• Tidak ada hasil yang ditemukan

Be a Sturdy Oak

Dalam dokumen (Studi Kasus di Kota Medan) (Halaman 97-101)

4.3 Pandangan Metroseksual Terhadap Konsep Maskulinitas

4.4.3 Be a Sturdy Oak

Sifat maskulinitas yang mengkonstruksikan laki-laki harus memiliki kekuatan, rasionalitas, mandiri dan tidak boleh menunjukan kelemahan dan tidak boleh menunjukan sisi emosi yang lemah seperti menangis. Terdapat konstruksi yang menggambarkan ukuran kelakian dinilai dari ukuran fisik atau kekuatan yakni berotot, kekar, berdada bidang. Laki-laki berlomba-lomba untuk memenuhi ukuran-ukuran itu, mereka harus bersusah payah berlatih di pusat kebugaran, ada yang harus minum suplemen pembentuk tubuh bahkan tidak sedikit yang mengalami cidera mulai dari terkilir sampai yang lebih serius demi untuk memenuhi standar kelelakian.

Sebagai laki-laki terdapat juga pemahaman yang menggambarkan akan terasa ganjil jika laki-laki menunjukan sisi emosi yang lemah seperti menangis.

Menangis merupakan sesuatu yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seseorang laki-laki, lebih-lebih di depan umum. Menangis bertentangan dengan kualitas kelelakian. Karena menangis identik dengan kecengengan dan kecengengan hanya dimiliki oleh perempuan. jika laki-laki menangis berarti kualitas kelelakiannya di pandang rendah dalam masyarakat. Jadi banyak laki-laki yang menahan air mati karena persoalan social acceptability atau persoalan kepatutan secara sosial.

Dikarenakan terdapat anggapan perilaku laki-laki yang cenderung keras, dingin dan tidak ekspresif.

Dalam pandangan pria metroseksual yang diidentikkan dengan lebih lembut dan tidak keras memiliki pandangan yang menjelaskan tentang konstruksi sifat maskulinitas be a sturdy oak. Berikut pendapat MP (29) kepada peneliti saat wawancara:

“… kalau sebagai laki-laki tentu emang dianggap harus memiliki yang fisik kuat, namun juga tidak perlu ditunjukkan dengan cara yang berlebihan. Tentang kemandirian juga tidak masalah. Kalau laki-laki menangis ia memang dalam masyarakat atau biasa ya pasti dianggap lucu, namun itu tidak masalah baik laki dan perempuan tidak masalah menangis..”(wawancara 24 juli 2020) Hal yang lain juga dijelaskan oleh RP (24) kepada peneliti saat wawancara:

“…pandangan ku mengenai hal tersebut memang seharusnya laki-laki harus dapat mandiri dan pemikirannya pasti rata-rata secara rasionalitas. Tapi kalau persoalan menangis diartikan menunjukan sisi kelemahan itu saya tidak setuju..”(wawancara 15 maret 2020)

Berdasarkan hasil wawancara terhadap Informan diatas menjelaskan bahwa mereka berpendapat bahwa laki-laki memiliki stereotip fisik yang kuat

merupakan hal yang wajar dan namun informan berpendapat ketangguhan fisik tersebut juga tidak perlu ditunjukkan dengan cara berlebihan. Ditemukan pernyataan bahwa informan tidak sepaham dalam pandangan, laki-laki tidak boleh menunjukan kelemahannya dengan cara menangis. Menurut informan diatas, walaupun itu laki-laki diperbolehkan untuk menangis, hal ini dikarenakan tidak ada kaitan menangis dengan sifat-sifat yang dimiliki laki-laki.

Tabel 4.5.3

Hasil Wawancara (Be a Sturdy Oak)

No Nama aspek kita dapat mandiri. sedangkan dengan kekuatan dan rasionalitas saya rasa setuju namun tidak sepenuhnya, kekuatan memang diperlukan terutama bagi pria namun kita harus bisa menempatkan dimana kekuatan itu harus digunakan. Sedangkan yang seperti menangis saya tidak setuju. Karna bagi saya menangis itu tidak memandang apa jenis kelaminnya atau gendernya walaupun dianggap menunjukan sisi kelemahan seseorang dan tidak rasional..”

