BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3.5 Definisi dan Batasan Operasional
3.5.2 Batasan Operasional
Adapun batasan operasional dalam penelitian ini adalah:
1. Daerah penelitian adalah Desa Buluh Awar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang.
2. Petani sampel adalah petani Aren di Desa Buluh Awar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang.
3. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2017.
27
BAB IV
DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL
4.1. Deskripsi Daerah Penelitian
4.1.1 Letak Geografis, Batas dan Luas Wilayah
Desa Buluh Awar adalah salah satu desa dari 30 desa yang terletak di daerah dataran tinggi dengan hawa yang sejuk dan nyaman. Secara administratif berada di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara. Desa Buluh Awar merupakan lokasi pertama penginjilan di daerah Karo.
Batas-batas wilayah Desa Buluh Awar sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Rumah Kinangkung SP
Sebelah Selatan : Desa Suka Maju Dusun 3 Kuta Bungkai
Sebelah Timur : Desa Salabulan Dusun 3 Laja ( Sungai Labuham) Sebelah Barat : Desa Batu Layang Dusun 2 Lau Mentar Desa Buluh Awar Kecamatan Sibolangit memiliki luas wilayah ± 500 Ha dengan jumlah penduduk 652 jiwa yang tersebar di 3 dusun. Desa Buluh Awar memiliki curah hujan rata-rata ± 25 m3/tahun degan suhu rata-rata ± 290 C dengan ketinggian ± 900 mdpl. Jarak tempuh Desa Buluh Awar dari desa ke kantor Kecamatan Sibolangit yakni 9 km, jarak tempuh desa ke kantor Kabupaten Deli Serdang yakni 74 km, dan jarak tempuh desa ke kota Medan yakni 40 km.
Tabel 4.1. Potensi Penggunaan Lahan di Desa Buluh Awar Tahun 2016
No. Jenis Lahan Luas Lahan (Ha)
1. Perladangan / Kebun Masyarakat 250
2. Persawahan / rawa 100
3. Pemukiman 50
4. Kuburan 1
5. Hutan Desa 79
6. Prasarana umum lainnya 20
Jumlah 500
Sumber : RPJM Desa Buluh Awar, 2016
Dari Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa penggunaan lahan yang paling luas adalah untuk perladangan/Kebun Masyarakat, yaitu 250 Ha dan untuk
penggunaan lahan terluas kedua digunakan untuk persawahan/rawa, yaitu 100 Ha dari luas Desa Buluh Awar secara keseluruhan.
4.1.2. Keadaan Penduduk 4.1.2.1 Keadaan Sosial
Penduduk Desa Buluh Awar terbesar berasal dari suku Batak Karo, lainnya Batak Toba dan Jawa, dimana mayoritas beragama Kristen Protestan.
Tradisi Batak Karo yang mendominasi telah dilandasi dengan sifat gotong royong. Musyawarah dan kekerabatan adat telah dilaksanakan secara turun-temurun.
Jumlah penduduk di Desa Buluh Awar pada tahun 2014 adalah sebanyak 3702 jiwa, dengan Komposisi Penduduk sebagai berikut:
29
Tabel 4.2. Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2016
No. Jenis Kelamin Jumlah (jiwa)
1. Perempuan 367
2. Laki-laki 285
Jumlah 652
Sumber: RPJM Desa Buluh Awar, 2016
Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa komposisi berdasarkan jenis kelamin paling banyak adalah jenis kelamin perempuan, yaitu berjumlah 367 orang, sedangkan jumlah penduduk laki-laki adalah 285 serta memiliki jumlah kepala keluarga sebanyak 126 KK.
Distribusi penduduk Desa Buluh Awar menurut mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian Tahun 2016
No. Jenis Mata Pencaharian Jiwa
1. Petani 400
2. Pedagang 8
3. PNS 2
4. Buruh 42
5. Pekerjaan lainnya 200
Jumlah 652
Sumber: RPJM Desa Buluh Awar, 2016
Dari Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa penduduk Desa Buluh Awar paling banyak bermata pencaharian sebagai petani, sedangkan untuk mata pencaharian terkecil adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS).
