• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Landasan Teori

2. Bahasa sebagai Sarana Penyampai Subjektivitas

Pemikiran Ferdinand de Saussure mengenai konsep “penanda” dan “petanda”

mempengaruhi pemikiran Lacan dalam psikoanalisis. Lacan berpendapat bahwa

“penanda” terlepas dari makna dan bahwa subjek tidak menyadari hal tersebut.

“Penanda” dan “petanda” adalah dua jaringan hubungan yang berbeda. “Penanda”

adalah struktur sinkronis bahasa, tempat setiap elemen digunakan secara berbeda oleh setiap orang, sedangkan “petanda” adalah keseluruhan diakronis suatu wacana (Lemaire, 1977:38-39). Lacan menggunakan teori strukturalisme lingustik dalam usaha melawan anggapan yang meyakini bahwa wilayah ketaksadaran dapat dikendalikan, dan bahwa ada pemahaman terhadap subjek yang akurat, dan subjek dapat meraih kepastian tentang dirinya (Lemaire, 1977:40). Bagi Lacan, kepastian diri adalah suatu kemustahilan. Subjek hanya bergerak mencari kepastian diri tanpa dapat meraihnya.

Lacan mengatakan bahwa subjek bersifat tidak pasti karena ia terpecah oleh efek dari bahasa. Keterpecahan subjek oleh bahasa ini selalu membuat subjek menemukan kelebihan dirinya pada yang Lain.

Selanjutnya Lacan menjelaskan bahwa linguistik telah memperkenalkan perbedaan struktur sinkronis dan diakronis dalam bahasa, sehingga membuat seseorang dapat memahami lebih baik makna perkataan seseorang berkaitan dengan hal-hal yang disembunyikannya. Lacan juga menjelaskan bahwa bahasa memiliki dua unsur, yaitu

“penanda” dan “petanda”. “Penanda” adalah sebuah kata, atribut material dari sebuah bahasa, sedangkan “petanda” adalah suatu konsep dari benda tertentu. Lebih lanjut Lacan memperluas pengertian “petanda” a la Saussure ini. Jika dalam konsep Saussure,

“petanda” adalah konsep dari suatu objek, maka Lacan memahami “petanda” sebagai makna sosial, norma dan anggapan yang ada dalam suatu komunitas masyarakat (Lacan, 2001:113). Hubungan antara “penanda” dan “petanda” digambarkan sebagai berikut.

Sd

sr

Lacan menyebutkan bahwa pada rumus tersebut, bagian atas (S) dan bagian bawah (s) berhubungan secara paralel, dan memiliki keseluruhan (strukturnya) sendiri-sendiri (hubungan horisontal). Selanjutnya, dalam proses penandaan, “penanda”

memasuki “petanda”, yaitu hubungan antara “penanda” dan “petanda” (secara vertikal) ini tidaklah tetap dan mendapat pengaruh dari aspek kebudayaan, sejarah, dan sosial.

Lacan menyebutkan bahwa struktur “penanda” adalah bahasa itu sendiri, “penanda”

ditentukan oleh tata bahasa dan leksikologi suatu bahasa. Makna didapat dalam rantai penanda-penanda dalam suatu konteks tertentu, sehingga “penanda” ada di atas

“petanda”. Oleh karena itu, Lacan menyebutkan bahwa segala sesuatu muncul dari struktur “penanda”. Konsep penanda-petanda ini misalnya dalam suatu konteks tertentu muncul penanda kursi akan memunculkan petanda k-u-r-s-i atau memunculkan petanda kekuasaan dalam konteks yang berbeda.

Lebih lanjut Lacan menjelaskan bahwa langue berbeda dari parole. Lacan lebih menekankan parole (ujaran) daripada langue (sistem bahasa) karena bagi Lacan parole mengandung kebenaran mengenai kenyataan saat ini, melalui bahasa wilayah ketaksadaran “berbicara”. Lacan menjelaskan hubungan antara parole (ujaran) dan langue (bahasa) dalam tiga golongan. Pertama, dalam kasus psikosis, subjek mengalami objektivikasi, seseorang menjadi objek dari langue, dan parole tidak hadir. Kedua, dalam kasus neurosis, perkataan subjek terlepas dari konteks kesadaran subjek dan mengekspresikan diri dalam bentuk lain, dalam suatu bahasa simbolik. (Dalam kasus ini, Freud berhasil memahami bahasa simbolik dan menemukan wilayah ketaksadaran).

Ketiga, dalam kasus biasa, seseorang kehilangan identitasnya karena terbawa lingkungan, subjek kehilangan makna dalam objektivikasi dari wacananya. Bahasa

menciptakan kenyataan secara terus-menerus. Tidak ada pemikiran tanpa bahasa.

Pengetahuan mengenai dunia, yang Lain, dan subjek juga ditentukan oleh bahasa. Lacan menjelaskan bahwa seorang manusia dilahirkan ke dalam bahasa, pada saat itu jugalah hasrat menjadi manusia. Manusia dimiliki oleh suatu bahasa. Bahasa mendahului kelahiran seseorang, dan masuk ke dalam diri melalui wacana, membentuk keinginan-keinginan dan fantasi-fantasi seseorang. Tanpa bahasa, tidak ada hasrat; tanpa bahasa, tidak ada Subjek. Tahap simbolik dimulai ketika seseorang masuk ke dalam struktur bahasa. Manusia menemukan diri sebagai Subjek hanya karena bahasa yang merumuskan konsep Subjek dalam kenyataan. Subjek dan parole tidak dapat dilepaskan.

