• Tidak ada hasil yang ditemukan

B BAB VIII AB VIII AB VIII AB VIII AB VIII

Dalam dokumen Sejarah Peradaban Islam (Halaman 127-133)

BB

BBAB VIIIAB VIIIAB VIIIAB VIIIAB VIII

PERKEMBANGAN PRANATA

SOSIAL ISLAM

P

ranata sosial adalah sistem tingkah laku sosial yang bersifat resmi serta adat istiadat dan norma yang mengatur tingkah laku manusia dalam bermasyarakat. Pengertian ini memberi petunjuk bahwa pranata sosial itu sebenarnya identik dengan hukum atau peraturan yang berlaku pada masyarakat.

Pranata sosial Islam telah mengalami perkembangan sejak masa Rasul SAW., yang disebut dengan masa pertumbuhan, kemudian berlanjut pada masa khulafa al-Rasyidin, masa tabi’in, masa pembangunan mazhab, masa taklid dan jumud, serta maka kebangunan kembali pada masa modern.

Pada masa Rasul SAW, pranata sosial baru pada peletakan dasar yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Pada masa ini pranata sosial Islam tumbuh dengan diberi dasar-dasar wahyu sebagai pondasi bagi perkembangan selanjutnya. Peletakan dasar-dasar pranata sosial melalui wahyu ini mencakup masa Mekkah dan masa Madinah.

Pada masa Mekkah, pranata sosial Islam mengarahkan pada pembinaan

Aqidah dan Akhlaq, menyeru manusia untuk mengakui keesaan Allah

dan membenarkan keutusan Nabi Muhammad saw.

Wahyu menerangkan belbagai kisah umat terdahulu dan mengajak manusia berfikir serta memperhatikan alam sekelilingnya guna memalingkan manusia dari pengaruh-pengaruh jahiliyah, seperti pembunuhan, perzinahan,

penguburan anak-anak perempuan hidup-hidup. Disamping memberi keterangan kepada mereka tentang adab-adab Islam seperti berlaku adil, berlaku ihsan, dan tolong menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan.1 Karena itu jumlah terbesar dari hukum-hukum ibadah diberikan Tuhan baru pada masa Madinah. Wahyu-wahyu yang diturunkan pada masa Mekah hanyalah yang mempunyai hubungan erat dengan aqidah dan akhlaq, seperti mengharamkan bangkai, darah terpancar, binatang yang disembelih untuk selain Allah. Pada masa ini tiga belas tahun lamanya Al-Qur’an menitik beratkan pada perbaikan aqidah dan akhlaq. Pada masa Madinah, Nabi mengarahkan usahanya kepada membina hukum-hukum pergaulan dalam segala aspek kehidupan, baik yang berhubungan dengan perorangan maupun yang berhubungan dengan masyarakat. Di masa Madinah syari’ah ibadah dilengkapi lagi. Di masa ini pula hukum-hukum mu’amalah, jihad, mawaris, wasiat, thalaq, perkawinan, hukum-hukum sumpah, peradilan, dan segala hukum yang kemudian dibicarakan dalam fiqh.

Cara Nabi membina hukum Islam dengan cara tadrij, berangsur-angsur, satu demi satu, bukan sekaligus, tidak dengan jalan dibuat-buat atau memdibuat-buat hukum atas persoalan yang belum pernah terjadi, bukan dengan jalan membayang-bayangkan, dan hukum tersebut tidak pula dibukukan.

Di samping itu Nabi juga melatih para sahabatnya untuk berijtihad guna menetapkan hukum, tetapi tetap dalam pengawasan beliau. Beliau sendiripun dilatih oleh Allah untuk berjtihad, tetapi tetap dalam pengawasan wahyu sehingga bila ijtihad beliau tidak tepat wahyu segera mengoreksinya dan jika tidak ada koreksi dari Allah, berarti ijtihad tersebut benar. Demikian pula halnya untuk pola pikir sendiri-sendiri yang didukung oleh murid-muridnya sebagaimana yang terjadi pada masa berikutnya.2

Pada masa berikutnya, yang disebut dengan masa sahabat kecil dan Tabi’in perbedaan pola pemahaman atas dasar-dasar pranata sosial Islam semakin kelihatan lebih jelas dengan berkembangnya mazhab

1 Hasbi Ash-Shiddiqy, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1971, h. 16.

ahlul hadits dan mazhab ahlul ra’yi. Ulama ahlul hadits mengambil pemahaman

atas dasar pranata sosial Islam berhenti pada nash dan atsar saja, dan mereka tidak menggunakan ra’yu kecuali di waktu sangat darurat.

Mereka itu adalah ulama-ulama hijaz yang dipelopori oleh Sa’id

ibn al-Musayyab. Beliau dan sahabat-sahabatnya berpendapat bahwa

penduduk Haramain adalah orang yang paling dapat dipercaya dalam bidang hadits dan fiqih. Karena itu beliau mengumpulkan segala

atsar-atsar yang ada pada ulama hijaz dan mereka hafal.

Beliau-beliau itu mengumpulkan fatwa-fatwa Abu Bakar, Umar,

Utsman, Ali sebelum masing-masing menjadi khalifah, juga fatwa ‘Aisyah, Ibn Abbas, Ibn ‘Umar, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah, dan putusan-putusan qadhi-qadhi Madinah.

Di antara sebab-sebab ulama hijaz tidak mempergunakan rakyu dalam menetapkan hukum dan berhenti pada nash saja ialah: 3 1. Pengaruh pendirian para sahabat yang menjadi guru mereka yang

tidak mempergunakan qiyas sebelum terpaksa benar seperti Abdullah

ibn ‘Umar.

