• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahasa, Agama dan Kebudayaan, dan cara hidup

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Bahasa, Agama dan Kebudayaan, dan cara hidup

Lebih tegas lagi, faktor lain yang ikut memperkuat bukti bahwa masyarakat di kelurahan Sumerta bukan sebuah masyararakat multikultural, melainkan masyarakat plural adalah adanya kenyataan bahwa setiap kelompok memegang agama, kebudayaan, bahasa, dan cara hidupnya sendiri-sendiri. Jadi, sekalipun mereka hidup berdampingan, namun terpisah dalam satuan politik yang sama. Supaya bisa disebut sebagai masyarakat multikultural, sekalipun setiap kelompok bisa tetap memegang agama, kebudayaan, bahasa, dan cara hidupnya sendiri-sendiri, namun di balik itu keberadaannya haruslah dalam konteks kesetaraan, kesederajatan, toleransi, saling menghargai. 100

5.2.1 Bahasa

Pertumbuhan dan perkembangan televisi swasta, melengkapi televisi nasional sejak awal tahun 1990 telah menghasilkan efek yang tanpa disadari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk wilayah Kelurahan Sumerta.

Televisi menjadi kampus besar, tempat masyarakat belajar banyak hal, termasuk dalam gaya berbahasa. Bahasa Indonesia ala percakapan di televisi, menyebar luas

99 Nengah Bawa Atmadja, loc. cit.

ke berbagai lapisan masyarakat, tak peduli suku, agama, ras, dan adat sitiadat.

Sekalupun demikian, bahasa Indonesia tidak mampu menggeser bahasa ibu, sehingga baik migran maupun penduduk lokal masih memakai bahasa daerah saat berkomunikasi dengan sesama anggota kelompoknya, terutama dalam ranah informal. Akan tetapi dibandingkan dengan sebelum meluasnya pengaruh bahasa televisi, sekarang ini sudah terlihat adanya perubahan dalam tata cara berbahasa, baik pada penduduk lokal maupun migran, anggota PUMA. Mereka sudah tidak lagi sepenuhnya menggunakan bahasa daerahnya masing-masing, melainkan kerap diselang-selangi bahasa Indonesia, yang dalam istilah ilmu kebahasaan disebut alih kode dan campur kode.

Alih kode atau code switching merupakan suatu peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain dalam suatu peristiwa tutur, misalnya penutur bahasa Indonesia beralih menggunakan bahasa Inggris. Fenomena ini terjadi dalam masyarakat multilingual. Dalam alih kode, masing-masing bahasa cenderung masih mendukung fungsi masing-masing dan masing-masing fungsi sesuai dengan konteksnya. Nababan menyatakan konsep alih kode ini mencakup juga kejadian pada waktu seseorang beralih dari satu ragam bahasa ke ragam yang lain, misalnya, ragam formal ke ragam santai, dari kromo inggil (bahasa jawa) ke bahasa ngoko dan lain sebagainya.101 Sementara, Kridalaksana menyatakan alih kode juga bisa dimaknai sebagai penggunaan variasi bahasa lain untuk

101 P.W.J. Nababan, Sosiolinguistik: suatu pengantar (Jakarta: Gramedia, 1984), p. 31.

menyesuaikan diri dengan peran atau situasi lain, atau karena adanya partisipasi lain.102

Dari dua pendapat di atas, fenemona kebahasaan yang terjadi di Kelurahan Sumerta antara migran anggota PUMA dengan penduduk lokal lebih tepat disebut alih kode ala Kridaklasanan, yang terjadi sebenarnya adalah gejala peralihan pemakaian bahasa karena perubahan peran dan situasi. Akan tetapi lebih dari itu, seringkali pula di antara mereka mencampur bahasa Bali dan bahasa Indonesia dalam suatu komunikasi. Ketika sedang memakai bahasa Indonesia misalnya, secara sadar mereka menyelipkan bahasa Bali dan sebaliknya, yang dalam istilah kebahasaaan disebut campur kode. 103