4.1.3. Sarana dan Prasarana
Sarana dan Prasarana di Desa Buluh Awar saat ini dinilai kurang memadai. Hal ini dikarenakan masih sedikit sarana prasarana yang tersedia baik itu sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan, prasarana pembangunan air
bersih dan MCK, prasarana tempat penampungan sampah, serta prasarana jalan menuju desa dan akses jalan menuju ladang dan sawah milik petani yang masih rusak. Keadaan sarana dan prasarana dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.4. Sarana dan Prasarana yang Dimiliki Desa Buluh Awar
No. Jenis Lahan Jumlah Keterangan
1. Balai Desa 1 Permanen Dusun III
2. Kantor Desa 1 Permanen Dusun I
3. Puskesdes 1 Permanen Dusun I
4. Gereja 1 Permanen Dusun III
5. Posyandu 2 Dusun I dan Dusun II
6. SD Negeri 1 Dusun II
7. Taman Kanak-kanak 1 Dusun I
8. Tempat Pemakaman Umum 1 Dusun II
10. Kamar mandi umum 20 Dusun 1, 2 dan 3
Jumlah 29
Sumber: RPJM Desa Buluh Awar, 2016
4.2 Karakteristik Responden dalam Penelitian
Pada Penelitian Analisis Usahatani dan Pemasaran Aren, responden merupakan petani aren yang berdomisili Di Desa Buluh Awar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang. Adapun karateristik responden dalam penelitian ini meliputi umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, jumlah tanaman aren yang dimiliki, jumlah tanaman aren yang berproduksi, pengalaman berusahatani, dan jumlah tanaman yang disadap.
4.2.1 Usia Petani
4.2.1.1 Usia Petani Tuak
Jumlah responden petani Tuak berdasarkan usia dapat dijelaskan pada Tabel, sebagai berikut:
31
Tabel 4.5. Jumlah Petani Tuak Berdasarkan Usia
No Usia Jumlah Petani %
1 30-40 12 60
2 41-50 6 30
3 >50 2 10
Total 20 100
Sumber: Lampiran 1 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa jumlah petani tuak paling besar adalah yang berusia 30-40 tahun yaitu mencapai 60% sedangkan yang lainnya adalah berusia 41-50 sebesar 30%, berusia >50 adalah sebesar 10% sekaligus merupakan usia petani tuak yang lebih sedikit. Jika dilihat dari rata-rata usia responden tersebut maka petani tuak di Desa Buluh Awar Kecamatan Sibolangit masih terbilang produktif dalam berusahatani tuak.
4.2.1.2 Usia Petani Gula Merah
Tabel 4.6. Jumlah Petani Gula Merah Berdasarkan Usia
No Usia Jumlah petani %
1 30-40 4 57,14
2 41-60 2 28,57
3 >60 1 14,29
Total 7 100
Sumber: Lampiranv 9 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa jumlah petani gula merah paling besar adalah yang berusia 30-40 tahun yaitu mencapai 57,14% sedangkan yang lainnya adalah berusia 41-60 sebesar 28,57%, berusia >60 adalah sebesar 14,29%
sekaligus merupakan usia petani gula merah yang lebih sedikit. Jika dilihat dari rata-rata usia responden tersebut maka petani gula merah di Desa Buluh Awar Kecamatan Sibolangit masih terbilang produktif dalam berusahatani gula merah.
4.2.2 Pendidikan Terakhir Petani
4.2.2.1 Pendidikan Terakhir Petani Tuak
Tabel 4.7. Jumlah Petani Tuak Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No Tingkat Jumlah petani %
1 SD 5 25
2 SMP 5 25
3 SMA 10 50
Total 20 100
Sumber: Lampiran 1 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa jumlah petani tuak paling besar adalah tamatan SMA yaitu mencapai 50% sedangkan yang lainnya adalah tamatan SD sebesar 25%, dan tamatan SMP adalah sebesar 25%.
4.2.2.2 Pendidikan Terakhir Petani Gula Merah
Tabel 4.8. Jumlah Petani Gula Merah Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No Tingkat Jumlah petani %
1 SD 1 14.29
2 SMP 3 42.86
3 SMA 3 42.86
Total 20 100 Sumber: Lampiran 9 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.8 dapat diketahui bahwa jumlah petani gula merah paling besar adalah tamatan SMA dan tamatan SMP sama yaitu mencapai 42,86%
sedangkan yang lainnya adalah tamatan SD sebesar 14,29%.
33
4.2.3 Jumlah Tanggungan Petani
4.2.3.1 Jumlah Tanggungan Sampel Petani Tuak
Tabel 4.9. Jumlah Petani Tuak Berdasarkan Jumlah Tanggungan
No Tanggungan Jumlah petani %
1 0-1 2 10
2 2-3 12 60
3 >4 6 30
Total 20 100
Sumber: Lampiran 1 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.9 dapat diketahui bahwa jumlah responden paling besar memiliki tanggungan 2-3 adalah sebesar 12 petani (60%). Sedangkan yang lainnya memiliki tanggungan > 4 adalah sebesar 6 petani (30%). Dan yang memiliki tanggungan yang paling sedikit 0-1 adalah sebesar 2 petani (10%).
4.2.3.2 Jumlah Tanggungan Sampel Petani Gula Merah
Tabel 4.10. Jumlah Petani Gula Merah Berdasarkan Jumlah Tanggungan
No Tanggungan Jumlah petani %
1 0-1 1 14,29
2 2-3 4 57,14
3 >4 2 28,57
Total 7 100
Sumber: Lampiran 9 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.10 dapat diketahui bahwa jumlah responden paling besar memiliki tanggungan 2-3 adalah sebesar 4 petani (57,14%). Sedangkan yang lainnya memiliki tanggungan > 4 adalah sebesar 2 petani (28,57%). Dan yang memiliki tanggungan yang paling sedikit 0-1 adalah sebesar 1 petani (14,29%).
4.2.4 Pengalaman Bertani Petani 4.2.4.1 Pengalaman Bertani Petani Tuak
Tabel 4.11. Jumlah Petani Berdasarkan Pengalaman Bertani Tuak
No Pengalaman Jumlah petani %
1 1-10 2 10
2 11-20 13 65
3 21-30 5 25
Total 20 100
Sumber: Lampiran 1 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.11 dapat diketahui bahwa jumlah responden paling besar memiliki pengalaman bertani 11-20 adalah sebesar 13 petani (65%). Sedangkan yang lainnya memiliki pengalaman bertani 21-30 adalah sebesar 5 petani (25%).
Dan yang memiliki pengalaman bertani yang paling sedikit 1-10 adalah sebesar 2 petani (10%).
4.2.4.2 Pengalaman Bertani Petani Gula Merah
Tabel 4.12. Jumlah Petani Berdasarkan Pengalaman Bertani Gula Merah
No Pengalaman Jumlah petani %
1 1 – 10 1 14,29
2 11 – 20 5 71,43
3 > 20 1 14,29
Total 7 100
Sumber: Lampiran 9 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.12 dapat diketahui bahwa jumlah responden paling besar memiliki pengalaman bertani 11-20 adalah sebesar 5 petani (71,43%). Sedangkan yang lainnya memiliki pengalaman bertani >20 dan pengalaman bertani 1-10 adalah sebesar 1 petani (14,29%).
35
4.2.5 Jumlah Pohon Aren yang dimiliki Petani 4.2.5.1 Jumlah Pohon Aren yang dimiliki Petani Tuak Tabel 4.13. Jumlah Pohon Aren yang dimiliki Petani Tuak
No Jumlah Pohon yang dimiliki Orang %
1 1 – 100 15 75
2 101 – 200 4 20
3 201 – 300 1 5
Jumlah 20 100
Sumber: Lampiran 1 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.13 dapat diketahui bahwa jumlah responden paling besar yang memiliki pohon aren 1-100 adalah sebesar 15 petani (75%). Sedangkan yang lainnya memiliki pohon aren 101-200 sebesar 4 petani (20%), dan sekaligus responden paling sedikit yang memiliki pohon aren 201-300 adalah sebesar 1 petani (5%).
4.2.5.2 Jumlah Pohon Aren yang dimiliki Petani Gula Merah Tabel 4.14. Jumlah Pohon Aren yang dimiliki Petani Gula Merah
No Jumlah Pohon yang dimiliki Orang %
1 1 – 150 3 42.86
2 151 – 300 2 28.57
3 > 300 2 28.57
Jumlah 7 100
Sumber: Lampiran 9 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.14 dapat diketahui bahwa jumlah responden paling besar yang memiliki pohon aren 1-100 adalah sebesar 15 petani (75%). Sedangkan yang lainnya memiliki pohon aren 101-200 sebesar 4 petani (20%), dan sekaligus responden paling sedikit yang memiliki pohon aren 201-300 adalah sebesar 1 petani (5%).
4.2.6 Jumlah Pohon Aren yang Berproduksi yang Dimiliki Petani
4.2.6.1 Jumlah Pohon Aren yang Berproduksi yang Dimiliki Petani Tuak Tabel 4.15. Jumlah Pohon Aren yang Berproduksi yang Dimiliki Petani Tuak
No Jumlah Pohon yang Berproduksi Orang %
1 1-10 13 65
2 11-20 7 35
Jumlah 20 100
Sumber: Lampiran 1 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.15 dapat diketahui bahwa jumlah responden paling besar yang memiliki pohon aren yang berproduksi 1-10 adalah sebesar 13 petani (65%).
dan sekaligus responden paling sedikit yang memiliki pohon aren yang berproduksi 11-20 adalah sebesar 1 petani (5%).
4.2.6.2 Jumlah Pohon Aren yang Berproduksi yang Dimiliki Petani Gula Merah
Tabel 4.16. Jumlah Pohon Aren yang Berproduksi yang dimiliki Petani Gula Merah
No Jumlah Pohon yang Berproduksi Orang %
1 1-50 4 57,14
2 51-100 2 28,57
3 101-150 1 14,29
Jumlah 7 100
Sumber: Lampiran 9 (Diolah)
Dari Tabel 4.16 dapat diketahui bahwa jumlah responden paling besar yang memiliki pohon aren yang berproduksi 1-50 adalah sebesar 4 petani (57,14%), yang lainnya memiliki pohon aren yang berproduksi 51–100 sebesar 2 petani (28,57%) dan sekaligus responden paling sedikit yang memiliki pohon aren yang berproduksi 101-150 adalah sebesar 1 petani (14,29%).
37
4.2.7 Jumlah Pohon Aren yang Disadap yang Dimiliki petani
4.2.7.1 Jumlah Pohon Aren yang Disadap yang Dimiliki Petani Tuak Tabel 4.17. Jumlah Pohon Aren yang Disadap yang Dimiliki Petani Tuak
No Jumlah Pohon yang Disadap Orang %
1 1-2 2 10
2 3-4 15 75
3 5-6 3 15
Jumlah 20 100
Sumber: Lampiran 1 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.17 dapat diketahui bahwa jumlah responden paling besar yang memiliki pohon aren yang disadap 3 - 4 adalah sebesar 15 petani (75%), yang lainnya memiliki pohon aren yang disadap 5 – 6 sebesar 3 petani (15%) dan sekaligus responden paling sedikit yang memiliki pohon aren yang disadap 1 - 2 adalah sebesar 2 petani (10%).
