Identifikasi Salmonella sp. pada Karkas Ayam dari Pasar Tradisional di Surabaya Timur
2. BAHAN DAN METODE Pengambilan dan persiapan sampel
Keywords : identification, chicken carcass, PCR, Salmonella sp.
1. PENDAHULUAN
Kasus infeksi oleh Salmonella sp. merupakan salah satu penyakit yang mengkhawatirkan di Indonesia hingga saat ini. tercatat bahwa diare dan gastroenteritis serta demam tifoid dan paratifoid termasuk dalam tiga besar peringkat utama penyakit yang diderita pasien rawat inap rumah sakit di Indonesia [1]. Salmonella sp. merupakan bakteri Gram negatif yang berbentuk basil dan bersifat anaerob fakultatif. Seluruh anggota Salmonella sp. selain Salmonella bongori merupakan bakteri patogen yang menginfeksi saluran pencernaan. Salmonella sp.
umumnya masuk kedalam tubuh melalui perantara makanan atau minuman [2].
Salmonella sp. dapat dikelompokkan berdasarkan penyakit yang diakibatkannya menjadi dua, yakni kelompok tifoid dan non-tifoid. Kelompok tifoid merupakan Salmonella sp. yang menyebabkan demam tifoid dan paratifoid, yakni S.Typhi dan S.Paratyphi.
Kelompok non-tifoid merupakan anggota Salmonella sp. yang menyebabkan diare dan gastroenteritis, terdiri
atas seluruh serotipe Salmonella sp. selain S.Typhi dan S.Paratyphi [3].
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis Salmonella sp. yang terdapat pada karkas ayam dari pasar tradisional di wilayah Surabaya Timur. Hal tersebut dikarenakan prevalensi jenis dan serotipe Salmonella sp. pada setiap daerah dapat berbeda-beda.
Disamping itu, karkas ayam sebagai bahan makanan yang banyak dikonsumsi di Indonesia diduga merupakan perantara yang baik bagi Salmonella sp.
untuk masuk kedalam tubuh dan menyebabkan terjadinya infeksi pencernaan.
2. BAHAN DAN METODE Pengambilan dan persiapan sampel
Tahap awal adalah pengambilan sampel berupa 15 potong karkas ayam yang dilakukan di 6 pasar tradisional di wilayah Surabaya Timur, yakni Pasar Pacar Keling (PK), Pasar Kendangsari (KS), Pasar Panjang Jiwo (PJ), Pasar Indrakila (IK), Pasar Ambengan Batu (AB), dan Pasar Keputih (KP).
263 Sampel yang didapat kemudian dilakukan persiapan sampel berupa pengambilan bagian daging sebanyak 25 gram dan dilakukan pencacahan secara aseptis menggunakan pinset dan gunting stainless steril.
Isolasi Salmonella sp.
Isolasi bakteri Salmonella sp. dari sampel karkas ayam dilakukan dalam 3 tahap, yakni tahap pre-enrichment, selective pre-enrichment, dan selective plating. Pada tahap pre-enrichment, sampel yang telah tercacah dimasukkan kedalam 225 ml media buffered peptone water (BPW) dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Selanjutnya dilakukan tahap selective enrichment dengan cara mengambil 1 ml hasil pre-enrichment dan masing-masing dimasukkan kedalam media selenite cystine broth (SCB) dan tetrathionate broth (TTB) kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Tahap selective plating dilakukan dengan cara mengambil hasil selective enrichment masing-masing sebanyak 1 ose, kemudian digoreskan pada media Salmonella-Shigella agar (SSA) [4].
Identifikasi Salmonella sp.
Koloni yang tumbuh pada media SSA dilakukan identifikasi screening berupa pemilihan koloni dan uji biokimiawi. Pemilihan koloni dilakukan dengan cara mengamati penampakan koloni yang tumbuh pada media SSA dan memilih koloni yang memiliki penampakan seperti koloni Salmonella sp., yakni berbentuk bulat, tidak berwarna, bagian tengah koloni berwarna kehitaman yang menandakan bahwa terdapat presipitat H2S. Koloni yang terpilih tersebut kemudian dilakukan uji biokimiawi yang terdiri atas uji Triple Sugar Iron (TSI) dan uji IMViC (indol, methyl red, voges proskauer, dan sitrat). Uji ini bertujuan untuk menyeleksi ulang koloni terpilih dengan menguji karakteristik metabolisme biokimiawi. Media yang digunakan dalam uji biokimiawi adalah media TSI agar, SIM medium, MRVP medium, dan Simmons citrate agar [4].
