• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5. Definisi dan Batasan Operasional

3.5.2 Batasan Operasional

1. Sampel adalah konsumen pasar modern yang memutuskan untuk yang membeli sayuran hijau.

2. Penelitian dilakukan di pasar modern di Kota Medan yang menjual sayuran hijau.

3. Waktu penelitian dilakukan pada tahun 2018.

4.1 Keadaan Geografi 1. Batas

Kota Medan terletak antara 3º.27’ - 3º.47’ Lintang Utara dan 98º.35’ - 98º.44’

Bujur Timur dengan ketinggian 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan laut. Kota Medan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah Utara, Selatan, Barat dan Timur.

2. Geologi

Kota Medan merupakan salah satu kota yang ada di Sumatera Utara dengan luas daerah sekitar 265,10 km². Kota ini merupakan pusat pemerintahan provinsi Sumatera Utara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah Utara, Selatan, Barat dan Timur. Sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai Deli.

3. Iklim

Kota Medan mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum menurut Stasiun BMKG Wilayah I pada tahun 2015 yaitu 21,2oC dan suhu maksimum yaitu 35,1oC. Kelembaban udara di wilayah Kota Medan rata-rata 81-82%, dan kecepatan angin rata-rata sebesar 2,3m/sec, sedangkan rata-rata total laju penguapan tiap bulannya 108,2 mm. Hari hujan di Kota Medan pada tahun 2015 per bulan 14 hari dengan rata-rata curah hujan menurut Stasiun Sampali per bulannya 141 mm.

4.2 Keadaan Penduduk

Kota Medan terdiri atas 21 kecamatan dengan 151 kelurahan yang terbagi dalam 2.001 lingkungan dengan luas wilayah, jumlah penduduk, kepadatan penduduk dan jumlah sekolah di Kota Medan yaitu sebagai berikut:

Tabel 7. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk di Kota Medan Menurut Kecamatan, 2016

Kecamatan Luas Wilayah

Medan Tuntungan 20,68 86.425 4.179

Medan Johor 14,58 133.577 9.162

Medan Selayang 12,81 107.831 8.418

Medan Sunggal 15,44 115.837 7.502

Medan Helvetia 13,16 151.581 11.518

Medan Petisah 6,82 63.390 9.295

Medan Barat 5,33 72.717 13.643

Medan Timur 7,76 111.438 14.361

Medan Perjuangan 4,09 95.936 23.456

Medan Tembung 7,99 137.239 17.176

Sumber: BPS, Medan Dalam Angka 2017

Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa Kota Medan memiliki jumlah penduduk sebesar 2.229.408 jiwa dengan kepadatan penduduk 8.409 per km2. Dari 21 kecamatan di Kota Medan, Kecamatan Medan Deli merupakan kecamatan yang memiliki penduduk terbanyak yaitu sebesar 184.762 jiwa dan jumlah penduduk paling sedikit berada di Kecamatan Medan Baru yaitu sebesar 40.560 jiwa. Selain itu, terdapat Kecamatan Medan Area yang merupakan kecamatan paling padat penduduknya dengan kepadatan 17.939 jiwa km2 dan Kecamatan Medan Labuhan

merupakan kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk terkecil yaitu 3.233 jiwa per km2.

Berikut ini jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin yaitu:

Tabel 8. Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Medan, 2016

Golongan Umur Laki-laki (jiwa) Perempuan (jiwa) Jumlah (jiwa)

0-4 101.527 97.708 199.235

1.101.020 1.128.388 2.229.408

Sumber: BPS, Medan Dalam Angka 2017

Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk Kota Medan mencapai 2.229.408 jiwa yang terdiri dari1.128.388 jiwa perempuan (50.7%) dan 1.101.020 jiwa laki-laki (49.3 %), dimana jumlah penduduk perempuan lebih besar daripada penduduk laki-laki. Selain itu, jumlah usia non produktif (0-14 tahun) yang terdiri dari bayi, balita, anak-anak dan remaja tahun 2016 yaitu sebesar 582.041 jiwa (26%). Jumlah usia produktif (15–54 tahun) sebesar 1.403.825 jiwa (63%) dimana pada usia ini, orang memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat menghasilkan barang dan jasa dengan efektif. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan tenaga kerja di Kota Medan cukup besar dan usia manula (>55 tahun) yaitu sebesar 243.542 jiwa (11%).

