• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

3.8. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Selotong

BPD Selotong merupakan wadah masyarakat yang mempunyai peranan sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Mereka berfungsi untuk membahas dan menyepakati rancangan Peraturan Desa, menghimpun dan menyalurkan aspirasi masyarakat, serta mengawasi kinerja Kepala Desa. Susunan kepengurusan BPD Selotong terdiri dari Ketua BPD, Wakil Ketua BPD, Sekretaris BPD, serta Anggota BPD. Berikut adalah tabel dari struktur kepengurusan BPD Selotong, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat. Berikut adalah sruktur kepengurusan Badan Permusyawaratan Desa Selotong : Tabel 3.12 : Sruktur Kepengurusan Badan Permusyawaratan Desa Selotong

No Nama Jabatan

1 Birusdin, AN Ketua

2 Mat Siam Wakil Ketua

3 Ir. Kamaruddin Sekertaris

4 Sulaiman Anggota

5 Subardi, S.Pd Anggota

6 Saripuddin Anggota

7 Irwan Anggota

BAB IV PENYAJIAN DATA

Pada bab ini penulis akan menyajikan data yang telah diperoleh melalui penelitian di lapangan dengan teknik wawancara dan observasi untuk dideskripsikan sebagai jawaban dari permasalahan yang sedang diteliti. Data yang diperoleh tersebut terdiri dari data primer dan data sekunder.Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan yang telah ditentukan sebelumnya, sedangkan data sekunder ialah data yang diperoleh dari sumber-sumber tertulis yang memperkuat data primer. Adapun permasalahan utama yang akan disajikan dalam bab ini yaitu partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program pembangunan Desa Selotong Kecamatan secanggang Kabupaten Langkat.

4.1. Pelaksanaan Wawancara

Pelaksanaan wawancara dilakukan di beberapa tempat di Desa Selotong Kecamatan Secangggang Kabupaten Langkat seperti Kantor kepala Desa Selotong dan rumah warga Desa Selotong. Wawancara ini dilakukan dengan aparatur pemerintahan Desa Selotong dan sebagian masyarakat yang dianggap memahami secara mendalam terkait dengan permasalahan dalam penelitian ini. Adapun key informan dari penelitian ini adalah Kepala Desa Selotong dan aparatur pemerintahan desa lainnya seperti Sekretaris desa dan Kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD) serta beberapa masyarakat Desa Selotong sebagai informan utamanya.

Dalam melakukan wawancara, peneliti menggunakan tipe wawancara terstruktur. Dimana sebelum memulai wawancara terlebih dahulu penulis menyusun daftar pertanyaan yang akan diajukan. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun disesuaikan dengan variabel-variabel dalam penelitian ini. Namun dalam pelaksanaannya tidak menutup kemungkinan akan munculnya pertanyaan-pertanyaan baru yang dapat menggali informasi lebih dalam dari para informan penelitian.

4.2. Identitas Informan

4.2.1. Identitas Informan Berdasarkan Jenis Kelamin

Identitas informan penelitian yang dilakukan di Desa Selotong mengenai partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program pembangunan desa ini jika dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin dapat dibagi menjadi dua kelas yaitu kelas laki-laki dan kelas perempuan. Hal tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 4.1: Identitas Informan Berdasarkan Jenis Kelamin NO Jenis Kelamin Frekuensi (Orang) Persentase (%)

1 Laki-laki 14 73,68%

2 Perempuan 5 26,32%

Jumlah 19 100%

Sumber:Hasil Penelitian Lapangan 2016

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa keseluruhan informan berjumlah 19 orang, dimana informan berjenis kelamin laki-laki memiliki presentase lebih besar dibandingkan dengan informan berjenis kelamin perempuan. Hal ini disebabkan hampir seluruh aparatur pemerintahan yang ada di Desa Selotong yang merupakan informan kunci dari penelitian ini berjenis

kelamin laki-laki serta anggota masyarakat yang direkomendasikan oleh setiap kepala dusun juga mayoritas berjenis kelamin laki-laki.

