b. Relief-relief ikonis
11. Beberapa kesimpulan umum
Dengan penggeseran mundur penanggalan berdirinya Candi Loro Jonggrang dari pertengahan abad 9 ke waktu yang belum ditentukan pada abad ke-8, saya tidak bisa berbuat lain daripada menganjurkan sejumlah perubahan terhadap teori-teori yang lazim sekarang ini mengenai candi tersebut beserta kondisi-kondisi sosial-politik yang melatari pembangunannya.
Pertama, teori yang diterima selama ini yaitu bahwa para pembangun bermaksud menjadikan kompleks percandian di Prambanan sebagai saingan Borobudur ditolak oleh penanggalan baru tersebut. Penanggalan berdirinya Loro Jonggrang kini dilihat berdekatan dengan waktu berdirinya Borobudur, dan juga dengan sejumlah candi Buddhis lainnya yang tidak jauh dari Prambanan, semisal Sewu, Plaosan, dan Sojiwan. Alih-alih menjadi sebuah monumen saingan, Loro Jonggrang sangat boleh jadi ada berdampingan secara damai dengan tempat-tempat suci Buddhis. Benar-benar selaras seluruhnya dengan suasana toleransi agama pada zaman itu, dinasti Śailendra Buddhis diandaikan memperbolehkan pembangunan Loro Jonggrang begitu dekat dengan pusat kekuasaannya hanya karena hal tersebut tidak dilihat sebagai ancaman. Hal ini dapat disimpulkan antara lain dari prasasti-prasasti yang melaporkan bahwa sang penguasa Śaiva yang memerintah ketika itu tidak saja menikah dengan seorang
1
putri Buddhis, tetapi juga membantu pembangunan kompleks percandian Buddhis Plaosan.
Kurangnya bukti epigrafis lebih lanjut sayangnya membuat mustahil bagi kita untuk memperoleh suatu gagasan yang jelas tentang lingkup dan suasana berlangsungnya kerja sama antaragama ini, atau sampai pada taraf mana kedua agama utama tersebut serupa secara ideologis satu sama lain, atau malah menyesuaikan diri dengan yang lain. Apa pun halnya, telaah Prambanan ini yang saya sajikan ke hadapan para pembaca budiman telah menyingkapkan bahwa terdapat petunjuk-petunjuk kuat bahwa proses penyesuaian timbal balik ini barangkali telah dimulai jauh lebih awal dan berlanjut terus lebih jauh daripada yang sampai sekarang ini diandaikan. Petunjuk-petunjuk ini tidak hanya diberikan oleh sejumlah keserupaan arsitektural dan gaya seni yang mencolok antara Loro Jonggrang dan candi-candi Buddhis yang berdekatan dengannya seperti Sewu dan Plaosan, tetapi juga oleh penemuan-penemuan belakangan ini atas arca-arca dari kedua agama itu di situs Candi Sewu dan Candi Sambisari.
Selanjutnya, terdapat bukti tentang kurban-kurban manusia di situs Loro Jonggrang dan Sojiwan yang, hemat saya, paling baik bila ditafsir dalam rangka ritual yang serupa atau malah sama persis dengan persembahan kurban Tantrik. Semua data ini bisa menjadi daya dorong untuk juga mencermati Prambanan dari suatu perspektif Mantra Buddhis, sebagaimana yang pada mulanya dibela oleh Moens (1925) dan Pott (1946, 1966). Riset yang lama dinantikan dari sisi tilik ini, menurut saya, mesti memusatkan perhatian tidak saja pada kemungkinan adanya kaitan antara Loro Jonggrang dan candi-candi Buddhis di kawasan utama di dataran Prambanan (artinya, penguraian yang terperinci tentang hubungan fisik maupun religius di antara candi-candi tersebut), tetapi juga di kompleks percandian itu sendiri. Hasil-hasil awal dari kajian penjajakan mengenai pengaruh-pengaruh Buddhis dalam seni hias di Loro Jonggrang, saya kira cukup positif dan menjanjikan untuk mendorong kelanjutan penyelidikan semacam ini.
