21
Asmira berdiri merapat di sisi pintu berpanel, mendengarkan langkah kaki para pelayan yang menjauh. Saat suasana telah sepi, Asmira mencoba pintunya, dan menemukannya tidak terkunci; ia membukanya sedikit, mengamati koridor di luar, lampu minyak berkelip di ceruk-ceruk dinding dan kain permadani dinding cerah yang menempel menghiasi sisa tembok dan juga lantai marmernya yang bercahaya dan bergemerlapan. Tak seorangpun yang berada dekat-dekat sini. Tidak seorangpun, dari tingkatan manapun yang dapat dilihatnya.
Asmira menutup pintunya lagi, dan dengan memunggungi pintu mengamati kamar tamu yang diberikan padanya. Dengan perkiraan kasar, empat atau lima kali lebih luas daripada kamar tidur mungilnya di rumah para leluhur yang diperuntukkan bagi pengawal istana di Marib. Lantai kamar barunya, sama seperti di koridor, dibentuk dari ubin lantai marmer dengan susunan pola-pola rumit. Berdiri menutup satu sisi dinding sebuah dipan megah berlapiskan sutra yang menandingi benda sejenisnya di ruangan-ruangan milik ratu Balqis. Lampu-lampu berpijar hangat di almari-almari kaca dari kayu; di balik sepasang tirai yang menggantung, sebuah kolam mandi berisi air mengepul dengan lembut. Pada meja tiang samping jendela terdapat patung seorang bocah yang sedang memainkan lyre, dibentuk dari perunggu tempa, dari tampilannya yang aneh dan kesan rapuh yang tampak jelas, ia tahu benda itu pasti sudah kuno sekali.
Meletakkan tasnya pada dipan, Asmira berjalan menuju jendela, menyisihkan tirainya ke samping dan berusaha berdiri di birai jendela. Di luar tampak cahaya bintang, dingin dan jernih, seberkas cahayanya jatuh menimpa satu sisi tembok istana bagian timur yang berbidang batu tempel dan berbatu karang di atas bukit Jerusalem. Asmira menjulurkan lehernya mencari birai atau jendela terdekat yang cukup dekat sehingga dapat ia capai dengan cepat pada saat dibutuhkan, tapi hasilnya nihil.
Asmira menarik lehernya kembali, ia menyadari betapa lemah keadaan yang dirasakannya sekarang. Ia belum makan sesuappun sejak tadi pagi, tapi selain itu, yang dirasakannya adalah kegirangan hati yang dingin: mencermati keadaan kedepan, dengan waktu tersisa dua hari sebelum Sheba hilang dari muka bumi, Asmira telah berhasil masuk kedalam istana Solomon, di suatu tempat yang dekat dengan si raja lalim.
Yang dalam hal ini, ia harus mempersiapkan dirinya.
Mengenyahkan keletihannya, Asmira melompat turun dari ambang jendela, pergi ke dipan dan membuka tasnya. Mengabaikan lilin dan kain yang dijejalkan didasar tas, ia mengeluarkan dua belati perak terakhir, yang ditambahkan Asmira pada satu yang sudah terselip di ikat pinggang. Ini adalah sikap yang bijaksana dan hati-hati, walau mungkin tidak akan dibutuhkan. Satu tikaman pisau saja cukup untuk menyelesaikan pekerjaan ini.
Membiarkan jubahnya melambai ke depan untuk menyembunyikan senjata, Asmira menyisir rambutnya dengan jari dan berjalan ke ruangan di balik tirai untuk membasuh muka. Kini ia harus membuat dirinya tampak seperti peran yang akan dimainkannya sekali lagi: pendeta wanita yang manis dan naïf dari Himyar yang datang untuk meminta bantuan dari raja yang arif Solomon.
Kalau si raja secara keseluruhan seperti Khaba yang memuakkan itu, tipu muslihat yang sama akan cukup untuk membodohinya.