4.2.7.2 Jumlah Pohon Aren yang Disadap yang Dimiliki Petani Gula Merah Tabel 4.18. Jumlah Pohon Aren yang Disadap yang Dimiliki Petani Gula
Merah
No Jumlah Pohon yang Disadap Orang %
1 1 – 15 3 42,86
2 16 – 30 3 42,86
3 > 30 1 14,29
Jumlah 7 100
Sumber: Lampiran 9 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.18 dapat diketahui bahwa jumlah responden paling besar
adalah yang memiliki pohon aren yang disadap 1 – 15 dan pohon aren yang disadap 16 – 30 adalah sebesar 3 petani (42,86%) dan sekaligus responden paling
sedikit yang memiliki pohon aren yang disadap > 30 adalah sebesar 1 petani (14,29%).
4.3 Karakteristik Pedagang Pengumpul Tuak
Pedagang pengumpul adalah pedagang yang mengumpulkan hasil panen dari berbagai petani, biasanya pedagang pengumpul menjualnya kembali ke pedagang pengecer. Adapun karakteristik pedagang pengumpul dalam penelitian ini meliputi umur, tingkat pendidikan, dan lama berdagang.
Tabel 4.19. Karakteristik Pedagang Pengumpul Tuak
No Karakteristik (Tahun) Range Rataan
1. Umur 31-33 32
2. Lama Berdagang 8-10 9
Sumber: Lampiran 21 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.19 diatas dilihat bahwa rata-rata umur pedagang pengecer adalah 32 tahun dan lama berdagang rata-rata 9 tahun. Pendidikan rata-rata
pedagang pengecer adalah SMA, hal ini menunjukkan bahwa pedagang pengumpul memiliki pengetahuan yang baik untuk berdagang.
4.4 Karakteristik Pedagang Pengecer
4.4.1 Karakteristik Pedangan Pengecer Tuak
Pedagang pengecer dalam penelitian ini adalah pedagang yang menjual tuak langsung ke konsumen akhir. Adapun karakteristik pedagang pengecer dalam penelitian ini adalah umur dan lama berdagang.
39
Tabel 4.20. Karakteristik Pedagang Pengecer Tuak
No Karakteristik (Tahun) Range Rataan
1. Umur 19-43 36
2. Lama Berdagang 2-10 7
Sumber: Lampiran 22 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.20 diatas dilihat bahwa rata-rata umur pedagang pengecer adalah 36 tahun dan lama berdagang rata-rata 7 tahun. hal ini menunjukkan bahwa pedagang pengecer memiliki pengetahuan yang baik untuk berdagang.
4.4.2 Karakteristik Pedagang Pengecer Gula Merah
Pedagang pengecer dalam penelitian ini adalah pedagang yang menjual gula merah langsung ke konsumen akhir. Adapun karakteristik pedagang pengecer dalam penelitian ini adalah umur dan lama berdagang.
4.4.2.1 Karakteristik Pedagang Pengecer Gula Merah Pada Petani I Tabel 4.21. Karakteristik Pedagang Pengecer Gula Merah Pada Petani I
No Karakteristik (Tahun) Range Rataan
1. Umur 33-45 38
2. Lama Berdagang 4-8 6
Sumber: Lampiran 23 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.21 diatas dilihat bahwa rata-rata umur pedagang pengecer adalah 38 tahun dan lama berdagang rata-rata 6 tahun. Pendidikan rata-rata pedagang pengecer adalah SMA, hal ini menunjukkan bahwa pedagang pengecer memiliki pengetahuan yang baik untuk berdagang.
4.4.2.1 Karakteristik Pedagang Pengecer Gula Merah Pada Petani II Tabel 4.22. Karakteristik Pedagang Pengecer Gula Merah Pada Petani II
No Karakteristik (Tahun) Range Rataan
1. Umur 20-36 27
2. Lama Berdagang 2-8 4
Sumber: Lampiran 24 (Diolah), 2018
Dari Tabel 4.22 diatas dilihat bahwa rata-rata umur pedagang pengecer adalah 27 tahun dan lama berdagang rata-rata 4 tahun. Pendidikan rata-rata pedagang pengecer adalah SMA, hal ini menunjukkan bahwa pedagang pengecer memiliki umur yang produktif.
41
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Analisis Usahatani Tuak
5.1.1 Analisis Biaya Usaha Tuak di Desa Buluh Awar 5.1.1.1 Biaya Tetap
a) Biaya PBB (Pajak Bumi Bangunan)
Besarnya biaya PBB dalam usaha tuak selama periode produksi (1 Tahun) rata-rata sebesar Rp 93.700 per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya pajak bumi bangunan dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Biaya PBB (Pajak Bumi Bangunan) pada Usaha Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar
No. Sampel Luas lahan (Ha) Biaya PBB (Rp/Tahun)
1 0,5 50,000.00
Sumber: Lampiran 7 (Diolah), 2018
b) Biaya Alat Perlengkapan
Besarnya biaya alat perlengkapan dalam usaha tuak selama periode produksi (1 tahun) rata-rata sebesar Rp 134.420,43 per usaha per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya alat dan perlengkapan dapat dilihat pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2. Biaya Penyusutan Alat Perlengkapan pada Usaha Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar
No.
Sumber: Lampiran 6 (Diolah), 2018
Tabel 5.2 memperlihatkan persentase yang terbesar dari penggunaan alat perlengkapan pada usaha pengolahan tuak adalah biaya alat perlengkapan jerigen besar yaitu sebesar 34,09 % dan terendah adalah biaya alat perlengkapan balbal yaitu sebesar 2,23 % dari keseluruhan biaya alat.
43
Dari uraian-uraian biaya tersebut diatas, maka rata-rata biaya tetap pada usaha pengolahan tuak selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar sebesar Rp 228.120,83 per usaha per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya tetap ini dapat dilihat pada Tabel 26.
Tabel 5.3. Rata-Rata Biaya Tetap per Pertani pada Usaha Pengolahan Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar No. Uraian Biaya Biaya Rata-rata (Rp) Persentase (%)
1 Biaya PBB 93.700,00 41,07
2 Biaya Alat Perlengkapan 134.420,83 58,93
Total 228.120,83 100,00
Sumber: Lampiran 6,7 (Diolah), 2018
Tabel 5.3 memperlihatkan persentase yang terbesar dari komponen biaya tetap pada usaha tuak adalah biaya alat perlengkapan yaitu sebesar 58,93 % dan sisanya 41,07 % adalah biaya PBB.
5.1.1.2 Biaya Variabel
Biaya variabel terdiri dari biaya bahan pendukung dan tenaga kerja.
Besarnya biaya bahan pendukung dan tenaga kerja dalam usaha pengolahan tuak selama periode produksi (1 tahun) yaitu sebagai berikut:
A. Biaya Bahan Pendukung
Dalam pembuatan Tuak di Desa Buluh Awar bahan pendukung yang diperlukan adalah raru dan pupuk. Besarnya biaya bahan pendukung dalam usaha
pengolahan tuak selama periode produksi (1 tahun) rata-rata sebesar Rp 1.342.500,00 per usaha per tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel berikut ini:
Tabel 5.4. Rata-Rata Biaya Bahan Pendukung per Petani pada Usaha Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar
No. Jenis Bahan Pendukung Biaya Rata-rata (Rp) Persentase (%) 1 Raru
1.323.000,00 98,55
2 Pupuk 19.500,00 1,45
Total 1.342.500,00 100
Sumber : Lampiran 7 (Diolah), 2018
Tabel 5.4 memperlihatkan persentase yang terbesar dari penggunaan bahan pendukung pada usaha pengolahan tuak adalah biaya raru yaitu sebesar 98,55% dan terendah adalah biaya pupuk yaitu sebesar 1,45% dari keseluruhan biaya bahan baku
B. Biaya Tenaga Kerja
Sumber tenaga kerja dalam penyelenggaraan usaha pengolahan tuak di Desa Buluh Awar seluruhnya menggunakan tenaga kerja dalam keluarga (TKDK). Curahan tenaga kerja dalam keluarga ini meliputi kegiatan persiapan pembukaan lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian hama penyakit tanaman, pemanenan dan pengolahan. Dalam menghitung tenaga kerja digunakan hari kerja orang (HKO), dimana dalam 1 hari kerja sebesar 8 jam kerja.