Koloni terduga Salmonella sp. yang lolos penyeleksian tersebut kemudian dilakukan identifikasi definitif menggunakan 2 metode, yakni metode konvensional dan metode molekuler. Identifikasi definitif metode konvensional menggunakan uji serologi sebagai teknik deteksinya dimana uji serologi tersebut dilakukan dengan dua macam kit, yakni kit Latex Agglutination (LA) dan kit Multiple Antisera (MA). Kit LA digunakan untuk memastikan bahwa koloni terduga Salmonella sp. yang lolos identifikasi screening merupakan Salmonella sp. dan setelah
dipastikan bahwa koloni tersebut merupakan Salmonella sp., dilanjutkan pengujian menggunakan kit MA yang berfungsi untuk mengetahui kelompok serotipe dari Salmonella sp. tersebut.
Seluruh koloni yang terbukti sebagai Salmonella sp. pada pengujian dengan kit LA serta telah diketahui kelompok serotipenya dengan kit MA, kemudian dilakukan identifikasi secara molekuler menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk konfirmasi ulang dan mengetahui lebih lanjut apakah isolat Salmonella sp. yang telah diketahui kelompok serologinya tersebut merupakan Salmonella tifoid atau non-tifoid. PCR dilakukan menggunakan reagen berupa PCR mix , primer S139-S141, dan primer prt.
PCR mix yang digunakan dalam penelitian ini adalah TopTaqTM Master Mix Kit merek Qiagen yang merupakan PCR mix yang siap untuk digunakan.
TopTaqTM Master Mix Kit tersebut terdiri atas TopTaq Master Mix (DNA Polymerase, dNTP, dan buffer), Loading Dye (Coral Load Concentrate), dan H2O.
Primer S139-S141 merupakan pasangan primer untuk konfirmasi ulang secara molekuler bahwa isolat tersebut merupakan Salmonella sp. dengan cara mendeteksi gen invA.
Susunan sekuen gen primer S139-F adalah
5’GTGAAATTATCGCCACGTTCGGGCAA 3’,
sedangkan susunan sekuen gen primer S141-R adalah 5’TCATCGCACCGTCAAAGGAACC 3’ dengan amplicon sebesar 284 bp. PCR untuk pasangan primer S139-S141 dilakukan sebanyak 35 siklus dan untuk tiap siklusnya dibutuhkan pola gradient suhu sebagai berikut : tahap denaturasi pada suhu 94oC selama 1 menit, tahap annealing pada suhu 64oC selama 30 detik, dan tahap elongasi pada suhu 72oC selama 30 detik [5]. Sedangkan primer prt merupakan pasangan primer untuk mengidentifikasi apakah isolat Salmonella sp. tersebut termasuk tifoid atau non-tifoid dengan cara mendeteksi gen invA. Susunan sekuen gen primer prt-F 5’CTTGCTATGGAAGACA TAACGAACC 3’, sedangkan susunan sekuen gen primer prt-R adalah 5’CGTCTCCATCAAAAGCT CCATAGA 3’ dengan amplicon sebesar 258 bp. PCR untuk pasangan primer prt dilakukan sebanyak 35 siklus dan untuk tiap siklusnya dibutuhkan pola gradient suhu sebagai berikut : tahap denaturasi pada suhu 94oC selama 30 detik, tahap annealing pada suhu 58oC selama 1 menit, dan tahap elongasi pada suhu 72oC selama 90 detik [6].
