• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.3 Sumber Daya Cumi-Cumi/Sotong

5.5.4 Basis Cilacap

Data yang dikumpulkan di Cilacap yang merupakan salah pusat perikanan udang di Selatan Jawa, antara lain meliputi data catch, effort dan sejumlah pengukuran tentang beberapa aspek biologi. Kegiatan penangkapan udang di perairan Cilacap dan sekitarnya sudah berlangsung sejak lama. Daerah penangkapan dari armada perikanan udang yang berbasis di Cilacap antara lain hampir meliputi pantai selatan Jawa dimana terdapat muara sungai, seperti Teluk Pangandaran, Teluk Penyu - pantai selatan Kebumen terus ke timur sampai pantai selatan Yogyakarta, dan kadang-kadang sampai ke Pacitan dan pantai selatan Jawa Timur di sekitar perairan Nusa Barung.

a) Aspek Penangkapan

Pemanfaatan udang di perairan Cilacap dan sekitarnya sudah berlangsung cukup lama dan secara statistik mulai tercatat sejak tahun 1966 dengan terdapatnya alat tangkap jaring arad sebanyak 82 unit dan jaring klitik sebanyak 30 unit untuk menangkap udang (Naamin 1972). Pemanfaatan ini kemudian berkembang secara pesat setelah diperkenalkannya trawl menjadi alat tangkap utama udang dogol di perairan ini. Pada tahun 1971 telah tercatat sekitar 13 armada trawl yang beroperasi di perairan Cilacap dan sekitarnya dan terus melonjak menjadi 368 armada pada tahun 1974, namun kemudian terus menurun menjadi 89 armada pada tahun 1980 (Naamin, 1978; Gunadi 1981). Perkembangan yang begitu cepat dan cenderung tidak terkendali dari perikanan trawl di perairan ini mengakibatkan terjadinya konflik sosial

antara nelayan tradisional dan nelayan trawl yang mengakibatkan terjadinya pembakaran armada trawl. Konflik ini terus meluas dan akhirnya diredam dengan dikeluarkannya KEPPRES No. 39 tahun 1980 yaitu tentang pelarangan penggunaan alat tangkap trawl di perairan Indonesia. Setelah penghapusan alat tangkap trawl di perairan Cilacap dan sekitarnya, maka yang menjadi alat tangkap utama adalah trammel net. Pada Tabel 32 diterakan perkembangan alat tangkap udang di perairan Cilacap dan sekitarnya.

Alat tangkap trammel net biasanya digolongkan ke dalam kelompok jaring insang dasar (Nomura, 1974), tetapi Brandt (1972) menggolongkannya ke dalam kategori entangling net. Konstruksi trammel net terdiri dari tiga lapis (triple walled net), dimana dua lapis jaring bagian luar (outer net) berukuran diameter dan mata lebih besar dari jaring lapis dalam (inner net). Konstruksi ini menyebabkan udang yang menerobos jaring lapisan luar akan tersangkut/

terperangkap pada jaring lapisan dalam yang membentuk kantong, sehingga sebagian nelayan menyebutnya jaring kantong. Sebetulnya trammel net di negara asalnya, yaitu Jepang merupakan alat tangkap yang efektif untuk menangkap ikan (Matuda dan Kitahara 1967), tetapi dengan berbagai modifikasi (terutama ukuran dan jenis bahan), trammel net dapat digunakan untuk menangkap udang di Indonesia (Wudianto et al. 1988).

Tabel 32 Perkembangan alat tangkap trammel net (unit) di perairan Cilacap

Tahun Unit Tahun Unit

19901991 19921993 19941995 1996

629408 650293 889895 904

19971998 19992000 20012002 2003

399399 595595 595595 595

Sumber data : Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cilacap.

Tabel 33 Spesifikasi trammel net di perairan Cilacap dan sekitarnya Panjang jaring (mata) Dalam jaring (mata) Panjang terpasang: - atas

Trammel net yang dioperasikan di perairan Cilacap dan sekitarnya secara garis besar digolongkan hanya satu jenis menurut cara pengoperasiannya yaitu jaring ditarik meyapu (sweeping) di dasar perairan (trammel net aktif).

Spesifikasi trammel net yang digunakan di wilayah perairan Cilacap dan sekitarnya tertera dalam Tabel 33.

