K
etika akan berangkat ke Sri Lanka, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi toko komputer bersama Jimmy—putra Upāsika Liem Ie Tjen atau biasa dipanggil Mami oleh beberapa orang—guna membeli komputer dan barang-barang yang saya butuhkan selama belajar di Sri Lanka. Sambil menunggu para teknisi toko tersebut merakit komputer, saya sempat ngobrol ke sana ke mari—terutama soal agama—dengan customer service. Dona, itulah namanya. Seingat saya ia berasal dari Sumatra.
Dalam perbincangan tersebut Dona bertanya, “Apakah keluargamu juga beragama Buddha?” Dengan terus terang saya jelaskan bahwa saya dan keluarga saya memiliki agama yang berbeda.
“Apakah kamu mempunyai keinginan untuk membuat keluargamu menjadi umat Buddha?” Dengan singkat saya jawab bahwa saya tidak memiliki keinginan untuk membuat anggota keluarga saya menjadi umat Buddha. Mendengar jawaban saya, Dona berkomentar “Kalau begitu, kamu bukanlah anak yang bertanggung jawab.”
Begitulah perbincangan saya dengan Dona soal beda agama antara orangtua dan anak. Perbincangan itu singkat tapi penuh makna.
Betapa tidak karena banyak orangtua yang berusaha mati-matian agar anak selalu seagama dengannya dan juga banyak anak yang berusaha membuat orangtuanya turut menganut agama yang ia percayai.
Sebagai akibat dari adanya keinginan untuk membuat anggota keluarganya menjadi penganut agama yang dia anut, sering kali terjadi kesalahpahaman dan permusuhan dalam keluarga. Hal ini dapat terjadi karena setiap pemeluk agama percaya bahwa agama yang dia
anut adalah agama yang terbaik. Agama yang dia anaut adalah agama yang mampu memberikan kebahagiaan dan keselamatan baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.
Dalam keluarga saya, hanya saya yang menganut agama yang berbeda. Semua yang lain, ibu, ayah, kakak, adik dan semua keponakan saya menganut satu agama. Karenanya, ketika mengetahui saya pindah agama—menjadi umat Buddha bahkan menjadi sāmaṇera, banyak anggota masyarakat yang menyudutkan orangtua saya. Mereka mengatakan bahwa orangtua saya adalah orangtua yang tidak bertanggung jawab, membiarkan anaknya menganut agama lain.
Sungguh suatu pandangan yang saya rasa tidak ada bedanya dengan pandangan yang dianut Dona.
Orangtua kami sebenarnya memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk menganut agama apapun. Yang penting—dalam pandangan orangtua kami—kami menjadi orang yang baik, berguna bagi masyarakat dan tidak mengganggu orang lain. Keluarga kami lebih menaruh perhatian pada nilai-nilai moral daripada ritual keagamaan.
Kami punya prinsip, untuk apa siang dan malam melaksanakan ritual keagamaan tapi kalau moralnya tidak baik. Hal ini dapat terjadi karena ajaran kebatinan yang telah turun temurun semenjak nenek moyang kami, lebih kami kuasai daripada agama yang kami anut.
Dengan prinsip yang demikian, kelaurga saya tidak gentar menghadapi diskriminasi yang datang dari masyarakat. Mereka hidup dengan tenang bahkan merasa bangga saya bisa menjadi sāmaṇera.
Memang pada awalnya saya perlu suatu perjuangan yang cukup keras untuk bisa mendapatkan izin menjadi sāmaṇera. Saya perlu menerapkan suatu taktik agar izin itu keluar.
Kedua orangtua saya, terutama ayah, mengharapkan semua anak-anaknya kumpul menjadi satu sebab ia masih memegang prinsip lama—makan tidak makan yang penting kumpul. Sebagai anak, saya lebih mengikuti tren generasi zaman modern ini—kumpul tidak kumpul yang penting bahagia. Saya merelakan berpisah dengan keluarga saya, saya merelakan kehilangan kasih sayang secara dini dari kedua orangtua saya demi tercapainya kebahagiaan yang tertinggi melalui jalur kehidupan spiritual.
