BAB III : PELAKSANAAN PENYIDIKAN OLEH OJK
Pasal 49 ayat (2) huruf b :
“Anggota Dewan Komisaris, Direksi atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam undang-undang ini dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank, diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah)”
Bahwa dalam pemberian kredit fiktif dipastikan terjadi perbuatan dengan sengaja tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk
memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam undang-undang ini dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. Hal ini dikarenakan dalam pemberian kredit fiktif maka selalu terjadi adanya pelanggaran terhadap ketentuan perbankan atau peraturan yang ada dibawahnya seperti Strandar Operasional Prosedur (SOP) Bank untuk dapat menciptakan kredit fiktif tersebut. Sebab apabila langkah-langkah sesuai dengan SOP yang berlaku maka akan ditemukan adanya kejanggalan-atau penyimpangan dalam pemberian kredit tersebut sehingga kredit tersebut tidak layak diberikan oleh Pihak Bank.
4. Apakah kredit fiktif di dunia perbankan di Indonesia sudah menjadi suatu permasalahan yang serius?
Jawaban:
Bahwa kredit fiktif di dunia perbankan di Indonesia sudah menjadi suatu permasalahan yang serius karena tindak pidana perbankan yang ditemukan mayoritas dari sekitar 136 kasus yang dilimpahkan oleh Satker Pemeriksaan (Departemen Pemeriksaan Khusus dan Investigasi Perbankan/DKIP) kepada Departemen Penyidikan Sektor Jasa Keuangan (DPJK) periode 2014 sampai dengan 2017, maka 81 kasus atau 60% adalah merupakan tindak pidana perbankan yang menyangkut perkreditan yang mayoritas adalah kredit fiktif atau topengan.
5. Berapakah kasus tindak pidana perbankan dalam bidang usaha berkaitan dengan kredit fiktif yang telah ditangani Otoritas Jasa Keuangan (OJK)? Dan contoh kasus seperti apa yang telah ditangani Otoritas Jasa Keuangan mengenai kredit fiktif ini?
Jawaban:
Dari Tahun 2017 sampai dengan 2018, Penyidikan OJK telah menangani kasus tindak pidana perbankan yang telah dilimpahkan ke Kejaksaan dan dinyatakan lengkap adalah sebanyak XX Perkara dan XX Perkara adalah merupakan kasus kredit fiktif.
Contoh Kasus adalah Pada perkara BPD Lampung KC Antasari
6. Siapa sebenarnya yang sering menjadi pelaku daripada tindak pidana perbankan dalam bidang usaha yang berkaitan dengan kredit fiktif ini sendiri dan siapa korban dari tindak pidana perbankan ini? Jika pelakunya adalah pihak pengawai Bank sendiri mengapa hal itu dapat terjadi?
Jawaban:
Dari penanganan kasus sejak Tahun 2014 sampai dengan tahun 2017 sebanyak 136 kasus maka profil pelaku tindak pidana perbankan adalah sebagai:*) a. Anggota Dewan Komisaris : 9% (13 kasus)
b. Anggota Dewan Direksi: 47% (64 kasus) c. Pegawai Bank: 21% (29 kasus)
d. Pejabat Eksekutif: 19% (26 kasus) e. Pemegang Saham: 3% (4 kasus)
Catatan: *) data diambil dari pelimpahan perkara yang berasal dari Departemen Pemeriksaan Khusus dan Investigasi Perbankan/DKIP) kepada Departemen Penyidikan Sektor Jasa Keuangan (DPJK).
Pihak yang menjadi korban adalah pihak Bank sendiri dimana Pihak Bank akan mengalami kerugian karena biasanya kredit fiktif atau topengan ini akan menjadi kredit macet (Non Perfoming Loan/NPL) bagi Bank yang kemudian akan mengerus keuntungan atau bahkan menambah beban kerugian bagi Bank tsb. Disamping itu kerugian juga bisa terjadi pada pihak yang namanya digunakan oleh para pelaku untuk mendapatkan kredit dimana nama-nama tersebut akan masuk dalam daftar peminjam yang bermasalah sehingga dikemudian hari tidak dapat lagi meminjam di Bank tertentu. Dari sisi industri perbankan secara umum maka kondisi seperti ini akan menimbulkan penurunan kepercayaan masyarakat luas pada industri perbankan.