Satu trip penangkapan trammel net aktif terdapat dua macam yaitu trip harian (pukul 04.00-16.00 WIB) dan trip mingguan (7 hari). Trammel net aktif trip harian dalam operasinya menggunakan perahu dengan panjang 9 m, lebar 1 m dan dalam 0,80 m , sementara itu operasional trammel net aktif trip mingguan menggunakan perahu dengan panjang 15 m, lebar 4 m dan dalam 3 m. Tenaga penggerak trammel net aktif trip harian menggunakan motor tempel (bahan bakar solar) yang berkekuatan 15-25 PK dan trammel net aktif trip mingguan tenaga penggeraknya menggunakan motor dalam berbahan bakar solar dengan kekuatan 30-125 PK. Jumlah ABK alat tangkap trammel net aktif trip harian meliputi 4 orang dan ABK alat tangkap trammel net aktif trip mingguan terdiri dari 7 orang. Cara operasi trammel net aktif trip harian dioperasikan dengan menarik jaring sekitar 1,5 jam satu kali tawur dan dilakukan tiga kali tawur dalam satu trip, sedangkan pada trammel net aktif trip mingguan penarikan dilakukan selama dua jam sekali tawur dan dilakukan 4 tawuran dalam satu hari.

Dalam satu perahu trammel net aktif trip harian mengoperasikan sekitar 20 pis (piece) atau tingting dan satu armada trammel net aktif trip mingguan dapat mengoperasikan jaring sampai 50 tingting.

b) Musim Penangkapan

Selanjutnya informasi mengenai pola musim penangkapan digunakan untuk menentukan waktu operasi penangkapan udang agar memperkecil resiko kerugian. Berbeda dengan pendugaan puncak musim di sebagian besar wilayah perairan Samudra Hindia yang didasarkan atas tinggi-rendahnya hasil tangkapan ikan yang didaratkan, perhitungan pola musim penangkapan di perairan sekitar Cilacap dilakukan melalui indeks musim penangkapan yang didasarkan atas data hasil tangkapan per upaya (CPUE) setiap bulan (Dajan 1982).

Indeks Musim Penangkapan

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des I

Gambar 73 Indeks musim penangkapan (IMP) udang di perairan Cilacap dan sekitarnya.

Musim penangkapan udang yang didasarkan pada nilai indeks musim penangkapan (IMP) menunjukkan bahwa musim penangkapan terjadi sekitar bulan Juli sampai dengan Desember dimana nilai IMP-nya berkisar di atas 100 % . Indeks musim penangkapan tertinggi terjadi pada bulan Agustus dan yang terendah terjadi pada bulan Pebruari.

c) Kelayakan Usaha

Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu bahwa kegiatan penangkapan udang di perairan Cilacap dan sekitarnya telah berlangsung sejak lama dengan daerah penangkapan utama adalah Teluk Penyu, yang merupakan pelebaran muara Kali Serayu. Melihat begitu banyaknya armada kapal/perahu penangkap udang yang beroperasi di perairan Teluk Penyu, timbul pertanyaan apakah usaha penangkapan tersebut memberikan keuntungan secara ekonomi, atau apakah usaha penangkapan tersebut layak secara ekonomi. Penilaian kelayakan usaha unit alat tangkap udang di perairan Cilacap dan sekitarnya, didasarkan atas beberapa kriteria yang meliputi: Net Present Value (NPV), Net Benefit-Cost Ratio (Net B/.C) dan Internal Rate of Return (IRR) (LPEM, UI, 1997;

Kadariah et al., 1999). Nilai masing-masing kriteria tersebut disajikan pada Tabel 34.

Tabel 34 Nilai masing-masing kriteria kelayakan usaha dari setiap unit penangkapan udang penaeid di perairan Cilacap dan sekitarnya

No. Jenis Alat NPV (Rupiah) Net B/C IRR (%)

12 Trammel net aktif A

Trammel net aktif B 10.870.079

24.338.695 1,03

1,24 39

74

Keterangan : Trammel net aktif A (7 hari/trip), Trammel aktif B ( 1 hari/trip)

Dari hasil perhitungan pada tabel tersebut menunjukkan dengan disocunt factor 30 % nilai kriteria investasi NPV untuk alat tangkap trammel net aktif trip mingguan adalah sebesar Rp 10.870.079.- dan untuk trammel net aktif trip harian sebesar Rp 24.338.695.- Hal ini berarti jika dilihat pada keadaan sekarang, maka pada akhir proyek usaha ini akan mengalami keuntungan sebesar nilai NPV masing-masing alat tangkap tersebut. Dari kriteria NPV ini terlihat yang terbaik adalah pada pengusahaan alat tangkap trammel net aktif trip harian.

