HASIL DAN PEMBAHASAN
4. Barbodes schwanenfeldii (Lemeduk)
Morfologi: Morfologi: panjang total: 11, 5 cm 23 cm; panjang kepala: 2,1cm2,5 cm; Lebar badan: 3,1 cm 6,7cm; panjang ekor: 2,5 cm- 5 cm; lebar bukaan mulut: 1,3 cm-2,5 cm;Gurat sisi sempurna: 13 sisik sebelum awal sirip punggung , 8 sisik antara sirip punggung dan gurat sisi,badan berwarna perak dan kuning keemasan, sirip punggung merah dengan bercak hitam pada ujungnya, sirip dada,sirip perut, dan sirip dubur berwarna merah, sirip ekor berwarna oranye atau merah dengan pinggiran garis hitam dan putih sepanjang cuping sirip ekor. Badan lonjong tubuh umumnya memanjang ramping (streamline) agak pipih, sisik kecil danter dapat ventral scute yang dimulai dari belakang tutup insang sampai depan sirip dubur. Punggung berwarna kuning keemasan , bagian perut keperakan dan sirip berwarna kuning keemasan, Memiliki tapis insang (gill raker), Badan polos (tidak ditemukan bintik hitam di sepanjang tubuhnya), Sirip ekor panjang berwarna kuning kehitaman.
Gambar 14. Barbodes schwanenfeldii (Lemeduk)
Pembahasan
Dari hasil penelitian yang dilakukan maka diperoleh nilai Kepadatan (ind/m2), Kepadatan Relatif (%) dan Frekuensi Kehadiran (%) Ikan (K, KR, dan FK) pada setiap spesies yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Tabel 3: Nilai Kepadatan (ind/m2), Kepadatan Relatif (%) dan Frekuensi Kehadiran (%) Ikan pada Setiap Stasiun Pengamatan di Sungai Casanova
N o
Spesies Stasius I Stasiun II Stasiun III
K
Stasiun 1 : Daerah bebas aktifitas (Kontrol) Stasiun 2 : Daerah Wisata
Stasiun 3 : Daerah Pertanian dan Perikanan (Kolam Budidaya)
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ikan Hampala macrolepidota memiliki nilai K, KR, dan FK pada stasiun I, II, III adalah 0,01 ind/m2, 3,23%, 0,03%, 0,03 ind/m2, 8,33%, 0,09% dan 0,03 ind/m2, 12,5%, 0,13% nilai K, KR, dan FK tertinggi terdapat pada stasiun II dan III. Hal ini disebabkan karena ikan Hampala macrolepidota memiliki sifat yang hidupnya lebih banyak di perairan yang memiliki kecepatan arus yang tenang Menurut Asmawi (1986) Hampala paling menyukai lokasi di lubuk sungai yang beraliran tenang dan dalam.
Biasanya lokasi demikian banyak dihuni oleh ikan-ikan kecil sehingga memudahkan Hampala mencari makan. ikan ini lebih memilih dekat di daerah yang berpasir, bebatuan sebagai bendungan dan kerikil hal ini berkaitan juga karakter ikan dalam mencari makan. Berhubungan dengan stasiun empat yang memiliki kecepatan arus 0,44 m/detik, perairan yang dalam dan berpasir.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ikan Oreochromis niloticus memiliki nilai K, KR, dan FK pada stasiun I, II, III adalah 0,2ind/m2, 77,42%, 0,77%, 0,18 ind/m2, 58,33%, 0,66% dan 0,13ind/m2, 62,5%, 0,63% . nilai K, KR, dan FK tertinggi terdapat pada stasiun II dan I..Tingginya nilai K, KR, dan FK dari Oreochromis niloticus disebabkan oleh Ikan Oreochromis niloticus merupakan ikan yang memiliki sifat hidup di perairan yang memiliki arus deras dan berbatu.
