa berdoa kepada Allah agar diberi pemahaman mengenai hakikat kalimat lā ilāha illā Allāh kepada diri sendiri, keluarga dan umat secara keseluruhan. Doa ini selalu dilakukan setiap kali akan turun menjumpai masyarakat. Seorang di antara mereka berdoa yang lain mengaminkannya.
Sebagaimana akan dijelaskan lebih jauh pada pembahasan-pembahasan berikutnya, bahwa dengan menjadikan diri-sendiri sebagai sasaran utama perjuangan, JT telah menunjukkan suatu model baru gerakan pembaharuan dalam Islam. Berbeda dengan gerakan-gerakan lain, mereka memfokuskan perubahan pada diri sendiri, seperti halnya kaum sufi. Tetapi berbeda dengan kaum sufi, gerakan mereka berdampak besar terhadap perubahan masyarakat Islam secara universal, yang implikasi praktisnya akan disebutkan kemudian. Uniknya lagi, gerakan pembaharuan mereka berjalan damai.
3. Ayat Al-Qur’an dan Hadis fad̩ā’il al-a'māl tentang Muhammad Rasulullah Saw.
Firman Allah SWT:
َﻦ ِﺮِﻓﺎَﻜْﻟا ﱡﺐ ِﺤُ ﻻ َ ﱠﻠﻟا ﱠنِﺈَﻓ ا ْﻮﱠﻟ َﻮَﺗ ْنِﺈَﻓ َلﻮُﺳ ﱠﺮﻟا َو َ ﱠﻠﻟا اﻮُﻌ ِطَأ ْﻞُﻗ
Artinya:
Katakanlah: “Taatilah Allah dan rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” QS. Ali Imran (3): 32.42 Allah berfirman:
ِﺈَﻓَأ ُلُﺳ ﱡرﻟا ِ ِﻠْﺑَﻗ ْن ِﻣ ْتَﻠَﺧ ْدَﻗ ٌلوُﺳ َر ﱠﻻِإ ٌدﱠﻣَﺣُﻣ ﺎَﻣ َو
َﻘْﻋَأ ﻰَﻠَﻋ ْمُﺗْﺑَﻠَﻘْﻧا َلِﺗُﻗ ْوَأ َتﺎَﻣ ْن
ْمُﻛِﺑﺎ
ي ِز ْﺟَ َﺳ َو ﺎًﺋْ َﺷ َ ﱠﻠﻟا ﱠرُﺿَ ْنَﻠَﻓ ِ ْ َﺑِﻘَﻋ ﻰَﻠَﻋ ْبِﻠَﻘْﻧَ ْنَﻣ َو
. َن ِرِﻛﺎﱠﺷﻟا ُ ﱠﻠﻟا
Artinya:“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” QS. Ali Imran (3): 144.43 Allah berfirman:
ِرﺟَﺗ ٍتﻧَﺟ ُہﻠ ِﺧدُ ہَﻟوُﺳ َر َو َہﻠﻟا ِﻊ ِطﱡ نَﻣ َو ِہﻠﻟا ُدوُدُﺣ َ ﻠِﺗ
ا ﺎَﮩِﺗﺣَﺗ ن ِﻣ
ُرﮩﻧَﻻ
َو ﺎَﮩ ِﻓ َن ِدِﻠﺧ
م ِظَﻌﻟا ُزوَﻔﻟا َ ِﻟذ
ُ◌42 Kementerian Agama RI, Al-Qur’anul Karim Dan Terjemahnya, 2010, 54. 43 Kementerian Agama RI, Al-Qur’anul Karim Dan Terjemahnya, 2010, 68
Artinya:
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam sorga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar.” QS. An Nisa (4): 13.44
Hadith Nabi Muhammad Saw.
Dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Semua umatku akan masuk sorga, kecuali yang enggan.” (Para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah! Siapakah yang enggan?” Beliau menjawab, “Siapa yang taat kepadaku, maka ia masuk sorga, dan siapa yang ingkar kepadaku, maka sesungguhnya dialah yang enggan!”45
Dari Anas bin Malik r.a., berkata, “Rasulullah Saw. telah bersabda padaku, ‘Wahai anakku, jika kamu mampu menahan hatimu dari rasa dengki kepada seseorang pada pagi hari hingga sore hari, maka lakukanlah!’ Kemudian beliau bersabda lagi kepadaku, “Wahai anakku, yang demikian itu adalah sunnahku. Barangsiapa menghidupkan sunnahku, sungguh dia cinta kepadaku dan barangsiapa yang mencintaiku, akan bersamaku dalam surga.”46 4. Cara Mengiternalisasikan Sunnah ke dalam Diri.
