TEMPAT itu sebenarnya, lebih pas disebut seba-gai tempat kebugaran. Habis, kalau disebut panti pijat, kesannya kok seperti kurang elit. Tapi apalah artinya sebuah istilah, mau disebut panti pijat,
tempat kebugaran, rumah penampungan, atau rumah cinta, yang pasti urusannya cuma satu: di dalamnya ada kesenangan yang bermuara pada pelayanan seks. Soal kebugaran, ya itu masuk hitungan bonus. Tamu yang suka dengan sauna-ria, toh tinggal nyebur ke air atau berlama-lama di ruang steam.
Di tempat itu tersedia koleksi gadis cantik yang masih teenage. Di dalamnya juga menyediakan kamar-kamar untuk transaksi langsung di tempat. Menariknya, ternyata bukan cuma satu tem-pat, tetapi ada tiga tempat sekaligus yang berde-katan. Tak kurang dari 200 gadis dikarantina di tiga tempat kebugaran itu. Main-service yang diberikan, tak berbeda jauh dengan sejumlah panti pijat yang tersebar di sudut Kota Jakarta. Ya, " massage" memang menjadi menu utama yang ditawarkan. Dari the real-massage alias pijat urat sampai sex massage,
Sebenarnya, ide untuk mampir di tempat kebugaran atau rumah cinta itu, tiba-tiba saja terlontar dari Donny. Selain karena ingin menun-jukkan pada saya soal fenomena gadis-gadis belia yang terjun di bisnis prostitusi, Donny juga sudah
lama ia tak menyambangi Susan, gadis ber-body
sintal, berambut panjang, dan kulit bersih. Paras muka berbentuk oval telur. Atau dengan lepasnya, pria yang hobi olahraga balap mobil itu menyebut soal keramahan Lusy, dan pandainya melayani tamu dengan canda dan gaya tertawanya yang manja tapi menggemaskan.
"Kayaknya kita mesti mampir. Biar lo nggak penasaran. Lagian, ceweknya ada yang baru-baru. Denger-denger, ada service baru yang gila-gilaan," ceplos Donny sambil terkekeh.
Mobil yang kami kendarai melaju melewati kawasan Monas lalu masuk ke Jalan Gunung Sahari. Kami sengaja mengambil jalur ini untuk menghindari kemacetan di kawasan Harmoni dan daerah Glodok. Setelah melintasi dua lampu merah, kami belok ke kiri menyeberangi sebuah jembatan kecil. Kami memasuki Jalan PJY, Jakarta
Barat.
Tidak seperti yang saya perkirakan, tempat kebugaran itu berada di deretan bangunan ruko. Lebih pas, kalau kawasan itu disebut sebagai komplek ruko. Isinya campur-campur. Dari toko kelontong, restoran, kafe sampai tempat
kebugaran. Tiga tempat kebugaran itu sendiri menggunakan papan nama dalam ukuran lumayan besar. Letaknya saling berdampingan satu sama lain. Masing-masing berinisial PA, LV, dan RO. Kami memarkir mobil di sebelah kiri bangunan PA.
Selain mobil kami, tak kurang dari dua puluh mobil tampak parkir rapi di halaman depan. Area parkir cukup luas dan kira-kira muat untuk
menamping sekitar lima puluh mobil.
Begitu masuk, pemandangan pertama yang saya temui adalah sebuah bar dengan nuansa pencahayaan agak temaram. Tidak terlalu besar, tetapi cukuplah untuk bersantai sambil minum-minum. Kami dipersilakan duduk oleh waiter
yang bertugas.
Dua gadis yang duduk di sofa, letaknya agak membelakangi bar, menyambut kami dengan se-nyuman dan kedipan mata. Wajah mereka masih muda dan fresh! Bentuk tubuhnya juga tidak terlalu besar, malah boleh dibilang kecil dan imut-imut.