Fenomena alih kode dan campur code ini bukan hanya terjadi di Sumerta, melainkan juga di semua kelurahan di Denpasar. Dalam upaya mengantisipasi ditinggalkannya bahasa Bali oleh para penuturnya, maka pemerintah Kodya Denpasar membuat program penyuluhan bahasa Bali ke semua banjar di wilayah kekuasaannya. Program ini dimaksudkan sebagai pelajaran di luar lingkungan rumah dan sekolah. Tujuan akhirnya adalah untuk bisa melestarikan bahasa Bali, yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian. Lebih jauh lagi, penyuluhan ini dimaksudkan pula sebagai bagian dari program untuk melestarikan warisan budaya Bali.104

102 Harimurti Kridalaksana, Pengantar sosiolinguistik (Bandung: Angkasa, 1982), p. 7.

103 P.W.J. Nababan, op. cit., p. 32.

104 Hasil wawancara Leonardo Haloho dengan Narasumber I Nyoman Wirawan

Kelurahan Sumerta yang berada di tengah-tengah pusat Kodya Denpasar mendapat perhatian yang istimewa untuk dua kepentingan itu, melestarikan bahasa dan budaya Bali. Perhatian istimewa dirasa sangat perlu karena sekalipun berada di tengah-tengah hingar bingar keramaian kota, namun Sumerta adalah salah satu kelurahan di Kodya Denpasar yang relatif banyak meraih prestasi di bidang seni dan memiliki kelompok-kelompok seni yang sering melakukan pergelaran-pergelaran dan meraih prestasi dalam berbagai kejuaraan di Bali, seperti yang akan dibicarakan pada bagian lain. Demikian pula di tingkat individu, cukup banyak warga masyarakat lokal di kelurahan yang memiliki keahlian di bidang seni dan budaya. 105

Mengingat potensi-potensi itu, maka upaya melestarikan bahasa Bali di kelurahan ini tidak saja dilakukan dengan cara memberikan atau mengadakan penyuluhan-penyuluhan, tetapi juga mewajibkan semua pegawai di satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Kelurahan Sumerta harus menggunakan bahasa daerah setiap hari Rabu. Pada hari ini, bahasa Bali harus digunakan baik di dalam maupun di luar kantor dan bahkan dalam seminar-seminar. Para migran yang datang ke kantor-kantor SKPD Kelurahan Sumerta, sedapat mungkin harus juga menyesuaikan diri.106

Praktik kuasa disiplin dalam berbahasa Bali juga terjadi di lingkungan sekolah, seperti terungkap dalam peraturan yang dikatakan oleh petugas penyuluh bahasa daerah di kecamatan ini,

105 Wawancara Sama dengan yang diatas.

106 Sama dengan di atas.

“Setiap sekolah di Bali baik SD, SMP, SMA yang berkarakter agama apapun, baik itu sekolah Hindu, sekolah Islam, sekolah Kristen, sudah diwajibkan harus ada pelajaran bahasa Bali. Jadi tanpa ada penyuluh pun, sekolah itu sudah ada pembimbingnya, sudah ada guru dan pelajarannya udah ada.”107

Sekalipun di sekolah-sekolah aturannya seperti sudah disebutkan di atas, dari penyuluh mempunyai program tersendiri. Mereka tetap datang ke sekolah untuk tambahan jam pelajaran bahasa Bali kepada anak didik, karena menganggap porsi jam mata pelajaran Bahasa Bali anak-anak sekolah masih minim, hanya dua jam untuk setiap minggu. Padahal materi yang harus disampaikan cukup banyak, hampir sama dengan mata pelajaran yang lain, namun diberikan porsi lebih banyak, antara 4 sampai 6 jam per minggu.