Sebagaimana telah dikatakan bahwa sunnah Nabi Saw. adalah model sempurna bagi kehidupan seorang muslim. Melalui sunnah Nabi Saw. kehidupan yang islami akan wujud kembali secara lengkap dan sempurna dalam kehidupan umatnya bila setiap orang Islam mau mengamalkannya. JT sering membayangkan bahwa apabila umat Islam dapat mewujudkan perikehidupan Nabi Saw. dalam kehidupan sehari-harinya, maka seolah-olah Nabi Saw. hidup kembali bersama mereka. Karena itu JT. kemudian merekomendasikan agar Umat Islam mau berusaha menggantikan karakter kediraian mereka dengan karakter Nabi Saw. melalui tiga cara. Pertama, menginternalisasikan sunnah ke dalam diri adalah dengan cara seperti Nabi Muhammad Saw. mempraktekkannya. Dengan secara demikian, bentuk-bentuk Sunnah seperti yang telah dijelaskan di atas wujud secara maksimal di dalam diri seseorang. Kedua, membentuk kelompok muzakarah. Kelompok itu dipandu oleh seorang anggota JT, lebih diutamakan seorang senior. Dalam muzakarah dijelaskan semua yang berkaitan dengan perilaku Nabi Muhammad Saw. dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk membentuknya menjadi kesadaran, maka setiap orang akan menyampaikan lagi apa yang telah dimuzakarahkan itu kepada orang lain. Cara ini merupakan yang terberat. Perjumpaan-perjumpaan itu hampir tidak mengenal situasi-situasi khusus seperti, saat orang sedang sibuk, santai, bermain, bermain kartu atau berjudi sekalipun. Orang yang dijumpai pun tidak dibatasi, yang berilmu maupun awam. Penyesuaian hanya pada cara menyampaikan dengan pembicara yang akan menyampaikannya.
Pembicaraan yang disampaikan juga bukan menyinggung situasi-situasi khusus tersebut. Walaupun orang-orang yang dijumpai itu sedang melakukan suatu
44 Kementerian Agama RI, Al-Qur’anul Karim Dan Terjemahnya, 2010, h. 79 45HR. Bukhari, Bab Mengikuti Sunnah-Sunnah Rasulullah Saw., hadis nomor 728. 46HR. Tirmizi, Bab Perintah Agar Berpegang Teguh Pada Sunnah, hadis nomor 2678.
kesalahan, misalnya bermain judi. JT tidak langsung menohok dengan mengatakan, “Ini haram, itu dosa, ini perbuatan orang kafir,” apalagi mengatakan, “Kalian akan masuk neraka.” Tetapi JT mengajak untuk kembali kepada Sunnah dengan menyampaikan ayat Al-Qur’an atau hadis fad̩ā’il al-a'mālnya. Seringkali penyampaian ayat atau hadis tidak secara redaksional, hanya maknanya saja. Untuk lebih jelas, perhatikan salah satu contoh pembicaraan tentang pentingnya Sunnah bagi seorang muslim, disampaikan kepada sekelompok orang yang sedang bermain judi, sebagai berikut:
Assalamu’alaikum, saudara-saudaraku yang dirahmati Allah. Kita umat Islam adalah umat yang dimuliakan Allah, dibandingkan dengan umat-umat terdahulu. Umur kita singkat, tetapi mendapat bobot amal yang besar. Sekali beramal sudah bisa mendapat pahala berkali-kali lipat. Sekali mengucapkan salawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam kita mendapatkan sepuluh salawat dari Allah kepada kita. Nah, kita sudah bisa bayangkan berapa banyak kebaikan yang akan kita dapatkan dari 10 kali salawat. Kalau kita ucapkan lebih banyak lagi, akan lebih banyak lagi kebaikan yang akan kita peroleh. Sementara, untuk mendapatkan seratus ribu rupiah di dunia ini, misalnya kita bisa bekerja satu hari penuh. Untuk mendapatkan kebaikan di akhirat kita boleh hanya dengan duduk-duduk sambil mengucapkannya, maka kebaikan yang banyak akan kita dapatkan. Nah, saudara-saudara sekalian, di masjid kami lagi buatkan majelis muzakarah, kalian semua kami ajak.”
Kutipan di atas memperlihatkan kemampuan JT mengatasi kasus perjudian dengan cara mengajak kepada fad̩īlah-al-‘amal dari salawatan. Fadhilah itu sendiri bersifat obyektif dan universal, tidak berkaitan sama sekali dengan kasus-kasus kontemporer tertentu. JT menghadirkan yang abadi-universal dalam kesementaraan agar dengan itu yang sementara melebur ke dalam keabadian. Peleburan itu berjalan dengan damai, karena nihil dari kepentingan-kepentingan kelompok yang bersifat sesaat. Itu adalah penegasan ketuhanan Allah (fad̩īlah-al-‘amal) yang dapat dimasuki pada setiap saat melalui cetakan Muhammad Saw. Dengan cara demikian JT telah berjasa melakukan suatu model baru pembaruan tanpa harus menimbulkan konflik. Obyektifitas ketuhanan Allah dijamin mampu menciptakan perdamaian universal.
