• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Pemberdayaan Masyarakat

2.5.7. Beberapa Program Pemberdayaan Masyarakat

2.5.7.1. Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani Nelayan Kecil (P4K)

Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani Nelayan Kecil (P4K) merupakan suatu proyek pendidikan yang membimbing dan mengarahkan petani

nelayan kecil, agar mau dan mampu menjangkau fasilitas dan kemudahan pembangunan yang tersedia untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarganya.

Upaya penanggulangan kemiskinan haruslah dilakukan dengan cara memberdayakan si miskin yang dilaksanakan melalui suatu proses pendidikan yang berkelanjutan dengan menerapkan prinsip "Menolong Diri Sendiri" melalui prinsip belajar menemukan sendiri. Dengan pendidikan, diharapkan pada waktunya, si miskin akan mencapai tingkat keswadayaan dan kemandirian tertentu, sehingga mereka mampu menjangkau (akses) secara normal terhadap sumber pelayanan yang tersedia, yang meliputi sumber : permodalan , informasi, dan teknologi.

Warga binaan pada proyek P4K adalah: (1) penerima manfaat dari proyek P4K yaitu penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan; yang memerlukan pengembangan keterampilan yang sesuai, pelatihan dan dukungan (termasuk pelayanan keuangan mikro) guna mengubah status ekonomi mereka secara berkelanjutan; (2) mereka yaitu para petani pemilik, pengelola lahan sempit, penggarap, penyakap, buruh tani, buruh nelayan, pendega, nelayan dengan peralatan sederhana, peternak kecil, pengrajin kecil dan sebagainya.

Tujuan proyek P4K yaitu membangun sistem partisipatif dan berkelanjutan untuk membantu keluarga miskin di pedesaan, memperbaiki taraf hidup dan kesejahteraan keluarganya, melalui pencapaian kemandirian dan mengantarkan mereka keluar dari kemiskinan dengan kekuatan sendiri.

P4K memiliki tiga komponen utama yang semuanya saling terkait yaitu (1) penumbuhkembangan kelompok swadaya (KPK), (2) pelayanan keuangan mikro, dan (3) penguatan kapasitas manajemen.

Penumbuhan dan pengembangan kelompok-kelompok swadaya telah terbukti merupakan instrumen yang amat efektif bagi penduduk miskin dari kemiskinan. Pelayanan keuangan mikro diperlukan untuk membantu kelompok swadaya memobilisir tabungan dan akses kredit untuk menambah pembiayaan usaha kelompok yang mendukung usaha kelompok dari usahanya sendiri. Untuk membangun sistem manajemen proyek yang aktif diperlukan penugasan

manajemen dan staf proyek yang mememmi syarat kecakapan dan kemajuan baik di tingkat pusat, propinsi maupun kabupaten.

2.5.7.2. Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI)

Untuk meningkatkan pendapatan, petani harus dapat merespon peluang pasar dengan berinovasi dalam produksi dan pemasaran pertanian. Hal ini menemui kendala dikarenakan terbatasnya teknologi yang tepat guna, kurangnya investasi, dan keterbatasan akses petani terhadap informasi. Untuk itu diperlukan peningkatan akses petani terhadap informasi pertanian, dukungan pengembangan inovasi pertanian, serta upaya pemberdayaan petani. Poor Farmer’s Income

Improvement through Innovation Project (PFI3P) atau disebut Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P2MI).

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian atau Balitbangtan Kementerian Pertanian atau Kemtan. bermaksud: membangun sistem agribisnis di lahan marjinal, melalui pemberdayaan petani, pengembangan kelembagaan desa, dan perbaikan sarana dan prasarana pendukung di desa (investasi desa) secara partisipatif, serta meningkatkan akses pada jaringan informasi untuk menunjang inovasi teknologi, guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani miskin.

Adapun tujuan program P4MI adalah meningkatkan pendapatan petani miskin melalui inovasi produksi pertanian dan pemasaran (agribisnis) dengan cara: (1) memberdayakan petani melalui mobilisasi kelompok dan pengembangan kelembagaan serta memperbaiki sarana dan prasarna tingkat desa yang dibutuhkan petani dalam mendukung pengembangan agribisnis, (2) meningkatkan akses petani terhadap informasi pertanian; dan (3) melakukan reorientasi penelitian di daerah marjinal (lahan kering atau tadah hujan).

Target dari program P4MI adalah desa-desa miskin atau desa yang dihuni oleh >75% keluarga miskin. Ciri petani miskin yang dijadikan target dalam kegiatan P4MI yaitu: (1) memiliki lahan sempit atau kurang dari 0,1 hektar, (2) berproduktivitas relatif rendah, (3) hanya mengusahakan makanan pokok, (4) pendapatan rata-rata di bawah Rp.1.000.000,-/ kapita/tahun, dan (5) merambah sumber daya hutan dan laut untuk mencukupi kebutuhan dasar hidupnya.

