• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.7 Musim Penangkapan Ikan Lainnya

5.7.5 Cilacap

Dari data statistik pendaratan ikan yang dikumpulkan di Cilacap tampak bahwa puncak produksi beberapa jenis/kelompok ikan yang didaratkan yang mencerminkan musim penangkapan berbeda satu sama lain. Dari kelompok ikan pelagis besar tampak bahwa kelompok ikan cakalang merupakan jenis ikan yang paling dominan sebagaimana tampak pada tingkat produksi yang tertinggi yaitu dapat mencapai lebih dari 500 ton per-bulan. Puncak produksi tertinggi ikan cakalang terjadi dua kali yaitu pada bulan Juli dan Oktober.

Dengan demikian, secara umum dapat ditafsirkan bahwa musim penangkapan ikan cakalang di perairan Cilacap dan sekitarnya terjadi menjelang pertengahan tahun sampai menjelang akhir tahun yaitu mulai bulan Mei sampai Oktober (Gambar 110). Berdasarkan kondisi cuaca di laut dapat diduga bahwa periode musim penangkapan ikan cakalang tersebut terjadi pada periode musim timur dan terus berlangsung sampai menjelang musim peralihan barat. Pada periode musim tersebut kondisi cuaca di laut biasanya bergelombang tinggi sebagai akibat berhembusnya angin tenggara yang bertiup kencang.

-100 200 300 400 500 600

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des T

o n

Cakalang

Gambar 110 Trend produksi ikan cakalang yang didaratkan di Cilacap

-10 20 30 40 50 60 70 80 90

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des T

o n

Tuna Cucut

Gambar 111 Trend produksi dua kelompok ikan pelagis besar yang didaratkan di Cilacap

Mirip dengan musim penangkapan ikan cakalang adalah musim penangkapan ikan cucut dengan periode yang lebih singkat yang dapat dikatakan berlangsung pada periode musim tenggara, yaitu pada periode Juni-Juli-Agustus. Yang sedikit berbeda adalah musim penangkapan kelompok ikan tuna yang terjadi pada musim peralihan tenggara yaitu mulai dari akhir musim barat (Februari) terus berlangsung sampai bulan Juni. Setelah periode tersebut produksinya terus menurun sampai menjelang akhir tahun, yang kemudian menunjukkan tendensi mulai naik lagi. Dengan demikian, dapat

dikatakan bahwa musim penangkapan kelompok ikan tuna terjadi mulai dari akhir tahun terus mencapai puncaknya setelah lewat awal tahun dan terus berlangsung sampai menjelang pertengahan tahun (Gambar 98).

-5 10 15 20 25 30 35 40

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des T

o n

Albakor Tongkol

Gambar 112 Trend produksi tiga kelompok ikan pelagis besar yang didaratkan di Cilacap

Musim penangkapan kelompok ikan tongkol dan albakor mengikuti pola musim kelompok ikan cakalang dan cucut yang terjadi pada sekitar pertengahan tahun, sedangkan musim penangkapan kelompok ikan layaran terjadi pada musim peralihan tenggara. Musim penangkapan tiga kelompok ikan pelagis besar lainnya yaitu tenggiri, lemadang dan ikan pedang tampak mirip dengan musim kelompok ikan tuna dengan skala produksi yang lebih rendah. Musim penangkapan ke tiga kelompok ikan tersebut terjadi mulai awal tahun sampai menjelang pertengahan tahun yang kemudian menurun pada bulan-bulan berikutnya, terutama kelompok ikan lemadang mencapai titik nadir (produksi terendah) terjadi lebih awal (Juli) dibandingkan dua kelompok ikan lainnya dimana titik nadir kelompok tenggiri dan ikan pedang terjadi pada bulan September (Gambar 113).

Cilacap

-0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des T

o n

Tenggiri Lemadang Ikan Pedang

Gambar 113 Trend produksi tiga kelompok ikan pelagis besar yang didaratkan di Cilacap

-5 10 15 20 25

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des T

o n

Setuhuk Putih Setuhuk Hitam

Gambar 114 Trend produksi dua kelompok ikan pelagis besar yang didaratkan di Cilacap