4.2.2. Identitas Informan Berdasarkan Usia

Melihat adanya variasi usia dari informan penelitian ini, maka peneliti mengelompokkannya dalam 3 (tiga) kelas. Adapun ketiga kelas tersebut dapat terlihat pada tabel berikut :

Tabel 4.2 : Identitas Informan Berdasarkan Usia

NO Usia (Tahun) Frekuensi (Orang) Persentase (%)

1 31-40 9 47,36 %

2 41-50 8 42,11 %

3 51-60 2 10,53 %

Jumlah 19 100%

Sumber: Hasil Penelitian Lapangan 2016

Berdasarkan tabel di atas dari keseluruhan informan yang berjumlah 19 orang, frekuensi informan terbesar ada pada informan dengan usia antara 31-40 tahun karena usia tersebut dianggap sebagai usia paling produktif untuk memberikan partisipasi terhadap pelaksanaan pembangunan yang ada di Desa Selotong meskipun jarak persentasenya hampir sama dengan informan yang memiliki usia antara 41-50 tahun.

4.2.3. Identitas Informan Berdasarkan Jenjang Pendidikan

Dalam penelitian ini penulis mengklasifikasikan identitas informan menjadi tiga (3) bagian yaitu jenjang pendidikanSekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat, Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat, dan Sarjana (S1). Secara lebih rinci terdapat dalam tabel berikut :

Tabel 4.3 : Identitas Informan Berdasarkan Jenjang Pendidikan NO Tingkat Pendidikan Jenjang Persentase (%)

1 SMP 2 10,52 %

2 SMA 12 63,16 %

3 Sarjana (S1) 5 26,32 %

Jumlah 19 100%

Sumber: Hasil Penelitian Lapangan 2016

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa informan dengan jenjang pendidikan dengan presentase tertinggi adalah informan dengan jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat dengan presentase sebesar 63,16%. Namun demikian apa pun jenjenag pendidikan informan tersebut tidak mengurangi kesempatan siapa pun untuk memberikan partisipasinya terhadap pelaksanaan program pembangunan di Desa Selotong.

4.2.4. Identitas Informan Berdasarkan Pekerjaan

Dalam penelitian ini peneliti mengklasifikasikan identitas informan berdasarkan pekerjaan menjadi beberapa bagian. Secara lebih rinci terdapat pada tabel berikut :

Tabel 4.4 : Identitas Informan Berdasarkan Pekerjaan

No Nama Pekerjaan

1 Misdi, S.Ag Kepala Desa Selotong 2 Nurasiah, SH Sekertaris Desa 3 Cipto Pegawai Negeri Sipil

4 Legiman KAUR Pembangunan

5 Sunario Kepala Dusun I

6 Rahmat Kepala Dusun II

7 Abd. Aziz Kepala Dusun III 8 Hasanuddin Kepala Dusun IV

9 Sudar Kepala Dusun V 10 Timbal Waluyo Kepala Dusun VI 11 Amaruddinsyah Kepala Dusun VII 12 Wagianto Kepala Dusun VIII 13 Zainal Arifin Kepala Dusun IX

14 Birusdin Ketua BPD

15 Abdul Khoiruddin Guru Honorer

16 Ummi Ida Guru MDA

17 Dewi Guru MDA

18 Indri Ibu Rumah Tangga

19 Yusniar Petani

4.3. Hasil Wawancara

Metode wawancara yang dipilih oleh penulis adalah metode wawancara berstruktur, dimana sebelum memulai wawancara terlebih dahulu penulis menyusun daftar pertanyaan yang diajukan. Namun, di dalam prosesnya tidak menutup kemungkinan akan munculnya pertanyaan-pertanyaan baru yang dapat menggali informasi lebih dalam dari para informan.

4.3.1. Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan di Desa Selotong

Partisipasi masyarakat merupakan suatu keterlibatan nyata masyarakat yang secara sadar ikut dalam melaksanakan suatu program yang sedang dijalankan. Secara spesifik dijelaskan bahwa partisipasi masyarakat tidak hanya berjalan pada pelaksanaan program semata namun ikut serta dalam perencanaan program hingga evaluasi dan pemeliharaan hasil program. Artinya, masyarakat mampu menumpahkan langsung segala tindakan, pemikiran, dan perkataan dalam kegiatan tersebut.

Seturut dengan penjelasan Isbandi (2007:27) bahwa keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada di masyarakat, Pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah, Pelaksanaan upaya mengatasi masalah, dan keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi adalah suatu hal yang mutlak dilakukan untuk menjelaskan penilaian perihal keikutsertaan masyarakat tersebut.