Kalau kita lihat secara seksama kedua prinsip di atas memang ada sisi negatifnya dan ada sisi positifnya. Prinsip orang-orang kuno makan tidak makan yang penting kumpul, menekankan pentingnya arti persaudaraan. Karena prinsip ini, nenek moyang kita bersatu, mereka mempunyai rasa solidaritas yang cukup tinggi. Mereka hidup saling menolong satu dengan yang lain. Salah seorang dosen saya menceritakan, beberapa dekade yang silam anak-anak bebas bermain dan setelah selesai bermain mereka bebas memetik buah yang ada di pekarangan tetangganya. Sekarang, rasa kepemilikan dan jiwa individualisme lebih tinggi sehingga kita tidak bisa menyaksikan anak-anak bisa bebas bermain seperti dulu. Terlebih lagi dengan hadirnya berbagai macam tekhnologi mutahir.
Kemajuan tekhnologi, di satu sisi, memberikan kenyamanan dan kemudahan. Akan tetapi di sisi lain, tekhnologi benar-benar telah membuat banyak generasi muda sekarang menjadi orang asing di negeri sendiri. Mereka lebih asyik dengan dunianya sendiri dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.
Orang-orang Dayak di zaman dulu memandang pentingnya arti kebersamaan. Oleh karena itu, mereka membangun satu rumah untuk ditinggali bersama. Biasanya satu rumah yang cukup besar terdiri dari
200 pintu dan dihuni oleh 500 orang. Akan tetapi, tradisi semacam ini sangat sulit kita temukan sekarang. Dengan sistem semacam ini, rasa persaudaraan tetap dapat dipertahankan dan memudahkan mereka untuk berkomunikasi, dan saling membantu bila ada yang mendapatkan kesulitan.
Rumah panjang sangat sulit ditemukan di zaman modern ini.
Orang-orang Dayak zaman sekarang lebih suka tingal di rumah-rumah terpisah dan gaya hidup semacam ini sangat didukung oleh pemerintah.
Kebanyakan generasi sekarang, sulit menerapkan prinsip makan tidak makan yang penting kumpul karena mereka lebih menekankan pentingnya nilai ekonomi. Karena itu, generasi sekarang lebih senang menggunakan prinsip, kumpul tidak kumpul yang penting bahagia.
Prinsip ini pada akhirnya telah memicu muncul jiwa individualisme. Karena ingin bahagia, sering kali kita lupa lingkungan sekitar kita. Lebih memprihatinkan lagi, karena ingin mendapatkan kebahagiaan banyak orang lupa daratan, mereka justru merampas kebahagiaan orang lain. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan kalau kita sekarang ini sering mendengarkan berita tentang KKN, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan dan sebagainya. Berita-berita semacam itu seakan-akan tidak pernah putus dari telinga kita.
Berita-berita itu terus mengalir bagai sungai, terus bermunculan bak jamur di musim hujan.
Keluarga saya yang lebih menekankan pentingnya arti morlitas, membuat saya lebih gampang mentransfer pengetahuan yang saya miliki. Dalam setiap kesempatan ketika saya kirim surat, saya nasehati mereka bagaimana cara berbuat baik yang lebih sempurna agar mampu
menghasilkan buah yang lebih sempurna pula.
Sebagai anak, saya juga merasa mempunyai tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas mental spiritual keluarga saya. Untuk bisa meningkatkan kualitas spiritual mereka atau untuk melakukan hal-hal yang lebih sulit dalam kehidupan spiritual, saya iming-imingi dengan hal-hal yang sifatnya sangat duniawi. Sebagai contohnya, bermeditasi. Saya katakan bahwa orang-orang yang bermeditasi menceritakan kepada saya mereka memiliki badan yang sehat dan merasa lebih baik dari sebelumnya.