Sebenarnya, kami tak perlu bersusah-susah karena Donny sudah punya beberapa calon gadis pilihan yang akan menjadi teman kencannya.
Sebagai tamu yang lumayan sering bertandang, rasa-rasanya kami tak perlu kesusahan untuk men-dapatkan gadis yang cantik dan menjadi
prima-dona di PA.
Akan tetapi lantaran ada kabar kalau ada sejumlah gadis pendatang baru, mau nggak mau, kami menyempatkan diri untuk "cuci mata" seje-nak. Ya, hitung-hitung buat penyegaran.
"Itu Rosa. Baru satu bulan kerja, dari Indra-mayu. Umurnya 19 tahun. Kalau yang kuning langsat itu namanya Mona, baru 17 tahun lho," ucap Pak Aris, yang bekerja sebagai manajer bar. Rupanya, lewat Aris inilah, Donny sering mendapatkan pasokan berita soal gadis-gadis di PA.
Untuk beberapa saat lamanya, kami meng-amati Rosa dan Mona yang direkomendasikan oleh Pak Aris. Lalu, kami mulai melihat keadaan sekeliling. Ramai juga. Selain Rosa dan Mona, masih ada puluhan gadis lain yang memenuhi ruangan bar.
"Yang baru datang ada 25 orang. Sebagian besar dari Indramayu dan Tasikmalaya," bisik Pak Aris.
2 4 1 2 4 0
Di PA, setidaknya ada sekitar seratus gadis yang setiap hari stand-by di lokasi. Sebagian besar dari mereka, dijamin 100% masih gadis belia. Rata-rata berumur antara 15-19 tahun. Mereka yang berumur di atas 20 tahun, paling hanya 30%-nya.
"Yang lain lagi pada kerja. Sebagian ada yang lagi tugas keluar. Ya tinggal ini yang tersisa," sambung Pak Aris sambil melihat ke puluhan "anak didiknya" yang tersebar di bar.
Donny tampaknya tidak mau berpikir lama-lama. Dia menjatuhkan pilihannya pada Rosa. Sementara saya yang baru sekali diajak Donny mampir di PA, lebih suka gambling dengan memilih Mona. Ya, siapa tahu saya mendapatkan berkah besar karena ditilik dari sosoknya, Mona tampak lebih seksi dan cantik.
"Mau langsung di sini atau dibawa keluar, Bos? " tanya Pak Aris.
"Di sini saja, Pak Aris. Males kalau harus
check-in lagi di hotel," jawab Donny.
Kami memang sedari awal sepakat untuk menyelesaikan semuanya langsung di tempat.
Makanya, tanpa banyak bicara lagi, kami memutuskan untuk transaksi "on the spot"!
Daripada makan waktu lagi mencari hotel atau losmen, mendingan yang cepat dan siap saji saja, pikir kami. Lagi pula, kalau dibawa keluar, harganya naik jadi dua atau tiga kali lipat dari bandrol standar.
Sebelum masuk, Donny sempat berbisik kepada saya sembari tersenyum kecil. "Kalau ada tawaran yang 'aneh-aneh', cobain saja. Biar masih ABG, cewek-cewek di sini service-nya jago-jago," bisiknya pelan-pelan sambil memukul pundak saya.
Pak Aris meminta salah satu anak buahnya untuk mengantar kami. Kami dibiarkan memilih kamar yang sudah ada di depan mata. Biar nyaman, kami sengaja menyewa dua kamar VIP yang letaknya berdampingan. Yah, lumayanlah untuk tempat kebugaran sekelas PA. Fasilitas di kamar VIP, setidaknya tidak kalah dengan kamar hotel kelas deluxe.
Musik-musik bernada lembut mengalun lamat-lamat seolah menyusup di antara dinding kamar bercat krem.
Jam di tangan sudah menunjuk pukul delapan lebih lima ketika Mona mcngetuk pintu. Tak terlalu meleset perkiraan saya. Malah, jujur saya katakan, Mona lebih cantik kalau dilihat dari jarak dekat. Bertinggi kira-kira 169 cm, berkulit kuning langsat, dan berambut lurus sebahu.