“Jadi kami datang ke sekolah untuk menambah. Bukan berarti kami menganggap sekolah itu belum ada bahasa Balinya, sudah ada. Justru kami ke sekolah untuk bekerjasama dengan guru-guru yang sudah ada disekolah untuk menyeimbangkan dan untuk menambah jam. Tetapi kami tidak mengambil jam pelajaran yang ada di sekolah, jadi kami mengambil jam di luar sekolah.” 108

Sebaliknya, di lingkungan para migran anggota PUMA tidak ada praktik-praktik penyuluhan bahasa Jawa, yang merupakan bahasa daerah mereka. Tidak ada pula upaya-upaya untuk mendatangan guru untuk memberikan pelajaran tambahan bahasa Jawa kepada anak-anak sekolah. Akan tetapi bahasa Jawa tetap masih bertahan sebagai alat komunikasi di kalangan mereka, digunakan sebagai

107 Sama dengan di atas.

alat komunikasi di lingkungan keluarga masing-masing, sekalipun sekali-sekali diselipkan dengan Bali. 109

Akan tetapi ada pula yang menggunakan bahasa Bali sebagai alat berkomunikasi di lingkungan rumah tangganya. Salah satu darinya adalah keluarga Puji Suwantoro yang berasal dari Jember Jawa Timur, kelahiran tahun 1972. Dia pindah ke Bali pada tahun 1990. Istrinya orang Bali asal Kota Singaraja, Bali Utara. Keluarga mereka dikaruniai dua anak. Anaknya yang pertama masih di bangku kelas III SMK dan anaknya yang kedua masih kelas I SMP. 110 Dia pernah mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Bali, namun kini memilih profesi sebagai pedagang.111

Berbeda dengan kebanyakan anggota PUMA lainnya, karena beristerikan orang Bali, dengan leluasa dia dapat mempelajari dan mempaktekan bahasa Bali di dalam lingkungan keluarganya. Demikian pula anak-anaknya, Suwantoro membiarkan anak-anaknya berdwibahasa dan mengikuti peraturan dan kebudayaan masyarakat Bali. Sekalipun demikian, bukan berarti Suwantoro tidak pernah mengajari anak-anaknya bahasa Jawa, namun tidak bisa dia lakukan seintensif istrinya mengajarkan mereka berbahasa Bali.112

109 Sama dengan di atas.

110 Hasil wawancara Asna Juniar Sihombing dengan Puji Suwantoro asal Jember, umur 45 tahun, tempat wawancara di sekretariat PUMA Jalan Akasia V No.2 BR Buaji, Denpasar Bali. Jumat, 24 Maret 2017, pukul 17.15 WITA.

111 Sama dengan di atas.

112Hasil wawancara Leonardo Haloho dengan Puji Suwantoro di Sekretariat PUMA di jalan Akasia, pada tanggal 18 Maret 2017

Berpijak dari kasus Suwantoro, tentunya tidak dapat digeneralisir, dalam menjalani kehidupannya di kelurahan Sumerta, warga migran asal Jawa Timur ini berusaha menyesuaikan diri dengan cara melaksanakan praktik kebudayaan Bali dalam batas-batas tertentu. Hal inilah yang dalam bahasa Foucault bisa disebut sebagai akhir dari praktik kuasa disiplin yakni membentuk tubuh-tubuh yang patuh dan berguna, tentunya pada aturan-aturan lokal. Dalam bahasa Bourdieu, dapat dikatakan mereka telah mengalami sutu praktik kekerasan simbolik, karena secara tidak sadar mereka memilih menggunakan bahasa Bali sebagai alat komunikasi untuk melancarkan dan menjaga kerukunan dengan orang-orang lokal.