Maka sehubungan dengan hal tersebut untuk mengetahui realita yang terjadi di Desa selotong, peneliti mengajukan pertanyaan “Secara umum bagaimana partisipasi masyarakat Desa Selotong terhadap pelaksanaan program pembangunan di desa ini?” Bapak Misdi S.Ag selaku Kepala Desa Selotong menjelaskan :

“...Secara umum partisipasi masyarakat yang ada di Desa Selotong ini tergolong baik, hampir semua kegiatan dan program yang diadakan oleh desa ditanggapi secara antusias oleh semua masyarakat desa dan hampir semua kalangan yang di Desa Selotong ini menyambut baik program-program pembangunan yang akan dilaksanakan”.

Sejalan dengan jawaban Kepala Desa Selotong tersebut, Bapak Khairuddin salah satu warga Desa Selotong juga mengemukakan jawabannya :

”...Partisipasi masyarakat di Desa ini termasuk cukup baik, apalagi beberapa tahun belakangan sejak diberlakukannya kebijakan pemerintah yang baru mengenai dana desa. Masyarakat sangat menyambut baik kebijakan tersebut dan sangat antusias untuk berpartisipasi membangun desanya menjadi lebih baik lagi.”

Dari dua jawaban informan di atas, terdapat kesamaan jawaban yang mengatakan bahwa pada umumnya partisipasi masyarakat Desa Selotong tergolong baik dalam pelaksanaan program pembangunan desanya.

Partisipasi masyarakat yang konon menjadi prasyarat dalam menjalankan pembangunan, khusus nya desa, kini menjadi salah satu syarat yang juga menjadi prinsip dalam menjalankan suatu program pembangunan. Sejalan dengan kepedulian terhadap ketata pemerintahan yang baik, maka perlunya diberlakukan

good governance dalam setiap kegiatan pemerintahan desa.

Benar adanya bahwa sekarang ini desa tidak bisa berharap pada bantuan dari pusat sebagai “amunisi” maupun rencana program pembangunan. Desa tidak bisa hanya menunggu bola yang akan diberikan namun desa juga harus mampu melakukan gerakan progresif untuk menggapai tujuan desa tersebut. Hal ini sesuai dengan penuturan Adisasmita bahwa desa harus mampu secara mandiri dengan memanfaatkan segala kemampuan internal dengan melibatkan segala komponen desa demi menciptakan tujuan desa.

Kemampuan desa secara mandiri yang tanpa harus mengharapkan secara penuh pengaruh dari luar desa, ternyata sangat memberikan efek positif lebih baik bagi pembangunan desa. Bermodalkan peran serta masyarakat dalam proses pembangunan ternyata mampu menjawab segala kesulitan desa dalam perkembangannya. Mulai dari kekurangan hal paling krusial, yakni dana dapat ditanggulangi melalui peran serta masyarakat melakukan sumbangsih dana tersebut. Berdasarkan pendapat yang diberikan Oakley dan Davis, bahwa peran serta dalam pembangunan desa tidak hanya berpatokan pada dana, melainkan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, pemanfaataan, hingga evaluasi yang

disalurkan dalam kontribusi nyata, berupa pemikiran, tenaga dan materi menghasilkan pembangunan yang jelas bagi perkembangan desa.

Untuk mewujudkan partisipasi masyarakat tersebut, maka diperlukan suatu hubungan yang harmonis antara masyarakat dengan pemerintah desa. Hal ini menjadi hal mutlak dimana 2 elemen tersebut harus memiliki visi dan misi yang sejalan dalam suatu ikatan kemitraan. Tanpa adanya hal tersebut, maka masyarakat akan enggan untuk terlibat serta dalam proses pembangunan desa. Untuk itu diperlukan sebuah jiwa kepemimpinan pemimpin desa yang partisipatif. Gary Yulk menjelaskan bahwa kepemimpinan partisipatif merupakan bentuk kepemimpinan yang dimana pengambilan keputusan dan pelaksanaan keputusan diambil dan dilkukan secara bersama dengan komunikasi dua arah dan mengikutsertakan orang lain dalam aplikasi program. Hal ini menjadi motivasi masyarakat untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan desa. Implikasi yang dirasakan adalah masyarakat dipercayakan juga dalam pengelolaan desa dan menciptakan suasana memiliki desa. Masyarakat dan pemerintah mampu bersinergi mewujudkan pembangunan desa yang partisipastif.

Hal ini berkaitan dengan cara Kepala Desa dalam meningkatkan partisipasi dari warganya, dalam hal ini penulis mengajukan pertanyaan “Bagaimana cara Bapak selaku Kepala Desa Selotong dalam meningkatkan partisipasi dari seluruh masyarakat dalam pelaksanaan program pembangunan yang ada di desa ini?” Bapak Misdi S.Ag pun mengutarakan jawabannya :

“...Sebenarnya ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa, namun menurut saya cara yang paling efektif adalah dengan memberikan pengertian berupa sosialisasi kepada semua elemen

masyarakat akan arti pentingnya partisipasi dari semua masyarakat dalam pelaksanaan program pembangunan guna memajukan desa Selotong menjadi lebih baik lagi seperti yang di dambakan oleh semua pihak”.

