• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Definisi dan Batasan Operasional

3.5.2 Batasan Operasional

1. Penelitian dilakukan di Pasar Diponegoro, Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan.

2. Sampel dalam penelitian ini adalah pedagang pengecer ikan laut

3. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Februari - Maret tahun 2019.

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian 4.1.1 Geografis

Penelitian dilakukan di Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan memiliki luas wilayah 32,81 km2 dengan jumlah penduduk 62.917 jiwa.

Kecamatan Kisaran Barat berada sekitar ± 14 – 25 meter di atas permukaan laut.

Kecamatan Kisaran Barat terdiri dari 13 desa/kelurahan. Salah satunya adalah Kelurahan Tegal Sari dengan luas 0,41 km2 dan jumlah penduduk sebanyak 8654 jiwa/km2. Secara administratif Kelurahan Tegal Sari memiliki batas-batas sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kelurahan Sidodadi Sebelah Timur : Kelurahan Bunut Sebelah Barat : Kelurahan Sei Renggas Sebelah Selatan : Kelurahan Mekar Baru

Jarak dari Kecamatan 3,5 km dan jarak ke Ibukota Pemerintahan adalah 1,5 km.

4.1.2 Keadaan Penduduk

a. Penduduk menurut Kelompok Umur

Penduduk di Kelurahan Tegal Sari pada tahun 2018 tercatat berjumlah 3.548 jiwa yang terdiri dari 1720 jiwa laki-laki dan jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 1828 jiwa, untuk lebih jelasnya berikut ini akan ditampilkan tabel distribusi penduduk di daerah penelitian.

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur di Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan

No Kelompok Umur (Tahun) Jumlah ( Jiwa) Persentase (%)

1 0 – 14 928 26,15

2 15 – 59 2.273 64,06

3 60 + 347 9,78

Total 3.548 100

Sumber: BPS Kecamatan Kisaran Barat, 2018

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa penduduk Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kisaran Barat pada tahun 2018 terdiri dari 1720 jiwa pada laki-laki dan 1828 jiwa perempuan. Dari data tersebut bisa dilihat bahwa jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada penduduk laki-laki. Dapat dilihat juga usia non produktif (0 – 14 tahun) yang terdiri dari bayi, balita, anak-anak dan remaja adalah sebanyak 928 jiwa dengan persentase 26,15 %, jumlah usia produktif yaitu (15 – 59 tahun ) adalah sebanyak 2.273 jiwa dengan persentase 64,06 %, sedangkan usia manula ( 60 + tahun ) sebanyak 347 jiwa dengan persentase 9,78 %.

b. Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Penduduk Kelurahan Tegal Sari menurut tingkat pendidikan terdiri dari TK, SD, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi. Untuk melihat lebih jelas mengenai tingkat pendidikan penduduk Kelurahan Tegal Sari dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 4.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)

1 TK 50 2,18

Sumber: BPS Kecamatan Kisaran Barat, 2018

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan tingkat pendidikan yang paling besar jumlahnya adalah pada SLTA sebanyak 1.322 jiwa dengan persentase 57,60 %.

Kemudian diikuti oleh SLTP sebanyak 515 jiwa dengan persentase 22,44 %, sedangkan tingkat pendidikan yang paling sedikit yaitu TK dengan jumlah 50 jiwa dan persentase 2,18 %.

4.1.3 Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan pelaksanaan pembangunan. Sarana merupakan segala sesuatu yang dipakai sebagai alat untuk mencapai maksud dan tujuan, sedangkan prasarana merupakan barang atau benda yang tidak bergerak yang dapat menunjang pelaksanaan pembangunan.