Bukan hanya Suwantoro, masih ada Waloyo anggota PUMA lainnya yang menggunakan bahasa Bali sebagai alat berkomunikasi di dalam keluarganya, yang diselipi dengan bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Sedangkan dengan sesama anggota PUMA dia memilih menggunakan bahasa Indonesia dan amat jarang memakai bahasa Jawa. Dalam kegiatan kehidupan sehari-hari, terutama saat berinteraksi dengan penduduk lokal, dia menggunakan bahasa Bali. Pilihan ini diambil karena interaksi terlaksana dengan baik dan tidak ada hambatan secuil apapun, dan juga mengahargai penduduk lokal. 113

Dengan demikian semakin banyak bukti bahwa praktik kuasa disiplin yang dilaksanakan di Kelurahan Sumerta telah menghasilkan tubuh-tubuh yang patuh dan berguna di kalangan para anggota PUMA. Selain saling ketergantungan di bidang ekonomi, sikap patuh dan berguna inilah yang ikut menjadi faktor penentu

sehingga anggota PUMA bisa bertahan di wilayah Sumerta sekalipun kini sudah memasuki tahun kesembilan. Orang-orang lokal menjadi senang dan bahkan tersanjung karena para anggota PUMA berkomunikasi dengannya memakai bahasa Bali sekalipun diseling-selingi dengan bahasa Indonesia.

Tubuh yang patuh dan berguna itu juga terlihat dari pilihan bahasa yang digunakan oleh sesama anggota PUMA manakala mereka berada di tempat umum.

Dalam situasi seperti ini ada kesepakan tak tertulis, bahwa mereka wajib memakai bahasa Bali, sedapat mungkin tidak memakai bahasa Jawa. Pilihan ini diambil karena rasa khawatir dan takut jika berkomunikasi dalam bahasa Jawa akan bisa menimbulkan kesalahpahaman dari orang-orang sekitar yang secara kebetulan dan tidak sengaja ikut mendengarkan percakapan mereka. Namun bagi yang sudah fasih berbahasa Bali, dalam situasi dan kondisi seperti itu, mereka disarankan untuk memakai bahasa Bali, tetapi boleh diselang-selingi dengan bahasa Indonesia. 114 Padahal seperti yang dikatakan oleh Mistari, jika pun ada migran yang berkomunikasi dengan sesamanya memakai bahasa Jawa, tidak pernah dipersoalkan oleh masyarakat lokal karena mengerti yang sedang berkomunikasi itu adalah sesama orang Jawa. 115

Dengan demikian, bahasa percakapan menjadi bagian yang terpenting dalam menjaga kepatuhan dan kedisiplinan para migran asal Jawa terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu para orang tua diminta aktif melakukan kontrol terhadap gaya bahasa anak-anaknya seiring dengan semakin kuatnya

114 Sama dengan di atas.

115 Hasil Wawancara Dini Eka Wulansari Mistari, usia 47 tahun di Sekretariat PUMA Denpasar tanggal 24 Maret 2017.

pengaruh teknologi, terutama televisi dan smartphone dalam kehidupan para remaja. Mereka juga diminta senantiasa memberi dukungan moral kepada anak-anak agar mereka berbahasa Bali maupun Indonesia. 116

Dukungan moral itu dianggap sangat penting karena mereka sudah paham bahasa-bahasa yang diunggah dari smartphone akan sangat mempengaruhi suatu keberadaan bahasa, baik daerah dan maupun bahasa Indonesia. Sering terjadi ketidakberesan pada diri sejumlah anak muda menyerap habisan-habisan gaya bahasa atau kosa kata yang didegar atau dibacanya melalu smartphone. Jika kencenderungan itu dibiarkan, maka bisa merusakan tatanan berbahasa yang sudah berbentuk di lingkungan PUMA.117

Sama halnya dengan Suwantoro dan Waloyo, anggota PUMA yang lainnya, Mastari juga mengalami praktik kuasa disiplin. Dia lahir di Jember pada tanggal 15 Februari 1970, pindah ke Bali pada tahun 1990. Dia menikah dengan orang Bali, berasal dari Singaraja. Mereka memiliki empat orang anak, namun dua orang darinya telah meninggalkan dunia. Sementara yang dua lagi, salah satunya bersekolah di SMK dan satunya lagi masih berusia 2 tahun. Sebagai penunjang hidupnya. Mastari membuat usaha bengkel. Dalam paguyuban PUMA, Mastari merupakan salah satu pendiri PUMA.118

116Hasil wawancara Leonardo Haloho dengan Waluyo di Sekretariatant PUMA pada tanggal 18 maret 2017.

