• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Definisi dan Batasan Operasional

3.5.2 Batasan Operasional

Adapun batasan operasional dalam penelitian ini adalah:

1. Tempat penelitian adalah di Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat.

2. Penelitian dilakukan pada tanggal 19 Juli 2017.

3. Petani (Responden) adalah petani yang menanam bibit kelapa sawit sebagai tanaman utama di lahan usahataninya.

BAB IV

DESKRIPSI WILAYAH DAN KARAKTERISTIK SAMPEL

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian

Penelitian tentang analisis usahatani ini dilakukan di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat.

4.2 Letak dan Geografis

Kecamatan Selesai merupakan salah satu kecamatan tertinggi penghasil kelapa sawit di kabupaten Langkat. Kecamatan Selesai terletak di antara 03°30‟30”- 03°42‟00” Lintang utara dan di antara 98°23‟05”-98°27‟47” Bujur Timur dengan luas wilayah daratan adalah sebesar 16.773 Ha (167,73 KM²). Luas Kecamatan Selesai hanya sbesar Batas-batas wilayah desa ini adalah sebagai berikut:

1. Sebelah Utara : Kec. Binjai dan Kec. Wampu 2. Sebelah Selatan : Kec. Sei Bingei dan Kec. Kuala 3. Sebelah Barat : Kec. Wampu dan Kec. Serampit 4. Sebelah Timur : Kec. Binjai, Kec. Sei Bingai dan Kota

Binjai 4.3 Keadaan Penduduk

Penduduk Kecamatan Selesai hingga tahun 2014 diperkirakan mencapai 72.137 jiwa dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga per rumah tangga sebesar 4 jiwa per tumah tangga.

28

Tabel 4.1 Banyaknya Penduduk Dirinci Menurut Jenis Kelamin dan Desa/Kelurahan Tahun 2014*

Desa/ Kabupaten Laki-laki Perempuan Jumlah

1 2 3 4

Sumber : BPS Kabupaten Langkat, 2015

*Hasil Proyeksi Penduduk

Jika dilihat dari aspek rasio gender maka kondisi Kecamatan Selesai memiliki Jumlah Laki-laki lebih banyak dibandingkan jumlah Perempuan. Dan pada desa Pd Brahrang memiliki jumlah penduduk yang paling banyak yaitu 11,543 jiwa dengan jumlah laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan jumlah perempuan.

4.4 Sarana dan Prasaran

Perkembangan dan kemajuan masyarakat sangat dipengaruhi oleh sarana dan prasarana. Apabila semakin baik sarana dan prasarana maka laju pembangunan

akan semakin cepat, begitu juga sebaliknya. Hal ini dapat dilihat dari sarana kesehatan, saran ibadah dan industri yang tersedia. Berikut ini tabel yang berisi keterangan mengenai sarana kesehatan di Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat.

Tabel 4.2 Banyaknya Sarana Kesehatan Dirinci Menurut Desa/Kelurahan Tahun 2014

Sumber : BPS Kabupaten Langkat, 2015

Tabel 4.2 memperlihatkan bahwa di tiap desa/kelurahan yang ada di Kecamatan Selesai sudah tersedia banyak sarana kesehatan. Sarana kesehatan yang paling banyak yaitu di desa/kelurahan Pekan Selesai.

Tabel 4.3 Sarana Ibadah Menurut Agama dan Desa/Kelurahan Tahun 2014

Desa/ Kelurahan Mesjid Musholla Gereja Kuil Vihara Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

1 Nambiki 1 2 2 - - 5

2 Tg Merahe 2 2 2 - - 6

3 Pd Brahrang 8 3 - - - 11

4 Lau Mulgap 3 4 3 - - 10

5 Kuta Parit 2 4 2 - - 8

6 Pekan Selesai 7 13 - - 1 21

7 Bekulap 6 7 1 - - 14

8 Perhiasan 5 7 2 - - 14

9 Selayang 2 10 11 - - 23

10 Sei Limbat 5 2 - - - 7

11 Mancang 5 6 - - - 11

12 Kw Air Hitam 7 2 - - - 9

13 Pd Cermin 12 6 - 1 - 20

14 Selayang Baru 5 4 - - - 9

Jumlah 70 72 24 1 1 168

Sumber :BPS Kecamatan Selesai,2015

Dari tabel 4.3 dapat diketahui bahwa Sarana ibadah seperti kuil dan vihara hanya terdapat di desa.kelurahan Pekan Selesai dan Pd Cermin.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Usahatani Pembibitan Pre Nursery di Kecamatan Selesai

Usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit dapat berhasil jika penggunaan biaya dilakukan secara efektif dan efisien, selain itu juga harus dihitung kelayakan usahatani secara finansial agar dapat diketahui seberapa layak usahatani itu dilakukan untuk masa kini dan masa depan. Usahatani juga tidak lepas dari hubungan antara subsistem

5.1.1 Kebutuhan Fisik Usahatani Pembibitan Pre Nursery Kelapa Sawit 5.1.1.1 Penggunaan Kecambah Kelapa Sawit

Penggunaan kecambah kelapa sawit pada pembibitan Pre Nursery kelapa sawit rakyat menggunakan kecambah yang tidak bersertifikat atau kecambah yang tidak jelas identitasnya, para petani tersebut membeli kecambah yang memiliki label/

merek akan tetapi tidak memiliki kejelasan sumbernya., akan tetapi petani tetap membibitkan kecambah tersebut untuk dijual ke masyarakat yang memiliki perkebunan. Rata-rata bibit yang dijual oleh petani adalah bibit dari PPKS varietas DXP Marihat.

5.1.1.2 Pengolahan Tanah dan Penanaman

Kebutuhan fisik usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit dalam masa pengolahan tanah yaitu tanah dan polybag. Luas lahan rata-rata petani di daerah penelitian yaitu sekitar 0,406 Ha. Kebutuhan input yang dibutuhkan oleh petani pada masa pengolahan tanah dan Penanaman adalah tanah, polybag, benih kelapa sawit.

32

Tanah

Kebutuhan akan tanah menjadi salah satu hal wajib bagi petani untuk membibitkan kelapa sawit. Tanah tersebut digunakan untuk mengisi polybag sebagai media tanam benih kelapa sawit. Berikut disajikan rata-rata kebutuhan penggunaan tanah didaerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.1 :

Tabel 5.1. Rata-Rata Kebutuhan Tanah di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat per Musim Tanam

No Kategori Penggunaan Tanah (mᵌ)

1 Per Petani 6.491

2 Per Hektar 15.987

Sumber :Diolah dari Lampiran 7

Dari tabel 5.1 dapat diketahui bahwa rata-rata penggunaan tanah per hektar lebih pbesar dari pada kebutuhan tanah per petani. Dalam setiap mᵌ tanah dapat memuat sekitar 336 polybag . Kebutuhan akan tanah bisa berubah sesuai dengan jumlah benih yang akan di bibitkan oleh petani.

Polybag

Polybag adalah hal yang wajib untuk melakukan pembibitan kelapa sawit.

Penggunaan polybag ini bertujuan sebagai media tanam bibit kelapa sawit. Rata-rata polybag yang dibutuhkan per petani yaitu 9,8 kg. Berikut disajikan Rata-rata-Rata-rata kebutuhan polybag didaerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.2 :

Tabel 5.2. Rata-Rata Kebutuhan Polybag di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat per Musim Tanam

No Kategori Penggunaan Kebutuhan (Kg) (Ukuran 12/6 x 25 x 0,04)

1 Per Petani 9,8

2 Per Hektar 24,1

Sumber : Diolah dari Lampiran 4

Dari tabel 5.2 dapat diketahui bahwa kebutuhan rata-rata penggunaan polybag per hektar lebih besar dari pada kebutuhan polybag per petani yaitu sebesar 24.1 Kg.

Polybag yang digunakan oleh petani pembibitan kelapa sawit di Kecamatan Selesai yaitu polybag kecil berukuran 12/6 x 25 x 0,04.