5.1.1.3 Biaya Total (Total Cost)
Biaya total merupakan hasil dari penjumlahan antara biaya tetap dengan biaya variabel. Analisis ini digunakan untuk mengetahui total biaya yang dikeluarkan oleh petani tuak selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar. Besarnya biaya total yang dikeluarkan oleh petani pada usaha pengolahan
tuak selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar adalah
45
rata-rata Rp 1.570.620,83 per usaha per tahun. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya total pada usaha pengolahan tuak dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.5. Rata-rata Biaya Total per Petani pada Usaha Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar
No. Uraian Biaya Biaya Rata-rata (Rp) Persentase (%)
1 Biaya Tetap 228.120,83 14,52
2 Biaya Variabel 1.342.500,00 85,48
Total 1.570.620,83 100
Sumber: Lampiran 7 (Diolah), 2018
Tabel 5.5 menjelaskan biaya total dari usaha pengolahan tuak selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar didominasi oleh biaya variabel yaitu sebesar 85,48 % dan sisanya 14,52% adalah biaya tetap.
5.1.2 Analisis Pendapatan
5.1.2.1 Total Penerimaan (Total Return)
Total penerimaan (Total Return) adalah perkalian antara produksi tuak yang diperoleh petani dengan harga jual tuak saat dilakukannya penelitian ini.
Analisis digunakan untuk mengetahui perolehan total penerimaan pada usaha pengolahan tuak selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar.
Produksi tuak yang diperoleh petani selama periode produksi (1 tahun)
rata-rata sebesar 15.720 ℓ per tahun, dimana harga yang berlaku pada saat penelitian Rp 2.000 per ℓ, maka penerimaan dari hasil pengolahan tuak rata-rata
sebesar Rp 31.440.000 per usahatani per tahun.
Tabel 5.6. Total Rata-rata Penerimaan pada Usaha Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar
No. Sampel Produksi Nira (ℓ) Harga (Rp/ℓ) Penerimaan (Rp)
Total 314,400 40,000 628,800,000
Rataan 15,720 2,000 31,440,000
Sumber: Lampiran 8 (Diolah), 2018 5.1.2.2 Pendapatan
Pendapatan adalah besar pendapatan yang diperoleh petani tuak dari usaha yang dijalankan. Dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5.7. Total Pendapatan per Petani pada Usaha Tuak Selama Periode Produksi (1 Tahun) di Desa Buluh Awar
No. Uraian Biaya Biaya Rata-rata (Rp)
1 Penerimaan (TR) 31.440.000,00
2 Total Biaya (TC) 1.570.620,83
Total Pendapatan 29.869.379,17
Sumber: Lampiran 8 (Diolah), 2018
47
Pada Tabel 5.7 dapat dilihat bahwa pada usaha pengolahan tuak selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar rata-rata total penerimaan yang diperoleh petani tuak adalah sebesar Rp 31.440.000,00 per tahun dan rata-rata total biaya yang dikeluarkan oleh pengrajin tuak adalah sebesar Rp 1.570.620,83 per tahun sedangkan rata-rata pendapatan yang diperoleh petani tuak di Desa Buluh Awar adalah sebesar Rp 29.869.379,17 per tahun.
