• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di desa Tumpatan Nibung, kecamatan Batangkuis, kabupaten Deliserdang. Propinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dimulai dari bulan April sampai dengan Agustus 2011.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jerami padi,

Trichoderma harzianum, pupuk kandang sapi, benih padi ciherang, pupuk Urea sebagai sumber N dengan kandungan 45%, SP36 (pupuk P dengan kandungan 36%), dan KCL (pupuk K dengan kandungan 60% K2

Metode Penelitian

O), jerami padi. Alat yang digunakan adalah cangkul, meteran, spidol, alat tulis, papan label dan alat-alat lain yang diperlukan.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor perlakuan, dan 3 ulangan, yaitu :

Faktor I, Kompos jerami padi dengan berbagai kombinasi yang terdiri dari 4 perlakuan, yaitu :

J0 J

= Tanpa kompos jerami padi 1

J

= Kompos jerami padi dicampur pupuk Nitrogen 2

J

= Kompos jerami padi dengan bioaktivator Trichoderma harzianum. 3 = Kompos jerami padi dicampur pupuk kandang sapi

Faktor II, Pupuk Nitrogen (N) terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu : N0 N = 0 kg/ha = 0 gr/plot 1 N = 70 kg/ha = 112 gr/plot 2 N = 140 kg/ha = 224 gr/plot 3 = 210 kg/ha = 336 gr/plot Jumlah ulangan = 3 Jumlah perlakuan = 16 Jumlah plot = 48 Ukuran plot (4 m x 4 m) = 16 m2 Jarak antar petak = 50 cm

Jarak antar ulangan = 100 cm Jumlah tanaman/plot = 361 tanaman

Jumlah tanaman seluruhnya = 17.328 tanaman

Data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam berdasarkan model linier sebagai berikut :

Yijk = μ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + €ijk Dimana :

Yijkl

μ = nilai tengah umum

= Hasil pengamatan pada ulangan ke-i, perlakuan kompos jerami ke-j, perlakuan pupuk nitrogen ke-k.

ρi

α

= Pengaruh ulangan pada taraf ke-i j

Β

= Pengaruh perlakuan kompos jerami pada taraf ke-j k

(αβ)

= Pengaruh perlakuan pupuk nitrogen pada taraf ke-k jk

= Pengaruh interaksi perlakuan kompos jerami taraf ke-j, dan perlakuan pupuk nitrogen pada taraf ke-k .

ijk = Pengaruh galat pada ulangan ke-i, perlakuan kompos jerami pada taraf ke-k, dan pupuk nitrogen taraf ke-k

Pelaksanaan Penelitian

Pengomposan jerami padi dengan berbagai kombinasi

Sebelum dikomposkan jerami padi terlebih dahulu dicacah dengan ukuran 1-3 cm kemudian baru dikomposkan selama 2 minggu. Untuk perlakuan Jerami padi + pupuk nitrogen dengan dosis 5 ton/ha + 6% pupuk nitrogen dari berat bahan yang dikomposkan. Perlakuan jerami padi + Trichoderma harzianum adalah 5 ton/ha jerami padi + 1 kg Trichoderma harzianum / 200 kg bahan yang dikomposkan. Untuk perlakuan jerami padi ( 3,2 kg/plot ) + pupuk kandang sapi (4,8 kg/plot) Setiap perlakuan bahan dicampur dan untuk pemberian Trichoderma harzianum

terlebih dahulu dicampur dengan air dengan dosis 5 gr/liter air kemudian baru disemprotkan. Setelah pengomposan 14 hari baru dianalisa kandungan N total, C organik dan rasio C/N. Hasil analisa terdapat pada lampiran 6.

Pemberian kompos jerami padi dan pupuk nitrogen pada lahan sawah

Adapun tahapan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Pemilihan Benih

Benih padi yang akan dipilih direndam dengan air yang bertujuan untuk memisahkan benih yang ringan dengan yang bernas. Benih bernas akan tenggelam sedang benih yang ringan akan terapung. Perendaman benih dilakukan selama 24 jam.

Persiapan Areal Persemaian

Areal yang akan dijadikan persemaian dibersihkan dari rumput dan sisa jerami. Tanah dicangkul sehingga mendapatkan struktur tanah yang gembur dan baik untuk pertumbuhan benih.

Persiapan Lahan

Pengolahan tanah pertama dengan menggunakan cangkul, kemudian dibiarkan kurang lebih sepuluh hari, baru dilakukan pengolahan tanah kedua dengan glebek. Selanjutnya pembuatan petakan yang berukuran 4 m x 4 m dan pelumpuran tanah.

Penyemaian Benih

Benih yang sudah disiapkan (benih bernas) disemaikan di lahan yang sudah ada. Persemaian dilakukan di lahan untuk membantu tanaman beradaftasi pada masa perkecambahan dan pertumbuhan awal.

