BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Definisi dan Batasan Operasional
3.5.2 Batasan Operasional
1.Daerah penelitian adalah Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai.
2.Sampel adalah nelayan di Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai. .
3.Penelitian dilaksanakan pada tahun 2019
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
4.1. Deskripsi Kelurahan Perjuangan 4.1.1. Kondisi Geografis
Kelurahan Perjuangan Kecamatan Teluk Nibung terletak di sebelah utara dan merupakan salah satu Kecamatan dengan pusat pemerintahan di Kelurahan Pematang Pasir yang berjarak dengan :
Pusat kependudukan Kantor walikota Tanjungbalai 12 km Pusat Kependudukan Ibukota provinsi 201 km
Kelurahan terjauh dari pusat kecamatan 5 km
Kemudian Kelurahan Perjuangan mempunyai batas sebagai berikut :
Sebelah Utara : berbatasan dengan Kelurahan Pematang pasir Kecamatan Teluk Nibung
Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kelurahan Sei Asahan Kecamatan Tanjungbalai
Sebalah Timur : berbatasan dengan Kelurahan Sei Apung Jaya / Asahan Kecamatan Tanjungbalai/Asahan
Sebelah Barat : berbatasan dengan Kelurahan Pematang Pasir Kecamata Teluk Nibung
Jarak orbitasi ke ibukota kecamatan dengan kendaraan bermotor ditempuh sejauh 4 km dengan lama jarak kendaraan bermotor sekitar 15 menit .Jarak ibukota kabupaten dengan kendaraan bermotor sekitar 30 menit ,atau berjalan kaki dapat di tempuh dengan waktu sekitar 1,5 jam.sedangkan kendaraan umum menuju Ibukota
/ kabupaten/kota tidak tersedia. Jarak ke ibukota provinsi 128 km dengan lama jarak tempuh memakai kendaraan bermotor sekitar 4 jam .
4.1.2. Tata Guna Lahan
Kelurahan Perjuangan mempunyai luas wilayah 128 Ha dimanfaatkan oleh penduduk untuk pemukiman,kuburan, pekarangan,perkantoran dan luas sarana umum lainnya. secara rinci pemanfaatan lahan di Kelurahan Perjuangan dapat dilihat pada Tabel 4.1
Tabel 4.1 Luas Lahan Menurut Peruntukan di Kelurahan Perjuangan Tahun 2018
No. Peruntukan Lahan Luas Areal (Ha/m2)
Persentase (%)
1 Pemukiman 14,70 11,48
2 Persawahan - -
3 Pemakaman 0,125 0.97
4 Pekarangan 1,4 1,09
5 Taman - -
6 Perkantoran 1,50 1,17
7 Sekolah 1 0,78
8 Lain-lain 110,225 86,11
Jumlah 128 100
Sumber: Kantor Kelurahan Perjuangan 2019
Dari Tabel 4.1dapat dilihat luas areal yang terbesar di Kelurahan Perjuangan adalah pemukiman seluas 14,70 Ha/m2 dengan persentase 11,48%, dan luas areal yang paling sedikit di Kelurahan Perjuangan adalah sekolah yaitu sebesar1 Ha/m2 dengan persentase 0,78%, dan pemakaman yaitu sebesar 0,125 Ha/m2 dengan persentase 0,97%.
4.1.3. Kondisi Demografis
Komposisi penduduk Kelurahan Perjuangan berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dalam Tabel 4.2 sebagai berikut:
Tabel 4.2 Komposisi Penduduk di Kelurahan Perjuangan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2018
Kelurahan Jumlah (Jiwa) Laki-laki(Jiwa) Perempuan(Jiwa)
Perjuangan 8.721 4.494 4.227
Sumber: Kantor Kelurahan 2019
Berdasarkan Tabel4.2 dapat diketahui bahwa berdasarkan jenis kelamin penduduk yang lebih banyak adalah laki-laki yaitu 4.494 jiwa, sedangkan perempuan 4.227 jiwa.
