• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terlalu bebal untuk mengucap syukur

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 173-178)

Judul: Terlalu bebal untuk mengucap syukur

Mazmur 106 mulai dengan ajakan untuk mengucap syukur kepada Tuhan karena Dia baik, dan penuh kasih setia (1).Namun, isi mazmur ini justru 'pengakuan dosa' (6-46). Bahwa dalam perjalanan sejarah umat Tuhan, saat mengalami kasih setia Tuhan, mereka melupakan kebaikan Tuhan, sehingga memberontak, bersungut-sungut dan menolak-Nya (7, 13-14, 24-25, 28-29, 34-39, 43).

Rasa syukur umat sangat tipis. Betapa mereka tidak cepat menyadari dan mengakui kebesaran-Nya (2). Permohonan pemazmur ialah agar mereka diberi kepekaan untuk melihat dan

menyadari kebaikan-Nya di tengah-tengah mereka (4-5) sehingga mereka pun hidup sesuai dengan hukum Tuhan (3).

Catatan pemberontakan ini bertujuan agar umat menyadari kasih setia Tuhan yang melampaui kebebalan mereka. Paparan sejarah bisa dibagi tiga bagian. Permulaan mereka ditebus dari perbudakan Mesir (6-12); perjalanan di padang gurun (13-33); penaklukan dan pendudukan tanah Kanaan (34-46). Mazmur ini ditutup dengan permohonan agar mereka dapat belajar bersyukur (47) dan ajakan kepada seluruh umat untuk memuji Tuhan (48).

Kebebalan umat Tuhan, terlihat mencolok. Baru saja mengalami kebaikan dan keperkasaan-Nya yang membebaskan mereka dari Mesir. Namun, di tepi laut Teberau, saat dikejar pasukan Firaun, Israel ketakutan dan memberontak terhadap Tuhan (7; Kel. 14:10-12). Tuhan tetap setia. Laut Teberau terbelah.Umat Israel menyeberang selamat, sementara pasukan Firaun tenggelam di dalamnya (11). Pujian kepada Tuhan pun membahana (12; Kel. 15:1-21).

Inilah penyakit yang sering diderita anak-anak Tuhan, lupa anugerah Tuhan. Saat masalah datang, kita bersungut-sungut dan melawan Tuhan. Syukur, Tuhan tetap mengasihi dan setia kepada kita. Marilah, kita belajar tidak melupakan kebaikan-Nya dan belajar untuk terus menerus mengucap syukur!

Diskusi renungan ini di Facebook:

174 Senin, 10 Juni 2013

Bacaan : Keluaran 10:1-29

(10-6-2013)

Keluaran 10:1-29

Jangan seperti Firaun

Judul: Jangan seperti Firaun

Sebagaimana di belahan dunia lain, di Mesir belalang pun merupakan sebuah ancaman. Atas kehendak Tuhan, angin timur melintasi Mesir dan mendatangkan belalang dalam jumlah tak terbilang banyaknya hingga menutupi tanah. Alkitab mencatat bahwa belalang sebanyak itu belum pernah ada sebelumnya dan tidak akan ada lagi sesudahnya (14). Belalang itu memenuhi rumah semua orang Mesir (6), tetapi belalang itu tidak menghampiri tanah Gosyen. Belalang-belalang itu memakan habis sisa-sisa pohon dan tanaman yang hancur karena hujan es (5, 15). Allah kembali membuktikan kedahsyatan kuasa-Nya yang melampaui kuasa dewa Mesir. Para pegawai Firaun semakin menyadari kemahakuasaan Allah Israel. Desakan mereka kepada Firaun jelas menggambarkan rasa takut mereka bila kuasa Allah Israel melanda mereka lebih hebat lagi (7). Namun Firaun masih belum berlapang dada untuk membiarkan orang Israel pergi. Ia masih ingin tawar menawar dengan Allah dan Musa. Ia mau saja membiarkan laki-laki bangsa Israel pergi ke padang belantara untuk beribadah, tetapi anak-anak dan kaum perempuan harus tinggal di Mesir (11). Tentu saja Musa menolak tawaran ini. Firaun kemudian mengakui dosanya dan memohon pengampunan (16-17). Namun ketika belalang telah dihalau dari tanah Mesir, Firaun kembali mengeraskan hatinya (20) dan tidak mau mengikuti kehendak Allah sepenuhnya (24). Konsekuensinya, tulah kesembilan dijatuhkan atas mereka, dan kegelapan pun meliputi tanah Mesir (22).