Kecambah Kelapa Sawit

Kebutuhan kelapa sawit didaerah penelitian berbeda-beda sesuai dengan luas lahan dan kapasitas petani dalam membibitkan kelapa sawit. Berikut disajikan kebutuhan rata-rata benih kelapa sawit didaerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.3 :

Tabel 5.3. Rata-Rata Kebutuhan Kecambah Kelapa Sawit di Kecamatan Selesai,Kabupaten Langkat per Musim Tanam

No Kategori Penggunaan Kebutuhan (Kecambah)

1 Per Petani 3.481

2 Per Hektar 8.572

Sumber : Diolah dari Lampiran 3

Dari tabel 5.3 dapat diketahui kebutuhan Kecambah kelapa sawit di daerah penelitian untuk per hektar lebih besar dari pada kebutuhan Kecambah per petani yaitu 8573 benih. Kecambah yang dipakai oleh petani adalah Kecambah PPKS varietas Marihat.

Cangkul

Cangkul pada tahapan pengolahan tanah dan penanaman adalah untuk menggali tanah dan menggemburkan tanah yang digali sebelum diisi ke polybag. berikut disajikan kebutuhan rata-rat benih kelapa sawit didaerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.4

Tabel 5.4 Rata-rata Kebutuhan Cangkul di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat per Musim Tanam

No Kategori Penggunaan Kebutuhan (Unit)

1 Per Petani 1

2 Per Hektar 2

Sumber: Diolah dari Lampiran 9

Dari tabel 5.4 dapat diketahui bahwa rata-rata pengguanaan cangkul per hektar lebih besar dibandingkan kebutuhan cangkul per petani. Cangkul dapat dibeli di toko pertanian yang ada di kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat.

Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam tahapan pengolahan tanah dan penanaman yaitu dari memasukkan tanah dan menanam kecambah. Kegiatan tersebut dilakukan dengan menggunakan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Berikut disajikan kebutuhaan tenaga kerja dapat dilihat pada tabel 5.5 :

Tabel 5.5. Rata-rata Kebutuhan Tenaga Kerja di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat per Musim Tanam

No Keterangan

Penggunaan Tenaga Kerja (HKO)

Per Petani Per Hektar

1 Pengolahan Tanah dan

Penanaman 7,9 19,45

Sumber : Diolah dari Lampiran 8

Dari tabel 5.5 dapat diketahui bahwa kebutuhan tenaga kerja per hektar lebih besar dari pada kebutuhan tenaga kerja per petani yaitu 19,46 HKO. Penggunaan tenaga kerja per hektar lebih besar dikarenakan luas tanah petani kurang dari 1 hektar.

5.1.1.3 Pemeliharaan

Pemeliharaan adalah tahap selanjutnya setelah tahap pengolahan tanah dan penanaman. Tahapan pemeliharaan meliputi tahap pemupukan, pengendalian hama dan penyakit. Tahapan pemeliharaan ini berlangsung selama dari penanaman sampai panen yaitu selama 3 bulan. Tahapan pemeliharaan merupakan tahapan terpenting karena menunjang keberhasilan usahatani.

Pemupukan

Pupuk menjadi hal yang wajib dalam usahatani karena pupuk sebagai sumber makanan utama dari tanaman kelapa sawit. Pupuk yang digunakan dalam usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit adalah pupuk NPK Mutiara, Urea, ZA, KCL. Berikut disajikan kebutuhan pupuk dalam usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit dapat dilihat pada tabel 5.6 :

Tabel 5.6. Rata-rata Kebutuhan Pupuk di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat

No. Jenis Pupuk Kebutuhan (Kg)

1 NPK Mutiara 0.341

2 Pupuk Urea 1.029

3 Pupuk ZA 2.047

4 Pupuk KCL 2.047

Kebutuhan Per Petani 5.465

Kebutuhan Per Hektar 13.460

Sumber : Diolah dari Lampiran 5

Dari tabel 5.6 dapat dilihat bahwa kebutuhan pupuk per hektar lebih besar dari pada kebutuhan pupuk per petani. Kebutuhan pupuk terbesar adalah pupuk ZA dan KCL, karena pupuk ini paling menunjang pertumbuhan bibit kelapa sawit yaitu masing-masing sebanyak 2.047 Kg.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit di daerah penelitian yaitu menggunakan pestisida jenis Decis, Antracol dan Bayfolan. Pestisida jenis decis digunakan untuk memberantas gulma, sedangkan pestisida antracol digunakan untuk membasmi jamur pada daun, dan pestisida jenis bayfolan digunakan untuk membasmi hama pada daun. Berikut disajikan rata-rata kebutuhan pestisida dalam usahatani pembibitan pre nursery kelapa sasit dapat dilihat pada tabel 5.7 :

