• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

A. LATAR BELAKANG

Dewasa ini sekitar 200 jenis minyak atsiri diperdagangkan di pasar dunia dan tidak kurang dari 80 jenis diantaranya diproduksi secara kontinyu. Minyak atsiri merupakan salah satu komoditi Indonesia baik untuk pasar lokal maupun pasar ekspor. Lebih dari 40 jenis minyak atsiri yang sudah dikenal dan ada di Indonesia, 15 jenis diantaranya sudah menjadi komoditi ekspor yaitu minyak sereh wangi (java citronellal), minyak nilam (patchouli oil), minyak akar wangi

(vetiver oil), minyak kenanga (cananga oil), minyak ylang ylang (ylang ylang oil), minyak pala (nutmeg oil), dan minyak terpentin. Selain itu, beberapa jenis minyak atsiri lainnya yang potensial dikembangkan adalah minyak jahe (ginger oil),

minyak daun jeruk purut (kaffir lime leaf oil), dan minyak lada hitam (black pepper oil). Minyak atsiri digunakan dalam pembuatan obat-obatan, parfum, kosmetika, sabun, detergen, flavor dalam makanan dan minuman dan aroma terapi.

Negara tujuan ekspor minyak atsiri Indonesia antara lain adalah USA (23%), Inggris (19%), Singapura (18%), India (8%), Spanyol (8%), Perancis (6%), Cina (3%), Swiss (3%), Jepang (2%) dan negara-negara lainnya (8%). Meskipun pangsa pasar beberapa jenis minyak atsiri tertentu relatif tinggi namun total pangsa pasar minyak atsiri Indonesia di pasar dunia hanya 2.6%. Pada tahun 2004, nilai ekspor komoditas atsiri mencapai USD 47.2 juta, namun Indonesia juga mengimpor minyak atsiri serta olahannya sebesar USD 117.2 juta sehingga neraca perdagangan minyak atsiri Indonesia menjadi minus.

Tabel 1 Ekspor dan impor minyak atsiri Indonesia (tahun 2003 – 2008) Tahun Ekspor (USD) Peningkatan

(%)

Impor (USD) Peningkatan (%) 2003 59,766,299 - 193,125,000 - 2004 70,732,539 18.34 289,574,000 49,94 2005 93,320,585 31.93 320,152,000 10,56 2006 67,324,969 27.85 350,758,000 9,56 2007 101,140,080 50.23 381,940,000 8,89 2008 66.250.125 - - - (Sumber : Gunawan 2009)

Tabel 2 Beberapa jenis minyak atsiri Indonesia yang merupakan komoditi ekspor dan potensial dikembangkan

No Jenis minyak atisiri

Peluang bisnis Daerah

penyebaran

Standar yang digunakan 1 Minyak pala Komoditi ekspor

(350 ton per tahun, dengan pangsa pasar 72%) Maluku, Jawa, Banda, Aceh, Sulawesi FCC, EP (European Pharmacopoeia), standar Industri 2 Minyak nilam Komoditi ekspor (800

ton per tahun, pangsa pasar 64%) Jawa, Sumatra, Aceh dan Sulawesi SNI 06-2385-2006, ISO 3757(2002), standar Industri 3 Minyak Jahe Potensial dikembangkan

(pangsa pasar 0.4%) Mayoritas di Jawa SNI 06-4374-1996, FCC 4 Minyak akar wangi

Komoditi ekspor (30 ton per tahun, pangsa pasar 26%) Mayoritas di Jawa (Jawa Barat) ISO 4716 : 2002(E) 5 Minyak Lada Hitam

Pangsa pasar 0.9% Sumatra ( Lampung) dan Jawa

FCC (Food Chemical codex)

6 Minyak kenanga Komoditi ekspor (25 ton per tahun, pangsa pasar 67%)

Jawa FCC, SNI

06-3949-1995

7 Minyak ylang-ylang

Potensial dikembangkan Jawa SNI 06-7224-2006, standar

EOA No.200 8 Minyak terpentin Produksi Indonesia

10000 ton per tahun (untuk industri aromatik)

