• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat 42 meter di atas permukaan laut. Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari sampai Juni 2014.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah kecambah kelapa sawit, polibag 5 kg, pupuk hayati cair formula FS01, NPK 15-15-15, dan air. Jenis – jenis mikroba feng shou atau komposisi yang terdapat dalam pupuk feng shou antara lain : mikroba pelarut fosfat (1,52 x 109 Cfu/ml), Azospirillum Sp. (8 x 107 Cfu/ml), Azotobacter Sp. (9 x 107 Cfu/ml), Pseudomonas Sp. (1,9 x 105 Cfu/ml), bakteri selulotik (2,5 x 104 Cfu/ml) dengan pH 6,5.

Alat yang digunakan adalah cangkul, tugal, label sampel, plank blok, tali plastik, ember, pisau, plakat nama, meteran, timbangan analitik, gembor, selang air, alat tulis dan kalkulator serta peralatan lain yang mendukung pelaksanaan penelitian ini.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan 3 ulangan, yaitu :

Faktor I : Pupuk Hayati (F) dengan 4 taraf perlakuan konsentrasi, yaitu : F0 = tanpa pupuk hayati

F1 = pupuk hayati 5 ml/liter larutan F2 = pupuk hayati 10 ml/liter larutan F3 = pupuk hayati 15 ml/liter larutan

Faktor II : Pupuk NPK (N) dengan 4 taraf perlakuan dosis, yaitu : N0 = tanpa pupuk NPK

N1 = Pupuk NPK 2,25 g/tanaman N2 = Pupuk NPK 4,5 g/tanaman N3 = Pupuk NPK 6,75 g/tanaman

Diperoleh kombinasi perlakuan sebanyak 16 kombinasi, yaitu : F0N0 F1N0 F2N0 F3N0 F0N1 F1N1 F2N1 F3N1 ` F0N2 F1N2 F2N2 F3N2 F0N3 F1N3 F2N3 F3N3 Jumlah ulangan = 3 Jumlah kombinasi = 16

Jumlah petak penelitian = 48

Jumlah sampel/ petak penelitian = 3

Jumlah tanaman / petak penelitian = 5

Jumlah sampel seluruhnya = 144 tanaman

Jumlah tanaman seluruhnya = 240 tanaman

Jarak antar blok = 50 cm

Jarak antar petak penelitian = 30 cm

Ukuran petak penelitian = 100 cm x 100 cm

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linier sebagai berikut:

i = 1, 2, 3 (r) ; j = 1, 2, 3, 4 (t) ; k = 1, 2, 3, 4 (t)

dimana: Yijk = Hasil pengamatan pada blok ke-i yang diberi pemberian pupuk hayati cair pada taraf ke- j dan pupuk NPK pada taraf ke-k

µ = Nilai tengah

ρi = Pengaruh blok ke-i

αj = Pengaruh pemberian pupuk hayati cair pada taraf ke- j

βk = Pengaruh pemberian pupuk NPK pada taraf ke-k

(αβ)jk = Pengaruh interaksi pemberian pupuk hayati cair pada taraf ke- j dan pupuk NPK pada taraf ke-k

εijk = Pengaruh galat pada blok ke-i yang mendapat perlakuan pemberian pupuk hayati cair pada taraf ke- j dan pupuk NPK pada taraf ke-k

Data hasil penelitian pada perlakuan yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5%.

Persiapan Areal

Areal penelitian dibersihkan. Lahan diukur dan dilakukan pembuatan petak penelitian dengan ukuran 100 cm x 100 cm dengan jarak antar petak penelitian 30 cm dan jarak antar blok 50 cm.

Persiapan Naungan

Dibuat naungan dari bambu sebagai tiang dan daun nipah sebagai atap memanjang utara-selatan dengan ukuran panjang 22 m, lebar 5 m, dan tinggi 1,5 m.

Persiapan Media Tanam

Dimasukkan media tanam yaitu tanah top soil ke dalam polybeg yang telah ditetapkan di atas.

Penanaman Kecambah

Penanaman kecambah ke dalam polibag dilakukan setelah media tanam siap. Setiap polibag ditanam satu kecambah. Polibag yang telah ditanami kecambah disusun rapi/teratur di atas lahan penelitian sesuai perlakuan.