Komposisi penduduk Kelurahan Perjuangan berdasarkan umur dapat dilihat dalam Tabel 4.3 sebagai berikut:
Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kelurahan Perjuangan Tahun 2018
No KelompokUmur
(Tahun) Jiwa Persentase
(%)
1 0-9 1507 17,28
2 10-16 1659 19,02
3 17-25 1691 19,38
4 26-40 2232 25,59
5 >41 1632 18,71
Jumlah 8721 100 Sumber: Kantor Kelurahan 2019
Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk menurut umur dengan kelompok tertinggi adalah sebanyak 2232 jiwa dengan persentase 25,59% dan kelompok umur yang paling kecil adalah sebanyak 1507 jiwa dengan 17,28%.
Komposisi penduduk Kelurahan Perjuangan berdasarkan matapencaharian dapat dilihat dalam Tabel 4.4 sebagai berikut:
Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Menurut Matapencaharian di Kelurahan Perjuangan Tahun 2018
No. Mata Pencaharian Jumlah KK(Jiwa) Persentase(%)
1 PNS/ Swasta 55 0,63%
Berdasarkan Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa penduduk Kelurahan Perjuangan yang paling banyak menurut matapencaharian yang utama sebagai nelayan yaitu sebesar 1437 KK dengan persentase 16,48% dan matapencaharian yang paling kecil adalah TNI/POLRI sebesar 3 KK dengan persentase 0,03%.
4.2. Karakteristik Nelayan Sampel
Karakteristik nelayan sampel di Kelurahan Perjuangan Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai meliputi :
1) Umur Nelayan
Umur nelayan merupakan salah satu faktor penting dalam melakukan kegiatan mata pencahariannya. Umur berpengaruh terhadap kemampuan fisik nelayan dalam mengelola kehidupannya. Nelayan yang berusia produktif dianggap memiliki kemampuan fisik yang baik dalam mencari mata pencahariannya
dibanding dengan nelayan usia tidak produktif karena dianggap kemampuan fisik sudah menurun sehingga tidak maksimal dalam mencari mata pencahariannya.
Klasifikasi nelayan sampel menurut kelompok umur terlihat pada Tabel 4.5 Tabel 4.5 Umur Nelayan Sampel di Kelurahan Perjuangan
No Umur
Sumber : Diolah dari Lampiran 1.
Berdasarkan karakteristik umur nelayan sampel berada di range 30-59 tahun, dengan rataan sebesar 47 tahun.
2) Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan nelayan merupakan salah satu factor penting dalam menerima informasi, inovasi dan teknologi khususnya yang berkaitan dengan tingkat pendidikan anak nelayan. Pendidikan pada umumnya akan mempengaruhi pola berfikir para nelayan.
Tingkat pendidikan nelayan sampel di Kelurahan Perjuangan dapat dilihat pada Tabel 4.6
Tabel 4.6 Tingkat Pendidikan Nelayan Sampel di Kelurahan Perjuangan
No Tingkat
Sumber : Diolah dari Lampiran 1.
3) Pengalaman Melaut
Pengalaman melaut mempengaruhi pengambilan keputusan dalam berinovasi. Nelayan yang sudah lebih lama melaut akan lebih mudah menerapkan inovasi dibandingkan dengan mereka yang masih pemula dalam melaut hal ini dikarenakan pengalaman lebih banyak sehingga dapat membuat perbandingan dalam pengambilan keputusan untuk mengadopsi suatu inovasi.
Pengalaman melaut nelayan sampel di Kelurahan Perjuangan dapat dilihat pada Tabel 4.7
Tabel 4.7 Pengalaman Nelayan Sampel di Kelurahan Perjuangan No
Sumber : Diolah dari Lampiran 1.
4) Tingkat Pendapatan
Keputusan seseorang dalam memilih pekerjaan sangat dipengeruhi oleh sumber daya atau kemampuan dalam diri individu, jenis pekerjaan dan tingkat pengeluaran seseorang yang juga menentukan tingkat kesejahteraan dalam status sosial ekonomi seseorang. Nelayan dengan tingkat pendapatan semakin tinggi biasanya akan termotivasi untuk meningkatkan tingkat pendidikan anaknya.
Tingkat Pendapatan nelayan sampel di Kelurahan Perjuangan dapat dilihat pada Tabel 4.8
Tabel 4.8 Tingkat Pendapatan Nelayan Sampel di Kelurahan Perjuangan
Sumber : Diolah dari Lampiran 1.