Terutama Jawa dan Sumatra SNI 01-5009.3-2001 9 Minyak daun jeruk purut Hanya diproduksi di Indonesia namun produksi kecil (potensial dikembangkan) Mayoritas Jawa Standar industri 10 Minyak sereh wangi Komoditi ekspor (500 ton per tahun, pangsa pasar 12%)

Mayoritas Jawa

SNI 06-3953-1995

Masalah utama dalam pengembangan minyak atsiri Indonesia adalah mutu minyak atsiri yang rendah dan harga yang berfluktuasi di pasaran. Industri pengolahan minyak atsiri di Indonesia telah ada sejak zaman penjajahan. Dilihat

dari kualitas dan kuantitasnya tidak mengalami banyak perubahan. Hal ini disebabkan sebagian besar unit pengolahan minyak atsiri masih menggunakan teknologi sederhana atau tradisional dan umumnya memiliki kapasitas produksi yang terbatas. Mutu yang rendah sangat erat kaitannya dengan beberapa faktor penyebab antara lain rendahnya kapasitas sumber daya manusia sebagai petani maupun penyuling, pengelolaan bisnis yang tradisional dengan segala keterbatasannya dan teknologi serta teknik produksi yang masih tradisional dan berkualitas rendah.

Ekspor minyak atsiri Indonesia ke pasar internasional sebagian besar masih berupa produk setengah jadi. Industri pengguna minyak atsiri terbesar adalah industri flavour (50%) dan fragrance (20-25%). Industri pengguna lainnya diantaranya adalah aromaterapi (5-10%), farmasi, insektisida dan bidang lainnya. Menurut United Nations Trade Statistics, perdagangan minyak atsiri dan produk terkait tumbuh sekitar 10% per tahun dimana pasar untuk flavour dan fragrance

antara 4 – 5% per tahun. Pelaku usaha di bidang minyak atsiri sudah banyak di Indonesia biasanya para pelaku usaha di Indonesia berorientasi terutama untuk pasar ekspor walaupun sebagian juga untuk kebutuhan pasar lokal yang permintaan pasar terus meningkat dari tahun ke tahun. Pelaku usaha tersebut ada yang memiliki lahan pertanian, pengolahan ataupun hanya sebagai trader. Minyak atsiri sendiri sudah digunakan untuk berbagai aplikasi baik di bidang pangan, parfum, obat-obatan ataupun bidang yang lain.

Sekarang ini kualitas minyak atsiri jadi sorotan utama terutama yang berasal dari negara berkembang seperti Indonesia dimana tuntutan pasar ekspor seperti Eropa dan Amerika menuntut kualitas yang baik dan konsisten. Banyaknya standar yang berlaku terutama standar internasional pastinya memberikan kendala oleh para eksportir terutama dari Indonesia.

Regulasi terbaru saat ini adalah regulasi REACH (Registration, Evaluation, Authorisation and Restrictions of Chemicals) yang dibuat oleh ECHA (European Chemical Agency) dimana dalam regulasi REACH ini memiliki tujuan utama yaitu melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dari senyawa kimia. Persyaratan dalam regulasi ini yaitu produsen harus melengkapi data dan dokumen terkait informasi tentang substansi bahan atau produk yang dijual dengan volume di atas 1 ton per tahun ke pasar Eropa. Bahan-bahan yang dicakup dalam REACH diantaranya bahan kimia, komponen elektronik, bahan bangunan, mainan dan minyak atsiri. Produsen dan importir yang tidak mengikuti regulasi REACH sesuai

ketentuan yang ada tidak bisa mengeskpor dan mengimpor produk ke pasar Uni Eropa.

Semakin ketatnya regulasi di Eropa dan Amerika bisa menguntungkan maupun merugikan bagi para pelaku usaha lokal. Pelaku usaha atau industri minyak atsiri yang memiliki finansial, fasilitas dan SDM (sumber daya manusia) yang baik kemungkinan bisa mengatasi permasalahan tersebut terkait regulasi yang semakin ketat dan kompleks tersebut sebaliknya bagi para pelaku usaha tradisional hal ini bisa menyebabkan banyak masalah yang pada akhirnya kerugian jika tidak bisa memenuhi standar yang ada. Salah satu permintaan konsumen yaitu pasar Eropa dan Amerika saat ini adalah terkait kelengkapan data informasi mengenai komposisi senyawa volatil yang ada di minyak atsiri secara lebih detail. Pada umumnya senyawa kimia yang ada di minyak atsiri mayoritas senyawa volatil yang kompleks dan berjumlah banyak.