Net B/C yang diperoleh dari perhitungan (Tabel 34) adalah sebesar 1,03 untuk tangkap trammel net aktif trip mingguan dan 1,24 untuk trammel net aktif trip harian. Nilai ini menunjukkan perbandingan net benefit positif dengan net benefit negatif yang diperoleh selama umur proyek. Dari nilai tersebut dapat dikatakan bahwa selama umur proyek benefit yang dihasilkan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. Dari kriteria Net B/C ini terlihat yang terbaik adalah trammel net aktif trip harian.

Selanjutnya hasil perhitungan IRR pada tabel tersebut didapatkan IRR untuk alat tangkap trammel net aktif trip mingguan adalah sebesar 39 % dan untuk trammel net aktif trip harian sebesar 74 %. Hal ini menunjukkan bahwa usaha penangkapan udang memberikan keuntungan internal sebesar 39 % untuk alat tangkap trammel net aktif trip mingguan dan 74

% untuk trammel net aktif trip harian. Nilai IRR pemanfaatan udang yang diperoleh terlihat lebih besar dari tingkat bunga bank yang berlaku (12 %).

Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha dari ketiga kriteria investasi tersebut menunjukkan bahwa usaha pemanfaatan udang penaeid di perairan Cilacap layak untuk dikembangkan karena dapat memenuhi kriteria yang berlaku untuk meneruskan usaha tersebut yaitu : NPV > 0, Net B/C > 1 dan IRR >

dari tingkat bunga bank.

d) Aspek Biologi dan Dinamika Populasi 1) Komposisi Jenis

Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan alat tangkap trawl di perairan Cilacap dan sekitarnya terlihat bahwa secara keseluruhan udang yang tertangkap terdiri dari 17 jenis dengan hasil tangkapan sebanyak 15,950 kg di perairan selatan Cilacap dan sebesar 5,385 kg di perairan selatan Yogyakarta. Jenis-jenis udang yang tertangkap terlihat lebih beragam di perairan selatan Cilacap (tertangkap 13 jenis) dibandingkan dengan di perairan selatan Yogyakarta (tertangkap 12 jenis). Komposisi jenis hasil tangkapan baik di perairan selatan Cilacap maupun di perairan selatan Yogyakarta didominasi udang krosok (Parapenaeopsis stylifera)

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa jenis-jenis udang yang tertangkap di perairan selatan Cilacap lebih bernilai ekonomis penting bila dibandingkan dengan jenis-jenis yang tertangkap di perairan selatan Yogyakarta. Indikasinya terlihat dengan tertangkapnya lebih banyak udang ekonomis penting seperti : Penaeus monodon, P. merguiensis, P.

chinensis, Metapenaeus ensis, M. elegans. Disamping itu penyebarannya lebih merata pada stasiun-stasiun penangkapan di perairan selatan Cilacap. Sementara itu dengan tertangkapnya jenis udang sungai (Palaemon sp.) di kedua daerah penelitian menunjukkan bahwa perairan selatan Cilacap dan selatan Yogyakarta merupakan perairan yang masih dipengaruhi muara sungai, yang merupakan habitat yang cocok bagi perkembangan populasi udang (Naamin 1984).

Tabel 35 Komposisi hasil tangkapan udang dan frekuensi kejadian tertangkap udang di perairan Cilacap dan sekitarnya.

Jenis Selatan Cilacap Keterangan : FKT : Frekuensi Kejadian Tertangkap

Pengarus muara sungai di perairan selatan Cilacap diduga lebih luas dibandingkan dengan perairan selatan Yogyakarta. Hal ini terlihat dari penyebaran udang sungai di perairan Cilacap terdapat di seluruh stasiun (frekuensi kejadian tertangkap 100%), sedangkan di perairan selatan Yogyakarta hanya di beberapa stasiun (frekuensi kejadian tertangkap hanya 13 %). Selain itu dengan ditemukannya udang karang (Panulirus

homarus) pada stasiun 11 (pantai selatan Yogyakarta) mengindikasikan bahwa stasiun tersebut merupakan daerah yang di sekitarnya terdapat perairan karang.