Hasil PCR yang didapatkan kemudian dianalisa dengan teknik elektroforesis DNA. Elektroforesis DNA dilakukan menggunakan elektroforesis horizontal dengan gel agarosa konsentrasi 2% dan
264 marker DNA 100bp merek Intron. Gel agarosa hasil elektroforesis tersebut direndam dalam pewarna ethidium bromide selama 30 menit dan selanjutnya difoto pada kondisi disinari sinar ultraviolet (UV) sehingga tampak pita (band) yang merupakan DNA amplicon hasil PCR.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari tahap isolasi terhadap 15 sampel karkas ayam, diketahui bahwa 9 sampel diantaranya mengandung Salmonella sp. Hal ini terlihat dari ditemukannya isolat Salmonella sp. dari 9 sampel tersebut yang terbukti positif pada pengujian serologi menggunakan kit LA dan uji PCR menggunakan primer S139-S141. Sedangkan pada 6 sampel lainnya tidak ditemukan adanya pertumbuhan Salmonella sp.
meskipun ada pertumbuhan bakteri lain. Hal ini dikarenakan seluruh isolat bakteri yang didapatkan dari 6 sampel tersebut terbukti negatif pada pengujian serologi menggunakan kit LA.
Seluruh isolat yang terbukti sebagai Salmonella sp. tersebut kemudian diuji lebih lanjut menggunakan kit MA untuk mengetahui kelompok serotipe. Hasil pengujian menggunakan kit MA tersebut menunjukkan bahwa terdapat 4 sampel yang mengandung Salmonella sp. kelompok serotipe O4, 1 sampel mengandung Salmonella sp. kelompok serotipe O4 dan O7, 1 sampel mengandung Salmonella sp. kelompok serotipe O4 dan O9, 2 sampel mengandung Salmonella sp. non-enterica, dan 1 sampel mengandung Salmonella sp. non-enterica dan kelompok serotipe O7.
Hasil uji PCR menggunakan primer prt menunjukkan bahwa dari seluruh isolat Salmonella sp.
terdapat satu isolat yang merupakan Salmonella sp.
golongan tifoid, sedangkan isolat lain merupakan isolat Salmonella sp. golongan non-tifoid. Hasil uji PCR menggunakan primer S139-S141dan prt terhadap isolat Salmonella sp. tersebut ditampilkan pada Gambar 1. Isolat Salmonella sp. golongan tifoid tersebut merupakan isolat Salmonella sp. kelompok serotipe O9. Hasil identifikasi Salmonella sp. terhadap 15 sampel karkas ayam dapat dilihat secara lengkap pada Tabel 1.
(a)
(b)
Gambar 1. Hasil uji PCR terhadap isolat Salmonella sp.
yang didapatkan dari sampel karkas ayam menggunakan (a) primer S139-S141 dan (b) primer prt
Tabel 1. Hasil Identifikasi Salmonella sp. pada Sampel Karkas Ayam Salmonella sp. yang paling banyak didapatkan adalah Salmonella sp. kelompok serotipe O4 golongan non- tifoid. Berdasarkan data prevalensi Salmonella sp. di negara lainnya, Salmonella sp. kelompok serotipe O4 golongan non-tifoid yang paling banyak ditemukan di karkas ayam adalah Salmonella enterica serotipe Typhimurium. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa Salmonella sp. kelompok serotipe O4 golongan non-tifoid yang paling banyak ditemukan di sampel pada penelitian ini diduga kuat adalah Salmonella Typhimurium [7].
Salmonella sp. kelompok serotipe O9 golongan tifoid yang ditemukan pada sampel PK 3 diduga kuat merupakan Salmonella enterica serotipe Typhi, sebab hanya Salmonella Typhi yang merupakan kelompok 284 bp
258 bp
265 serotipe O9 yang merupakan golongan tifoid.
Salmonella sp. kelompok serotipe O7 golongan non-tifoid yang ditemukan pada sampel PK 1 dan IK 1 diduga merupakan Salmonella enterica serotipe Choleraesuis. Dikarenakan S.Choleraesuis merupakan kelompok serotipe O7 golongan non-tifoid yang cukup banyak ditemukan, namun dapat juga bukan S.Choleraesuis mengingat kelompok O7 merupakan kelompok serotipe yang jarang ditemukan. Sedangkan Salmonella sp. golongan tifoid kelompok non-enterica yang ditemukan pada sampel KS 2, IK 1, KP 1 diduga kuat merupakan Salmonella bongori. Hal ini dikarenakan isolat tersebut terbukti sebagai Salmonella sp. ketika diuji menggunakan kit LA maupun pada uji PCR menggunakan primer S139-S141, namun memberikan hasil negatif saat diuji menggunakan polivalen O dan O1 pada pengujian menggunakan kit MA yang berarti bahwa isolat tersebut bukan Salmonella enterica [8].