Sarana dan Prasarana di daerah penelitian dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 4.3 Sarana dan Prasarana

No Sarana dan Prasarana Jumlah (Unit)

1 Sekolah

3 Tempat Peribadatan

a. Mesjid 2

4 Layanan Masyarakat

a. Kantor Lurah 1

5 Pasar

a. Pasar Tradisonal 1

b. Pasar Modern 1

Lanjutan Tabel 4.3 Sarana dan Prasarana

Sumber: BPS Kecamatan Kisaran Barat, 2018

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sarana dan prasarana yang terdapat di Kelurahan Tegal Sari adalah meliputi sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan, tempat peribadatan, layanan masyarakat, dan pasar. Hal ini menunjukkan bahwa sarana dan prasarana yang terdapat di daerah penelitian cukup memadai yang dapat meunjang perkembangan penduduk dan meningkatkan kesejahteraan dan perkembangan tempat penelitian.

4.2 Karakteristik Lokasi Penelitian 4.2.1 Karakteristik Pasar Diponegoro

Pasar ini buka pada cukup bervariasi untuk pedagang yang menjual ikan laut mulai pukul 05.00 – 17.00 WIB, pedagang yang menjual sayur-sayuran buka mulai pukul 05.00 – 15.00 WIB, sedangkan pedagang yang menjual pakaian buka mulai pukul 08.00 – 18.00 WIB. Barang-barang dagangan yang dijual di pasar ini tidak begitu teratur namun juga tidak terlalu susah ketika konsumen mencari kebutuhan yang ingin dibeli. Aroma pasar pada umumnya tidak sedap karena adanya barang dagangan yang busuk dan sampah disekitar pedagang, sirkulasi udara yang buruk karena pasar ini terdapat pada pinggir jalan pasar dan badan jalan di pasar ini sangat kotor dan sedikit air yang meluap, namun Pasar Diponegoro ini tidak terlalu panas karena tertutup oleh tenda-tenda pedagang. Suasana pasar ini dan sekitarnya umumnya cukup tenang.

4.3 Karakteristik Pedagang

4.3.1 Karakteristik Pedagang Pasar Diponegoro a. Umur

Adapun keadaan umur pedagang (sampel) di Pasar Diponegoro dapat dilihat berdasarkan tabel berikut ini :

Tabel 4.4 Distribusi Pedagang Pengecer Ikan Laut di Lokasi Penelitian Berdasarkan Kelompok Umur

No Kelompok Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1 23 – 30 5 16,67

2 31 – 38 6 20

3 39 – 46 13 43,33

4 47 – 54 5 16,67

5 > 55 1 3,33

Total 30 100

Sumber: Data Primer Diolah Dari Lampiran I

Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat jumlah pedagang pengecer terbesar berada pada kelompok umur 39 – 46 tahun dengan jumlah 13 jiwa dengan persentase 43,33 %, sedangkan jumlah pedagang pengecer ikan laut sampel yang terkecil berada pada kelompok umu > 55 tahun dengan jumlah 1 jiwa dan persentase 3,33 %.

b. Tingkat Pendidikan

Pendidikan pedagang pengecer ikan laut sampel di daerah penelitian Pasar Diponegoro, Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan bervariasi dari Sekolah Dasar (SD) sampai tingkat SMA/sederajat. Adapun tingkat pendidikan pedagang pengecer ikan laut adalah dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.5 Distribusi Pedagang Pengecer Ikan Laut di Daerah Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1 SD 2 6,67

2 SMP 8 26,67

3 SMA/SMK 20 66,67

Total 30 100

Sumber: Data Primer Diolah Pada Lampiran I

Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa jumlah pedagang pengecer ikan laut sampel terbesar berada pada tingkat SMA/SMK yaitu dengan jumlah 20 jiwa dengan persentase 66,67 % dan yang terkecil ada pada tingkat SD dengan jumlah 2 jiwa dengan persentase 6,67 %.

c. Jumlah Tanggungan

Adapun jumlah tanggungan pedagang pengecer ikan laut sampel di Pasar Diponegoro dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.6 Distribusi Pedagang Pengecer Ikan Laut di Daerah Penelitian Berdasarkan Jumlah Tanggungan

No Jumlah Tanggungan (Jiwa) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1 0 – 3 19 63,33

2 4 – 7 10 33,33

3 ≥ 8 1 3,34

Total 30 100

Sumber: Data Primer Diolah Pada Lampiran I

Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat bahwa jumlah tanggungan pedagang pengecer ikan laut sampel terbesar berada pada kelompok 0 – 3 jiwa yaitu dengan jumlah 19 jiwa dengan persentase 63,33 % dan yang terkecil ada pada kelompok ≥ 8 dengan jumlah 1 jiwa dengan persentase 3,34 %.