Aplikasi Pupuk Hayati Cair

Pupuk hayati cair diaplikasikan sebagai perlakuan mulai 2 MST sampai 14 MST. Aplikasi dilakukan dengan mencampurkan pupuk sesuai taraf perlakuan dengan 1 liter air. Aplikasi dilakukan dengan cara menyemprotkan larutan pupuk ke tanah (media tanam ). Aplikasi dilakukan setiap 2 minggu sekali.

Aplikasi Pupuk NPK

Pupuk NPK diaplikasikan pada 4 MST dan 8 MST. Aplikasi dilakukan dengan cara membenamkan pupuk di tanah (media tanam).

Pemeliharaan Tanaman Penyiraman

Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari atau sesuai dengan kondisi hujan di lapangan.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan secara manual dengan mencabut rumput yang tumbuh dalam polibag dan menggunakan cangkul untuk gulma yang tumbuh di plot dan dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara manual. Pengendalian hama dilakukan secara fisik dengan mengambil dan membuang hama yang terdapat di areal penelitian. Pengendalian penyakit tidak dilakukan karena tidak terdapat bibit yang terkena penyakit.

Pengamatan Parameter Tinggi Tanaman (cm)

Tinggi bibit diukur mulai dari garis permukaan tanah hingga ujung daun yang terpanjang dengan menggunakan meteran. Pengukuran tinggi tanaman dilakukan sejak tanaman berumur 4 MST hingga 14 MST dengan interval pengamatan dua minggu sekali.

Diameter Batang (mm)

Diameter batang diukur dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran dilakukan pada dua bagian sisi batang yang diukur diameternya yang kemudian dirata-ratakan. Pengukuran dilakukan sejak tanaman berumur 4 MST hingga 14 MST dengan interval pengamatan dua minggu sekali.

Jumlah Daun (helai)

Jumlah daun yang dihitung adalah seluruh daun yang telah membuka sempurna dengan ciri-ciri helaian daun dalam posisi terbuka ditandai telah terlihatnya tulang-tulang daun seluruhnya bila diamati dari atas daun. Pengukuran jumlah daun dilakukan sejak tanaman berumur 6 MST hingga 14 MST dengan interval pengamatan dua minggu sekali.

Total Luas Daun (cm2)

Pengukuran total luas daun dilakukan pada akhir penelitian dengan menggunakan cara manual yaitu dengan mengalikan panjang dan lebar daun kemudian dikalikan dengan konstanta luas daun kelapa sawit yaitu 0,57 . Luas seluruh daun dari satu bibit kemudian ditotalkan sehingga diperoleh total luas daun yang dimaksud didalam pengamatan terakhir.

Bobot Basah Tajuk (g)

Pengukuran bobot basah tajuk dilakukan pada akhir penelitian dengan mengambil bagian atas tanaman yang terdiri dari batang dan daun-daun pada tanaman sawit. Kemudian tajuk dibersihkan dan ditimbang dengan timbangan analitik.

Bobot Basah Akar (g)

Bobot basah akar diukur pada akhir penelitian, dibersihkan dan kemudian ditimbang dengan timbangan analitik.

Bobot Kering Tajuk (g)

Bobot kering tajuk diukur pada akhir penelitian. Tajuk dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam amplop coklat yang diberi label sesuai perlakuan

dan telah dilubangi, kemudian dikeringkan pada suhu 75°C di dalam oven hingga bobot keringnya konstan.

Bobot Kering Akar (g)

Bobot kering akar diukur pada akhir penelitian. Setelah dibersihkan bahan kemudian dimasukkan ke dalam amplop coklat yang diberi label sesuai perlakuan dan telah dilubangi, kemudian dikeringkan pada suhu 75°C di dalam oven hingga bobot keringnya konstan saat penimbangan.

Rasio Tajuk Akar

Ratio tajuk akar ( shoot / root ratio ) diperoleh dengan membagi bobot kering tajuk dengan bobot kering akar.