Berikut jumlah dan persentase rata-rata pengeluaran Kota Medan tahun 2016 berdasarkan jenis konsumsi yaitu:

Tabel 9. Rata-rata Pengeluaran dan Persentase Rata-rata Pengeluaran Per Kapita Sebulan Menurut Jenis Konsumsi di Kota Medan, 2016

Sektor Rata-Rata Pengeluaran Persentase Pengeluaran

Makanan 532.642 46.09

Bukan Makanan 623.106 53.91

Rata-Rata 1.155.748 100

Sumber: BPS, Medan Dalam Angka 2017

Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa rata-rata pengeluaran menurut jenis konsumsi tahun 2016 yaitu sebesar 1.155.748 dimana rata-rata pengeluaran sektor bukan makanan lebih besar yaitu 623.106 dengan persentase pengeluaran 53.91%

dibandingkan sektor makanan sebesar 532.642 dengan persentase pengeluaran 46.09%.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Konsumen Sayuran Hijau

Sampel dalam penelitian ini adalah konsumen yang membeli sayuran hijau di pasar modern di Kota Medan. Sayuran hijau dalam hal ini meliputi bayam, kangkung, sawi hijau, buncis, kacang panjang, daun ketela pohon dan sejenisnya.

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan wawancara dibantu kuesioner terhadap 70 orang konsumen yang menjadi responden. Responden yang menjawab kuesioner ini adalah konsumen sayuran hijau yang melakukan pembelian pada saat penelitian. Karakteristik konsumen dalam hal ini meliputi umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga dan jumlah pendapatan.

1. Umur

Kelompok umur konsumen sayuran hijau di daerah penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 10. Distribusi Sampel Berdasarkan Kelompok Umur

No. Kelompok Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. 20-30 16 22,85

2. 31-40 13 18,57

3. 41-50 25 35,71

4. 51-60 14 20

5. >60 2 2,85

Jumlah 70 100

Sumber: Data diolah dari lampiran 1

Pada Tabel 10, dapat dilihat bahwa konsumen yang membeli sayuran di pasar modern di Kota Medan yang paling banyak yaitu berada pada kelompok umur 41-50 dengan jumlah sebesar 25 jiwa (35,71%) dan kelompok umur

konsumen yang paling sedikit yaitu berada pada kelompok umur >60 dengan jumlah sebesar 2 jiwa (2,85%).

2. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan konsumen sayuran hijau di daerah penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 11. Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No. Tingkat Pendidikan (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. Rendah 1 1,42

2. Menengah 30 42,85

3. Tinggi 39 55,7

Jumlah 70 100

Sumber: Data diolah dari lampiran 1

Pada Tabel 11, dapat dilihat bahwa konsumen yang membeli sayuran di pasar modern di Kota Medan yang paling banyak yaitu berada pada tingkat pendidikan tinggi (Diploma, Sarjana, Pascasarjana) sebanyak 39 jiwa (55,7%) dan tingkat pendidikan menengah (SMA) sebanyak 30 jiwa (42,85%) dan tingkat pendidikan konsumen yang paling sedikit yaitu berada pada tingkat pendidikan rendah (SD) sebanyak 1 jiwa (1,42%).

3. Jumlah Tanggungan

Yang dimaksud dengan jumlah tanggungan dalam hal ini adalah jumlah anggota keluarga yang dibiayai termasuk suami atau istri. Jumlah tanggungan konsumen sayuran hijau di daerah penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 12. Distribusi Sampel Berdasarkan Jumlah Tanggungan

No. Jumlah Tanggungan (Orang) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. 2 7 10

Sumber: Data diolah dari lampiran 1

Pada Tabel 12, dapat dilihat bahwa konsumen yang membeli sayuran di pasar modern di Kota Medan yang paling banyak yaitu berada pada jumlah tanggungan 4 orang dengan jumlah sebesar 27 jiwa (38,57%) dan jumlah tanggungan konsumen yang paling sedikit yaitu berada pada jumlah tanggungan 6 dan >6 orang dengan jumlah sebesar 5 jiwa (7,14%).

4. Jumlah Pendapatan

Jumlah pendapatan konsumen sayuran hijau di daerah penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 13. Distribusi Sampel Berdasarkan Jumlah Pendapatan

No. Jumlah Pendapatan (Rp) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. 1.000.000 – 2.000.000 15 21,42

Sumber: Data diolah dari lampiran 1

Pada Tabel 13, dapat dilihat bahwa konsumen yang membeli sayuran di pasar modern di Kota Medan yang paling banyak yaitu berada pada jumlah pendapatan Rp. 4.000.000 – 5.000.000 dengan jumlah sebesar 17 jiwa (24,28%) dan jumlah

pendapatan konsumen yang paling sedikit yaitu berada pada jumlah tanggungan Rp. 5.000.000 – 6.000.000 dengan jumlah sebesar 4 jiwa (5,71%).

5.2 Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Volume Pembelian Sayuran Di Pasar Modern Di Kota Medan

Bauran pemasaran adalah salah satu bentuk strategi pemasaran yang mampu mendukung dalam memasarkan produk untuk menciptakan kepuasan konsumen.

Bauran pemasaran memiliki variabel yang diharapkan mampu mempengaruhi kepuasan konsumen dalam membeli suatu produk, meliputi Produk, Harga, Tempat dan Promosi. Kepuasan konsumen ini akan berpengaruh pada volume pembelian produk.

Volume pembelian adalah banyaknya jumlah sayuran hijau yang dibeli konsumen.

Volume pembelian dalam hal ini merupakan variabel terikat sedangkan produk, harga, tempat dan promosi merupakan variabel bebas. Data yang diambil adalah data dalam skala ordinal, namun dalam menganalisis pengaruh bauran pemasaran terhadap volume pembelian sayuran hijau akan diregresikan, maka data ordinal ini sebelumnya diubah menjadi data skala interval dengan bantuan model MSI (Method of Successive Interval) dibantu perangkat lunak SPSS.

Sebelum melakukan estimasi, menggunakan model Regresi Linier Berganda, maka terhadap data terlebih dahulu dilakukan Uji Asumsi Klasik guna terpenuhinya kaidah asumsi Normalitas, Multikolinieritas, dan Heterokedastisitas.

5.2.1. Uji Asumsi Klasik (Ordinary Least Square) 1. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah nilai residual berdistribusi secara normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang berdistribusi normal. Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji Kolmogorov Smirnov, dengan melihat nilai signifikansi.

Kriteria Uji Kolmogorov Smirnov:

Sig.KS > 0,05 = Data berdistribusi normal Sig.KS ≤ 0,05 = Data tidak berdistribusi normal

Uji Kolmogorov Smirnov digunakan untuk menguji hipotesis suatu sampel atas suatu distribusi tertentu.

Hasil uji Normalitas dapat dilihat pada gambar dan tabel sebagai berikut:

Gambar 3. Grafik Histogram

Berdasarkan Gambar 2, dapat kita lihat bahwa pola distribusi data adalah normal, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas.

Gambar 4. Normal P-Plot of Regression Standardized Residual

Berdasarkan Gambar 4, bahwa data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas.

Tabel 14. Hasil Uji Kolmogrov Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 70

Normal Parametersa,,b Mean .0000000

Std. Deviation .65225366

Most Extreme Differences

Absolute .085

Positive .085

Negative -.066

Kolmogorov-Smirnov Z .711

Asymp. Sig. (2-tailed) .693

Sumber: Data diolah dari lampiran 2

Setelah melalukan uji Kolmogorov Smirnov, diperoleh signifikansi sebesar 0,693

> 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti

distribusi sampel tidak berbeda nyata dengan distribusi normal atau sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Berdasarkan hasil Uji Normalitas, baik dengan menggunakan metode Grafik Histogram, dengan Normal P-Plot of Regression Standardized Residual, maupun dengan menggunakan Tabel Kolmogrov-Smirnov Test, maka disimpulkan hasil bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas sehingga dapat diproses dengan uji selanjutnya.

2. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas dilakukan untuk melihat ada tidaknya korelasi yang tinggi antar variabel bebas dalam suatu model regresi. Jika terdapat korelasi yang tinggi, maka hubungan antar variabel bebas terhadap variabel terikatnya menjadi terganggu.

Uji multikolinieritas dapat diketahui dengan melihat kriteria sebagai berikut:

- Jika nilai toleransi melebihi 0,1 atau nilai VIF kurang dari 10, maka H0 diterima, H1 ditolak. Artinya tidak ada kolerasi antara variabel bebas dalam model regresi atau tidak terjadi multikolinieritas pada model regresi.

- Jika nilai toleransi kurang dari atau sama dengan 0,1 atau nilai VIF melebihi 10, maka H0 ditolak, H1 diterima. Artinya adanya kolerasi antara variabel bebas dalam model regresi atau tidak terjadi multikolinieritas pada model regresi.

Hasil uji Multikonieritas dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 15. Hasil Uji Multikolinearitas

Sumber: Data diolah dari lampiran 2

Berdasarkan Tabel 15, menunjukkan bahwa semua variabel memiliki nilai tolerance > 0,1 dan VIF < 10. Dari informasi ini dapat disimpulkan bahwa model regresi linier pada penelitian ini bebas dari gejala multikolinieritas.

3. Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi.

Untuk mengetahui ada tidaknya heterokedastisitas dapat melihat grafik scatterplot, jika titik-titik atau poin-poin yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur maka terjadi heterokedastisitas. Jika tidak ada terbentuk pola yang jelas, serta titik-titik menyebar dibawah dan diatas angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heterokedastisitas.

Hasil uji Multikonieritas dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 5. Scatterplot

Berdasarkan Gambar 5, dapat dilihat bahwa penyebaran pada data scatterplot tidak membentuk suatu pola yang jelas atau pola tertentu. Serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas.

Kesimpulan dari Uji Asumsi Klasik yang mecakup uji Normalitas, Multikolinieritas dan Heterokedatisitas yang telah dilakukan adalah data berdistribusi normal, tidak terjadi multikolinieritas dan tidak terjadi heterokedatisitas. Selanjutnya, untuk menguji pengaruh variabel produk, harga, tempat dan promosi terhadap volume pembelian sayuran hjau diketahui dari Uji Kesesuaian Model dan Uji Hipotesis berikut.

5.2.2 Uji Kesesuaian Model (Test of Goodness of Fit)

Uji kesesuaian model yang digunakan dilihat dari koefisien determinasi, uji F dan uji t. Uji tersebut digunakan untuk menguji pengaruh bauran pemasaran (produk, harga, tempat dan promosi) terhadap volume pembelian sayuran hujau, dari hasil uji regresi linier berganda, hasil estimasi diperoleh sebagai berikut:

Tabel 16. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bauran Pemasaran Terhadap Volume Pembelian Sayuran Hijau di Pasar Modern di Kota Medan

No Variabel Koef. Regresi Sig. T

1 Konstanta -2.209 .000

2 Produk .164 .001

3 Harga .129 .031

4 Tempat .035 .338

5 Promosi .159 .016

R Square 0,710

Sig. F 0,000

Sumber : Data diolah dari lampiran 2

1. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinasi bertujuan untuk menentukan presentase total variasi dalam variabel teikat yang diterangkan oleh variabel bebas. Nilai koefisien determinasi (R2) berkisar antara 0 < R2 < 1, dengan kriteria pengujiannya adalah R2 yang semakin tinggi (mendekati 1) menunjukkan model yang terbentuk mampu menjelaskan keragaman dari variabel terikat, demikian pula sebaliknya.