Apabila ditinjau secara keseluruhan, udang yang mempunyai penyebaran cukup luas dan mendominasi hasil tangkapan adalah udang krosok (Parapenaeopsis stylifera) dan udang dogol merah (M. ensis). Fenomena ini terlihat dari frekuensi kejadian tertangkap udang krosok yang mencapai 88-100 % dan mendominasi hasil tangkapan dengan kisaran persentase sekitar 38-46 %, sedangkan frekuensi kejadian tertangkapnya udang dogol merah adalah sekitar 33-88 % dan hasil tangkapannya sekitar 19-27 % dari hasil tangkapan total (Tabel 36). Sementara udang jenis lainnya yang penyebarannya luas tetapi tidak dominan adalah udang ronggeng (Squilla sp.), yang terlihat dari frekuensi kejadian tertangkap udang tersebut yang mencapai 100 % tetapi komposisi hasil tangkapan hanya sekitar 7-13 %.

Tabel 36 Produksi (ton) udang penaeid di perairan Cilacap dan sekitarnya

Tahun U. Putih U.Windu U. Dogol %

U. Putih %

U.Windu %

U.Dogol

1990 235 1.5 423.7 35.6 0.2 64.2

1991 218.6 2.3 427.7 33.7 0.4 65.9

1992 236.2 9.2 286.8 44.4 1.7 53.9

1993 316.7 6.6 457.8 40.6 0.8 58.6

1994 353 0.4 345.8 50.4 0.1 49.5

1995 318.1 57.7 324.7 45.4 8.2 46.4

1996 323.5 1.3 283.6 53.2 0.2 46.6

1997 283.3 22.7 314.4 45.7 3.6 50.7

1998 420 1.6 373.9 52.8 0.2 47.0

1999 384.1 0.9 340.8 52.9 0.1 47.0

2000 278.6 142.7 303.2 38.5 19.7 41.8

2001 256.9 215.3 278.2 34.2 28.7 37.1

2002 413.6 0.5 246.6 62.6 0.1 37.3

2003 143 0.8 116.1 55.0 0.3 44.7

Dalam pemanfaatan sumber daya udang di perairan Cilacap dan sekitarnya, jenis-jenis udang penaeid ekonomis penting yang biasa diusahakan dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu udang windu, udang jerbung dan udang dogol. Pada Tabel 36 diterakan produksi

dan nilai hasil tangkapan udang berdasarkan kategori tersebut dan terlihat udang dogol mendominasi produksi sekitar 37,1 – 65,9 % tiap tahun atau rata-rata tahunan sekitar 50 % mendominasi produksi.

Dengan bersumber kepada tabel tersebut secara visual dapat dilihat adanya interakasi biologis antar jenis udang putih dengan udang windu.

Bentuk interaksi apa yang terjadi secara pasti belum dapat diketahui.

Apakah interaksi tersebut terjadi dalam bentuk antar hubungan pemangsaan (predator-prey relationship) atau dalam bentuk persaingan makanan (food competetion). Karena udang mempunyai sifat kanibal, kedua interaksi tersebut bisa terjadi.

0 10 20 30 40 50 60 70

1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003

%

U. Putih U.Windu U.Dogol

Gambar 74 Komposisi tahunan produksi udang (%) yang menggambarkan adanya interaksi biologis udang di perairan Cilacap dan sekitarnya.

2) Panjang Karapas.

Telah menjadi kesepakatan para ahli bahwa salah satu parameter bagi indentifikasi dinamika populasi udang adalah ukuran dari panjang karapas. Pengukuran panjang karapas yang dilakukan disebabkan oleh adanya kesulitan dalam pengukuran panjang badan secara akurat. Pengukuran frekuensi panjang karapas jenis-jenis udang yang tertangkap pada periode penelitian ini disajikan pada Tabel 37. Dari ukuran panjang karapas udang yang tertangkap tersebut, tampak bahwa ukurannya sangat bervariasi. Hal ini menyiratkan bahwa populasi udang yang tertangkap tersebut terdiri dari berbagai kelas umur. Menurut Naamin (1984), gerombolan (schooling) udang yang terdapat pada berbagai kedalaman di laut biasanya terdiri dari berbagai kelas umur.