Ayah yang di masa mudanya suka berpetualang, belajar dari satu guru ke guru yang lain, bertapa dari satu gunung ke gunung yang lain, mengunjungi tempat-tempat yang dianggap paling keramat, lebih cepat dan lebih tertarik dengan kata-kata saya. Begitu saya nasehati untuk bermeditasi, setiap pagi ayah selalu bermeditasi. Ketika saya mengunjungi mereka tepat satu bulan sebelum saya berangkat ke Sri Lanka, ayah mengatakan:
“Semenjak Bhante menyuruh saya untuk bermeditasi, setiap pagi saya selalu bermeditasi. Sekarang saya merasa lebih baik dari sebelumnya, dan sekarang saya bisa membaca meskipun tidak pakai kaca mata (sebelumnya ayah tidak bisa membaca kalau tidak pakai kaca mata).”
Saudara-saudara saya yang lain sekarang juga lebih religius daripada sebelumnya. Mereka menjalankan ritual keagamaan lebih serius. Lebih dari itu, mereka tidak alergi untuk datang ke vihāra.
Kalau memang Anda adalah orang yang bebeda agama dengan orangtua Anda, janganlah langsung menunjukkan taring bahwa Anda lebih hebat. Bila Anda arogan, orangtua dan keluarga Anda akan
bersikap apriori. Kadang kita harus menemukan sebuah cara agar kita bisa menjinakkan pikiran orangtua kita. Kalau Anda ingin menangkap harimau, jangan menggunakan tombak atau anak panah karena begitu harimau tahu Anda membawa tombak atau anak panah ia akan langsung pasang kuda-kuda untuk menerkam Anda.
Sang Buddha sendiri tidak langsung mengajarkan ajaran-Nya kepada orang-orang yang belum matang dalam berpikir. Sang Buddha menggunakan suatu taktik agar orang yang dihadapi dapat tunduk dan dengan sendirinya menjadi penganut agama yang diajarkan-Nya.
Coba lihatlah, bagaimana Sang Buddha membuat Y.M. Nanda tetap bertahan menjadi bhikkhu. Y.M. Nanda adalah pewaris tunggal dan berstatus pengantin baru yang berdasarkan catatan-catatan yang ada istrinya adalah wanita yang paling cantik saat itu. Karena itu, istrinya disebut Janapadakālyaṇi.
Sang Buddha, setelah mendengarkan laporan dari para bhikkhu bahwa Y.M. Nanda tidak betah menjadi bhikkhu karena rindu dengan istrinya, membawa Y.M. Nanda ke surga. Dalam perjalanan, Sang Buddha sengaja menciptakan kera betina yang sudah tua. Kera itu sedang berada di tempat yang sangat kering. Sang Buddha kemudian membawa Y.M. Nanda ke surga di mana terdapat bidadari yang sangat menggiurkan. Mereka semua tampak cantik-cantik.
Sang Buddha kemudian bertanya, “Nanda manakah yang lebih cantik, bidadari-bidadari ini atau istrimu?” “Bhante bidadari-bidadari ini tentu lebih cantik, dan Janapadakālyaṇi tak ubahnya seperti kera tua yang baru saja kita jumpai,” jawab Y.M. Nanda. “Nanda kalau memang Engkau ingin mendapatkan bidadari-bidadari ini, Engkau harus berjuang dengan keras. Engkau harus bermeditasi dengan tekun,” kata Sang Buddha.
Karena tekun bermeditasi dan merasa malu karena diolok-olok oleh bhikkhu lain, Y.M. Nanda menjadi orang suci. Ia mencapai tingkat kesucian tertinggi, dan bebas dari semua belenggu duniawi.
Kita bisa kembali lagi untuk melihat cerita Sigālaka. Ayah Sigālaka berpesan agar ia menyembah enam arah setiap pagi setelah mandi. Sang Buddha tidak langsung mengatakan apa yang dipraktikkan oleh Sigālaka adalah hal yang salah dan ia harus meninggalkan praktik semacam itu. Sang Buddha justru memberikan interpretasi lain atas praktik semacam itu. Setelah mendapatkan interpretasi baru dari Sang Buddha, bukanlah hal yang salah bila Sigālaka tetap mempraktikkan pesan ayahnya untuk menyembah enam arah setiap pagi setelah selesai mandi selain mempraktikkan ajaran Sang Buddha.