Tabel 5.7. Rata-rata Kebutuhan Pestisida di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat

No. Jenis Pestisida Kebutuhan (L)

1 Decis 0.5294

2 Antracol 0.0165

3 Bayfolan 0.2721

Kebutuhan Per Petani 0.8179

kebutuhan Per Hektar 2.0146

Sumber : Diolah dari Lampiran 6

Dari tabel 5.7 dapat diketahui bahwa kebutuhan pestisida per hektar lebih besar dari pada kebutuhan pestisida per petani yaitu sebesar 2,0146 liter. Decis merupakan kebutuhan pestisida terbesar yaitu sebanyak 0,5294 liter, sedangkan antracol merupakan kebutuhan pestisida terkecil yaitu 0.0165 liter.

Hand Sprayer

Peralatan yang digunakan dalam tahap pemeliharaan ini adalah hand sprayer, gembor dan angkong. Masing” fungsi dari peralatan ini berbeda beda. Hand sprayer digunakan untuk menunjang kegiatan pemupukan. Berikut disajikan kebutuhan hand sprayer dalam usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat pada tabel 5.8:

Tabel 5.8 Rata-rata Kebutuhan Hand Sprayer di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat

No Kategori Penggunaan Kebutuhan (Unit)

1 Per Petani 1

2 Per Hektar 2

Sumber : Diolah dari Lampiran 9

Dari tabel 5.8 dapat diketahui bahwa rata-rata pengguanaan cangkul per hektar lebih besar dibandingkan kebutuhan cangkul per petani. Cangkul dapat dibeli di toko pertanian yang ada di kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat.

Gembor

Gembor dalam tahapan pemeliharaan ini digunakan sebagai tempat atau media air untuk melakukan kegiatan penyiraman. Gembor yang digunakan adalah gembor plastik. Berikut disajikan kebutuhan gembor pada usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit pada tabel 5.9 :

Tabel 5.9 Rata-rata Kebutuhan Gembor di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat

No Kategori Penggunaan Kebutuhan (Unit)

1 Per Petani 1

2 Per Hektar 2

Sumber : Diolah dari Lampiran 9

Dari tabel 5.9 dapat diketahui bahwa kebutuhan gembor per petani yaitu 1 unit sedangkan kebutuhan gembor per hektar yaitu 2 unit. Kebutuhan gembor per hektar per musim tanam lebih besar dikarenakan luas lahan petani di daerah penelitian kurang dari 1 hektar.

Angkong

Angkong digunakan untuk mengangkut bibit pre nursery kelapa sawit. Apabila ada bibit kelapa sawit yang terkena penyakit, maka harus dipindahkan ke tempat lain supaya penyakit tersebut tidak menyebar ke bibit lainnya. Angkong juga digunakan untuk mengangkut hasil pertanian. Berikut disajikan data kebutuhan angkong dapat dilihat pada tabel 5.10 :

Tabel 5.10 Rata-rata Kebutuhan Gembor di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat

No Kategori Penggunaan Kebutuhan (Unit)

1 Per Petani 2

2 Per Hektar 5

Sumber : Diolah dari Lampiran 9

Dari tabel 5.10 dapat diketahui bahwa kebutuhan angkong per petani yaitu 2 unit.

Sedangkan kebutuhan angkong per hektar yaitu 5 unit. Kebutuhan angkong per hektar lebih besar dikarenakan luas lahan petani rata-rata di daerah penelitian kurang dari 1 hektar.

Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang digunakan dalam proses pemeliharaan ini adalah tenaga kerja dalam keluarga (TKDK). Kegiatan yang dilakukan oleh tenaga kerja ini adalah pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dan pemeliharaan. Berikut disajikakn kebutuhan tenaga kerja usahatani pembibitan pre nusery kelapa sawit dapat dilihat di tabel 5.11 :

Tabel 5.11 Rata-rata Kebutuhan Tenaga Kerja di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat

No Keterangan

Penggunaan Tenaga Kerja (HKO) Per Petani Per Hektar

1 pemupukan 0.51 1.27

2 pemeliharaan 23.82 58.68

Sumber : Diolah dari Lampiran 8

Dari tabel 5.11 dapat diketahui bahwa kebutuhan tenaga kerja yang paling besar yaitu dari pemeliharaan. Kebutuhan tenaga kerja per hektar untuk pemeliharaan lebih besar dari kebutuhan tenaga kerja per petani, tenaga kerja yang digunakan adalah petani itu sendiri.

5.1.1.4 Panen

Kegiatan pemanenen bibit pre nursery kelapa sawit tidak membutuhkan kebutuhan fisik, dikarenakan ketika proses pemeliharaan sampai umur 3 bulan, maka disaat itu juga terjadi panen, hasil panen dalam pembibitan kelapa sawit adalah bibit kelapa sawit itu sendiri.

5.1.2 Harga Kebutuhan Fisik Usahatani Pembibitan Pre Nursery Kelapa Sawit

Sumber dan harga kebutuhan fisik untuk menunjang usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit sangat penting, semakin murah dan mudah didapatkan oleh petani, maka semakin efisien dan efektiflah usahatani tersebut dan juga menambah pendapatan petani. Berikut disajikan harga untuk setiap kebutuhan fisik usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit pada tabel 5.12 :

Tabel 5.12 Harga Kebutuhan Fisik Usahatani Pre Nursery Kelapa Sawit

No Tahapan Kegiatan Kebutuhan Fisik Harga

1 Pengolahan Tanah dan

Penanaman Tanah Rp. 300.000/mᵌ

Polybag Rp. 30.000/Kg

Kecambah Kelapa

Sawit Rp. 250/benih

2 Pemeliharaan dan

Pengendalian Hama Penyakit Pupuk NPK Rp. 10.000/Kg Pupuk Urea Rp. 2.000/Kg

Sumber : Diolah dari Lampiran 3,4,5,6,7

Dari tabel 5.12 dapat diketahui bahwa harga dari setiap kebutuhan fisik beragam, harga kebutuhan fisik yang paling mahal adalah pestisida Antrocol yaitu sebesar Rp. 115.000/

liter, dan harga kebutuhan fisik yang paling murah adalah kecambah kelapa sawit yaitu Rp. 250,-/ kecambah.

5.2 Biaya Pembibitan Pre Nursery Kelapa Sawit

Biaya Pembibitan Pre Nursery kelapa sawit meliputi biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap meliputi penyusutan alat pertanian dan sewa lahan/PBB. Biaya tidak tetap meliputi Ketersediaan input produksi yang dibutuhkan dalam usahatani pembibitan Pre Nursery kelapa sawit dan input yang dibutuhkan dalam usahatani tersebut. Biaya pembibitan Pre Nursery kelapa sawit dapat didapat dari jumlah input yang digunakan.

5.2.1 Biaya Usahatani Pembibitan Pre Nuresery Kelapa Sawit

Biaya usahatani merupakan korbanan yang perlu dilakukan oleh petani untuk memperoleh input produksi yang akan digunakan dalam mengelola usahatani

untuk menghasilkan output produksi. Biaya produksi dalam penelitian ini terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap usahatani Pembibitan Pre Nuresery kelapa sawit pada penelitian ini berupa biaya penyusutan peralatan pertanian dan biaya sewa lahan/PBB, dimana pengunaannya tidak habis dalam satu kali penanaman. Selain biaya tetap, terdapat juga biaya variabel dimana penggunaannya habis dalam satu masa musim tanam. Biaya yang termasuk kedalam biaya variabel adalah biaya benih, polybag, pestisida, pupuk dan tenaga kerja.

5.2.1.1 Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya tetap merupakan biaya yang jumlahnya relatif tetap dan terus dikeluarkan meskipun produksinya banyak atau sedikit dan dapat dipakai berulang kali dalam proses produksi. Komponen biaya tetap yang dikeluarkan pada usahatani Pembibitan Pre Nuresery Kelapa Sawit terdiri dari biaya penyusutan peralatan dan biaya sewa lahan/PBB.

Penyusutan Peralatan

Nilai Penyusutan peralatan merupakan nilai yang terdapat pada suatu alat dengan melihat harga awal dari barang tersebut, harga akhir, lama pemakaian, dan jumlah barang tersebut Alat-alat pertanian merupakan saran penting dalam melaksanakan kegiatan usahatani seperti persiapan lahan, pemupukan, pemeliharaan. Alat-alat pertanian ini mempunyai nilai penyusutan yang akan menjaid biaya penyusutan peralatan. Biaya penyusutan peralatan yang dihitung meliputi penyusutan alat-alat pertanian diantaranya terdiri dari atas cangkul, hand sprayer, gembor dan angkong. Penyusutan peralatan dapat dihitung dengan cara :

Berikut disajikan data rata-rata biaya penyusutan peralatan pertanian pada usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit di Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat dapat dilihat pada Tabel 5.13 :

Tabel 5.13 Biaya Penyusutan Peralatan Pertanian Usahatani Pembibitan Pre Nursery Kelapa Sawit

No Uraian Biaya Penyusutan (Rp)

1 Cangkul 10.141

2 Hand Sprayer 27.088

3 Gembor 24.705

4 Angkong 54.235

Biaya Total Per Petani (Rp) Biaya Total Per Hektar (Rp)

61.934 152.546,798 Sumber : Diolah dari Lampiran 9

Berdasarkan Tabel 5.13 dapat diketahui bahwa biaya total penyusutan peralatan pertanian per hektar per musim tanam lebih besar dari pada biaya total penyusutan peralatan pertanian per petani per musim tanam. Dari data tersebut diketahui bahwa angkong merupakan biaya penyusutan peralatan terbesar yang harus dikeluarkan petani. Angkong digunakan petani untuk mengangkut bibit kelapa sawit. Sedangkan cangkul merupakan biaya penyusutan terkecil yang dikeluarkan petani dalam usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit. Alat ini digunakan oleh petani untuk mengolah tanah untuk dijadikan media tanam bibit kelapa sawit.

Biaya Sewa Lahan/ Pajak (PBB)

Lahan yang digunakan petani Pembibitan kelapa sawit di Kecamatan Selesai merupakan lahan milik sendiri, sehingga petani tidak perlu membayar biaya sewa

lahan melainkan hanya membayar biaya pajak lahan (PBB). Dalam usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit di daerah penelitian diketahui bahwa rata-rata besarnya biaya pajak lahan(PBB) lahan usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit sekitar Rp. 54.294 per tahun.

5.2.1.2 Biaya Variabel (Variable Cost)

Biaya variabel merupakan biaya yang dikeluarkan petani yang habis terpakai dalam satu periode usahatani dan tidak dapat digunakan berulang kali. Biaya yang dikeluarkan akan mempengaruhi besar kecilnya tingkat produksi. Komponen biaya variabel yang dikeluarkan petani pada dalam usahatani pembibitan pre nursery kelapa sawit antara lain biaya, benih, polybag, pupuk, pestisida, tanah kompos dan tenaga kerja.

Kecambah Kelapa Sawit

Para petani di Kecamatan Selesai menggunakan Kecmabah Kelapa Sawit varietas marihat yang dijual sebesar Rp. 250.000/pack. 1 pack Kecambah kelapa sawit berisi sekitar 1000 buah Kecambah. Kebutuhan Kecambah kelapa sawit tidak tergantung pada luasnya lahan petani, karena petani mengusahakan pembibitan lahan pekarangan rumahnya. Berikut disajikan biaya rata-rata dan kebutuhan kecambah kelapa sawit dapat dilihat pada tabel 5.14 :

Tabel 5.14 Kebutuhan dan Biaya Kecambah Kelapa Sawit pada Usahatani Pembibitan Pre Nursery Kelapa Sawit per Musim Tanam

No Kategori Penggunaan Kebutuhan (buah) Biaya (Rp)

1 Per Petani 3,481 870.147,06

2 Per Hektar 8,573 2.143.219,36

Sumber : Diolah dari Lampiran 3

Dari tabel 5.14 dapat diketahui bahwa biaya Kecambah per hektar per musim tanam lebih besar dari pada biaya Kecambah per hektar per musim tanam. Hal ini dikarenakan rata-rata luas lahan petani di daerah penelitian lebih kecil dari 1 hektar

Polybag

Polybag adalah hal yang wajib untuk melakukan pembibitan kelapa sawit.