Tabel 37 Panjang karapas beberapa jenis udang yang tertangkap di perairan Cilacap dan sekitarnya.

Jenis Panjang Karapas (mm)

Metapenaeus ensis de Haan Penaeus merguiensis de Man

Parapenaeopsis stylifera Parapenaeopsis sculptilis

Metapenaeus dobsoni Solenocera subnuda

24-46 mm 26-62 mm 10-24 mm 12-24 mm 14-20 mm 16-22 mm

Selanjutnya dalam pengkajian beberapa aspek biologi dan dinamika populasi akan difokuskan pada udang dogol (Metapenaeus ensis de Haan) mengingat jenis udang inilah yang mendominanasi hasil tangkapan dan juga merupakan udang penaeid ekonomis penting di perairan Cilacap dan sekitarnya.

3) Ukuran pertama kali matang kelamin dan musim pemijahan Ukuran udang pada saat kematangan penting artinya dalam pengelolaan perikanan mengingat bahwa eksploitasi harus membiarkan sejumlah tertentu induk-induk ikan (udang) yang mempunyai ukuran sama atau lebih dari ukuran tersebut pada saat mencapai kematangan (Sudjastani, 1974). Pada umumnya udang betina mengalami kematangan kelamin pada ukuran yang lebih besar daripada udang jantan (Martosubroto, 1978).

Dengan menggunakan metode Spearman-Karber (Udupa, 1986) didapatkan rata-rata udang dogol pertama kali matang kelamin pada panjang karapas 31,8 mm (Gambar 75). Dibandingkan dengan udang dogol dari periode penelitian sebelumnya di perairan Cilacap, ternyata udang dogol di perairan Cilacap dan sekitarnya mengalami lebih awal rata-rata kematangan gonadnya (panjang karapas 36,8 mm), tetapi lebih lambat bila dibandingkan dengan keadaan di perairan Tanjung Krawang (panjang karapas 20 mm) (Martosubroto, 1978; Suman, 1990). Adanya perbedaan rata-rata ukuran pertama kali matang pada berbagai perairan dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dan kondisi lingkungan lainnya, seperti suhu dan salinitas. Menurut Udupa (1986), ukuran pada saat kematangan bervariasi diantara species dan di dalam species yang sama.

0 25 50 75 100

24 26 28 30 32 34 36 38 40 42 44 46 48 50 Panjang Karapas (mm)

% frek

Gambar 75 Sebaran frekuensi (%) udang dogol (M. ensis) yang matang

kelamin pada berbagai ukuran di perairan Cilacap dan sekitarnya

Selanjutnya untuk mengetahui musim pemijahan udang di suatu perairan dapat diteliti melalui pengamatan terhadap penyebaran densitas telur atau dapat pula melalui pengamatan terhadap kematangan gonad udang betina di perairan tersebut (Martosubroto, 1978).

Selama penelitian ini diperoleh udang betina yang belum matang gonad sebanyak 888 ekor (41 %) dan yang matang kelamin sebanyak 1270 ekor (59 %). Pada Gambar 76 diterakan persentase bulanan udang dogol betina yang berada dalam tingkatan matang kelamin di perairan Cilacap dan sekitarnya.

Persen matang kelamin udang dogol

0 25 50 75 100

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des

%

Gambar 76 Sebaran frekuensi (%) udang dogol berdasarkan tingkat kematangan kelamin di perairan Cilacap dan sekitarnya.

Dengan asumsi bahwa sampel udang yang dianalisis mewakili populasi udang yang ada di alam, dari gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa lebih dari 50% dari anggota populasi udang dogol melakukan pemijahan sepanjang tahun dengan puncaknya pada bulan September.

Kepentingan dari pengetahuan musim pemijahan dalam prinsip pemanfaatan sumber daya udang dogol secara berkelanjutan adalah untuk mengetahui kapan waktunya diadakan penutupan daerah dan musim penangkapan sehingga memberi kesempatan pada induk-induk udang untuk melakukan pemijahan.

4) Parameter pertumbuhan dan laju kematian

Pada dasarnya program ELEFAN digunakan untuk menginterpretasi data frekuensi panjang karapas dengan cara melacak pergeseran modus-modus (modal progression) dari sebaran frekuensi panjang karapas dalam suatu runtun waktu (time series) yang dicocokkan dengan kurva pertumbuhan Von Bertalanffy.