Nisbah : Berat kering tajuk Berat kering akar

Hasil

Tinggi Tanaman (cm)

Hasil pengamatan tinggi tanaman pada umur 4 - 14 MST dapat dilihat pada lampiran 1 - 11 sedangkan daftar sidik ragamnya disajikan pada lampiran 2 - 12. Berdasarkan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada 10 MST, sedangkan pada perlakuan pupuk hayati cair serta interaksi antara keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap parameter tinggi tanaman (4 - 14 MST).

Tabel 1. Rataan tinggi tanaman (cm) dengan perlakuan pupuk NPK

Perlakuan Rataan Tinggi Tanaman Umur (MST)

4 6 8 10 12 14

N0 6,60 11,91 15,63 19,47a 23,96 26,55

N1 6,43 11,20 14,94 18,67ab 22,91 25,77

N2 5,97 10,64 14,11 17,46b 22,31 24,84

N3 6,36 11,27 14,59 18,43ab 22,87 25,51

Keterangan: Data yang diikuti notasi yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5%.

Tabel 1 menunjukkan tinggi tanaman paling tinggi diperoleh pada perlakuan pemberian pupuk NPK pada 14 MST (N0) yaitu 26,55 yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan tinggi tanaman paling rendah terdapat pada perlakuan N2 pada 14 MST yaitu 24,84.

Pengaruh perlakuan pemberian pupuk NPK terhadap tinggi tanaman 10 MST digambarkan pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1 Hubungan Dosis Pupuk NPK dan Tinggi Tanaman pada Umur 10 MST Pada Gambar 1 di atas dapat dilihat bahwa dosis pupuk NPK optimum sebesar 0 g dengan tinggi tanaman sebesar 19,47 cm.

Tabel 2. Rataan tinggi tanaman (cm) dengan perlakuan pupuk hayati cair

Perlakuan Rataan Tinggi Tanaman Umur (MST)

4 6 8 10 12 14

F0 6,28 11,19 14,72 18,31 22,76 25,26

F1 6,18 11,20 14,55 18,24 22,91 25,53

F2 6,37 11,00 14,79 18,60 23,19 25,92

F3 6,54 11,63 15,22 18,86 23,19 25,96

Tabel 2 menunjukkan tinggi tanaman paling tinggi diperoleh pada 14 MST, yaitu 25,96 dengan taraf N3 (15ml/liter air) yang berbeda tidak nyata dengan taraf perlakuan lainnya. Sedangkan tinggi tanaman paling rendah terdapat pada perlakuan F0 yaitu 25,26

y = 0,091x2- 0,788x + 19,59 R² = 0,809 17 17,5 18 18,5 19 19,5 20 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 T in g g i T a n a ma n ( cm) Dosis Pupuk NPK (g) 17

Tabel 3. Rataan tinggi tanaman (cm) dengan perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK

Perlakuan Rataan Tinggi Tanaman Umur (MST)

4 6 8 10 12 14 F0N0 6.68 12.17 15.36 18.92 22.86 25.39 F0N1 6.80 12.04 15.82 19.41 23.97 26.60 F0N2 5.46 9.43 13.08 16.79 21.60 24.11 F0N3 6.17 11.13 14.62 18.12 22.60 24.93 F1N0 5.93 11.14 15.21 19.31 23.34 25.77 F1N1 6.69 11.80 14.96 18.16 22.70 25.64 F1N2 5.74 10.94 14.50 17.44 22.71 25.37 F1N3 6.36 10.91 13.52 18.06 22.89 25.34 F2N0 6.62 11.61 15.47 19.34 24.67 27.53 F2N1 6.03 10.32 14.74 19.20 22.82 25.64 F2N2 6.51 11.43 14.98 18.54 22.73 25.01 F2N3 6.30 10.64 13.96 17.31 22.52 25.49 F3N0 7.18 12.71 16.48 20.29 24.96 27.52 F3N1 6.18 10.64 14.24 17.90 22.17 25.20 F3N2 6.18 10.74 13.87 17.06 22.18 24.86 F3N3 6.63 12.40 16.28 20.21 23.46 26.27

Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman kelapa sawit. Biarpun demikian, dapat dilihat bahwa tanaman paling tinggi terdapat pada perlakuan F2N0 pada 14 MST, yaitu 27,53 yang berpengaruh tidak nyata terhadap perlakuan lainnya. Sedangkan tinggi tanaman paling rendah terdapat pada perlakuan F0N2 yaitu 24,11.