5) Tanggungan Dalam Keluarga
Nelayan yang memiliki jumlah tanggungan yang besar harus mampu dalam mengambil keputusan yang tepat, agar tidak mengalami resiko yang fatal bila tidak dapat melaut.
Tanggungan Dalam keluarga nelayan sampel di Kelurahan Perjuangan dapat dilihat pada Tabel 4.9
Sumber : Diolah dari Lampiran 1.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Kondisi Eksisting Keadaan Sosial Ekonomi dan Lingkungan Keluarga Nelayan.
5.1.1. Kondisi Sosial Keluarga Nelayan
1. Umur Nelayan
Berdasarkan kondisi eksisting di Kecamatan Teluk Nibung khususnya di Kelurahan Perjuangan umur nelayan berada pada rentang 30-59 tahun dengan rata rata usia 47 tahun. Diusia itu nelayan tergolong pada usia produktif sehingga mampu bekerja maksimal.
2. Pengalaman
Pengalaman melaut masyarakat nelayan di Kelurahan Perjuangan tergolong cukup tinggi berada pada rentang 15-40 tahun dengan rata rata pengalaman 24 tahun. Kondisi pengalaman ini dikarenakan para nelayan sejak kecil sudah mengikuti dan terlibat dalam aktivitas keseharian nelayan dalam melaut.
3. Tingkat Pendidikan Nelayan
Masyarakat nelayan memiliki tingkat pendidikan yang masih rendah, dimana rentang pendidikan nelayan berada pada 0-12 tahun, mayoritas masyarakat nelayan hanya bersekolah pada tingkat SMP, hal itu disebabkan karena nelayan menganggap pendidikan bukanlah prioritas yang utama, nelayan lebih memanfaatkan keahlian dalam melaut untuk mencari penghasilan. Kondisi ini didukung karena tempat tinggal yang berada pada pesisir laut.
5.1.2. Kondisi Ekonomi Keluarga Nelayan 1. Pendapatan Rumah Tangga
Masyarakat nelayan memiliki tingkat pendapatan yang masih rendah, berada pada rentang Rp 200.000- 725.000 dengan rata rata di Rp. 434.400 per bulan. Hal ini dikarenakan keterbatasan input dan teknologi yang dimiliki nelayan di daerah penelitian, sehingga para nelayan masih menggunakan cara tradisional dalam melaut. Melaut membutuhkan biaya dan usaha yang lebih besar, sehingga berdampak pada pendapatan yang diterima para nelayan di daerah penelitian.
Tabel 5.1 Total Rata - Rata Pendapatan Nelayan per Bulan
No Keterangan Total (Rp)
1 Penerimaan (Rp) 1.632.700
2 Pengeluaran (Rp) 1.197.997
3 Pendapatan (Rp) 434.703
Sumber: Lampiran 5
Tabel diatas memperlihatkan bahwa penerimaan yang di terima nelayan sebesar Rp. 1.632.700 dimana ini merupakan penerimaan nelayan dengan hasil tangkapan dan penerimaan dari pekerjaan sampingan (Lampiran). Pendapatan nelayan per trip dalam satu bulan adalah sebesar Rp 434.703. Pendapatan tersebut merupakan pendapatan bersih nelayan yang telah dikurang dengan seluruh biaya pengeluaran rumah tangga nelayan yaitu biaya makan, listrik, transportasi, pulsa, rokok, dan sekolah anak.
2. Jumlah Tanggungan Keluarga
Berdasarkan hasil penelitian, kondisi eksisting di daerah penelitian menunjukkan jumlah tanggungan nelayan berada pada rentang 2-6 jiwa, dengan rata rata jumlah tanggungan nelayan yaitu sebanyak 4 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat jumlah tanggungan nelayan didaerah penelitian masih cukup tinggi,
sehingga semakin banyak nelayan yang mempunyai anak dan tanggungan, artinya semakin banyak pula jumlah kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, sehingga mendorong nelayan untuk bekerja lebih maksimal guna memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
3. Pengeluaran Rumah Tangga
Berdasarkan hasil penelitian, kondisi eksisting di daerah penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengeluaran rumah tangga berada pada rentang Rp.