Sang Buddha juga menerapkan cara-cara yang berbeda ketika menghadapi Kisa Gotami, Patacara, anak-anak dan sebagainya.
Sebenarnya masalah beda agama antara orangtua dan anak bukanlah masalah yang baru. Sepanjang sejarah peradaban manusia atau semenjak manusia mengenal agama, banyak orangtua yang berharap agar anak seagama dengannya. Demikian juga, anak-anak berharap agar orangtuanya menganut agama yang dia anut.
Banyak contoh yang bisa kita ambil.
Di atas kita telah melihat bagaimana orangtua Sigalāka berharap agar anaknya beragama Buddha atau paling tidak mempraktikkan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha. Semasa hidupnya, ia tidak sukses membuat anaknya beragama Buddha. Tapi pada saat menjelang kematiannya, ia meninggalkan pesan yang pada akhirnya membuatnya anaknya menjadi penganut agama baru, agama Buddha.
Kāla adalah anak Anāthapiṇḍika yang menjadi seorang sotāpanna
karena disuap. Pada mulanya, ia adalah anak yang enggan untuk bertemu dengan Sang Buddha. Setiap kali Sang Buddha datang ke rumahnya, Kāla selalu menghindar. Anāthapiṇḍika yang mengetahui gelagat anaknya, merasa kuatir anaknya akan terlahir di alam yang rendah (apāya).
Pada hari uposatha, Anātapiṇḍika meminta Kāla untuk pergi ke vihāra guna mendengarkan ceramah dan ia akan memberikan uang seratus keping setelah ia pulang. Cara itu sukses membuat Kāla mengunjungi vihāra meskipun ia tidak mendengarkan ceramah. Pada hari selanjutnya, Anātapiṇḍika minta Kāla untuk belajar sebait syair dari Sang Buddha dan bila sukses, ia akan diberi uang seribu keping.
Dengan senang hati, Kāla pergi ke vihāra dan menemui Sang Buddha.
Ia mengatakan mau belajar sebait syair dari Sang Buddha.
Sang Buddha mengajarkan sebait syair kepadanya. Dengan dalih kuatir tidak dapat mengingat syair tersebut dengan baik, Sang Buddha meminta Kāla menghafalkan syair itu secara terus menerus.
Karena cara tersebut, Kāla memahami maknanya dan menjadi seorang sotāpanna. Pencapaian kesucian membuat Kāla enggan disuap dengan uang hanya demi belajar Dhamma.
Anātapiṇḍika berharap anaknya belajar Dhamma bukan karena dipicu oleh keinginan agar agama Buddha banyak pengikutnya, melainkan karena Anātapiṇḍika memahami secara benar apa yang akan terjadi bila anaknya enggan belajar Dhamma.
Y.M. Sāriputta adalah seorang Dhammasenapati. Sebelum menjadi bhikkhu di bawah bimbingan Sang Buddha, ia adalah seorang brāhmaṇa. Sebagai seorang brāhmaṇa terlebih lagi ayahnya adalah pemimpin di desanya, ia mendapatkan pendidikan yang cukup.
Setelah menyadari manfaat kehidupan selibat, ia akhirnya menjadi petapa bersama sahabat akrabnya Kolita yang belakangan kita kenal sebagai Y.M. Moggallāna. Mereka belajar kepada Sañjaya tapi hal itu tidak membuahkan hasil pada apa yang mereka harapkan. Mereka mengharapkan perealisasian kebahagiaan tertinggi.
Suatu hari Petapa Upatissa sangat tertarik dengan sikap dan prilaku Bhante Asaji yang tengah berjalan untuk mengumpulkan dana makanan. Setelah mendengar sebait syair dari Y.M. Asaji, akhirnya Petapa Upatissa menjadi seorang Sotapāna. Ia menginformasikan sahabat karibnya, bahwa ia telah menemukan seorang guru yang telah membuatnya merealisasi kesucian pertama. Mereka Kemudian menemuai Sang Buddha bersama teman-teman mereka dan menjadi murid-murid Sang Buddha.