Diameter Batang (mm)

Hasil pengamatan diameter batang pada umur 4 - 14 MST dapat dilihat

pada Lampiran 13 - 23 sedangkan daftar sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 14 - 24. Berdasarkan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan pupuk

hayati cair dan pupuk NPK serta interaksi antara keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap diameter batang (4 - 14 MST).

Tabel 4. Rataan diameter batang (mm) dengan perlakuan pupuk hayati cair

Perlakuan Rataan Diameter Batang Umur (MST)

4 6 8 10 12 14

F0 3,47 4,22 5,32 6,43 7,54 8,63

F1 3,47 4,24 5,32 6,42 7,51 8,60

F2 3,41 4,17 5,18 6,20 7,21 8,23

F3 3,48 4,36 5,44 6,54 7,63 8,73

Tabel 4 menunjukkan diameter batang terbesar terdapat pada taraf perlakuan F3 (15 ml/liter air) pada 14 MST, yaitu 8,73 yang berbeda tidak nyata dengan taraf perlakuan lainnya. Sedangkan diameter batang terkecil terdapat pada perlakuan F2 yaitu 8,23.

Tabel 5. Rataan diameter batang (mm) dengan perlakuan pupuk NPK

Perlakuan Rataan Diameter Batang Umur (MST)

4 6 8 10 12 14

N0 3,51 4,25 5,32 6,39 7,47 8,54

N1 3,42 4,21 5,29 6,38 7,47 8,55

N2 3,45 4,26 5,28 6,31 7,34 8,37

N3 3,44 4,27 5,38 6,50 7,61 8,73

Tabel 5 menunjukkan diameter batang terbesar terdapat pada taraf perlakuan N3 (6,25 g/tanaman) pada 14 MST, yaitu 8,73 yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan diameter batang terkecil terdapat pada perlakuan N2 yaitu 8,37.

Tabel 6. Rataan diameter batang (mm) dengan perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK

Perlakuan Rataan Diameter Batang Umur (MST)

4 6 8 10 12 14 F0N0 3.42 4.31 5.43 6.56 7.69 8.82 F0N1 3.41 4.17 5.29 6.42 7.55 8.63 F0N2 3.50 4.25 5.34 6.44 7.53 8.63 F0N3 3.53 4.17 5.24 6.31 7.37 8.45 F1N0 3.51 4.18 5.24 6.30 7.36 8.43 F1N1 3.58 4.22 5.39 6.56 7.73 8.90 F1N2 3.50 4.22 5.21 6.20 7.19 8.18 F1N3 3.29 4.32 5.46 6.60 7.75 8.89 F2N0 3.63 4.32 5.36 6.41 7.46 8.51 F2N1 3.30 4.17 5.19 6.23 7.26 8.29 F2N2 3.41 4.19 5.19 6.21 7.22 8.23 F2N3 3.29 4.01 4.98 5.95 6.92 7.89 F3N0 3.50 4.19 5.24 6.30 7.36 8.42 F3N1 3.39 4.28 5.30 6.32 7.35 8.37 F3N2 3.38 4.38 5.39 6.40 7.41 8.44 F3N3 3.66 4.58 5.85 7.13 8.40 9.68

Perlakuan pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan, namun dapat dilihat diameter batang paling besar diperoleh pada perlakuan pemberian pupuk hayati cair 15ml/liter air (F3) dan perlakuan pupuk NPK 6,25 g/tanaman (N3) pada pengamatan 14 MST. Sedangkan diameter batang terkecil terdapat pada perlakuan F2N3 yaitu 7,89.

Jumlah Daun (helai)

Hasil pengamatan jumlah daun dapat dilihat pada Lampiran 25 - 33 sedangkan daftar sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 26 - 34. Berdasarkan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada 6 dan 8 MST, sedangkan perlakuan pupuk hayati cair serta interaksi antara pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah daun.

Hasil uji beda rataan jumlah daun dengan pemberian pupuk NPK dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Rataan jumlah daun (helai) dengan perlakuan pupuk NPK

Perlakuan Rataan Jumlah Daun Umur (MST)

6 8 10 12 14

N0 0,89ab 1,53a 1,97 3,39 4,00

N1 0,64b 1,22b 1,83 3,31 4,00

N2 1,00a 1,53a 2,03 3,25 3,97

N3 0,94a 1,69a 2,11 3,28 4,03

Keterangan: Data yang diikuti notasi yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5%.