Kelompok ikan pelagis besar lainnya yang cukup banyak tertangkap adalah setuhuk putih dan setuhuk hitam (nama ilmiah lihat Tabel 1), dimana satu sama lain diduga mempunyai perilaku pengelompokkan yang berbeda berkaitan dengan kondisi lingkungan oseanografis perairan. Kelompok setuhuk hitam lebih banyak menggerombol pada sekitar pertengahan tahun mulai bulan Mei, Juni dan Juli sebagaimana tercermin dari hasil tangkapan

yang tercatat di Cilacap sedangkan hasil tangkapan yang tinggi kelompok setuhuk putih terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Mei dan Oktober. Dari fenomena tersebut dapat ditafsirkan bahwa musim-musim penangkapan kelompok ikan setuhuk relatif cukup panjang yaitu mulai dari awal musim peralihan timur musim timur dan terus berlangsung sampai menjelang pertengahan musim peralihan barat (Gambar 100).

Karena daerah penangkapan kelompok ikan pelagis besar berbeda dengan kelompok ikan demersal maka pola musim penangkapan dari kedua kelompok ikan tersebut berbeda pula.

-10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des

Pari Tigaw aja Manyung Baw al Putih Layur

Gambar 115 Trend produksi lima kelompok ikan demersal di Cilacap Kelompok ikan tiga waja dan manyung mirip satu sama lain dimana musim penangkapannya berlangsung menjelang akhir tahun sampai awal tahun berikutnya sedangkan kelompok ikan layur dan bawal putih terjadi pada sekitar pertengahan tahun. Musim penangkapan kelompok ikan pari dan kelompok ikan bambangan (kakap merah) mirip satu sama lain yaitu mulai pertengahan tahun sampai menjelang akhir tahun. Sementara itu kelompok ikan gerot-gerot dan bawal hitam tidak menunjukkan pola puncak musim penangkapan yang jelas karena kelompok ikan tersebut tampaknya selalu tertangkap dalam jumlah yang relatif sama setiap bulannya.

Musim ikan demersal di Cilacap

-1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des T

o n

Baw al Hitam Kakap Gerot Bambangan

Gambar 116 Trend produksi empat kelompok ikan demersal di Cilacap 5.7.6 Selat Bali

Sebagian besar kegiatan penangkapan ikan laut di Selat Bali didominasi oleh kelompok ikan lemuru (Sardinella lemuru). Eksploitasi sumber daya ikan lemuru Selat Bali yang secara internasional dikenal sebagai ‘bali oil sardine’

telah berlangsung sejak lama.

Musim Lemuru di Selat Bali

-5 10 15 20 25 30

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des

%

1993-1997 1998-2002

Gambar 117 Rata-rata produksi bulanan kelompok ikan lemuru yang didaratkan di Selat Bali periode 1993-2002

Stok ikan lemuru tersebut telah menjadi tulang punggung industri pengolahan baik industri pengalengan ikan ataupun industri tepung ikan yang berbasis di Banyuwangi ataupun di Denpasar. Produksi ikan lemuru telah mengalami fluktuasi yang cukup tinggi yang berkaitan dengan terjadinya perubahan suhu perairan yang berlangsung secara global yang dikenal sebagai

‘El Nino’ dan/atau ‘La Nina’. Perubahan tersebut terjadi secara reguler membentuk siklus (cyclical) yang berlangsung secara periodik dalam kurun waktu 7-11 tahunan.

Musim penangkapan ikan lemuru berdasarkan data produksi yang dicatat di Banyuwangi periode 1993-2002 berlangsung menjelang akhir tahun dengan puncak pada bulan-bulan Oktober-November (Gambar 117).

Pelagis kecil - Selat Bali (1995-1999)

-100 200 300 400 500

Jan Feb M ar Apr M ei Jun Jul Ags Sept Okt Nop Des

Layang Kembung Tembang

Gambar 118 Rata-rata produksi bulanan tiga kelompok ikan pelagis kecil Selat Bali yang didaratkan di Banyuwangi

Sebagai kelompok ikan pelagis kecil dengan perilaku untuk menggerombol termasuk beberapa kelompok ikan pelagis kecil lainnya, pola musim penangkapan ikan lemuru tersebut diduga telah mengendalikan (drive) pola-pola musim penangkapan kelompok ikan pelagis kecil lainnya seperti layang, kembung dan tembang. Puncak musim penangkapan ikan layang dan kembung di Selat Bali terjadi menjelang akhir tahun, yaitu mulai bulan September, Oktober, November dan Desember, sedangkan puncak musim ikan tembang sejenis ikan yang merupakan satu family dengan ikan lemuru benar-benar mengikuti pola musim penangkapan ikan lemuru dimana puncak penangkapannya terjadi pada sekitar bulan Oktober.