7. Apa syarat atau ketentuan dapat digolongkan atau dianggap sebagai kredit fiktif?
Syarat sebuah kredit dapat dikategorikan sebagai kredit fiktif adalah:
Jawaban:
a. Kredit Fiktif yaitu kredit yang diberikan kepada debitur yang sebenarnya tidak ada atau identitasnya palsu atau debitur tersebut tidak mengetahui bahwa nama yang bersangkutan digunakan oleh pihak lain (bank) untuk mengajukan kredit.
b. Kredit Topengan yaitu kredit yang diberikan kepada Debitur yang sebenarnya uangnya (dananya) tidak digunakan atau diperuntukkan bagi debitur yang bersangkutan tetapi digunakan oleh Pihak Lain, tetapi pengajuan kredit tersebut diketahui oleh debitur tersebut, dimana seringkali Debitur tersebut hanya mendapatkan imbalan atas dipinjamkan namanya untuk mengajukan kredit tersebut. Misalnya Perusahaan A mengunakan sejumlah nama-nama pegawainya dan keluarganya untuk mengajukan kredit karena terbentur dengan aturan Batas Maksimun Pemberian Kredit (BMPK).
8. Mengapa tindak pidana perbankan kredit fiktif ini dapat terjadi? Apa faktor penyebab daripada terjadinya tindak pidana perbankan itu sendiri?
Jawaban:
Bahwa tindak pidana terjadi karena adanya minimal dua unsur yang mempengaruhi:
a. Kesempatan adalah sejumlah peluang yang ada dan dapat dimanfaatkan oleh pelaku untuk melakukan kejahatan tersebut, dimana kesempatan ini akan berkaitan dengan sistem pengendalian (pengawasan) internal yang ada di Bank tersebut. Termasuk didalamnya sejumlah aturan yang mengatur mengenai prosedur pencairan kredit, adanya metode pengawasan mulai dari pengawasan atasan langsung hingga pengawasan secara berjenjang baik internal (satuan Pengawas Internal Bank) maupun
eksternal (Kantor Akuntan Publik, Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, dll) sampai dengan sistem rekrutment (pengangkatan) pegawai yang menghasilkan kualitas pegawai yang berintegritas.
b. Niat adalah kemauan atau keinginan dari pelaku untuk memperoleh keuntungan dari hasil kejahatan tersebut. Niat ini berasal dari dalam yang menyangkut nilai-nilai yang dianut oleh orang yang akan melakukan kejahatan tersebut. Misalnya tuntutan agama yang dianutnya sejauh mana menjadi benteng orang tersebut utk tidak melakukan kejahatan, lingkungan masyarakat yang mempengaruhinya dimana apakah melakukan kejahatan menjadi faktor yang sangat buruk dilingkungan tersebut atau hal yang dianggap bisa saja oleh lingkungan masyarakatnya. Disamping itu Niat ini berkaitan dengan motif orang melakukan kejahatan apakah karena motif ekonomi (kesulitan keuangan), ada keluarga yang sedang sakit atau memang pada dasarnya terjadi faktor keserakahan (greedy).
Sehingga adanya kombinasi keduannya yaitu adanya kesempatan dan niat maka kejahatan dapat terjadi demikian juga pada kejahatan kredit fiktif, lemahnya penagwasan internal bank dan ditambah dengan buruknya integritas Direksi, pemegang saham atau pegawai bank maka tindak pidana perbankan kredit fiktif ini dapat terjadi.
9. Pada Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat-kah yang kerap terjadi tindak pidana perbankan? Tindak pidana perbankan seperti apa yang kerap terjadi di dunia perbankan?
Jawaban:
Bahwa tindak pidana perbankan kerap terjadi pada Bank Prekreditan Rakyat (BPR), hal ini dikarenakan BPR memiliki jumlah yang sangat besar di Indonesia dibanding dengan jumlah Bank Umum dan tentunya dari sisi sistem pengendalian internal sejumlah BPR belum memiliki sistem pengendalian yang belum memadai dibandingkan dengan Bank Umum, tetapi disisi lainnya maka kejahatan yang tindak pidana perbankan di Bank Umum menyangkut jumlah-jumlah yang cukup besar dan modus operandi yang lebih canggih.
Tindak pidana yang kerap terjadi didunia perbankan adalah sebagai berikut:*)
e. Kasus Perkreditan sejumlah 81 kasus (60%).
f. Kasus Penyalahgunaan aset sejumlah 30 kasus (22%) g. Kasus Pendanaan sejumlah 19 Kasus (14%)
h. Kasus lainnya sejumlah 6 Kasus (4%).