Menurut Susilawati (2001), Oreochromis niloticus merupakan ikan yang menyukai habitat perairan berarus dan berbatu.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ikan Mystacoleucus marginatus memiliki nilai K, KR, dan FK pada stasiun I, II, III adalah 0,03ind/m2, 9,68%, 0,10%, 0,04ind/m2, 13,89%, 0,16% dan 0,04ind/m2, 20,83%, 0,21% . nilai K, KR, dan FK tertinggi terdapat pada stasiun II dan III. Ikan Mystacoleucus
marginatus tertinggi terdaat pada Stasiun dua dan tiga karena Ikan Mystacoleucus marginatus merupakan ikan yang memiliki sifat hidup di perairan yang memiliki arus deras dan berbatu. Menurut Susilawati (2001), Mystacoleucus marginatus merupakan ikan yang menyukai habitat perairan berarus dan berbatu. Ikan Cencen (Mystacoleucus marginatus) hidup diperairan sungai maupun perairan tawar lainnya, sampel ikan cencen yang diperoleh dalam praktikum kali ini yaitu ditangkap di lokasi Sungai Tuntungan menggunakan alat setrum. Pada saat musim hujan ikan ini sulit untuk didapat. Hal ini sesuai dengan Munir (2010) yang menyatakan bahwa selama ini ikan diperoleh dengan cara menangkap langsung dari habitat aslinya seperti sungai - sungai dan danau menggunakan berbagai alat tangkap. Sebagai akibatnya ikan ini sudah termasuk kelompok ikan langka, jika kondisi ini berlangsung terus menerus tidak mungkin suatu saat ikan akan punah betina.
Ikan cencen yang termasuk dalam famili cyprinidae ini sudah mulai sangat sulit ditangkap, hal ini karena berbagai aktivitas masyarakat yang sudah dilakukan di Sungai. Selain itu ketika suhu air dingin maka ikan cencen akan menghindar dan sangat sulit ditemukan. Ikan cencen hidup pada perairan yang berarus yaitu sungai. Hal ini sesuai dengan Kaban (2010) yang menyatakan bahwa apabila suhu air dingin maka ikan cencen akan menghindar dan sangat sulit ditemukan. Ikan cencen memiliki sifat biologis yang membutuhkan banyak oksigen dan hidup di perairan tawar dengan suhu tropis 22-28 0C, serta pH ±7. Ikan cencen merupakan ikan yang dapat ditemukan hidup pada perairan yang berarus yaitu sungai.
Kepadatan populasi tertinggi karena merupakan daerah tanpa aktivitas masyarakat dan kondisi habitat dan lingkungannya dingin sehingga ikan tidak terlalu banyak
Distribusi ikan ini tidak terlalu jauh, yakni dari sungai besar ke anak-anak sungai, dan dataran banjir khususnya musim hujan. Ikan cencen dapat ditemukan di anak – anak aliran sungai, penyebaran ikan ini hampir disemua perairan tawar lainnya. Penyebaran alami ikan ini tercatat di Sungai Mekong, Chao Phraya, Semenanjung Malaya, Sumatera dan Jawa. Hal ini sesuai dengan Dalimunthe (2014) yang menyatakan bahwa ikan cencen ditemukan hidup di sungai dan anak-anak sungai. Distribusi ikan ini yakni dari sungai besar ke anak-anak-anak-anak sungai, dan dataran banjir khususnya musim hujan, mulai dari sungai besar ke anak-anak sungai, dan dataran banjir khususnya musim hujan. Penyebaran alami ikan ini tercatat di Sungai Mekong, Chao Phraya, Semenanjung Malaya, Sumatera dan Jawa.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ikan Barbodes schwanenfeldii memiliki nilai K, KR, dan FK pada stasiun I, II, III adalah 0,03 ind/m2, 9,68%, 0,10%, 0,03 ind/m2, 8,33%, 0,09% dan 0,01 ind/m2, 4,17%, 0,04% . nilai K, KR, dan FK tertinggi terdapat pada stasiun I dan II. Ikan Barbodes schwanenfeldii tertinggi terdapat pada Stasiun I dan II Ikan Barbodes schwanenfeldii merupakan ikan yang memiliki sifat hidup di perairan yang memiliki arus deras dan berbatu.