5.7.7 Tanjung Luar – Nusa Tenggara Barat

Sebagaimana halnya dengan sebagian besar perairan di Kawasan Timur Indonesia dimana kelompok ikan pelagis mendominasi hasil tangkapan, demikian juga halnya dengan produksi ikan yang dicatat di Tanjung Luar tampak didominasi oleh kelompok ikan pelagis baik pelagis kecil maupun pelagis besar sedangkan kelompok ikan demersal tercatat dalam jumlah yang relatif sedikit.

Gambar 119 Rata-rata produksi bulanan kelompok ikan pelagis kecil di Tanjung Luar, NTB

Gambar 120 Rata-rata produksi bulanan kelompok ikan sardin di Tanjung Luar, NTB

Secara umum tampak bahwa puncak musim ikan pelagis kecil secara keseluruhan di Lombok Timur terjadi pada bulan Juni-Juli sebagaimana dicerminkan oleh rata-rata produksi bulan yang tertinggi (Gambar 119).

Namun demikian, kelompok ikan teri tampaknya tidak mengikuti pola umum tersebut. Sebagaimana gambar tersebut tampak bahwa musim teri terjadi pada awal tahun dan akhir tahun, atau pada akhir tahun bersambung dengan awal tahun berikutnya. Sementara itu, diduga bahwa pola musim ikan pelagis kecil tersebut diduga di dominasi (driven by) oleh kelompok ikan sardin, dimana puncak musimnya terjadi pada bulan Juni-Juli (Gambar 120).

Gambar 121 Rata-rata produksi bulanan cumi-cumi/sotong yang didaratkan di Tanjung Luar, NTB

Musim cumi-cumi/sotong sebagaimana tercermin dari data yang dianalisis yang dikumpulkan dari Tanjung Luar bahwa puncak musim terjadi menjelang akhir tahun. Dari Gambar 121 tampak bahwa musim cumi-cumi terjadi tiga kali dalam setahun. Musim pertama terjadi pada bulan Februari-Maret, kedua pada bulan Mei–Juni dengan tingkat produksi yang lebih rendah dan yang ketiga terjadi mulai bulan Oktober, November dan Desember dengan tingkat produksi yang tinggi.

Kelompok ikan pelagis besar yang tercatat cukup banyak antara lain adalah tuna, tenggiri, tongkol, cakalang, lemadang, dan cucut/pari. Musim penangkapan kelompok ikan pelagis besar secara umum tampak mengikuti pola yang sama dimana berdasarkan produksi yang tercatat terjadi menjelang awal musim timur terus berlangsung sampai akhir tahun.

0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0 14.0 16.0

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des T

o n

Tuna Tenggiri Pari

Gambar 122 Rata-rata produksi bulanan kelompok ikan pelagis besar yang didaratkan di Tanjung Luar, NTB

0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 120.0 140.0

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des T

o n

Cakalang Lemadang Hiu

Gambar 123 Rata-rata produksi bulanan kelompok ikan pelagis besar yang didaratkan di Tanjung Luar, NTB

Puncak musim penangkapan beberapa jenis kelompok ikan pelagis besar benar-benar terjadi pada puncak musim tenggara yaitu kelompok tenggiri, tongkol dan cakalang dimana produksi yang tinggi terjadi pada sekitar Juni-Juli sampai Agustus. Secara umum musim penangkapan kelompok ikan pelagis besar dapat dikatakan mulai terjadi pada bulan April/Mei terus berlangsung sampai menjelang akhir tahun yaitu sekitar bulan Oktober/November.

Dari data yang dikumpulkan dari Selat Alas yang dicatat di Tanjung Luar tampak bahwa secara umum musim ikan demersal terjadi pada dua periode yaitu pada awal tahun dan menjelang akhir tahun, atau menjelang akhir tahun sampai pada awal tahun berikutnya. Kelompok ikan yang cukup menonjol dengan tingkat produksi yang tertinggi adalah kelompok ikan berukuran kecil yaitu petek (Leioghnathidae), kuniran (Mullidae), kakap merah (Lutjanidae) dan ikan kuwe atau bobara (Carangoides spp.).

Musim penangkapan ikan petek terjadi mulai bulan April dan terus berlangsung sampai menjelang akhir tahun, sedangkan ikan kuniran terjadi sejak awal tahun terus berlangsung pada tingkat produksi yang lebih rendah terutama sepanjang musim tenggara yang kemudian ada kecenderungan untuk naik lagi menjelang akhir tahun. Musim kelompok ikan lainnya seperti kakap merah (Lutjanidae), ikan kuwe (Carangidae) gerot-gerot, gulamah kurisi dan lencam terjadi menjelang akhir tahun sampai awal tahun berikutnya. Secara visual atau grafikal tampak bahwa musim ikan tersebut membentuk kurva cekung dengan titik terendah terjadi pada sekitar bulan Juli/Agustus. Dari wawancara dengan para nelayan diperoleh informasi bahwa pada bulan-bulan tersebut merupakan puncak musim tenggara.

Kondisi musim tenggara di sepanjang gugusan kepulauan Bali-Nusatenggara mirip dengan atau bahkan lebih buruk dibandingkan dengan keadaan musim barat di Laut Jawa, dimana cuaca yang dicirikan oleh berhembusnya angin kencang tanpa henti dan gelombang yang sangat tinggi.

Kondisi tersebut tentunya akan sangat berat jika dikaitkan dengan kegiatan penangkapan ikan oleh nelayan dengan kemampuan sarana penangkapan yang sebagian besar merupakan nelayan skala kecil. Yang menarik adalah musim penangkapan ikan layur (Trichiuridae) dan alu-alu (Sphyraenidae) yang terjadi pada sekitar bulan Mei-Juni yaitu satu/dua bulan menjelang puncak musim tenggara yang biasanya terjadi pada sekitar Juli/Agustus.

Gambar 124 Rata-rata produksi bulanan 12 kelompok ikan demersal yang didaratkan di Tanjung Luar, NTB

Kelompok ikan demersal berukuran besar lainnya seperti kurisi bali (Pristipomoides spp. Lutjanidae), sejumlah besar jenis-jenis kerapu (Serranidae), gerot-gerot (Pomadasyidae), dan kelompok ikan demersal berkuran lebih kecil lainnya seperti gulamah (Sciaenidae) dan beronang (Siganidae) secara relatif mengikuti pola umum musim ikan di Selat Alas dimana produksi terendah biasanya terjadi pada sekitar puncak musim tenggara.

Musim Penangkapan Ikan Layur (1995-2003)

-5 10 15 20 25

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des T

o n

Binuangeun Pel. Ratu Cilacap Tj.Luar

Gambar 125 Rata-rata produksi bulanan kelompok ikan layur yang didaratkan di perairan Selatan Jawa dan Tanjung Luar

Untuk kasus kelompok ikan layur, jenis ikan yang biasanya dianggap sebagai kelompok ikan demersal berdasarkan data yang dicatat di perairan selatan Jawa yaitu Binuangeun, Pelabuhan Ratu dan Cilacap periode 1995-2003 tampak menunjukkan pola musim yang berbeda (Gambar 125). Di Binuangeun dan Pelabuhan Ratu yang merupakan kawasan Teluk Pelabuhan Ratu, musim penangkapan ikan layur mengikuti pola yang mirip dimana puncak musim terjadi menjelang akhir tahun dan berlangsung sampai awal tahun berikutnya. Berbeda dengan pola musim ikan tersebut di kawasan Teluk Pelabuhan Ratu dimana puncak musim terjadi menjelang akhir tahun puncak musim penangkapan ikan layur di sekitar perairan Cilacap dan Tanjung Luar terjadi pada sekitar puncak musim tenggara. Adanya perbedaan musim penangkapan ikan layur tersebut diduga berkaitan erat dengan kondisi cuaca atau lingkungan oseanografis yang tidak selalu sama sejalan dengan waktu. Kondisi Teluk Pelabuhan Ratu yang pada puncak musim tenggara relatif terlindung justru mencatat produksi layur yang relatif rendah. Hal ini diduga erat kaitannya dengan kegiatan nelayan yang pada waktu-waktu tersebut lebih mengutamakan untuk menangkap kelompok ikan lain yang mempunyai nilai jual lebih tinggi.

6.1 Kesimpulan

Trend indeks kelimpahan stok sumber daya ikan pelagis besar di Barat Sumatra relatif mendatar. Demikian juga halnya dengan produksi dan total upaya dimana keduanya tidak menunjukkan fluktuasi kenaikan yang mencolok. Secara umum dapat dikatakan bahwa trend produksi ikan pelagis hanya menunjukkan sedikit kenaikan.

Trend produksi sumber daya ikan pelagis besar di perairan Selatan Jawa menunjukkan pola yang mirip dengan sedikit perbedaan dimana kecenderungan untuk menurun sudah terasa satu tahun lebih awal. Kenaikan total upaya yang cukup signifikan yang terjadi mulai tahun 1997 telah secara langsung diikuti oleh menurunnya baik hasil tangkapan ataupun CPUE. Keadaan tersebut merupakan fenomena umum yang terjadi terhadap perikanan dimana tingkat eksploitasinya sudah mencapai tingkat kejenuhan upaya. Hal ini diduga karena pada saat itu daerah penangkapan masih berada didalam ZEE Indonesia.

Untuk sub area Bali-Nusa Tenggara, baik produksi ataupun CPUE tampak menunjukkan kecenderungan sedikit naik, meskipun trend dari total upaya relatif mendatar. Dari gambar tersebut juga tampak adanya perubahan pola penangkapan yang terjadi pada sekitar tahun 1998, dimana suatu keadaan yang tidak mengikuti pola umum perikanan telah terjadi, yaitu berkurangnya total upaya disatu pihak, dilain pihak produksi naik dengan signifikan, dimana hal ini terjadi akibat naiknya CPUE, walaupun pada satu berikutnya terjadi penurunan secara signifikan pula.

Kelompok ikan pelagis kecil yang ditangkap di perairan Samudra Hindia sampai dengan saat ini diduga adalah jenis ikan pelagis neritik (dekat pantai) dengan migrasi yang tidak terlalu jauh. Informasi tentang kelompok ikan pelagis kecil oseanik sampai saat ini masih sangat terbatas.

Trend produksi, upaya dan CPUE sumber daya ikan pelagis kecil di perairan Barat Sumatra cenderung sedikit naik. Hal ini merupakan indikasi bahwa status pemanfaatan sumber daya tersebut diduga masih dapat dikembangkan dalam arti penambahan jumlah effort masih bisa dilakukan.

Berbeda dengan trend produksi, upaya dan CPUE sumber daya ikan

pelagis kecil di perairan Barat Sumatra yang cenderung sedikit naik, trend dari ketiga indikator perikanan tersebut di sub area Selatan Jawa pada periode lima tahun pertama (1992-1998) yang fluktuatif, trend dari indikator-indikator tersebut pada lima tahun terakhir (1999-2003) menunjukkan kecenderungan yang mendatar. Keadaan tersebut dapat ditafsirkan sebagai indikasi bahwa status pemanfaatan sumber daya tersebut sudah mendekati kejenuhan. Hal yang sama diduga terjadi terhadap ketiga indikator perikanan di perairan Bali-Nusa Tenggara dimana pada lima tahun terakhir menunjukkan trend yang cenderung mendatar.

Trend produksi ikan demersal di perairan Barat Sumatra yang selama periode 1994-2003 masih menujukkan sedikit kenaikan sejalan dengan sedikit menurunya total upaya, yang kemudian diikuti oleh naiknya CPUE antara periode 1994-1998. Setelah periode tersebut baik total upaya ataupun CPUE tampak menunjukkan tendensi yang mendatar.

Di perairan Selatan Jawa, fenomena umum tampak terjadi pada periode 1994-2003 dimana trend produksi cenderung naik sebagai akibat adanya kenaikan upaya (effort) yang cukup signifikan, sedangkan indeks kelimpahan stok yang dicerminkan oleh CPUE tampak menurun. Kondisi tersebut tampak sangat jelas antara periode 1994-1999, yang bahkan berlanjut sampai tahun 2000. Antara 1999-2000 baik produksi ataupun CPUE sumber daya ikan demersal di perairan selatan Jawa menurun cukup signifikan yang diduga diakibatkan oleh kenaikan upaya yang juga cukup signifikan. Setelah periode tersebut baik produksi atau upaya menunjukkan sedikit kenaikan terutama antara periode 2001-2003.

Di perairan Bali-Nusa Tenggara trend produksi dan CPUE antara periode 1994-2003 mengikuti pola kurva yang mirip satu sama lain yang menunjukkan trend yang naik antara periode 1994-1998, namun pada satu tahun berikutnya tampak mengalami penurunan. Berbeda dengan trend trend produksi dan CPUE yang sedikit menunjukkan fluktuasi, trend total upaya dapat dikatakan relatif mendatar.