Catatan: *) data diambil dari pelimpahan perkara yang berasal dari Departemen Pemeriksaan Khusus dan Investigasi Perbankan/DKIP) kepada Departemen Penyidikan Sektor Jasa Keuangan (DPJK).
10. Bagaimana kedudukan Penyidik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Sistem Peradilan Pidana Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)?
Jawaban:
Bahwa Penyidik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tunduk pada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), dimana sesuai dengan Pasal 49 Ayat (1) “Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya yang meliputi pengawasan sektor jasa keuangan di lingkungan OJK, diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.”
Hal ini menyebabkan bahwa Penyidik OJK wajib tunduk kepada KUHAP dikecualikan yang diatur khusus dalam UU Nomor 21 Tahun 2011 Pasal 49 ayat (3) yaitu:
a. menerima laporan, pemberitahuan, atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana di sektor jasa keuangan;
b. melakukan penelitian atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di sektor jasa keuangan;
c. melakukan penelitian terhadap Setiap Orang yang diduga melakukan atau terlibat dalam tindak pidana di sektor jasa keuangan;
d. memanggil, memeriksa, serta meminta keterangan dan barang bukti dari Setiap Orang yang disangka melakukan, atau sebagai saksi dalam tindak pidana di sektor jasa keuangan;
e. melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di sektor jasa keuangan;
f. melakukan penggeledahan di setiap tempat tertentu yang diduga terdapat setiap barang bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap barang yang dapat dijadikan bahan bukti dalam perkara tindak pidana di sektor jasa keuangan;
g. meminta data, dokumen, atau alat bukti lain, baik cetak maupun elektronik kepada penyelenggara jasa telekomunikasi;
h. dalam keadaan tertentu meminta kepada pejabat yang berwenang untuk melakukan pencegahan terhadap orang yang diduga telah melakukan tindak pidana di sektor jasa keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
i. meminta bantuan aparat penegak hukum lain;
j. meminta keterangan dari bank tentang keadaan keuangan pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
k. memblokir rekening pada bank atau lembaga keuangan lain dari pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam tindak pidana di sektor jasa keuangan;
l. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di sektor jasa keuangan; dan
m. menyatakan saat dimulai dan dihentikannya penyidikan.
11. Hambatan-hambatan seperti apa yang dihadapi Penyidik Otoritas Jasa Keuangan dalam melakukan penyidikan tindak pidana disektor jasa keuangan?
Jawaban:
Hambatan yang dihadapi oleh Penyidik Otoritas Jasa adalah:
a. Tingkat kejahatan yang semakin memingkat.
b. Teknologi kejahatan yang semakin canggih.
c. Jumlah penyidik di DPJK yang belum cukup memadai dibanding jumlah kasus yang ada.
d. Khusus pada Tindak pidana di industri perbankan, maka penyidik OJK hanya bisa menangani pihak dari Bank (Direksi, Komisaris, Pemegang Saham, pihak terafiliasi) sementara pihak luar (pihak ketiga) yang sering kali terlibat dan memiliki peran yang cukup besar dalam mendorong terjadinya tidak pidana dan menikmati hasil pidana tidak dapat dijerat karena undang-undang perbankan hanya membatasi limitatif kewenangan penanganan terhadap pelaku pidana tersebut.
12. Bagaimana kerjasama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Kepolisian?
Apakah pelaporan kasus tindak pidana perbankan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlebih dahulu? Ataukah terhadap Pihak Kepolisian?
Jawaban:
Bahwa pola kerjasama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Kepolisian adalah melalui Memorandum of Understanding (MoU) Nomor: PRJ-36/D.01/2014 dan B/44/XI/2014 Tanggal 25 November 2015, dan khususnya pada Bidang Penyidikan maka terdapat Pedoman Kerjasama antara Otoritas Jasa Keuangan dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor: PRJ-51/D.01/2015 & B/49/XII/2015 Tanggal 10 Desember 2015 tentang Kerjasama Penanganan Tindak Pidana di Sektor Jasa Keuangan. Di dalam Nota Kerjasama Penanganan Tindak Pidana di Sektor Jasa Keuangan terdapat Prosedur Pertukaran Data dan Informasi, Prosedur Bantuan Penegakan Hukum, dan Prosedur Penyampaian Informasi atau Pelimpahan Penanganan Dugaan Tindak Pidana.