Jawaban lainnya atas pertanyaan tersebut disampaikan oleh Bapak Zainal Arifin yang juga salah satu aparatur pemerintahan desa yaitu sebagai Kepala Dusun IX Desa Selotong :

“...Salah satu cara yang dapat dilakukan Kepala Desa Selotong dan aparatur pemerintahan desanya adalah dengan lebih menguatkan sektor ekonomi dalam penyusunan anggaran pembangunan, karena selama ini memang fokus pembangunan masih dalam hal pembangunan fisik saja. Hal ini dianggap penting karena masih lumayan banyak warga Desa Selotong yang lemah ekonominya”.

Dari kedua jawaban diatas terdapat sedikit perbedaan pendapat dimana Kepala Desa Selotong lebih memilih menggunakan cara sosialisasi dan memberikan penertian akan arti pentingnya partisipasi masyarakat desa sementara Bapak Zainal berpendapat sebaiknya lebih dilakukan penguatan pada sektor ekonimi dalam anggaran pembangunan desa.

Gambaran dari Pembangunan desa yang baik adalah pembangunan yang dibangun oleh masyarakat yang dapat menumbuhkan manfaat, rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat dalam mengelola, memelihara, dan menjaga baik setelah program pembangunan tersebut selesai, dan didalam pembangunan desa, partisipasi masyarakat yang harus ditingkatkan dalam pembangunan desa tersebut ada tiga tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan dan tahap evaluasi (pengawasan).

1. Tahap Perencanaan Pembangunan

Tahapan dalam pembangunan desa dimulai dari tahap perencanaan atau biasa disebut dengan Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan). Pada tahapan ini partisipasi masyarakat sangatlah penting untuk mampu berfikir dan memberi pendapat dalam mencari masalah yang ada di desa. Masyarakat dituntut ikut dilibatkan dan turut andil di musrenbang dalam penetapan kebijakan pembangunan desa. Keterlibatan dalam hal ini merujuk pada apakah masyarakat ikut dilibatkan dalam proses penyusuna program-program pembangunan desa.

Sehubungan dengan tahapan pertama ini, penulis mengajukan pertanyaan kepada Bapak Misdi selaku Kepala Desa Selotong “ Apa kiat atau usaha yang Bapak lakukan untuk menghimpun partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan ini?”. Dan jawaban dari Bapak Misdi adalah :

“…Dalam perencanaan pembangunan, partisipasi masyarakat memang merupakan hal yang mutlak ada, karena tanpa partisipasi masyarakat, pembangunan itu tidak akan berjalan. Dan cara yang saya pilih untuk menghimpun partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan ini adalah dengan menampung keluh kesah mereka mengenai kekurangan-kekurangan dalam hal pembangunan yang ada di Desa Selotong ini. Dari semua aspirasi tersebut kemudian saya akan meminta pendapat dari setiap Kepala Dusun untuk memastikan keadaan di lapangan. Namun ada pula warga yang menyampaikan aspirasinya kepada Kepala dusun dimana dia tinggal dan kemudian Kepala dusun terkait menyampaikannya kepada saya. Masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan semua saran yang mereka punya mulai dari hal kemiskinan, kesehatan,

diperbaiki. Seluruh masukan yang diberikan oleh masyarkat akan disampaikan semua di Musrenbang desa ini, gak hanya itu masukan atau ide dari bagian lain juga diterima dan dikumpulkan seperti masukan dari para Tokoh Masyarakat. Lalu ditentukan masukan dan aspirasi mana yang akan dijadikan sebagai prioritas pembangunan. Setelah mendapat prioritas mana dari masukan masyarakat itulah yang akan dimasukkan dalam RKP (Rencana Kerja Pembangunan) Desa yang akan diagendakan di Musrenbang Kecamatan yang akan sangat menentukan alokasi dana desa untuk merealisasikan pembangunan desa”.