117 Sama dengan di atas.

118 Hasil wawancara Asna Juniar Sihombing dengan Mastari asal Jember, umur 47 tahun, tempat wawancara di secretariat PUMA Jalan Akasia V No.2 BR Buaji,

Dalam kehidupan sehari-hari, Mastari juga melakukan praktik alih kode dan campur kode, atau bisa juga seutuhnya memakai bahasa Bali maupun bahasa Indonesia saat berkomunikasi di dalam lingkungan keluarganya. Apalagi jika komunikasi itu terjadi di ranah formal, misalnya dalam acara pertemuan di balai banjar, bukan hanya Mastari, boleh dikatakan bahwa semua anggota PUMA menggunakan bahasa Indonesia. 119

“Kalau bahasa Indonesia biasanya kami gunakan pada saat rapat, ketika ada pertemuan itu kita kan campur gitu ya, bukan bahasa lokal lagi yang digunakan melainkan kita harus menggunakan bahasa Indonesia agar semua mengerti.” 120 Akan tetapi jika para migran berkomunikasi dengan penduduk lokal, mereka lebih senang memakai bahasa Bali. Pilihan tersebut didasari oleh kesadaran bahwa mereka adalah kelompok minoritas agar komunikasi berlansung secara lancar. Akan tetapi jika yang diajak berbicara adalah berasal dari kalangan berkasta tinggi, mereka memilih memakai bahasa Indonesia.

“Biar kita tidak salah ucap kita menggunakan bahasa Indonesia dengan orang Bali berkasta tinggi, saya sih bisa ya tapi orang lain kurang memahami jadi kita menggunakan bahasa Indonesia saja agar tidak salah ucap gitu.”121

5.2.2 Agama dan Kebudayaan

Seperti sudah disebutkan di atas, kegiatan PUMA salah satunya adalah melaksanakan peringatan hari besar Islam (PHBI), misalnya pengajian. Pengajian

119 Sama dengan di atas.

120 Hasil Wawancara Dini Eka Wulansari dengan Mistari, usia 47 tahun di Sekretariat PUMA Denpasar tanggal 24 Maret 2017.

121 Sama dengan di atas.

untuk laki-laki yang sudah berkeluarga dilakukan setiap 2 minggu sekali, sedangkan untuk kaum perempuan dua kali dalam setahun.122

PUMA juga memiliki visi menjaga keamanan, kebersihan, dan kenyamanan di lingkungan masing-masing dan misi membantu kelian dinas dan kelian adat untuk menegakkan tertib administrasi bagi penduduk pendatang.

Setiap migran yang baru datang dan ingin tinggal di lingkungan jalan Akasia harus segera melapor ke kelian dinas untuk membuat kipem. Setelah itu mereka berada dalam pengawasan koordinator pendatang. 123

Koordinator ini ditempatkan di setiap gang di wilayah Akasia, sehingga dinamakan koordinator gang. Tugasnya adalah mendata pendatang baru yang tinggal di gang tersebut, lalu mengajak mereka melapor satu kali duapuluh empat jam ke kelian dinas, dan mensosialisasikan keberadaan PUMA dan mengajaknya ikut bergabung untuk bisa saling membantu dan saling mengawasi satu sama lain.124 Koordinator gang juga ditugasi untuk ikut menjaga dan mencegah masukknya aliran-aliran sesat yang punya potensi meresahkan para warga.125

Selama ini memang ada aliran-aliran seperti yang seringkali disebutkan dalam media sosial, misalnya ISIS. Aliran seperti ini tidak bisa masuk ke lingkungan PUMA karena bertentangan dengan aliran Islam yang mereka jalani

122 Hasil wawancara Nyoman Oka Prihasta Putra dengan Waluyo, selaku ketua umum PUMA pada tanggal 18 Maret 2017, bertempat di Jalan Akasia v no.2 Denpasar Timur.