Bahwa pelaporan tindak pidana perbankan tidak memiliki aturan khusus harus kemana pelaporan tersebut dialamatkan sehingga pihak pelapor dapat melaporkan kemana saja baik ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun ke Pihak Kepolisian RI.
13. Apakah tidak terjadi tumpang tindih dalam penyidikan? Karena Polri, Kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mempunyai kewenangan penyidikan terkait perkara di sektor jasa keuangan yang saling behubungan.
Jawaban:
Bahwa dalam pelaksanaannya bisa saja terjadi tumpang tindih pelaksanaannya, tetapi hal ini dapat diantisipasi dengan adanya koordinasi antar penegak hukum (OJK. POLRI, Kejaksaan dan KPK). Dalam hal ini ada ketentuan tidak tertulis yang ada di kalangan para Penegak Hukum yaitu siapa yang menangani kasus tersebut terlebih dahulu (melakukan Penyidikan terlebih dahulu), maka Penyidik lainnya akan menghentikan penyidikan yang sedang berjalan tersebut.
Bahwa Penyidik Kepolisian memiliki kewenangan tindak pidana Sektor Jasa Keuangan (termasuk Perbankan) dan Tindak Pidana Korupsi di Bidang Perbankan.
Bahwa Penyidik Otoritas Jasa Keuangan memiliki kewenangan Sektor Jasa Keuangan (termasuk Perbankan).
Bahwa Penyidik Kejaksaan dan KPK memiliki kewenangan Tindak Pidana Korupsi di Bidang Perbankan, tetapi tidak memiliki kewenangan penyidikan di sektor jasa keuangan.
14. Apa upaya yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri untuk mengatasi tumpah tindih (overlapping) dalam penyidikan itu sendiri?
Jawaban:
Langkah-langkah yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri untuk mengatasi tumpah tindih (overlapping) dalam penyidikan itu sendiri adalah sebagai berikut:
a. Melakukan MoU dan Nota Kerjasama dengan sejumlah pihak dengan Penegak Hukum dalam hal ini Kepolisian RI, Kejaksaan RI dan KPK terkait dengan posisi saling tukar menukar informasi terkait dengan penanganan perkara dimasing-masing pihak.
b. Melakukan langkah penyelidikan dahulu untuk mengetahui posisi terakhir apakah telah ada yang melakukan penyidikan terlebih dahulu dibandingkan dengan Penyidik OJK dengan berkoordinasi dengan Pihak Bank atau pihak lainnya yang akan dilakukan Penyidikan, sehingga akan menghindari adanya tumpang tindih (overlapping).
15. Bagaimana mekanisme yang dilakukan oleh Penyidik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam melakukan penyidikan tindak pidana perbankan dalam bidang usaha yang berkaitan dengan kredit fiktif?
Jawaban:
Mekanisme yang dilakukan oleh Penyidik OJK dalam melakukan penyidikan tindak pidana perbankan dalam bidang usaha yang berkaitan dengan kredit fiktif adalah sebagai berikut:
a. Pertama Penyidik OJK akan menerima laporan pengaduan yang bisa berasal dari Internal maupun Eksternal OJK.
b. Apabila Penyidik OJK menerima Pengaduan dari Internal OJK, maka akan ada pelimpahan kasus yang berasal dari Kepala Eksekutif (KE) baik Perbankan, Pasar Modal maupun Industri Non Bank
(IKNB). Bahwa mekanisme pelaporan diawali dengan adanya Ekspose kasus dari Satker Pemeriksa kepada Penyidik DPJK untuk selanjutnya dilimpahkan ke DPJK.
c. Apabila Penyidik OJK menerima Pengaduan dari Eksternal OJK, maka ada dua perlakukan yaitu jika menyangkut Pihak dari industri Sektor Jasa keuangan, maka DPJK akan berkoordinasi dahulu dengan Pihak Satker Pengawasan/Pemeriksaan yang menangani/mengawasi pihak Industri tersebut. Jika tidak menyangkut pihak industri Sektor Jasa keuangan, maka Penyidik OJK bisa langsung menangani pengaduan masyarakat tersebut.
d. Jika Pengaduan telah dilimpahkan atau akan ditangani maka Penyidik OJK (DPJK) akan melakukan Telaahan untuk menilai apakah pengaduan tersebut merupakan Dugaan Tindak Pidana di Sektor Jasa Keuangan sesuai dengan kewenangan OJK. Analisis pengaduan ini biasanya mengunakan pisau analisis 5 W (What, Where, When, Who, Why) + 2 H (How dan How Much).