Setelah perjalanan terakhirnya kembali ke istana, karpet si penyihir berhenti di depan dua daun pintu besar yang tertutup. Pintu itu tingginya dua belas kaki, dan terbuat dari gelas vulkanik hitam, licin, tanpa hiasan, namun tetap bercahaya. Enam engsel tembaga raksasa mengaitkannya dengan struktur tembok. Dua pengetuk pintu tembaga, berbentuk mirip dua ular yang menelan ekor mereka sendiri, menggantung sedikit lebih tinggi dari jangkauan manusia normal; masing-masing lebih panjang dari lengan Asmira. Di atas dan sekitar pintu terdapat gerbang-masuk berpanel-samping, serambi bertiangnya berdekorasikan relief-relief timbul dalam batu bata bangunan berlapis kaca biru, yang menggambarkan singa-singa, burung-burung bangau, gajah-gajah, dan jin-jin yang sangat mengerikan.
―Aku minta maaf karena harus membawa anda melalui jalan masuk samping yang kecil ini,‖ si penyihir, Khaba, berkata. ―Pintu utamanya dipersembahkan bagi raja Solomon dan Tamu Resmi Negara yang sekali-sekali datang berkunjung dikirimkan oleh rajanya masing-masing. Tapi aku berani menjamin anda akan mendapat perlakuan hormat yang sudah sepantasnya.‖
Selesai berbicara dia menepukkan tangannya, suara yang ringan dan rapuh terdengar. Dalam sekejap mata, pintunya berayun ke dalam, cepat dan tanpa suara, bergerak dengan engsel-engselnya yang licin diminyaki. Dibaliknya tarpampang kesuraman sebuah aula perjamuan yang kelewat luas, dobel tim implet pekerja sibuk bekerja dengan kerekan-kerekan tali. Di antara mereka berjejer-jejer penyangga lentera di kiri dan kanan, didukung dengan rantai suluh kayu panjang yang mencuat dari puncak rangkaiannya. Tiap-tiap ujung suluhnya berpendar oleh nyala api kuning terang. Para imlet menundukkan kepala mereka tanda selamat datang lalu menyingkir ke samping; si karpet bergerak maju perlahan dan turun ke lantai marmer.
Yang membuat Asmira jengkel, ia tidak segera diantar ke hadirat Solomon. Malahan, pelayan bersuara lembut muncul terburu-buru dari balik bayang-bayang. Dan dirinya bersama Khaba digiring menuju ruangan tinggi berpilar yang bertaburkan bantal-bantal dari sutra, dimana anak-anak kecil bermata cemerlang, tersenyum – yang mana asmira meragukan mereka adalah manusia sungguhan seperti penampilan mereka – membawakan mereka anggur dingin.
Setengah jam berikutnya ternyata hampir sama tidak menyenangkannya seperti penyergapan yang menimpa Asmira di jurang: perbincangan panjang mengintidasi bersama si penyihir, yang, sambil terus mendesak Asmira dengan anggur, menjadi semakin dan makin perhatian. Mata lembut, besar si penyihir memandanginya, tangannya yang berkulit pucat didekatkan ke bantal yang membuat Asmira tidak mungkin menyentakkannya. Khaba tetap sopan dan rendah diri, tapi selalu membelokkan permitaan Asmira untuk sesegera mungkin bertemu dengar dengan sang raja, dan selalu mengelak saat ia berusaha menyusun rencana itu. Menggertakkan giginya, Asmira menjaga penampilan luarnya, ia memikat si penyihir dengan ekspresi terengah penuh terimakasih, dan merayunya dengan banjir kata-kata.
―Raja Solomon pasti sungguh-sungguh kuat,‖ ia terengah, ―sehingga bisa mendapatkan orang besar sepertimu dalam anggauta pelayannya!‖ Asmira menelengkan kepalanya dan berpura-pura minum dari pialanya.
