• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Defenisi dan Batasan Operasional

3.5.2 Batasan Operasional

Adapun batasan operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Penelitian dilakukan di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.

2. Sampel penelitian adalah petani yang membudidayakan tomat selama kurun waktu penelitian.

3. Waktu penelitian dilaksanakan pada tahun 2020.

4.1 Deskripsi Wilayah

4.1.1 Letak Geografis Desa Pangambatan

Kecamatan Merek terletak diatas permukaan laut yaitu 920 – 1.620 m di atas permukaan laut dengan temperatur suhu udara 220C - 290C. Luas wilayah Kecamatan Merek yaitu 125,51 km2.

Desa Pangambatan Kecamatan Merek Kabupaten Karo merupakan salah satu desa dengan luas wilayah ± 2.000 Ha. Desa Pangambatan memilihi topografi berbukit, berudara sejuk dengan suhu berkisar 260C – 300C dan kecepatan angin yaitu 20 km/Jam. Jarak dari Desa ke Ibukota Kecamatan sekitar 6 km dan Ibukota Kabupaten sekitar 32 km. Desa Pangambatan terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Huta Sanggar, Dusun Baringin, Dusun Aek Hotang.

Adapun Desa Pangambatan berada pada batas-batas berikut :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Merek dan Desa Garingging

2. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situnggaling dan Bukit Sipiso-piso 3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tongging dan Desa Sikodon-kodon 4. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Nagalingga, Desa Pancur Batu, Desa Partibi Lama, dan Desa Partibi Tembe.

4.1.2 Tata Guna Lahan Desa Pangambatan

Desa Pangambatan mempunyai luas ± 2.000 Ha. Penggunaan tanah di Desa Pangambatan meliputi tanah sawah, tanah kering, bangunan dan lainnya. Adapun jenis penggunaan lahan Desa Pangambatan diperlihatkan pada tabel berikut :

Tabel 4.1 Penggunaan Lahan di Desa Pangambatan Tahun 2019

No Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)

1 Pemukiman 96 4,8

2 Pertanian 1.106 55,3

3 Lahan Hutan 89 4,5

4 Lain - lain 709 35,5

Jumlah 2.000 100

Sumber: Kantor Kepala Desa Pangambatan, 2020

Tabel 4.1 dapat menjelaskan bahwa penggunaan lahan untuk pemupikan seluas 96 Ha (4,8%), lahan pertanian seluas 1.106 Ha (55,3%), lahan hutan seluas 89 Ha (4,5%), dan lahan lain-lain seluas 709 Ha (35,5%). Jenis penggunaan lahan yang paling besar adalah untuk lahan pertanian dengan luas 1.106 Ha, yang salah satunya digunakan untuk pertanaman tomat.

4.2 Keadaan Penduduk

Desa Pangambatan memiliki jumlah penduduk yang berbeda – beda digolongkan berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur, tingkat pendidikan dan pekerjaan.

Jumlah penduduk Desa Pangambatan pada tahun 2020 diketahui sebanyak 2.724 jiwa atau 677 KK.

4.2.1 Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Adapun distribusi penduduk menurut jenis kelamin di Desa Pangambatan diuraikan seperti yang tertera pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Pangambatan

Sumber: Kantor Kepala Desa Pangambatan, 2020

Tabel 4.2 dapat menjelaskan bahwa jumlah penduduk Desa Pangambatan berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk laki – laki lebih sedikit daripada

jumlah penduduk perempuan. Jumlah penduduk perempuan yaitu 2.724 jiwa (50,77%) sedangkan jumlah penduduk laki – laki sebanyak 1.341 jiwa (49,23%).

4.2.2 Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur

Distribusi penduduk menurut kelompok umur di Desa Pangambatan diuraikan seperti yang tertera pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur di Desa

Sumber: Kantor Kepala Desa Pangambatan, 2020

Tabel 4.3 dapat menjelaskan bahwa jumlah penduduk terbesar di Desa Pangambatan adalah penduduk pada kelompok umur 16 – 55 tahun yaitu 1.286 jiwa dengan persentase 47,21 %. Dan jumlah penduduk terkecil adalah penduduk pada kelompok umur >55 tahun yaitu hanya 169 jiwa dengan persentase 6,2%.

