Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan di rumah kasa Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT), Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) IPB, Baranang Siang, Bogor, dimulai dari Agustus sampai Desember 2010.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit nenas (Ananas comusus (L.) Merr) hasil kultur jaringan Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) varitas Delika Subang sebanyak 540 planlet. Zat pengatur tumbuh sintetik giberelin, pupuk Urea (45% N) sebagai sumber nitrogen, dan arang sekam sebagai media tumbuhnya. Bibit ditanam menggunakan gelas air mineral sebagai wadah individu.
Alat-alat yang digunakan yaitu handsprayer, ember, timbangan analitik, gelas ukur, dan alat tulis lainnya.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Faktor pertama adalah Waktu Aplikasi yang terdiri atas dua taraf, yaitu pagi hari (W1) dan malam hari (W2). Faktor kedua adalah konsentrasi giberelin yang terdiri atas tiga taraf yaitu 0 ppm (G0), 50 ppm (G1) dan 100 ppm (G2). Faktor ketiga konsentrasi pupuk Nitrogen yang terdiri atas tiga taraf yaitu 0 g/l urea (N0), 0,5 g/l urea (N1) dan 1,0 g/l urea (N2) sehingga terdapat 18 kombinasi perlakuan dengan tiga ulangan (54 satuan percobaan). Masing-masing satuan percobaan terdiri dari 10 bibit nenas, sehingga terdapat 540 unit percobaan. Tata letak unit percobaan dapat dilihat pada Lampiran 1.
Model rancangan yang digunakan adalah :
Yijkl = µ + K1 + Ai + Bj + Ck + ABij + ACi k + BCjk + ABCijk +
ε
Keterangan :
ijkl
Yijkl : Nilai pengamatan (respon) dari kelompok ke-1, yang memperoleh taraf ke-i dari faktor A, taraf ke-j dari faktor B dan taraf ke-k dari faktor C.
15
µ : Rataan umum
K1 A
: Pengaruh aditif dari kelompok ke-1
i
B
: Pengaruh aditif dari waktu aplikasi taraf ke-i
j
C
: Pengaruh aditif dari giberelin taraf ke-j
k
AB
: Pengaruh aditif dari pupuk nitrogen taraf ke-k
ij
AC
: Pengaruh interaksi waktu aplikasi taraf ke-i dan giberelin taraf kej
ik
nitrogen taraf ke-k
: Pengaruh interaksi waktu aplikasi taraf ke-i dan dan pupuk BCjk
ke-k
: Pengaruh interaksi giberelin taraf ke-j dan pupuk nitrogen taraf ABCijk
dan pupuk nitrogen taraf ke-k
: Pengaruh interaksi waktu aplikasi taraf ke-i, giberelin taraf ke-j
ε
ijkltaraf ke-i waktu aplikasi, taraf ke-j giberelin dan taraf ke-k :Pengaruh galat percobaan pada kelompok ke-l yang memperoleh pupuk nitrogen
Data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan uji F dan uji nilai tengah menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf α 5%. Apabila data yang diperoleh dari hasil pengamatan belum memenuhi standar mutu bibit nenas 15 cm, maka dilakukan ekstrapolasi data untuk memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan bibit nenas yang sesuai standar mutu. Ekstrapolasi merupakan prosedur untuk memperkirakan nilai atau data yang tidak diketahui berdasar kombinasi beberapa data yang diketahui.
Pelaksanaan Penelitian Persiapan bahan tanam
Media tumbuh yang digunakan adalah arang sekam. Bahan tanaman yang digunakan adalah bibit nenas (Ananas comosus (L.) Merr) hasil kultur jaringan varitas Delika Subang sebanyak 540 bibit.
Penanaman
Penelitian dilakukan dengan menggunakan bibit nenas yang telah berada pada media pengakaran. Bibit dicuci terlebih dahulu sebelum ditanam dengan air mengalir agar bersih dari media agar yang menempel di perakaran. Bibit yang telah dicuci lalu dikeringanginkan dan ditanam dalam media tanam dengan ukuran media sebanyak tiga perempat dari ukuran volume gelas air mineral (220 ml)
dengan kedalaman sekitar 1-3 cm. Satu gelas air mineral terdiri atas satu bibit. Selanjutnya bibit di aklimatisasi selama tiga minggu.
