KETENTUAN TEKNIS
A. Perhitungan Debit Andalan
1. Bangunan Utama
a).
Bendung Sederhana Bendung berfungsi untuk meninggikan permukaan air sungai sesuai dengan kebutuhan dan membelokkan air ke saluran pembawa sesuai dengan debit yang dibutuhkan.
Digunakan pada daerah irigasi yang elevasi permukaan sawahnya lebih tinggi dibanding dengan elevasi permukaan air sungai rendah.
Bendung ditempatkan pada alur sungai yang lurus dan dasar sungai relative stabil
90 PETUNJUK TEKNIS Perencanaan Kegiatan Infrastruktur
Panjang bendung tidak lebih dari 0,8 lebar rata-rata dasar sungai. Bendung sederhana dapat terbuat dari pasangan batu, bronjong dan
cerucuk.
b).
Perhitungan Debit Banjir RencanaDebit Banjir Rencana dihitung guna menentukan panjang bendung, tinggi tembok samping dan penampung sungai di bagian hulu bendung, serta menentukan kedalaman dan panjang lantat olak.
Dihitung dari bangunan-bangunan air yang terdapat di dalam sungai, misalnya, bendung dan lain-lain. Rumus Bendung :
Q = m.b.d Vg d
dimana : Q = debit banjir b = panjang bendung d = tinggi peluapan = 2/3 .H H = tinggi air di atas mercu, take water depth
m = angka penaliran (1,3-1,35) g = gravitasi (9,81 m/dt2)
c) Bendung Bronjong
Bendung bronjong adalah bangunan air sederhana yang sifatnya tidak permanen, dibuat dari susunan atau tumpukan bronjong kawat diisi batu kali, melintang sungai yang lebarnya lebih kecil dari 15 m dan berfungsi menaikkan muka air sungai sehingga air sungai dapat dialirkan ke daerah irigasi tadah hujan yang akan dikembangkan.
Pada arus surgai yang mengangkut batu. kayu dan air sungai agresif, bendung bronjong tidak disarankan pemakaiannya.
Perencanaan Teknis Bendung :
Kemiringan bagian hilir bendung 1:1 sampai 1:2 dan untuk hulu dengan kemiringan 1:1.
Ukuran bronjong dapat disesaaikan dengan kebutuhan dengan ketebalan 0,5 m, kawat yang digunakan adaiah kawat yang digalvanis dengan diameter minimal 3 mm.
Untuk mengurangi bocoran pada bendung bronjong dapat dipakai lapisan ijuk yang dipasang diantara kotak bronjong. Dengan demikian butir-butir tanah akan tertahan.
Tinggi bendung maksimum 2,50 m. Panjang lantai 2 - 2,5 tinggi bendung. Panjang tubuh bendung kurang dari 15 m.
Elevasi mercu bendung direncanakan berdasarkan perhitungan tinggi air saluran ditambah 20 cm, sebagai kehilangan tinggi pada mercu bendung karena tubuh bendung terbuat dari bronjong yang lolos air.
PETUNJUK TEKNIS Perencanaan Kegiatan Infrastruktur 91
d) Waduk/Embung
Pada umumnya bangunan waduk/embung berfungsi untuk menampung air hujan dan digunakan untuk irigasi air minum dan lain-lain.
Waduk/embung dibuat pada daerah cekung atau pada alur sungai kecil yang memungkinkan untuk menjadi penampung air.
Dipilih pada daerah yang berjenis tanah tidak porous (lolos air).
Tubuh tanggul waduk/embung pada umumnya dibuat dari timbunan tanah pudel, bangunan intake dan pelimpah dibuat dari pasangan batu yang ditempatkan pada tanah asli.
Bila terjadi bocoran pada tanggul, maka diatasi dengan cara : • Menebalkan tanggul bagian luar
• Membuat inti lapisan kedap air
• Dibuat pasangan batu atau diberi lapisan kedap air di bagian dalam tanggul • Membuat drain filter di kaki tanggul luar dari pasangan batu kosong atau
bronjong.
Stabilitas tanggul diperhitungkan terhadap : Rembesan, Stabilitas lereng dan penurunan.
Untuk keperluan air irigasi perlu dibuat bangunan pengambilan. Disain Teknis :
• Pembuatan peta situasi genangan maupun lokasi bangunan embung dilaksana dengan alat optik atau pipa (slang) plastik.
• Daya dukung tanah pondasi minimum 1 kg/cm2 (1 ton/m2) • Koefisien rembesan maksimum K < 10 -5 m/det.
• Kemiringan badan embung, minimum hilir =1:3, hulu = 1: 3,5. • Tinggi embung > 3 m dibuat berem selebar 2 m
• Lebar puncak embung minimum 4,00 m
• Bila lapisan kedap air berada < 2,00 m dari dasar tanah pondasi dibuat paritan (cut off) lebar paritan 2,00 m.
• Tinggi jagaan minimum 1,00 pada tinggi air minimal
e) Mata Air
Sumber air ini berfungsi sebagai sumber air utama atau sebagai suplesi. Untuk mata air ini biasanya dibuatkan bangunan penampung air, dialirkan ke
jaringan irigasi, melalui bangunan pengambilan yang dapat diatur. Konstruksi bangunan penampung air dibuat dari pasangan batu.