e. Selanjutnya apabila telah ditemukan adanya dugaan tindak pidana di Sektor Jasa Keuangan maka Penyidik OJK akan melakukan langkah Penyelidikan untuk mendapatkan atau menentukan adanya peristiwa pidana yang terjadi dalam dugaan tindak pidana di Sektor Jasa Keuangan.
f. Kemudian jika terbukti adanya peristiwa pidana, maka akan dilakukan tindakan Penyidikan oleh Penyidik OJK dalam rangka memperoleh sejumlah Barang Bukti dan Alat Bukti serta menetapkan Tersangkanya. Bahwa langkah-langkah penyidikan antara lain adalah:
Melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah Saksi-saksi;
Melakukan Pengeledahan dan Penyitaan Barang Bukti;
Melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah Ahli;
Melakukan Gelar Perkara menetapkan tersangka
Melakukan Pemeriksaan terhadap Tersangka
Melakukan Penangkapan dan Penahanan terhadap Tersangka {jika diperlukan dengan bantuan dari Korwas (Koordinator Pengawasan) PPNS POLRI}
Melakukan analisis dan evaluasi atas alat bukti dan barang bukti yang telah diperoleh untuk menentukan kecukupannya.
g. Selanjutnya Penyidik OJK akan melakukan sejumlah koordinasi dengan Jaksa Peneliti yang ada di Kejaksaan Agung untuk memperoleh masukkan atas langkah-langkah penyidikan yang telah dilakukan dan apabila telah dicapai kesepakatan maka Penyidik OJK akan melimpahkan perkara tersebut ke Kejaksaan Agung RI Cq.
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAMPIDUM).
h. Kemudian Jaksa akan menetapkan perkara tersebut telah Lengkap (P-21), maka Penyidik OJK akan melakukan pelimpahan Tersangka dan Barang Bukti ke Kejaksaan.
Bahwa langkah ini adalah langkah-langkah yang umum dilakukan untuk semua tindak pidana sektor jasa keuangan termasuk didalamnya tindak pidana perbankan khususnya pada pembuktian adanya pemberian kredit fiktif tersebut.
16. Dengan adanya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22/POJK.01/2015 Tentang Penyidikan Tindak Pidana di sektor Jasa Keuangan apakah telah menguatkan kinerja daripada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu sendiri?
Jawaban:
Bahwa dengan adanya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22/POJK.01/2015 Tentang Penyidikan Tindak Pidana di sektor Jasa Keuangan telah menguatkan kinerja daripada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu sendiri karena POJK tersebut telah memberikan kejelasan mengenai hal-hal yang belum diatur secara lebih detail dalam undang-undang Nomor: 21 tahun 2011 mengenai Otoritas Jasa Keuangan, khususnya mengenai kewenangan Penyidikan yang diatur dalam pasal 49, Pasal 50 dan Pasal 51.
17. Apa upaya yang dilakukan oleh Penyidik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Lembaga independent pengawas Bank untuk mencegah daripada Tindak Pidana Perbankan kredit fiktif ini sendiri dalam dunia perbankan?
Jawaban:
Bahwa upaya yang dilakukan oleh Penyidik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga independent Pengawas Bank untuk mencegah daripada Tindak Pidana Perbankan kredit fiktif ini sendiri dalam dunia perbankan yaitu melalui setidaknya 3 tindakan sebagai berikut:
d. Tindakan Pencegahan (Preventif) yaitu tindakan yang melakukan penguatan sistem pengendalian internal melalui dikeluarkannya sejumlah aturan mengenai good corporate governance di bidang perbankan khususnya mengenai pengaturan kredit yang diberikan dan melakukan pengawasan secara periode dan insidentil terhadap industri perbankan untuk melihat sejauh mana tingkat ketaatan dan kepatuhan insdustri perbankan pada aturan-aturan yang berlaku.
e. Tindakan Penindakan (represif) yaitu tindakan untuk memberikan penegakan hukum atas sejumlah tindak pidana perbankan khususnya pada kredit fiktif, sehingga akan menimbulkan efek jera pada pelaku dan industri untuk tidak melakukan kembali kejahatan tindak pidana perbankan khususnya pada kredit fiktif tersebut.
f. Tindakan Pembelajaran (Educatif) yaiti tindakan sosialisasi mengenai tindak pidana perbakan yang diberikan kepada industri dan masyarakat umum untuk memberikan pengetahuan mengenai Tindak Pidana Perbankan khususnya pada kredit fiktif, dll. Hal ini dilakukan kepada
semua kalangan baik dari kalangan terpelajar (Siswa dan Mahasiswa), penegak hukum, industri Perbankan, dan masyarakat luas.