Dalam rangka memenuhi persyaratan tersebut maka diperlukan analisis senyawa volatil (mudah menguap) pada minyak atsiri baik secara kualitatif maupun kuantitatif menggunakan alat GC (gas chromatography) dan GC-MS

(gas chromatograhy-mass spectrophotometry). Analisis secara kualitatif dengan alat GC-MS berarti bisa menentukan jenis senyawa kimia yang belum diketahui sedangkan analisis kuantitatif ditujukan untuk penentuan konsentrasi atau kadar senyawa volatil.

Jenis minyak atsiri yang diidentifikasi didasarkan atas minyak atsiri yang memiliki nilai pangsa pasar yang besar terutama ekspor, minyak atsiri yang potensial dikembangkan dan juga memperhatikan mengenai ketersediaan bahan minyak atsiri yang ada. Minyak atsiri yang diteliti adalah minyak pala, minyak nilam, minyak jahe segar, minyak akar wangi, minyak lada hitam, minyak kenanga, minyak ylang-ylang, minyak terpentin, minyak daun jeruk purut dan minyak sereh wangi.

Setelah tahap identifikasi dilanjutkan gap analysis dengan membandingkan antara data hasil penelitian ini dengan standar yang ada baik Standar Nasional Indonesia (SNI), standar industri (flavor dan fragran) ataupun standar internasional seperti ISO (International Standard), FCC (Food Chemical Codex)

B. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan identifikasi senyawa volatil minyak atsiri asal Indonesia dan gap analysis antara senyawa volatil pada minyak atsiri asal Indonesia dengan standar yang ada dan berlaku.

C. MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan bisa digunakan untuk mendeteksi tentang adanya adulteration dan kontaminasi asing khususnya minyak pala, minyak nilam, minyak jahe segar, minyak kenanga, minyak ylang-ylang dan minyak daun jeruk purut. Selain itu hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai acuan dalam melengkapi informasi tentang senyawa penyusun minyak atsiri secara lebih detail khususnya 10 buah minyak atsiri yang diteliti tersebut dalam memenuhi standar yang semakin kompleks dan ketat terutama pasar ekspor. Terakhir, hasil penelitian ini bisa dijadikan rujukan dalam melengkapi standar yang ada atau membuat standar baru terkait belum adanya parameter senyawa volatil terutama Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk beberapa minyak atsiri seperti minyak jahe, minyak pala, minyak akar wangi, minyak lada hitam, minyak kenanga, minyak ylang-ylang dan minyak daun jeruk purut.

A. Minyak Atsiri

Indonesia termasuk salah satu negara penghasil utama minyak atsiri di dunia. Terdapat kurang lebih 45 jenis tanaman penghasil minyak atsiri tumbuh di Indonesia, namun kira-kira baru 15 jenis yang sudah menjadi komoditi ekspor yaitu minyak sereh wangi (citronella oil), minyak akar wangi (vetiver oil), minyak nilam (patchouli oil), minyak kenanga (cananga oil), minyak cendana

(sandalwood oil), minyak pala dan fuli (nutmeg oil dan mace oil), minyak daun, gagang, dan bunga cengkeh (clove leaf oil, clove steam oil, clove bud oil), minyak lawang (culilawan oil), minyak massoi (massoi bark oil), minyak pangi

(Sasafras oil), minyak jahe (ginger oil), minyak lada (black pepper oil), minyak gaharu (agarwood oil), minyak turpentin (turpentine oil), cajeput oil, kaffir lime oil,

sementara di pasar internasional terdapat 90 jenis minyak atsiri diperdagangkan (Ma’mun 2006)

Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman. Tanaman ini disebut juga minyak menguap, minyak eteris, minyak essensial karena pada suhu kamar mudah menguap. Minyak atsiri terkandung dalam berbagai organ seperti di dalam rambut kelenjar (family Labiatae), di dalam sel-sel parenkim (family Piperaceae), di dalam rongga-rongga skizogen dan lisigen

(pada family Pinaceae dan Rutaceae). Minyak atisiri dapat terbentuk oleh protoplasma akibat adanya peruraian lapisan resin dari dinding sel atau hidrolisis dari glikosida tertentu yang mempunyai tiga fungsi yaitu membantu proses penyerbukan dan menarik beberapa jenis serangga atau hewan, mencegah kerusakan tanaman oleh serangga atau hewan dan sebagai cadangan makanan bagi tanaman. Minyak atsiri digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri, misalnya industri parfum, kosmetika, farmasi, bahan penyedap (flavoring agent) dalam industri makanan dan minuman (Ketaren 1985).

Pada umumnya perbedaaan komposisi minyak atsiri disebabkan perbedaan jenis tanaman penghasil, kondisi iklim, tanah tempat tumbuh, umur panenan, metode ekstraksi yang digunakan dan cara penyimpanan minyak. Berdasarkan asal-usul biosintetik, konstituen kimia dari minyak atsiri dapat dibagi dalam dua golongan besar yaitu keturunan terpena yang terbentuk melalui jalur

biosintetis asam asetat mevalonat dan senyawa aromatik yang terbentuk lewat jalur sintetis asam sikimat, fenil propanoid.

Minyak atsiri umumnya terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia yang terbentuk dari unsur karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O) serta beberapa persenyawaan kimia yang mengandung unsur nitrogen (N) dan belerang (S). Umumnya komponen kimia dari dalam minyak atsiri terdiri dari campuran hidrogen dan turunannya yang mengandung oksigen yang disebut terpen atau terpenoid. Senyawa terpen mempunyai rangka karbon yang terdiri dari 2 atau lebih satuan isopren. Terpen merupakan persenyawaan hidrogen tidak jenuh dan satuan terkecil dari molekulnya disebut isopren. Klasifikasi dari terpen didasarkan atas jumlah satuan isopren yang terdapat dalam molekulnya yaitu monoterpene, seskuiterpene, diterpene, triterpene, tetraterpene dan

politerpen. Rantai molekul terpen dalam minyak atsiri merupakan rantai terbuka

(alifatis) dan rantai siklis (Ketaren 1985)

Sifat-sifat minyak atsiri diantaranya tersusun oleh bermacam-macam komponen senyawa, memiliki bau khas, mempunyai rasa getir (kadang-kadang berasa tajam, menggigit, memberi kesan hangat sampai panas, atau justru dingin ketika sampai kulit, dalam keadaan murni mudah menguap, bersifat tidak bisa disabunkan dengan alkali dan tidak bisa berubah menjadi tengik adalah salah satu sebab yang membedakannya dengan minyak lemak yang tersusun oleh asam-asam lemak. Bersifat tidak stabil terhadap lingkungan, baik pengaruh oksigen udara, sinar matahari dan panas. Minyak atsiri umumnya memiliki indeks bias yang tinggi, bersifat optis aktif dan memutar bidang polarisasi dengan rotasi spesifik karena banyak komponen penyusun yang memiliki atom C asimetrik. Pada umumnya tidak bercampur dengan air tetapi cukup dapat larut hingga dapat memberikan baunya kepada air walaupun sangat kecil kelarutannya. Minyak atsiri mudah larut dalam pelarut organik.

Parameter yang biasanya dijadikan standar untuk mengenai kualitas minyak atsiri meliputi berat jenis, indeks bias, putaran optik, bilangan asam dan kelarutan dalam alkohol. Selain itu organoleptik dan komponen-komponen kimia penyusunnya juga dijadikan acuan sebagai parameter dalam minyak atsiri.