Apabila diperlukan dibuat bangunan pelimpah untuk membuang limpahan (over topping).
Catalan : Dalam menentukan elevasi dasar bangunan pengambilan harus hati-hati agar mata air nantinya tidak berpidah atau mati.
f) Air Tanah
Air tanah adalah air yang berada pada lapisan bagian bawah tanah.
Kandungan air tanah terdapat pada lapisan tanah yang terbentuk dari bahan-bahan tanah berpasir dan kerikil.
Lapisan tanah yang mengandung air tanah biasanya dibatasi oleh : • Bagian bawah dengan lapisan kedap air
92 PETUNJUK TEKNIS Perencanaan Kegiatan Infrastruktur
Air tanah terdapat di daerah cekungan atau di daerah datar dekat pantai; Pemanfaatan dan syarat-syarat :
• Letak air tanah tidak lebih dari 2.00 m dari permukaan tanah. • Dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga dan pertanian.
• Pemanfaatan untuk pertanian terbatas pada tanaman palawija dan sayuran.
Disain Teknik :
• Cara mengumpulkan air tanah dilakukan dengan membuat sumur gali yang dapat diperkuat dengan pipa beton Ø 0,80 - 1.00 m atau pasangan batu/batu bata.
• Kedalaman air dalam sumur 1.50 - 2.00 m.
• Pada tanah yang banyak mengandung pasir disarankan pada dasar sumur di beri lapisan ijuk yang diberi pemberat batu.
• Untuk menaikkan air dapat dilakukan dengan : Pompa air mekanis (pompa dragon), ditimba, system senggot (jawa)
g) Saluran Pembawa, Alat Ukur Debit dan Bangunan Penguras i) Saluran Pembawa
Untuk pengaliran air irigasi diperlukan saluran pembawa. Kapasitas saluran irigasi ditentukan oleh kebutuhan air irigasi sehingga perencanaan saluran harus diperhitungkan dengan biaya murah, pemeliharaan paling rendah, serta aman terhadap erosi dan sedimentasi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas yang paling umum dibuat adalah saluran berbentuk trapesium
ii) Pemilihan jenis saluran hendaknya mempertimbangkan
Fungsi jaringan irigasi dengan kondisi fisik dalam keadaan baik Saluran lama yang ada
Biaya pemeliharaan murah Pengoperasian mudah "
Aspirasi atau tradisi masyarakat setempat.
iii) Perencanaan Saluran
Saluran pembawa dapat berupa saluran tanah, pasangan batu atau beton.
Kapasitas rencana saluran dihitung berdasarkan kebutuhan air irigasi dengan memperhatikan faktor efisiensi dan dimensi saluran yang ada.
Saluran pembawa juga harus mempertimbangkan debit air hujan yang masuk.
iv) Saluran pasangan hanya digunakan pada tempat-tempat yang porous
(tanah berongga) sedangkan pada tempat-tempat rawan dapat dibuat saluran tertutup.
PETUNJUK TEKNIS Perencanaan Kegiatan Infrastruktur 93
4.7. PRASARANA PERSAMPAHAN
Persyaratan umum pembangunan prasarana persampahan : Lokasi dipilih pada tempat yang
jauh dari sumber air bersih, bukan didaerah banjir dan mudah dijangkau oleh alat transportasi sampah (mobil angkutan sampah)
untuk memudahkan pengangkuatan ketempat pembuangan akhir (TPA);
Lokasi TPS harus dimusyawarahkan
dan sepakati bersama oleh warga, terutama warga disekitar lokasi TPS akan dibangun sehingga tidak menimbulkan konflik sosial;
Penyediaan TPS berikut Gerobak Sampah diutamakan bagi kelurahan/desa yang terjangkau oleh jaringan/sistem persampahan kota atau mempunyai akses yang dekat ke tempat pembuangan akhir sampah (dengan gerobak sampah mampu dibuang sendiri ke lokasi TPA). Sedangkan untuk daerah dengan kepadatan penduduk yang masih rendah dan tanah cukup luas (perdesaan), pembungan sampah dapat dilakukan dengan cara menggali lubang sampah ditanah dipekarangan untuk dibakar atau ditimbun tanah kembali setelah penuh.
Pengumpulan sampah dari rumah-rumah sekurang-kurangnya 2 hari sekali dan pembungan sampah dari TPS sekurang-kurangnya seminggu sekali dengan volume sampah minimal, untuk menghindari bau, mencegah pencemaran lingkungan dan kemungkinan sarang vektor penyakit (lalat).
Masyarakat bersedia membentuk kelembagaan pengelola pemanfaatan dan pemeliharaan prasarana berikut pembiayaannya secara swadaya. Anggota masyarakat yang menggunakan jasa pengelolaan sampah akan dimintai kontribusi berupa dana/iuran sampah. Dengan cara tersebut diharapkan memperoleh lingkungan permukiman yang bersih dan sehat.
