BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA
3.5 Definisi dan Batasan (Operasional)
3.5.2. Batasan Operasional
Petani atau produsen kopi adalah setiap orang yang melakukan usahatani kopi dan menjadikannya sebagai mata pencaharian utama atau sampingan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup.
1) Lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Perbuluan, Kabupaten Dairi 2) Sampel petani kopi adalah petani yang mengusahaka tanaman kopi di
Kecamatan Parbuluan.
3) Sampel peneliti adalah petani, pedagang pengumpul kecil, pedagang pengumpul besar, yang melakukan transaksi jual beli kopi di Kecamatan Parbuluan.
BAB IV
DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN
4.1 Deskripsi Wilayah Penelitian
Penelitian tentang analisis pemasaran dan nilai tambah kopi arabika ini dilakukan di Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi.
4.1.1 Geografi Wilayah
Kecamatan Parbuluan berada di Kabupaten Dairi, terbentang antara 2.150 - 3.000 LU dan 98.000 - 98.300 BT. Dengan ibukota di Parbuluan IV. Kecamatan Parbuluan memiliki batas-batas sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Sumbul
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Tobasa
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pakpak Bharat
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sidikalang
Kecamatan Parbuluan merupakan Kecamatan di Dairi yang paling besar ke 2 berdasarkan luas wilayahnya, setelah Kecamatan Tanah Pinem yang mencapai 235,40 km2 . Wilayah administrasi desa yang terbesar adalah Desa Parbuluan VI yang mencapai luas 35,75 km2 atau sebesar 15,2 persen dari luas total Kecamatan 235,40 Secara topografis, wilayah Kecamatan Parbuluan berada di daratan.
Apabila ditarik garis lurus dari ibukota kecamatan, maka Desa Parbuluan II dan Desa Parbuluan VI adalah desa yang terjauh, yaitu mencapai 16 km dan 14 km.
4.1.2 Pemerintahan
Kecamatan Parbuluan terdiri dari 11 desa yang status hukumnya sudah menjadi desa definitif , dimana setiap desa dipimpin oleh kepala desa. Dilihat dari status pemerintahannya, kecamatan Parbuluan terdiri dari 44 Dusun.
Tingkat partisipasi perempuan dalam menjalankan pemerintahan di Kantor Kecamatan Parbuluan sangat minim Sebanyak 4 orang adalah perempuan dari total 20 Pegawai di Kantor Kecamatan Parbuluan atau sebesar 20 persen.
Demikian juga di beberapa desa jumlah perangkat desa perempuan lebih sedikit dari pada laki-laki.
Tabel 4.1 Banyak Dusun Berdasarkan Desa di Kecamatan Parbuluan
No Desa Banyaknya dusun
Sumber : Kecamatan Parbuluan Dalam Angka 2017
4.1.3 Keadaan Penduduk
Jumlah Penduduk Kecamatan Parbuluan pada tahun 2016 adalah 21.825 jiwa, yang terdiri dari 10.901 jiwa laki-laki dan 10.824 jiwa perempuan. Dari komposisi jumlah laki-laki dan perempuan tersebut.
Dengan luas wilayah 235.40 km2 dan jumlah penduduk 21.825 jiwa, ternyata menghasilkan kepadatan penduduk sebesar 92,71, yang artinya dalam setiap 1 km² dihuni oleh sekitar 93 orang.
Kecamatan Parbuluan mempunyai 4.860 jumlah keluarga dengan rata-rata jumlah warga dalam keluarga adalah 4 orang. Jumlah tersebut hampir merata di semua desa.
Tabel 4.1 Luas Wilayah, Banyaknya Penduduk, dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa di Kecamatan Parbuluan
Sumber : Kecamatan Parbuluan Dalam Angka 2017
4.1.4 Luas lahan Perkebunan
Di Kecamatan Parbuluan tanaman perkebunan yang diusahakan oleh rakyat adalah tanaman kopi saja, hal ini terlihat dari besarnya luas lahan yang banyak digunakan sebagai lahan perkebunan kopi. Luas lahan kopi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2 Luas Tanaman Perkebunan Rakyat Menurut Jenis Tanaman dan Desa (Ha) 2016
Desa Jenis Tanaman Jumlah
Total
Sumber : Kecamatan Parbuluan Dalam Angka 2017 4.1.5 Sarana dan Prasarana di Kecamatan Paranginan 1. Sarana Pendidikan
Sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan didalam proses pendidikan sekolah. (wahyuningrum 2004). Di kecamatan Parbuluan terdapat 19 unit sekolah dasar, 6 unit sekolah menengah pertama, dan 2 unit sekolah mengah atas.
Tabel 4.2 Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Parbuluan
No Sarana pendidikan Jumlah (unit)
1 Sekolah dasar 19
2 Sekolah menengah pertama 6
3 Sekolah menengah atas 2
Jumlah 16
Sumber: Kecamatan Parbuluan Dalam Angka 2017 2. Rumah Ibadah
Dalam perspektif agama, masyarakat di kecamatan parbuluan termasuk masyarakat cenderung homogen. Hal ini dikarenakan mayoritas masyarakat memeluk agama Muslim dan Kristen. Secara kultural, agama ini didapat berdasarkan turunan dari ke dua rang tua ke anak dan ke cucu di kecamatan
parbuluan. Berdasarkan data yang diperoleh dari kecamatan parbuluan dalam angka 2017 diketahui bahwa di Kecamatan parbuluan terdapat 4 unit masjid dan 58 unit gereja yang tersebar disetiap desa.
Tabel 4.3 Jumlah Tempat Ibadah Di Kecamatan Parbuluan Tahun 2016
No. Agama Jumlah (unit)
Sumber: Kecamatan Parbuluan Dalam Angka 2017 3. Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan merupakan suatu fasilitas/tempat yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan tingkat kesehatan di suatu wilayah. Sarana kesehatan sangat penting di suatu daerah khususnya di kecamatan paranginan. Karena kesehatan merupakan hal yang paling utama dalam melakukan suatu kegiatan tertentu. Untuk meningkatkan tingkat kesehatan di kecamatan parbuluan pemerintah menyediakan 14 unit kesahatan yang terdiri dari 1 unit puskesmas, 5 unit puskesmas pembantu, 8 unit poskesdes, 40 unit posyandu, 10 unit polindes dan 2 unit BPU.
Tabel 4.4 Sarana Kesehatan Di Kecamatan Parbuluan No Sarana kesehatan Jumlah (unit)
1 Puskesmas 1
Sumber : Kecamatan Parbuluan Dalam Angka 2017
4 Jalan
Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang menghubungkan suatu tempat ke tempat lain. Keberadaan jalan di suatu wilayah akan mempermudah dalam pengembangan suatu wilayah khususnya dalam pengembangan pertanian. Di kecamatan parbuluan terdapat jalan aspal sebanyak 144, jalan 262, jalan tanah sepangjang 185 dan jalan setapak 173. total panjang jalan di kecamatan parbuluan yaitu 764.
Tabel 4.5 Panjang Jalan Menurut Jenisnya di Kecamatan Parbuluan Tahun 2016
Kecamatan Aspal Diperkeras Jalan tanah
Jalan
setapak Jumlah Paranginan
144 262 185 173 764
Sumber: Kecamtan Parbuluan Dalam Angka 2017 4.2 Karakteristik Sampel Penelitian
Penelitian ini dilakukan terhadap 96 petani, 11 pedagang kecil, dan 3 pedagang besar. Karakter sampel yang dimaksud terdiri dari umur, tingkat pendidikan, lama berusaha dan luas lahan. Secara keseluruhan karakteristik sampel dapat dilihat pada tabel 4.5:
penggunaan lahan di daerah penelitian tergolong tinggi. Rentan pengalaman petani sampel di daerah penelitian berkisar antara 4-47 tahun, hal ini menunjukkan bahwa pengalaman berusaha petani sampel sudah cukup lama sehingga memiliki wawasan yang lebih baik dalam mengelola usahanya. Rentan pengalaman pedagang pengumpul kecil dalam berusaha berkisar 6-40 tahun dan rentan pengalaman pedagang pengumpul besar dalam berusaha berkisar 7-10 tahun.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Saluran Pemasaran Kopi
Saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung dan terlibat dalam proses menjadikan suatu produk atau jasa siap digunakan atau dikonsumsi (Khotler, 1996).
Menurut Khotler 1996, Jenis saluran distribusi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Saluran distribusi langsung, Saluran ini merupakan saluran distribusi yang paling sederhana dan paling rendah yakni saluran distribusi dari produsen ke konsumen tanpa menggunakan perantara. Saluran ini diberi istilah saluran nol tingkat (zero stage chanel).
b) Saluran distribusi yang menggunakan satu perantara yakni melibatkan produsen dan pengecer. Saluran ini biasa disebut dengan saluran satu tingkat (one stage chanel).
c) Saluran distribusi yang menggunakan dua kelompok pedagang bessar dan pengecer, Saluran ini disebut saluran distribusi dua tingkat (two stage chanel).
d) Saluran distribusi yang menggunakan tiga pedagang perantara. Dalam hal ini produsen memilih agen sebagai perantara untuk menyalurkan barangnya kepada pedagang besar yang kemudian menjualnya kepada toko-toko kecil.
Saluran distribusi ini disebut dengan istilah saluran distribusi tiga tingkatan (three stage chanel).
Pemasaran kopi merupakan subsistem post produksi kopi. Subsistem post produksi merupakan subsistem yang menangani bagaimana kopi dipasarkan hingga sampai ke konsumen yaitu meliputi tataniaga kopi yang merupakan proses
distribusi kopi dari petani hingga ke knsumen. Subsistem post produksi kopi meliputi saluran pemasaran dan tingkat efisiensi saluran pemasaran kopi.
Pemasaran merupakan kegiatan yang menyangkut bagaimana kopi dipasarkan hingga sampai ke konsumen. Untuk sampai ke konsumen kopi harus melewati beberapa lembaga pemasaran melalui saluran tertentu. Lembaga pemasaran tersebut disebut juga pedagang perantara kopi dan terbentuk saluran pemasaran kopi.
Saluran pemasaran kopi di Kecamatan Parbuluan diketahui melalui cara penelusuran langsung ke lokasi penelitian yaitu mulai dari produsen hingga sampai ke Pedagang Pengumpul Besar. Dalam pemasaran kopi, terdapat beberapa lembaga pemasaran yang terlibat dalam saluran pemasaran kopi yaitu petani, pedagang pengumpul kecil, pedagang pengumpul besar dan eksportir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua saluran pemasaran kopi di Kecamatan parbuluan. Adapun saluran pemasaran kopi tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.1
Gambar 5.1 Skema saluran pemasaran kopi arabika di Kecamatan Parbuluan Berdasarkan Gambar 5.1 tersebut dapat diketahui bahwa terdapat dua saluran pemasaran kopi di Kecamatan Parbuluan yaitu:
1. Saluran I (Petani – Pedagang Pengumpul Besar – Eksportir)
2. Saluran II (Petani – Pedagang Pengumpul Kecil – Pedagang Pengumpul Besar – Eksportir)
1. Saluran I
Gambar 5.2. Skema Saluran I Pemasaran Kopi
Pada saluran I, petani menjual kopi dalam betuk Hs (Hard skin) kepada pedagang Petani Kopi
Pedagang Pengumpul Kecil
Pedagang Pengumpul Besar
Eksportir II
II
II
I
I
Petani Pedagang Pengumpul
Besar
Eksportir 64,58%
35,42%
pengumpul besar. rata-rata Harga jual kopi Hs ke pedagang pengumpul besar sebesar Rp 27.000 per kilogram. Para petani mengantarkan langsung kepada pedagang pengumpul besar yang berada di Kecamatan parbuluan yang sudah menjadi tempat tujuan tetap penjualan kopi mereka. Hal ini terjadi karena anatara petani dan pengumpul besar sudah terjalin transaksi jual beli kopi yang cukup lama. Sehingga harga jual kopi Hs yang lebih tinggi ini bertujuan agar para petani menjual kopinya kepada pedagang pengumpul yang sudah terikat kontrak, bukan kepada pedagang pengumpul yang lain. Transaksi ini dilakukan secara langsung dan dibayar dengan uang cash.
Kemudian pedagang pengumpul ini akan menjual kopi Ose (Green Coffee) ke eksportir yang ada di medan dengan cara pedagang pengumpul mengantarkan langsung kopi Ose tersebut. Harga jual pedagang pengumpul kepada eksportir dengan harga Rp70000 per kilogram. Transaksi ini dilakukan secara langsung dan dibayar dengan uang cash.
2. Saluran II
Gambar 5.3. Skema Saluran II Pemasaran Kopi
Pada saluran II, petani menjual kopi dalam bentuk Hs (Hard skin) kepada
Petani Pedagang
Pengumpul Besar Besar
Eksportir Pedagang
Pengumpul Kecil
pedagang pengumpul kecil, dengan cara pengumpul kecil mendatang langsung para petani yang ingin menjual kopinya. Biasanya para petani akan menghubungi pengumpul kecil melalui Hp agar pengumpul kecil mengambilnya ke tempat petani. Rata-rata harga Rp 26.000 per kilogram yang dibayar dengan uang cash oleh pedagang pengumpul kecil kepada petani.
Kemudian pedagang pengumpul kecil menjual biji kopi yang di kumpulkan dari para petani ke pedagang pengumpul besar yang terdapat di daerah penelitian, dengan cara pedagang pengumpul kecil mengantar langsung kopi kepada pedagang pengumpul besar dan dibayar cash oleh pedagang pengumpul besar.
Rata-rata harga yang dterima oleh pedagang pengumpul kecil yaitu Rp 27.000.
Oleh pengumpul besar menjual biji kopi dalam bentuk kopi Ose (Green Coffee) ke eksportir yang berada di medan dengan mengantarkan langsung ke eksportir dan transaksi terjadi secara langsung dan dibayar dengan uang cash oleh eksportir kepada pedagang pengumpul dengan harga Rp 70.000/Kg.
5.1.1 Fungsi – Fungsi Pemasaran
Fungsi-fungsi tataniaga adalah seluruh proses penyampaian barang-barang dan jasa-jasa dari sektor produsen ke sektor konsumen dimana setiap fungsi diperankan oleh masing-masing lembaga tataniaga. Setiap fungsi yang ada dianalisa untuk mengetahui pentingnya serta peranan fungsi tersebut di dalam proses penyampaian barang dan jasa dari sektor produksi sampai ke tangan konsumen akhir (Sihombing, 2010).
Lembaga pemasaran melakukan fungsi-fungsi pemasaran dalam proses penyampaian kopi arabika dari produsen sampai ke eksportir. Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh lembaga pemasaran adalah pembelian, penjualan, pengolahan, sortasi, pengepakan, transportasi, bongkar muat, penyimpanan dan penanggungan resiko. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.1.
Berdasarkan tabel 5.1 Fungsi-fungsi Pemasaran yang dilakukan oleh setiap lembaga dapat diuraikan secara berikut
Saluran 1 a. Petani
Dalam melakukan kegiatan pemasaran, petani kopi arabika melakukan fungsi penjualan dengan menjual kopi arabika dalam bentuk kopi Hs. Petani kopi pada saluran 1 menjual kopi kepada pedagang pengumpul besar yang ada di Kecamatan Parbuluan. Petani juga melakukan fungsi pengepakan dan pengangkutan yaitu pengangkutan dari lokasi produsen ke pedagang pengumpul besar. Transportasi yang mereka gunakan pada umumnya adalah sepeda motor dan mobil.
b. Pedagang Pengumpul Besar
Pada pengumpul besar I, kopi Hs yang telah dibeli dari petani dilakukan pengolahan yaitu pengolahan kopi Hs menjadi kopi Ose. Setelah pengolahan kopi Ose pedagang pengumpul melakukan sortasi terhadap biji kopi, dimana tujuan sortasi yaitu memisahkan biji kopi yang rusak (terpecah) dengan biji kopi yang baik pada saat pengolahan. Setelah sortasi dilakukan pengepakan, dalam kegiatan pengepakan kopi dikemas pada karung goni ukuran 60kg dengan harga satu goni Rp5.000. Setelah pengepakan kopi tersebut akan disimpan di gudang sebelum
diantarkan menggunakan transport berupa truk ke eksportir yang ada di medan.
Dalam pengangkutan kopi ke eksportir dilakukan pembongkaran pada saat tiba di eksportir. Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pedagang pengumpul besar yaitu fungsi pembelian. Dalam fungsi pembelian pedagang pengumpul besar membeli dari petani, pengolahan, sortasi, pengepakan, transportasi dan penyimpanan.
c. Eksportir
Setelah tiba di tangan eksportir, kopi tersebut akan disortir kembali.
Saluran II a. Petani
Pada saluran II petani kopi melakukan pengepakan terhadap kopi Hs yang sudah diolah oleh petani kopi sebelum menjualnya kepada pengumpul kecil, pengepakan yang dilakukan biasanya menggunakan karung goni berukuran 50 kg. Kopi hasil pengepakan akan dijual kepada pengumpul kecil yang datang langsung menjemput kopi kepada petani.
b. Pedagang Pengumpul Kecil
Pedagang pengumpul kecil membeli kopi Hs dari petani yang diambil langsung oleh pengumpul kecil menggunakan transport yaitu berupa mobil pick up Pedagang pengumpul kecil akan menjemput kopi tersebut ke masing masing petani yang sudah menghubungi sebelumnya, pada kegiatan ini pedagang pengumpul kecil melakukan fungsi penyimpanan sebelum semua kopi terkumpul.
Oleh pedagang pengumpul kecil, kopi Hs akan dijual ke pedagang pengumpul besar. Oleh sebab itu, fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pedagang
pengumpul kecil adalah fungsi penjualan, pembelian, transportasi, bongkar muat, dan penyimpanan.
c. Pedagang Pengumpul Besar
Pada pengumpul besar, kopi Hs yang telah dibeli dari pedagang pengumpul kecil dilakukan pengolahan yaitu pengolahan kopi Hs menjadi kopi Ose. Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pedagang pengumpul besar yaitu fungsi pembelian dengan membeli kopi dari pedagang pengumpul kecil, penjualan dengan menjualnya kepada eksportir, pengolahan yaitu mengolah kopi Hs menjadi kopi Ose, sortasi yaitu memisahkan biji kopi yang rusak (pecah) dengan kopi yang bagus, pengepakan yaitu dengan mengemas kopi Ose yang sudah siap diantarkan ke eksportir, transportasi yaitu kegiatan pengangkutan kopi menggunakan mobil truk ke eksportir yang ada di medan, penyimpanan dilakukan setelah kopi Ose siap diolah sampai tiba waktunya akan dijual.
d. Eksportir
Setelah tiba di tangan eksportir, kopi tersebut akan disortir kembali.
Tabel 5.1. Fungsi – Fungsi pemasaran yang Dilakukan Oleh Lembaga Pemasaran Pada Setiap Saluran Pemasaran Kopi Arabika di Kecamatan Parbuluan
Lembaga Pemasaran
Fungsi pemasaran
Penjualan Pembelian Pengolahan Sortasi Pengepakan Transportasi Bongkar muat Penyimpanan Saluran I
Petani √ X X X X √ X X
P.Pengumpul Besar
√ √ √ √ √ √ √ √
Eksportir - √ - - - -
Saluran II
Petani √ X X X √ X X X
P.Pengumpul Kecil
√ √ X X X √ √ √
P.Pengumpul Besar
√ √ √ √ √ √ √ √
Eksportir - √ - - - -
Sumber: Data Primer (diolah)
Keterangan : √ = Melakukan fungsi X = Tidak melakukan fungsi
(-) = Tidak dilakukan peneli
5.1.2 Price Spread dan Share Margin Saluran pemasaran I
Tabel 5.2 Price Spread dan Share Margin Lembaga Pemasaran Pada Saluran I (Petani – Pedagang Pengumpul Besar – Eksportir)
No Lembaga Dan Komponen dikeluarkan oleh seluruh lembaga pemasaran yaitu Rp15.260,-/kg. Dengan harga 1kg kopi yang diterima petani Rp27.000-/kg dimana petani menjual kopi dalam bentuk Hs (Hard skin) sedangkan untuk 1 kg kopi konsumen akhir (Eksportir) membayar Rp70.000,-/kg.
Persentase share margin diperoleh dari perbandingan antara sebaran harga dengan harga di tingkat eksportir dikali dengan 100%. pada saluran I, di tingkat petani, price spread untuk keuntungan petani sebesar Rp26.850/kg dengan share margin sebesar 38,35% dan price spread untuk pemasaran sebesar Rp150/kg dengan share margin sebesar 0,21%.
Pada tingkat pedagang pengumpul besar, price spread untuk biaya pemasaran adalah sebesar Rp15.110/kg dengan share margin nya sebesar 21,58% dan price spread untuk keuntungan sebesar Rp27.890/kg dengan share margin sebesar 39,84%. Nisbah marjin keuntungan yang diperoleh pengumpul besar sebesar 1,84/kg artinya keuntungan yang diperoleh pengumpul besar 1,84 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan biaya pemasarannya.
Marjin pemasaran diperoleh dari selisih antara harga di tingkat petani dengan harga di tingkat eksportir, sehingga marjin pemasaran pada saluran ini sebesar Rp43.000,-/kg.
Saluran pemasaran II
Tabel 5.3 Price Spread dan Share Margin Lembaga Pemasaran Pada Saluran II (Petani – Pedagang Pengumpul Kecil – Pedagang Pengumpul Besar – Eksportir)
Berdasarkan tabel 5.3 dapat dilihat bahwa Total biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh seluruh lembaga pemasaran yaitu Rp16.160,-/kg. Dengan harga 1kg kopi yang diterima petani Rp26.000-/kg dimana petani menjual kopi dalam bentuk Hs (Hard skin) sedangkan untuk 1 kg kopi konsumen akhir (Eksportir) membayar Rp70.000,-/kg.
Persentase share margin diperoleh dari perbandingan antara sebaran harga dengan harga di tingkat eksportir dikali dengan 100%. pada saluran II, di tingkat petani, price spread untuk keuntungan petani sebesar Rp25.950/kg dengan share margin sebesar 37,07% dan price spread untuk pemasaran sebesar Rp50/kg dengan share margin sebesar 0,07%.
Pada tingkat pedagang pengumpul kecil, price spread untuk biaya pemasaran adalah sebesar Rp300/kg dengan share margin nya sebesar 0,42% dan price spread untuk keuntungan sebesar Rp700/kg dengan share margin sebesar 1,21%. Nisbah marjin keuntungan yang diperoleh pengumpul besar sebesar 2,33/kg artinya keuntungan yang diperoleh pengumpul kecil 2,33 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan biaya pemasarannya.
Pada tingkat pedagang pengumpul besar, price spread untuk biaya pemasaran adalah sebesar Rp15.810/kg dengan share margin nya sebesar 22,58% dan price spread untuk keuntungan sebesar Rp27.190/kg dengan share margin sebesar 38,84%. Nisbah marjin keuntungan yang diperoleh pengumpul besar sebesar 1,72/kg artinya keuntungan yang diperoleh pengumpul besar 1,72 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan biaya pemasarannya.
Marjin pemasaran diperoleh dari selisih antara harga di tingkat petani dengan
harga di tingkat eksportir, sehingga marjin pemasaran pada saluran ini sebesar Rp44.000,-/kg.
5.2 Analisis Efisiensi Pemasaran Kopi
Efisiensi pemasaran penting untuk diketahui dengan tujuan untuk mengidentifikasi efisien atau tidaknya suatu saluran pemasaran. Efisiensi pemasaran dapat diketahui dengan menggunakan empat metode. Empat metode bertujuan untuk dapat mengidentifikasi efisiensi pemasatan secara menyeluruh dapat dilihat pada setiap metode komponen berbeda.
5.2.1 Metode Shepherd
Pada metode ini efisiensi pemasaran diketahui dari perbandingan antara harga konsumen dengan biaya pemasaran dan dikurangi satu. Saluran pemasaran dengannilai efisiensi tertinggi merupakan saluran pemasaran yang paling efisien dan sebaliknya.
Tabel 5.4 Efisiensi Saluran Pemasaran dengan Metode Shepherd
No Uraian Saluran I Saluran II
1. Harga Konsumen (Rp) 70.000 70.000
2. Biaya Pemasaran (Rp) 15.260 16.160
Efisiensi 3,58 3,33
Sumber: data primer (diolah)
Berdasarkan Tabel 5.4 dapat diketahui bahwa nilai efisiensi tertinggi diperoleh pada saluran I yaitu 3,58 ini berarti bahwa saluran I merupakan saluran yang paling efisien. Nilai efisiensi saluran II sebesar 3,33. Hal ini disebabkan karena biaya pemasaran pada saluran I lebih kecil daripada biaya pemasaran saluran II.
Biaya pemasaran saluran I yaitu Rp15.260,-/kg sedangkan biaya pemasaran saluran II sebesar Rp16.160,-/kg. Sementara harga kopi di konsumen pada saluran
5.2.2 Metode Acharya dan Aggarwal
Pada metode Acharya dan Aggarwal nilai efisiensi diperoleh dari perbandingan antara harga yang diterima produsen terhadap biaya pemasaran ditambah dengan marjin pemasaran setiap lembaga pemasaran. Saluran dengan nilai efisiensi tertinggi merupakan saluran pemasaran yang paling efisien.
Tabel 5.5 Efisiensi Saluran Pemasaran dengan Metode Acharya dan Aggarwal
No Uraian Saluran I Saluran II
1. Harga Produsen (Rp) 27.000 26.000
2. Biaya Pemasaran (Rp) 15.260 16.160
3. Marjin Pemasaran (Rp) 43.000 44.000
Efisiensi 0,46 0,43
Sumber: data primer (diolah)
Berdasarkan Tabel 5.5 dapat diketahui bahwa dalam metode ini nilai efisiensi saluran I lebih tinggi daripada nilai efisiensi pada saluran II. Artinya bahwa saluran I merupakan saluran yang paling efisiesn dibandingan dengan saluran II.
Hal ini disebabkan karena pada saluran I, petani yang menjual langsung kepada pedagang pengumpul besar, sehingga harga yang diterima petani pada saluran ini lebih besar dibandingkan dengan harga kopi yang diterima produsen pada saluran II. Sehingga marjin pemasaran pada saluran I lebih kecil daripada saluran II.
Marjin pemasaran saluran I yaitu Rp43.000,-/kg dan saluran II yaitu Rp44.000,-/kg.
5.2.3 Metode Composite Index
Pada metode Composite Index dapat dilihat dari tiga indikator, yaitu share produsen, biaya pemasaran dan marjin pemasaran lembaga pemasaran.
Tabel 5.6 Indikator dalam Composite Index Method
No Uraian Saluran I Saluran II
1. Share Produsen 29,07 27,70
2. Biaya Pemasaran (Rp) 15.260 16.160
3. Marjin Keuntungan (Rp) 48.340 47.340
Sumber: data primer (diolah)
Setelah dikelompokan berdasarkan indikator, maka setiap saluran akan diberi skor 1-2 kemudian skor tersebut ditotalkan dan dibagi dengan jumlah indikator yang digunakan. Nilai share produsen dan marjin keuntungan akan diberi skor 1-2 mulai dari yang paling tinggi sampai yang terendah. Sedangkan untuk indikator biaya pemasaran diberi skor 1-2 dari nilai terendah sampai tertinggi. Saluran dengan nilai index yang paling rendah merupakan saluran yang paling efisien.
Tabel 5.7 Efisiensi Saluran Pemasaran dengan Composite Index Methode
No Saluran Composite
Index Rj/Nj
Final Ranking I1 I2 I3
1. Saluran I 1 1 1 1 1
2. Saluran II 2 2 2 2 2
Sumber: data primer (diolah)
Berdasarkan Composite Index Methode dapat dilihat bahwa nilai index yang paling rendah adalah saluran I. Hal ini berarti bahwa saluran I merupakan saluran yang lebih efisien dibandingkan dengan saluran II. Pada saluran I terlihat bahwa
Berdasarkan Composite Index Methode dapat dilihat bahwa nilai index yang paling rendah adalah saluran I. Hal ini berarti bahwa saluran I merupakan saluran yang lebih efisien dibandingkan dengan saluran II. Pada saluran I terlihat bahwa