Komponen minyak atisiri adalah senyawa yang bertanggung jawab atas bau dan aroma yang karakteristik serta sifat kimia dan fisika minyak. Atas dasar perbedaan komponen penyusun tersebut maka minyak atsiri dibagi menjadi beberapa golongan yaitu minyak atsiri hidrokarbon (contoh : minyak terpentin),

minyak atsiri alkohol (menta oil), minyak atsiri eter fenol (minyak adas), minyak atsiri oksida (minyak kayu putih) dan minyak atsiri ester (contoh : minyak gondopuro)

Isolasi minyak atsiri dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu : 1) penyulingan (distillation), 2) pengepresan (pressing), 3) ekstraksi dengan pelarut menguap (solvent extraction), 4) ekstraksi dengan lemak (Ketaren 1985). Penyulingan dibagi dengan dua cara yaitu penyulingan langsung dimana bahan tanaman yang akan disuling mengalami kontak langsung dengan air mendidih dan penyulingan tidak langsung menggunakan sistem uap dimana bahan tanaman tidak kontak langsung dengan air tetapi kontak dengan uap air.

1. Minyak Pala (Myristica fragrans)

Minyak pala (Myristica fragrans) adalah salah satu jenis spicy essential oil

yang banyak dipakai dalam industri flavor dan fragran. Pala (Myristica fragrans)

yang banyak dibudidayakan adalah Myristica fragrans Houtt, Myristica succedanea Warb dan Myristica arargentea Reinw. Jenis minyak pala yang banyak dikembangkan adalah Myristica fragrans Houtt karena lebih ekonomis dibanding jenis yang lain. Daerah penyebaran di Indonesia untuk tanaman

Myristica fragrans Houtt adalah Sulawesi (Manado dan Makasar), Jawa (Bogor), Aceh dan Papua. Minyak pala diperoleh dari biji pala dengan kandungan volatil oil sekitar 6-17%. Biji pala mengandung lignin, stearin, minyak atsiri, starch, gum

dan senyawa asam. Pala merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari Banda dan Maluku.

Sentra perkebunan pala terbesar adalah Maluku, Aceh, Sangihe Talaud, Papua, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Karakter odor dari nutmeg oil

adalah warm, spicy, fresh, light, heavy dan camphoraceous (Reineccius 1992) Komponen-komponen minyak pala diantaranya alpha pinene, beta pinene, sabinene, limonene, delta-3-carene, terpinolene, safrol, eugenol, methyl eugenol, isoeugenol, myristicin dan elemicin. Safrol bersifat genotoksik dan karsinogenik. SCF (Scientific Commitee for Food) merekomendasikan batas penggunaan safrol untuk makanan dan minuman adalah 1 mg/kg sedangkan pala yang mengandung safrol dibatasi 15 mg/kg dalam makanan atau pangan. CEFS

(Committe of Experts on Flavoring Substances) merekomendasikan batasan safrol pada pangan 0.5 mg/kg untuk makanan (EC 2002). Methyl eugenol juga

bersifat karsinogenik dengan batasan penggunaan untuk aplikasi fragran adalah 0.02% (IFRA 2009).

Tabel 3 Standar minyak pala

Parameter Standar FCC IV (Food Chemical Codex) Standar EP (European Pharmacopoeia) Standar Industri multi nasional Flavor dan Fragran

Warna Tidak berwarna – kuning muda

Tidak berwarna – kuning muda

Tidak berwarna -kuning muda Rotasi optik Pada suhu 25 0C

- East Indian : (+ 8) – (+30)0 - West Indian : (+25) – (+45)0 (+8) – (+) 180 (+8) – (+) 30 ( suhu 20 0C) Indeks bias 1.469 – 1.476 (pada 20 0C) 1.475 – 1.485 (pada 20 0C) 1.474 – 1.488 (pada 20 0C) 1.472 – 1.486 (pada suhu 25 0C) Kelarutan di ethanol East Indian : 1 mL dalam 3 mL 90% ethanol East Indian : 1 mL dalam 3 mL 90% ethanol