Bangunan TPS dibuat dari konstruksi sederhana, sesuai kondisi sosial setempat dan dapat menggunakan bahan lokal, seperti dari pasangan batu/batu bata. Ukuran TPS sekurang-kurangnya mempunyai kapasitas (isi) 2 m3 dengan jarak antar TPS sekurang-sekurang-kurangnya 150m.
4.8. PRASARANA PEBANGKIT LISTRIK/PENERANGAN UMUM
Prasarana/kegiatan lingkungan penerangan umum yang dibangun dalam PNPM merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat umum/kepentingan umum bagi masyarakat miskin yang pengelolaannya dilakukan sendiri oleh masyarakat, bentuk kegiatannya kebutuhan akan listrik bukan saja pada penerangan jalan/tempat umum (Tiang + Lampu) dan Pembangkit Listrik (Genset/PLTM + Jaringan + Rumah Genset), namun bisa dikembangakan pada pemenuhan listrik dengan tenaga mikro hidro, listrik tenaga matahari, listrik tenaga angin, dalam buku petunjuk teknis sebagai contoh adalah pembangkit listrik Tenaga Mikrohidro. Adapun tahapannya sbb:
94 PETUNJUK TEKNIS Perencanaan Kegiatan Infrastruktur
a. Persiapan dan Penggalian Tanah
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) ditempatkan di jaringan irigasi pada lokasi yang mempunyai bangunan terjun atau got miring dengan tinggi terjun (perbedaan tinggi antara muka air udik dan muka air hilir), h, kurang dari 3,0 m dan debit aliran , Q, tidak kurang dari 80 l/dt. Tanah untuk penempatan PLTM yang letaknya di sebelah bangunan terjun disiapkan dengan cara membersihkan, meratakan, dan memasang patok-patok dan palang-palang penjuru yang diperlukan. Untuk membuat bangunan-bangunan tangki tekan, saluran hulu, saluran hilir, dan rumah PLTM dilakukan penggalian tanah di sebelah bangunan terjun.
b. Pembuatan Tangki Tekan, Saluran Hulu, Dan Saluran Hilir
Pada lubang galian dibuat bangunan-bangunan tangki tekan, saluran hulu, dan saluran hilir dari pasangan batu. Tangki tekan dilengkapi dengan pintu pengatur, jembatan pelayanan, dan saringan sampah. Lubang masuk aliran dari tangki tekan ke turbin dibuat dari koker beton bertulang. Pondasi turbin dan generator dan generator dengan lubang-lubang angkur dibuat pada pangkal saluran hilir.
c. Pembuatan Inlet Dan Outlet
Setelah tangki tekan, saluran hulu, dan saluran hilir selesai dibuat sampai batas inlet dan outlet, lubang galian diurug kembali kecuali pada bagian inlet dan outlet. Pada saluran irigasi, di sekitar inlet dan outlet dibuat dam pengeringan (kisdam) dari karung pasir dan tanah.
Tanah pembatas antara saluran dan lubang galian digali. Inlet dan outlet saluran hulu dan saluran hilir dapat dibuat dalam keadaan kering.
Untuk menghemat biaya kisdam, sebagai alternatif, inlet dapat dibuat lebih dulu dengan memasang kisdam hanya pada inlet. Setelah inlet selesai dibuat, pintu pengatur ditutup rapat dan kisdam pada inlet dibongkar untuk dipergunakan lagi pada pembuatan outlet.
d. Pembuatan Rumah Pembangkit
Setelah saluran hulu dan saluran hilir selesai lengkap sampai dengan inlet dan outletnya, sisa lubang galian diurug kembali, permukaan tanah diratakan dan dipadatkan. Untuk pekerjaan selanjutnya kisdam dapat dibongkat, namun pintu pengatur harus ditutup rapat. Pembuatan rumah pembangkit dimulai dengan pembuatan lantai dari pasangan bata diplester dan plat beton untuk bagian yang terdapat di atas saluran. Dudukan turbin dan generator lengkap dengan angkurnya dipasang pada lantai.
e. Pemasangan Turbin, Generator, Dan Panel Kontrol
Setelah rumah pembangkit selesai dibuat, turbin, generator, dan panel kontrol dapat dipasang. Pemasangan turbin dan generator pada dudukannya menggunakan waterpass dua arah agar as turbin maupun as generator benar-benar horizontal. Untuk penyelesaiannya digunakan pengganjal dari potonganpotongan plat tebal sampai plat tipis. Panel kontrol digantung pada dinding.Kabel-kabel tegangan rendah ditarik mulai dari panel kontrol di rumah pembangkit sampai ke rumah-rumah penduduk melalui tiang-tiang besi atau beton. Setelah ujicoba dengan pengawasan dari instansi yang berkompeten, dan siap dioperasikan.
PETUNJUK TEKNIS Perencanaan Kegiatan Infrastruktur 95
4.9. PRASARANA BANGUNAN GEDUNG
Prasarana bangunan gedung terdiri dari gedung sarana kesehatan, sarana pendidikan, rumah dan pasar untuk lebih jelasnya sbb: