• Tidak ada hasil yang ditemukan

Basis Ekonomi dan Tingkat Perkembangan Wilayah

I. PENDAHULUAN

2.4. Basis Ekonomi dan Tingkat Perkembangan Wilayah

Teori basis ekonomi didasarkan pada asumsi bahwa secara umum ekonomi suatu wilayah dapat dibagi menjadi dua sektor yaitu sektor basis dan sektor non basis. Teori ini menyatakan bahwa sektor basis membangun dan memacu penguatan dan pertumbuhan ekonomi lokal. Sektor basis kermudian diidentifikasi

sebagai ”mesin ” ekonomi lokal dan disebut sebagai basis ekonomi dari suatu wilayah (Barkley dan Bradshaw, 2002). Salah satu metode untuk mengetahui potensi ekonomi yang merupakan basis dan bukan basis adalah analisis Location

17

Quotient (LQ), yang merupakan perbandingan relatif antara kemampuan sektor yang sama pada daerah yang lebih luas dalam suatu wilayah. Kriteria penilaian yang digunakan dalam penentuan ukuran keunggulan komparatif adalah jika nilai LQ lebih besar dari satu (LQ > 1) maka sektor tersebut merupakan sektor basis sedangkan bila nilainya lebih kecil dari satu (LQ < 1) berarti sektor yang dimaksud termasuk sektor non basis pada perekonomian wilayah.

Menurut Glasson (1977), sektor kegiatan basis adalah kegiatan yang mengekspor barang dan jasa ke tempat-tempat di luar batas-batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan, atau yang memasarkan barang dan jasa mereka kepada orang yang datang dari luar perbatasan perekonomian masyarakat yang bersangkutan. Sektor atau kegiatan non basis adalah kegiatan yang menyediakan barang-barang yang dibutuhkan oleh orang-orang yang bertempat tinggal di dalam batas-batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan. Kapasitas pasar sektor non basis bersifat belum berkembang atau bersifat lokal.

Analisis LQ juga memberikan suatu gambaran sektor atau kegiatan ekonomi yang terkonsentrasi dan mana yang tersebar. Kajian Kuncoro (2002) mendapatkan bahwa nilai LQ atau indeks spesialisasi regional merupakan variabel yang paling sesuai untuk menentukan seberapa jauh suatu industri terkonsentrasi pada suatu kabupaten/kota dibanding industri yang sama di Indonesia. Peningkatan nilai LQ suatu daerah industri menunjukkan peningkatan spesialisasi industri dalam daerah tersebut. Spesialisasi yang tinggi pada suatu industri di daerah tertentu dapat mempercepat pertumbuhan industri itu dalam wilayah tersebut. Dalam perspektif regional, indeks ini dapat menyediakan (1) dasar pertimbangan awal dan bersifat sementara untuk mencari dan mendorong industri lebih lanjut dan (2) indikator apakah suatu daerah memenuhi kebutuhan sendiri (self sufficient), mengimpor atau mengekspor produk.

Menurut Blakely dan Bradshaw (2002), Shift-share Analysis (SSA) merupakan teknik yang baik untuk menganalisis perubahan dalam struktur ekonomi lokal. SSA menjelaskan perubahan ekonomi tidak hanya pada suatu periode waktu seperti LQ. SSA berguna juga untuk mengidentifikasi industri di suatu wilayah yang mempunyai keunggulan kompetitif dan tumbuh lebih cepat dari rata-rata wilayah.

Dalam analisis ini pertumbuhan kegiatan di suatu daerah pada dasarnya ditentukan oleh tiga hal, yaitu: (1) National share merupakan pertumbuhan daerah dibandingkan dengan pertumbuhan nasional. Jika daerah tumbuh seperti rata-rata nasional, maka peranananya terhadap nasional akan tetap. Komponen ini juga disebut juga national growth effect; (2) Proporsional shift, yaitu perbedaan antara pertumbuhan daerah dengan menggunakan pertumbuhan nasional dan sektoral pertumbuhan daerah dengan menggunakan pertumbuhan nasional total. Daerah dapat tumbuh lebih cepat/lambat dari rata-rata nasional jika mempunyai sektor/industri yang tumbuh lebih cepat/lambat dari nasional. Dengan demikian perbedaan laju pertumbuhan dengan nasional disebabkan oleh komposisi sektoral yang berbeda (komponen mix). Komponen ini disebut juga mix effect atau compostion shift dan (3) Differential shift yaitu perbedaan antara pertumbuhan daerah secara aktual dengan pertumbuhan daerah jika menggunakan sektoral untuk nasional. Daerah dapat saja mempunyai keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan daerah lain, karena lingkungannya mendorong suatu sektor tertentu untuk tumbuh lebih cepat. Komponen ini sering disebut juga regional share atau competitive effect (LPEM, 2004).

Wilayah didefinisikan sebagai area geografis yang mempunyai ciri tertentu dan merupakan media bagi segala sesuatu untuk berlokasi dan berinteraksi (Rustiadi, 2006) menyatakan bahwa dari definisi tersebut dapat diturunkan tipologi-tipologi wilayah berdasarkan sifat hubungannya, fungsi masing-masing komponennya atau berdasarkan pertimbangan sosial, ekonomi maupun politis lainnya. Diantara tipologi-tipologi yang adaterdapat salah satu tipologi yang disebut dengan tipologi wilayah nodal, yang merupakan perkembangan dari konsep sel hidup. Dalam penjabaran wilayah nodal ini, wilayah diasumsikan sebagai sel hidup yang terdiri dari inti plasma , yang masing-masing mempunyai fungsi yang saling mendukung. Inti dalam hal ini diasumsikan sebagai pusat kegiatan industri dan pusat pasar serta inovasi. Sedangkan plasma atau hinterland merupakan pusat pemasok dari bahan mentah, tenaga kerja dan pusat pemasaran barang-barang hasil industri yang diproduksi di pusat (inti).

Berdasarkan konsep wilayah nodal tersebut, pusat atau hinterland suatu wilayah dapat ditentukan berdasarkan jumlah dan jenis fasilitas umum, industri

19

dan jumlah dan jumlah penduduknya. Unit wilayah yang mempunyai jumlah dan jenis fasilitas umum, industri dan jumlah penduduk dengan kuantitas dan kualitas yang secara relatif paling lengkap dibandingkan dengan unit wilayah yang lain akan menjadi pusat atau mempunyai hierarki yang paling tinggi.

Tingkat Perkembangan Wilayah ini ditunjukkan oleh hierarki dari suatu wilayah berdasarkan jumlah dan jenis fasilitas umum, industri dan jumlah penduduk. Wilayah yang mempunyai jumlah dan jenis fasilitas umum, industri dan jumlah penduduk dengan kuantitas dan kualitas yang secara realtif paling lengkap dibandingkan dengan unit wilayah yang lain akan menjadi pusat atau mempunyai hierarki yang paling tinggi (Rustiadi, 2006).

Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan hierarki suatu wilayah adalah metode skalogram. Metode skalogram dapat digunakan dengan menuliskan jumlah fasilitas yang dimiliki suatu wilayah, atau menuliskan ada/tidaknya suatu wilayah. Masing-masing fasilitas mempuyai bobot dan kualitas yang sifatnya indifferent. Data yang digunakan adalah data yang sama dengan data untuk menghitung LQ.

Dokumen terkait