Tabel 7 menunjukkan bahwa pada 6 MST jumlah daun terbanyak terdapat pada taraf perlakuan N2 (4,5 g/tanaman) yaitu 1,00 yang berbeda nyata dengan N1 tetapi berbeda tidak nyata dengan N0 dan N3.

Pada 8 MST jumlah daun terbanyak terdapat pada taraf perlakuan N3 (6,25 g/tanaman) yaitu 1,69 yang berbeda nyata dengan N1 tetapi berbeda tidak nyata dengan N0 dan N2.

Perlakuan pemberian pupuk NPK menunjukkan perbedaan yang signifikan, namun dapat dilihat jumlah daun terbanyak diperoleh pada perlakuan N3 (6,25 g/tanaman) pada 14 MST yaitu 4,03.

Pengaruh perlakuan pemberian pupuk NPK terhadap jumlah daun 6 MST digambarkan pada Gambar 2 berikut.

Gambar 2. Hubungan Dosisi Pupuk NPK dan Jumlah Daun pada Umur 6 MST

Pada Gambar 1 di atas dapat dilihat bahwa dosis pupuk NPK maksimum sebesar 4,5 g dengan jumlah daun sebesar 1 helai sedangkan dosis pupuk minimum sebesar 2,25 g dengan jumlah daun 0,64 helai.

Pengaruh perlakuan pemberian pupuk NPK terhadap jumlah daun 8 MST digambarkan pada Gambar 3 berikut.

y = -0,017x3+ 0,177x2- 0,422x + 0,888 R² = 1 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 Ju ml a h D a u n T a n a ma n ( h e la i) Dosis Pupuk NPK (g) y = 0,030x2- 0,153x + 1,499 R² = 0,829 0 0,5 1 1,5 2 0 1 2 3 4 5 6 7 Ju ml a h D a u n T a n a ma n ( h e la i) Dosis Pupuk NPK

Pada Gambar 3 di atas dapat dilihat bahwa dosis pupuk NPK optimum sebesar 6,25 g dengan jumlah daun sebesar 1,69 helai.

Tabel 8. Rataan jumlah daun (helai) dengan perlakuan pupuk hayati cair

Perlakuan Rataan Jumlah Daun Umur (MST)

6 8 10 12 14

F0 0,89 1,56 1,97 3,28 3,92

F1 0,72 1,47 1,94 3,39 4,11

F2 0,92 1,53 2,03 3,28 3,92

F3 0,94 1,42 2,00 3,28 4,06

Tabel 8 menunjukkan jumlah daun terbanyak terdapat pada taraf perlakuan F1 (5 ml/liter air) pada 14 MST yaitu 4,11 yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan jumlah daun tersedikit terdapat pada perlakuan F0 dan F2 yaitu 3,92.

Tabel 9. Rataan jumlah daun (helai) dengan perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK

Perlakuan Rataan Jumlah Daun Umur (MST)

6 8 10 12 14 F0N0 1.11 1.67 2.00 3.44 3.78 F0N1 0.78 1.33 1.78 3.11 3.89 F0N2 0.89 1.67 2.00 3.11 4.00 F0N3 0.78 1.56 2.11 3.44 4.00 F1N0 0.56 1.44 1.89 3.22 3.89 F1N1 0.56 1.33 1.78 3.67 4.44 F1N2 1.11 1.56 2.11 3.33 4.00 F1N3 0.67 1.56 2.00 3.33 4.11 F2N0 0.89 1.56 2.00 3.44 4.22 F2N1 0.56 1.11 1.89 3.11 3.78 F2N2 1.11 1.67 2.11 3.44 3.89 F2N3 1.11 1.78 2.11 3.11 3.78 F3N0 1.00 1.44 2.00 3.44 4.11 F3N1 0.67 1.11 1.89 3.33 3.89 F3N2 0.89 1.22 1.89 3.11 4.00 F3N3 1.22 1.89 2.22 3.22 4.22

Dari tabel 9 dapat dilihat bahwa perlakuan pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan pada parameter jumlah 23

daun. Namun ada kecenderungan jumlah daun terbanyak terdapat pada perlakuan F1N1 pada 14 MST yaitu 4,44 yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan jumlah daun tersedikit terdapat pada perlakuan F0N0, F2N1, dan F2N3 yaitu 3,78.