Trend produksi udang di ketiga subarea Samudra Hindia selama periode 1992-2000 relatif mendatar dengan kecenderungan untuk sedikit menurun.

Produksi yang relatif tinggi dihasilkan oleh subarea Barat Sumatra, kemudian diikuti oleh subarea Selatan Jawa dan Bali-Nusa Tenggara.

Trend total upaya untuk subarea Barat Sumatra antara 1994-2003 menunjukkan sedikit penurunan, sedangkan di subarea Bali-Nusa Tenggara menunjukkan kenaikan yang signifikan pada tahun 1996 yang kemudian

menurun tajam pada tahun berikutnya, meskipun pada tiga tahun menjelang tahun 2000 trend upaya cenderung naik.

Kenaikan yang cukup tajam dari total upaya di subarea Selatan Jawa antara 1992-1993, diikuti oleh penurunan CPUE secara tajam pula. Keadaan yang sebaliknya terjadi pada periode berikutnya (1993-1994) dimana terjadinya pengurangan total upaya secara drastis dari 6000 unit alat pada tahun 1993 menjadi hanya sekitar 1000 unit telah menyebabkan kenaikan CPUE yang cukup tajam.

Antara tahun 1995-2003 di subarea Selatan Jawa terjadi lagi suatu pola eksploitasi sumber daya yang bersifat umum, di mana penurunan trend total upaya diikuti oleh kenaikan CPUE pada periode yang sama. Di subarea Bali-Nusa Tenggara, meskipun trend produksi menunjukkan kenaikan sebagai akibat adanya peningkatan jumlah upaya, namun trend CPUE tampak relatif mendatar. Keadaan ini diduga sebagai akibat dari adanya kejenuhan upaya di satu pihak, sementara dipihak lain, daerah penangkapan udang relatif sempit dan tidak ada usaha perluasan daerah penangkapan.

6.2 Saran

Melihat kondisi sebagian dari sumber daya ikan yang menunjukkan trend indeks kelimpahan yang mendatar dalam jangka panjang yang diduga akibat kurang efektifnya pengoperasian alat tangkap, terbuka peluang untuk penelitian efisiensi dan efektivitas teknologi alat tangkap.

Belum memadainya sampel-sampel biologi seperti pengukuran frekuensi panjang beberapa jenis ikan ekonomis penting menyebabkan belum adanya hasil analisis yang dapat disajikan secara utuh. Dengan demikian, kiranya pengumpulan data frekuensi panjang beberapa jenis ikan dapat dilanjutkan pada tahun-tahun mendang.

Langkah-langkah monitoring hasil tangkapan per satuan upaya (CPUE) untuk beberapa perikanan di tempat-tempat tertentu kiranya dapat dilanjutkan, mengingat bahwa CPUE dari suatu perikanan merupakan salah satu dasar bagi identifikasi status pemanfaatan.

Sebagian besar ukuran lobster yang ditangkap di perairan selatan Yogya masih relatif ‘juvenile’. Kajian tingkat panjang atau berat pada saat pertama kali matang telur perlu diidentifikasi. Hal ini sangat penting karena jika kegiatan penangkapan lobster tersebut terus berlangsung pada tingkat upaya dan jika ukuran lobster yang tertangkap didominasi oleh ukuran juvenile maka dalam waktu yang tidak lama lagi perikanan lobster tersebut akan ‘collapse’.

Anonymous. 1994-2003. Statistik Perikanan Tahun 1993-2003. Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhan Ratu.

Anonymous. 1994-2004. Statistik Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. DKP.

Brandt AV. 1972. Fish Catching Methods of the World. Fishing News Books Ltd, 110 Fleet Street, London, EC 4, p. 204-214.

Dajan A. 1982. Pengantar Metode Statistika. Jilid I. Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial, Jakarta.

Dall W, BJ Hill, PC Rothlisberg and DJ Staples. 1990. The biology of the Penaeidae. In Blaxter, J.H.S and A.J. Southward (eds.) : Marine Biology Vol. 27, Academic Press. London. 489 p.

FAO. 1999. Indicators for sustainable development of marine capture fisheries. FAO Tech. Guidelines for Responsible Fisheries No. 8. FAO.

Rome. 68p.

Gulland JA. 1983. Fish stock assessment: A manual of basic methods. FAO/

Wiley series on food and agriculture. 223p.

Wiley series on food and agriculture. 223p.