Tahap ketiga adalah berdoa kepada Allah agar ditanamkan hakikat Muhammad Rasulullah di dalam diri, keluarga dan umat seluruhnya. Di sini JT menampakkan lagi kepentingan mereka yang bersifat universal. Karena doa mereka bukan untuk kepentingan kelompok.
Ajakan kepada makna obyektif ayat dapat dipahami secara sepenuhnya sebagai ajakan yang murni hanya kepada Allah, dalam rangka menegaskan eksistensi dan keesaan-Nya. Melalui makna obyektif pula, keesaan Allah dapat dijadikan sebagai sebuah perspektif bagaimana cara umat Islam memandang berbagai persoalan kemanusiaan. Mereka sering berargumen: “Bila masyarakat Arab jahiliyah dulu melakukan kemaksiatan karena kebodohan, maka manusia sekarang melakukannya karena lemahnya iman kepada Allah. Akibat dari lemahnya iman, banyak orang Islam melakukan kemaksiatan sambil tertawa. Olehnya itu, tugas kita sekarang adalah mengembalikan manusia kepada keimanan yang benar, kepada
Allah.” JT bukan hanya berhasil dalam hal ini, tetapi juga menunjukkan jalan dan cara bagaimana menjadikan keesaan Allah sebagai kepercayaan bersama. Dengan berdasar pada penegasan eksistensi Allah, JT berhasil menghilangkan fanatisme kelompok.
Setelah membahas perspektif perdamaian menurut JT, pada bab berikutnya adalah bagaimana JT mengupayakan perwujudan perdamaian. Jika pada ketuhanan Allah JT membentuk perspektif mengenai perdamaian, maka upaya mewujudkan perdamaian melalui kepentingan-Nya. Artinya, Allah berkepentingan mewujudkan perdamaian bagi manusia menurut pandangan-Nya. Tampak juga dalam hal ini, JT menggunakan makna obyektif ayat Kitab Suci untuk mewujudkannya seperti yang dikehendak-Nya. Ini berarti, manusia adalah pelaksana dari apa yang dikehendaki-Nya. Jika memang demikian, bagaimana bentuk konkrit perdamaian Allah itu, yang implikasinya adalah masyarakat Islam universal. Bagaimanakah sistem pemerintahannya? Bagaimana dengan keragaman pemahaman kegamaan? Bagimana pula nasib negara-negara bangsa yang ada saat ini?
BAB V
PERANAN JAMAAH TABLIGH DI AMBON TERHADAP PERDAMAIAN Kata perdamaian seperti yang tertera pada redaksi judul di atas menunjukkan bahwa perdamaian yang diusahakan JT bersifat universal. Dengan pengertiannya yang sedemikian luas itu, tergambar betapa beratnya tuntutan akan sebuah tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Padahal, mereka baru berjumlah sekelompok orang yang menempati salah satu bagian terkecil di dunia ini. Pertanyaannya, bagaimana JT di Ambon memahami perdamaian? Bagaimana mereka mempergunakan kemampuan terbatas untuk menjalankan peran sebesar itu? Sampai dengan saat ini, sejauh mana pula keberhasilan yang telah dicapai mereka?
Pada pembahasan yang lalu telah disebutkan bahwa perdamaian yang dimaksud dalam disertasi ini tidak sebatas pada terciptanya suatu suasana tenang atau tidak adanya konflik. Lebih jauh, perdamaian yang dimaksudkan adalah terwujudnya sebuah masyarakat Islam universal, dalam satu kesatuan keyakinan, pemahaman, perbuatan/kerja dan tujuan. Untuk membangun masyarakat dengan model yang demikian itu, JT mulai dari membangun tiang-tiang penyangga utamanya berupa kebenaran absolut dalam Islam. Caranya ialah dengan mendakwahkannya. Kebenaran absolut yang dimaksudkan mereka adalah enam prinsip dasar dari ajaran Islam atau apa yang mereka istilahkan sendiri dengan Enam Sifat Sahabat Nabi Muhammad Saw., yaitu lā ilāha illā Allāh Muhammad Rasul Allāh, al-s̩alāh al-khushu’ wa al-khud̩u', ’ilm ma'a dhikr, ikrām al-muslimīn, tas̩h̩īh̩ al-niyah, dan khurūj fi sabīl li Allāh. Pembahasan pada bab ini akan menganalisa sampai sejauh mana peran JT membangun perdamaian dengan cara memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai Enam Sifat Sahabat Nabi Saw. dengan tingkat kebenarannya yang absolut.
Sebelum dilanjutkan lebih jauh perlu dijelaskan lebih dulu pandangan mereka tentang masyarakat. Pembahasan dimulai dengan menjelaskan apa yang dianggap sebagai infrastruktur masyarakat Islam universal dan kemudian juga bagaimana membangun suprastrukturnya. Sebuah analisa tentang efektifitas model perdamaian JT akan disampaikan pembahasannya pada akhir bab ini.