d. Pengalaman Berusaha

Adapun pengalaman berusaha pedagang penegecer ikan laut sampel dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.7 Distribusi Pedagang Pengecer Ikan Laut di Daerah Penelitian Berdasarkan Pengalaman Berusaha

No Pengalaman Berusaha (Tahun)

Jumlah (Jiwa)

Persentase (%)

1 1 – 5 5 16,67

2 6 – 10 15 50

3 11 – 15 8 16,67

4 ≥ 16 2 6,67

Total 30 100

Sumber: Data Primer Diolah Pada Lampiran I

Berdasarkan tabel 4.7 dapat dilihat bahwa pengalaman berusaha pedagang pengecer ikan laut sampel terbesar berada pada kelompok 6 – 10 tahun yaitu dengan jumlah 15 jiwa dengan persentase 50 % dan yang terkecil ada pada kelompok ≥ 16 dengan jumlah 2 jiwa dengan persentase 6,67 %.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Jenis Ikan Yang Dijual Di Daerah Penelitian

Penelitian dilaksanakan terhadap pedaganag pengecer ikan laut yang berada di Pasar Diponegoro, Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan. Adapun yang diteliti adalah besarnya pendapatan pedagang dan menganalisis usaha sudah layak atau belum layak untuk diusahakan. Adapun jenis-jenis ikan yang dijual pedagang adalah sebagai berikut :

Tabel 5.1 Gambaran Jenis Ikan yang Dijual Di Pasar Diponegoro

No Nama Ikan Keterangan

1. Ikan Kakap Ikan kakap hidupnya diperairan

pantai, dengan panjang 15-20 cm. Ikan kakap ada warna putih dan merah. Ikan kakap juga banyak dikonsumsi oleh masyarakat Kisaran Barat, dan banyak dibeli oleh berbagai restoran di Kota Kisaran. Harga jual ikan kakap adalah Rp 55.000/Kg.

2. Ikan Kembung

Ikan kembung hidupnya diperairan pantai, dengan panjang 10-25 cm. Ikan kembung sangat banyak dikonsumsi oleh masyarakat tidak hanya di Kisaran Barat, namun daerah-daerah lain juga banyak mengkonsumsi ikan kembung dan banyak dibeli oleh berbagai restoran besar maupun restoran kecil di Kota Kisaran. Harga jual ikan kembung adalah Rp 35.000/Kg.

3. Ikan Pari Ikan Pari adalah ikan yang

termasuk bertulang rawan. Ikan pari memiliki bentuk tubuh yang gepeng melebar dan menyatu dengan sisi kiri-kanan kepalanya, sehingga dilihat dari atas terlihat bundar dan oval.

Ikan pari dijual dengan harga Rp 35.000/Kg.

Lanjutan Tabel 5.1 Gambaran Jenis Ikan yang Dijual Di Pasar Diponegoro

4 Ikan Belanak Ikan Belanak hidupnya diperairan pantai, dangkal dan muara-muara sungai. Ikan belanak memiliki panjang umumnya 15-20 cm. Ikan belanak banyak diminati oleh masyarakat karena harganya murah yaitu Rp 10.000/Kg.

5 Ikan Sarden Ikan sarden adalah ikan yang

cenderung hidup dengan permukaan laut. Ikan sarden banyak dikonsumsi masyarakat karna ikan ini memiliki bentuk kecil tetapi memiliki daging yang banyak. Ikan sarden juga banyak dibeli oleh konsumen yang memiliki rumah makan.

Harga ikan sarden adalah Rp 15.000/Kg.

Lanjutan Tabel 5.1 Gambaran Jenis Ikan yang Dijual Di Pasar Diponegoro

6 Ikan Sembilang Ikan sembilang adalah ikan yang bentuknya menyurupai ikan lele. Panjang ikan ini berkisar 25-35 cm. Ikan ini hidup diperairan laut. Ikan sembilang tidak begitu banyak diminati oleh konsumen, tetapi pedagang pengecer tetap menyediakan stok meskipun dengan jumlah yang sedikit.

Harga ikan sembilang yaitu Rp 40.000/Kg.

7 Ikan Lidah Ikan lidah adalah ikan yang

memiliki bentuk pipih mendatah, mata hanya berada pada satu sisi dan kepala bersisik. Ikan ini banyak diminati oleh konsumen, sehingga hamper rata-rata pedagang menjual ikan tersebut. Harga jual ikan lidah yaitu Rp 35.000/Kg.

Lanjutan Tabel 5.1 Gambaran Jenis Ikan yang Dijual Di Pasar Diponegoro

8 Ikan Senangin Ikan senangin adalah ikan yang memiliki bentuk sedang dan hamprr sama dengan ikan belanak. Namun memiliki harga yang berbeda jauh, sedangkan harga jual ikan senangin adalah Rp 25.000/Kg.

9 Ikan Gulamah Ikan gulamah adalah ikan yang

hidup diperairan laut, dan memiliki panjang 25-35 cm.

Ikan gulama sangat enak apabila dipasarkan dalam keadaan segar, berbeda dengan ikan yang lain nya. Konsumen ikan gulama tidak begitu banyak, tetapi para pedagang tetap menyedikan stok ikan tersebut. Harga jual ikan gulamah yaitu Rp 25.000/Kg.

Lanjutan Tabel 5.1 Gambaran Jenis Ikan yang Dijual Di Pasar Diponegoro

10 Ikan Bawal Ikan bawal adalah ikan yang hidup di dasar perairan. Ikan ini cenderung memiliki bentuh tubuh yang besar seperti ikan kakap. Ikan ini lebih banyak dibeli oleh berbagai restoran besar. Masyarakat biasa jarang membeli ikan ini kalau tidak ada acara hari besar misal lebaran dan tahun baru karena harga ikan yang cukup mahal yaitu Rp 125.000/Kg

11 Ikan Tongkol Ikan tongkol adalah ikan yang memiliki panjang 15-38 cm.

Ikan tongkol selain besar juga memiliki daging yang banyak dan memiliki duri yang besar.

Ikan ini banyak diminati oleh berbagai konsumen karena harga yang relative terjangkau yaitu Rp 15.000/Kg.

Lanjutan Tabel 5.1 Gambaran Jenis Ikan yang Dijual Di Pasar Diponegoro

12 Ikan Merah Ikan merah adalah ikan yang paling murah dan ikan yang sangat gurih. Ikan ini banyak sekali diminati oleh konsumen.

Sehingga pedagang selalu menyediakan ikan yang cukup banyak perhari nya. Harga ikan ini yaitu Rp 10.000/Kg.

12 Ikan Tamban

Ikan tamban ikan yang hidup di laut besar, dan ikan yang memiliki duri banyak dan halus. Namun begitu ikan ini juga banyak digemari oleh konsumen karena ikan yang gurih. Harga jual ikan tamban yaitu Rp 20.000/Kg.

Lanjutan Tabel 5.1 Gambaran Jenis Ikan yang Dijual Di Pasar Diponegoro

14 Ikan Selar Ikan selar adalah ikan yang berukuran berkisar 15-25 cm.

Ikan ini bentuknya seperti ikan kembung namun lebih banyak memiliki sisik. Ikan selar ini juga banyak digemari oleh konsumen. Harga jual ikan ini adalah Rp 10.000/Kg.

15 Ikan Manyung

Ikan manyung adalah ikan yang memiliki panjang sekitar 20 – 35 cm. Ikan ini juga memiliki badan yang besar dan memiliki daging yang banyak.

Ikan ini dipasarkan di Pasar Diponegoro dengan harga yang cukup terjangkau yaitu Rp 15.000/Kg.

Sumber: Data Primer Diolah Dari Lampiran II

Lanjutan Tabel 5.1 Gambaran Jenis Ikan yang Dijual Di Pasar Diponegoro

5.2 Pendapatan Yang Diperoleh Pedagang Pengecer Ikan Laut

Pendapatan pedagang pengecer ikan laut merupakan hasil pengurangan penerimaan rata-rata dengan total biaya rata-rata yang dihitung dalam satu hari karena pedagang pengecer ikan laut yang dijadikan sampel adalah pedagang yang melakukan usaha setiap hari maka jumlah biaya yang dikeluarkan setiap hari dihitung sebagai biaya per hari pedagang pengecer ikan laut. Adapun perhitungan biaya produksi, penerimaan dan pendapatan rata-rata per sampel dapat dilihat pada table berikut : Tabel 5.2 Biaya Produksi, Penerimaan ,Pendapatan ,Rata-Rata Per Sampel/Hari

No Jenis Data Rata-Rata Per Sampel

1 Biaya Produksi Rp 3.296.145

2 Penerimaan Rp 3.706.166

3 Pendapatan Rp 410.021 Sumber: Data Primer Diolah Dari Lampiran III

Berdasarkan tabel 5.2 di atas dapat dilihat bahwa rata-rata per sampel pedagang pengecer ikan laut dengan biaya produksi sebesar Rp 3.296.145, penerimaan sebesar Rp 3.706.166 dan besar pendapatan nya adalah Rp 410.021/hari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa total penerimaan rata-rata pedagang pengecer ikan laut sampel per hari adalah sebesar Rp 3.706.166 (lihat lampiran 3), total biaya rata-rata sebesar Rp 3.229.411 (lihat lampiran 3). Dari data tersebut maka diperoleh pendapatan rata-rata pedagang pengecer ikan laut sampel per hari dengan rumus sebagai berikut :

π = TR – TC Dimana:

π = Pendapatan

TR = Total Penerimaan (Rp)

TC = Total Biaya (Rp)

Π = Rp 3.706.166 – Rp 3.296.145 = Rp 410.021

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata pedagang pengecer ikan laut setiap harinya adalah sebesar Rp 410.021 Hal ini menunjukkan bahwa ikan laut menguntungkan diskala besar oleh pedagang pengecer ikan di Pasar Diponegoro, Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan.

Berdasarkan pengakuan para pedagang pengecer ikan laut, kegiatan berusaha yang mereka lakukan di Pasar Diponegoro ini merupakan mata pencaharian utama para pedagang ikan laut dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

5.2.1 Hasil Uji Korelasi Rank Spearman

Korelasi Rank Spearman digunakan untuk mencari kedekatan hubungan anatara

dua variabel atau lebih, yang memiliki skala pengukuran berupa skala ordinal/

Dalam penelitian ini interval yang digunakan adalah variabel X dan Y, dimana X adalah Jumlah ikan yang dijual (kg) sedangkan variabel Y adalah besar pendapatan yang diterima oleh pedagang pengecer.

Tabel 5.3 Hasil Uji Korelasi Rank Spearman Jumlah Ikan yang Dijual (kg) dengan Pendapatan yang Diterima

Correlations

Produksi Pendapatan Spearman's rho Produksi Correlation Coefficient 1,000 ,872**

Sig. (2-tailed) . ,000

N 30 30

Pendapatan Correlation Coefficient ,872** 1,000

Sig. (2-tailed) ,000 .

N 30 30

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Sumber : Lampiran 41

Hubungan antara jumlah ikan yang dijual (kg) dengan pendapatan yang diterima (lampiran 41) menghasilkan nilai koefisien korelasi Rank Spearman (rs)= 0,872**

dengan nilai signifikansi atau Sig.(2-tailed) sebesar 0,000. Dari hasil analisis tersebut dapat dilihat bahwa tingkat signifikansi Sig <

α

0,01. Berdasarkan kriteria ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara jumlah ikan yang dijual (kg) dengan pendapatan yang diterima oleh pedagang pengecer.

Hubungan jumlah ikan yang dijual (kg) dengan pendapatan yang diterima tergolong sangat erat. Hal ini ditunjukkan oleh angka koefisien korelasi sebesar 0,872**.

Artinya adalah tingkat kekuatan hubungan (korelasi) antara variabel jumlah ikan yang dijual (kg) dengan pendapatan yang diterima adalah sangat kuat. Hubungan antar variable ini bernilai positif (searah) yaitu +0,872.

Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah ikan yang dijual (kg) dengan pendapatan yang diterima di daerah penelitian dapat diterima (H0 ditolak dan H1 diterima).

5.3 Analisis Kelayakan Dengan BEP (Break Event Point)

Untuk menganalisis usaha pedagang pengecer ikan laut dapat digunakan rumus BEP, dan R/C Ratio dengan rumus sebagai berikut :

5.3.1 BEP Produksi

Berdasarkan rumus di atas diperoleh hasil sebagai berikut : TC

BEP Produksi = P

Tabel 5.4 Analisis Kelayakan Usaha Pedagang Pengecer Ikan Laut

Sumber: Data Primer Diolah Dari Lampiran IV

Dari tabel 5.2 di atas dapat dilihat bahwa produksi lebih besar dari BEP produksi, maka usaha pedagang pengecer ikan laut yang diusahakan di Pasar Diponegoro, Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan layak.

Dari hasil analisis kelayakan berdasarkan BEP produksi tersebut didapat kesimpulan bahwa usaha pedagang pengecer ikan laut cukup layak untuk diusahakan.

5.3.2 BEP Harga

Selain BEP Produksi analisis kelayakan usaha pedagang pengecer ikan laut dapat dianalisis melalui BEP Harga yang dapat dilihat dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Rumus tersebut akan digunakan pada tabel 5.3 sebagai berikut : TC

BEP Harga = Y

Tabel 5.5 Analisis Kelayakan Usaha Pedagang Pengecer Ikan Laut

Sumber: Data Primer Diolah Dari Lampiran IV

Dari tabel 5.4 di atas dapat dilihat bahwa produksi lebih besar dari BEP Harga, maka usaha pedagang pengecer ikan laut yang diusahakan di Pasar Diponegoro, Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan layak.

Dari hasil analisis kelayakan berdasarkan BEP Harga tersebut didapat kesimpulan bahwa usaha pedagang pengecer ikan laut cukup layak untuk diusahakan.

5.4 Analisis Kelayakan Dengan R/C (Return Cost Ratio)

Untuk menghitung kelayakan usaha pedagang pengecer ikan laut dianalisis dengan R/C (Return Cost Ratio) atau dikenal sebagai perbandingan atau nisbah antara penerimaan dan biaya. Adapun hasl penelitian dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut ini :

Tabel 5.6 Analisis Kelayakan Usaha Pedagang Pengecer Ikan Laut

Sumber: Data Primer Diolah Dari Lampiran IV

Dari tabel 5.5 di atas dapat dilihat bahwa hasil R/C lebih besar dari 1, maka dapat disimpulkan usaha pedagang pengecer ikan laut yang diusahakan di Pasar Diponegoro, Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan layak untuk diusahakan.

Dari hasil penelitian analisis kelayakan di atas mulai dari BEP dan R/C Ratio menunjukkan bahwa usaha pedagang pengecer ikan laut di Pasar Diponegoro, Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan layak untuk diusahakan.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Besar pendapatan rata-rata usaha pedagang pengecer ikan laut adalah sebesar Rp 410.021/Pedagang/Hari dan 132 Kg Ikan Laut dan berdasarkan hasil analisis korelasi rank spearman dapat diketahui jumlah ikan yang dijual (kg) dengan

pendapatan yang diterima memiliki hubungan yang sangat kuat (0,872> 0,05).

2. Berdasarkan hasil analisis kelayakan di atas, hasil dari BEP Produksi rata-rata adalah sebesar 108 Kg , BEP Harga rata-rata adalah sebesar Rp 25.034 dan R/C Ratio rata-rata adalah sebesar 1,12 menyatakan bahwa usaha pedagang pengecer ikan laut di Pasar Diponegoro, Kelurahan Tegal Sari, Kabupaten Asahan yang diusahakan oleh pedagang layak untuk diusahakan.