Di balik sackdress biru muda yang membalut raganya, Mona tampak anggun. Kakinya terbung-kus stocking halus warna cokelat dengan sepatu hitam berhak tinggi.
Semua berjalan perlahan tapi pasti. Dengan gaya bicara berdialek Sunda kental, Mona mulai memperkenalkan diri, berusaha membuat tamu senyaman mungkin dengan membuka obrolan demi obrolan. Setiap kali bicara, ia selalu memperlihatkan senyum ramahnya.
Sambil terus ngobrol, Mona mulai mem-berikan sentuhan magic lewat jari-jarinya. Sen-tuhan itu berupa pijatan-pijatan kecil dan sesekali diselingi dengan cubitan manja.
Pijatan dan cubitan itu hanya basa-basi belaka. Selebihnya, skenario berjalan seperti la-yaknya sebuah transaksi cinta antara tamu dengan gadis-gadis kencan. Seks, ya, memang itulah
244
layanan utama yang diberikan gadis-gadis di PA. Namun, belum juga sesi pijat-memijat itu sampai di penghabisan, dari mulut Mona tiba-tiba saja keluar sebuah tawaran layanan yang membuat wajah saya agak memerah.
"Mau langsung, atau pake body-kissing dulu? Di kasur oke, mau di bawah siraman air, juga boleh," tanya Mona sekalian memberikan opsi pilihan.
"Body kissing apaan?"
"Masak nggak tahu. Kayak body massage lah. Tapi tip-nya. beda dari yang biasa," jawab Mona.
Sebuah tawaran yang sebelum masuk tadi sempat dibisikkan Donny. Rupanya inilah tawaran yang masuk kategori "aneh-aneh" itu. Tawaran
service body kissing; perpaduan antara mandi kucing yang dilanjutkan pada tahapan body massage.
"Terserah kamu saja deh!" jawab saya spontan separuh gemetar.
Body-kissing ternyata memang masuk "pela-yanan ekstra dan istimewa". Makanya Mona me-minta tip dalam jumlah besar. Kalau pelayanan standar saja, Mona biasanya bisa mendapatkan tip
sebesar Rp 200 ribu. Itu berarti, untuk pelayanan ekstra bisa di atas Rp 300 ribu.
"Tapi semua bisa dinego kok. Kalau tamunya baik, ada yang sampai kasih tip Rp 500 ribu. Terserah, Mas deh. Asal jangan di bawah Rp 400 ribu saja," ujar Mona, manja.
Jujur, mungkin karena umurnya masih 17 tahun, gaya bicaranya terdengar lugu dan apa adanya. Belum lagi, ditambah dengan logat Sunda yang masih kental. Tanpa sadar, saya jadi tertawa sendiri. Kontan saja sikap saya itu membuat Mona bertanya-tanya.
"Kenapa tertawa. Saya terlalu muda ya untuk pekerjaan seperti ini?"
"Memang bener umur kamu 17 tahun?" saya balik bertanya.
Kini malah giliran Mona yang tersenyum. Dia hanya mengiyakan dengan anggukan kepala. Dengan sikap polosnya, Mona malah meng-ungkapkan kalau dirinya sudah menjanda sejak umur 14 tahun.
Hah! Saya terperanjat hampir tak percaya.
"Biar kata 17 tahun, jam terbang saya sudah banyak, Mas. Nggak percaya? Kita buktikan saja sekarang," tantang Mona.
Dan detik demi detik berlangsung dengan cepat, bahkan sangat cepat. Di antara bayangan temaram lampu yang membias kamar berukuran tak lebih dari 4 X 4 meter persegi, Mona membuktikan omongannya. Umur, sih, boleh 17 tahun, tapi soal
service, "ampyuuun" deh pokoknya. Mona, Mona!!!