Khaba menggerutu. Untuk sesaat antusiasmenya menyusut. ―Ya, ya. Dia sangat kuat.‖
―Oh, sungguh lama menanti saat bicara dengannya!‖
―Kau harus berhati-hati, Nona pendeta,‖ kata Khaba. ―Dia bukanlah jenis pria kebanyakan, bahkan untuk gadis semanis dirimu. Mereka mengatakan, suatu waktu‖ – si penyihir secara naluriah menatap sekitar ruangan berpilar – ―mereka berkata bahwa suatu waktu salah seorang istrinya, gadis Phoenisia yang menawan parasnya, mencecarnya dengan anggur saat mereka tengah berbaring besama di kasur. Saat raja tertidur, ia berusaha keras melepas Cincin. Ia baru sampai pada ruas ke dua saat Solomon terbangun oleh kicauan burung dari luar jendela. Dia berbicara dengan burung itu, seperti yang mungkin sudah kau ketahui. Dan setelah itu, si gadis Phoenisia menghantui pohon eru di Lembah Kidron sebagai seekor burung hantu putih bermata liar yang selalu meneriakkan arti kematian pada seseorang dari rumah kerajaan.‖ Khaba termenung menyesap anggurnya. ―Kau lihat, Solomon bisa menjadi sosok yang mengerikan.‖
Asmira menampilkan ekspresi antusias yang sesuai, tapi dalam hatinya dia berpikir betapa bodohnya si gadis Phoenisia itu, mencoba bergumul melawan Cincin saat satu tebasan dengan pisau sudah mencukupi. Asmira berkata: ―Kukira raja-raja harus bengis dalam melindungi apa
yang menjadi miliknya. Tapi kau adalah jenis orang yang ramah dan halus budi pekertinya, apa tidak, Khaba yang mulia? Omong-omong tentang itu, bagaimana dengan permintaanku tadi? Akankah kau melepaskan dua demon yang telah menyelamatkan nyawaku?‖
Si penyihir melontarkan tangan penuh tulangnya dan memutar bola ma-tanya. ―Pendeta Cyrine, kau sungguh tak berbelas kasihan! Kau tidak bisa ditolak! Benar, ya – kau tidak perlu mengatakannya lagi. Aku akan membebaskan para budak ini dari pelayanannya padaku malam ini juga!‖
Asmira mengedip-kedipkan bulu matanya pura-pura takjub. ―Sumpah, hai Khaba?‖
―Ya, ya, aku bersumpah demi Ra yang agung, dan semua dewa-dewa Ombos – asalkan‖, katanya, bersandar semakin dekat pada Asmira dan menatapnya dengan mata bersinar-sinar, ―sebagai gantinya mungkin kau bisa berbincang bersamaku lagi nanti saat makan malam di istana malam ini. Petinggi lain dari berbagai tempat akan ada di sana, tentu saja; juga teman-teman penyihirku—‖
―Dan Raja Solomon?‖ kali ini, akhirnya, ketertarikan Asmira adalah asli.
―Mungkin, mungkin … itu tak bisa dipastikan. Sekarang, coba lihat – para hamba sahaya menunggu. Ruangan tamu telah dipersiapkan untuk anda. Tapi pertama-tama … segelas anggur lagi? Tidak?‖ Asmira sudah bangkit berdiri saat ini. ―Ah, kau kelelahan. Tentu saja; aku mengerti. Tapi kita harus bertemu lagi saat makan malam,‖ Khaba berkata, dia membungkuk, ―dan – aku percaya – saat itu akan lebih baik lagi mengenal anda.‖
Ketukan terdengar dari pintu. Asmira seketika menjadi siaga. Ia menepuk jubahnya, memeriksa kalau-kalau sabuk pisaunya terlihat, kemudian melangkah menuju pintu dan membukanya.
―Nona pendeta Cyrine,‖ pria itu berkata, ―Saya Hiram, vizier dari Solomon. Saya ucapkan selamat datang di rumah beliau. Kalau-kalau anda bersedia menemani saya, aku bisa mempersembahkan hidangan pada anda.‖
―Terimakasih. Itu pasti akan sangat menyenangkan. Akan tetapi, saya sangat ingin bertemu dengar dengan Solomon. Saya ingin tahu seandainya—‖
mungkin. Tapi untuk saat ini, perhidangan akan dimulai di Aula Penyihir; untuk itu kami mempersilakan anda datang. Silakan …‖ dia memberi isyarat menuju pintu.
Asmira melangkah maju; saat itu juga si tikus putih berdecit terkejut, dia berdiri dengan kaki belakangnya dan bercicit keras-keras di telinga si penyihir.