Pemberian Giberelin dan Pupuk Nitrogen
Perlakuan waktu aplikasi pagi (W1) dengan melakukan penyiraman giberelin dan pupuk nitrogen pada pagi hari antara pukul 07.00 – 08.00 wib, sedangkan waktu aplikasi malam (W2) dilaksanakan pada pukul 18.00 – 19.00 wib. Pemberian giberelin dan pupuk nitrogen sesuai perlakuan dilaksanakan 4 minggu setelah tanam (MST) dan selanjutnya diberikan dengan interval waktu 1 minggu. Pemberian pupuk nitrogen dan giberelin dilakukan dengan cara menyiramkan larutan ke tengah-tengah tajuk tanaman sebanyak 25 ml/tanaman. Pemberian dilakukan tidak secara bersamaan, dimana urea diberikan terlebih dahulu dan keesokan harinya baru diberikan giberelin.
Pengamatan
Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan bibit pada fase vegetatif. Peubah-peubah yang diukur dan diamati adalah :
1. Persentase Bibit Hidup
Persentse bibit hidup adalah banyaknya bibit yang hidup dibandingkan dengan jumlah bibit yang ditanam pada saat aklimatisasi. Pengamatan dilakukan 3 minggu setelah tanam. Data diambil dengan rumus :
Jumlah planlet hidup
Persentase Planlet Hidup = --- X 100%
Jumlah planlet yang ditanam
2. Jumlah Daun
Jumlah daun diukur dengan cara menghitung jumlah daun yang telah terbentuk sempurna. Pengamatan dilakukan setiap seminggu sekali setelah aklimatisasi.
3. Tinggi Bibit
Tinggi bibit diukur dari permukaan media hingga ujung daun terpanjang. Pengamatan dilakukan setiap seminggu sekali setelah aklimatisasi.
17
4. Lebar Daun
Lebar daun diukur dengan cara mengukur lebar daun terlebar yang terbentuk sempurna. Pengamatan dilakukan setiap satu minggu sekali setelah aklimatisasi.
5. Bobot Basah Daun
Bobot basah daun diukur dengan menimbang daun yang masih segar dan telah dipisahkan dari akar, lalu daun ditimbang dengan timbangan analitik. Pengamatan dilakukan pada akhir pengamatan.
6. Bobot Kering Daun
Bobot kering daun diukur dengan menimbang daun yang telah dipisahkan dari akar, kemudian daun dikeringkan dengan oven bersuhu 102o
7. Efisiensi Teknis dan Ekonomi
C selama 24 jam. Pengamatan dilakukan pada akhir pengamatan.
Setiap aplikasi perlakuan dicatat waktunya, misalnya berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyiram tanaman pada saat aplikasi giberelin dan pupuk nitrogen. Hal ini bertujuan untuk menghitung waktu kerja dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan apabila teknologi ini diterapkan pada skala yang lebih luas (lapangan). Penghitungan B/C ratio dilakukan untuk mendapatkan nilai efisiensi ekonomis dari setiap perlakuan. Analisis dengan menggunakan Linear Programing dilakukan untuk mendapatkan optimasi dari setiap perlakuan untuk mendapatkan efisiensi teknis dari setiap perlakuan. Linear Programing merupakan salah satu teknik
operation research untuk tujuan optimasi suatu kasus tertentu (Reveliotis
1997). Model linear programing mempunyai karakteristik dasar yaitu terdapat fungsi tujuan (objective function) dan kendala (constraint) yang berbentuk persamaan linier. Bentuk program linear adalah :
n
Maksimumkan (atau minimumkan) X0 =
∑c
jx
j j=1
dengan kendala n
∑a
ijx
j=
b1
untuk i = 1,2, …… m X
j=1
Fungsi tujuan dapat berbentuk memaksimumkan atau meminimumkan tergantung tujuannya. Bila biaya, maka optimasinya adalah meminimumkan dan bila keuntungan atau manfaat, maka optimasinya adalah memaksimumkan (Miswanto & Winarno 1993).
HASIL DAN PEMBAHASAN