Menurut Susilawati (2001), Barbodes schwanenfeldii merupakan ikan yang menyukai habitat perairan berarus dan berbatu. Dari hasil identifikasi yang dilakukan, diketahui bahwa ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) merupakan ikan air tawar yang memiliki bentuk tubuh agak memanjang, ujung mulut yang runcing dan memiliki warna sirip yang kuning dan pada bagian sisiknya terdapat warna sisik yang merah kekuningan, dimana memiliki panjang tubuh sebesar 18 cm. Hal ini sesuai dengan Purba dan Khan (2010), yang menyatakan bahwa
panjang tubuh ikan Lemeduk dapat mencapai 32 cm. bentuk tubuh ikan Lemeduk agak memanjang dan piph, ujung mulut runcing dengan moncong (rostral) terlipat, serta bintik hitam besar pada ekornya, dan terdapat sungut di mulutnya.
ikan Lemeduk mempunyari ciri-ciri yaitu SL 320, LL 30-33, terdapat sisik 51/2
Dari hasil identifikasi di ketahui morfologi ikan lemeduk ialah memiliki ekor bercagak, tubuhnya memanjang dan agak pipih, warna tubuhnya berliris kuning putih. Hasil pengamatan ini didukung oleh Rukmana (1997) yang menyatakan bahwa ciri-ciri umum dari ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) adalah tubuh umumnya memanjang ramping (streamline), memiliki tapis insang (gill raker), badan polos (tidak ditemukan bintik hitam di sepanjang tubuhnya), sirip ekor panjang dan meruncing, panjang tubuh maksimum (total length) 72 cm, tubuh berwarna kuning keperakan. Ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) akan lebih cepat bertumbuh ketika berumur muda karena pada saat itu ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) memanfaatkan makanannya menjadi energi dan mengubahnya untuk pertumbuhan tubuhnya, namun pada saat berumur tua pertumbuhan ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) terjadi sangat lambat, hal ini karena makanan diubah menjadi energi dan digunakan untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Dari hasil penelitian yang dilakukan, ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) merupakan ikan air tawar yang banyak ditemukan di sungai. Pada umumnya ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) memiliki antara awal sirip punggung dan gurat sisi, tidak ada tubuh keras pada moncong, 6-9 baris bintik-bintik berwarna sepanjang barisan sisik, terdapat bintik bulat besar pada batang ekor, batang ekor dikelilingi 16 sisik dan bagian depan sirip punggung dikelilingi 26 sisik.
penyebarannya di Asia Selatan yang meliputi perairan air tawar Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam dan Kamboja. Hal ini sesuai dengan Fajarwati (2006), yang menyatakan bahwa bahwa ikan ini biasa ditemukan disungai. Ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) memiliki ukuran kecil sampai sedang, terdiri dari 25 spesies dan penyebarannya di Asia Selatan yang meliputi: perairan air tawar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, dan Kamboja.
Nilai K, KR, dan FK antara Stasiun I, II, dan III dengan nilai K, KR, dan FK tertinggi terdapat pada stasiun I dengan jenis ikan Oreochromis niloticus masing masing sebesar 0,21ind/m2, 77,42%, 0,77% . Sehingga dari keempat spesies yang diperoleh yang mndominasi pada setiap stasiunnya adalah ikan Oreocrhomis niloticus. Tingginya K, KR, dan FK pada stasiun I disebabkan ada nya budidaya ikan Oreocrhomis niloticus sekitaran perairan sungai casanova yang menyebabkan masuknya ikan oreocrhomis niloticus ke sungai . Menurut Susanto (2002) dalam Hasmardi (2003), ikan nila ( Oreochromis niloticus) merupakan ikan sungai atau danau yang cocok dipelihara di perairan tenang.
Indeks Keanekaragaman (Shannon-Wienner) dan Indeks Keseragaman dan Dominansi
Nilai indeks keanekaragaman (H’) dan indeks keseragaman (E) ikan dapat dilihat pada Tabel berikut ini.
Tabel 4:Data Indeks Keanekaragaman(H’), Indeks Keseragaman(E) Dominansi (C)
Stasiun I Stasiun II Stasiun III
H‘ 1,03 1,00 0,88
E 0,47 0,72 0,64
C 1,03 0,37 0,45
Pada Tabel 3 dapat dilihat nilai keanekaragaman stasiun I, II, dan III diperoleh dengan hasil 1,03, 1,00, 0,88. Tergolong dalam nilai keanekaragaman rendah. Menurut Krebs (1985), nilai indeks keanekaragaman (H’) berkisar antara 0 sampai dengan 2,302 menandakan keanekaragamannya rendah. Rendahnya nilai keanekaragaman di lokasi penelitian lebih disebabkan faktor jumlah individu dan jumlah spesies yang sedikit sedangkan penyebaran spesies relatif merata. Menurut Odum (1994) keanekaragaman jenis dipengaruhi oleh pembagian atau penyebaran individu dalam setiap jenisnya karena suatu komunitas walaupun banyak jenisnya tetapi bila penyebarannya tidak merata maka keanekaragaman jenis dinilai rendah.
Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) adalah suatu indeks keanekaragaman biota pada suatu daerah, bila nilainya semakin tinggi, maka semakin tinggi tingkat keanekaragamannya dan demikian juga sebaliknya.
Keanekaragaman jenis juga dipengaruhi oleh pembagian atau penyebaran individu dalam setiap jenisnya karena suatu komunitas walaupun banyak jenisnya tetapi bila penyebarannya tidak merata maka keanekaragaman jenis dinilai rendah.
Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) adalah suatu indeks keanekaragaman biota pada suatu daerah, bila nilainya semakin tinggi, maka semakin tinggi tingkat keanekaragamannya dan demikian juga sebaliknya. ( Odum, 1994. )
Nilai Indeks Keseragaman (E) pada stasiun I, II, dan III yang ditunjukkan pada Tabel 3 diperoleh hasil 0,47, 0,72, 0,64. Nilai ini menunjukan kemerataan antara spesies relatif merata atau jumlah individu masing-masing spesies relatif sama. Indeks keseragaman (E) digunakan untuk mengetahui kemerataan proporsi masing-masing jenis ikan di suatu ekosistem.Menurut Jukri et al. (2013) nilai
indeks keseragaman berkisar antara 0-1. Kriteria nilai indeks keseragamannya yaitu jika E mendekati 0 maka kemerataan antara spesies rendah, artinya kekayaan individu yang dimiliki masing-masing spesies sangat jauh berbeda dan jika E mendekati 1 maka kemerataan antara spesies relatif merata atau jumlah individu masing-masing spesies relatif sama.
Nilai indeks dominansi jenis ikan (C) pada stasiun I, II,III yang ditunjukkan pada Tabel 3 diperoleh hasil 1,03, 0,37, 0,45 jenis ikan yang ditemukan pada setiap stasiun yang berarti bahwa ada satu spesies yang mendominasi dan diikuti dengan nilai indeks keseragaman jenis ikan yang kecil, nilai dominansi yang rendah berarti bahwa tidak ada spesies yang mendominasi pada setiap stasiun tersebut dan diikuti dengan indeks keseragaman jenis ikan yang besar. Hal ini sesuai dengan Ardani dan Organsastra (2009) yang menyatakan bahwa nilai indeks dominansi berkisar antara 0 – 1. Apabila nilai D mendekati 0 maka dominansi rendah artinya tidak ada satu spesies yang mendominasi, sebaliknya jika nilai D mendekati 1 maka dominansi tinggi artinya ada satu spesies yang mendominasi yakni Oreochromis niloticus.
Nilai indeks dominansi jenis ikan (C) Pada stasiun I, II, dan III yaitu sebesar 1,46. Nilai tersebut menunjukkan bahwa dominansi ikan diperairan sungai Casanova dalam kategori rendah artinya masih banyak ditemukan berbagai jenis spesies ikan atau struktur komunitas perairan stabil.
Kelimpahan
Berdasarkan data nilai Kelimpahan jenis ikan pada ketiga stasiun tersebut diperoleh nilai kelimpahan 0,26, 0,27, dan 0,2 jenis ikan nya adalah Oreochromis niloticus dikarenakan ikan Oreochromis niloticus sangat cepat pertumbuhan nya
dan cepat bereproduksi sehingga penyebarannya sangat tinggi, tingginya kelimpahan Oreochromis niloticus disebabkan karena Ikan ini memiliki sifat biologis yang membutuhkan banyak oksigen dan hidup di perairan tawar dengan suhu tropis 28 – 29 0
Berdasarkan data nilai kelimpahan relatif dapat dilihat bahwa spesies ikan yang memiliki kelimpahan relatif tertinggi pada stasiun I adalah ikan Oreochromis niloticus dengan persentase 77,42%. Karakteristik stasiun I yang aktivitas (kontrol) masyarakat dan tergolong berarus deras serta masih banyaknya pepohonan di sekitar bantaran sungai membuat keberadaan ikan Oreochromis niloticus banyak di jumpai. Kelimpahan relatif tertinggi pada stasiun III adalah Oreochromis niloticus sebesar 62,5%. Karakteristik Stasiun III yang berarus tenang dan pada stasiun III merupakan stasiun yang dekat dengan lahan pertanian, perikanan/Kolam masyarakat setempat sehingga mendukung bagi kehidupan ikan Oreochromis niloticus. Menurut Kottelat et al., (1993), Ikan ini dalam habitat aslinya adalah ikan yang berkembang biak di sungai, danau dan rawa-rawa dengan lokasi yang disukai adalah terdapat aliran air. Ikan ini memiliki sifat biologis yang membutuhkan banyak oksigen dan hidup di perairan tawar dengan suhu tropis 28 – 29
C, serta pH 7 sehingga keberadaan ikan Oreochromis niloticus ini banyak dijumpai. Menurut Kottelat et al., (1993), Ikan ini dalam habitat aslinya adalah ikan yang berkembang biak di sungai, danau dan rawa-rawa dengan lokasi yang disukai adalah terdapat aliran air yang berarus deras.