Dari penjelasan Kepala Desa Selotong tersebut dapat diketahui bahwa dalam proses perencanaan pembangunan partisipasi masyarakat dihimpun dengan cara menerima aspirasi dan masukan dari masyarakat tersebut melalui kepala dusun yang memimpin masing-masing dusun yang ada di Desa Selotong yang kemudian dihimpun menjadi satu untuk kemudian ditentukan skala prioritas realisasinya dan dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pembangunan Desa untuk dibawa ke Musrenbang Kecamatan.

Tidak terhenti pada masukan dan aspirasi masyarakat, selanjutnya saat diadakannya Musrenbang Desa pun kehadiran dari masyarakat dianggap sangat penting untuk mengetahui program pembangunan apa saja yang akan dilakukan di desanya. Dalam hal ini penulis mengajukan pertanyaan kepada Kepala Dusun 1 Desa Selotong : “Pada saat berlangsungnya MusRenBang Desa siapa saja yang turut berpartisipasi? Dan Bapak Sunario selaku Kepala Dusun I Desa Selotong menyatakan :

“... Musrenbangdes tentunya dihadiri seluruh aparatur pemerintahan Desa Selotong juga termasuk elemen Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan Lembaga Kesejahteraan Masyarakat Desa (LKMD) juga dihadiri oleh hampir seluruh elemen masyarakat yang ada di Desa Selotong, setidaknya stiap dusun yang ada di Desa Selotong ini harus mengirimkan perwakilannya dalam acara tersebut. Musrenbangdes ini juga dihadiri oleh tokoh masyarakat Desa Selotong untuk dimintai pula saran dan masukan untuk pembangunan Desa Selotong ini.”

Jawaban Bapak Sunario tersebut sejalan dengan pernyataan salah satu warga Desa Selotong bernama Bapak Cipto yang peneliti ajukan pertanyaan yang hampir sama yakni : Apakah Bapak sebagai salah satu warga desa Selotong turut berpartisipasi dalam pelaksanaan Musrenbang Desa Selotong ini? Berikut adalah jawaban Bapak Cipto :

“… Setiap tahunnya saya selalu diundang pada acara Musrenbang yang diadakan desa dan saya selalu berusaha untuk datang pada acara tersebut. Acara Musrenbang tersebut biasanya dilakukan pukul 14.00 WIB dan biasanya saya telah menyelesaikan aktifitas pekerjaan saya pada jan segitu sehingga saya dapat menghadiri acara Musrenbang tersebut. Dalam setiap diadakannya Musrenbang desa saya selalu mengusahakan untuk memberikan ide-ide yang saya punya dalam hal pembangunan desa guna dapat ditindaklanjutioleh segenap aparatur desa ini.”

Dari kedua jawaban informan di atas, dapat diketahui bahwa partisipasi masyarakat terhadap pembangunan desanya tepatnya dalam proses perencanaannya tergolong baik karena baik aparatur pemerintah desa dan masyarakat yang ada di desa tersebut memiliki antusias yang besar dalam pelaksanaan Musrenbang desa dengan harapan hasil dari

Musrenbang Desa tersebut dapat diaplikasikan dengan sebaik-baiknya demi kemajuan desa Selotong.

2. Tahap Pelaksanaan Pembangunan

Tahap pelaksanaan merupakan tahap pengaplikasian program-program pembangunan yang telah dipilih sesuai ranking atau prioritas yang paling dibutuhan pada masa ini. Pada tahap pelaksanaan dimana masyarakat juga diharapkan untuk ikut berpartisipasi pada saat pelaksanaan pembangunan, dimana adanya kerjasama antara kepala desa dengan masyarakat dalam proses pelaksanaan program pembangunan. Sehubungan dengan tahap pelaksanaan pembangunan, Ibu Nurasiah selaku sekretaris desa Selotong menjelaskan dalam wawancara pada tahap pelaksanaan pembangunan “Bagaimana partisipasi dari masyarakat dalam tahapan pelaksanaan program pembangunan di Desa Selotong ini?” Ibu Nurasiah menanggapi pertanyaan tersebut dengan jawaban:

“...Tahap pelaksanaan pembangunan ini merupakan lanjutan dari Musrenbang yang telah dilakukan di Desa. Hasil dari Musrenbang Desa akan dituangkan di dalam Rencana Kerja Pembangunan desa. Dan dari situ RKP akan dibawa ke musrenbang kecamatan untuk dimusyawarahkan kembali dan dapat ditentukan alokasi dana yang dibutuhkan dalam pelaksanaannya. Dari situlah kita bisa memulai pengerjaan program pembangunan setelah dana turun ke desa. Setelah dana turun kita mulai membicarakan pelaksanaanya, mulai dari membeli material sampai pengerjaan hingga selesai. Dalam hal ini kita sangat membutuhkan bantuan masyarakat desa untuk ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan pengerjaan program tersebut. Masyarakat dengan keahlian pertukangan sangat membantu dalam hal pembangunan infrastruktur di desa, yaa sudah pasti kita juga

memberikan upah sesuai dengan pekerjaannya sebagai tukang bangunan ini.