4.2.3 Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Distribusi penduduk menurut tingkat pendidikan di Desa Pangambatan diuraikan seperti yang tertera pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Pangambatan Tahun 2019

Tingkat Pendidikan Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)

Belum Sekolah 388 13,74

Sumber: Kantor Kepala Desa Pangambatan, 2020

Tabel 4.4 dapat menjelaskan bahwa jumlah penduduk terbesar di Desa Pangambatan menurut tingkat pendidikan adalah penduduk di tingkat SLTP/SMP yaitu 889 jiwa dengan persentase 31,48%. Jumlah penduduk terbesar kedua adalah pada tingkat pendidikan SLTA/SMA yaitu 761 jiwa dengan persentase 26,95%. Jumlah penduduk terbesar ketiga adalah pada tingkat pendidikan SD yaitu 317 jiwa dengan persentase 14,66%. Jumlah penduduk terbesar keempat adalah penduduk yang Belum Sekolah yaitu 388 jiwa dengan persentase 13,74%.

Jumlah penduduk terbesar kelima adalah pada tingkat pendidikan Belum Tamat SD yaitu 317 jiwa dengan pesentase 11,23%. Dan jumlah penduduk terkecil menurut tingkat pendidikan adalah penduduk yang mempunyai tingkat pendidikan Diploma/Sarjana yaitu 55 jiwa dengan persentase 1,95%.

4.2.4 Distribusi Penduduk Menurut Pekerjaan

Distribusi penduduk menurut pekerjaan di Desa Pangambatan diuraikan seperti yang tertera pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Jumlah Penduduk Menurut Pekerjaan di Desa Pangambatan Tahun 2019

Pekerjaan Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)

Belum / Tidak Bekerja 834 30,62

Sumber: Kantor Kepala Desa Pangambatan, 2020

Tabel 4.5 dapat menjelaskan bahwa jumlah penduduk di Desa Pangambatan dominan mempuyai pekerjaan sebagai Petani yaitu 1.534 jiwa dengan persentase 54,48%. Selain itu, penduduk Desa Pangambatan bermata pencaharian sebagai Buruh sebanyak 147 jiwa dengan persentase 5,4%, Peternak berjumlah 10 jiwa dengan persentase 0,37%, Pedagang berjumlah 52 dengan persentase 1,91%, Penjahit berjumlah 2 jiwa dengan persentase 0,07%, Pensiunan berjumlah 12 jiwa dengan persentase 0,44%, TNI/POLRI berjumlah 1 jiwa dengan persentase 0,04%, Perangkat Desa berjumlah 9 jiwa dengan persentase 0,33%, Pengrajin sebanyak 1 jiwa dengan persentase 0,04%, Industri Kecil berjumlah 1 jiwa dengan persentase 0,04%, Buruh Industri berjumlah 64 jiwa dengan persentase 2,35%, Belum/Tidak Bekerja berjumlah 856 jiwa dengan persentase 30,62%, dan Lain-lain berjumlah 89 jiwa dengan persentase 3,27%.

4.1.4 Sarana dan Prasarana

Ketersediaan sarana dan prasarana di Desa Pangambatan menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam pembangunan masyarakat di Desa Pangambatan.

Sarana dan prasarana yang baik akan mendukung akan kelancaran perekonomian desa, dan kemajuan desa, hal ini berkaitan dengan akses pemasaran akan hasil-hasil pertanian dan akses informasi.

Pada masa penelitian ini berlangsung telah ada sarana transportasi yang menghubungkan Desa Pangambatan dengan beberapa daerah seperti angkutan pedesaan yakni SUKA SARI, SUKA MULIA, sepeda motor, becak serta kendaraan pribadi. Angkutan pedesaan ini menghubungkan Desa Pangambatan dengan Kabanjahe. Terdapat sarana dan prasarana ekonomi, pendidikan, kesehatan, peribadahan, dan sosial yang mendukung perkembangan sumber daya

manusia yang terdapat di Desa Pangambatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut ini.

Tabel 4.6 Sarana dan Prasarana di Desa Pangambatan Tahun 2019

No. Sarana dan Prasarana Jumlah

1 Kantor Kepala Desa 1

2 Puskesmas Pembantu 2

3 Gereja Protestan 2

4 SD/Sederajat 2

Sumber: Kantor Kepala Desa Pangambatan, 2020

4.2 Karakteristik Petani Sampel

Petani dalam penelitian ini adalah orang yang mengusahakan atau membudidayakan tomat di Desa Pangambatan Kecamatan Merek Kabupaten Karo. Karakteristik petani yang menjadi sampel pada penelitian ini meliputi umur petani sampel, jumlah tanggungan, tingkat pendidikan, dan lama berusahatani.