Total Luas Daun (cm2)

Hasil pengamatan total luas daun dapat dilihat pada Lampiran 35 sedangkan daftar sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 36. Berdasarkan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK serta interaksi antara pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap parameter total luas daun. Hasil uji beda rataan total luas daun dengan pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Rataan total luas daun (cm2) dengan perlakuan pupuk hayati cair dan

pupuk NPK Pupuk hayati cair

(ml/liter larutan)

Pupuk NPK (g/tanaman) Rataan

N0 = 0 N1 = 2,25 N2 = 4,5 N3 = 6,25 F0 = 0 454,86 563,19 512,60 499,30 507,49 F1 = 5 427,49 650,91 519,25 590,14 546,95 F2 = 10 527,44 463,96 508,72 464,86 491,25 F3 = 15 555,70 455,15 499,03 569,19 519,77 Rataan 491,37 533,30 509,90 530,87 516,36

Dari tabel 10 dapat dilihat bahwa pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK menunjukkan perbedaan yang tidak nyata antar level perlakuan. Meskipun demikian pada perlakuan pupuk hayati cair data total luas daun terbesar terdapat pada F3 yaitu 519,77 dan total luas daun terkecil terdapat pada F2 yaitu 491,25.

Pada perlakuan pupuk NPK total luas daun terbesar terdapat pada N1 yaitu 533,30 dan terkecil terdapat pada N0 yaitu 491,37. Interaksi antara kedua perlakuan menunjukkan total luas daun terbesar terdapat pada perlakuan F1N1

yaitu 650,91 dan total luas daun terkecil terdapat pada perlakuan F1N0 yaitu 427,49.

Bobot Basah Tajuk ( g )

Hasil pengamatan bobot basah tajuk dapat dilihat pada Lampiran 37 sedangkan daftar sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 38. Berdasarkan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK serta interaksi antara pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap parameter bobot basah tajuk.

Hasil uji beda rataan bobot basah tajuk dengan pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Rataan bobot basah tajuk (g) dengan perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK

Pupuk hayati cair (ml/liter larutan)

Pupuk NPK (g/tanaman) Rataan

N0 = 0 N1 = 2,25 N2 = 4,5 N3 = 6,25 F0 = 0 14,45 17,63 15,36 14,79 15,56 F1 = 5 18,84 19,44 16,26 19,87 18,60 F2 = 10 17,68 13,73 15,57 13,71 15,17 F3 = 15 16,36 12,95 13,98 22,60 16,47 Rataan 16,83 15,94 15,29 17,74 16,45

Parameter bobot basah tajuk secara statistik berbeda tidak nyata namun ada kecenderungan bobot terbesar diperoleh pada pemberian pupuk hayati cair 5 ml/liter air (F1) yaitu 18,60 dan terkecil terdapat pada F2 yaitu 15,17. Pada perlakuan pupuk NPK bobot basah tajuk terbesar terdapat pada N3 yaitu 17,74 dan bobot terkecil terdapat pada perlakuan N2 yaitu 15,29. Interaksi antara kedua perlakuan menunjukkan hasil bobot tertinggi terdapat pada perlakuan F3N3 yaitu 22,60 dan bobot terendah terdapat pada perlakuan F2N3 yaitu 13,71.

Bobot Basah Akar (g)

Hasil pengamatan bobot basah akar dapat dilihat pada Lampiran 39 sedangkan daftar sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 40. Berdasarkan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK serta interaksi antara pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap parameter bobot basah akar.

