BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah upaya sadar dan terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat, dan berakhlak mulia (UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Bab 3 Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Satuan pendidikan merupakan lembaga yang sangat penting yang berperan aktif dalam menanamkan karakter bangsa yang menjadi tujuan bersama. Melalui pendidikan, setiap individu diharapkan dapat mengembangkan kemampuan intelektual dan membentuk karakter yang baik guna meningkatkan sumber daya manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas sumber daya manusia untuk menentukan kemajuan suatu bangsa (Mu’in,
2011: 340). Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills) sebagai manifestasi dari nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. Karakter merupakan kemampuan individu untuk mengatasi keterbatasan fisik dan kemampuannya untuk membaktikan hidupnya pada nilai-nilai kebaikan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan demikian, karakter yang kuat akan membentuk individu menjadi pelaku perubahan bagi diri sendiri dan masyarakat sekitarnya (Koesoema dalam Tim PPK Kemendikbud, 2017: 17).
Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang baik dalam menanamkan karakter peserta didik. Dengan demikian, segala kegiatan yang ada di sekolah, baik kegiatan pembelajaran maupun kegiatan pembiasaan-pembiasaan supaya dapat diintegrasikan dalam program pendidikan karakter.
Jadi, pendidikan karakter merupakan usaha bersama seluruh warga sekolah untuk mewujudkan dan menciptakan suatu budaya baru di sekolah, yaitu budaya pendidikan karakter. Penanaman dan pembiasaan pendidikan karakter di sekolah melalui lingkungan pendidikan dapat dilaksanakan secara langsung maupun secara tidak langsung dan akhirnya membentuk suatu budaya sekolah (Pusat Kurikulum dalam Abdullah, 2018: 46).
Pendidikan yang kurang menekankan pada aspek penanaman karakter menimbulkan berbagai macam permasalahan di kalangan peserta didik. Hal tersebut terlihat dari berbagai masalah yang terus bermunculan sebagai akibat
semakin menurunnya kualitas nilai-nilai karakter pada peserta didik.
Permasalahan yang berhubungan dengan makin menurunnya nilai-nilai karakter peserta didik tersebut adalah sering terjadi berbagai tindak kekerasan seperti tawuran antar pelajar, mencontek, perundungan, berbagai tindak asusila, perusakan fasilitas sekolah, meningkatnya penggunaan narkoba, dan lain sebagainya (Koesoema, 2011: 41). Pendapat tersebut didukung oleh contoh kasus (tribunjogja.com, 9 November 2016) yang memberitakan bahwa anak kelas 2 SD jadi korban kekerasan teman sekolah. Fenomena kekerasan dalam lembaga pendidikan seolah memberikan gambaran bahwa kita sebagai bangsa sungguh lemah dalam mengendalikan emosi. Bangsa ini tumbuh tidak hanya menjadi pribadi yang miskin pengetahuan, tetapi juga mengalami penurunan nilai-nilai moral. Berdasarkan kasus tersebut, lembaga pendidikan memiliki peran yang sentral, sebab lembaga pendidikan memang sejak dahulu memiliki peran yang penting bagi perjalanan peradaban umat manusia dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya (Koesoema, 2010: 115). Dalam hal ini, pengembangan peserta didik melalui pendidikan karakter menjadi sangat penting.
Pendidikan karakter merupakan upaya membantu peserta didik memahami, peduli dan berperilaku sesuai nilai-nilai etika yang berlaku di masyarakat. Dengan kata lain, pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru dalam membentuk karakter dan kemampuan soft skills peserta didik (Charlie, 2002: 3). Sementara itu, Wibowo (2012: 36) mengatakan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang menanamkan dan
mengembangkan karakter-karakter luhur kepada peserta didik sehingga mereka memiliki karakter luhur, mampu menerapkan dan mempraktikkan dalam kehidupan baik di keluarga, masyarakat, dan negara. Salah satu cara untuk menanamkan karakter di sekolah adalah melalui pengembangan dan pelaksanaan pendidikan karakter pada peserta didik berbasis budaya sekolah.
Cara tersebut yaitu melalui program pengembangan diri peserta didik ke dalam beberapa bentuk kegiatan, antara lain kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan, dan juga pengondisian.