Kurva yang melalui modus paling banyak akan menggambarkan pola pertumbuhan (Sparre dan Venema, 1992). Dengan merunut data frekuensi panjang karapas dari bulan ke bulan diperoleh laju pertumbuhan (K) udang dogol jantan di perairan Cilacap dan sekitarnya sebagai K = 1,49 per tahun dan panjang karapas maksimum, L = 41,5 mm. Laju pertumbuhan udang dogol betina adalah K = 1,52 per tahun dan panjang karapas maksimum L= 52,2 mm. Dengan demikian persamaan pertumbuhan von Bertalanffy untuk udang dogol di perairan Cilacap dan sekitarnya adalah :

Lt = 41,5 [ 1 - e -1,49 (t + 0,003)] untuk udang jantan dan Lt = 52,2 [ 1 - e -1,52 (t + 0,023) ] untuk udang betina.

Nilai K udang dogol betina juga terlihat lebih besar dari nilai K udang jantan dan hal ini tercermin juga dalam hasil tangkapan, dimana ukuran udang dogol betina didapatkan selalu lebih besar dari udang jantan Dall et al. (1990) menyatakan bahwa pertumbuhan udang betina selalu lebih cepat dari udang jantan dan biasanya pada umur yang sama selalu ditemui udang betina lebih besar dari udang jantan. Nilai K udang dogol yang lebih besar dari satu juga menunjukkan bahwa udang dogol ini mempunyai pertumbuhan yang cepat (Gulland, 1983; Naamin,

Cepatnya pertumbuhan dan pendeknya umur udang dogol menunjukkan bahwa laju kematian cukup tinggi. Hal ini memberikan peringatan kepada kita agar memperhatikan pemanfaatannya secara bertanggung jawab. Sehubungan dengan umur, laju pertumbuhan dan kematian ini yang perlu diperhatikan adalah : “kapan waktu yang tepat untuk menangkapnya, baik ditinjau dari sumber dayanya sendiri maupun dari segi ekonominya ?”. Kalau kita terlambat menangkapnya tentu udang ini akan mati percuma sedangkan kalau terlalu cepat ditangkap secara ekonomi dan kelestarian sumber daya juga kurang menguntungkan, karena jika terlalu cepat menangkap, hanya akan memperoleh udang berukuran lebih kecil yang harganya lebih murah.

Selanjutnya dengan menggunakan parameter pertumbuhan Von Bertalanffy udang dogol yang telah dihitung (K = 1,52 per tahun, Loo

= 52,2 mm untuk udang betina serta K = 1,49 per tahun dan Loo = 41,5 mm untuk udang jantan) sebagai bahan masukan untuk membuat kurva hasil tangkapan, diperoleh nilai dugaan Z untuk udang dogol betina sebagai 6,52 per tahun dan 8,68 per tahun untuk udang jantan.

Gambar 77 Nilai Z sebagai slope kurva hasil tangkapan udang dogol jantan di perairan Cilacap dan sekitarnya

Gambar 78 Nilai Z sebagai slope kurva hasil tangkapan udang dogol betina di perairan Cilacap dan sekitarnya

Nilai dugaan laju kematian alamiah (M) dihitung dengan menggunakan rumus Pauly (1980) dan diperoleh nilai tersebut untuk udang dogol betina sebesar M = 2,01 per tahun dan untuk udang jantan sebesar M

= 2,12 per tahun. Nilai dugaan laju kematian karena penangkapan (F, fishing mortality) dihitung dengan menggunakan rumus : F = Z - M dan diperoleh hasil sebesar F = 4,51 per tahun untuk udang dogol betina serta F = 6,56 per tahun untuk udang dogol jantan.

5) Perkembangan total catch, effort dan CPUE

Perkembangan total catch, effort dan CPUE yang merupakan indikator perikanan udang penaeid di perairan Cilacap periode 1990-2003 disajikan pada Tabel 38 berikut.

Tabel 38 Perkembangan produksi, upaya penangkapan dan hasil per unit upaya (CPUE) udang penaeid di perairan Cilacap dan sekitarnya .