Polybag yang digunakan oleh petani pembibitan kelapa sawit di Kecamatan Selesai yaitu polybag kecil berukuran 12/6 x 25 x 0,04. Penggunaan polybag ini bertujuan sebagai media tanam bibit kelapa sawit. Rata-rata polybag yang dibutuhkan oleh petani yaitu 9,8 kg dengan harga rata-rata polybag sebesar Rp.

30.529/kg . Berikut disajikan biaya rata-rata polybag dapat dilihat pada tabel 5.15:

Tabel 5.15 Kebutuhan dan Biaya Polybag pada Petani Sampel Usahatani Pembibitan Pre Nursery Kelapa Sawit per Musim Tanam

No Kategori Penggunaan Kebutuhan (Kg) Biaya (Rp)

1 Per Petani 9,8 299.058,82

2 Per Hektar 24,1 736.598,09

Sumber : Diolah dari Lampiran 4

Dari tabel 5.15 diketahui kebutuhan polybag per hektar lebih besar dari pada kebutuhan polybag per petani Biaya polybag per hektar lebih mahal karena luas lahan petani lebih kecil dari 1 hektar. Setiap kilogram polybag berjumlah sekitar 360 buah polybag

Tanah

Tanah merupakan unsur terpenting dalam usahatani. Tanah sebagai media tanam bibit kelapa sawit sehingga sangat mendukung perkembangan bibit kelapa sawit

dan memudahkan bibit kelapa sawit untuk menyerap air dan pupuk. Tanah hanya butuhkan oleh petani yang lahannya sempit dan tidak punya cukup tanah untuk dijadikan media tanam benih kelapa sawit. Kebutuhan rata-rata tanah oleh petani sebesar 6,491 m³. Di daerah penelitian terdapat 5 petani sampel yang tidak membeli tanah dikarenakan memiliki lahan yang cukup untuk dijadikan media tanam bibit kelapa sawit. Berikut disajikan kebutuhan dan biaya rata-rata yang dikeluarkan pada tabel 5.16 :

Tabel 5.16 Kebutuhan dan Biaya Tanah pada Petani Sampel Usahatani Pembibitan Pre Nursery Kelapa Sawit per Musim Tanam

No Kategori Penggunaan Tanah (m³) Biaya (Rp)

1 Per Petani 6,491 828.721

2 Per Hektar 15,987 2.041.183,71

Sumber : Diolah dari Lampiran 7

Dari tabel 5.16 diketahui bahwa kebutuhan biaya dan kebutuhan tanah per hektar lebih besar dari pada biaya dan kebutuhan tanah per petani. Akan tetapi ada sebagian dari petani yang tidak membeli tanah, dikarenakan petani tersebut memiliki lahan yang luas, sehingga tanah dari lahan tersebut digunakan sebagai media tanamnya.

Pupuk

Pupuk merupakan pendukung yang sangat penting untuk keberlangsungan tanaman kelapa sawit. Pemupukan adalah proses yang dilakukan oleh petani dengan pemberian unsur hara untuk meningkatkan bahan organik pada tanah sehingga pertumbuhan tanaman lebih baik. Pemupukan harus diberikan sesuai dengan jenis pupuk dan kebutuhan yang tepat.

Petani pembibitan kelapa sawit di daerah penelitian menggunakan pupuk kimia sebagai pupuk dasar untuk membibit kelapa sawit. Pupuk tersebut yaitu pupuk NPK Mutiara dan Pupuk ZA, Pupuk Urea dan Pupuk KCL Pupuk Urea, KCL,

Petani pembibitan kelapa sawit di daerah penelitian menggunakan pupuk kimia sebagai pupuk dasar untuk membibit kelapa sawit. Pupuk tersebut yaitu pupuk NPK Mutiara dan Pupuk ZA, Pupuk Urea dan Pupuk KCL Pupuk Urea, KCL,