Bagaimana perasaan kita setelah membaca kisah Firaun? Gemas, geram, atau kesal? Namun tahukah kita, bahwa sebenarnya kita pun tak jauh beda. Tak mau berserah penuh dan tawar menawar dengan Allah bukan "penyakit" Firaun saja. Kita pun kadang-kadang demikian, ingin setengah berserah atau melakukan separuh kewajiban saja. Namun di sisi lain, kita berdoa tak henti agar Tuhan menjawab doa dan memenuhi segala permintaan kita. Bukankah ini sama dengan Firaun? Kiranya firman Tuhan membuat kita bercermin, mengakui dosa, lalu bertobat.

Diskusi renungan ini di Facebook:

175 Selasa, 11 Juni 2013

Bacaan : Keluaran 11:1-10

(11-6-2013)

Keluaran 11:1-10

Jangan melawan Allah

Judul: Jangan melawan Allah

Babak akhir dari penderitaan Mesir dan Israel akan segera usai. Mesir akan menghadapi tulah terakhir -karena sesudah itu tidak akan ada tulah lagi- dan Israel akan segera keluar dari Mesir. Namun tulah terakhir itu akan mengakibatkan Mesir mengalami penderitaan yang sangat hebat, melebihi penderitaan saat menghadapi tulah-tulah sebelumnya.

Puncak dari karya ajaib Tuhan di Mesir adalah kematian semua anak sulung orang Mesir. Tidak ada pengecualian. Anak sulung Firaun bahkan anak sulung hewan mereka akan mati (5). Pada saat itu, ratap tangis akan terdengar di seluruh tanah Mesir karena meninggalnya semua anak sulung secara tiba-tiba. Meski Firaun masih belum bisa diyakinkan, para pegawai Firaun yang khawatir bila situasi akan semakin runyam, mendesak Musa untuk membawa seluruh orang Israel keluar dari Mesir. Dalam situasi demikian, orang Mesir akan dengan senang hati

memberikan harta mereka yang diminta oleh orang Israel (2-3), yang mungkin akan digunakan sebagai bekal perjalanan, asal saja orang Israel segera angkat kaki dari negeri mereka.

Melalui tulah ini, Firaun serta orang Mesir dapat melihat bahwa Allah berkuasa atas Mesir dan allahnya. Termasuk Firaun dan putra mahkotanya, yang dianggap sebagai allah. Perlawanan kepada Allah Israel, apa lagi yang dilakukan terus menerus, akan membuat keadaan semakin parah dan mendatangkan penghukuman yang mengerikan. Dengan kematian sang putra mahkota nantinya akan jelas bagi Firaun dan rakyat Mesir bahwa kemenangan dan kekuasaan mutlak ada pada Allah Israel.

Bila kita ingin mengalami kuasa Allah, tentu yang kita harapkan adalah kuasa Allah atas penyakit atau penderitaan yang kita alami. Kita tentu tidak ingin mengalami kuasa Allah yang justru memunculkan masalah sebagai hukuman akibat murka-Nya oleh karena pembangkangan kita. Maka bila masalah atau penderitaan datang silih berganti, cobalah peka, siapa tahu Tuhan sedang ingin menegur kita karena terus menerus melawan Dia. Jika memang demikian yang terjadi, memohon ampun dan bertobat merupakan jalan terbaik.

Diskusi renungan ini di Facebook:

176 Rabu, 12 Juni 2013

Bacaan : Keluaran 12:1-28

(12-6-2013)

Keluaran 12:1-28

Ingatlah kasih Tuhan!

Judul: Ingatlah kasih Tuhan!

Biasanya orang merayakan hari ulang tahun dengan makan bersama keluarga, sahabat, kekasih, atau yang lainnya. Perayaan itu dilakukan untuk mengingat peristiwa luar biasa yang pernah dialami dalam kehidupannya.

Nas hari ini berkisah tentang perayaan Paskah yang dilakukan oleh Israel atas perintah Tuhan. Sebelum tulah kesepuluh dijatuhkan atas Mesir, Tuhan memerintahkan Israel untuk

menyembelih anak domba dan memakannya bersama dengan roti yang tidak beragi. Perayaan Paskah ini dilakukan sebagai ucapan syukur atas perbuatan Tuhan bagi Israel, yang akan membebaskan mereka dari Mesir. Kekuasaan Tuhan yang luar biasa ini telah disaksikan oleh Israel, mulai dari tulah yang pertama sampai tulah kesembilan. Peringatan ini merupakan

peringatan baru dalam kehidupan orang Israel. Namun demikian, peringatan ini harus dilakukan terus-menerus agar nantinya keturunan Israel senantiasa mengingat kuasa Tuhan yang telah mengeluarkan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir. Jadi Perayaan Paskah merupakan peringatan tentang kuasa Tuhan dalam kehidupan orang Israel.