123 Sama dengan di atas.

124 Hasil wawancara Reinaldo Fahmi Zackaria dengan Puji Suwantoro, bertempat di Sekretariat PUMA, Denpasar Barat, pada tanggal 18 Maret 2017.

bersama. Oleh karena itu mereka selalu mewaspadai adanya kemungkinan penyusupan. Jika warga melihat orang yang tidak dikenal masuk ke wilayah tempat tinggalnya, mereka harus segera melaporkannya ke koordinator gangnya masing-masing. Jika mereka melakukan kegiatan yang mencurigakan, koordinator gang tesebut harus segera melaporkannya ke ketua PUMA untuk selanjutnya diteruskan tingkat ke kelurahan.126

Dalam sejarah keberadaan, pernah suatu hari PUMA kedatangan orang-orang yang membawa suatu aliran yang tidak mereka harapkan itu, namun masih bisa ditanggunglangi. Mereka segera melakukan pendekatan, berbicara dari hati ke hati bahwa kalau ingin melakukan pengajian harus memberitahukan terlebih dahulu kepada PUMA. Sebagai suatu wadah orang muslim di Jalan Akasia, mereka menjelaskan, tugas dan kewajiban PUMA adalah mengantisipasi suatu hal yang tidak diinginkan, yang dapat mengganggu keharmonisan hubungan antara penduduk pendatang dengan penduduk asli. Oleh karena itu tidak boleh ada pengajian tanpa sepengetahuan PUMA, karena dikhawatirkan akan disusupi oleh paham-paham yang menyesatkan.127

Demi menjaga eksistensinya, PUMA mewajibkan anggotanya untuk membayar iuran bulanan sebesar sepuluh ribu rupiah, yang kemudian dijadikan sebagai dana suka suka. Sebagai konpensasi atas kewajiban itu, setiap anggota PUMA diberikan hak mendapatkan pelayanan suka duka dan santunan duka sesuai kesepakatan. Jika ada anggota yang sakit lebih dari tiga hari belum sembuh

126Hasil Wawancara Jean Harly Harefa dengan Mistari (46 tahun), montir, di sekretariat PUMA Denpasar tanggal 18 Maret 2017 pukul 16.20 WITA.

127 Sama dengan di atas.

atau ada yang sampai rawat inap, mendapatkan santunan sebesar 250 ribu rupiah dan dibesuk oleh semua anggota. Santuan dengan jumlah yang sama juga diberikan kepada setiap anggota yang meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Jika PUMA mengadakan suatu kegiatan, semisal pengajian dan segala macam juga akan meminta uang sukarela demi kelancaran acara. Sumbangan ini diminta secara fleksibel, meskipun para warga ada yang tidak mempunyai dana, tidak menyumbangpun tidak masalah.128

Selain pengajian, PUMA punya kegiatan menyantuni anak yatim dari sekitaran Denpasar sampai Karangasem. Jumlah anak yatim asuhan mereka mencapai 54 orang.129 Pada saat memberikan santunan kepada anak yatim, para anggota PUMA mendatangi rumah mereka masing-masing. Bagi anak yatim yang sedang menempuh pendidikan, PUMA menyediakan biaya pendidikan hingga lulus dengan menggunakan dana sukarela dari para anggota. Akan tetapi uang itu tidak langsung diberikan ke setiap individu yang bersangkutan, melainkan langsung ke pihak sekolah. PUMA menyebutkan kegiatan sosial ini sebagai sebuah keikhlasan dan untuk mendapatkan pahala. Selanjutnya, bendahara PUMA memantau hasil distribusi uang yang diberikan kepada para anak Yatim.130