Y.M. Sāriputta adalah bhikkhu yang cerdas, pandai dan mempunyai kemampuan intelektual yang cukup tinggi. Beberapa orang berasumsi mungkin karena beliau sangat cerdas dan mempunyai kemampuan intelektual yang sangat tinggi, sehingga beliau agak sulit untuk merealisasi Nibbāna.
Y.M. Sāriputta mempunyai tiga saudara laki-laki yaitu Cunda, Upasena dan Revata. Selain itu, ia juga mempunyai 3 saudara perempuan. Namanya adalah Cālā, Upacālā, dan Sisūpacālā. Keenam saudaranya tersebut menjadi bhikkhu dan bhikkhunī. Pada akhirnya, semua merealisasi kebahagiaan tertinggi (Nibbāna) di bawah bimbingan Sang Buddha. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa ibu Y.M.
Sāriputta dan juga ibu tujuh Arahat tetap bertahan menjadi pengikut agama lain hingga menjelang Y.M. Sāriputta mangkat?
Memang sulit dipercaya bahwa ibu dari tujuh Arahat dan ibu dari
seorang Dhammasenapati tetap bertahan menjadi pengikut agama lain, tapi itulah kenyataan yang sebenarnya terjadi. Ibu Y.M. Sāriputta justru merasa tidak senang melihat putra-putrinya menjadi bhikkhu dan bhikkhunī. Ia mengharapkan mereka menjalani kehidupan rumah tangga dan meneruskan generasi keluarga.
Y.M. Sāriputta mangkat beberapa bulan terlebih dahulu sebelum Sang Buddha. Sebelum mangkat beliau minta izin kepada Sang Buddha untuk mangkat di tempat kelahirannya, tepat di kamarnya ketika ia dilahirkan. Sang Buddha mengizinkannya. Setelah berada di kamarnya, pada malam hari banyak dewa yang datang untuk menjenguk Y.M. Sāriputta guna memberikan penghormatannya yang terakhir. Ibunya melihat apa yang terjadi dan ia menanyakan siapa yang datang. Y.M. Sāriputta menjelaskan bahwa yang datang adalah para dewa termasuk dewa brahma yang selalu dihormati oleh ibunya.
Atas pertanyaan ibunya, Y.M. Sāriputta juga menjelaskan status para dewa bila dibandingkan dengan Sang Buddha. Saat itulah muncul keyakinan pada Sang Tiratana pada diri ibu Y.M. Sāriputta dan akhirnya ia menjadi seorang Sotapāna. Ia menjadi seorang penganut ajaran Sang Buddha sekaligus menjadi seorang Sotapāna tepat beberapa saat menjelang putranya yang menjadi Dhammasenapati akan mangkat.
Bila kita kalkulasi, berarti lebih dari empat puluh tahun menjadi Arahat dan sebagai Dhammasenapati, Y.M. Sāriputta tidak membuat ibunya menjadi pengikut Sang Buddha. Apakah beliau berusaha untuk membuat ibunya menjadi penganut agama Buddha atau tidak selama itu tidak ada bukti yang jelas. Bukti yang kita miliki hanya ibunya menangis meraung-raung tatkala mengetahui Y.M. Sāriputta mangkat, dan mempertanyakan mengapa ia tidak mengajarkan Dhamma yang telah dianutnya semenjak dulu. Mungkin saja—tapi tidak pasti—
karena jiwa toleransi dan rasa hormat sehingga beliau membiarkan begitu saja ibunya menganut agama lain.
Kalau kita lihat bukti-bukti yang ada dalam Tipitaka, agama Buddha tidak mempermasalahkan beda agama antara orangtua dan anak. Orangtua diberi kebebasan untuk menganut agama tertentu dan anak juga diberi kebebasan untuk menganut agama lain. Meskipun beda agama, yang terpenting adalah mereka hidup rukun, bahagia dan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.
Setelah bisa membedakannya, kita selalu menghindari apa yang tidak baik dan menjalankan apa yang baik.