990.000- 1.147.000 dengan rataan Rp.1.198.000 per bulan. Pengeluaran terbesar yaitu terletak pada kebutuhan pangan, setelah itu diikuti oleh pengeluaran non pangan seperti listrik, tranportasi, pulsa, rokok, dan biaya sekolah anak. Besarnya nilai pengeluaran non pangan yang lebih kecil dari pengeluaran pangan juga menunjukkan tingkat kesejahteraan nelayan di kelurahan Perjuangan masih rendah.
Berdasarkan hasil penelitian rata rata tingkat pengeluaran nelayan di daerah penelitian yaitu Rp. 1.197.997 per bulan dengan uraian sebagai berikut.
Tabel 5.2 Total Rata - Rata Biaya Rumah Tangga yang dikeluarkan Nelayan per Bulan
No Jenis Biaya Rumah Tangga Rp
1 Biaya
Makan (Rp) 536.666
Listrik (Rp) 102.333
Transportasi (Rp) 117.333
Pulsa (Rp) 117.666
Rokok (Rp) 108.333
Sekolah (Rp) 215.666
Jumlah 1.197.997
Sumber: Lampiran 2
Dari Tabel 5.1 dapat diketahui bahwa total biaya yang dikeluarkan keluarga nelayan per bulan adalah sebesar Rp. 1.197.997 dengan rata – rata biaya makan
yaitu Rp.536.666, biaya listrik Rp.102.333, biaya Transportasi Rp.117.666 , biaya Pulsa Rp.117.666, biaya rokok Rp. 108.333, biaya Sekolah 215,666.
Adapun biaya rumah tangga yang dikeluarkan adalah sebagai berikut:
1. Biaya Makan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan rata rata biaya makan yang harus dikeluarkan nelayan dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan sebesar Rp.
536.666. Kebutuhan pangan meliputi beras dan lauk pauk yang harus disediakan untuk memnuhi kebutuhan sehari hari demi menunjang kegiatan aktifitas melaut.
2.Biaya Listrik
Listrik merupakan sumber energi yang sangat penting bagi kehidupan sehari hari untuk menunjang aktifitas sehari hari. Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan rata rata biaya listrik yang harus dikeluarkan nelayan sebesar Rp.
102.333.
3. Biaya Transportasi
Transportasi yang sehari hari digunakan nelayan untuk beraktifitas di daerah penelitian mayoritas transportasi roda dua. Jenis bahan bakar yang digunakan yaitu jenis bahan bakar premium yang didapatkan di SPBU. Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan rata rata biaya transportasi yang harus dikeluarkan nelayan sebesar Rp. 117.333.
4. Biaya Pulsa
Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain, maka ada satu hal yang pasti menjadi kebutuhan pokok setiap manusia, yaitu komunikasi. Perkembangan komunikasi memberikan kemudahan tidak hanya dalam pola komunikasi tetapi juga dalam menerima informasi. Hal inilah yang
dirasakan juga oleh nelayan didaerah penelitian. Komunikasi tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan aktifitas sehari hari tentunya untuk mengakses hal tersebut ada biaya yang harus dikeluarkan yaitu biaya pulsa. Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan rata rata biaya pulsa yang harus dikeluarkan nelayan sebesar Rp.
117.666.
5. Biaya Rokok
Hal yang tidak dapat dipisahkan juga dalam aktifitas sehari hari para nelayan didaerah penelitian yaitu Rokok. Dimana mayoritas nelayan di daerah penelitian masih menjadikan rokok sebagai salah satu hal yang harus terpenuhi. Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan rata rata biaya rokok yang harus dikeluarkan nelayan sebesar Rp. 108.333.
6. Biaya Sekolah
Kebutuhan akan biaya pendidikan bagi anak sekolah merupakan tanggungan wajib yang haruskan dikeluarkan para nelayan demi masa depan anak anak nelayan di daerah penelitian. Adanya bantuan pemerintah dalam bentuk wajib belajar 9 tahun memberikan keringanan bagi para nelayan, namun hal itu belum sepenuhnya menghilangkan kewajiban nelayan dalam hal pendidikan bagi anak. Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan rata rata biaya anak sekolah yang harus dikeluarkan nelayan sebesar Rp. 215.666.