Dengan demikian, PUMA telah berhasil mewujudkan jati dirinya sebagai wadah umat muslim di Jalan Akasia untuk menyambung tali silaturahmi hingga memberikan bantuan pertolongan pertama kepada para pendatang, baik yang

128 Hasil wawancara Reinaldo Fahmi Zackaria dengan Puji Suwantoro, bertempat di Sekretariat Puma, Denpasar Barat, pada tanggal 18 Maret 2017.

129 Hasil wawancara Nyoman Oka Prihasta Putra dengan Waluyo, selaku ketua umum PUMA pada tanggal 18 Maret 2017, bertempat di Akasia v no.2 Denpasar Timur”

bersifat moral maupun material, sekaligus pula sebagai tameng jika terjadi masalah-masalah mendesak maupun darurat.131

Dalam soal keamanan, jika PUMA menyelenggrakan upacara keagamaan mereka selalu mendapatkan pengamanan dari pecalang Hindu.132 Tetapi ketika Hari Raya Nyepi berjatuhan pada saat hari jumat, umat Hindu menunjukkan toleransinya membebaskan umat Muslim untuk sembahyang sebagaimana mestinya dengan cara berjalan kaki. Setelah selesai sholat jumat, umat Muslim kembali ke rumah masing-masing dengan tertib.133

Dalam upacara kematian, tampak dari mereka sama-sama merasakan duka baik umat Muslim maupun Hindu di Jalan Akasia. Umat Muslim datang dan ikut berbela sungkawa jika ada umat Hindu ada kematian dengan membawa simbol-simbol seperti kain kafan atau yang lainnya yang menunjukkan ikut mengalami kesedihan. Sebaliknya, umat Hindu juga akan datang jika umat Muslim ada kematian.134

Secara internal, kematian bukanlah soal yang sederhana, karena setiap aliran keagamaan mempunyai orientasi pemikiran yang berbeda. Pada dasarnya anggota PUMA terdiri dari dua aliran keagamaan, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadyah. Jika dilihat dari komposisinya, jumlah pengikut aliran NU lebih banyak daripada Muhammadyah. Perbedaan orientasi pemikiran ini didasarkan

131 Hasil wawancara Dwi Ari Wulaningsih dengan Puji, sama dengan di atas.

132 Hasil wawancara Putu Dyah Pradnya Paramitha dengan Ketut Sara Wirata selaku Jro Mangku Pura Penyarikan Kelurahan Sumerta, tanggal 9 Maret 2017.

133 Sama dengan di atas.

134 Saam dengan di atas.

pada visi dan misi masing-masing organisasi induknya. Mereka yang berliran NU tampak lebih fleksibel terhadap tradisi, mereka boleh mendoakan orang yang sudah meninggal, suatu hal yang tidak mau dilakukan oleh warga yang beraliran Muhammadyah. Warga PUMA yang beraliran NU juga boleh mengikuti tahlilan, suatu hal yang tidakboleh dilakukan oleh warga Muhammadyah. 135

Warga Muhammadyah, sesuai dengan aliran keagamaannya, pada umumnya mengganggap tradisi tahlilan tidak sesuai dengan ajaran dalam Al Quran, bahkan sering adanya yang menyebutkan sebagai sesat. Sementara warga NU yang sanak keluarganya mengalami kemalangan, kematian senantiasa

Warga Muhammadyah, sesuai dengan aliran keagamaannya, pada umumnya mengganggap tradisi tahlilan tidak sesuai dengan ajaran dalam Al Quran, bahkan sering adanya yang menyebutkan sebagai sesat. Sementara warga NU yang sanak keluarganya mengalami kemalangan, kematian senantiasa

Dokumen terkait