Dari wawancara yang peneliti lakukan pada sekretaris desa yaitu Ibu Nurasiah, dapat dilihat bahwa masyarakat mau ikut berpastisipasi dalam pelaksanaan program pembangunan yang jika dilihat butuh tenaga dan waktu yang cukup lama dalam pengerjaannya. Pernyataan di atas disetujui oleh salah seorang kepala dusun di dusun V yaitu Bapak Sudar. Seperti pernyataan Bapak Sudar yang hampir sama dengan Ibu Nurasiah, beliau menyatakan :

“…ohh, dalam pelaksanaan program pembangunan di Desa Selotong ini, saya ikut berpartisipasi dalam pengerasan jalan. Karena saya merasa punya keahlian dalam bidang ini yaa saya juga merasa harus turut membantu, bagaimana pun juga ini untuk kepentingan kita di desa, selagi saya bisa membantu pasti saya lakukan. Tidak sulit menurut saya dalam pengerjaannya, karena material kan sudah disediakan oleh desa dan banyak juga masyarakat yang ikut bantu. Jadi Alhamdulillah bisa ringan jika dikerjakan bersama-sama.”

Dari kedua wawancara di atas, dapat dilihat masyarakat juga memberikan dukungan penuh dengan ikut berpartisipasi dalam pembangunan yang ada di desa. Mereka menunjukkan partisipasinya lewat tenaga sehingga bisa meringankan beban bersama.

3. Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi adalah tahap dimana adanya pengawasan dari masyarakat terhadap program pembangunan di desa yang sedang berjalan. Kepala desa harus tetap mengajak masyarakat untuk ikut dalam bentuk

keikutsertaan menilai serta mengawasi kegiatan-kegiatan pembangunan yang sedang dilaksanakan. Demikian juga mengawasi dan memahami pelaksanaan keputusan dan kebijakan yang telah diambil. Dalam hal ini peneliti menanyakan “Bagaimana partisipasi masyarakat dalam tahapan pengawasan atau evaluasi pembangunan di Desa Selotong ini?” Dalam wawancara yang dilakukan kepada Bapak Misdi selaku kepala desa, mengungkapkan :

“…Dalam tahapan evaluasi pembangunan ini, kita punya tim yaitu Tim Pengelola Kegiatan (TPK), jadi tim ini bertugas untuk mengelola semua tahapan pembangunan begitu pula pada tahap evaluasi. Selain dibantu dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tim pengelola ini ada juga perwakilan dari masyarakat. Untuk masyarakat yang paham dan mempunyai keahlian dalam pembangunan pasti akan kita masukan ke tim pengelola kegiatan tersebut. Kalau masyarakat awam, paling kita hanya mensosialisasikan apa saja program yang sedang berjalan dan bagaimana proses maupun progresnya, dengan bantuan dari para gamot jadi masyarakat tetap mengetahu apa saja yang sedang terjadi di desa. Tapi untuk mengevaluasi langsung datang ke kita itu jarang sekali. Mungkin mereka menganggap semua sudah ditangani oleh BPD dan perangkat desa.”

Pernyataan serupa diungkapkan oleh Bapak Birusdin selaku Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) desa Selotong ;

“…kalau partisipasi langsung masyarakat dalam tahapan ini sepertinya kurang yaa. Kita sebagai BPD memang berfungsi sebagai pengawas pembangunan, jadi sebaik mungkin BPD dan perangkat desa mengawasi apa saja program yang sedang berjalan. Dan kita tetap mensosialisasikan pada masyarakat. Tetapi kita tetap mengharapkan semua masyarakat mau ikut serta dalam tahapan

evaluasi ini, kita ingin masyarakat ikut mengawasi pembangunan yang sedang berjalan. Sehingga hasil dari program pembangunan yang telah kita sepakati sesuai dengan kebutuhan semua masyarakat. Untuk kebijakan atau keputusan yang maujana dan perangkat desa ambil, kita mengharapkan masyarakat juga bisa memahami dan mengetahui hal iu.”

Dari hasil wawancara tersebut dapat kita lihat dan simpulkan, bahwa

Dokumen terkait