• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 INTERAKSI DAN KINERJA PARA PIHAK Interaksi Para Pihak

8. BAPPEDA Kab Bekas

Claimant - memasuki - memanfaatkan - mengelola

- Memberi masukan kepada Perum Perhutani untuk menyempurnakan PHBM

- Melaksanakan PHBM yang telah disepakati

- Mendukung pembentukan Forum Pengelolaan Hutan Mangrove Teluk Jakarta Context Setter 7. BAPPEDA DKI Proprietor - memasuki - memanfaatkan - mengelola - mengeksklusi - Mempertimbangkan kelestarian hutan mangrove dalam membuat perencanaan pembangunan di Pantai Utara Jakarta

- Mendukung pembentukan Forum Pengelolaan Hutan Mangrove Teluk Jakarta

8. BAPPEDA Kab Bekasi

Authorized Entrant

- memasuki - Berkoordinasi dengan Perum Perhutani terkait dengan rencana program kegiatan yang akan dilaksanakan di Muara Gembong

No. Para Pihak Strata Hak Kewajiban

- Membuat program pemberdayaan masyarakat di Muara Gembong - Mendukung pembentukan Forum

Pengelolaan Hutan Mangrove Teluk Jakarta

9. Dinas PPK Kab Bekasi

Authorized Entrant

- memasuki - Berkoordinasi dengan Perum Perhutani terkait dengan program kegiatan yang akan dilaksanakan di Muara Gembong

- Mendukung pembentukan Forum Pengelolaan Hutan Mangrove Teluk Jakarta

10. BPLHD DKI Proprietor - memasuki - memanfaatkan - mengelola - mengeksklusi

- Menetapkan tujuan, program rehabilitasi hutan mangrove di Muara Angke

- Menyelesaikan masalah polusi di sungai-sungai yang bermuara di Teluk Jakarta

- Mendukung pembentukan Forum Pengelolaan Hutan Mangrove Teluk Jakarta

11. BPLHD Kab Bekasi

Authorized Entrant

- memasuki - Menetapkan tujuan dan program yang mendukung rehabilitasi hutan mangrove

- Berkoordinasi dengan Perum Perhutani terkait dengan program kegiatan yang akan dilaksanakan di Muara Gembong

- Mendukung pembentukan Forum Pengelolaan Hutan Mangrove Teluk Jakarta

12. Pengembang Reklamasi

Authorized Entrant

- memasuki - Mendukung kelestarian hutan mangrove di Pantai Utara Jakarta sebagai bagian dari kegiatan reklamasi , bekerjasama dengan Pemda DKI dan BKSDA DKI - Mendukung pembentukan Forum

Pengelolaan Hutan Mangrove Teluk Jakarta 13. Pemodal tambak Claimant - memasuki - memanfaatkan - mengelola

- Memberi masukan kepada Perum Perhutani untuk menyempurnakan PHBM

- Melaksanakan PHBM sesuai kesepakatan dengan Perum Perhutani

- Mendukung pembentukan Forum Pengelolaan Hutan Mangrove Teluk Jakarta

14. LSM Authorized Entrant

- memasuki - Membantu Pemerintah dalam melestarikan hutan mangrove melalui pemberdayaan masyarakat dan program peningkatan kesadaran

No. Para Pihak Strata Hak Kewajiban

masyarakat mengenai pentingnya hutan mangrove

- Mendukung pembentukan Forum Pengelolaan Hutan Mangrove Teluk Jakarta

15. DPRD Authorized Entrant

- memasuki - Menetapkan peraturan daerah yang mendukung kelestarian lingkungan hidup termasuk hutan mangrove - Mendukung pembentukan Forum

Pengelolaan Hutan Mangrove Teluk Jakarta

16. Lembaga Penelitian

Authorized Entrant

- memasuki - Melaksanakan penelitian yang bermanfaat dalam pelestarian hutan mangrove

- Mendukung pembentukan Forum Pengelolaan Hutan Mangrove Teluk Jakarta 17. Masyarakat Muara Angke Authorized Entrant

- memasuki - Ikut serta menjaga kelestarian hutan mangrove

- Ikut serta dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat - Mendukung pembentukan Forum

Pengelolaan Hutan Mangrove Teluk Jakarta.

