4.3 Pandangan Metroseksual Terhadap Konsep Maskulinitas
4.4.2 Be a Big Wheel
Be a Big Wheel (menjadi tokoh atau seseorang yang penting): maskulinitas dapat diukur dari kesuksesan, kekuasaan, dan pengaguman dari orang lain.
Seseorang harus memiliki kekayaan, ketenaran, dan status. Dalam konstruksi masyarakat kekayaan, kesuksesan dan kekuasaan merupakan standart yang harus dimiliki seseorang lelaki untuk merepresentasikan diri sebagai laki-laki yang ideal.
Dalam ketradisionalitasan yang dikembangkan oleh kebudayaan Jawa juga kurang lebih sama, bahwa laki- laki harus memiliki sifat maskulinitas be a big wheel. Seorang laki-laki dikatakan sukses jika berhasil memiliki garwo (istri), bondo (harta), turonggo (kendaraan), kukilo (burung peliharaan), dan pusoko (senjata atau kesaktian) (Osella&Osella, 2000:120). Berdasarkan karakteristiknya, pria metroseksual juga secara umum memiliki karakteristik atau sifat yang hampir sama. Berdasarkan hal itu berikut pandangan NT (28) kepada peneliti:
“… Laki-laki emang selalu diidentikkan di masyarakat dengan kesuksesan dan kekayaan. Namun banyak juga yang tidak memiliki hal itu sehingga dianggap pemalas dan gagal. Saya pikir tidak masalah dengan sifat maskulin tersebut, walaupun tidak sepenuhnya benar juga…”(wawancara 25 juni 2020)
Berdasarkan hasil wawancara dengan NT (28) yang merupakan pria metroseksual. Ia menjelaskan bahwa sifat-sifat maskulin yang menggambarkan sebagai laki-laki ideal harus memiliki kesuksesan, kekayaan dan kekuasaan.
Informan secara umum membenarkan bahwa untuk menjadi laki-laki ideal hal-hal
tersebut juga sangat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap laki-laki.
walaupun informan juga menjelaskan bahwa tidak sepenuhnya juga benar.
Pendapat yang lain juga diungkapkan oleh AR (24) kepada peneliti saat wawancara:
“….Tentunya menurutku laki-laki harus memiliki kesuksesan, kekuasaan ataupun kekayaan. Kan dalam masyarakat yang paling utama laki-laki itu sebagai tulang punggung keluarga dan baik dalam adat ataupun masyarakat sekitar dia harus sukses baru kita dipandang oleh orang lain. Saya setuju dengan hal ini tapi kalau misalnya ada yang gagal atau tidak sesuai dengan hal-hal tadi jangan dikucilkan. Kita sering melihat ada stereotip yang terjadi misalnya perkataan aduh jangan sama dialah orang tuanya malas, bahkan stereotip itu juga disematkan kadang sampai keturunannya…”(wawancara 15 maret 2020)
Dalam pandangan AR (24) selaku informan pria metroseksual. Karena laki-laki di konstruksikan sebagai pencari nafkah, maka informan setuju terhadap sifat maskulinitas tersebut. Namun ia juga menjelaskan jika ada laki-laki yang tidak mampu menggapai hal tersebut jangan dikucilkan. Seperti adanya stereotip pemalas. Sedangkan Informan RY (24) memiliki pandangan yang berbeda, yang disampaikan kepada peneliti saat wawancara:
“… kalau harus diakui menjadi laki-laki dengan harus memiliki kekayaan, kesuksesan dan kekuasaan. Saya kurang setuju dengan konstruksi tersebut. Karena tidak semua laki-laki mampu memiliki hal-hal itu..”(wawancara 24 juli 2020)
Berdasarkan hasil wawancara terhadap RY (24) mengenai sifat maskulinitas yang menjelaskan bahwa kekayaan, kekuasaan dan kesuksesan merupakan hal yang harus dimiliki oleh setiap laki-laki. informan kurang setuju dengan konstruksi tersebut, dikarenakan bahwa menurutnya tidak juga semua laki-laki mampu memiliki standarisasi tersebut.
Tabel 4.5.2
Hasil Wawancara (Be a Big Whell) No. Nama
(Inisial)
Be a Big Whell
1. IN
“… seharusnya sih emang laki-laki harus mampu dalam hal itu, dalam pandangan masyarakat kan emang laki-laki di posisikan sebagai kepala keluarga
2. AR
“….Tentunya menurutku laki-laki harus memiliki kesuksesan, kekuasaan ataupun kekayaan. Kan dalam masyarakat yang paling utama laki-laki itu sebagai tulang punggung keluarga dan baik dalam adat ataupun masyarakat sekitar dia harus sukses baru kita dipandang oleh orang lain. Saya setuju dengan hal ini tapi kalau misalnya ada yang gagal atau tidak sesuai dengan hal-hal tadi jangan dikucilkan. Kita sering melihat ada stereotip yang terjadi misalnya perkataan aduh jangan sama dialah orang tuanya malas, bahkan stereotip itu juga disematkan kadang sampai keturunannya…”
3. RP
“kalau menurut ku pasti laki-laki itu harus memiliki kesuksesan, kekuasaan dan kekayaan. Banyak hal-hal itu lebih sangat di identikan dengan laki-laki. Kekuasaan kan banyak lebih diidentikkan laki-laki, walaupun tidak semua laki-laki mungkin bisa mencapai hal tersebut
4. RN
Menurut saya ya bisa dibilang begitu memang laki-laki itu harus memiliki kesuksesan karena kan dia juga mempunyai tanggung jawab dalam keluarga. Dia akan dilihat dan dipandang kalau dia sukses.
5. MP “…Ya, laki-laki memang diidentikkan dengan hal itu.
Walaupun tidak semua laki-laki dapat memiliki atau menggapai ciri-ciri tersebut ..”
6. RY
“… Kalau harus diakui menjadi laki-laki dengan harus memiliki kekayaan, kesuksesan dan kekuasaan. Saya kurang setuju dengan konstruksi tersebut. Karena tidak semua laki-laki mampu memiliki hal-hal itu..”
7. IR
“…Jika kita mampu meraih konstruksi yang selama ini ada dimasyarakat, seperti kesuksesan dan kekayaan, maka kita dianggap sukses untuk menjadi laki-laki, namun banyak pastinya yang tidak mampu. Jadi saya kurang setuju dengan hal itu..”
8. NT
“… Laki-laki emang selalu diidentikkan di masyarakat dengan kesuksesan dan kekayaan. Namun banyak juga yang tidak memiliki hal itu sehingga dianggap pemalas dan
tersebut, walaupun tidak sepenuhnya benar juga…”
9. AL “… Itukan pandangan masyarakat mengenai laki-laki yang mapan. Saya rasa itu tidak juga kebenaran yang mutlak..”
10. MP
“.. Kekayaan dan kesuksesan dalam masyarakat sebagai laki sangat penting sebenarnya. Tapi tidak semua laki-laki mampu.. “
Sumber: Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil wawancara terhadap kesepuluh informan pria metroseksual yang memberi pendapat mengenai pandangan terhadap be a big whell yang merupakan sifat maskulinitas yang diidentikkan dengan status kesuksesan, kekuasaan dan kekayaan. Sebagian informan berpandangan bahwa sifat maskulinitas yang di konstruksi (dibangun) di dalam baik yang dibentuk secara sosial dan budaya, merupakan hal yang sebaiknya dimiliki laki-laki. Hal ini tidak terlepas dari posisi laki-laki yang di stereotipkan dan diletakkan sebagai pencari nafkah dan kepala keluarga.