• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belajar dan Berkhidmat di Madrasah Saulatiyah

BAB II RIWAYAT HIDUP DAN JARINGAN INTELEKTUAL

E. Belajar dan Berkhidmat di Madrasah Saulatiyah

 57 Adapun ulama’ dunia yang lahir dari Madrasah Shaulatiyah Makkah diantaranya Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyāth, Syaikh Sayyid ‘Alawi Bin Sayyid Abbas Al-Maliki, Musnid Ad-Dunya Syaikh Yasin Bin Isla Al-Padani, Prof. Dr. Syaikh Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki, Syaikh Islamil bin Usman Zein, Syaikh Zakaria Abdullah Bila dan banyak lagi, ratusan bahkanribuan alumni Madrasah Shaulatiyah yang menjadi ulama besar dunia karena Sanad keilmuan alumni Saulatiyyah adalah sanad ‘aly (langsung ke pusat Islam terutama Fiqh, Quran Hadits dan Qiraah).118

Salah satu strategi Maulanasyaikh dalam kaderisasi untuk mempertahakan, mengembangakan pendidikan-da’wah NW dipersiapkannya generasi unggul NW, dengan dikirimnya para murid-murid Maulanasyikh yang berbakat melanjutkan studi ke lembaga-lembaga pendidikan yang maju bukan saja di lembaga-lembaga-lembaga-lembaga pendidikan yang berafiliasi khusus dengan akidah Nahdlatul Wathan ASWAJA melainkan juga ke sekolah-sekolah yang dalam notabene-nya tidak ada afiliasinya dengan Nahdlatul Wathan. Maulanasyaikh mengirim murid-muridnya ke Malang, Jogja, Surabaya, Semarang dan berbagai kota lainnya di pulau Jawa. Dan sejak tahun 1970-an ketika alumni Ma'had Darul Quran Wal hadits bermunculan, Maulanasyaikh juga mengirim murid-muridnya yang berpretasi untuk menempuh studi lanjutan di Makkah al-Mukarramah terutama dalam hal ini adalah di Madrasah Shaulatiyah.119 Selanjutnya tradisi pengiriman alumni Ma’had Darul Qur’an wa al-Hadis al-Majidiyyah al- Syafiiyyah NW untuk melanjutkan studi ke Saulatiyyah terus berlangsung dari tahun ke tahun.

E. BELAJAR DAN BERKHIDMAT DI MADRASAH

58 

berangkat ke Makkah Maulanasyaikh berpesan agar jangan menikah di Makkah dan pesan Maulanasyaikh itu beliau indahkan sampai balik ke Lombok. Di Makkah beliau masuk di madrasah Shaulatiyah setelah lulus tes ujian masuk. Penguji beliau saat itu adalah Syaikh Mājid Sa’īd (Mudīr Madrasah Shaulatiyah), Syaikh ‘Iwad dan Syaikh Adnān. Sitem tes dengan membaca (qirāah al-kutub al-turāts) dan menjelaskan Kitab (fahmi al-kutub al-turāts). Dalam ujian tersbut beliau mendapatkan perdikat mumtāz. Sehingga beliau diberikan hak bebas memilih masuk dikelas yang diinginkan. Beliau pun memilih masuk di kelas 3 (tiga).

Sebagaimana beliau tekun mengaji saat halaqah pada Maulansyaikh saat di Lombok begitu juga keggihan beliau berguru pada para Masyāikh saat di Makkah bahkan beliau dapat mengaji secara langsung pada guru-guru Maulansayikh seperti Syaikh Hasan Massyad yang pernah mengajar Maulanasyiakh saat belajar di Madrasah Shaulatiyah. Menjadikan semakin kuat silsilah keilmuan antar guru dan murid. Selain itu, TGH. Lalu Anas Hasyri dengan modal keilmuan agama yang mumpuni memasuki Madrasah Shaulatiyah beliau di percayakan oleh mudir Madrasah Shaulatiyah untuk menjadi guru pengganti (nuqobā’). Ketika ada guru yang tidak hadir maka dia akan dipanggil untuk menggantikannya. Ini merupakan prestasi yang luar biasa karena tidak semua murid di madrasah Shaulatiyah mendapatkan kepercayaan seperti itu. Itulah sebabnya dikenal oleh adik kelas dari pelosok nusantara termasuk dari Lombok, salah satu yang pernah diajar dari Lombok adalah Dr. TGH. Zainal Arifin Munir, Lc., MA120. Menurut penuturan Dr. TGH. Zainal Arifin Munir, Lc., MA.

(selanjutnya ditulis Abah Yanmu)121, TGH. Lalu Anas Hasyri masuk di kelasnya Abah Yanmu di saat Abah Yanmu kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah di Madrasah Shaulatiyah yaitu pada tahun 1978. Abah Yanmu sendiri pergi ke Makkah tahun 1975 dan masuk Madrasah

120 TGH Zainul Arifin Munir,pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Munirul Arifin, Nahdlatul Wathan (Yanmu NW) Praya. Secara pribadi TGH Zainul Arifin hidup dalam lingkungan gemar menuntut ilmu. Di umur 11 tahun, tepatnya pada tahun 1975 dia diberangkatkan orang tua, untuk mengenyam pendidikan di Mekkah. Di negeri gurun pasir itu, dia belajar ilmu pengetahuan selama 10 tahun.

Saat ini selain aktif sebagai dosen tetap UIN Mataram dan Pimpinan Yayasana Munirul Arifin NW Peraya juga sebagai Ketua Pengurus Daerah (PD) NW Lombok Tengah Periode 2020-2025.

121 Wawancara pada 11 Maret 2021 20:00 WITA di Pondok Pesantren Yanmu NW Peraya

 59 Saulatiyah tahu 1976 diterima di kelas 3 MI karena Abah Yanmu datang dari Lombok belum paham bahasa Arab apalagi Nahwu Sharaf bahkan belum fasih membaca Al-Qur’an. Abah Yanmu belajar membaca menulis Arab dan membaca menghafal Matan Jurumiyah pada kelas 3 dan 4 MI Madrasah Saulatiyah. Ketika sudah naik kelas 5 baru ada tullab yang senior masuk kelas. Kakak senior yang masuk kelas di Shaulatiyah adalah yang punya kelebihan pemahaman ilmu (nuqoba’) unutk membantu Masyaikh dan yang menjadi nuqoba’ di minta oleh Mudir Shaulatiyah.

Saat Abah Yanmu kelas 5 MI di Madrasah Saulatiyah kakak kelas yang senior (nuqoba’) yang masuk kelas saat itu adalah TGH. Lalu Anas Hasri. Dari pengajaran TGH. Lalu Anas Hasyri di kelas baru terbuka pemahaman Abah Yanmu tentang ilmu Nahwu-Sharaf sebagai ilmu alat Bahasa Arab. Beliaulah yang menjadi futuh bagi Abah Yanmu. Padahal banyak Syaikh-Syaikh sebelumnya yang mengajar materi yang sama tapi tidak dapat pemahaman yang terbuka seperti yang diajarkan TGH. Lalu Anas Hasyri, Abah Yanmu dengan mudah memahami penyampain TGH. Lalu Anas Hasyri karena dekat dengan jiwa Lombok yang bagi orang Lombok akan mudah menerima penjelasannya.

Di Madrasah Saulatiyah TGH. Lalu Anas Hasyri di kenal lebih agresif diantara Thullab Shaulatiyah lainnya dari Lombok. Memang ada beberapa juga tullab dari Lombok yang agak aktif seperti TGH.

Sukarnawadi (TGH. Husnudduat), dan TGH. Dr. Fahmi.

TGH. Lalu Anas Hasyri juga memiliki kedekatan dengan teman-teman sejawatnya sebagai tullab Shaulatitah yang dari Lombok.

Seperti kedekatan TGH. Lalu Anas Hasyri dan TGH. Yusuf Makmun seperti bersaudara kandung. Selain itu sangat dekat dengan sesama tullab yang lainnya TGH. Hilmi Najamuddin, TGH. Sedek (TGH.

Hayyi Zainur), TGH. Zaini Abdul Hannan, TGH. Haramaen, TGH.

Sahruf (TGH. Zahid Sayrif), TGH. Hasil (TGH. Izzudin Habib), TGH. Mahalli Fikri dan TGH. Nasir Abdul Hanan.

TGH. Lalu Anas Hasyri diantara tullab Saulatiyah saat itu yang memiliki keistimewanya, di Madrasah Syaulatiyah juga TGH. Lalu Anas Hasyri terkenal sebagai murid Maulanasyaikh yang kuat dan taat.

