• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. DOA LISAN DAN DOA BATIN

V.2 Doa Batin

Bila kita ingin berkembang dalam hidup rohani dan hubungan yang lebih mesra dengan Allah, kita harus menjalankan doa batin. Doa batin menuntut aktivitas batin yang lebih besar dan perhatian yang lebih intensif.

Bila kita berdoa sebentar saja atau hanya membaca rumus doa yang sudah ada, kita tidak membutuhkan suatu metode. Akan tetapi, bila kita mau berdoa lebih lama dan lebih intensif, kita membutuhkan suatu metode : suatu bantuan untuk menolong kita sampai ke tujuan, yaitu persatuan cinta kasih dengan Allah. Karena itu suatu metode hanya bersifat menolong dan berguna sejauh metode itu dapat menolong.

Tiap-tiap metode bersifat terbatas, artinya tidak dapat dikenakan pada setiap orang dan karena itu setiap orang harus menemukan metodenya sendiri. Meskipun demikian, tiap metode memiliki nilai yang berbeda, yang satu lebih dari yang lain. Nilai suatu metode harus diukur menurut kemampuannya membawa orang ke tujuan yang tertinggi, yaitu persatuan dengan Allah.

Dalam hidup doa, perkembangan senantiasa menuju pada kesederhanaan. Ada beberapa metode yang dapat kita pakai dalam hidup doa kita, namun ini tidak berarti bahwa kita harus memakai semua metode itu. Pada permulaan, cobalah beberapa metode dan kemudian pilihlah mana yang paling cocok. Janganlah berganti-ganti metode, melainkan berpeganglah pada satu metode saja sampai mendalam. Bila kita terlalu sering berganti metode untuk variasi, tidak satu metodepun akan kita kuasai sungguh-sungguh, padahal supaya mencapai kemajuan dalam hidup rohani dibutuhkan ketekunan.

Beberapa metode doa batin :

1. Lectio Divina / bacaan meditatif

Lectio Divina merupakan bentuk doa yang paling tua dalam Gereja dan hingga sekarang masih banyak dipakai. Metode ini mampu membawa orang kepada bentuk dan pengalaman doa yang amat dalam.

Lectio Divina terdiri dari 4 langkah : 1. pembacaan.

Bahan diambil dari Kitab Suci atau dari karya para pengarang rohani bermutu, yang memiliki pengalaman Allah yang mendalam. Bahan ini harus mampu membangkitkan cinta kepada Allah dan mendorong kita untuk mencariNya.

2. meditasi.

Kita meresap-resapkan apa yang dibaca tadi. Bila ada kalimat yang menyentuh, kita berhenti dan membiarkan kalimat itu mengendap dalam hati. Satu Sabda yang mengendap dalam hati lebih berharga dari banyak Sabda yang hanya melintas dalam pikiran saja.

3. doa.

Kita mengungkapkan hubungan pribadi kita dengan Allah dalam suatu percakapan, pujian, syukur, permohonan, kerinduan, penyesalan dll. Doa ini harus merupakan suatu dialog dan bukannya suatu monolog belaka. Allahpun harus diberi kesempatan untuk berbicara dan kita mendengarkan.

4. kontemplasi.

(Kata kontemplasi sebenarnya berasal dari kata ‘contemplare’, artinya memandang dengan penuh perhatian). Dalam kontemplasi, kita memandang Allah beserta misteri-misteriNya dalam suatu sikap iman penuh kekaguman. Menyadari kebesaran dan kemuliaan Allah kita tidak dapat menemukan kata-kata lagi, sehingga satu-satunya sikap yang pantas hanyalah diam penuh hormat dan kekaguman. Dalam sikap diam ini terkandung sikap penyerahan diri, sembah sujud dan keterbukaan kepada Allah. Kita membiarkan diri untuk diperlakukan Allah menurut rencana dan kehendakNya.

Dalam prosesnya lectio divina akan berkembang. Pada awalnya lectio atau pembacaan meditatif menyita waktu lebih banyak. Bila sendirian, pembacaan dapat dilakukan dengan suara yang terdengar, supaya membantu konsentrasi kita. Kemudian bisa saja orang segera beralih ke meditasi atau doa, sesuai dengan perkembangan masing-masing. Bila pada awal kontemplasi hanya mendapat waktu sedikit, lama-kelamaan dapat menjadi lebih banyak.

2. doa nama

Doa nama merupakan suatu bentuk doa yang sangat sederhana tetapi mampu membawa kita pada suatu kedalaman yang amat besar. Dasar doa nama ini terletak dalam kuasa nama Allah : menyerukan nama Allah berarti memanggil Pribadi Allah sendiri untuk hadir. Sesungguhnya Allah sudah senantiasa hadir, tetapi dengan menyebutkan namaNya, kita menyadari kehadiranNya dan membiarkan kehadiran itu meliputi diri kita serta mengubahnya.