5.1.3. Kondisi Lingkungan Keluarga Nelayan
Adapun kondisi lingungan yang dimaksud dalam hal ini adalah jarak rumah ke sekolah, motivasi nelayan dalam menyekolahkan anak, serta interaksi keluarga nelayan terhadap lingkungan sosial .
1. Jarak ke Sekolah
Berdasarkan kondisi eksisting menunjukkan bahwa jarak tempuh yang harus dilalui anak dari rumah menuju lokasi sekolah berada pada rentang 2-6 km, dengan rataan jarak kesekolah yaitu 3 km. Transportasi yang digunakan oleh anak nelayan untuk kesekolah umumnya yaitu sepeda motor dengan didampingi orang tua hingga kesekolah.
2.Motivasi
Motivasi dalam hal ini adalah keinginan atau harapan nelayan dalam meningkatkan pendidikan anak .
Berdasarkan kondisi eksisting tingkat motivasi nelayan masih rendah, hal ini dikarenakan pendapatan nelayan yang masih rendah, sehingga anak anak nelayan lebih tertarik untuk ikut melaut agar mendapatkan penghasilan.
3. Interaksi
Adapun bentuk interaksi dalam hal ini adalah hubungan sosial nelayan baik antar individu maupun kelompok seperti antar tetangga, serikat kemalangan masjid,dan kelompok nelayan
Berdasarkan kondisi eksisting interkasi pada masyarakat nelayan tergolong cukup tinggi dimana hal ini disebabkan masyarakat memiliki profesi yang sama sebagai nelayan, dan juga kondisi kelurahan Perjuangan tergolong pada daerah padat penduduk sehingga terbangun interaksi yang baik antar masyarakat.
5.2. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pendidikan Anak Nelayan.
Dalam penelitian ini, terdapat 9 (sembilan) faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan anak nelayan yang dikelompokkan dalam faktor sosial ,ekonomi
pengeluaran/ biaya, jumlah tanggungan, jarak, motivasi , dan interaksi. Sebelum dilakukannya uji statistik dengan menggunakan SPSS, sebelumnya perlu diketahui jika data yang digunakan dalam penelitian ini sebaiknya tidak boleh menyimpang dari asumsi BLUE (Best, Linier, Unbiased, dan Estimator).Untuk menguji hal tersebut, maka digunakan Uji Asumsi Klasik yang terdiri dari Uji Normalitas, Heterokedastisitas, dan Multikolinieritas.
5.2.1. Uji Asumsi Klasik (Ordinary Least Square) 1. Uji Normalitas
Tujuan Uji Normalitas adalah untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel terikat dan variabel bebas mempunyai distribusi normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Deteksi normalitas dilakukan dengan melihat grafik Normal Probability Plot dan uji Kolmogorov Smirnov.
Gambar 5.1. Grafik Histogram
Grafik Histogram pada Gambar 5.1.menunjukkan bahwa pola distribusi data adalah normal, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas.
Gambar 5.2. Normal P-Plot of Regression Standardized Residual
Gambar 5.2.menunjukkan bahwa data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas.
Tabel 5.3 Hasil Uji Kolmogrov Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized
Residual
N 30
Normal Parametersa,,b Mean .0000000
Std. Deviation 1.85735451
Asymp. Sig. (2-tailed) .559
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Tabel 5.3. menunjukkan bahwa nilai Kolmogorov Smirnov yang terdapat pada tabel di atas adalah 0,559> 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima H1 ditolak, yang berarti distribusi sampel tidak berbeda nyata dengan distribusi normal atau sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Berdasarkan hasil Uji Normalitas, baik dengan menggunakan metode Grafik Histogram, dengan Normal P-Plot of Regression Standardized Residual, maupun dengan menggunakan Tabel Kolmogrov – Smirnov Test, maka diperoleh hasil bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas sehingga dapat diproses dengan uji selanjutnya.