Dahi si penyihir mengerut; dia menatap Asmira dengan matanya yang berkantung. ―Maafkan saya, Nona pendeta,‖ katanya perlahan. ―Budakku, Tybalt disini, mengatakan bahwa aroma tercemar perak sangatlah kuat terpancar dari diri anda.‖ Di bahu si pria kecil, tikus itu menyeka sungutnya dengan telapak kakinya yang berselaput. ―Katanya, itu membuatnya jadi ingin bersin.‖
Asmira dapat merasakan pisau perak menekan keras pahanya. Ia tersenyum. ―Mungkin yang dimaksud adalah ini.‖ dari balik tuniknya Asmira mengeluarkan kalung perak. ―Ini adalah symbol dari Dewa matahari yang Agung, yang senantiasa membimbing saya sepanjang hidup saya di dunia. Saya sudah memakainya semenjak lahir.‖
Si vizier mengerutkan dahi. ―Mungkinkah anda melepasnya? Itu akan menyakiti makhluk halus semacam Thybal, yang sangat berlimpah ruah diseluruh istana ini. Mereka sangat sensitif pada benda-benda semacam itu.‖
Asmira tersenyum. ―Aduh, malakukan itu akan memperpendek keberuntungan lahiriah saya, dan kemurkaan Dewa matahari akan menimpaku. Kalian tidak punya adat seperti ini juga di Jerusalem?‖
Si penyihir mengangkat bahu. ―Saya tidak ahli dalam hal itu, tapi saya percaya Israelit bersembahyang pada dewa lain. Well, kami semua akan mengikuti kepercayaan anda sebaik yang kami lakukan pada kepercayaan kami sendiri. Tidak, Tybalt – jaga lidahmu!‖ si tikus sudah mengutarakan bermacam protes melengking ke telinga si penyihir. ―Dia adalah tamu; kita harus memberi kelonggaran pada keanehan sifatnya. Nona pendeta Cyrine – silakan ikuti saya …‖
Dia meninggalkan ruangan dan berjalan melintasi lempeng dingin marmer, terbingkai bauran samar cahaya bintang. Asmira mengikuti dekat dibelakangnya. Dari tempatnya bertengger di bahu si penyihir, sang tikus bermata hijau masih terus mengamati Asmira dengan teliti dari atas ke bawah.
Keluar melintasi lorong-lorong istana mereka pergi, si penyihir terpincang sedikit karena jubah putih panjangnya, Asmira mengekor di belakangnya. Berjalan sepanjang koridor yang diterangi barisan obor; menurui anak tangga berlapis marmer; melewati jendela-jendela dengan pemandangan taman-taman berpepohonan yang tampak gelap; melintasi galeri-galeri megah, tidak berisi apa-apa selain alas batu yang menyokong frakmen-frakmen pahatan kuno. Asmira
melihat sekilas pecahan-pecahan itu saat melintasinya. Dia mengenali buatan Mesir, dan gaya-gaya tertentu dari Arab Utara, tapi bentuk-bentuk yang lain tidak diketahui Asmira. Ada patung-patung ksatria, wanita, makhluk halus berkepala binatang, pertempuran, pawai, orang-orang bekerja di ladang …
Sang vizier menyadari inspeksi yang Asmira lakukan. ―Solomon adalah seorang kolektor,‖ katanya. ―Itu adalah nafsu terbesar dalam hidupnya. Dia mempelajari peninggalan dari peradaban-peradaban masa lampau. Lihat disana – kepala yang sangat besar itu? dia adalah firaun Tuthmosis III, diambil dari patung yang luar biasa besar yang didirikan sang firaun sendiri di Kanaan, tidak begitu jauh dari sini. Solomon mendapati frakmen-frakmennya terkubur dalam bumi, dan memerintahkan kami membawa pecahan-pecahannya menuju Jerusalem.‖ Mata si penyihir berkilat dalam sinarnya yang penuh kuasa. ―Apa pendapat anda tentang istana ini, Nona pendeta? Mengesankan, bukan?‖