Kustanti (2013) menyatakan bahwa penataan ruang kawasan hutan mangrove berasaskan pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan. Sedangkan salah satu tujuan penataan ruang adalah terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya dan mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan. Penataan ruang kawasan mangrove berdasarkan fungsi kawasan yang meliputi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Sesuai pasal 20 ayat 1 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang tersurat bahwa penetapan kawasan lindung dan kawasan budidaya termasuk di dalamnya adalah kawasan mangrove adalah merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang Nasional dimana rencana tata ruang tersebut menjadi pedoman penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota. Hasil kajian Tim Terpadu (2005) menyatakan bahwa hutan mangrove di Muara Gembong yang harus dipertahankan sebagai Zona Perlindungan adalah seluas 2.284,60 ha dan sebagai Zona Pemanfaatan seluas 2.715,40 ha. Sedang sisanya yang merupakan kawasan hutan produksi seluas 5.481,15 ha dapat dipergunakan bagi kepentingan non kehutanan melalui proses tukar menukar kawasan hutan.

Perum Perhutani harus meningkatkan komitmen dan kapasitasnya agar dapat bertindak sebagai key player dalam pengelolan hutan mangrove di Muara Gembong. Perum Perhutani untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang ada serta mengelola hutan secara lestari harus dapat membangun kepercayaan dan penerimaan dari masyarakat serta para pihak terkait lainnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari Kustanti (2013) di Lampung bahwa Universitas Lampung mendapatkan kepercayaan (trust) dan penerimaan (acceptability) dari masyarakat dan pemerintah Kabupaten Lampung Timur sehingga dapat melaksanakan pengelolaan hutan mangrove di tanah timbul. Hal yang sama disampaikan oleh

Hero (2012) bahwa pengelolaan Hutan Pendidikan Gunung Walat untuk kepentingan pendidikan dapat bertahan dari tahun 1969 sampai saat penelitian ini dilaksanakan (2013) karena Fakultas Kehutanan IPB berhasil membangun kemampuan (credibility) pelaku (ilmu pengetahuan, jaringan kerjasama, kepentingan, dan kekuasaan) sehingga pihak luar (eksternal) dapat menerima (acceptability) dan percaya (trust) terhadap pengelolaan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) IPB. Berdasarkan studi Berger et al. (1999) menyatakan bahwa 80% masyarakat sekitar hutan mangrove di Amazone Brazil kehidupannya tergantung secara ekologi, sosial dan ekonomi telah dilakukan pendekatan pengelolaan terpadu secara multidisiplin dan melalui pendekatan dengan para pengambil kebijakan dan pihak terlibat.

Pengelolaan hutan mangrove di Muara Angke yang selama ini dilaksanakan oleh BKSDA DKI Jakarta dan Dinas KPKP selama ini sudah dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat setempat, baik sebagai penyedia bibit mangrove maupun dalam kegiatan ekowisata mangrove. Pihak lain yang memiliki pengaruh besar terhadap kelestarian hutan mangrove di Teluk Jakarta yang harus diikutsertakan dalam kegiatan pengelolaan adalah para pengembang dalam kegiatan reklamasi di Teluk Jakarta. Para pengembang ini diharapkan dapat memainkan peranan yang lebih besar dalam pelestarian mangrove. Selain ikut berperan dalam melestarikan mangrove yang masih tersisa yang berada di Pantai Utara Teluk Jakarta dengan melaksanakan reklamasi dengan mengaplikasikan teknik yang memberikan dampak seminimal mungkin terhadap mangrove, juga dengan menanam mangrove sebagai pelindung di pantai pulau-pulau hasil reklamasi. Para pengusaha diharapkan tidak hanya mengejar keuntungan ekonomis yang hanya untuk jangka pendek saja tetapi juga memperhatikan keuntungan ekologi jangka panjang bagi manusia dan lingkunganya.

Pergeseran dan penyimpangan peran antara peraturan yang berlaku dengan pelaksanaan di lapangan telah terjadi akibat adanya kesalahan mendasar dari pendekatan parsial dalam pengelolaan hutan mangrove. Pendekatan yang berbasiskan command and control yang bersifat sentralistik yang selama ini diterapkan ternyata tidak memberikan hasil yang optimal dalam memperbaiki kondisi hutan mangrove. Untuk itu, diperlukan perubahan pendekatan yang mendasar dalam pengelolaan hutan mangrove menjadi pendekatan yang bersifat pengelolaan bersama (co-management) yang mengakomodir aspirasi dan keinginan dari semua para pihak. Penataan peran para pihak harus dilakukan dalam kerangka co-management.