4.2.1 Umur Petani

Umur petani tomat di daerah penelitian ini dapat dilihat berdasarkan Tabel 4.7 berikut ini:

Tabel 4.7 Distribusi Sampel Menurut Kelompok Umur

No Kelompok Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 20 – 50 32 80

2 >50 8 20

Jumlah 40 100

Sumber: Lampiran 1 (diolah), 2020

Tabel 4.7 menjelaskan bahwa jumlah sampel petani tomat terbesar berada pada kelompok umur 20 – 50 tahun yakni sebanyak 32 orang dengan persentase 80%, sedangkan jumlah sampel petani tomat yang terkecil berada pada kelompok umur

>50 tahun dengan jumlah 28 orang dengan persentase 20%. Penduduk di desa ini di dominasi oleh penduduk yang berusia produktif.

4.2.2 Tingkat Pendidikan

Pendidikan dapat mempengaruhi petani dalam setiap pengambilan keputusan seperti penggunaan bibit, pupuk, pestisida, dan lainnya. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin baik untuk memikirkan segala tindakan yang akan memberikan manfaat. Berikut distribusi sampel menurut tingkat pendidikan di daerah penelitian.

Tabel 4.8 Distribusi Sampel Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Pangambatan

No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 SD 8 20

2 SLTP/SMP 13 32,5

3 SLTA/SMA 17 42,5

4 Diploma/Sarjana 2 5

Jumlah 40 100

Sumber:Lampiran 1 (diolah), 2020

Tabel 4.8 menjelaskan tingkat pendidikan petani tomat terbesar pada tingkat SLTA/SMA dengan jumlah petani sebanyak 17 orang dengan persentase 42,5%

dan tingkat pendidikan terkecil pada tingkat Diploma/Sarjana dengan jumlah sampel sebanyak 2 dengan persentase 5%.

4.2.3 Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga petani tomat di daerah penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut ini:

Tabel 4.9 Distribusi Sampel Menurut Jumlah Tanggungan Keluarga di Desa Pangambatan

No Kelas Jumlah Tanggungan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1 0 – 3 15 37,5

2 4 – 6 25 62,5

Jumlah 40 100

Sumber : Lampiran 1 (diolah), 2020

Tabel 4.9 menjelaskan bahwa jumlah tanggungan petani tomat tebesar pada jumlah tanggungan 4-6 orang yaitu sebanyak 25 orang atau 62,5% dan jumlah tanggungan petani tomat terkecil berada pada jumlah tanggungan 0-3 orang yaitu sebanyak 15 orang atau sebesar 37,5%.

4.2.4 Pengalaman Berusahatani

Pengalaman berusahatani sangat berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas tomat. Adapun distribusi sampel menurut lama berusahatani di Desa Pangambatan diuraikan seperti yang tertera pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Distribusi Sampel Menurut Lama Berusahatani di Desa Pangambatan

No Pengalaman Berusahatani

(Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 <10 12 30

2 10 – 20 16 40

3 >20 12 30

Jumlah 40 100

Sumber: Lampiran 1 (diolah), 2020

Tabel 4.10 menjelaskan bahwa pengalaman berusahatani tomat terbesar berada pada 10-20 tahun sebanyak 16 orang atau 40%. Pada pengalaman berusahatani

<10 tahun jumlah petani ialah 12 orang atau 30%, dan pada pengalaman berusahatani >20 tahun jumlah petani ialah 12 orang atau 30%.

41

5.1 Pendapatan Petani dan Kelayakan Usahatani Tomat 5.1.1 Pendapatan Petani Tomat di Desa Pangambatan

Biaya produksi usahatani tomat adalah seluruh biaya usahatani yang dikeluarkan oleh petani tomat dalam memproduksi tomat terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap (fixed cost) umumnya diartikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun output yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya tetap pada usahatani tomat terdiri dari biaya penyusutan peralatan, Pajak Bumi Bangunan (PBB) dan Sewa Lahan. Biaya tidak tetap (variable cost) merupakan biaya yang besarnya dipengaruhi oleh besarnya produksi. Biaya tidak tetap pada usahatani tomat terdiri dari biaya sarana produksi dan biaya tenaga kerja. Adapun rincian mengenai komponen biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani pada usahatani tomat dapat dilihat pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Rata – Rata Total Biaya Produksi Usahatani Tomat per Petani per Musim Tanam di Desa Pangambatan

No Jenis Biaya Produksi Total (Rp) Persentase (%) 1 Biaya Tetap

a. Biaya PBB/Sewa Lahan 602.675 2,0 b. Biaya Penyusutan Alat 1.947.125 6,3

Total 2.549.800 8,3

2 Biaya Tidak Tetap

a. Biaya Sarana Produksi :

- Biaya Bibit 1.331.875 4,3

Total Biaya (TC) 30.860.389 100

Sumber: Lampiran 15, 16, 17 (diolah), 2020

Tabel 5.1 menjelaskan bahwa biaya paling tinggi dalam usahatani tomat di Desa Pangambatan adalah biaya pestisida. Adapun biaya rata – rata pestisida yang dikeluarkan pada usahatani tomat per hektar per musim tanam adalah Rp 9.700.213 dengan persentase 31,4 %. Biaya paling tinggi kedua pada usahatani tomat per hektar per musim tanam adalah rata – rata biaya pupuk sebesar Rp 7.494.500 dengan persentase 24,3 % dan biaya paling tinggi ketiga pada usahatani tomat per hektar per musim tanam adalah rata – rata biaya tenaga kerja yakni sebesar Rp 4.819.876 dengan persentase 15,6 %. Biaya paling tinggi keempat adalah rata – rata biaya bambu yakni sebesar Rp 2.207.500 dengan persentase 7,2 % dan biaya paling tinggi kelima adalah biaya penyusutan alat yakni sebesar Rp 1.947.125 dengan persentase 6,3 %..

Biaya paling tinggi keenam pada usahatani tomat dalah rata – rata biaya mulsa sebesar Rp 1.409.375 dengan persentase 4,6 % dan biaya paling tinggi ketujuh pada usahatani tomat per musim tanam adalah rata – rata biaya tali yakni sebesar Rp 1.347.250 dengan persentase 4,4 %. Biaya paling tinggi kedelapan adalah rata – rata biaya bibit yakni sebesar Rp 1.331.875 dengan persentase 4,3 %.

Sedangkan biaya paling rendah pada usahatani tomat per musim tanam di Desa Pangambatan adalah rata - rata biaya PBB/Sewa Lahan yakni sebesar Rp 602.675 dengan persentase 2,0 %.

Indikator keberhasilan suatu usahatani dapat dilihat dari besarnya pendapatan yang diperoleh oleh petani. Usahatani dikatakan menguntungkan apabila jumlah penerimaan yang diperoleh lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan.

Dimana nilai rata – rata total biaya, penerimaan dan pendapatan usahatani

dianalisis per luas lahan petani yang dimaksudkan untuk melihat atau mengetahui bagaimana kondisi saat ini yang tengah dihadapi oleh petani.

Rincian mengenai nilai rata – rata total biaya, penerimaan dan pendapatan yang dianalisis per luas lahan petani dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2 Rata – Rata Biaya Produksi, Penerimaan dan Pendapatan Usahatani Tomat per Petani per Musim Tanam dan per Bulan Per Musim Tanam

(6 Bulan)

Total Biaya Rp 30.860.389

Penerimaan Rp 35.253.750

Pendapatan Rp 4.393.362

Per Bulan Total Biaya Rp 5.143.398

Penerimaan Rp 5.875.625

Pendapatan Rp 732.227

Sumber: Lampiran 14, 17, 18 (diolah), 2020

Tabel 5.2 menjelaskan bahwa, rata - rata biaya produksi petani per musim tanam sebesar Rp 30.860.389, rata – rata penerimaan petani per musim tanam sebesar Rp 35.253.750 dan rata – rata pendapatan petani per musim tanam sebesar Rp 4.393.362. Sedangkan untuk rata - rata biaya produksi petani per bulan yaitu sebesar Rp 5.143.398, rata – rata penerimaan petani per bulan yaitu sebesar Rp 5.875.625 dan rata – rata pendapatan petani per bulan yaitu sebesar Rp 732.227.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Tahun 2020 Tentang Rata-rata Pendapatan Bersih Sebulan Pekerja Berusaha Sendiri menurut Provinsi dan Jenis Pekerjaan Utama, Rata rata Pendapatan bersih petani di Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar Rp 1,175,100. Dengan demikian, Hipotesis 1 Pendapatan petani tomat di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo lebih tinggi dari Rata rata pendapatan bersih sebulan petani di Provinsi Sumatera Utara ditolak.

Hal ini diakibatkan oleh risiko – risiko , seperti banyaknya hama dan penyakit tomat pada saat dilakukannya penelitian dan cuaca dan iklim yang kurang baik mengakibatkan banyaknya petani yang mengalami hasil panen yang tidak sesuai atau bahkan mengalami gagal panen dan harga tomat yang diberikan oleh agen cenderung rendah.

5.1.2 Kelayakan Usahatani Tomat di Desa Pangambatan Analisis R/C Ratio

R/C Ratio adalah perbandingan antara penerimaan dengan total biaya yang dikeluarkan. Usahatani dikatakan layak jika R/C > 1.

Tabel 5.3 Analisis R/C Usahatani Tomat per Petani per Musim

35.253.750 30.860.388 1,14

Sumber : Lampiran 14, 17 (diolah), 2020

Tabel 5.3 menunjukkan bahwa R/C Ratio per petani pada usahatani tomat adalah 1,14. Nilai R/C Ratio usahatani tomat di Desa Pangambatan lebih dari 1 yang menunjukkan bahwa usahatani tersebut layak untuk diusahakan.

5.2 Tingkat Risiko Usahatani Tomat di Desa Pangambatan

Fluktuasi yang terjadi pada suatu usaha, baik fluktuasi hasil produksi, harga, dan jumlah permintaan yang berada dibawah standar yang ditetapkan merupakan indikasi adanya resiko. Adanya resiko usahatani mempengaruhi perilaku petani dalam mengambil keputusan. Resiko usahatani yang dihadapi para petani tomat antara lain resiko produksi, resiko harga dan resiko pendapatan.

5.2.1 Risko Produksi Usahatani Tomat di Desa Pangambatan

Risiko produksi merupakan risiko yang muncul akibat ketidakpastian jumlah hasil panen yang diperoleh dari suatu usahatani. Adanya risiko produksi mempengaruhi perilaku petani dalam mengambil keputusan. Berdasarkan wawancara dengan petani di daerah penelitian, tanaman tomat memiliki banyak risiko produksi.

Risiko produksi yang sering terjadi pada tanaman tomat ialah cuaca, iklim, hama dan penyakit. Besarnya risiko produksi usahatani tomat di Desa Pangambatan dapat dilihat pada Tabel 5.3.1 berikut.

Tabel 5.4 Risiko Produksi Usahatani Tomat per Musim Tanam di Desa

Sumber: Lampiran 19 (diolah), 2020

Hasil pengukuran resiko pada Tabel 5.4 dapat diketahui bahwa produksi rata – rata usahatani tomat adalah sebesar 14.246 kg/petani dengan ragam (variance) sebesar 3.058.908 dan simpangan baku (standard deviation) sebesar 1.748,97. Penilaian resiko produksi diperoleh nilai variance berbanding lurus dengan standard deviation dimana jika nilai variance tinggi maka standard deviation yang diperoleh juga akan tinggi dan sebaliknya. Semakin tinggi nilai

ragam (variance) dan simpangan baku (standard deviation) maka semakin tinggi nilai resiko.

Tabel 5.4 menyataan nilai KV untuk usahatani tomat adalah 0,12 yang artinya untuk setiap satu satuan hasil yang diperoleh dari usahatani tomat, maka resiko

yang dihadapi adalah sebesar 0,12. Dapat juga diartikan untuk setiap satu kilogram tomat yang dihasilkan, akan mengalami resiko produksi atau ketidakpastian produksi (disebabkan adanya tomat yang rusak akibat perubahan cuaca dan hama penyakit) sebesar 0,12 kg pada saat terjadi resiko produksi atau untuk setiap produksi 100 kg tomat menanggung resiko atau ketidakpastian sebesar 12 kg.

Menurut Hernanto (1993), suatu usaha akan selalu menguntungkan atau impas apabila nilai KV ≤ 0 yang menyebabkan nilai batas bawah keuntungan (L) ≥ 0.

Sebaliknya suatu usaha akan ada peluang mendapat kerugian apabila nilai KV>

0,5 yang menyebabkan nilai batas bawah keuntungan (L) < 0. Nilai KV sebesar 0,12 yang berada dibawah nilai KV < 1 menunjukkan bahwa usahatani tomat dianalisis beresiko rendah jika dilihat dari segi produksinya. Nilai batas bawah produksi (L) dapat diartikan bahwa nilai produksi paling rendah yang diterima petani tomat adalah sebesar 10.748,05 kg/petani. Nilai batas bawah produksi tomat lebih besar daripada 0, maka dapat disimpulkan bahwa petani tidak mengalami kerugian dari segi produksinya.

5.2.2 Risiko Harga Usahatani Tomat di Desa Pangambatan

Komoditas pertanian sering mengalami fluktuasi harga. Fluktuasi harga yang terjadi dapat dilihat variasinya yang mencerminkan tingkat risiko harga tomat. Di daerah penelitian tanaman ini juga rentan terhadap risiko harga. Kebanyakan petani menanam tanaman yang sama secara serentak, sehingga pada saat panen, produksi akan sangat banyak sehingga membuat harga menjadi jatuh. Harga tomat tinggi pada saat-saat tertentu misalkan pada hari raya atau akhir tahun. Besarnya risiko harga usahatani tomat dapat dilihat pada Tabel 5.5 berikut.

Tabel 5.5 Risiko Harga Usahatani Tomat per Musim Tanam di Desa Pangambatan

Keterangan

Harga Rata – rata (Q1) Rp 2.489,28 /kg

Ragam (V2) 15.532,95

Simpangan Baku (V) 124,6

Koefisien Variasi (KV) 0,05

Batas Bawah (L) 2.240,02

Sumber: Analisis Data Primer (Lampiran 20)

Hasil analisis data menunjukkan bahwa harga jual rata – rata tomat sebesar Rp 2.489,28/kg dengan ragam (variance) sebesar 15.532,95 dan simpangan baku (standard deviation) sebesar 124,6. Penilaian resiko harga diperoleh nilai variance berbanding lurus dengan standard deviation dimana jika nilai variance

tinggi maka standard deviation yang diperoleh juga akan tinggi dan sebaliknya.

Semakin tinggi nilai ragam (variance) dan simpangan baku (standard deviation) maka semakin tinggi nilai resiko.

Tabel 5.5 menunjukkan Koefisien Variasi (KV) tomat sebesar 0,05 yang artinya untuk setiap satu satuan nilai harga yang diperoleh dari usahatani tomat, maka risiko yang dihadapi adalah sebesar 0,05. Dapat juga diartikan untuk setiap satu rupiah harga tomat yang dihasilkan, akan mengalami resiko harga atau ketidakpastian harga (disebabkan fluktuasi harga tomat) sebesar 0,05 rupiah pada saat terjadi resiko harga atau untuk setiap 100 rupiah harga tomat akan menanggung resiko atau ketidakpastian harga 0,5 rupiah. Nilai KV < 1 menyatakan bahwa usahatani tomat dianalisis beresiko rendah jika dilihat dari segi harganya.

Soekartawi (1999) menyatakan bahwa, salah satu penyebab dari resiko harga ini adalah harga yang berfluktuasi karena perubahan harga di pasar yang sangat

cepat. Ketidakpastian harga yang sulit diprediksi secara tepat, menyebabkan timbulnya fluktuasi harga. Faktor – faktor yang mempengaruhi yaitu adanya spekulasi pedagang yang cenderung ingin memperoleh keuntungan yang besar.

Adanya ketidakpastian tersebut menimbulkan terjadinya resiko harga. Pada daerah penelitian harga yang di terima oleh petani ditentukan oleh agen/toke berbeda, sehingga terjadi perbedaan harga yang diterima oleh setiap petani dan hal ini bisa menjadi salah satu faktor tinggi atau rendahnya risiko harga tomat.

Menurut petani tomat di daerah penelitian, risiko harga merupakan suatu keadaan dimana harga jual hasil panen tidak sesuai dengan besarnya biaya yang dikeluarkan. Nilai batas bawah produksi (L) dapat diartikan bahwa harga yang paling rendah yang mungkin diterima oleh petani yang melakukan usahatani tomat adalah sebesar Rp 2.240/kg. Jika dilihat dari nilai batas bawah harga tomat lebih besar daripada 0, maka dapat disimpulkan bahwa petani tidak mengalami kerugian.

5.2.3 Risiko Pendapatan Usahatani Tomat di Desa Pangambatan

Petani dalam berusahatani bertujuan untuk memaksimalkan pendapatan.