Aplikasi jerami

Aplikasi kompos jerami diberikan satu hari sebelum tanam dengan dosis 8 kg/plot sesuai dengan perlakuan. Kompos jerami disebarkan ke lahan percobaan secara merata kemudian baru dibenamkan.

Penanaman

Penanaman dilakukan setelah bibit padi berumur 21 hari. Bibit padi dicabut kemudian ditanam di lahan percobaaan dengan menggunakan jarak tanam 20 cm x 20 cm.

Pemupukan

Pupuk yang digunakan adalah Urea dengan dosis sesuai dengan perlakuan , SP-36 100 kg/ha, dan KCL 47 kg/ha. Pupuk Urea diberikan 2 kali, 1/2 dosis diberikan pada waktu 5 hari setelah tanam dan 1/2 dosis lagi diberikan pada umur 30 hari. Pupuk SP-36 dan pupuk KCL diberikan sebagai pupuk dasar. Pupuk SP-36 dan ½ dosis pupuk KCL diberikan pada saat tanaman berumur 5 hari dan ½ dosis lagi pupuk KCL diberikan pada saat tanaman umur 30 hari. Pupuk diberikan dengan cara disebar lalu dibenamkan.

Pengairan

Pemberian air dilakukan apabila plot percobaan sudah kering atau plot dipertahankan dalam kondisi lembab. Air dipompa dari sumur bor dengan mesin pompa air kemudian disalurkan ke plot-plot percobaaan. Plot percobaan digenangi sampai ketinggian 5 cm.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Gulma dikendalikan secara manual yaitu pada umur 21 HST dan 42 HST. Pencegahan hama dan penyakit dilakukan sesuai dengan kondisi dilapangan, sedangkan untuk pengendaliannya menggunakan insektisida yang direkomendasikan sesuai dengan hama sasaran

Pemanenan

Pemanenan dilakukan pada saat 95% bulir sudah menguning (33 -36 hari) setelah pembungaan, dan bagian bawahmalai terdapat sedikit gabah hijau.

Parameter yang Diamati

Tanah

Analisa Tanah Awal

Sampel tanah awal diambil secara komposit dari lahan percobaan kemudian lalu di kering udarakan. Tanah dianalisa di laboratorium yaitu pH (H20) dan pH (KCL), kandungan C-organik tanah, kandungan N tanah dengan metode Kjeldahl, kandungan P tanah dengan metode P- Bray II dan kandungan K tanah (NH4

Analisa Tanah Akhir

-asetat 1 N pH 7,0)

Sampel tanah dimbil secara komposit dari masing-masing plot pada akhir fase generatif (seminggu sebelum panen) kemudian dianalisis kandungan N tanahnya dengan metode Kjeldahl.

Tanaman

Bobot Kering Tanaman (gr)

Tanaman dicabut hingga ke akar pada umur 45 hari setelah tanam (Sebelum fase primordial berbunga). Pengukuran bobot kering tanaman dilakukan pada sampel destruktif. Jumlah sampel destruktif ada 3 tanaman/plot.

Kandungan N daun (%)

Analisa kandungan N daun dilakukan dengan menggunakan metode Kjeldahl.

Serapan N tanaman (%)

Dihitung dengan cara mengalikan % kadar hara (hasil analisis lab) dengan berat kering kemudian dikonversi ke dalam g/m2.

Tinggi Tanaman (cm)

Tinggi tanaman diukur mulai dari permukaan tanah sampai ujung daun tertinggi setelah diluruskan pada semua tanaman sampel non destruktif. Pengukuran dilakukan pada umur 15, 30, dan 45 hari setelah tanam. Jumlah sampel 10 per plot, 3 sampel destruktif dan 7 sampel non desttruktif.

Jumlah Anakan

Cara menghitung jumlah anakan adalah dihitung berapa jumlah anakan yang terdapat pada setiap rumpun tanaman., dilakukan selama 4 kali pengukuran (tanaman berumur 25 HST, 35 HST , 45 HST dan pada saat panen). Jumlah sampel yang di ambil dalam setiap plot sebanyak 7 sampel non destruktif secara acak. Cara menghitung jumlah anakan adalah dihitung berapa jumlah anakan yang terdapat pada setiap rumpun tanaman.

Jumlah anakan produktif

Jumlah anakan produktif yaitu setiap rumpun yang mempunyai malai dan dihitung untuk setiap tanaman sampel non detruktif dalam setiap plot diambil pada saat panen.

Bobot 1000 butir gabah (gr)

Bobot 1000 butir gabah dihitung dengan menimbang 1000 butir gabah tanaman sampel pada masing-masing plot.

Produksi / plot (kg)

Dihitung saat panen berapa yang diperoleh pada saat pengubinan ukuran 1m2 kemudian dikonversikan ke dalam satu hektar. Pengukuran ini dilakukan satu kali.atau produksi per plot dihitung pada saat panen dengan menimbang produksi per rumpun dikali dengan jumlah tanaman per plot.

Dokumen terkait