Kelimpahan Relatif (KR)
0C, serta pH 7 sehingga keberadaan ikan Oreochromis niloticus ini banyak di jumpai pada staiun II. Kelimpahan relatif tertinggi pada
stasiun II dengan nilai 58,33 adalah Oreochromis niloticus. Ikan Oreochromis niloticus sering ditemukan karena habitat ikan ini hidup diperairan yang berarus deras, tenang dan kondisi air yang jernih
Tabel 5: Parameter Kualitas air No Parameter
Kualitas Air
Satuan Stasiun Baku mutu
PP No 82
Pada Tabel ini dapat dilihat bahwa hasil pengukuran suhu yang diperoleh berkisar antara 28 – 300C. Pada stasiun I dan II sebesar 280C, stasiun III sebesar 290
Menurut Barus (2004), Temperatur air sangat mempengaruhi aktivitas fisiologis dari organisme air, seperti dijelaskan oleh hukun Van’t Hoffs kenaikan temperatur sebesar 10
C. Adanya variasi temperatur pada setiap stasiun diduga disebabkan karena perbedaan waktu pengambilan maupun kondisi lingkungan di setiap stasiun, suhu yang relatif rendah didapatkan pada pengambilan sampel pada pagi hari (pukul 07.30 WIB).
0C akan meningkatkan metabolisme sebesar 2-3 kali lipat, yang menyebabkan konsumsi oksigen meningkat, sementara dilain pihak dengan naiknya temperatur akan menyebabkan kelarutan oksigen didalam air menjadi berkurang. Setiap organisme air mempunyai kisaran toleransi yang berbeda
terhadap nilai temperatur air. Organisme yang mempunyai kisaran toleransi yang luas (euryterm) dan ada jenis yang mempunyai kisaran toleransi yang sempit (stenoterm).
Kisaran suhu optimal bagi kehidupan ikan di perairan tropis antara 280C – 320C. Pada suhu 180C – 250C ikan masih dapat bertahan hidup, tetapi nafsu makannya mulai menurun. Apabila suhu 120C – 180C mulai berbahaya bagi ikan sedangkan pada suhu dibawah 120
Nilai kedalaman air pada stasiun pengamatan berkisar antara 40-50 cm.
Kedalaman tertinggi terdapat pada stasiun II dan III sebesar 50 cm, hal ini dikarenakan stasiun II dan III merupakan daerah Pariwisata dan Pemukiman.
Kedalaman terendah terdapat pada stasiun I sebesar 48 cm, rendahnya nilai kedalaman pada stasiun I dikarenakan di stasiun I adalah daerah kontrol dan tidak C ikan tropis akan mati kedinginan. Suhu sangat berperngaruh terhadap kadar oksigen. Oksigen berbanding terbalik dengan suhu artinya bila suhu meningkat maka kelarutan oksigen dalam air akan berkurang (Kordi dan Tancung, 2007).
Konsumsi oksigen akan meningkat tajam ketika temperatur meningkat. Pada ikan konsumsi oksigen senantiasa meningkat bilamana suhu naik disebabkan oleh meningkatnya laju metabolisme untuk memproduksi panas tubuh agar sesuai dengan lingkunganya (Yuwono dan Sukardi, 2008). Berdasarkan hal tersebut, maka suhu perairan dilokasi penelitian sangat mendukung kehidupan organisme yang hidup di dalamnya. Suhu di Sungai Casanova berdasarkan PP No.82 Tahun 2001 masih berada dalam baik dan sesuai dengan nilai ambang batas.