6.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, adapun saran yang dapat peneliti berikan adalah sebagai berikut:

1. Kepada Pedagang pengecer ikan laut di Pasar Diponegoro perlu meningkatkan modal kerja, agar pendapatannya menjadi lebih tinggi dan lebih memperhatikan jumlah ikan terjual, dengan demikian jumlah ikan terjual dapat berpengaruh nyata terhadap pendapatan pedagang ikan di Pasar Diponegoro.

2. Kepada peneliti selanjutnya agar dapat meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan pedagang pengecer ikan laut dan menggunakan variabel yang terkait.

3. Kepada Pemerintah dan Instansi terkait agar lebih memperhatikan jalanan yang rusak dan kebersihan di Pasar Diponegoro, Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan.

DAFTAR PUSTAKA

Adawyah, R. 2008. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. PT Bumi Aksara. Jakarta Arifah, D. 2014. Studi Kelayakan Pengolahan Kerupuk Mangrove. Universitas

Sumatera Utara. Medan

Badan Pusat Statistik, 2017. Kabupaten Asahan Dalam Angka. Asahan

Departemen Kesehatan RI, 2015. Daftar Komposisi Zat Gizi Pangan Indonesia.

Departemen Kesehatan RI. Jakarta

Evi, 2001. Usaha Perikanan di Indonesia. PT Mutiara Sumber Widya. Jakarta Genisa, A. S, 1999. Pengenalan Jenis-Jenis Ikan Laut Ekonomi Penting di

Indonesia. Jakarta

Harahap, R. M. 2014. Analisis Kelayakan Usaha Kerupuk Opak di Desa Sukasari, Kecamatan Pengajahan, Kabupaten Serdang Bedagai. Universitas Sumatera Utara. Medan

Harmono dan Handoko, 2005. Budidaya dan Peluang Bisnis. Agromedia Pustaka.

Jakarta

Ivada, Kasmir, Jakfar, 2013. Studi Bisnis. Edisi Revisi. Jakarta

Johan, S. 2011. Studi Kelayakan Pengembangan Bisnis. Edisi Pertama. Yogyakarta Jumianto, 2013. Teknik Penanganan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta

Kusmastanto, T. 2000. Solusi Alternatif Atasi Krisis Ekonomi dan Penggerak Sektor Riil. Kompas

Ma’ruf, H. 2005. Pemasaran Riset. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Nasarudin, I. Y. 2013. Analisis kelayakan Ekonomi dan Keuangan Usaha Ikan Lele Asap di Pekan Baru. Universitas Medan Area. Medan

Rahardi, E dan Wibowo, A. 1993. Agribisnis Perikanan. Penebar Swadaya. Jakarta Rangkuti, 1994. Evaluasi Penanganan Ikan Cikalang di Tingkat Pedagang Pesisir

Pantai Melalui Analisis Kemunduran Mutu Fisik. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Sanjaya, T. 2015. Analisis Kelayakan Agribisnis Udang di Desa Sentang, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai. Universitas Sumatera Utara. Medan

Sihombing, A. 2012. Analisis Kelayakan Usaha Lemang di Kota Tebing Tinggi.

Universitas Sumatera Utara. Medan

Soekartawi, 2006. Analisis Usahatani. Ui Press. Jakarta

Soeratno, 2003. Ekonomi Mikro Pengantar. Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN. Yogyakarta

Sudihastuti, D. 2008. Analisis Permintaan Konsumen Rumah Tangga Terhadap Ikan Laut Segar di Kecamatan Sukmajaya Kota Depok Jawa Barat. Skripsi.

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institusi Pertanian Bogor. Jawa Barat

Sukirno, S. 2006. Pengantar Teori Makro Ekonomi. PT Raja Grafindo. Jakarta Sumardianto, E. Y. 2016. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan

Pedagang Pengecer Ikan Laut Segar di Pasar Terapung Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir. Fakultas Perikanan. Riau

Pedagang Pengecer Ikan Laut Segar di Pasar Terapung Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir. Fakultas Perikanan. Riau

Dokumen terkait