4. KESIMPULAN
Dari rangkaian hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa jenis Salmonella sp. yang ditemukan pada karkas ayam di wilayah Surabaya Timur cukup bervariasi. Jenis Salmonella sp. yang paling banyak ditemukan adalah Salmonella sp.
golongan non-tifoid utamanya kelompok serotipe O4 yang diduga kuat merupakan Salmonella Typhimurium. Ditemukan pula Salmonella sp.
golongan non-tifoid yang merupakan kelompok serotipe O7 dan non-serotipe yang diduga merupakan Salmonella Choleraesuis dan Salmonella bongori.
Salmonella sp. golongan tifoid yang ditemukan hanya satu buah, diduga kuat merupakan Salmonella Typhi sebab merupakan kelompok serotipe O9.
DAFTAR REFERENSI
[1] Kementerian Kesehatan RI, “Situasi Diare di Indonesia”, Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan, Triwulan II, 2011, hal. 6.
[2] C. Bell and A. Kyriakides, Salmonella : A Practical Approach to The Organism and Its Control In Foods, Blackwell Science, Ltd.
Oxford, 2002.
[3] M.D. Miliotis and J.W. Bier, International Handbook of Foodborne Pathogens, Marcel Dekker, Inc, New York, 2003.
[4] W.H. Andrews, A. Jacobson, and T. Hammack,
“Chapter 5: Salmonella”, Bacteriological Analytical Manual, US-FDA, 2011.
[5] Malorny, B., J. Hoorfar, C. Bunge, and R.
Helmuth. “Multicenter Validation of the
Analytical Accuracy of Salmonella PCR: towards an International Standard”, Journal of Applied and Environmental Microbiology, Vol. 69, No.1, Jan. 2003, p.290-296.
[6] K. Hirose et al., “Selective Amplification of tyv (rfbE), prt (rfbS), viaB, and fliC Genes by Multiplex PCR for Identification of Salmonella enterica Serovars Typhi and Paratyphi A”, Journal of Clinical Microbiology, Vol. 40, No. 2, Feb. 2002, p. 633–636.
[7] S. Bailey, L.J. Richardson , N.A. Cox, and D.E.
Cosby. “Chapter 7, Salmonella”, dalam Juneja, V.K. and J.N. Sofos, Pathogens and Toxins in Foods : Challenges and Interventions, ASM Press, Washington D.C., 2010.
[8] M.Y. Popoff and L.E.L Minor. “Genus XXXIII:
Salmonella”, dalam G.M. Garrity et al., Bergey’s Manual of Systematic Bacteriology, Second Edition, Volume Two:The Proteobacteria, Part B:The Gammaproteobacteria, Springer Science + Business Media, LLC, New York.
Notulensi Diskusi:
PGO-304,Windra Prayoga dkk, Identifikasi Salmonella sp. pada Karkas Ayam dari Pasar Tradisional di Surabaya Timur
Tanya: Mengapa sampel yang digunakan dalam penelitian menggunakan karkas ayam dari pasar tidak langsung dari RPA? (Abu Bakar, BBLPP, Bogor).
Jawab: Sampel yang digunakan dari hasil pemotongan ayam konvensional atau dari pasar tradisional. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui jenis Salmonella sp. yang paling banyak ditemukan pada karkas ayam di pasar tradisional, untuk dapat dilakukan penanganan yang tepat sehingga bahan pangan tersebut menjadi aman untuk dikonsumsi.
Tanya: Untuk metodologi penelitian apakah ada uji biokimia, kemudian hasil dari identifikasi menggunakan PCR apakah juga di sekuensing?
(Widodo, BPPTP Yogyakarta).