5.1.3 Analisis Kelayakan Tuak
Untuk menilai suatu usaha tuak dalam rangka memperoleh suatu tolak ukur yang mendasar dalam kelayakan investasi telah dikembangkan suatu metode analisis yaitu dengan kriteria investasi agar dapat ditarik beberapa kesimpulan apakah benefit suatu kesempatan dalam berinvestasi. Dengan demikian, kriteria investasi merupakan suatu alat apakah suatu usaha yang dilaksanakan layak atau tidak layak. Analisis kelayakan usaha tuak merupakan hal yang penting untuk dianalisis. Analisis kelayakan usaha yang dijalankan tentunya sangat membantu para petani untuk melanjutkan usahanya.
5.1.3.1 BEP Volume Produksi
BEP merupakan keadaan dimana produksi dalam satu perusahaan tidak ada untung dan tidak ada rugi, impas antara biaya yang dikeluarkan perusahaan dengan pendapatan yang diterima. BEP Volume Produksi dapat diperoleh dengan menggunakan perhitungan dengan membandingkan total biaya dengan harga jual di tingkat petani, yaitu sebagai berikut:
Total Biaya Produksi BEP Volume Produksi =
Tingkat Harga
BEP Volume Produksi =
= 785,31 ℓ
Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume produksi yaitu rata-rata sebesar 785,31 ℓ per tahun, dimana produksi lebih besar daripada BEP volume produksi (15.720 > 785,31 ℓ) maka usaha tuak dinyatakan layak untuk
diusahakan.
5.1.3.2 BEP Harga Produksi
Selain BEP Volume Produksi analisis kelayakan usaha tuak juga dapat dianalisis melalui BEP harga produksi. BEP harga produksi dapat diperoleh dengan menggunakan perhitungan dengan membandingkan total biaya dengan total produksi, yaitu sebagai berikut :
BEP Harga Produksi =
BEP Harga Produksi =
= Rp 99.91
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga produksi yaitu rata-rata sebesar Rp 99.91 dimana harga tuak lebih besar daripada BEP harga produksi (Rp 2.000 > Rp 99,91) maka usaha tuak dinyatakan layak untuk diusahakan.
5.1.3.3 Perhitungan R/C Ratio
R/C Ratio adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui apakah usaha yang dijalankan tersebut layak atau tidak, maka dapat digunakan perhitungan dengan membandingkan total penerimaan dengan total biaya.
Ratio Penerimaan dan Biaya = R/C
49
Dimana :
R = Penerimaan Usahatani (Revenue) (Rp/Ha).
C = Biaya Usahatani (Cost) (Rp/Ha).
Ratio Penerimaan dan Biaya =
= 20,01
Dari hasil pengolahan data pada usaha petani selama periode produksi (1 tahun) di Desa Buluh Awar menunjukkan bahwa nilai R/C Ratio yang diperoleh petani tuak rata-rata 20,01 dimana R/C lebih besar dari 1 (20,01 > 1) berarti usaha tersebut secara ekonomi layak untuk diusahakan, karena setiap pengeluaran investasi Rp 1.000 maka hasil yang diperoleh adalah Rp 20.010.
5.1.3.4 Upah Minimum Provinsi (UMP)
Upah minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap, dan upah minimum provinsi adalah upah minimum yang berlaku untuk kabupaten/kota di satu provinsi. Upah Minimum Provinsi (UMP) bisa menjadi acuan untuk mengetahui apakah usaha yang dijalankan tersebut layak atau tidak dengan cara membandingkan pendapatan usahatani terhadap UMP tersebut. Dalam surat keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 188.44/575/KPTS/2017 tersebut ditetapkan bahwa UMP Sumatera
Upah minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap, dan upah minimum provinsi adalah upah minimum yang berlaku untuk kabupaten/kota di satu provinsi. Upah Minimum Provinsi (UMP) bisa menjadi acuan untuk mengetahui apakah usaha yang dijalankan tersebut layak atau tidak dengan cara membandingkan pendapatan usahatani terhadap UMP tersebut. Dalam surat keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 188.44/575/KPTS/2017 tersebut ditetapkan bahwa UMP Sumatera