1. Uji Heterokedastisitas.
Uji Heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamtan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka
disebut Homokedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedastisitas. Uji statistik Glejser dipilih karena lebih dapat menjamin keakuratan hasil dibandingkan dengan uji grafik plot yang dapat menimbulkan bias. Uji Glejser dilakukan dengan meregresikan variabel bebas terhadap nilai absolute residual-nya terhadap variabel dependen .Kriteria yang digunakan untuk menyatakan apakah terjadi heteroskedastisitas atau tidak diantara data pengamatan dapat dijelaskan dengan menggunakan koefisien signifikansi.Koefisien signifikansi harus dibandingkan dengan tingkat signifikansi yang ditetapkan sebelumnya (5%).
Apabila koefisien signifikansi lebih besar dari tingkat signifikansi yang ditetapkan, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas (homoskedastisitas). Jika koefisien signifikansi lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan, maka dapat disimpulkan terjadi heteroskedastisitas.
Tabel 5.4 Hasil Uji t-StatistikUnstandardized Residual
Tabel 5.4.menunjukkan bahwa tingkat signifikansi seluruh variabel bebas lebih besar dari α (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima dan H1ditolak, yang berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi atau model regresi merupakan homokedastisitas.
2. Uji Multikolinieritas
Tujuan multikolineritas adalah untuk mengetahui suatu kondisi apakah didalam model regresi tersebut terdapat korelasi variabel independen diantara satu sama lainnya.
Untuk memeriksa apakah terjadi multikolinearitas atau tidak dapat dilihat dari nilai variance inflation factor (VIF). Nilai VIF yang lebih dari 10 diindikasi suatu variabel bebas terjadi multikolinearitas.
Tabel 5.5 Hasil Uji Multikolinieritas
Berdasarkan Tabel 5.5. menunjukkan bahwa semua variabel memiliki nilai tolerance > 0,1 dan VIF < 10. Maka dapat disimpulkan bahwa model regresi linier pada penelitian ini bebas dari gejala multikolineritas.
Setelah dilakukan pengujian Uji Asumsi Klasik, maka diketahui bahwa data tidak menyimpang dari asumsi BLUE (Best, Linier, Unbiased, dan Estimator) sehingga dapat diteruskan dengan Uji Kesesuaian Model (Test of Goodness of Fit).
5.2.2 Uji Kesesuain Model (Test of Goodness of Fit).
Pada penelitian ini tingkat pendidikan anak nelayan di daerah penelitian dipengaruhi 9 (sembilan) faktor variabel bebas yaitu tingkat pendidikan anak nelayan yaitu umur, pengalaman, tingkat pendidikan, pendapatan,pengeluaran/
biaya, jumlah tanggungan, jarak, motivasi nelayan terhadap tingkat pedidikan anak yaitu = 1 = nelayan memiliki motivasi terhadap tingkat pendidikan anak, 0 = nelayan tidak memiliki motivasi terhadap tingkat pendidikan anak, dan interaksi nelayan terhadap tingkat pendidikan anak yaitu = 1 = nelayan melakukan interaksi
demi menunjang tingkat pendidikan anak, 0 = nelayan tidak melakukan interaksi demi menujang tingkat pendidikan anak. Dalam uji kesesuaian model ini yang dibahas adalah tentang Koefisien Determinasi (R2), Hasil uji serempak (F-test) dan hasil uji parsial (uji-t)
1. Hasil Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien Determinasi digunakan untuk mengukur berapa besar (%) pengaruh yang diberikan variabel bebas atau variabel independent (X) terhadap variabel terikat atau variabel dependent (Y), atau dengan kata lain nilai koefisien determinasi atau R Square ini berguna untuk memprediksi dan melihat seberapa besar kontribusi pengaruh yang diberikan variabel X secara simultan terhadap variabel Y
Tabel 5.6 memperlihatkan bahwa nilai koefisien determinasi R2 (R Square) yang diperoleh adalah sebesar 0,662. Hal ini menujukkan bahwa sebesar 66,2%
variabel terikat (tingkat pendidikan) dapat dijelaskan oleh variabel bebas (umur, pengalaman, tingkat pendidikan, pendapatan,pengeluaran/biaya, jumlah tanggungan, jarak, motivasi , dan interaksi). Sedangkan sisanya 33,8% dipengaruhi oleh variabel bebas lainnya yang belum dimasukkan kedalam model.
2. Hasil Signifikansi Uji Pengaruh Serempak (Uji Statistik F)
Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independent atau bebas (Xi) secara bersama-sama (serempak) terhadap variabel dependent atau terikat (Y).