Hasil uji beda rataan bobot basah akar dengan pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Rataan bobot basah akar (g) dengan perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK

Pupuk hayati cair (ml/liter larutan)

Pupuk NPK (g/tanaman) Rataan

N0 = 0 N1 = 2,25 N2 = 4,5 N3 = 6,25 F0 = 0 4,03 5,49 4,52 3,29 4,33 F1 = 5 4,74 4,56 4,35 4,49 4,54 F2 = 10 3,29 3,33 4,85 4,01 3,87 F3 = 15 3,54 3,74 4,15 5,08 4,13 Rataan 3,90 4,28 4,47 4,22 4,22

Tabel 12 menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk hayati cair dan pupuk NPK berbeda tidak nyata antar level perlakuan. Meskipun demikian pada perlakuan pupuk hayati cair dapat dilihat bahwa bobot basah akar tertinggi terdapat pada perlakuan F1 yaitu 4,54 dan bobot terendah terdapat pada perlakuan F2 yaitu 3,87. Pada perlakuan pupuk NPK terdapat bobot tertinggi pada perlakuan N2 yaitu 4,47 dan terendah terdapat pada perlakuan N0 yaitu 3,90. Interaksi antara kedua perlakuan menunjukkan data bobot tertinggi terdapat pada perlakuan F0N1 yaitu 5,49 dan data terendah terdapat pada perlakuan F0N3 dan F2N0 yaitu 3,29.

Bobot Kering Tajuk (g)

Hasil pengamatan bobot kering tajuk dapat dilihat pada Lampiran 41 sedangkan daftar sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 42. Berdasarkan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK serta interaksi antara pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap parameter bobot kering tajuk.

Hasil uji beda rataan bobot kering tajuk dengan perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Rataan bobot kering tajuk (g) dengan perlakuan pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK

Pupuk hayati cair (ml/liter larutan)

Pupuk NPK (g/tanaman) Rataan

N0 = 0 N1 = 2,25 N2 = 4,5 N3 = 6,25 F0 = 0 7,77 7,94 7,46 6,65 7,46 F1 = 5 6,89 9,70 7,70 7,16 7,86 F2 = 10 7,30 6,77 7,35 6,95 7,09 F3 = 15 7,62 6,79 6,86 9,48 7,69 Rataan 7,39 7,80 7,34 7,56 7,52

Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa perlakuan dosis pupuk hayati cair dan pupuk NPK menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan pada parameter bobot kering tajuk. Meskipun demikian pada perlakuan pupuk hayati cair dapat dilihat data bobot kering tajuk tertinggi terdapat pada perlakuan F1 yaitu 7,86 dan bobot terendah terdapat pada perlakuan F2 yaitu 7,09. Pada perlakuan pupuk NPK data bobot tertinggi terdapat pada perlakuna N1 yaitu 7,80 dan bobot terendah terdapat pada perlakuan N2 yaitu 7,34. Interaksi antara kedua perlakuan menunjukkan bobot kering tajuk tertinggi terdapat pada perlakuan F1N1 yaitu 9,70 dan bobot terendah terdapat pada perlakuan F0N3 yaitu 6,65.

Bobot Kering Akar (g)

Hasil pengamatan bobot kering akar dapat dilihat pada Lampiran 43 sedangkan daftar sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 44. Berdasarkan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK serta interaksi antara pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap parameter bobot kering akar.

Hasil uji beda rataan bobot kering akar dengan pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Rataan bobot kering akar (g) dengan perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK

Pupuk hayati cair (ml/liter larutan)

Pupuk NPK (g/tanaman) Rataan

N0 = 0 N1 = 2,25 N2 = 4,5 N3 = 6,25 F0 = 0 2,63 3,16 2,85 1,88 2,63 F1 = 5 2,48 3,08 2,81 2,24 2,65 F2 = 10 1,99 2,36 2,60 2,53 2,37 F3 = 15 2,31 2,64 2,69 2,82 2,61 Rataan 2,35 2,81 2,74 2,37 2,57

Dari tabel 14 dapat dilihat bahwa perlakuan dosis pupuk hayati cair dan pupuk NPK menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan pada parameter bobot kering akar. Meskipun demikian perlakuan pupuk hayati cair dapat dilihat bahwa bobot kering akar tertinggi terdapat pada perlakuan F1 yaitu 2,65 dan bobot terendah pada perlakuan F2 yaitu 2,37. Pada perlakuan pupuk NPK dapat dilihat data bobot tertinggi terdapat pada perlakuan N1 yaitu 2,81 dan bobot terendah terdapat pada perlakuan N0 yaitu 2,35. Interaksi antara kedua perlakuan menunjukkan bahwa bobot kering akar tertinggi terdapat pada perlakuan F0N1 yaitu 3,16 dan bobot terendah terdapat pada perlakuan F0N3 yaitu 1,88.