Berat jenis Pada suhu 25 0C East Indian : 0.880 – 0.910 West Indian : 0.854 – 0.880 0.885 – 0.905 (d20/20) Komponen kimia (GC) 4 terpineol : 2 – 6%, a-pinene : 15 – 28%, myristicine : 5 – 12%, sabinene : 14 – 29%, safrol : < 2.5%, limonene : 2.0 – 7.0%, b-pinene : 13 – 18 %, delta-3-carene : 0.5 – 2.0%, gamma terpinene : 2.0 – 6.0% eugenol : max. 0.5%, methyl eugenol : max. 0.5%, isoeugenol : max .1 %, elemicin : 0.0.2%, a-pinene : 18 – 28%, sabinene : 14 – 24% b-pinene : 12 – 17%, limonene : 1 – 8%, total terpenes : 73 – 88%, 4-terpineol : 3– 8%, safrol : 0 – 2%, eugenol : 0 – 1%, methyl eugenol : 0 – 2.5%, isoeugenol : 0 – 6%, myristicin : 8 – 13%

Bentuk Cairan Cairan Cairan

Odor Standar Standar Standar

Sumber : PT Indesso Aroma (2011), Food Chemical Codex (FCC 1996),

2. Minyak Nilam (Pogostemon)

Berdasarkan penelitian Nuryani (2006), tanaman nilam di Indonesia dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan karakter morfologi, kandungan dan kualitas minyak dan ketahanan terhadap biotik dan abiotik yaitu Pogostemon cablin Benth (nilam Aceh), Pogostemon hortensis (nilam sabun) dan Pogostemon heuneanus (nilam Jawa).

Tabel 4 Standar minyak nilam (patchouli oil)

Parameter Standar industri multi nasional flavor dan fragran

International

Standard (ISO) 3757 : 2002

SNI 06-2385-2006

Warna Kuning muda - coklat Kuning – coklat kemerahan Kuning muda – coklat kemerahan Rotasi optik (nD/25) (-55) – (-48)0 (-40) – (-60)0 (-48) – (-65)0 Indeks bias 1.507 – 1.512 (nD/20) 1.505 – 1.510 (nD/25) 1.5030 – 1.5130 (nD/25)

Bentuk Cairan Cairan Cairan

Komponen % (GC) Limonene : 0.00 – 0.04%, linalool : 0.00 – 0.03%, cinnamic alcohol : 0.00 – 0.001%, eugenol : 0.00 – 0.08%, a-copaene : 0.00 – 1.00%, beta patchoulene : 2.00 – 3.00%, beta caryophyllene: 3.00 –5.00%, alpha guaiene : 13.00 – 17.00%, Seychellene : 3.00 – 8.00% , alpha patchoulene : 6.00 – 9.00% bulnesene : 15.00 – 19.00%, pogostol : 1.00 – 5.00%, patchouli alcohol: 28.00 – 35.00% Patchouli alcohol : 27 – 37%, alpha copaene: 0-1%, beta patchoulene : 1.8-3.5, beta caryophyllene 2-5%, alpha guaiene : 11-16%, alpha bulnesene : 13-21%, pogostol : 1-2.5% Patchouli alcohol min. 30%, alpha copaene : maksimal 0,5%

Odor Standar Standar Standar

Kelarutan 10% dalam ethanol 90% 10% dalam ethanol 90% 10% dalam ethanol 90% ( suhu 20 + 30C Berat jenis 0.953 – 0.978 (d20/20) 0.950 – 0.975 (d25/25) 0.9485 – 0.9715 (d25/25) 0.950 – 0.975 (d25/25) Bilangan asam

Maksimal 8 Maksimal 5 Maksimal 8

Bilangan ester

Maksimal 10 Maksimal 20

Kadar Fe Maksimal 25 ppm

Sumber : Badan Standardisasi Nasional (BSN, 2011); International Organization for Standardization (ISO, 2011); PT Indesso Aroma 2011

Nilam yang paling banyak ditanam dan luas penyebarannya adalah nilam Aceh karena kadar dan kualitas minyak yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan jenis yang lain. Minyak nilam digunakan sebagai fiksatif dalam industri parfum, sabun, kosmetik dan tonik rambut. Kandungan utama minyak nilam terdiri dari persenyawaan terpene dengan alkohol, aldehid dan ester.