Berdasarkan Tabel Anova pada Lampiran 7, diperoleh nilai signifikansi F sebesar 0,003 < α (0,05). Hal ini menujukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti variabel bebas (umur, pengalaman, tingkat pendidikan, pendapatan, pengeluaran/biaya, jumlah tanggungan, jarak, motivasi , dan interaksi) secara serempak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (tingkat pendidikan).
3.Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t)
Uji Parsial bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi yang terbentuk parsial variabel bebas secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.
Tabel 5.7. Hasil Analisis Regresi Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pendidikan Anak Nelayan Di Daerah Penelitian
Coefficientsa
Dari Tabel 5.7. diperoleh persamaan:
Keterangan:
Y = Tingkat pendidikan anak nelayan (tahun)
X1 = Umur Nelayan (tahun) X2= Pengalaman Nelayan (tahun) X3= Lama Pendidikan Nelayan (tahun)
X4= Pendapatan Keluarga Nelayan (Rp/bulan) X5= Jumlah tanggungan Keluarga (Jiwa)
X6= Pengeluaran Biaya Rumah Tangga (Rp/bulan) X7= Jarak sarana pendidikan (Km)
D1= Motivasi
D2= Interaksi sosial (Hubungan sosial)
5.2.3 Faktor Sosial yang Mempengaruhi Pendidikan Anak Nelayan
Yang termasuk dalam faktor sosial dalam hal ini adalah umur nelayan, pengalaman melaut nelayan dan lama pendidikan nelayan.
1. Nilai koefisien regresi dari variabel umur nelayan adalah 0,303 dengan nilai Sig 0,004 < 0,05, hal ini memberikan arti bahwa faktor umur nelayan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat pendidikan anak nelayan.
2. Nilai koefisien regresi dari variabel pengalaman melaut nelayan adalah -0,135 dengan nilai Sig 0,180 > 0,05, hal ini memberikan arti bahwa lama tidaknya pengalaman melaut dari nelayan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendidikan anak nelayan.
3. Diketahui nilai koefisien regresi dari variable lama pendidikan nelayan adalah -0,146 dengan nilai Sig 0,474 > 0,05, hal ini memberikan arti bahwa lama tidaknya masa pendidikan nelayan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendidikan anak nelayan.
5.2.4 Faktor Ekonomi yang Mempengaruhi Pendidikan Anak Nelayan
Yang termasuk dalam faktor ekonomi dalam hal ini adalah pendapatan nelayan, jumlah tanggungan keluarga dan biaya pengeluaran rumah tangga.
1. Nilai koefisien regresi dari variabel pendapatan adalah 1,101 dengan nilai Sig 0,002 < 0,05, hal ini meberikan arti bahwa besar kecilnya pendapatan keluarga nelayan berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendidikan anak nelayan.
2. Nilai koefisien regresi dari variabel jumlah tanggungan keluarga nelayan adalah -1,102 dengan nilai Sig 0,051 > 0,05, hal ini memberkan arti bahwa sedikit banyaknya tanggungan keluarga nelayan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendidikan anak nelayan.
3. Diketahui nilai koefisien regresi dari variabel pengeluaran adalah 10,760 dengan nilai Sig 0,009 < 0,05, hal ini memberikan arti bahwa besar kecilnya pengeluaran biaya rumah tangga keluarga nelayan berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendidikan anak nelayan.
5.2.5 Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pendidikan Anak Nelayan Yang termasuk faktor lingkungan dalam hal ini adalah jarak tempuh anak dari rumah ke sekolah, motivasi nelayan dan interaksi sosial.
1. Nilai koefisien regresi dari variabel jarak tempuh anak dari rumah ke sekolah adalah -0,291 dengan nilai Sig 0,476 > 0,05, hal ini memberikan arti bahwa jauh dekatnya jarak rumah tinggal ke sekolah tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendidikan anak nelayan.
1. Nilai koefisien regresi dari variabel jarak tempuh anak dari rumah ke sekolah adalah -0,291 dengan nilai Sig 0,476 > 0,05, hal ini memberikan arti bahwa jauh dekatnya jarak rumah tinggal ke sekolah tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendidikan anak nelayan.