EKSPERIMEN BARAT MEMBENTUK HUBUNGAN SAINS DAN AGAMA:
D. Melacak Jejak Tuhan Dalam Sains: Prespektif Mehdi Golshani 1 Memposisikan Kitab Suci dalam Memahami Alam.
2. Bagaiamana Cara Islami dalam Memahami Alam ?
Jika penafsiran sains seperti tersebut di atas dipakai, maka seorang ilmuan akan mendekati alam dengan iman kepada Tuhan. Imannya akan diperkuat oleh kegiatan ilmiahnya. Dengan demikian, kajian tentang alam dengan sendirinya akan membawa kepada Tuhan. Atau dalam ungkapan lain, semua bentuk ciptaan Tuhan di alam semesta ini adalah sebuah jalan untuk menuju Tuhan. Inilah kemudian yang disebut oleh Abuddin Nata dengan penerapan konsep tauhîdi dalam arti seluas-luasya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Yunus [10]: 101:
ﹺﻞﹸﻗ
ﹾﺍﻭﺮﹸﻈﻧﺍ
ﺍﹶﺫﺎﻣ
ﻲﻓ
ﺕﺍﻭﺎﻤﺴﻟﺍ
ﹺﺽﺭَﻷﺍﻭ
ﺎﻣﻭ
ﻲﹺﻨﻐﺗ
ﺕﺎﻳﻵﺍ
ﺭﹸﺬﻨﻟﺍﻭ
ﻦﻋ
ﹴﻡﻮﹶﻗ
ﱠﻻ
ﹶﻥﻮﻨﻣﺆﻳ
Artinya: “Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".35
Manusia sebenarnya telah memikirkan hakekat dan eksistensi Tuhan dalam alam raya ini baik dalam bentuk eksplorasi ilmiah ataupun hanya sekadar wacana keilmuan. Upaya sains berdimensi teologis dalam mempelajari alam dipandang sebagai upaya untuk memahami kreasi Tuhan. Bahkan, masalah penciptaan alam semesta selalu dikaitkan dengan masalah eksistensi Tuhan.
Bagi Golshani mencari ilmu tidaklah terbatas pada ajaran khusus syariah, akan tetapi juga berlaku untuk setiap pengetahuan yang dapat menjadi alat untuk mengetahui serta mendekatkan diri pada Tuhan. Karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dijadikan sebagai alat untuk mengetahui dan mendekatkan diri pada Tuhan, baik ilmu teologi, fisika, biologi dan sebagainya pada dasarnya adalah alat untuk mencapai pada kedekatan serta pemahaman terhadap Tuhan dan ciptaan-Nya.
Secara eksplisit ini berarti bahwa ilmu tidaklah terbatas pada belajar prinsip-prinsip dan hukum-hukum agama saja, akan tetapi segala sesuatu yang bermanfaat. Namun, semua itu harus tetap berpegang teguh kepada iman, karena tanpa iman ilmu tidaklah memiliki tujuan, dan hanya kejahilan dan kedzalimanlah kemudian yang muncul.
Golshani menyatakan bahwa dalam Islam, Tuhan menurunkan pengetahuan (sumber informasi) kepada manusia melalui dua kategori. Kategori pertama, yaitu pengetahuan itu lewat wahyu yang sifatnya “given” dan dalam bentuk kata verbal. Pengetahuan ini berupa ayat suci Al-Qur’an yang menjadi rujukan dan doktrin ajaran yang menyemangati kualitas hidup manusia ke jalan yang lurus. Sementara ketegori yang kedua, yaitu pengetahuan yang berasal dari hamparan alam semesta (kauniyah). Sumber pengetahuan kauniyah termasuk ‘‘âdah al-‘âlam” yang berhubungan dengan fungsi dan kemanfaatan alam ini diciptakan untuk manusia. Dua pengetahuan ini sama-sama menjadi perantara manusia untuk meyakini bahwa Tuhan itu benar-benar eksis.36
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Allah Swt. menciptakan alam semesta beserta isinya dan juga manusia, sebenarnya untuk menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya. Allah ingin manusia mengenal-Nya.37 Akan tetapi, banyak manusia yang masih ingkar dan tak pernah tunduk akan kekuasaan- Nya. Ini semua dikarenakan karena mereka belum mengenal Allah Swt dengan iman, hati dan pikiran.
Menurut Golshani, dalam pendangan Al-Qur’an ada tiga saluran untuk mengetahui alam:
1. Melalui indra-indra lahiriah yaitu kesan-kesan yang diterima oleh panca indra melalui eksprimentasi dan observasi;
2. Melalui penggunaan akal. Menurut Al-Qur’an, eksprimen dan observasi adalah perlu untuk memperolah pengetahuan mengenai dunia luar, tetapi hal itu tidaklah memadai untuk menafsirkan dan mengorelasikan data eksprimental. Dalam kenyataannya, hal yang membedakan manusia dan binatang bukanlah indra eksternal mereka, melainkan penalaran dan perenungan atas data emperis.
3. Intuisi. Dalam pandangan Al-Qur’an disamping ekprimentasi dan penggunaan akal, ada cara lain untuk memperoleh pengetahuan tentang realitas dunia. Yaitu intuisi, yang merupakan cara yang tidak bisa diperoleh oleh setiap orang dan di setiap waktu. Pada level yang tinggi ia bisa berbentuk wahyu, yaitu untuk para Nabi, sementara pada level yang rendah ia berwujud ilham yang terkadang dilihat pada sebagian orang yang berilmu.38
Seiring dengan itu, paling tidak ada dua jalan utama yang dapat ditempuh untuk mengenal Allah Swt. Pertama, dengan memperhatikan ayat-ayat Qauliyyah yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an. Kedua, dengan memperhatikan ayat- ayat Kauniyyah yang terbentang luas di alam semesta ini, bahkan dalam diri kita sendiri. Misalnya terdapat dalam ayat: “ َنوُoِpْqُr َmَbَأ ْfُhِiُjkَأ `ِbَو” “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (QS. Al-Zãriyat [51]: 21).39
Hal ini relevan dengan apa yang terdapat dalam wahyu, di mana konsep ilmu dijelaskan sangat luas tidak terbatas pada ilmu-ilmu kalam ataupun teologi saja, banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang pentingnya mencari ilmu baik ilmu tentang alam maupun sosial yang semuanya dalam satu tujuan, yaitu sebagai alat untuk ber-taqarrub kepada Tuhan.
Dalam pandangan Islam, sains dan agama memiliki dasar metafisika yang sama yaitu mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifatnya kepada umat manusia. Dengan demikian, seseorang dapat mempertimbangkan kegiatan ilmiah sebagai bagian dari kewajiban agama, dengan catatan bahwa ia memiliki metodologi dan bahasanya sendiri.40
Gagasan Golshani ini merupakan tanggapan terhadap kecenderungan banyak ilmuan dikalangan umat Islam ketika berbicara tentang sains modern, diantara mereka sering terjebak pada upaya-upaya tidak produktif. Yaitu pandangan yang hanya sekedar mencocok-cocokkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan teori-teori ilmiah mutaakhir, bahkan pandangan ini melahirkan “sains Islami” yang tidak berlandaskan pada nilai-nilai universal Islam. Seakan-akan “sains Islami” menghendaki adanya laboratorium yang Islami, hukum gerak versi Islam, teori relativitas versi Islam, atau dengan hanya memahami ayat-ayat Al-Qur’an
saja orang kemudian secara serta merta bisa memahami sifat-sifat dan kandungan alam semesta.