Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kota Kandangan sebagai ibukota Kab. HSS. Kota Kandangan secara geografis terletak di 2o45’10” – 2o48’47”
Lintang Selatan dan 115o14’47” – 115o17’49” Bujur Timur. Luas kawasan Kota Kandangan menurut data BPS adalah seluas 191,13 km2 terdiri dari 32 desa/keluharan pada 5 wilayah kecamatan (Gambar 6).
Kota Kandangan secara fisik memiliki batas-batas sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kecamatan Angkinang
Sebelah Timur : Kecamatan Padang Batung
Sebelah Selatan : Kecamatan Sungai Raya
Sebelah Barat : Kecamatan Simpur
Penelitian ini dilaksanakan sejak pertengahan bulan April 2013 sampai dengan Oktober 2013, melalui tahapan persiapan penelitian, pengumpulan data, analisis dan pengolahan data, penyusunan arahan pengembangan dan penyusunan laporan.
Sumber: Bappeda HSS (2009) dan Bappeda HSS (2012) Gambar 6 Wilayah lokasi penelitian
Bahan dan Alat
Bahan yang diperlukan untuk penelitian ini adalah berupa data primer dan data sekunder yaitu:
1. Data Primer
- Data distribusi suhu udara hasil pengukuran di lapangan - Data kelembaban relatif hasil pengukuran di lapangan - Hasil isian kuesioner
2. Data Sekunder
- Peta Administrasi Kota Kandangan berdasarkan RDTRK Kandangan.
- Citra resolusi tinggi dari http://www.bing.com/maps 2010 Microsoft Corporation untuk mengidentifikasi penggunaan lahan Kota Kandangan pada tahun 2010.
- Peta Zoning Regulation/Rencana Penggunaan Lahan Kota Kandangan dalam RDTRK Kandangan.
- Surat Keputusan Bupati No. 237 tentang Penetapan Ruang Terbuka Hijau Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
- Data Jumlah penduduk masing-masing desa/kelurahan di Kota Kandangan tahun 2006 – 2011 untuk memprediksikan jumlah penduduk hingga 20 tahun mendatang.
- Data suhu dan kelembaban rata-rata bulanan tahun 2002 – 2012 sebagai pembanding
Alat yang digunakan adalah berupa hardware dan software antara lain:
- Laptop
- Kamera Digital
- Termohigrometer yaitu Digital Thermo-Hygro tipe E1 untuk mengukur suhu udara dan kelembaban relatif
- GPS Garmin 60csx untuk penentuan titik pengamatan
- Termometer udara Tecpel 315 type K untuk mengukur suhu udara
- Borang/formulir wawancara dan kuisioner untuk mengetahui preferensi masyarakat
- Software pengolahan data spasial (Sistem Informasi Geografis) yaitu ArcGIS 9.3, Map Source dan Global Mapper 12.
- Software pengolahan data statistik yaitu Excell 2007.
Tahapan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan melalui 4 tahapan, yaitu Tahap Persiapan
Tahapan ini merupakan serangkaian kegiatan untuk menyiapkan berbagai kebutuhan dalam rangka pelaksanaan penelitian. Tahap ini meliputi penelusuran pustaka terkait dengan penelitian-penelitian terdahulu mengenai topik penelitian, penyiapan peta dasar, penyusunan borang/formulir wawancara dan kuesioner, serta pengurusan perizinan kepada pihak terkait.
Tahap Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka maupun dari instansi-instansi terkait antara lain Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kab. HSS, Dinas Lingkungan Hidup, Tata Kota dan Perdesaan (DisLH&TKP) Kab. HSS dan Badan Pusat Statistik Kab. HSS. Data primer diperoleh melalui pengamatan dan pengukuran serta wawancara dan penyebaran kuesioner langsung di lapangan. Wawancara dan kuesioner diberikan kepada para stakeholder yang berkepentingan terhadap keberadaan RTH yaitu pengelola RTH (pemerintah daerah), masyarakat pengguna RTH, kelompok masyarakat pencinta alam, dan pihak swasta yang bekerjasama dalam upaya pengembangan RTH di Kota Kandangan. Jenis dan sumber data yang diperlukan berdasarkan tujuan penelitian disajikan pada Tabel 5.
Tahap Analisis Kebutuhan
1. Kebutuhan berdasarkan luas wilayah
Kebutuhan berdasarkan luas wilayah dihitung berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yaitu sebesar 30% dari total luas wilayah, dengan proporsi 20% berupa RTH publik dan 10% RTH privat.
2. Kebutuhan Berdasarkan Jumlah Penduduk
Untuk memprediksikan jumlah penduduk di masa yang akan datang, dilakukan dengan menggunakan regresi linear
Di mana: = +
y = Jumlah penduduk pada tahun ke-a dke-an b = Konstke-antke-a
x = tahun ke-; di mana x berlaku dari tahun ke- 1 hingga tahun ke- 27.
Kebutuhan luas RTH publik dihitung dengan cara mengalikan antara jumlah penduduk dengan standar luas RTH per penduduk.
3. Kebutuhan Berdasarkan Temperature Humidity Index (THI)
Metode ini menggunakan metode yang dikembangkan oleh Nieuwolt (1975) yang mengkombinasikan antara suhu dan kelembaban dengan rumus
= (0,8 × ) + ( ×
Pengambilan data primer berupa suhu udara dan kelembaban relatif dilakukan menggunakan termometer udara dan termohigrometer (Gambar 7). Lokasi pengamatan ditetapkan berdasarkan jenis tutupan/penggunaan lahan yang dianggap berpengaruh, yaitu:
a. Ruang Terbuka Hijau, meliputi kebun campuran, kebun sayuran, semak belukar, sawah, lapangan dan RTH publik.
b. Ruang Terbangun, meliputi pemukiman dan kawasan perdagangan dan jasa (pasar dan terminal).
c. Tubuh Air, berupa sungai.
Tabel 5 Matriks data dan metode analisis
Penetapan lokasi pengamatan dilakukan dengan bantuan GPS sehingga bisa diintegrasikan ke dalam peta wilayah. Input data titik pengamatan ini menggunakan program Map Source. Data tersebut kemudian dikonversi kedalam bentuk shapefile menggunakan program Global Mapper 12.
Waktu pengambilan data dilakukan tiga kali sehari yaitu pagi (Pukul 06.00 – 08.00), siang (Pukul 12.00 – 14.00) dan sore (Pukul 16.00 – 18.00). Data
Digital Thermo-Hygro tipe E1 Termometer udara Tecpel 315 type K
Gambar 7 Alat yang digunakan untuk pengamatan suhu udara dan kelembaban relatif
Perhitungan nilai rata-rata harian suhu udara menggunakan rumus rataan dari BMKG yaitu:
= 2 × + +
Di mana: 4
Trataan = Suhu udara rata-rata harian
Tpagi = Suhu udara hasil pengukuran pada pagi hari jam 06.00 – 08.00 waktu setempat
Tsiang = Suhu udara hasil pengukuran pada siang hari jam 12.00 – 14.00 waktu setempat
Tsore = Suhu udara hasil pengukuran pada sore hari jam 16.00 – 18.00 waktu setempat
Rumus yang sama digunakan juga untuk menghitung nilai rata-rata harian untuk kelembaban relatif dan indeks kenyamanan thermal (THI). Nilai ini dimasukkan sebagai atribut dalam shapefile titik-titik pengamatan yang diambil. Untuk memperoleh peta kontur isothermal, kelembaban dan iso-THI, dilakukan interpolasi data atribut tersebut menjadi data raster dengan menggunakan menu Spatial Analyst yaitu Inverse Distance Weighted, hingga diperoleh data raster yang menyatakan perbedaan ketinggian nilai suhu/kelembaban/THI. Tahap selanjutnya adalah melakukan Surface Analysis dengan membentuknya menjadi peta kontur suhu/kelembaban/THI.