Parole muncul ketika Subjek mengalami kehilangan atau kekurangan diri. Misal, tangisan bayi muncul ketika ada keinginan membuat orang lain (ibu) memenuhi kehilangan atau kekurangannya. Lacan menyebut manusia sebagai “Subjek yang berbicara” dan subjek menjadi “penanda”. Lacan mendefinisikan “penanda” sebagai apa yang merepresentasikan Subjek bagi “penanda” lainnya, sehingga terjadi suatu rantai penanda-penanda (Lacan, 2001:131). Dalam teori ini Lacan menghubungkan subjektivitas dengan bahasa.

Lacan mengatakan “bahasa sebagai sebuah tanda”. Fungsi bahasa bukan untuk menginformasikan, tetapi memanggil. Pernyataan tersebut dipahami bila seseorang berbicara kepada orang lain, maka lawan bicara akan terpengaruh. Pengaruh yang ditunjukkan dapat berupa sikap menjawab atau sikap mendiamkan. Dalam hal ini, Lacan menyebutkan bahwa seseorang mengidentifikasi diri dalam bahasa, tetapi justru kehilangan diri dan menjadi sebuah objek. Dengan kata lain, Lacan menjelaskan bahwa

melalui bahasa seseorang masuk ke dalam proses pembentukan identitasnya (Lacan 2001:131).

Dalam bahasa, ujaran selalu melibatkan bukan saja yang mengucapkan, melainkan juga kepada siapa ujaran tersebut dimaksudkan, karena “ujaran mengikat penuturnya dengan melibatkan orang yang dituju oleh ujaran tersebut dengan suatu kenyataan baru.” Lebih lanjut, Lacan ketika manusia berkata, ia teralienasi dari dirinya, karena yang Lain adalah tujuan dari perkataannya, dan ada jarak antara Subjek dengan yang Lain.

Dalam hubungannya dengan wilayah ketaksadaran, Lacan menjelaskan bahwa

“wilayah ketaksadaran memiliki struktur sama seperti suatu bahasa” dan bahwa wilayah ketaksadaran terbentuk melalui bahasa. Struktur suatu bahasa inheren dalam wilayah ketaksadaran, yang terjadi karena wilayah ketaksadaran merupakan akumulasi dari efek perkataan Subjek, sehingga wilayah ketaksadaran Subjek memiliki struktur seperti sebuah bahasa. Menurut Lacan, Subjek ditentukan oleh bahasa dan perkataan, di mana Subjek merealisasikan diri melalui perkataan dan bahwa setiap perkataan adalah suatu keinginan/hasrat, yang merupakan perwujudan dari simbolik dan pertentangan dengan imajiner, yang selanjutnya melahirkan subjektivitas. Subjektivitas subjek dapat dilacak melalui penanda utama, citra, fantasi, atau mekanisme metafora dan metonimia dalam bahasa.

2.1 Metafora dan Metonimia

Mengacu pada pemikiran Freud, dijelaskan bahwa bentuk wilayah ketaksadaran sebagai pemadatan (condensation) dan penggantian (displacement), yang khususnya terjadi dalam mimpi, ketika wilayah ketaksadaran melepaskan sebagian ingatannya dan

digantikan oleh pemahaman yang lain. Selanjutnya, Lacan mendefinisikan pemadatan dan penggantian (condensation dan displacement) dalam konsep Freud dengan meminjam konsep Roman Jakobson, yaitu konsep metafora (kias) dan metonimia (majas), yang kedua hal tersebut juga terjadi dalam mimpi. Jakobson menyebut bahwa simbolisasi adalah bentuk metafora, sedangkan pemadatan dan penggantian adalah bentuk aktivitas metonimia. Metafora dipahami sebagai suatu kata yang mewakili kata lainnya yang sering digunakan dalam karya sastra. Metafora tidak mengacu pada makna sebenarnya, tetapi menjadi suatu bentuk simbolisasi dari arti yang ingin disampaikan, sedangkan metonimia memuat hubungan langsung antara ungkapan verbal dan isinya dalam satu kalimat (Roudinesco, 1999: 271-272).

Selanjutnya seperti telah dijelaskan dalam konsep bahasa Lacan bahwa suatu penanda selalu menandakan penanda lain, maka tidak ada kata yang bebas dari metafora. Lacan berbicara tentang glissement (ketergelinciran) dalam rantai penandaan, dari penanda yang satu ke penanda yang lain, karena setiap penanda dapat menerima pemaknaan, maka tidak pernah ada makna yang tertutup, makna yang memuaskan (Sarup, 2011: 10). Lacan juga menyebut bahwa suatu gejala berkaitan dengan metafora ketika gejala tersebut menjadi penanda bagi penanda lainnya yang tersembunyi;

sedangkan metonimi merupakan hasrat tak-sadar muncul sebagai hasrat akan hasrat yang tidak terpenuhi (ever-unsatisfied desire for desire).

Metafora dan metonimia sebagai ekspresi bahasa subjek untuk menyampaikan hasrat melalui simbol. Simbol yang disampaikan subjek pada tuturan mewujud dalam full speech pada bahasa (parole), sedangkan sistem simbol untuk menyampaikan tuturan subjek mewujud pada empty speech pada bahasa (langue). Subjek teralienasi pada

tahap empty speech ketika menggunakan bahasa, tetapi dengan menggunakan metafora dan metonimia subjek dapat menyampaikan hasrat melalui full speech. Melalui full speech, subjek dapat menyampaikan hasrat tersembunyi pada tatanan bawah sadarnya.

(Chiesa, 2007: 38-39)

Dokumen terkait