―Ini, luas sekali. Lebih besar dari kediaman ratu di Himyar, kalau tidak malah sangat indah.‖ Sang vizier tertawa. ―Apakah istana ratu anda dibuat dalam semalam, seperti yang disini? Solomon ingin tempat tinggalnya melampaui semarak kemuliaan Babilonia kuno. Jadi apa yang dia lakukan? Dipanggilnya makhluk halus penghuni Cincin! Makhluk halus itu memerintahkan Sembilan ribu jin menghadapnya. Masing-masing membawa ember dan sekop dan beterbangan dengan sayap kupu-kupu, sehingga suara kerja keras mereka tidak akan membangunkan para istri di harem di bawah bukit. Saat fajar menyingsing di timur, batu terakhir disisipkan ke istana, dan air mulai mengucur dari air-air mancur di taman. Solomon sarapan dibawah rimbun pohon-pohon jeruk yang dibawa dari negeri-negeri timur. Dari awalnya tempat ini merupakan rumah bagi keajaiban, tak ada apapun seperti ini yang dapat kita saksikan di dunia ini!‖
Asmira memikirkan batu bata lumpur mudah pecah menara-menara di Marib yang dengan susah payah dirawat dan terus-menerus ditambal oleh para penghuninya selama berabad-abad, yang sekarang terancam oleh Cincin itu juga. Giginya terkatup erat; tapi, ia masih pura-pura menampilkan nada suara takjub terus-terang. ―Semua ini dalam semalam!‖ kata Asmira. ―Benarkah ini benar-benar hasil perbuatan dari sebuah cincin yang begitu kecil?‖
Sebuah lirikan mata yang berasal dari benda yang sama yang menyipit erat. ―Tentu saja.‖
―Dari mana datangnya?‖
―Apakah dia membuatnya, mungkin?‖
Si tikus bermata hijau bercicit riang gembira. ―Saya kira tidak!‖ si vizier berkata. ―Semasa mudanya Solomon adalah seorang penyihir berkecakapan rendah, belum menjadi seseorang sebesar sekarang. Tapi nafsunya yang berselera besar pada misteri-misteri dari masa lalu berkobar hebat dari dalam hatinya, sebuah cinta terhadap sesuatu yang sudah lama berlalu, saat sihir pertama kali digunakan dan demon pertama dibawa keluar dari lembah terdalam. So-lomon mengoleksi artefak-artefak dari peradaban-peradaban paling awal itu, dan sampailah dia berpergian ke daerah-daerah luas di timur. Cerita itu mengatakan kalau dia tersesat pada suatu hari, dan tanpa sengaja mendatangi suatu tempat reruntuhan kuno, dimana, pada tempat yang tersembunyi dari pandangan kebanyakan orang atau makhluk halus untuk siapa yang tahu berapa lama, dia mendapatkan kesempatan tak disangka-sangka yang membawanya pada cincin itu …‖ si vizier tersenyum muram. ―Saya tidak tahu atau bisa memastikan kebenarannya, tapi untuk yang satu ini saya memang tahu. Sejak saat dia memungut cincin itu, takdir telah menyokongnya lebih daripada pria hidup manapun.‖
Asmira mendesah dengan gaya kewanita-wanitaan. ―Betapa inginnya saya bercakap-cakap dengannya!‖
―Tidak diragukan. Sayangnya anda tidaklah sendirian. Pemohon lainnya banyak yang datang ke Jerusalem membawa misi yang tidak banyak berbeda dari yang anda bawa. Ini dia! adalah anjungan pengamatan tepat di atas Aula Penyihir. Lihat-lihatlah, kalau memang anda ingin, sebelum kita turun ke bawah.‖
Di sisi koridor, ada ruangan kecil ceruk dari batu; di tengahnya ada sebuah bukaan. Di balik bukaan terbentang ruang yang sangat luas, bergemerlapan oleh cahaya. Darinya keluar gelombang besar suara.
Asmira masuk ke dalam ruangan itu, meletakkan tangannya pada batu dinding marmernya yang dingin, bersandar pada jalan masuknya yang kecil.
Jantung Asmira meloncat ke tenggorokannya.