Kebebasan menganut suatu agama akan bisa kita lihat dalam Kālamasutta dalam Kitab Anguttara Nikāya. Dengan jelas sutta ini mengatakan:
“Etha tumhe, kālāmā, mā anussavena, mā paramparāya, mā itikirāya, mā piṭakasampadānena, mā takkahetu, mā nayahetu, mā ākāraparivitakkena, mā diṭṭhinijjhānakkhantiyā, mā bhabbarūpatāya, mā samaṇo no garū’ti.”
Artinya:
“Oh Kālāma, jangan percaya begitu saja pada wahyu, tradisi, kabar angin, kitab suci, logika, pandangan yang tampak rasional, sesuatu yang disepakati, pandangan sekilas, orang yang mengajarkan adalah orang yang kompeten, atau karena guru yang mengajarkan ajaran tersebut adalah orang yang kita hormati.”
Dalam nasehat ini ada sepuluh hal yang seharusnya tidak kita terima begitu saja keberadaannya. Lalu apakah yang harus kita lakukan bila di lingkungan sekitar kita, kita menemukan hal-hal semacam itu?
Sang Buddha mengajarkan kita untuk menyelidiki kebenaran hal tersebut atau di dalam terminologi Buddhis disebut sebagai ehipassiko.
Setelah menyelidikinya dengan seksama, kita akan mengerti apakah hal-hal tersebut membawa kebahagiaan atau tidak. Bila ajaran tersebut membawa penderitaan, tidak bermanfaat bila dipraktikkan, sudah selayaknya kita tidak menganut dan mengikuti ajaran tersebut.
Namun, jika ajaran tersebut membawa kebahagiaan, bermanfaat sudah selayaknya kita menganut ajaran tersebut.
Sebagai umat Buddha dan berstatus sebagai sāmaṇera, tentu saya merasa bahagia dan sangat beruntung bisa bertemu dan mempraktikkan ajaran Sang Buddha. Saya merasa praktik moralitas saya jauh lebih baik bila saya bandingkan dengan ketika sebelum saya menjadi umat Buddha. Sebagai petani yang tinggal di desa terpencil, pembunuhan adalah hal yang sangat sulit dihindari bahkan tampak mustahil. Tapi seingat saya, semenjak saya menjadi sāmaṇera saya tidak pernah membunuh makhluk hidup dengan sengaja.
Saya bahagia dengan apa yang saya praktikkan. Demikian pula anggota keluarga saya juga bahagia dengan apa yang mereka lakukan.
Di antara kami tidak ada yang memaksakan kehendak untuk menganut agama yang kami anut. Kami saling menghormati dan kami juga saling mengerti akan apa yang dilakukan oleh yang lain.
Kerukunan hidup dalam keluarga tetap akan terjaga meskipun mereka menganut agama yang berbeda sepanjang semua anggota keluarga menghormati penganut agama lain dalam keluarga tersebut.
Tapi, rumah akan menjadi neraka bila anggota keluarga yang berbeda agama saling memaksakan kehendak agar yang lain juga turut menganut agamanya.
Pada abad ketiga Sebelum Masehi, Asoka melalui prasasti menulis sebuah pesan yang amat berguna bagi sebuah masyarakat yang anggotanya menganut agama yang berbeda-beda. Pesan tersebut adalah sebagai berikut:
“Seseorang hendaknya tidak hanya menghormati agamanya sendiri dan merendahkan serta melecehkan agama lain. Tapi seseorang hendaknya menghormati agama lain karena berbagai alasan. Dengan melakukan hal ini, ia membantu agamanya sendiri berkembang dan juga agama lain. Bila ia bertindak sebaliknya, itu sama artinya ia menggali kuburan bagi agamanya sendiri dan menghancurkan agama lain. Siapapun yang menghormati agamanya sendiri dan merendahkan serta melecehkan agama lain, dengan berpikir “Aku akan mengembangkan agamaku sendiri” sebaliknya ia justru semakin menghancurkan agamanya sendiri. Oleh karenanya, hidup saling menghormati dan saling memiliki toleransi adalah hal yang baik.
Marilah kita saling mendengarkan dan menghormati ajaran yang dianut oleh orang lain.”