Sama seperti penanggalan baru berdirinya Loro Jonggrang menam-pik teori persaingan antara Borobudur dan Prambanan, demikian pula penanggalan tersebut meragukan dan menggugat teori tentang kesinam-bungan dalam perkembangan arsitektur Hindu-Buddhis di Jawa. Bagai-manapun juga, salah satu tiang penyangga terkuat dari teori ini adalah keyakinan yang telah berurat akar akan penanggalan pada abad ke-10
untuk masa berdirinya Prambanan. Keyakinan tersebut mengenakan pada kompleks itu suatu fungsi penghubung antara arsitektur candi Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan peralihan di antara keduanya kurang-lebih terjadi bersamaan waktunya dengan pergeseran pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Sebelum Perang Dunia II telah menjadi kebiasaan untuk mengandaikan bahwa Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk waktu yang singkat dipersatukan di bawah pemerintahan satu atau beberapa raja Jawa Timur persis sebelum terjadinya pergeseran pusat kekuasaan tersebut. Pengandaian ini selanjutnya merangsang perkembangan paham yang mendua tentang “unsur-unsur gaya seni Jawa Timur”, di mana kita dapat memindai adanya suatu kerancuan antara dua hal, yaitu corak arsitektural dan corak gaya seni yang sudah ada secara mencolok di Prambanan dan dikembangkan lebih lanjut di Jawa Timur, dicampuradukkan dengan unsur-unsur yang berasal dari Jawa Timur yang dipersangkakan diperkenalkan ke dalam seni Prambanan. Namun riset saya terdahulu (Jordaan 1993) telah memperlihatkan bahwa hal terakhir tadi hampir tidak atau malah tidak pernah didokumentasikan, dan karenanya boleh jadi rekaan belaka. Alhasil, apabila Prambanan mengandung unsur-unsur yang mengingatkan kita pada candi-candi Jawa Timur, maka hal tersebut cuma membuktikan bahwa tidak semua prinsip dan teknik arsitektural candi hilang bersamaan dengan pergeseran pusat kekuasaan ke arah timur, tetapi bahwa terdapat kesinambungan, biarpun lebih bebas, dengan corak khas tertentu yang tidak lama kemudian menemukan bentuk ungkapannya dalam aneka rupa cara baru. Akan tetapi, oleh karena kesinambungan ini diperagakan hanya dalam segi-segi arsitektural yang agak umum dan tampaknya memudar menjadi tetek bengek sepele bila dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan yang lebih banyak dan lebih kasatmata antara candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, maka kita tidak lagi, hemat saya, memiliki alasan yang sah untuk berbicara tentang adanya sebuah kesinambungan yang tegas dan jelas dalam perkembangan sejarah seni tersebut.
Dengan dihapuskannya peran Prambanan sebagai satu mata rantai penghubung, maka perbedaan antara candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi jauh lebih mencolok. Begitulah, di Jawa Timur tidak ditemukan satu candi pun yang memiliki ukuran (khususnya ketinggian) yang sama dengan Prambanan dan Borobudur. Candi Panataran adalah satu-satunya kompleks percandian di Jawa Timur yang mendekati ukuran
1
Prambanan, setidak-tidaknya sejauh yang menyangkut bidang permukaan. Namun arah serta relasi ruang antaracandi-candi di kompleks percandian ini seluruhnya berbeda dan jauh kurang teratur. Hiasan-hiasan Candi Panataran, khususnya keindahan relief-reliefnya, adalah khas Jawa Timur dan nyaris tidak dapat dibandingkan dengan relief-relief di Prambanan.
Dalam arti tertentu, kesimpulan ini menyiratkan sebuah putar haluan kembali dan pengokohan terhadap teori-teori Van Erp (1921:11-12) dan juga pandangan-pandangan yang dibela Stutterheim (1925) dalam disertasinya namun kemudian secara keliru ia sendiri tinggalkan. Terlepas dari persoalan apakah dinasti Śailendra memiliki asal-usul asing – yang menurut kajian Sarkar (1985) dan juga hemat saya bisa dijawab secara positif – Prambanan menyajikan kesaksian yang tidak dapat dibantah bahwa perbedaan-perbedaan antara arsitektur candi Jawa Tengah dan Jawa Timur sedemikian banyaknya dan sebegitu hakikinya sehingga perbedaan-perbedaan tersebut hanya dapat dijelaskan secara memuaskan dengan mengandaikan bahwa Jawa Tengah terkena pengaruh-pengaruh budaya secara lebih langsung dan kuat dari anak benua India pada waktu pendirian Borobudur dan Prambanan. ‘Masa klasik’ ini tampaknya mulai berakhir bersamaan dengan Prambanan. Apa yang menyusul adalah kesenian Hindu-Buddhis di Jawa Timur yang baru dan lebih bercorak Jawa.