Pendapatan ini merupakan nilai yang diperoleh petani (penerimaan) yang dikurangi dengan biaya usahataninya. Risiko pendapatan perlu diketahui petani dalam menentukan keputusan untuk melakukan suatu usahatani. Besarnya risiko pendapatan usahatani tomat dapat dilihat pada Tabel 5.5 berikut.

Tabel 5.6 Risiko Pendapatan Usahatani Tomat per Musim Tanam

Koefisien Variasi (KV) 0,87

Batas Bawah (L) - 3.238.033,35

Sumber: Analisis Data Primer (Lampiran 21)

Analisis data pada Tabel 5.6 menunjukkan bahwa pendapatan rata – rata usahatani tomat adalah sebesar Rp 4.393.362/MT dengan ragam (variance) sebesar 14.559.548.763.693,90, simpangan baku (standard deviation) sebesar 3.815.697,68 dan Koefisien Variasi (KV) sebesar 0,87 yang artinya untuk setiap satu satuan nilai pendapatan yang diperoleh dari usahatani tomat, maka resiko yang dihadapi adalah sebesar 0,87. Dapat juga diartikan untuk setiap satu rupiah pendapatan tomat yang dihasilkan, akan mengalami resiko atau ketidakpastian pendapatan (disebabkan oleh perubahan jumlah produksi dan fluktuasi harga) sebesar 0,87 rupiah pada saat terjadi resiko pendapatan atau untuk setiap 100 rupiah pendapatan pada usahatani tomat menanggung resiko atau ketidakpastian sebesar 87 rupiah. Nilai KV sebesar 0,87 yang berada di atas nilai KV < 1 menunjukkan bahwa usahatani tomat dianalisis beresiko rendah jika dilihat dari segi pendapatannya.

Nilai batas bawah produksi (L) adalah dapat diartikan bahwa pendapatan yang paling rendah yang mungkin diterima oleh petani yang melakukan usahatani tomat adalah sebesar - Rp 3.238.033,35/ MT. Nilai batas bawah pendapatan tomat lebih kecil daripada 0, maka dapat disimpulkan bahwa petani mengalami kerugian dari segi pendapatannya

Dari hasil pembahasan tabel risiko produksi, resiko harga dan resiko pendapatan dapat diketahui resiko paling tinggi pada usahatani tomat seperti pada Tabel 5.7

Tabel 5.7 Risiko Produksi, Risiko Harga dan Risiko Pendapatan Usahatani Tomat per Petani per Musim Tanam di Desa Pangambatan

Keterangan Produksi Harga Pendapatan

Rata – rata

(Q1) 14.246/ kg Rp 2.489,28/ kg Rp 4.393.362

Ragam (V2) 3.058.908 15.532,95 14.559.548.763.693,90 Simpangan

Sumber: Analisis Data Primer (Lampiran 19,20,21)

Tabel 5.7 menyatakan bahwa nilai KV resiko pendapatan adalah sebesar 0,87, nilai KV resiko produksi adalah sebesar 0,12, dan nilai KV resiko harga adalah sebesar 0,05. Dengan demikian, hipotesis 2 tingkat risiko usahatani tomat (produksi, harga, pendapatan) di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo tinggi ditolak.

5.3 Strategi Penanggulangan Risiko Usahatani Tomat di Desa Pangambatan Ciri dari produk pertanian adalah tidak dapat menghindari risiko dan ketidakpastian. Banyak upaya yang dapat dilakukan oleh petani atau pelaku agribisnis untuk mentransfer risiko dan mengurangi dampak terhadap kelangsungan usahataninya. Manajemen resiko dapat dilakukan dengan adanya kesadaran akan resiko yang dapat dilakukan dengan mengidentifikasi resiko yang ada, mengukur resiko, memikirkan mengenai konsekuensi resiko-resiko yang ada,

5.3 Strategi Penanggulangan Risiko Usahatani Tomat di Desa Pangambatan Ciri dari produk pertanian adalah tidak dapat menghindari risiko dan ketidakpastian. Banyak upaya yang dapat dilakukan oleh petani atau pelaku agribisnis untuk mentransfer risiko dan mengurangi dampak terhadap kelangsungan usahataninya. Manajemen resiko dapat dilakukan dengan adanya kesadaran akan resiko yang dapat dilakukan dengan mengidentifikasi resiko yang ada, mengukur resiko, memikirkan mengenai konsekuensi resiko-resiko yang ada,

Dokumen terkait