Program ini dirancang untuk masa 5 (lima) tahun dan terdiri atas empat komponen, yaitu: (1) pemberdayaan petani, (2) pengembangan sumber informasi nasional dan lokal, (3) dukungan pengembangan inovasi pertanian dan diseminasinya, dan (4) manajemen program.

2.5.7.3. Participatory Integrated Development in Rainfed Areas (PIDRA)

Program PIDRA adalah program pengembangan pertanian di lahan kering yang diarahkan dalam upaya pengentasan kemiskinan yang dilaksanakan atas kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan IFAD. Pendanaan program bersumber pada pinjaman lunak dari IFAD sebesar US$ 23.570.000,-- dengan bunga pinjaman 0,75% per tahun, grace period 10 tahun dan jangka waktu pengembalian pinjaman selama 30 tahun tanpa management fee. Jangka waktu pelaksanaan program selama 8 tahun yang dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase I (2001-2004) dan fase II (2005-2008).

Pelaksanaan kegiatan komponen PIDRA berorientasi program yang dicirikan (1) berbasis membangun kelembagaan masyarakat miskin secara partisipatip untuk mewujudkan kemandirian masyarakat dan berkesinambungan, (2) tumbuhnya perhatian dan kontribusi pemerintah daerah bersama unsur instansi teknis terkait dalam memperkuat dan memperluas program, (3) kontribusi lembaga non pemerintah untuk memperkuat basis kelembagaan masyarakat yang mandiri yang mendukung kelangsungan program, dan (4) kaderisasi fasilitator dari masyarakat untuk mendampingi masyarakat miskin secara berkesinambungan.

Tujuan program adalah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan produksi pertanian berwawasan lingkungan, dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan secara berkesinambungan, serta memperbaiki taraf hidup 100.000 penduduk miskin, yang akan dicapai melalui: (1) pembentukan dan penumbuhan kelompok mandiri dengan memperkuat kemampuan manajemen kelompok, baik pada kelompok pria, wanita maupun campuran, (2) peningkatan produksi pertanian melalui konservasi dan perbaikan sumber daya alam, dan (3) perbaikan prasarana dan sarana pedesaan.

Sasaran program diarahkan kepada 3 propinsi: Jawa Timur (Jatim), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Lokasi di Propinsi Jatim mencakup 6 kabupaten yaitu Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, dan Lumajang, dengan sasaran sebanyak 225 desa atau 34.000 hingga 56.000 kepala keluarga. Lokasi di Propinsi NTB mencakup 3 kabupaten, yaitu Sumbawa, Dompu, dan Bima dengan sasaran sebanyak 75 desa atau 11.000 hingga 19.000 kepala keluarga. Lokasi di Propinsi NTT mencakup 5 kabupaten, yaitu Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Sumba Barat, Sumba Timur, dan Alor dengan sasaran sebanyak 200 desa atau 30.000 hingga 50.000 kepala keluarga. Desa-desa tersebut dipilih berdasarkan kriteria desa miskin yang meliputi aspek-aspek: topografi dan geografi, tingkat kesejahteraan desa, persentase lahan kering, persentase perempuan sebagai kepala rumah tangga, akses terhadap ketersediaan air bersih dan sarana transportasi serta persentase tenaga kerja yang pergi ke luar negeri.

Pendekatan yang dilakukan dalam program ini meliputi: (1) partisipatif, upaya pemberdayaan masyarakat dalam membangun dan meningkatkan kemampuan sendiri; (2) fleksibel, mengakomodasi aspirasi keluarga miskin selaku perencana, pelaksana dan pengawas dalam pembangunan; dan (3) pemberdayaan yang berperspektif jender, semua komponen program dilaksanakan dengan mengacu pada kesetaraan dan keadilan jender; (4) pendampingan oleh LSM, pembinaan proses transformasi untuk meningkatkan kemampuan kelompok dan anggotanya;(5) keberlanjutan, pelaksanaan program didasarkan untuk tumbuhnya kemandirian dalam menetapkan dan mengembangkan usaha yang bermanfaat dan menguntungkan yang dilakukan secara terus menerus; (6) desentralisasi, pendelegasian penuh dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program, dari tingkat masyarakat desa sebagai pelaksana sampai dengan manajemen program tingkat kabupaten; manajemen program tingkat propinsi dan pusat sebagai pelaksana koordinasi, pemantauan dan pengawasan.