Karena tidak semua teman-teman seangkatannya yang sebagai tullab Shaulatiyah yang datang teguh pendiriannya pada Maulanasyaikh.

Sehingga menurut Abah Yanmu, “TGH. Lalu Anas Hasyri adalah

60 

bintang dintara kita”. Kalau pintar ada yang lebih pintar, disanalah Abah Yanmu yakin bahwa jauh tertinggal antara pintar dan barokah.

Bagi Abah Yanmu, pintar itu nomor sepuluh 10, namun yang terpenting adalah barokah dan akhlak. Itulah sebabnya Abah Yanmu selalu dari dulu ngring TGH. Lalu Anas Hasyri, dan menikmati giring itu sampai sekarang.

Selama TGH. Lalu Anas Hasyri bermulazamah pada ulama’

atau menjadi khādimul ‘ilmi di Makkah beliau selalu memberi kabar kepada Maulanasyaikh dengan mengirim surat berbahasa Arab dengan sya’ir (‘arūdh). Surat-surat beliau tersebut menjadi kesan tersendiri bagi Maulanasyaikh, seperti yang pernah disampaikan Maulanasyaikh kepada TGH Mahmud Yasin dengan mengatakan “Sejak saya pulang dari Makkah tidak ada yang pernah mengirimi saya sya’ir kecuali dia (TGH.

Lalu Anas Hasyri)”. Selain memberikan kesan, surat-surat beliau juga dikagumi Maulanasyaikh karena pernah suatu ketika Maulanasyaikh menguji beliau supaya menulis 5 (lima) surat dengan pesan yang sama namun redaksinya berbeda, ujian tersebut beliau selesaikan dengan baik sesuai harapan Maulanasyaikh. Sampai-samapi Maulanasyaikh membaca surat tersebut di depan tullab Ma’had DQH NW Pancor seraya mengatakan ”mulene ceket gurumek ne (memang pintar gurumu ini)”.

Pada tahun 1983 Maunasyaikh memerintahkan TGH. Lalu Anas Hasyri untuk pulang ke Lombok. Beliau pun meminta izin kepada mudir madrasah Shaulatiyah untuk pulang ke Lombok, namun mudir malah meminta beliau untuk tinggal 1 tahun lagi di Makkah.

Permintaan mudir tersbut beliau sampaikan kepada Maulanasyaikh, Maulanasyaikh pun menyetujui. Kejadian tersebut Maulanasyaikh ceitakan kepada TGH. Mahmud Yasin dengan berkata “to ite taokne tekangen anas ine (disana dan disni tempatnya di rindukan anas ini).

Dengan kewalian Maulanasyakh sebenarnya meminta TGH.

Lalu Anas Hasyri pulang bukan hanya untuk kembali mengabdi di Nahdlatul Wathan akan tetapi untuk bisa berjumpa dengan ayahandanya yang akan meninggal tahun itu, firasat Maulanasyaikh pun tidak meleset karena pada tahun 1983 Haji Lalu M. Syamsudin ayah beliau meninggal dan beliau masih di Makkah. Beliau tidak sempat menatap dan menjumpai jasad ayahandanya sebelum dikebumikan saat itu belum video call dan teleconference alat komunikasi digital belum maju.

 61 Barulah setahun berikutnya 1984 TGH. Lalu Anas Hasyri pulang ke Lombok.

Selama delapan tahun di Madrasah Shaulatiyah Makkah al-Mukarramah dari tahun 1975-1984 TGH. Lalu Anas Hasry terkenal cerdas di Madrasah as-Saulatiyah dan mendapat predikat mumtaz ma’a syaraf al-ulya (summacomlaude) saat menamatkan studinya pada tahun 1980. Pantas sepulangnya beliau dari Makkah pada tahun 1984 Maulanasyaikh memintanya langsung mengajar di almamaternya MDQH pada tahun 1984. Dan atas permintaan Maulanasyikh juga beliau menjabat sebagai Wakil Katib Dewan Mustasyar PB NW dan menjabat sebagai Wakil Amid MDQH sejak tahun 1995 sampai sekarang, setelah konflik Nahdlatul Wathan terjadi sekitar tahun 1998-1999, beliau mendirikan pondok pesantren di tempat kelahirannya, ponpes Darul Abrar NW Montong Kirik Gunung Rajak Sakra Barat pada tahun 1999.122