Salah satu komponen minyak nilam adalah patchouli alcohol yang merupakan ciri khas dari minyak nilam dan merupakan komponen utama dari minyak jenis ini. Karakter odor dari minyak nilam yaitu adalah woody dan

balsamic. Daerah penghasil minyak nilam adalah Aceh, Jawa dan Sumatra. Namun sekarang, minyak nilam dari Sulawesi mulai berkembang.

3. Minyak Jahe (Zingiber officinale)

Ginger oil atau minyak jahe kebanyakan berasal dari jenis rizoma Zingiber officinale Roscoe yang memiliki kandungan minyak sekitar 1 – 2% dengan wilayah penyebarannya hampir di semua negara tropis yang berlahan basah. Minyak jahe terdiri lebih dari 24 komponen diantaranya monoterpene (phellandrene, champene, cineol, citral dan borneol), zingiberene dan bisabolene. Kegunaan dari minyak ini sebagai bumbu, bahan minuman, industri farmasi dan lain-lain (Young et al. 2002).

Tabel 5 Standar minyak jahe

Parameter SNI 06-4374-1996 FCC IV (Food Chemical

Codex)

Warna Kuning muda – kuning Kuning muda – kuning Berat jenis 0.8720 – 0.8890 (d25/25) 0.870 – 0.882 (d25/25) Indeks bias (d20/20) 1.4850 – 1.4920 1.488 – 1.494 Putaran optik ( d25/25) (-14) – (-33)0 (-28) – (-47)0 Bilangan asam Maksimal 2

Bilangan penyabunan Maksimal 15 Maksimal 20

Bilangan penyabunan setelah asetilasi

Maksimal 90 Bilangan asam maksimal 4

Sumber : Badan Standardisasi Nasional (BSN, 2011) dan Food Chemical Codex

(FCC, 1996)

Ada 2 jenis minyak jahe yaitu minyak jahe kering dan minyak jahe segar. Minyak jahe kering berasal dari rizhoma kering yang memiliki senyawa volatil lebih sedikit terutama untuk senyawa volatil yang titik didihnya rendah karena

pada minyak jahe kering ada proses pengeringan sehingga beberapa senyawa volatil menguap sebelum disuling (Weiss, diacu dalam Toure dan Xiaoming 2007). Karakteristik organoleptik dari minyak jahe adalah warm, spicy dan woody note dengan slight lemony note. Minyak jahe asal Madagaskar mengandung komponen utama camphene, zingiberene, ar-curcumen dan geranial (Koroch et al. 2007). Kandungan zingiberene pada minyak jahe segar (fresh ginger oil)

adalah 28.6% sedangkan zingiberene pada minyak jahe kering (dry ginger oil)

adalah 30.0% (Sasidharan dan Menon 2010)

4. Minyak Akar Wangi (Vetiveria zizanioides)

Minyak akar wangi diekstrak dari akar kering Vetiveria zizanioides. Kandungan minyak dari akarnya sekitar 0.5% disuling dengan steam distillation. Komponen penyusun minyak akar wangi diantaranya asam benzoat, vetiverol, alpha vetivenone, beta vetivone, vetivene, vetivenyl vetivenate dan furfural

(Reineccius 1992). Karakteristik khas odor dari minyak akar wangi adalah woody

dan balsamic. Sentra budidaya tanaman akar wangi di Indonesia di Jawa Barat (Garut). Minyak akar wangi Garut dalam dunia perdagangan lebih dikenal dengan sebutan “Java Vetiver Oil”.

Tabel 6 Standar minyak akar wangi

Parameter ISO 4716 : 2002(E)

Warna Coklat kekuningan – coklat kemerahan

Berat jenis 0.9765 – 1.0345 (d25/25)

Indeks bias (d20/20) 1.5180 – 1.5280

Putaran optik ( d25/25) (-17) – (32)0

Kelarutan Dalam ethanol 95%, 1 : 1 jernih dan seterusnya jernih

Bilangan penyabunan 5 - 25

Bilangan asam 10 – 35

Bilangan ester setelah asetilasi 100 - 150

Kadar khusimol 6 – 11%

5. Minyak Lada Hitam (Piper nigrum)

Minyal lada hitam diekstraksi dari buah tanaman Piper nigrum keluarga dari

piperaceae. Tanaman ini biasanya digunakan untuk bumbu, analgesik, antiseptik, antispasmodik, antitoksik, aphrodisiak, diaphoretik, digestif, diuretik dan laksatif. Komposisi kimia dari minyak ini diantaranya alpha thujone, alpha pinene, champene, sabinene, beta phinene, alpha phelandrene, myrcene, limonene, caryophyllene, beta farnesene, beta bisabolene, linalool dan terpinen-4-ol. Kandungan minyak dari buahnya sekitar 2% menggunakan distilasi uap (Reineccius 1992).