Rasio Tajuk Akar

Data pengamatan dan sidik ragam rasio tajuk akar dicantumkan pada Lampiran 45 sedangkan daftar sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 46, yang menunjukkan perlakuan pemberian pupuk hayati cair dan pupuk NPK serta interaksi antara pupuk hayati cair dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap rasio tajuk akar. Hasil uji beda rataan rasio tajuk akar pada perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Rataan rasio tajuk akar dengan perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK

Pupuk hayati cair (ml/liter larutan)

Pupuk NPK (g/tanaman) Rataan

N0 = 0 N1 = 2,25 N2 = 4,5 N3 = 6,25 F0 = 0 3,25 3,26 2,71 3,70 3,23 F1 = 5 3,31 3,17 2,83 3,57 3,22 F2 = 10 3,72 3,11 2,80 2,89 3,13 F3 = 15 3,45 2,95 2,90 3,26 3,14 Rataan 3,43 3,12 2,81 3,35 3,18

Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa perlakuan pupuk hayati cair dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap rasio tajuk akar. Walaupun demikian terlihat bahwa perlakuan F2N0 menyebabkan rasio tajuk akar tertinggi yaitu 3,72 dan terendah terdapat pada perlakuan F0N2 yaitu 2,71. Perlakuan pupuk hayati cair pada rasio tajuk akar tertinggi terdapat pada perlakuan F0 yaitu 3,23 dan terendah terdapat pada perlakuan F2 yaitu 3,13. Sedangkan perlakuan pupuk NPK pada rasio tajuk akar tertinggi terdapat pada perlakuan N3 yaitu 3,35 dan terendah terdapat pada perlakuan N2 yaitu 2,81.

Pembahasan

Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati Cair terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre Nursery

Hasil analisis data secara statistik menunjukkan bahwa perlakuan pupuk hayati cair berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, total luas daun, bobot basah tajuk, bobot basah akar, bobot kering tajuk, bobot kering akar, dan rasio tajuk akar. Walaupun perlakuan berbagai taraf pupuk hayati cair belum menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter, namun tampak adanya peningkatan yang lebih baik pada perlakuan F1 (5 ml/liter air) yang ditunjukkan pada parameter jumlah daun, total luas daun, bobot basah tajuk, bobot basah akar, bobot kering tajuk, bobot kering akar, dan rasio tajuk akar. Peningkatan lain tampak pada perlakuan F3 (15 ml/liter air) yang ditunjukkan padan parameter tinggi tanaman dan diameter batang. Hal tersebut diduga karena keberhasilan penggunaan jasad hidup yang menguntungkan di bidang pertanian tidak hanya dipengaruhi oleh kuantitas sel yang ada di dalam inokulan, tetapi juga dipengaruhi oleh sumber energi, pengaplikasian inokulan, faktor lingkungan (suhu, curah hujan) dan metode penyimpanan produk sebelum pakai (Suba, 1982,Nifal & Fao, dalam Hanafiah, 1995). Hal ini sesuai dengan pendapat Hakim et al.,(1986) bahwa aktivitas kehidupan organisme tanah sangat dipengaruhi oleh faktor iklim, tanah dan vegetasi. Pengaruh pupuk hayati cair berpengaruh tidak nyata pada tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, bobot basah tajuk, bobot basah akar , bobot kering tajuk, bobot kering akar, dan rasio tajuk akar karena penguraian bahan organik dan unsur hara di dalam tanah terbatas sehingga secara uji statistik menghasilkan pengaruh yang tidak nyata.

Dugaan lain yang sedikit berlawanan yang menyebabkan pemberian pupuk hayati cair berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter dapat juga disebabkan karena penggunaan dosis yang masih terlalu rendah sehingga menyebabkan pengaruh yang diberikan kepada tanaman tidak maksimal karena jumlah mikroorganisme belum cukup untuk secara nyata meningkatkan produktivitas media tanam yang berdampak kepada pertumbuhan tanaman. Hal ini

Dokumen terkait