2. Banyak hadits dikalangan mereka, dalam arti banyak hadits yang mereka percayai kesahihannya karena Madinah jauh dari konflik politik sehingga langka hadits palsu.

3. Tidak banyak masalah hukum baru karena kehidupan Mekah-Madinah

(hijaz) merupakan kelanjutan keadaan masa Nabi dan sahabatnya.

Ulama ahlul ra’yi mengambil pemahaman melalui makna-makna yang dinalar melalui nash. Mereka berpendapat bahwa hukum-hukum

syari’at dapat difahamkan maknanya dan hukum-hukum tersebut

ber-sendikan kepada al-Qur’an dan al-Sunnah.

Mereka tidak keberatan memberi fatwa terhadap masalah-masalah yang tidak diperoleh pada nashnya. Mereka ini adalah ulama-ulama Iraq yang dipelopori oleh Ibrahim al-Nakha’i. Golongan ini berpendapat bahwa hukum-hukum syariat dapat difahami maknanya, melengkapi mashlahat yang kembali kepada para hamba-Nya dan didasari pokok-pokok yang teguh dan illat-illat hukum.

Karena itu, illat-illat hukum serta hikmah-hikmah hukum mereka bahas secara mendalam untuk dijadikan dasar hukum. Mereka menolak hadits yang bertentangan dengan illat-illat itu.4

Diantara sebab-sebab ulama Irak mempergunakan ijtihad demikian adalah : 5

1. Pengaruh pendirian gurunya yang mula-mula mengembangkan

fiqih di Iraq, yaitu Abdullah ibn Ma’ud, salah seorang murid ‘Umar

setelah beliau menjadi khalifah.

2. Karena di Irak banyak terdapat hadits palsu sehingga ulama-ulama Irak sangat selektif dalam menerima hadits. Akibatnya tidak sebanyak

hadits yang mereka yakini kesahihannya, tidak sebanyak yang dimiliki

ulama Hijaz.

3. Irak lebih maju sosial budayanya dibanding hijaz sehingga banyak masalah-masalah baru yang ditemukan yang belum terdapat aturan di zaman Nabi SAW maupun para sahabat beliau.

Pada perkembangan berikutnya, pranata sosial Islam berbentuk

mazhab-mazhab. Seperti mazhab Abu Hanifah, Maliki, Syafi’I, Hambali, Zahiri, maupun Ja’fari. Bila aliran ahlul hadits dan aliran ahlul ra’yi tidak

demikian luas pengaruhnya, maka kemudian fatwa-fatwa dan metode

istinbath hukum yang ditempuh oleh Abu Hanifah, Maliki, Syafi’I, Daud al-Zahiri, dan Ja’far al-Sadiq segera membentuk mazhab.

Hal ini disebabkan pendapat-pendapat mereka dibukukan dan kemudian disebarluaskan oleh murid-muridnya dan mendapat dukungan pemerintahan yang berkuasa di wilayah masing-masing.

Abu Hanifah mempunyai banyak murid di Irak, Syafi’i mempunyai

murid banyak di Mesir, sehingga pendapat diikuti khlayak ramai di Mesir. Demikian pula halnya Malik di Madinah dan Daud al-Zahiri di Andalus, dan Ja’far al-Shadiq di Iran.6

Terbentuknya mazhab-mazhab itu kemudian mengakibatkan timbulnya

taklid dan jumud di dunia Islam sebab murid-murid imam mazhab 4 Ibid, h. 56

5 Ibid, h. 58

itu hanya mengandalkan pada ijtihad gurunya, apalagi pemerintahan mendukung dengan kuat berlakunya suatu mazhab saja di wilayahnya demi untuk kestabilan masyarakat yang diperintahnya, juga untuk kepastian hukum di pengadilan.7

Melihat kebekuan itu, al-Ghazali (w. 1111 M) mencoba menghidupkan kembali semangat ijtihad dengan menjelaskan syarat ijtihad yang tidak seberat yang dikemukakan oleh Imam Syafi’i. Ibn Taimiyah yang hidup dipertengahan abad ke-13 M hingga awal abad ke 14 bahkan memberikan syarat yang lebih ringan lagi sekan sefaham dengan mereka, tidak dapat membangkitkan semangat ijtihad pasa masa itu karena taklid telah demkian kuat menjangkiti kaum muslimin, sedangkan di pihak lain keadaan sosial budaya tidak mengalami perubahan atau statis saja.8

Keadaan demikian terus berlangsung hingga abad ke-19 M. Di abad ke-19 M atau abad ke-13 H barulah gerakan untuk berijtihad mulai mengalami kebangkitan kembali. Faktor penting dari kebangkitan itu adalah perubahan sosial budaya yang dihadapi kaum muslimin yang oleh disebabkan revolusi iptek barat sehingga para ulama Islam yang telah menyadari keadaan itu segera mengadakan introspeksi ke dalam masyarakat Islam dan berusaha merubah kaum muslimin dengan berbagai macam ijtihad mereka guna memajukan kaum muslimin.9

Keterangan yang telah dikemukakan memberikan penjelasan bahwa perkembangan pranata sosial Islam tidaklah independen dengan situasi sosial budaya masyarakat Islam dan faktor-faktor luar yang berakibat ke dalam masyarakat Islam, seperti kita lihat pada kebangkitan kembali gerakan ijtihad mulai dari abad ke-13 H atau abad ke-19 M.

7 Hasbi Ash-Shiddiqy, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam..., h. 149.

8 Ahmad Amin, Zuhrul Islam..., h. 41.

9 Harus Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1991, h. 58.

Dalam dokumen Sejarah Peradaban Islam (Halaman 127-133)