Sumber komersial dari lada hitam dan minyak lada putih adalah India, Malaysia, Singapura, Indonesia, Kamboja, Vietnam, Srilanka, Brazil dan Afrika barat. Lada dari India secara sensori lebih aromatis sedangkan lada dari Malaysia dan Indonesia kurang aromatis namun lebih pungent. Minyak lada hitam banyak dihasilkan oleh India dan Srilanka. Di Indonesia umumnya berasal dari Lampung (Sumatra) namun beberapa daerah seperti di Jawa juga diproduksi minyak tersebut.

Tabel 7 Standar minyak lada hitam

Parameter Standar FCC IV (Food Chemical

Codex)

Warna Tidak berwarna – agak kehijauan

(slightly green)

Rotasi optik (+1) – (-33.5)0 pada suhu 20 0C

Indeks bias 1.479 – 1.488 (nD/20)

Kelarutan di alkohol (ethanol) 1 mL dalam 3 mL 95 % alkohol Sumber : Food Chemical Codex (FCC, 1996)

6. Minyak Kenanga (Canangium odoratum Baill forma macrophylla)

Minyak ini berasal dari tanaman Canangium odoratum Baill forma macrophylla dengan warna antara kuning sampai orange. Bagian yang diambil sebagai minyak adalah bagian bunganya dengan kandungan minyak sekitar 0.5 – 1%. Minyak ini memiliki karakter odor sweet dan floral. Penyebaran tanaman kenanga terutama daerah tropis asia seperti Indonesia. Tanaman cananga

odorata banyak ditemukan di daerah Jawa. Komponen minyak ini salah satunya adalah kelompok sesquiterpene alcohol (Reineccius 1992).

Tabel 8 Standar minyak kenanga

Parameter FCC IV (Food Chemical

Codex)

SNI 06-3949-1995

Warna Kuning muda – kuning tua Kuning muda – kuning tua Berat jenis 0.904 – 0.920 0.903 – 0.905 Indeks bias (d20/20) 1.493 – 1.503 1.493 – 1.503 Putaran optik ( d25/25) (-15) – (-30)0 (-15) – (-30) Kelarutan Dalam ethanol 95%, 1 : 0.5

jernih dan seterusnya jernih

Dalam ethanol 95%, 1 : 0.5 jernih dan seterusnya jernih

Bilangan penyabunan 10 -40 15 - 35

Sisa penyulingan uap (v/v)

Maksimal 5 Zat asing : lemak,

minyak pelikan, alkohol tambahan

negatif

Sumber : Badan Standardisasi Nasional (BSN, 2011) dan Food Chemical Codex

(FCC, 1996)

7. Minyak Ylang-Ylang (Canangium odoratum Baill forma genuina)

Ylang-ylang oil diperoleh dengan ekstraksi dari bunga Canangium odoratum Baill forma genuina. Komposisi utama dari minyak ylang-ylang adalah

linalool, gernayl acetate, caryophyllene, p-cresil methyl ether, methyl benzoate, benzyl benzoate dan sesquiterpene yang lain. Kegunaan dari minyak ini sebagai stimulan pada kulit, stimulan pertumbuhan rambut, antidepresan, antiseptik, hipotensif dan sedatif (Reineccius 1992). Fraksi ekstra dari minyak ylang-ylang merupakan fraksi berkualitas terbaik. Penghasil utama minyak ylang-ylang adalah pulau Comoro, Madagaskar dan Reunion Island.

Tabel 9 Standar minyak ylang-ylang

Dokumen terkait