Dari model dihasilkan nilai koefisien determinasi R2 (R Square) adalah sebesar 0,710. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 71% variabel terikat (Volume Pembelian) dapat dijelaskan oleh variabel bebas (Produk, Harga, Tempat, Promosi). Sedangkan sisanya 29% dipengaruhi oleh variabel bebas lain yang belum dimasukkan ke dalam model.

2. Uji Serempak (F - Test)

Uji F digunakan untuk menunjukkan apakah variabel produk, harga, tempat dan promosi yang telah dimasukkan kedalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap volume pembelian. Untuk menguji pengaruh ini, digunakan:

Kriteria uji berdasarkan nilai signifikasi (α = 0,05) :

- Jika nilai signifikasi > α 0,05 maka H0 diterima, H1ditolak, artinya faktor-faktor X1, X2, X3, secara serempak tidak berpengaruh signifikasi terhadap Volume Pembelian.

- Jika nilai signifikasi ≤ α 0,05 maka H0 ditolak, H1diterima, artinya faktor-faktor X1, X2, X3, secara serempak berpengaruh nyata terhadap Volume Pembelian.

Berdasarkan Tabel 16, didapatkan nilai signifikasi F adalah sebesar 0.000 < α 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, Produk, Harga, Tempat dan Promosi secara serempak berpengaruh nyata terhadap Volume Pembelian.

3. Uji Parsial (t - Test)

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel produk, harga, tempat dan promosi secara parsial berpengaruh nyata atau tidak terhadap volume pembelian.

Untuk menguji pengaruh ini, digunakan:

Kriteria uji berdasarkan nilai signifikansi (α = 0,05) :

Jika sig. t ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya X1, X2, dan X3, secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap Volume Pembelian.

Jika sig. t > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya X1, X2, dan X3, secara parsial berpengaruh nyata terhadap Volume Pembelian.

Berdasarkan Tabel 16, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Berdasarkan tabel uji t diatas, diperoleh nilai signifikansi produk sebesar 0,001 < α 0,05, hal ini menunjukkan bahwa H1 diterima, yang artinya produk berpengaruh nyata terhadap volume pembelian.

2. Berdasarkan tabel uji t diatas, diperoleh nilai signifikansi harga sebesar 0,031

< α 0,05, hal ini menjukkan bahwa H1 diterima, yang artinya harga berpengaruh nyata terhadap volume pembelian.

3. Berdasarkan tabel uji t diatas, diperoleh nilai signifikansi tempat sebesar 0,338 > α 0,05, hal ini menujukkan bahwa H0diterima, yang artinya artinya tempat tidak berpengaruh nyata terhadap volume pembelian.

4. Berdasarkan tabel uji t diatas, diperoleh nilai signifikansi promosi sebesar 0,016 < α 0,05, hal ini menjukkan bahwa H1 diterima, artinya promosi berpengaruh nyata terhadap volume pembelian.

Dari Tabel 16 diperoleh persamaan sebagai berikut:

Ŷ = -2.209 + 0,164X1 + 0,129X2 + 0,035 X3 + 0,159 X4 Keterangan:

Ŷ = Volume Pembelian X1 = Produk

X2 = Harga X3 = Tempat X4 = Promosi

Persamaan regresi di atas menjelaskan bahwa:

- Tanda positif pada produk menunjukkan adanya pengaruh positif pada volume pembelian, yang artinya apabila ada kenaikan preferensi konsumen atas produk, akan mengakibatkan kenaikan volume pembelian.

- Tanda positif pada harga menunjukkan pengaruh positif pada volume pembelian, yang artinya apabila ada kenaikan preferensi konsumen atas harga, akan mengakibatkan kenaikan volume pembelian.

- Tanda positif pada tempat menunjukkan pengaruh positif pada volume pembelian, yang artinya apabila ada kenaikan preferensi konsumen atas tempat, akan mengakibatkan kenaikan volume pembelian.

- Tanda positif pada promosi menunjukkan pengaruh positif pada volume pembelian, yang artinya apabila ada kenaikan preferensi konsumen atas promosi, akan mengakibatkan kenaikan volume pembelian.