Ia melihat ke dalam sebuah aula yang bukan main besarnya, diterangi oleh bola orb melaya ng. Atapnya dibuat dari balok-balok yang kaya akan kayu, gelap, masing-masing sama panjangnya dengan sebatang pohon. Dindingnya, disisipi oleh tiang-tiang berinskripsi simbol-simbol sihir, yang sudah dilapisi plester dan dilukisi adegan-adegan menakjubkan hewan-hewan dan makhluk-makhluk halus yang sedang menari. Di seluruh aula itu, berjajar deretan-deretan meja berkuda-kuda penyangga, dimana pada masing-masing meja itu sarat akan pria dan wanita
yang sedang duduk, makan dan minum dari peralatan makan bersepuhkan emas. Pinggan-pinggan besar berisi segala jenis makanan diletakkan di hadapan mereka. Jin-jin bersayap putih, menggunakan samaran pemuda-pemuda berambut keemasan, bolak-balik dari meja ke meja, membawa berkendi-kendi anggur. Saat tangan-tangan diangkat, perintah-perintah pun diberikan, mereka berganti-ganti berdatangan, menuangkan kucuran berkilauan merah anggur ke dalam piala-piala yang menunggu.
Orang-orang di meja-meja itu bahkan lebih berwarna dari yang pernah dilihat Asmira di Eliat. Beberapa benar-benar baru bagi Asmira; pria-pria berkulit pucat aneh dengan janggut kemerahan dan pakaian rajut kasar dari bulu binatang, atau wanita-wanita cantik dalam balutan rajutan berobak batu permata. keseluruhan keanekaragaman yang luar biasa itu duduk dan makan, atau minum, atau saling berbicara dengan sesama mereka, sementara tinggi di atas, di pusat dindingnya yang berplester, di antara jin-jin yang berlompatan, lukisan raja mengawasi mereka semua. Dia digambarkan sedang duduk di atas singgasananya. Matanya gelap, wajahnya kuat dan tampan; sorot cahaya lemah terpancar dari dirinya. Dia menatap lurus ke depan dalam pancaran ketenangan dan kekhidmatan agung yang mulia, di jarinya dia mengenakan Cincinnya.
―Semua perutusan itu,‖ si vizier berbicara dengan nada kering di bahu Asmira, ―ada disini untuk memohon pertolongan dari Solomon, seperti halnya anda. Semuanya, seperti anda, membawa masalah-masalah yang sepenuhya penting untuk diperbincangkan. Jadi anda akan tahu bahwa persoalan-persoalan yang mereka bawa itu adalah urusan-urusan yang harus diperlakukan dengan hati-hati agar bisa diterima oleh semua orang. Jadi sampai saat ini, kami berusaha untuk memenuhi kebutuhan setiap orang makan dan minum selama masa penantian giliran mereka. Banyak yang terpuaskan; beberapa bahkan melupakan urusan yang membawa mereka kemari.‖ Dia terkekeh. ―Mari kalau begitu, anda akan bergabung bersama mereka semua. Kami punya tempat yang sudah disiapkan khusus untuk anda.‖
22
Makanannya, setidaknya, enak, sehingga untuk beberapa waktu Asmira tak merasakan apapun kecuali daging panggang, buah anggur, kue isi madu dan anggur merah tua. Suara berisik aula itu meliputi diri Asmira; ia merasa terkurung seperti kepompong olehnya, terbekap kemuliaannya. Akhirnya, dengan rasa sakit diperut dan uap panas di kepalanya, ia duduk bersandar dan melihat sekelilingnya. Si vizier benar. Di tempat semacam ini akan sangat mudah bagi siapapun untuk melepas tujuan awal yang membawanya datang kemari. Ia melirik dengan mata disipitkan pada figur agung duduk bersinggasana yang terlukiskan pada dinding aula: bisa jadi, inilah yang sesungguhnya yang diinginkan oleh Solomon.
―Kau orang baru, ya?‖ seorang pria di sebelah Asmira berkata. Dengan pisaunya, dia menusuk selapis tipis potongan daging dari pilihan yang ada di piringnya. ―Welcome! Cobalah tikus jerboa ini!‖ dia berbicara bahasa arab, tetapi dengan fleksi aneh.
―Terimakasih,‖ kata Asmira. ―Aku sudah kenyang. Apa kau kesini untuk bicara dengan Solomon?‖
―Pastinya. Butuh pembangunan dam di hulu desa kami. Di desa kami persediaan airnya cukup untuk musim semi, tapi hilang dengan cepat. Pada saat kemarau semuanya kering. Sekali sentuh cincin cukup untuk mengatasinya. Hanya butuh sedikit afrit, atau satu marid, mungkin dua.‖ Dia menggigit dan melanjutkan mengunyah. ―Dirimu?‖
―Sesuatu yang serupa.‖