Di dalam kekristenan pun, ada perayaan-perayaan hari keagamaan yang dilakukan untuk memperingati suatu peristiwa tertentu dalam sejarah kekristenan. Namun sebaiknya peringatan akan kebaikan Tuhan bukan hanya terjadi pada hari-hari raya Kristen saja, melainkan harus menjadi aktivitas sehari-hari dalam kehidupan umat Tuhan. Kita diminta untuk terus mengingat kebaikan Tuhan agar kita dapat terus mengucap syukur oleh karena berkat dan pemeliharaan Tuhan nyata dalam hidup kita. Berkat dan pemeliharaan Tuhanlah yang membuat kita dapat hidup sampai sekarang. Pemazmur mengungkapkan ucapan syukurnya dalam puji-pujian kepada Tuhan, "Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya" (Mzm. 118:1).

Dengan demikian tak ada alasan untuk tidak mengingat kasih Tuhan dan mengucap syukur atasnya. Maka pertanyaannya, sudahkah kita mengingat kasih Tuhan dan mengucap syukur atasnya?

Diskusi renungan ini di Facebook:

177 Kamis, 13 Juni 2013

Bacaan : Keluaran 12:29-42

(13-6-2013)

Keluaran 12:29-42

Kuat kuasa Allah

Judul: Kuat kuasa Allah

Bayangkan jika kita memiliki anak sulung yang tiba-tiba meninggal dunia tanpa sebab, tentu kita akan sangat terkejut dan bukan tidak mungkin menjadi histeris. Inilah yang terjadi ketika Tuhan menjatuhkan tulah yang terakhir bagi orang Mesir. Semua anak sulung, yang menjadi harapan dan kebanggaan keluarga, tiba-tiba meninggal dunia. Jelas peristiwa ini mengejutkan semua orang Mesir dan membuat mereka mengusir orang Israel agar tidak ada lagi sesuatu yang buruk menimpa mereka lagi (33). Itu sebabnya bangsa Israel bergegas meninggalkan Mesir dengan membawa persediaan makanan serta berbagai barang berharga pemberian orang Mesir (34-36). Akhirnya Israel keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian yang telah ditetapkan Tuhan bagi mereka. Ada sekitar enam ratus ribu laki-laki dewasa (belum termasuk anak-anak dan

perempuan), orang asing, serta ternak (37-38). Rentetan kejadian ini digambarkan berlangsung cepat dan semua dilakukan berdasarkan perintah Tuhan yang disampaikan melalui Musa dan Harun.

Tuhan menggerakkan hati orang Mesir menjadi sangat bermurah hati untuk memberikan harta benda mereka kepada Israel sesuai permintaan (35-36). Sampai kemudian disebutkan bahwa Tuhan sendiri berjaga-jaga pada malam keluarnya bangsa Israel dari Mesir (42). Sungguh nyata kuasa Allah karena janji-Nya untuk membebaskan Israel digenapi, setelah mereka terkungkung di bawah kekuasaan pemerintahan Mesir selama empat ratus tiga puluh tahun (40-41). Sungguh sebuah momen yang luar biasa dan patut untuk diingat sepanjang masa. Kalau bukan karena Tuhan, bagaimana mungkin Israel sanggup melepaskan diri dari belenggu yang telah mengikat mereka selama kurun waktu yang sangat panjang.

Betapa Allah tidak tinggal diam menyaksikan kehidupan umat yang Dia kasihi, Ia campur tangan dan menunjukkan kuat kuasa-Nya. Maka bila Anda merasakan sebuah tekanan berat melanda hidup atau ada "belenggu" yang begitu kuat mengikat Anda, mintalah pertolongan-Nya, mintalah Ia menunjukkan kuat kuasa-Nya.

Diskusi renungan ini di Facebook:

178 Jumat, 14 Juni 2013

Bacaan : Keluaran 12:43-51

(14-6-2013)

Keluaran 12:43-51

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 173-178)