Selanjutnya, perlu diketahui lebih rinci artikel apa dari variabel produk, harga dan promosi yang berpengaruh nyata terhadap volume pembelian. Dalam hal ini artikel variabel merupakan indikator dari masing – masing variabel. Dimana variabel produk memiliki indikator variabel yaitu kesegaran, warna, variasi ukuran, kualitas dan kemasan. Variabel harga memiliki indikator variabel yaitu keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas dan kepastian harga.

Variabel promosi memiliki indikator variabel yaitu potongan harga, kartu nama, dan popularitas nama toko.

Untuk melihat pengaruh setiap indikator variabel bauran pemasaran terhadap volume pembelian sayuran hijau dijelaskan pada tabel berikut:

1. Indikator Variabel Produk

Produk merupakan segala sesuatu yang ditawarkan untuk diperhatikan, dicari, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi konsumen sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan yang bersangkutan. Indikator konsumen dalam memilih produk dalam hal ini mencakup kesegaran, warna, ukuran, kualitas dan kemasan. Berikut ini diperlihatkan hasil uji pengaruh setiap indikator variabel produk terhadap volume pembelian sayuran hijau.

Tabel 17. Hasil Uji Pengaruh Indikator Variabel Produk terhadap Volume Pembelian Sayuran Hijau di Pasar Modern di Kota Medan

Sumber: Data diolah dari lampiran 4

Berdasarkan tabel 17, dapat disimpulkan bahwa nila signifikasi kesegaran produk, warna produk, ukuran produk dan kemasan produk lebih kecil dari α 0,05. Hanya nilai signifikasi kualitas produk yang lebih besar dari α 0,05.

Kesimpulannya adalah indikator variabel kesegaran produk, warna produk, ukuran produk, dan kemasan produk berpengaruh nyata terhadap volume pembelian, sedangkan kualitas produk tidak berpengaruh nyata terhadap volume

Coefficientsa

pembelian. Artinya kualitas pada produk ini tidak menjadi pertimbangan konsumen dalam meningkatkan volume pembelian, maka dari itu untuk meningkatkan volume pembelian sebaiknya tetap menjaga kesegaran, warna, ukuran dan kemasan sayuran hijau.

2. Indikator Variabel Harga

Harga merupakan nilai tukar yang biasa disamakan dengan uang. Harga juga merupakan salah satu unsur bauran pemasaran yang paling mudah disesuaikan, harga dapat diubah dengan cepat, pada waktu yang bersamaan. Harga juga merupakan salah satu unsur bauran pemasaran yang paling mudah disesuaikan.

Indikator variabel harga dalam hal ini mencakup keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas dan kepastian harga. Berikut ini diperlihatkan hasil uji pengaruh setiap indikator variabel harga terhadap volume pembelian sayuran hjau.

Tabel 18. Hasil Uji Pengaruh Indikator Variabel Harga terhadap Volume Pembelian Sayuran Hijau di Pasar Modern di Kota Medan

Sumber: Data diolah dari lampiran 5

Berdasarkan tabel 18, dapat disimpulkan bahwa nilai signifikasi keterjangkauan harga dan kepastian harga lebih kecil dari α 0,05. Hanya nlai signifikasi kesesuian

Coefficientsa

harga dengan kualitas yang lebih besar dari α 0,05. Kesimpulannya adalah indikator variabel keterjangkauan harga dan kepastian harga berpengaruh nyata terhadap volume pembelian, sedangkan kesesuaian harga dengan kualitas tidak berpengaruh nyata terhadap volume pembelian. Artinya kesesuaian harga dengan kualitas tidak menjadi pertimbangan konsumen dalam meningkatkan volume pembelian, maka dari itu untuk meningkatkan volume pembelian sebaiknya tetap memberikan harga yang terjangkau dan kepastian harga (tidak tawar – menawar).