Konsep dasar dari co-management yang berkaitan dengan sektor kehutanan menekankan bahwa harus tercapai kesepakatan tentang pengelolaan hutan antara pihak pengelola dengan masyarakat lokal. Masyarakat lokal berperan dalam hal pengelolaan dan perlindungan, sebagai imbalannya, masyarakat lokal mempunyai akses untuk memanfaatkan hasil-hasil hutan, dan memperoleh keuntungan dengan peningkatan pendapatan (Fisher 1995). Hal ini juga sejalan dengan pemikiran List (2000) bahwa terjadinya kerusakan akibat eksploitasi sumberdaya alam telah membawa kesadaran para pihak yang terlibat untuk menemukan cara baru dalam praktek pengelolaan hutan yang lebih adil dengan melibatkan masyarakat setempat.

Perubahan pendekatan yang dilaksanakan dari yang semula bersifat sentralistik yaitu dengan command and control menjadi co-management

mengadopsi prinsip-prisip co-management, (2) Program, dimana menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat serta para pihak lain yang terlibat. Perubahan pendekatan ini terutama perlu dilakukan oleh pihak yang menjadi key players karena pada kenyataannya pihak inilah yang memiliki pengaruh besar di lapangan.

Pengelolaan hutan mangrove tidak berjalan dengan baik karena pihak- pihak yang memiliki pengaruh besar tidak bersinergi. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan perlu melaksanaan kembali penataan, baik berupa perubahan pendekatan maupun kelembagaan termasuk peraturan yang menjadi payung dalam pengelolaan hutan mangrove di Muara Angke dan Muara Gembong. Pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/ BKSDA/Perhutani merupakan pihak utama yang perlu melakukan inisiasi pelaksanaan co-management dengan berbagai pihak terkait, seperti (1) dengan masyarakat, yang dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengadaptasi kebutuhan masyarakat, (2) meningkatkan peran kelembagaan lokal termasuk peran tokoh masyarakat serta aturan informal yang berlaku, (3) dengan Pemda/BAPPEDA, perlu memperhatikan/mengadaptasi pengembangan program- program ekonomi dari Pemda seraya tetap menyelaraskan dengan kebutuhan dari ekosistem hutan mangrove, antara lain dengan dalam pengusahaan ekowisata dengan memjalin kemitraan dalam membangun sarana dan prasarana penunjang wisata yang melibatkan masyarakat setempat. Namun demikian sarana dan prasarana yang dibangun harus menggunakan pola arsitektur setempat serta bahan-bahan yang ramah lingkungan serta diupayakan untuk tidak terjadinya kerusakan alam, serta (4) dengan para pengembang yang memiliki kapasitas finansial yang besar untuk ikut mempengaruhi pengelolaan hutan mangrove, baik untuk kepentingan pencitraan bisnis mereka maupun untuk kepentingan lingkungan hidup.

Pada akhirnya hal yang paling menentukan dalam usaha pelestarian hutan mangrove di Teluk Jakarta maupun di tempat-tempat lainnya di seluruh penjuru dunia adalah adanya kesadaran dari Pemerintah, masyarakat dan pihak-pihak terkait lainnya akan kedudukan hutan mangrove sebagai sumberdaya alam karunia Allah SWT. Hutan mangrove dititipkan kepada umat manusia untuk dapat dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya agar tetap dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh generasi yang akan datang. Diperlukan adanya kesadaran bahwa terdapat nilai lain yang lebih penting daripada sekedar nilai ekonomi. Para pengelola yang menyadari kedudukannya sebagai khalifah akan lebih bijak dalam melaksanakan pengelolaan. Pengelolaan hutan mangrove selama ini yang hanya mementingkan aspek teknologi dana manajemen harus disertai dengan aspek spiritual. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Alikodra (2012) bahwa alam mempunyai makna sebagai penopang kehidupan, maka alam patut dihargai dan diperlakukan dengan baik, bukan hanya demi manusia melainkan untuk seluruh ciptaan Allah SWT.

Dokumen terkait