Pengembangan karakter adalah proses berkelanjutan dan tak pernah selesai (never ending proses) selama manusia hidup dan selama sebuah bangsa ada. Usaha untuk memperluas pendidikan karakter di luar keluarga dan sekolah merupakan salah satu perkembangan yang paling menjanjikan dalam pergerakan pendidikan nasional (Lickona, 2012: 340). Dalam konteks pendidikan, budaya sekolah merupakan pola perilaku dan cara bertindak yang telah terbentuk secara otomatis menjadi bagian yang hidup di dalam sebuah komunitas pendidikan. Dasar pola perilaku dan cara bertindak itu adalah norma sosial, peraturan sekolah, dan kebijakan pendidikan di tingkat lokal.
Budaya sekolah dapat dikatakan seperti kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), yang sesungguhnya lebih efektif mempengaruhi pola perilaku dan cara berpikir seluruh anggota komunitas (Koesoema, 2012: 125). Hidayat (dalam Fanani, 2013: 298) mengatakan tanpa budaya sekolah yang bagus akan sulit melakukan pendidikan karakter bagi anak-anak didik. Jadi, apabila budaya sekolah sudah mapan, siapa pun yang masuk dan bergabung ke
sekolah itu hampir secara otomatis akan mengikuti tradisi yang telah ada. Jika budaya yang baik tersebut bisa diterapkan di sekolah dengan memberikan pengarahan dan kebiasaan serta keteladanan dari guru maka karakter dalam diri peserta didik dapat terbentuk.
Demi kepentingan masa depan bangsa Indonesia, perlu dilakukan pemusatan (centering) pendidikan karakter dalam penyelenggaraan pendidikan nasional Indonesia sejak sekarang. Kesadaran sekaligus usaha pemusatan pendidikan di jantung pendidikan nasional semakin kuat ketika pada tahun 2010 pemerintah Indonesia mencanangkan sekaligus melaksanakan kebijakan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter berlandaskan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pendidikan Karakter Bangsa. Hal tersebut perlu dilanjutkan, dioptimalkan, diperdalam, dan bahkan diperluas sehingga diperlukan penguatan pendidikan karakter bangsa. Untuk itu, sejak sekarang perlu dilaksanakan Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan mengindahkan asas keberlanjutan dan keseimbangan (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 5). PPK merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).
Penguatan karakter bangsa menjadi salah satu butir Nawacita yang dicanangkan Presiden Joko Widodo melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) selain
merupakan kelanjutan dan kesinambungan dari Gerakan Nasional Pendidikan Karakter Bangsa Tahun 2010 juga merupakan bagian integral Nawacita.
Nawacita tersebut berbunyi penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental. Revolusi Karakter Bangsa dan Gerakan Revolusi Mental dalam pendidikan yang hendak mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mengadakan perubahan paradigma, yaitu perubahan pola pikir dan cara bertindak dalam mengelola sekolah. Untuk itu, Gerakan PPK menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan memberadabkan para pelaku pendidikan. Komitmen ini ditindaklanjuti dengan arahan Presiden kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengutamakan dan membudayakan pendidikan karakter di dalam dunia pendidikan. Atas dasar ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencanangkan Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) secara bertahap mulai tahun ajaran 2016/2017 di setiap satuan pendidikan (Tim PPK Kemendikbud, 2017:1).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka peneliti tertarik untuk membuat penelitian mengenai program Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah dasar negeri dengan mengambil judul “Penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman”. Penelitian ini membahas mengenai ada atau tidaknya dan bagaimana penerapan dari Program PPK berbasis budaya sekolah. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Moyudan dikarenakan
belum ada penelitian mengenai penerapan program PPK berbasis budaya sekolah di Kecamatan Moyudan. Selain itu, sekolah dasar negeri se-Kecamatan Moyudan juga memiliki keunggulan dalam bidang akademik maupun non akademik dengan memperoleh banyak prestasi. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena peneliti melihat bahwa penerapan program PPK berbasis budaya sekolah masih kurang. Hal ini terlihat dari kurangnya minat baca, tingkat sopan santun yang rendah serta kurangnya rasa untuk saling menghargai yang tampak pada saat peneliti melakukan pengamatan di lokasi penelitian sebelum melakukan penelitian di lokasi tersebut. Penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh data sejauh mana penerapan program PPK berbasis budaya sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman. Setelah melakukan penelitian dan data sudah diperoleh, semoga sekolah dasar se-Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman dapat menerapkan PPK berbasis budaya sekolah dengan baik dan dengan kegiatan yang lebih banyak.