Metode perhitungan kebutuhan RTH berdasarkan THI secara sederhana adalah dengan menghitung persentase luas penutupan lahan vegetasi dan kota. Persentase ini selanjutnya dijadikan persentase bobot untuk menghitung proposi THI. Rumusan yang digunakan sebagaimana yang dikembangkan oleh Wardhani (2006) sebagai berikut:
= Ʃ ...(a)
= × ... (b)
= − (Ʃ − 26) ...(c)
= − ((ƩƩ ))...(d)
p = Proporsi supaya nyaman (%)
ƩL = Jumlah Luas
PRTH = Proporsi penambahan RTH (%) 4. Preferensi Stakeholder
Untuk mengetahui preferensi stakeholder terhadap prioritas pengembangan RTH terkait jenis, dan bentuk, dilakukan dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hierarki kriteria/alternatif yang digunakan seperti pada Gambar 8.
Stakeholder yang diwawancarai/diberikan kuesioner dalam penelitian ini meliputi pihak pengelola RTH, yaitu pemerintah daerah yang diwakili oleh Bappeda HSS, DisLH&TKP Kab. HSS, Dinas PU Kab. HSS, Dinas Sosnakertrans Kab HSS, dan Dinas Hutbun Kab HSS; masyarakat pengguna RTH yang diwakili oleh pengguna umum, pelajar, guru, dan pedagang;
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau kelompok masyarakat pencinta alam Meratus Hijau, dan pihak swasta/perusahaan/ BUMN/BUMD diwakili oleh Bank Kalsel dan BNI 46 Kantor Cabang Pembantu Kandangan serta kontraktor pelaksana pertamanan yang turut berpartisipasi dalam kegiatan penghijauan di Kota Kandangan.
Tahap Penyusunan Arahan Pengembangan RTH Kota Kandangan
Penyusunan arahan pengembangan RTH Kota Kandangan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1. Pendekatan Konsep Kota Hijau
Atas dasar pertimbangan dari kebutuhan RTH, maka dengan pendekatan konsep kota hijau, disusun konsep perencanaan penataan RTH Kota Kandangan. Konsep ini mengidentifikasikan atribut kota hijau yang akan dijadikan fokus pengembangan, dan strategi yang bisa ditempuh untuk mewujudkan RTH yang sesuai dengan standar yang telah ditentukan dalam UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yaitu 30% dari luas wilayah kota.
2. Analisis Ketersediaan Lahan
Analisis ketersediaan lahan dilakukan untuk melihat ketersediaan lahan yang bisa dikembangkan untuk pengembangan RTH publik di masa yang akan datang berdasarkan zoning regulation yang telah ditetapkan oleh pemda dalam RTRW Kabupaten atau RDTRK dengan cara overlay.
Gambar 8 Struktur hierarki pengembangan RTH Kota Kandangan
Dengan pertimbangan berdasarkan ketiga pendekatan tersebut, selanjutnya disusun arahan pengembangan RTH Kandangan yang telah mempertimbangkan keberadaan RTH eksisting, distribusi kebutuhan RTH dan kesesuaian penggunaan lahannya dengan pendekatan konsep Kota Hijau. Secara keseluruhan tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 9.
Arahan Pengembangan RTH
Fungsi
Ekologi Fungsi
Ekonomi Fungsi
Sosial/Budaya Fungsi Arsitektural
Memusat Menyebar
Pekarangan Taman dan
Hutan Kota Jalur Hijau
Jalan Fungsi
Khusus Pertanian Perkotaan
Ekonomi Rekreasi Olahraga Sosial
Tanaman
Hias/Bunga Tanaman
Produktif Tanaman
Peneduh Rumput
Tanaman Impor Tanaman Lokal
Level I Fungsi
Level II Distribusi
Level III Jenis/Bentuk
Level VI Asal Tanaman Level IV
Fasilitas Penunjang Kegiatan
Level V Jenis Tanaman
Gambar 9 Tahapan pelaksanaan penelitian Peta Distribusi RTH Eksisting Kota Kandangan
Pemetaan Spasial Metode Niewolt (1975) dalam Rushayati (2011)
Rumus Turunan Wardhani (2006)