Jawab: Hasil isolasi dilakukan uji bio kimiawi dan uji serologi, kemudian dilakukan identifikasi lebih lanjut menggunakan teknik PCR. Untuk hasil yang positif belum dilakukan sekuensing karena terkendala biaya.
266
Intensitas Iradiasi "Gel Mikro" pada Pemanfaatan Ekstrak Averrhoa Bilimbi Linn sebagai Anti Mikroba dan Alternatif Pengawet Pangan
M. Husain Kamaluddin
1, M. I. Khurniyati
2, K. Rosyidin
1, M. Lutfi
11)Jurusan Keteknikan Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya
2)Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Jl.Veteran, Malang 65145
email : [email protected]
Abstrak - Banyak produk pengawet yang digunakan dalam produk makanan, dimana dapat mengganggu kesehatan tubuh. Sebenarnya Indonesia memiliki banyak kekayaan alam yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut, seperti daun belimbing wuluh yang memiliki komponen antimicrobial yang tinggi. Daun tersebut dapat diekstraksi menggunakan metode iradiasi gelombang mikro. Keuntungan dari metode ini lebih cepat dari metode konvensional dan dapat mengekstrak komponen dari daun belimbing wuluh seperti polifenol.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daya microwave dan volume pelarut pada karakteristik dari ekstrak daun belimbing wuluh. Ini merupakan pengawet alternatif yang dapat digunakan untuk mengawetkan makanan dan sebagai antimikroba. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua perlakuan antara daya microwave dan rasio bahan pelarut aquades dengan pengulangan sebanyak tiga kali.
Analisa data statistik menggunakan ANOVA dan DMRT. Hasil penelitian ini didapatkan satu perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan volume pelarut 450 ml dan daya ekstraksi 280 W yang memiliki rendemen sebesar 82.419%, dan total fenol sebesar 5721.139 (µg/g), uji aktivitas antimikroba sebesar 7.33 (mm) dan KHM ekstrak daun belimbing wuluh pada konsentrasi 80% dan 100%.
Kata Kunci: antimikroba, Averrhoa bilimbi linn, microwave
Abstract - Many synthetic ingredients are used in food products, which can damage the human body gradually.
In the other hand, Indonesia has many natural resources to solve this problem, such as the leaves star fruit (Averrhoa bilimbi linn) that have high content of antimicrobial substances. It can be extracted by microwave irradiation method. The advantages of this method are faster than conventional method and can extract the content of star fruit leaves such as polyphenol compounds. The aim of this research is to study the influences of microwave power and solvent volume on characteristic of leaves star fruit extraction. This alternative preservative can be used for food preservatives and antimicrobials. The research method used a randomized block design (RBD) with two factors ; ratio power of microwave and volume of solvent. Statistical analysis using ANOVA and DMRT. The best treatment was solvent treatment volume of 450 ml and power of microwave of 280 W which average of yield value 82.419%, total phenols 5721.139 (µg /g), the antimicrobial activity 7.33 (mm) and Concentration of Minimum Block on extract of star fruit concentration 80% and 100%.
Keywords: antimicrobial, Averrhoa bilimbi linn, microwave 1. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumberdaya alam, banyak tumbuhan mempunyai khasiat sangat tinggi untuk kehidupan manusia.
Kandungan alam yang ada di Negara Indonesia merupakan suatu keuntungan yang harus bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan bangsa. Banyak kandungan alam yang memiliki khasiat penting bagi kehidupan, dan itu perlu adanya pemanfaatan yang baik untuk menunjang dan meningkatkan suatu ilmu sains untuk Indonesia.
Pada era ini banyak pemakaian bahan non-alami pada produk pangan, dan bisa merusak organ-organ tubuh manusia secara perlahan dalam jangka yang panjang. Hal ini menjadi persoalan penting yang harus dipecahkan dalam mengurangi pemakaian bahan-bahan non-alami pada produk pangan. Pemakaian
bahan-bahan non-alami pada produk pangan memang lebih mudah dan lebih murah untuk digunakan, tetapi dengan memanfaatkan bahan-bahan alami di Negara Indonesia ini yang kaya sumberdaya alam akan meningkatkan produktivitas dan kreativitas anak bangsa yang mampu memberikan suatu ilmu bidang sains yang modern dan berteknologi.