18. Apakah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mensosialisasikan tentang apakah yang termasuk dalam tindak pidana perbankan kredit fiktif bagi masyarakat luas dan apa yang harus dilakukan masyarakat ketika menemukan adanya indikasi terjadinya tindak pidana perbankan kredit fiktif itu sendiri? (misalnya dalam suatu bentuk peraturan atau Surat Edaran)
Jawaban:
Bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mensosialisasikan tentang apakah yang termasuk dalam tindak pidana perbankan kredit fiktif bagi masyarakat luas dan apa yang harus dilakukan masyarakat ketika menemukan adanya indikasi terjadinya tindak pidana perbankan kredit fiktif itu sendiri. Dalam bentuk sejumlah aturan-aturan yang mengatur mengenai good corporate governance di industri perbankan, khususnya di bidang Penyidikan dengan diterbitkannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22/POJK.01/2015 Tentang Penyidikan Tindak Pidana di Sektor Jasa Keuangan, Peraturan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 3/PDK.01/2015 tentang Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana di Sektor Jasa Keuangan dan Surat Edaran Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 3/SEDK.01/2015
19. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Window dressing?
Jawaban:
Window dressing dalam pengertian pasar modal, akuntansi dan keuangan diartikan sebagai suatu rekayasa akuntansi sebagai upaya menyajikan gambaran keuangan yang lebih baik daripada yang dapat dibenarkan menurut fakta dan akuntansi yang lazim. Caranya dengan menetapkan aktiva atau pendapatan terlalu tinggi dan menetapkan kewajiban atau beban terlalu rendah dalam laporan keuangan. Bahwa Window dressingi ini kerap kali dilakukan oleh industri perbankan untuk memperoleh laporan keuangan yang lebih cantik sehingga dapat digunakan untuk menghindari pertambahan modal yang seharusnya dilakukan oleh Bank terkait dengan NPL (Non Perfoming Loan) yang tinggi sehingga akan mempengaruhi CAR (Capital Adequate Ratio) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan sebagai batas sebuah Bank dianggap sehat.
Bahwa dalam rangka membuat fenomena untuk membuat laporan sebuah Bank menjadi lebih “Cantik”, maka seringkali Bank mengunakan pola Kredit Fiktif yang digunakan untuk menutupi kredit macet yang terjadi di Bank tersebut, sehingga secara performance Bank akan terlihat masih baik walaupun kenyataannya seharusnya kredit macet tersebut harus sudah dibebankan (dibiayakan) dan menjadi kerugian Bank.
B. Kepala bagian Fiskal Moneter dan Devisa (Fismondev) Ditreskrimsus Polda Sumatera Utara yaitu AKBP Alamsyah Parulian Hasibuan, S.Ik., MH Kasubdit II Fismondev Ditreskrimsus Polda Sumatera Utara.
Daftar Pertanyaan yang diajukan dalam wawancara kepada AKBP Alamsyah Parulian Hasibuan, S.Ik., MH Kasubdit II Fismondev Ditreskrimsus Polda Sumatera Utara:
1. Menurut Pasal 49 ayat (1) UU No 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan Kepolisian Republik berhakpengawasan sektor jasa keuangan di lingkungan OJK, diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana. Bagaimana koordinasi Kepolisian dengan pihak OJK dalam penyidikan tindak pidana perbankan?
Jawaban:
Yang menjadi koordinasi Kepolisian dengan pihak OJK dalam penyidikan tindak pidana perbankan adalah:
a. Terkait yurisprudensi teknis tatis perbankan;
b. Permintaan data terkait usaha/perbankan;
c. Sebagai permintaan ahli di bidang perbankan. (Karena dalam hal ini Kepolisian tidak dapat menangani karena harus adanya keterangan Ahli untuk memperkuat/memperbanyak alat bukti Penyidik).
2. Sudah berapa banyak kasus tindak pidana perbankan yang ditangani oleh
2. Sudah berapa banyak kasus tindak pidana perbankan yang ditangani oleh