Kedalaman
terdapat aktivitas masyarakat. Berdasarkan penelitian Fisesa (2014), pada sungai yang sama kedalaman Sungai Casanova berkisar antara 40 – 50 cm. Hal ini terlihat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kedalaman sungai Casanova yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya.
Kecepatan Arus
Nilai kecepatan arus yang diperoleh dari hasil pengukuran berkisar antara 0,23 – 0,44 m/det. Nilai tertinggi terdapat pada stasiun III sebesar 0,44 m/det dan terendah pada stasiun I sebesar 0,2 m/det. Kisaran arus yang diperoleh umum dijumpai pada perairan daerah tropis dan masih mendukung bagi kehidupan ikan.
Berdasarkan penelitian Fisesa (2014), pada sungai yang sama kecepatan arus Sungai casanova berkisar antara 0,23 – 0,44 m/det. Hal ini terlihat bahwa perubahan kisaran arus pada Sungai Casanova tidak berubah signifikan selama rentang satu tahun.
Menurut Samuel dan Adjie (2007) bahwa, pengelompokkan sungai berdasarkan kecepatan arusnya yaitu: arus yang sangat cepat (>1 m/dtk), arus yang cepat (0,5-1 m/dtk), arus yang sedang (0,25-0,5 m/dtk), arus yang lambat (0,1-0,25 m/dtk), dan arus yang sangat lambat (<0,1 m/dtk). Dalam penelitian ini Sungai Casanova termasuk dalam kategori sangat cepat.
Kecerahan
Intensitas cahaya matahari merupakan salah satu faktor yang juga mempengaruhi penyebaran ikan. Intensitas yang telah didapat selama penelitian pada setiap stasiun berkisar 39-40. Hal ini dapat disebabkan karena adanya perbedaan kanopi atau naungan di setiap stasiun. Menurut Barus (2004) bahwa,
vegetasi yang ada disepanjang aliran air juga dapat mempengaruhi intensitas cahaya yang masuk kedalam air, karena tumbuh-tumbuhan tersebut juga mempunyai kemampuan untuk mengabsorbsi cahaya matahari. Penetrasi cahaya memiliki peranan yang penting juga bagi kehidupan ikan. Penetrasi cahaya yang terukur di setiap stasiun berada pada kisaran antara 0,39 m – 0,40 m. Nilai Kecerahan tertinggi terdapat pada stasiun 2 dan stasiun 3 sedangkan terendah pada stasiun 1. Menurut Odum (1996), kecerahan suatu perairan berkaitan dengan padatan tersuspensi, warna air dan penetrasi cahaya yang datang, sehingga dapat menurunkan intensitas cahaya yang tersedia bagi organisme peraian.
DO
Oksigen terlarut (DO) yang terukur pada setiap stasiun berkisar 5,33 mg/l.
Nilai ini masih dianggap ideal untuk pertumbuhan ikan. Menurut Effendie (1997), nilai DO yang baik untuk pertumbuhan ikan adalah diatas 5 mg/l. Untuk melihat potensi kemampuan penyerapan oksigen yang sebenarnya dari masing-masing stasiun penelitian, maka telah dilakukan perhitungan oksigen dengan cara membandingkan hasil pengukuran DO dengan nilai DO sebenarnya yang dapat larut dalam air pada temperatur lapangan yang diukur. Nilai oksigen pada ketiga stasiun penelitian berkisar antara 67,87% – 84,72%. Menurut Ginting (2002) bahwa, defisit oksigen terlarut dapat ditimbulkan oleh beberapa hal seperti laju fotosintesis yang tidak optimal, gerakan air yang lambat sehingga menyebabkan absorbsi oksigen dari udara ke dalam air tidak berlangsung dengan baik, dan adanya bahan-bahan organik yang harus dioksidasi oleh mikroorganisma sehingga menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air.
pH
Nilai pH air pada ketiga stasiun penelitian berkisar antara 7,6-7,9. Nilai pH tertinggi terdapat pada staiun 1 dan terendah pada stasiun 2. Menurut Siagian (2009), adanya perbedaan nilai pH pada suatu perairan disebabkan oleh penambahan atau pengurangan CO2 melalui proses fotosintesis yang akan menyebabkan perubahan pH didalam perairan.