3. Indikator Variabel Promosi

Promosi adalah upaya untuk memberitahukan atau menawarkan sesuatu dengan tujuan menarik calon konsumen untuk membeli atau mengonsumsinya, adanya promosi ini diharapkan dapat meningkatkan kenaikan penjualan dan pembelian.

Indikator variabel promosi dalam hal ni mencakup potongan harga, kartu member dan popularitas nama toko. Berikut ini diperlihatkan hasil uji pengaruh setiap indikator variabel harga terhadap volume pembelian sayuran hjau.

Tabel 19. Hasil Uji Pengaruh Indikator Variabel Promosi terhadap Volume Pembelian Sayuran Hijau di Pasar Modern di Kota Medan

Sumber: Data diolah dari lampiran 6

Berdasarkan tabel 19, dapat disimpulkan bahwa nilai signifikasi potongan harga dan popularitas nama toko lebih kecil dari α 0,05. Hanya nilai signifikasi kartu

member yang lebih besar dari α 0,05. Kesimpulannya adalah indikator variabel potongan harga dan popularitas nama toko berpengaruh nyata terhadap volume pembelian, sedangkan penggunaan kartu member tidak berpengaruh nyata terhadap volume pembelian. Artinya, menggunakan kartu member tidak menjadi pertimbangan konsumen dalam meningkatkan volume pembelian, maka dari itu untuk meningkatkan volume pembelian sebaiknya tetap memberikan potongan harga dan menjaga popularitas nama toko dengan baik menggunakan nama – nama toko yang menarik dan mudah diingat oleh konsumen.

5.3 Hubungan Antara Karakteristik Konsumen dengan Volume Pembelian Sayuran Hijau di Pasar Modern di Kota Medan

Karakteristik konsumen dalam hal ini mencakup umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, dan jumlah pendapatan yang diduga memiliki hubungan dengan volume pembelian. Untuk mengukur hubungan karakteristik konsumen dengan volume pembelian sayuran hijau, maka digunakan uji korelasi Rank Spearman dengan melihat nilai korelasi antar variabel dan nilai signifikasi yang memiliki kriteria keputusan sebagai berikut:

1. Jika nilai probabilitas lebih kecil daripada atau sama dengan nilai probabilitas Sig. (0.05 ≤ Sig.) maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya hubungan tidak signifikan.

2. Jika nilai probabilitas lebih besar daripada atau sama dengan nilai probabilitas Sig. (0.05 ≥ Sig.) maka H1 diterima dan H0 ditolak, artinya hubungan signifikan.

Tabel 20. Hasil Uji Korelasi Antara Karakteristik Konsumen (Umur, Tingkat Pendidikan, Jumlah Tanggungan dan Jumlah Pendapatan) dengan Volume Pembelian Sayuran di Pasar Modern di Kota Medan

Karakteristik Konsumen

Spearman’s rho Volume Pembelian

Umur Correlation Coefficient .211*

Sig. (1-tailed) .040

N 70

Tingkat Pendidikan Correlation Coefficient .343**

Sig. (1-tailed) .002

N 70

Jumlah Tanggungan Correlation Coefficient -.078

Sig. (1-tailed) .260

N 70

Jumlah Pendapatan Correlation Coefficient .871**

Sig. (1-tailed) .000

N 70

Sumber: Data diolah dari lampiran 1

Berdasarkan Tabel 20, dapat diketahui sebagai berikut:

1. Umur

Pada Tabel 20 memperlihatkan nilai koefisien korelasi antara umur dengan volume pembelian sebesar positif 0,211. Kedua variabel ini mempunyai arah hubungan yang positif artinya semakin tua umur konsumen, maka semakin besar jumlah sayuran hijau yang dibeli. Hubungan ini nyata (sig. 0,040 < α 0,05),

Pada Tabel 20 memperlihatkan nilai koefisien korelasi antara umur dengan volume pembelian sebesar positif 0,211. Kedua variabel ini mempunyai arah hubungan yang positif artinya semakin tua umur konsumen, maka semakin besar jumlah sayuran hijau yang dibeli. Hubungan ini nyata (sig. 0,040 < α 0,05),

Dokumen terkait