Tahun Produksi (ton) Upaya (trip) CPUE (kg) 19901991 Terlihat bahwa total catch dan CPUE berfluktuasi, tetapi secara umum mengalami penurunan pada tahun-tahun terakhir. Untuk upaya penangkapan (effort) nampaknya berfluktuasi, tetapi secara keseluruhan mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun-tahun terakhir . Apabila pola pemanfaatan yang ada terus berjalan pada tingkat upaya sebagaimana tahun 2003 dan tidak ada perubahan kebijakan dalam pengaturan dan pengelolaan perikanan udang penaeid, maka diduga akan terjadi degradasi stok udang penaeid sebagaimana terindikasi dengan semakin menurunnya CPUE, sebagai indeks kelimpahan stok udang penaeid di perairan tersebut . Secara visual trend dari ketiga indikator tersebut dapat dilihat pada Gambar 79 berikut.

0 20000 40000 60000 80000 100000 120000

1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003

Catch*0.01 (ton) Effort (trip) CPUE*0.002 (kg/trip)

Gambar 79 Trend dari hasil tangkapan (catch), upaya (effort) dan indeks kelimpahan stok (CPUE) perikanan udang penaeid di perairan Cilacap dan sekitarnya

Dari gambar tersebut tampak bahwa secara umum selama periode 1990-2003 trend hasil tangkapan cenderung menurun sejalan dengan peningkatan jumlah upaya (effort), dan diiringi oleh menurunnya hasil tangkapan per-satuan upaya (CPUE). Fenomena tersebut merupakan gejala umum pada suatu perikanan yang dieksploitasi. Fenomena yang lebih jelas lagi terjadi antara periode 1990-1995, dimana naiknya total upaya ternyata tidak mampu menaikkan hasil tangkapan secara siginifikan, bahkan hasil tangkapan per-satuan upaya turun secara drastis.

Pada tahun 1995 yang merupakan puncak dari total upaya ternyata tidak merupakan puncak hasil tangkapan, karena hasil tangkapan yang tertinggi telah dilewati yaitu pada tahun 1993 (Gambar 79). Antara 1996-2002, total upaya tampak berfluktuasi dengan trend yang hampir mendatar, begitu juga halnya dengan trend hasil tangkapan yang hanya menunjukkan sedikit kenaikan, sedangkan trend CPUE dengan sedikit fluktuatif masih cenderung mendatar.

Yang menarik adalah trend dari ketiga indikator perikanan tersebut pada periode 2002-2003, dimana kenaikan upaya diduga benar-benar sudah tidak mampu lagi menaikan produksi/hasil tangkapan dan bahkan hasil tangkapan per-satuan upaya pun tampak turun pula.

Fenomena ini tampaknya benar-benar mirip dengan keadaan perikanan ikan sebelah (flat fish), Pleuronectus platessa di Laut Utara (North Sea) pada abad ke 19 (Holden and Raitt 1974), yang kemudian dinyatakan

sebagai ‘overfishing’. Apakah perikanan udang yang berbasis di Cilacap tersebut dewasa ini benar-benar sudah demikian buruk. Untuk menjawab pertanyaan tersebut tampaknya harus ada penelitian yang lebih menyeluruh yang meliput semua aspek informasi, mulai dari biologi, teknologi penangkapan, sosial/ekonomi dan aspek kebijakan.

Hal ini penting, mengingat bahwa wilayah perairan yang menjadi daerah penangkapan perikanan udang berbasis Cilacap tersebut relatif sempit dengan struktur armada yang relatif sederhana, sehingga dapat diasumsikan sebagai usaha perikanan yang dapat dikendalikan (controlled). Dengan demikian, kegiatan pengendalian usaha perikanan tersebut dapat merupakan ‘pilot project’ yang keberhasilannya dapat diterapkan ke perikanan lain yang lebih kompleks.

Langkah lain adalah upaya pemerintah (dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah Kota/Kabupaten Cilacap) untuk segera menyusun Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) Udang (Shrimp Fisheries Management Plan) yang melibatkan semua pelaku perikanan yang terkait (stakeholders), beserta Dinas Perikanan Daerah Kabupaten lainnya yang ada disepanjang pantai selatan Jawa seperti Ciamis, Kabumen,

Langkah lain adalah upaya pemerintah (dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah Kota/Kabupaten Cilacap) untuk segera menyusun Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) Udang (Shrimp Fisheries Management Plan) yang melibatkan semua pelaku perikanan yang terkait (stakeholders), beserta Dinas Perikanan Daerah Kabupaten lainnya yang ada disepanjang pantai selatan Jawa seperti Ciamis, Kabumen,