Selama ini pembuatan alternatif pengawet pada pangan tergolong masih bersifat konvensional, akan tetapi dengan pemanfaatan Iradiasi “Gel Mikro”
(gelombang mikro) ini akan memudahkan dan lebih menghemat waktu dibandingkan menggunakan metode konvensional. Penggunaan bahan Averrhoa Bilimbi Linn atau daun belimbing wuluh ini sangat mudah didapatkan dan merupakan inovasi yang tepat sebagai pengembangan ilmu sains dalam bidang alternatif produk pengawet pangan.
267
Salah satu kandungan yang dapat membantu dalam pengawetan makanan adalah tannin, tannin merupakan komponen zat organik derivat polimer glikosida yang terdapat dalam bermacam-macam tumbuhan.
Monomer tannin adalah digallic acid dan D-glukosa.
Ekstrak tannin terdiri dari campuran senyawa polifenol yang sangat kompleks dan biasanya tergabung dengan karbohidrat rendah. Adanya gugus fenol menyebabkan tannin dapat berkondensasi dengan formal dehida. Tannin diharapkan mampu mensubtitusi gugus fenol dan resin fenol formaldehida yang berguna untuk mengurangi pemakaian fenol sebagai sumberdaya alam tak terbarukan [1].
Salah satu bahan alam yang mempunyai kandungan tannin adalah Averrhoa Bilimbi Linn atau belimbing wuluh yang berpotensi sebagai alternatif pengawetan pada pangan. Pemakaian pengawet dari bahan yang alami merupakan solusi yang tepat untuk mengurangi pemakaian bahan pengawet yang bersifat merugikan bagi tubuh manusia. Pada penelitian ini bertujuan untuk memberikan uraian bahan pengawet alternatif yang bisa dijadikan untuk pengawet makanan. Pada penelitian ini menggunakan daun belimbing wuluh sebagai bahan yang mempunyai kandungan antimikroba yang mampu dijadikan sebagai alternatif bahan pengawet yang bersifat alami dan baik untuk makanan.
2. BAHAN DAN METODE Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Daun Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn), aquades, folin dan Na2CO3.
Alat
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Disk Mill, microwave, pH meter, timbangan digital, ayakan 60 (mesh), plastik klip, gelas ukur, tabung erlenmeyer, oven, spatula, kertas saring, rotary evaporator, sentrifuse.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan untuk analisa pengaruh Metode Microwave Assisted Extraction (MAE) terhadap kadar fenol yang terekstrak dari daun belimbing wuluh ini adalah dengan pengulangan masing-masing sebanyak tiga kali. Metode rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini ialah menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 perlakuan yaitu Daya Microwave (D) yang terdiri atas 3 level (20% (140 W), 40% (280 W), 60% (420 W)) dan rasio bahan : pelarut (P) yang terdiri atas 3 level (250, 350, 450 ml). Kombinasi rancangan penelitian dari kedua perlakuan tersebut ditampilkan pada tabel 1. Diagram alir perlakuan dapat dilihat pada gambar 1 dan 2.
Tabel 1. Kombinasi Kedua Perlakuan D1
(20%) D2 (40%)
D3 (60%) P1 (bahan : Pelarut
1:250 ml) P1D1 P1D2 P1D3
P2 (bahan : Pelarut
1:350 ml) P2D1 P2D2 P2D3
P3 (bahan : Pelarut
1:450 ml) P3D1 P3D2 P3D3
Parameter yang Diamati
Dalam penelitian ini mengamati beberapa faktor yaitu :
1. Kadar air awal bahan [2]
2. Kadar total fenol dalam larutan [3]
3. Rendemen [4]
Gambar 1. Diagram Alir Proses Persiapan Bahan
P D
Daun Belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi Linn)
Dicuci dan ditiriskan Mulai
Selesai Bubuk daun Dioven 60oC selama 4 jam
Diblender menggunakan Diskmill
Diayak 60 mesh
268
Gambar 2. Proses Ekstraksi Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi Linn)
3. HASIL DAN PEMBAHASAN