2 AR

…Bagi saya tidak masalah laki-laki harus memiliki kekuatan, rasionalitas dan pasti dituntut harus mandiri.

Banyak kita lihat laki-laki contohnya banyak merantau karena ia harus dituntut untuk mandiri. Tapi kalau dalam menunjukan sisi emosi yang lemah yaitu menangis ataupun berkeluh kesan maka ini saya rasa diperbolehkan karena terkadang hal-hal ini sangat berpengaruh terhadap sisi psikologis . contohnya ketika laki-laki tidak diperbolehkan untuk berkeluh kesan dan selalu harus dituntut tetap tegar pasti akan mengakibatkan kondisi-kondisi tertentu psikologis y tidak kuat menanggung beban yang ada.

Sehingga timbul sikap-sikap yang terkadang menyimpang.

3 RN

“…menangis siapa saja boleh melakukan kalau pendapat saya, kalau mandiri tidak ada masalah menurut saya, baik laki dan perempuan juga harus mandiri juga sekarang..

4 RP

“…pandangan ku mengenai hal tersebut memang seharusnya laki-laki harus dapat mandiri dan pemikirannya pasti rata-rata secara rasionalitas. Tapi kalau persoalan menangis diartikan menunjukan sisi kelemahan itu saya tidak setuju..

5 MR

“..laki-laki harus memiliki kekuatan memang dan rata-rata laki-laki itu harus mandiri. Kalau persoalan tidak boleh menunjukan emosi seperti menangis memang saya ada setuju nya, tapi bukan berarti laki-laki pantang untuk menangis dan tapi tergantung orang ya juga sih kan pandangan orang berbeda-beda..”

6 RY

“… tidak masalah laki-laki harus mampu mandiri, saya rasa hal-hal yang sifatnya positif tidak masalah. Kalau dila rang nangis sih dulu emang sering dikasih tau laki-laki tidak boleh menangis, namun kembali lagi ke setiap orang masing’-masing ya..”

7 IR “… boleh saja laki-laki menangis, tidak ada yang salah terhadap hal itu kalau menurut saya…”

8 NT “… Tergantung orangnya, tidak usah memaksakan diri mengikuti hal-hal yang tidak ada aturannya sebenarnya..”

9 AL ditunjukkan dengan cara yang berlebihan. Tentang kemandirian juga tidak masalah. Kalau laki-laki menangis ia memang dalam masyarakat atau biasa ya pasti dianggap lucu, namun itu tidak masalah baik laki dan perempuan tidak masalah menangis..”

Sumber: Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada sepuluh informan pria metroseksual. Dari hasil wawancara mengenai sifat maskulinitas be a sturdy oak, yang merupakan pandangan bahwa laki-laki harus memiliki kekuatan, kemandirian, pemikiran yang rasional serta tidak boleh menunjukan sisi kelemahan emosi seperti menangis. Seluruh informan memberi pendapat bahwa

ketika laki-laki menangis dan dianggap bahwa itu menunjukan sisi kelemahannya.

Dalam pandangan informan bukan sebuah hal yang dianggap mutlak untuk diikuti. Karena bagi pria metroseksual bahwa tidak adanya kaitan menangis dengan stereotip-stereotip kejantanan yang ada. Seperti pernyataan salah satu informan yang menjelaskan bahwa menurut dia menangis boleh saja dilakukan oleh laki-laki ataupun perempuan. Sedangkan stereotip kemandirian, kekuatan dan rasionalitas, informan menganggap merupakan hal yang wajar sebagai laki-laki. Salah satu informan juga menjelaskan bahwa kemandirian juga pada saat ini dimiliki oleh laki-laki dan perempuan.

Dalam dokumen (Studi Kasus di Kota Medan) (Halaman 97-101)