Di luar kalangan Kristen doa ini populer sekali : dalam Budhisme, Hinduisme dan Islam. Dalam kalangan orang Kristen, doa nama yang paling dikenal ialah doa Yesus.

doa Yesus

Doa Yesus ini amat populer di Gereja Timur dan akhir-akhir ini doa inipun mulai tersebar luas dalam Gereja Katolik. Doa ini disebut doa Yesus karena inti doa ini ialah penyeruan nama Yesus. Dengan menyerukan nama Yesus kita memanggil Yesus sendiri untuk hadir, atau lebih tepat kita menghadirkan diri pada Yesus yang sesungguhnya sudah senantiasa hadir, tetapi tidak kita sadari.

Secara konkrit kata-kata yang digunakan dalam doa Yesus adalah sebagai berikut : “Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku“ atau

“Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup, kasihanilah aku orang berdosa ini“ (seruan si buta di Yerikho yang memohon kesembuhan pada Yesus dalam Luk 18 : 38) atau

“Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini“ (doa si pemungut bea dalam Luk 18 : 13) atau “Tuhan Yesus“ atau

“Yesus”.

Sangat dianjurkan untuk berpegang pada satu rumusan saja dan tidak berganti-ganti.

Kita dapat mengiramakan doa Yesus dengan pernafasan, seturut keluar masuknya napas. Misalnya waktu menarik napas kita mendoakan : “Tuhan Yesus Kristus” dan waktu mengeluarkan napas : “kasihanilah aku“ atau “Tuhan“ dan “Yesus“ saja, atau bahkan hanya nama Yesus saja : “Ye–su“. Dengan mengatur doa seturut pernapasan, roh kita menjadi tenang dan menemukan damai.

Doa ini hendaklah dijalankan dengan maksud dan tujuan yang murni. Doa ini hendaklah merupakan suatu persembahan murni kepada Allah, persembahan diri kita sendiri, yang diungkapkan dengan persembahan waktu secara cuma-cuma. Doa ini harus tanpa tujuan, kecuali untuk sekedar hadir pada Allah yang dirindukan jiwa kita. Janganlah kita mencari perasaan atau pengalaman tertentu dalam doa ini, namun kita hanya hadir pada Allah saja. Dalam keheningan dan ketenangan ini Allah akan dapat menyatakan diri kepada kita secara rahasia. Secara rahasia pula Ia akan mencurahkan cinta dan kebijaksanaan dalam hati kita sehingga tanpa kita mengerti bagaimana hati kita akan mulai berkobar dalam cinta kasih Allah dan lebih merindukan Dia.

3. doa dalam bahasa roh

Doa dalam bahasa roh bukanlah suatu metode doa yang dapat dipelajari seperti metode-metode lain, melainkan merupakan suatu karunia yang harus kita mohon kepada Allah. Karunia ini biasanya diberikan bila seseorang mendapat Pencurahan Roh Kudus atau bisa juga di luar saat itu.

Karunia doa ini merupakan suatu karunia doa adikodrati. Bila kita berdoa dalam bahasa roh, kita lebih mudah memusatkan diri kepada Allah walaupun tanpa gagasan / gambaran. Doa ini melampaui kekuatan kodrati manusia dan merupakan ungkapan dari sesuatu yang tidak dapat

diungkapkan, dari sifat Allah yang melampaui segala gagasan dan pikiran. Karunia doa ini membantu orang dalam perkembangan kehidupan doa dan kehidupan rohaninya.

VI. PENUTUP

Doa haruslah merupakan bagian integral hidup kita. Bila doa kita jalankan dengan tepat dan sesuai dengan syarat-syaratnya, doa akan mempengaruhi, bahkan mengubah hidup kita. Dengan doa batin yang dijalankan dengan baik dan tekun, khususnya doa yang lebih hening, hidup kita akan memperoleh suatu dimensi baru yang lebih dalam. Dunia tetap seperti semula, tetapi karena pandangan kita berubah, kita melihatnya secara baru pula. Karena persatuan kita dengan Tuhan semakin diilahikan, penilaian kita semakin serasi dengan penilaian Tuhan.

Dengan perantaraan doa kita akan dapat menemukan keseimbangan dalam hidup serta menemukan arti terdalam panggilan kita sebagai orang Kristen. Karena persatuan kita dengan Tuhan, kita akan mulai mengalami hidup abadi sudah dalam dunia ini, sekarang ini juga, seperti yang diungkapkan Santo Yohanes : “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada Nama Anak

4. DOA YESUS

Dokumen terkait